Anda di halaman 1dari 14

1

6. VISKOSITAS
1.

TUJUAN
Menentukan viskositas dari suatu larutan.

2.

PRINSIP
Berdasarkan pengukuran kekentalan dengan menggunakan viskometer

dengan satuan poise.


3.

TEORI
3.1 Pengertian viskositas
Viskositas (kekentalan) adalah salah satu sifat fisik dari suatu cairan
atau materi cair. Viskositas juga merupakan hambatan terhadap aliran suatu
cairan yang didefinisikan sebagai rasio antara tegangan geser (shear stress)
terhadap laju geser (shear rate) (Astawan, 2002). Kekentalan merupakan
sifat cairan yang berhubungan erat dengan hambatan untuk mengalir.
Beberapa cairan ada yang dapat mengalir cepat, sedangkan lainnya mengalir
secara lambat. Cairan yang mengalir cepat seperti air, alkohol dan bensin
mempunyai viskositas kecil. Sedangkan cairan yang mengalir lambat seperti
gliserin, minyak castor dan madu mempunyai viskositas besar. Jadi
viskositas tidak lain menentukan kecepatan mengalirnya suatu cairan
(Sutiah, etal., 2008).
Viskositas disebabkan karena kohesi antara partikel zat cair. Zat cair
ideal tidak mempunyai viskositas. Zat cair kental seperti sirup atau oli,
mempunyai viskositas besar, sedangkan zat cair encer seperti air
mempunyai viskositas kecil. Viskositas zat cair dapat dibedakan menjadi
dua yaitu viskositas dinamik () atau viskositas absolute dan viskositas
kinematis (Wyllie, 1992).
Viskositas mula-mula

diselidiki

oleh

Newton,

yaitu

dengan

mensimulasikan zat cair dalam bentuk tumpukan kartu. zat cair diasumsikan
terdiri dari lapisan-lapisan molekul yang sejajar satu sama lain. Lapisan
terbawah tetap diam, sedangkan lapisan di atasnya bergerak dengan
kecepatan konstan, sehingga setiap lapisan akan bergerak dengan kecepatan
yang berbanding langsung dengan jaraknya terhadap lapisan terbawah yang
tetap. Perbedaan kecepatan (dv) antara dua lapisan yang dipisahkan dengan

jarak (dx) adalah (dv/dx) atau kecepatan geser (rate of share). Sedangkan
gaya satuan luas yang dibutuhkan untuk mengalirkan zat cairan tersebut
adalah (F/A) atau Shearing stress.
F'/A= dv/dx atau
=(F'A)/(dvdx)
Viskositas () merupakan perbandingan antara shearing stress (F/A) dan
rate of shear (dv/dx). Satuan viskosit adalah poise atau dyne detik cm-2.
Cairan Newton adalah cairan yang mengikuti hukum Newton di mana
nilai shearing stress sebanding dengan nilai rate of shear (kecepatan geser),
sehingga viskositasnya tetap pada suhu dan tekanan tertentu dan tidak
tergantung kepada kecepatan geser, jadi viskositasnya cukup ditentukan
pada satu kecepatan geser.
Fluida, baik zat cair maupun zat gas yang jenisnya berbeda memiliki
tingkat kekentalan yang berbeda. Viskositas/ kekentalan sebenarnya
merupakan gaya gesekan antara molekul-molekul yang menyusun suatu
fluida. Jadi molekul-molekul yang membentuk suatu fluida saling gesekmenggesek ketika fluida fluida tersebut mengalir. Pada zat cair, viskositas
disebabkan karena adanya gaya kohesi (gaya tarik menarik antara molekul
sejenis). Sedangkan dalam zat gas, viskositas disebabkan oleh tumbukan
antara molekul (Bird, 1993).
Fluida yang lebih cair lebih mudah mengalir, contohnya air.
Sebaliknya, fluida yang lebih kental lebih sulit mengalir, contohnya minyak
goreng, oli, madu, dan lain-lain. Hal ini bisa dibuktikan dengan
menuangkan air dan minyak goreng diatas lantai yang permukaannya
miring. Pasti hasilnya air lebih cepat mengalir dari pada minya goreng atau
oli. Tingkat kekentalan suatu fluida juga bergantung pada suhu. Semakin
tinggi suhu zat cair, semakin kurang kental zat cair tersebut. Misalnya ketika
ibu menggoreng ikan di dapur, minyak goreng yang awalnya kental,
berubah menjadi lebih cair ketika dipanaskan. Sebaliknya, semakin tinggi
suhu suatu zat gas, semakin kental zat gas tersebut.
Satuan sistem internasional (SI) untuk koifisien viskositas adalah
Ns/m2 = Pa.S (pascal sekon). Satuan CGS (centimeter gram sekon) untuk SI
koifisien viskositas adalah dyn.s/cm 2 = poise (p). Viskositas juga sering

