Anda di halaman 1dari 11

Kelompok 1 Presents:

Peran [Pers] di Indonesia

XII IPA 9 [Kelompok1]


-Names were classified-
Kata Pengantar

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas


segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalahl ini. Penyusunan makalah ini pun
kami susun untuk memenuhi salah satu tugas mata
pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dari Bapak
Rachmat.

Makalah ini merupakan penjelasan mengenai peranan


kaum pers di Indonesia, yang meskipun sering mengurai
kontroversi, namun keberadaannya sangat dibutuhkan
dalam perkembangan informasi di Indonesia.

Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi yang


membacanya. Demikian kata pembuka dari kami, mohon
maaf apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat
kekurangan atau kesalahan.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bandung, Januari 2010


LATAR BELAKANG

Keberadaan kaum pers di Indonesia, baik buruknya selalu tetap


menjadi kelompok yang memiliki peran yang cukup besar bagi
negara ini. Sepak terjang kaum pers acap kali menjadi hal yang
controversial di dunia informasi dan seringkali pula pihak pers
menjadi korban atas kejelasan bukti yang mereka ungkapkan
mengenai tokoh-tokoh informan. Kendati demikian, tujuan mereka
bukan cuma sekadar untuk memperoleh keuntungan uang. Media
masa di samping sebagai alat penyampai berita kepada para
pembacanya dan menambah pengetahuan, juga punya peran
penting dalam menyuarakan isi hati pemerintah, kelompok
tertentu, dan rakyat pada umumnya. Apalagi, orang Belanda yang
selalu mengutamakan betapa pentingnya arti dokumentasi, segala
hal ihwal dan kabar berita yang terjadi di negeri leluhurnya
maupun di negeri jajahannya, selalu disimpan untuk berbagai
keperluan.

Dengan kata lain media masa telah dipandang sebagai alat


pencatat atau pendokumentasian segala peristiwa yang terjadi di
negeri kita yang amat perlu diketahui oleh pemerintah pusat di
Nederland maupun di Nederlandsch Indie serta orang-orang
Belanda pada umumnya. Dan apabila kita membuka kembali arsip
majalah dan persuratkabaran yang terbit di Indonesia antara awal
abad 20 sampai masuknya Tentara Jepang, bisa kita diketahui
bahwa betapa cermatnya orang Belanda dalam
pendokumentasian ini.

Berdasarkan ketentuan pasal 33 UU No. 40 tahun 1999 tentang


pers, fungsi pers ialah sebagai media informasi, pendidikan,
hiburan dan kontrol sosial . Sementara

pasal 6 UU Pers menegaskan bahwa pers nasional melaksanakan


peranan sebagai berikut:memenuhi hak masyarakat untuk
mengetahui menegakkkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong
terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia,
serta menghormati kebhinekaanmengembangkan pendapat umum
berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benarmelakukan
pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang
berkaitan dengan kepentingan umummemperjuangkan keadilan
dan kebenaran Berdasarkan fungsi  dan peranan pers
yang demikian, lembaga pers sering disebut sebagai pilar keempat
demokrasi( the fourth estate) setelah lembaga legislatif, eksekutif,
dan yudikatif , serta pembentuk opini publik yang paling potensial
dan efektif. Fungsi peranan pers itu baru dapat dijalankan secra
optimal apabila terdapat jaminan kebebasan pers dari pemerintah.
Menurut tokoh pers, jakob oetama , kebebsan pers menjadi syarat
mutlak agar pers secara optimal dapat melakukan pernannya.
Sulit dibayangkan bagaimana peranan pers tersebut dapat
dijalankan apabila tidak ada jaminan terhadap kebebasan pers.
Pemerintah orde baru di Indonesia sebagai rezim pemerintahn
yang sangat membatasi kebebasan pers . hl ini terlihat, dengan
keluarnya Peraturna Menteri Penerangan No. 1 tahun 1984
tentang Surat Izn Usaha penerbitan Pers (SIUPP), yang dalam
praktiknya ternyata menjadi senjata ampuh untuk mengontrol isi
redaksional pers dan pembredelan.

