Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu pelayanan yang ada di rumah sakit adalah pelayanan
pengobatan melalui operasi. Operasi merupakan tindakan pengobatan yang
menimbulkan kecemasan. Kecemasan terjadi ketika seseorang merasa
terancam baik fisik, maupun psikologisnya, misalnya harga diri, gambaran
diri, dan identitas diri (Stuart&Sudden, 2005). Preoperasi merupakan masa
sebelum

dilakukannya

tindakan

pembedahan

yang

dimulai

sejak

ditentukannya persiapan pembedahan dan berakhir sampai pasien berada di


meja bedah (Hidayat, 2006). Selanjutnya Taylor (1997) dalam Setiawan dan
Tanjung (2005) menyatakan bahwa operasi merupakan masa kritis dan
menghasilkan kecemasan. Tindakan operasi sering menyebabkan kecemasan
pada pasien. Segala bentuk prosedur pembedahan selalu didahului dengan
suatu reaksi emosional tertentu oleh pasien. Ansietas praoperatif kemungkinan
merupakan suatu respon antisipasi terhadap suatu pengalaman yang dapat
dianggap pasien sebagai suatu

ancaman terhadap perannya dalam hidup,

integritas tubuh, atau bahkan

kehidupannya itu sendiri. Sudah diketahui

bahwa pikiran yang bermasalah secara langsung mempengaruhi fungsi tubuh.


Kecemasan merupakan satu perasaan subjektif yang dialami seseorang
terutama oleh adanya pengalaman baru, termasuk pada pasien yang akan
mengalami tindakan invasive seperti pembedahan. Dilaporkan bahwa pasien
mengalami cemas karena hospitalisasi, pemeriksaan dan prosedur tindakan
medik yang menyebabkan perasaan tidak nyaman (Rawling, 1984; Setiawan

dan Tanjung, 2005). Kecemasan merupakan sesuatu hal yang wajar oleh
karena setiap orang menginginkan segala sesuatunya dapat berjalan dengan
lancar dan terhindar dari segala marabahaya atau

kegagalan. Kecemasan

melibatkan persepsi tentang perasaan yang tidak menyenangkan dan reaksi


fisiologis, dengan kata lain kecemasan adalah reaksi atas situasi yang
dianggap berbahaya (Trismiati, 2004; dalam Purba, Wahyuni, Daulay,
Nasution, 2008). Sedangkan

Corey (1995 Purba dkk, 2008) mengartikan

ansietas sebagai suatu keadaan tegang yang memaksa individu untuk berbuat
sesuatu. Akan tetapi, bila keadaan ini terus menerus berlangsung dapat
menyebabkan keadaan yang panik dimana seseorang tidak dapat lagi melihat
segala sesuatu dengan pikiran jernih karena lahan persepsinya sangat
menyempit
Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) pada tahun
2007, Amerika Serikat menganalisis data dari 35.539 klien bedah dirawat
di unit perawatan intensif antara 1 oktober 2003 dan 30 september 2006.
Dari 8.922 pasien (25,1%) mengalami kondisi kejiwaan dan 2,473klien(7%)
mengalami kecemasan. Berdasarkan data dari Rumah Sakit Umum Pusat
(RSUP) Fatmawati tahun 2012, didapatkan bahwa 10% dari klien yang
akan

menjalani pembedahan,

pembatalan proses

operasi.

terjadi

penundaan proses

Diantaranya

5% kasus

operasi atau

pembatalan atau

penundaan proses operasi disebabkan peningkatan tekanan darah, 2% kasus


disebabkan klien haid, dan 3% disebabkan klien ketakutan dan keluarga
klien menolak

untuk

dilakukannya proses

operasi. Penelitian

yang

dilakukan oleh Ferlina Indra S pada tahun 2012 tentang tingkat kecemasan
pre operasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sragen, bahwa dari

40 orang responden yang menjalani operasi dalam tingkat kecemasan berat


sebanyak 7 (17,5%), 16orang (40%) yang memilki tingkat kecemasan
sedang, 15 orang (37,5%) ringan dan 2 orang (5%) responden yang tidak
merasa cemas (Venny,2014) Menurut Indra, (2002) dilaporkan bahwa tanpa
meyebutkan tingkat kecemasan preoperatif diketahui 80% pasien preoperatif
mengalami kecemasan sebelum tindakan pembedahan. Sedikit berbeda dari
hasil yang diperoleh dengan Amaliah (2009) RSD Panembahan Sinopati
Bantul Yogjakarta

menemukan sekitar (65,71%)