dinyatakan dalam sentipoise (cp). 1 cp = 1/1000 p. satuan poise digunakan


untuk mengenang seorang Ilmuwan Prancis, Jean Louis Marie Poiseuille.
1 poise = 1 dyn. s/cm2 = 10-1 N.s/m2
Fluida adalah gugusan molukel yang jarak pisahnya besar, dan kecil
untuk zat cair. Jarak antar molukelnya itu besar jika dibandingkan dengan
garis tengah molukel itu. Molekul-molekul itu tidak terikat pada suatu kisi,
melainkan saling bergerak bebas terhadap satu sama lain. Jadi kecepatan
fluida atau massanya kecapatan volume tidak mempunyai makna yang tepat
sebab jumlah molekul yang menempati volume tertentu terus menerus
berubah (while, 1988).
3.2

Macam- macam viskositas

1. Viskositas relatif
Merupakan rasio viskositas larutan terhadap viskositas pelarut yang
proporsional dengan pendekatan pertama untuk larutan encer ke rasio
waktu aliranyang sesuai.
2. Viskositas spesifik
Merupakan kenaikan fraksi (bagian) dalam viskositas. Viskositas
intrinsik dapat diperoleh dari viskositas spesifik yang dibagi oleh
kensentrasi dan kstra polasi ke nol.
3. Viskositas inheren
Digunakan sebagai indikasi pendekatan dari bobot molekul. Viskositas
yang paling bermanfaat dan mudah dipakai karena bisa dihubungkan ke
berat molekul pada persamaan Mark-Houwink adalah viskositas intrinsik
(Steven 2001).
3.3

Faktor - faktor yang mempengaruhi viskositas

1. Tekanan
Viskositas cairan naik dengan naiknya tekanan, sedangkan viskositas
gas tidak dipengaruhi oleh tekanan.
2. Temperatur
Viskositas akan turun dengan naiknya suhu, sedangakan viskositas
akan naik dengan turunnya suhu. Pemanasan zat cair menyebabkan
molekul-molekulnya

memperoleh

energi.

Molekul-molekul

cairan

bergerak sehingga gaya interaksi antar molekul melemah. Dengan


demikian viskositas cairan akan turun dengan kenaikan tempertatur.
3. Adanya zat lain
Adanya bahan tambahan seperti bahan suspense meningkatkan
viskositas air
4. Ukuran dan berat molekul
Viskositas naik dengan naiknya berat molekul.
5. Ikatan
Viskositas akan naik jika ikatan rangkap semakin banyak. Viskositas
air naik dengan adanya ikatan hidrogen.
3.4

Pengertian piknometer
Piknometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur nilai massa

jenis atau densitas dari fluida. Piknometer itu terdiri dari 3 bagian, yaitu
tutup pikno, lubang, gelas atau tabung ukur. Cara menghitung massa fluida
yaitu dengan mengurangkan massa pikno berisi fluida dengan massa pikno
kosong. Kemudian di dapat data massa dan volume fluida, sehingga tinggal
menentukan nilai cho/massa jenis () fluida dengan persamaan = cho () =
massa per volume (Whille, 1988).
3.5 Macam- macam viskometer
Cara menentukan viskositas suatu zat menggunakan alat yang
dinamakan viskometer. Ada beberapa tipe viskometer yang biasa digunakan
antara lain :
1.
Viskometer kapiler / Ostwald
Viskositas dari cairan yang ditentukan dengan mengukur waktu yang
dibutuhkan bagi cairan tersebut untuk lewat antara 2 tanda ketika mengalir
karena gravitasi melalui viskometer Ostwald. Waktu alir dari cairan yang
diuji dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi suatu zat yang
viskositasnya sudah diketahui (biasanya air) untuk lewat 2 tanda tersebut
(Moechtar,1990). Berdasarkan persamaan poisseulle, menggunakan rumus
yaitu:

2.

Viskometer Hoppler
Berdasarkan hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi

keseimbangan sehingga gaya gesek = gaya berat gaya archimides. Prinsip


kerjanya adalah menggelindingkan bola ( yang terbuat dari kaca) melalui
tabung gelas yang berisi zat cair yang diselidiki. Kecepatan jatuhnya bola
merupakan fungsi dari harga resiprok sampel (Moechtar,1990).
3.
Viskometer Cup dan Bob
Prinsip kerjanya sample digeser dalam ruangan antara dinding luar
dari bob dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengahtengah. Kelemahan viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang
disebabkan geseran yang tinggi di sepanjangkeliling bagian tube sehingga
menyebabkan

penurunan

konsentrasi.