TUJUAN

Makalah ini bertujuan untuk memaparkan fungsi dan peranan pers


di Indonesia, berikut asal muasal kaum pers dan bagaimana
keberadaannya di Indonesia. Terlepas dari segala konflik yang
terjadi, pro dan kontra yang diungkapkan pa kaum pers, tetap saja
kelompok pers memiliki peranan dalam dunia informasi di
Indonesia
PERAN PERS DI INDONESIA

PERANAN PERS DALAM MASYARAKAT DEMOKRATIS DI


INDONESIA PADA MASA ORDE BARU DAN REFORMASI

Negara demokrasi adalah negara yang mengikutsertakan partisipasi rakyat dalam


pemerintahan serta menjamin terpenuhinya hak dasar rakyat dalam kehidupan
berbangsa, dan bernegara. Salah satu hak dasar rakyat yang harus dijamin adalah
kemerdekaan menyampaikan pikiran, baik secara lisan maupun tulisan.
Pers adalah salah satu sarana bagi warga negara untuk mengeluarkan pikiran dan
pendapat serta memiliki peranan penting dalam negara demokrasi. Pers yang bebas
dan bertanggung jawab memegang peranan penting dalam masyarakat demokratis dan
merupakan salah satu unsur bagi negara dan pemerintahan yang demokratis. Menurut
Miriam Budiardjo, bahwa salah satu ciri negara demokrasi adalah memiliki pers yang
bebas dan bertanggung jawab.

 Pengertian Pers

Ada 2 pengertian tentang pers, yaitu sbb :

1. dalam arti sempit ; Pers adalah media cetak yang mencakup surat kabar, koran,
majalah, tabloid, dan buletin-buletin pada kantor berita.

2. dalam arti luas ; Pers mencakup semua media komunikasi, yaitu media cetak,
media audio visual, dan media elektronik. Contohnya radio, televisi, film, internet,
dsb.

 Perkembangan Pers di Indonesia

Sejarah perkembangan pers di Indonesia tidak terlepas dari sejarah politik


Indonesia. Pada masa pergerakan sampai masa kemerdekaan, pers di Indonesia
terbagi menjadi 3 golongan, yaitu pers Kolonial, pers Cina, dan pers Nasional.

Pers Kolonial adalah pers yang diusahakan oleh orang-orang Belanda di


Indonesia pada masa kolonial/penjajahan. Pers kolonial meliputi surat kabar, majalah,
dan koran berbahasa Belanda, daerah atau Indonesia yang bertujuan membela
kepentingan kaum kolonialis Belanda.

Pers Cina adalah pers yang diusahakan oleh orang-orang Cina di Indonesia. Pers
Cina meliputi koran-koran, majalah dalam bahasa Cina, Indonesia atau Belanda yang
diterbitkan oleh golongan penduduk keturunan Cina.

Pers Nasional adalah pers yang diusahakan oleh orang-orang Indonesia terutama
orang-orang pergerakan dan diperuntukkan bagi orang Indonesia. Pers ini bertujuan
memperjuangkan hak-hak bangsa Indonesia di masa penjajahan. Tirtohadisorejo atau
Raden Djokomono, pendiri surat kabar mingguan Medan Priyayi yang sejak 1910
berkembang menjadi harian, dianggap sebagai tokoh pemrakarsa pers Nasional.
Adapun perkembangan pers Nasional dapat dikategorikan menjadi beberapa
peiode sbb :

1. Tahun 1945 – 1950-an

Pada masa ini, pers sering disebut sebagai pers perjuangan. Pers Indonesia
menjadi salah satu alat perjuangan untuk kemerdekaan bangsa Indonesia.
Beberapa hari setelah teks proklamasi dibacakan Bung Karno, terjadi perebutan
kekuasaan dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat, termasuk pers. Hal yang
diperebutkan terutama adalah peralatan percetakan.

Pada bulan September-Desember 1945, kondisi pers RI semakin kuat, yang


ditandai oleh mulai beredarnya koran Soeara Merdeka (Bandung), Berita
Indonesia (Jakarta), Merdeka, Independent, Indonesian News Bulletin, Warta
Indonesia, dan The Voice of Free Indonesia.