pasien mengalami

kecemasan saat sebelum di lakukan tindakan. penelitian Wijayanti (2009),


RSUD Dr. Soeraji tirto Negoro Klaten Jawa Tengah

ditemukan bahwa

(64,5%) pasien mengalami cemas ringan dan (35,5%) pasien mengatakan


cemas berat.
Tingkat kecemasan pasien preoperasi yang relatif tinggi (berat atau
panik) disebabkan

operasi yang dilakukan adalah operasi elektif atau

direncanakan dan pasien sudah terlebih dahulu diberitahu oleh tim medis
bahwa akan operasi. Selain itu rendahnya tingkat kecemasan pasien preoperasi
ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya: pasien umumnya merasa pasrah
terhadap prosedur medis yang dihadapinya, pasien dengan penyakit kronis
yang akan melalui prosedur pembedahan merasa operasi adalah hal yang
wajar, selain itu juga aspek spiritual pasien preoperasi meningkat sehingga
lebih tenang menjalani operasi dan menganggap operasi sebagai cara terbaik
dan pasien yakin ke pada Tuhan. Hal ini sesuai pendapat Atkinson (1992)
dalam Setiawan dan Tanjung (2005) yang mengatakan bahwa kemampuan
seseorang berbeda dalam mengha dapi situasi krisis dan dipengaruhi oleh
berbagai faktor, diantaranya faktor budaya, agama, dan sosial ekonomi.

Praoperatif dapat mengalami berbagai ketakutan. Takut terhadap anestesia,


takut terhadap nyeri atau kematian, takut tentang ketidaktahuan atau takut
tentang deformitas atau ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan
ketidaktenangan atau ansietas (Brunner dan Suddarth, 2001)
Perawat mempunyai peranan yang sangat penting dalam setiap
tindakan pembedahan baik pada masa sebelum, selama maupun setelah
operasi. Intervensi keperawatan yang tepat diperlukan untuk mempersiapkan
klien baik secara fisik maupun psikis. Tingkat keberhasilan pembedahan
sangat tergantung pada setiap tahapan yang dialami dan saling ketergantungan
antara tim kesehatan yang terkait (dokter bedah, dokter anstesi dan perawat) di
samping peranan pasien yang kooperatif selama proses perioperatif. Aspek
mental untuk pasien pre operasi yaitu membantu pasienmengetahui tentang
tindakan tindakan yang dialami pasien sebelum operasi,memberikan informasi
pada pasien tentang waktu operasi, hal -hal yang akan dialami oleh pasien
selama

proses

operasi

dan

menunjukkan

tempat

kamaroperasi

(Brunner&Suddarth, 2002) Berdasarkan ulasan diatas peneliti tertarik untuk


menyusun Karya Tulis Ilmiah yang berjudul Gambaran Tingkat Kecemasan
Pasien Pre Operasi di Rumah Sakit Citra Husada Jember.

1.2 Identifikasi Masalah


Ketika menjalani tahap pre operasi, semua pasien pre operasi
baik terprogram (operasi elektif ) atau pasien tidak terprogram (Cyto),
menunggu jam operasi diruang tunggu operasi dalam waktu yang
bersamaan. Dalam ruangan tersebut perawat dan dokter

melakukan

persiapan operasi untuk semua jenis pasien. Ruang persiapan operasi juga

merupakan jalur antara pasien pre operatif dengan pasien post operatif yang
akan masuk ke Recovery Room, hal ini menimbulkan gambaran yang
menakutkan bagi pasien yang belum pernah dioperasi. Sehingga ada
beberapa pasien yang merasa takut yang akhirnya menimbulkan kecemasan
pre operasi
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Mei 2015
terhadap pasien yang akan dilakukan pembedahan, peneliti melakukan
wawancara (anamnesis) terkait perasaan klien saat akan dilakukan operasi,
wawancara dilakukan kepada 15 orang dimana 8 orang
separuh( 53,3%)

atau lebih dari

mengungkapkan secara verbal rasa cemas dan khwatir

terhadap proses pembedahan namun tanpa disertai gejala fisik, 2 orang


(13,3%) mengungkapkan perasaan cemas secara verbal disertai perubahan
gejala fisik berupa keringat dingin , peningkatan frekuensi nadi namun tidak
dilakukan penundaan operasi, dan 1 orang (6,6%) mengalami kecemasan
disertai perubahan fisik berupa keringat dingin, menangis, serta gangguan
tidur , ketidakstabilan vital sign sehingga tindakan bedah harus ditunda, semua
data tersebut juga tercantum dalam rekam medik pasien dan catatan laporan
keperawatan selama periode bulan Mei 2015, dan 4 orang klien (26,6%)
mengungkapkan secara verbal siap menghadapi operasi.
1.3 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka diketahui masalah penelitian
sebagai berikut : Bagaimanakah Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi di
Rumah Sakit Citra Husada Jember ?