2. Tahun 1950 – 1960-an

Masa ini merupakan masa pemerintahan parlementer atau masa demokrasi liberal.
Pada masa demokrasi liberal, banyak didirikan partai politik dalam rangka
memperkuat sistem pemerintah parlementer. Pers, pada masa itu merupakan alat
propaganda dari Par-Pol. Beberapa partai politik memiliki media/koran sebagai
corong partainya. Pada masa itu, pers dikenal sebagai pers partisipan.

3. Tahun 1970-an

Orde baru mulai berkuasa pada awal tahun 1970-an. Pada masa itu, pers
mengalami depolitisasi dan komersialisasi pers. Pada tahun 1973, Pemerintah
Orde Baru mengeluarkan peraturan yang memaksa penggabungan partai-partai
politik menjadi tiga partai, yaitu Golkar, PDI, dan PPP. Peraturan tersebut
menghentikan hubungan partai-partai politik dan organisasi massa terhadap pers
sehingga pers tidak lagi mendapat dana dari partai politik.

4. Tahun 1980-an

Pada tahun 1982, Departemen Penerangan mengeluarkan Peraturan Menteri


Penerangan No. 1 Tahun 1984 tentang Surat Izin Usaha Penerbitan Pers
(SIUPP). Dengan adanya SIUPP, sebuah penerbitan pers yang izin penerbitannya
dicabut oleh Departemen Penerangan akan langsung ditutup oleh pemerintah.
Oleh karena itu, pers sangat mudah ditutup dan dibekukan kegiatannya. Pers yang
mengkritik pembangunan dianggap sebagai pers yang berani melawan
pemerintah. Pers seperti ini dapat ditutup dengan cara dicabut SIUPP-nya.

5. Tahun 1990-an

Pada tahun 1990-an, pers di Indonesia mulai melakukan repolitisasi lagi.


Maksudnya, pada tahun 1990-an sebelum gerakan reformasi dan jatuhnya
Soeharto, pers di Indonesia mulai menentang pemerinah dengan memuat artikel-
artikel yang kritis terhadap tokoh dan kebijakan Orde Baru. Pada tahun 1994, ada
tiga majalah mingguan yang ditutup, yaitu Tempo, DeTIK, dan Editor.
6. Masa Reformasi (1998/1999) – sekarang

Pada masa reformasi, pers Indonesia menikmati kebebasan pers. Pada masa ini
terbentuk UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Era reformasi ditandai dengan
terbukanya keran kebebasan informasi. Di dunia pers, kebebasan itu ditunjukkan
dengan dipermudahnya pengurusan SIUPP. Sebelum tahun 1998, proses untuk
memperoleh SIUPP melibatkan 16 tahap, tetapi dengan instalasi Kabinet BJ.
Habibie proses tersebut melibatkan 3 tahap saja.

Berdasarkan perkembangan pers tersebut, dapat diketahui bahwa pers di Indonesia


senantiasa berkembang dan berubah sejalan dengan tuntutan perkembangan zaman.
Pers di Indonesia telah mengalami beberapa perubahan identitas. Adapun perubahan-
perubahan tersebut adalah sbb :

Tahun 1945-an, pers di Indonesia dimulai sebagai pers perjuangan.

Tahun 1950-an dan tahun 1960-an menjadi pers partisan yang mempunyai tujuan
sama dengan partai-partai politik yang mendanainya.

Tahun 1970-an dan tahun 1980-an menjadi periode pers komersial, dengan
pencarian dana masyarakat serta jumlah pembaca yang tinggi.

Awal tahun 1990-an, pers memulai proses repolitisasi.

Awal reformasi 1999, lahir pers bebas di bawah kebijakan pemerintahan BJ.
Habibie, yang kemudian diteruskan pemerintahan Abdurrahman Wahid dan
Megawati Soekarnoputri, hingga sekarang ini.

 Fungsi dan Peranan Pers dalam Masyarakat Demokratis Indonesia

Pers atau media amat dibutuhkan baik oleh pemerintah maupun rakyat dalam
kehidupan bernegara. Pemerintah mengharapkan dukungan dan ketaatan masyarakat
untuk menjalankan program dan kebijakan negara. Sedangkan masyarakat juga ingin
mengetahui program dan kebijakan pemerintah yang telah, sedang, dan akan
dilaksanakan.
Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Pasal 33 disebutkan mengenai
fungsi pers, dalam hal ini pers nasional. Adapun fungsi pers nasional adalah sbb :

1. Sebagai wahana komunikasi massa.

Pers nasional sebagai sarana berkomunikasi antarwarga negara, warga negara


dengan pemerintah, dan antarberbagai pihak.

2. Sebagai penyebar informasi.


Pers nasional dapat menyebarkan informasi baik dari pemerintah atau negara
kepada warga negara (dari atas ke bawah) maupun dari warga negara ke negara
(dari bawah ke atas).

3. Sebagai pembentuk opini.

Berita, tulisan, dan pendapat yang dituangkan melalui pers dapat menciptakan
opini kepada masyarakat luas. Opini terbentuk melalui berita yang disebarkan
lewat pers.

4. Sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol serta sebagai lembaga
ekonomi.

UU No. 40 Tahun 1999 Pasal 2 menyebutkan : “Kemerdekaan pers adalah salah


satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan,
dan supremasi hukum.”

Dapat disimpulkan bahwa fungsi dan peranan pers di Indonesia antara lain sbb :

1. media untuk menyatakan pendapat dan gagasan-gagasannya.

2. media perantara bagi pemerintah dan masyarakat.

3. penyampai informasi kepada masyarakat luas.

4. penyaluran opini publik.

 Peraturan Perundang-undangan tentang Kebebasan Pers di Indonesia

Hak masyarakat atau warga negara Indonesia untuk mengeluarkan pikiran secara
lisan, atau tulisan mendapat jaminan dalam UUD 1945 Pasal 28, yang berbunyi ;
“Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan
dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-Undang.”
Selain itu, kebebasan pers di Indonesia memiliki landasan hukum yang termuat
didalam ketentuan-ketentuan sbb :

1. Pasal 28 F, yang menyatakan setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan


memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya,
serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan
menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.

2. Ketetapan MPR RI No. XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia, yang


antara lain menyatakan bahwa setiap orang berhak berkomunikasi dan
memperoleh informasi.

3. Pasal 19 Piagam PBB tentang Hak Asasi Manusia yang berbunyi, “Setiap orang
berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hak ini
termasuk kebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari,
menerima, dan menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa
saja dan dengan tidak memandang batas-batas wilayah.”

Peranan Pers dalam Pembangunan Nasional

Dalam usaha mencapai keberhasilan pembangunan nasional, ditingkatkan kegiatan


penerangan dan peranan media massa. Kegiatan penerangan dan media massa
bertugas menggelorakan se-mangat pengabdian terhadap perjoangan bangsa,
memperkokoh persatuan dan kesatuan, mempertebal rasa tanggung jawab dan disiplin
nasional serta menyadarkan bangsa akan kemutlakan peran aktifnya dalam
pembangunan.
Hal ini dilakukan melalui motivasi untuk ikut membangun di kalangan rakyat.
Dengan demikian rakyat merasa ikut memiliki dan ikut bertanggung jawab atas
keberhasilan pembangunan yang merupakan hasil bersama dari pemerintah dan
rakyat. Oleh karena itu, komunikasi sosial yang bersifat terbuka, terarah, jujur, bebas
dan bertanggung jawab perlu dibina dan dipupuk baik antara pemerintah dan
masyarakat maupun antar golongan sosial dan profesi serta warga masyarakat itu
sendiri. Kebijaksanaan dan Langkah-langkah sesuai dengan pengarahan Garis-garis
Besar Haluan Negara, telah dirumuskan serangkaian kebijaksanaan di bidang pene-
rangan dan media massa sebagai berikut:

1) Meningkatkan arus informasi dan meningkatkan motivasi masyarakat, baik yang


tinggal di kota maupun di desa terhadap tujuan dan kegiatan pembangunan. Untuk itu
pendekatan sosial-psikologik dan budaya perlu diting-katkan.
2) Memanfaatkan teknologi komunikasi massa seperti radio, televisi dan pers. Di
samping itu teknologi komunikasi tradisional tetap dipergunakan dalam usaha
mengefektifkan komunikasi sosial antara pemerintah dan masyarakat.
3) Kegiatan penerangan dilaksanakan secara lintas sektoral demi pembangunan
manusia seutuhnya.
4) Pendekatan komunikasi budaya, mensyaratkan suatu sikap yang persuasif, edukatif
dan informatif dari semua pihak, agar melalui interaksi positif antara pemerintah, pers
dan masyarakat akan tergerak untuk berpartisipasi secara nyata.
5) Meningkatkan peranan pers dalam pembangunan, yakni pers yang bertanggung
jawab dan mampu mewujudkan fungsinya sebagai penyalur informasi yang obyektif
dan sanggup melaksanakan fungsi kontrol sosial yang konstruktif. Pengembangan
pers nasional diharapkan mampu menggelorakan semangat dan jiwa Pancasila serta
menjamin suatu pertumbuhan pers nasional yang sehat dalam rangka perwujudan
Demokrasi Pancasila.

Dalam rangka meningkatkan dan memperluas kegiatan penerangan ke seluruh


pelosok Indonesia, telah ditingkatkan pula pemanfaatan sarana pers. Berbagai surat
kabar edisi Jakarta telah disebar-luaskan ke daerah untuk membantu para pamong dan
pemimpin sosial desa dalam memperoleh informasi terutama tentang pemikiran dan
program-program pemerintah. Untuk orang asing di Indonesia, melalui siaran TVRI
semenjak 1 Januari1983 disajikan siaran dalam bahasa Inggeris. Acara ini memuat
berita dalam dan luar negeri, informasi tentang perkembangan ekonomi, politik
maupun sosial budaya Indonesia, antara lain dalam usaha mempromosikan potensi
pariwisata kepada masyarakat asing di Indonesia.
Dalam rangka melaksanakan sistem penerangan terpadu, telah dibentuk forum
kehumasan yang dikenal sebagai Badan Koordinasi Kehumasan (BAKOHUMAS)
antardepartemen di tingkat nasional, Dati I maupun Dati II. Sistem penerangan
terpadu ini merupakan usaha pemerataan informasi terpadu dari pusat ke daerah.
Wahana untuk melaksanakan tugas ini ditingkat kabupaten/kotamadya, ialah Pusat
Penerangan Masyarakat (PUSPENMAS yang ternyata telah bermanfaat pula antara
lain dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan tingkat Dati II seperti PKK dan lain-
lain, di mana berbagai masalah operasional pembangunan dibahas bersama dengan
masyarakat. Berbagai film penerangan maupun hiburan dan pertunjukan sosiodrama
telah dilaksanakan di panggung-panggung setempat. Untuk keperluan penataran P4,
penerangan tentang Pemilu tahun 1982 serta berbagai kegiatan penyuluhan maupun
penerangan tentang Peningkatan Peranan Wanita, telah sangat dimanfaatkan ruang
serbaguna PUSPENMAS.

Dalam tahun 1982/83 telah dibangun 29 PUSPENMAS baru, sehingga sejak tahun
1975/76 sampai dengan 1982/83 jumlah PUSPENMAS telah mencapai 240 buah.
Dalam usaha mengadakan komunikasi dua arah dengan masyarakat, di setiap ibukota
propinsi sejak tahun 1982 diadakan panggung-panggung keliling, sehingga pesan-
pesan pembangunan dapat disampaikan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan
seperti sosiodrama dan festival kesenian.

Kesenian tradisional yang komunikatif seperti ketoprak di Jawa, Seudati di Aceh,


Randai di Sumatera Barat dan Mamanda di Kalimantan sebagai pertunjukan rakyat,
ternyata bukan saja merupakan khasanah budaya tradisional bangsa yang khas bagi
masing-masing daerah, tetapi merupakan pula media komunikasi yang sangat ampuh.
Pertunjukan rakyat merupakan forum terbuka yang menjamin komunikasi timbal
balik dan perwujudan dari komunikasi sosial antara pemerintah dan rakyat dan
sekaligus dapat menampung aspirasi dan keinginan pemenuhan kebutuhan nyata
masyarakat. Kerjasama dengan generasi muda telah melibatkan generasi muda dalam
sosiodrama sebagai sarana komunikasi yang demokratik. Festival sosiodrama dan
pertunjukan rakyat yang bersifat tradisional dan komunikatif, ternyata telah
menampilkan pemenang-pemenang generasi muda dalam usaha popularisasi
semangat joang di kalangan generasi muda.

b. Perkembangan sarana radio, televisi dan film


Dalam usaha memeratakan informasi terutama ke daerah pedesaan telah makin
diperluas jangkauan dan daya tangkap radio dan televisi. Produksi film juga
ditingkatkan, terutama film yang membangkitkan semangat perjoangan dan kesadaran
membangun. Pemanfaatan radio untuk siaran pendidikan sekolah dite-ruskan,
demikian juga acara-acara budaya yang merupakan salah satu cara populer untuk
pendekatan Wawasan Nusantara.

1). Pengembangan di bidang radio

Sebagai usaha pemantapan jangkauan siaran RRI di dalam dan ke luar negeri sejak
Januari 1982 telah dibangun dan dioperasikan tiga pemancar gelombang pendek
dengan kapasitas masing-masing 100 KW. Dari pemancar ini satu diarahkan ke
wilayah Sumatera, satu diarahkan ke wilayah Kalimantan dan satu lagi diarahkan ke
wilayah Sulawesi. Sedangkan untuk peningkatan daya jangkau siaran luar negeri telah
dibangun dua pemancar dengan kekuatan masing-masing 250 KW.
Selain usaha peningkatan daya pancar tengah dilaksanakan pembangunan prasarana
radio antara lain berupa gedung studio/ auditorium, pengadaan/penggantian peralatan
studio dan lain-lain di 63 lokasi yang tersebar di seluruh tanah air, mulai dari Banda
Aceh sampai Irian Jaya.

Bersamaan dengan meningkatnya sarana siaran dan meningkatnya selera masyarakat


maka pembinaan tenaga teknik radio dilanjutkan dalam rangka meningkatkan mutu
siaran, terutama Siaran Pedesaan. Untuk memikat anggota kelompok pendengar,
diadakan Lomba Siaran Pedesaan untuk tiga jenis khalayak, yaitu orang dewasa,
pemuda dan wanita. Kegiatan Siaran Pedesaan ini khusus ditujukan kepada pendengar
di pedesaan dalam rangka meningkatkan mutu kehidupan para petani dan nelayan.
Untuk menunjang kegiatan tersebut, diteruskan kerja sama antar instansi pemerintah
dengan berbagai universitas serta tokoh-tokoh masyarakat, baik di Pusat maupun di
Daerah, sehingga isi dan mutu siaran sesuai dengan kebutuhan masyarakat pedesaan.
Selain itu telah diadakan sebanyak 28.817 paket siaran bagi wanita melalui radio dan
115 paket siaran bagi wanita dan pembangunan melalui televisi. Kegiatan siaran wa-
nita melalui radio dan televisi ditunjang oleh sebanyak 144 penulis naskah maupun
produsen acara. Perkembangan di bidang radio antara lain dapat dilihat pada Tabel
XXI - 3, Tabel XXI - 4, dan Tabel XXI - 5.

2). Pengembangan di bidang televisi

Pengembangan di bidang televisi tetap diarahkan pada peningkatan dan perluasan


daya jangkau siaran untuk pemerataan informasi melalui televisi.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, dalam tahun 1982/83 telah ditambah jumlah


pemancar maupun stasiun penghubung serta kemampuan melalui satuan produksi
keliling, dan kesembilan stasiun produksi telah ditingkatkan kemampuan produksi.