Penurunan

konsentras

ini

menyebabkab bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini
disebut aliran sumbat (Moechtar,1990).
4.
Viskometer Cone dan Plate
Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan ditengah-tengah
papan, kemudian dinaikkan hingga posisi di bawah kerucut. Kerucut
digerakkan oleh motor dengan bermacam kecepatan dan sampelnya digeser
di dalam ruang semitransparan yang diam dan kemudian kerucut yang
berputar (Moechtar,1990).

4.

ALAT DAN BAHAN

4.1 Alat yang digunakan:


1. Viskometer brookfield
2. Viskometer ostwald
3. Gelas ukur
4. Kompor listrik
5. Bunsen
6. Stopwatch
7. Pipet ukut
8. Statif
9. Klem
4.2 Bahan yang digunakan:
1. F1 (0.0031%)
2.
3.
4.
5.

F2 (0.0037%)
F3 (0.0041%)
F4 (50mL + F1 dikeringkan)
F5 (50mL + F2 dikeringkan)

6. Aquadest
5.

PROSEDUR
Dibuat variasi larutan konsentrasi dari zat pensuspensi, mulai dari

konsentrasi rendah hingga konsetrasi tinggi. Kemudian pasang spindel 01 pada


viskometer Brookfield dan masukan larutan uji kedalam cup yang telah disiapkan,
arahkan spindel yang telah terpasang ke dalam cup secara tegak lurus sampai
tanda batas kemudian hidupkan viskometer dan amati nilai pada display
viskometer.
Larutan uji yang viskositasnya tidak terbaca pada viskometer brookfield di
uji dengan menggnakan viskometer ostwald dengan cara memipet 15 larutan uji
lalu masukkan ke dalam viscometer ostwald hisap larutan uji sampai batas
m(batas atas) biarkan mengalir sampai batas n ( batas bawah) kemudian catat
waktu akhir larutan uji sampai batas n.

6.

DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

Tabel 1. Pengamatan variasi konsentasi sampel


Nama Sampel

Viskometer Brookfield
Spindle 1
Spindle 2 Spindle 3
(poise)
(poise)
(poise)
128
3564
0
129,1
3544
0
132,7
3640
0
123,4
3444
0
123,7
3456
0

F1
F2
F3
F4
F5

Viskometer
Ostwald
(poise)
9.987 x 10-3
8.035 x 10-3
9.968 x 10-3
8.120 x 10-3
1.028 x 10-2

Tabel 2. Pengamatan Menggunakan Viskometer Ostwald


Nama Sampel
Pengukuran
(sekon)
F1
14
F2
13
F3
14
F4
11
F5
12
Air
12
Tabel 3. Penimbangan Sampel
Nama Sampel
Massa (gram)
F1
10.33
F2
8.95
F3
10.31
F4
10.69
F5
12.41
Air
10.74
Perhitungan :
Kerapatan sampel
=

Sampel F1

= 9.987 x 10-3 poise

Sampel F2

= 8.035 x 10-3 poise

Sampel F3

= 9.968 x 10-3 poise

Sampel F4

= 8.120 x 10-3 poise

Sampel F5

10

= 1.028 x 10-2 poise

7.

PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan sebuah uji viskositas yang bertujuan

untuk mengetahui kekentalan dari suatu cairan. Penentuan viskositas ini


ditentukan menggunakan alat viskometer. Viskometer yang digunakan adalah
Viskometer Brookfield dan Viskometer Ostwald.
Viskositas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor suhu,
konsentrasi, berat molekul, dan tekanan. Pada viskositas, suhu berbanding terbalik
dengan viskositas, jika suhu dinaikkan maka viskositas akan turun, dan begitu
sebaliknya. Hal ini disebabkan karena adanya gerakan partikel-partikel cairan
yang semakin cepat apabila suhu ditingkatkan dan menyebakan turunnya
kekentalan. Konsentrasi, viskositas berbanding lurus dengan konsentrasi larutan.
Suatu larutan dengan konsentrasi tinggi akan memiliki viskositas yang tinggi pula,
karena konsentrasi larutan menyatakan banyaknya partikel zat yang terlarut tiap
satuan volume. Semakin banyak partikel yang terlarut, gesekan antar partikel
semakin tinggi dan viskositasnya semakin tinggi pula. Faktor berat molekul,
viskositas berbanding lurus dengan berat molekul. Karena dengan adanya berat
akan menghambat atau memberi beban yang berat pada cairan sehingga
manaikkan viskositas. Tekanan, semakin tinggi tekanan maka semakin besar
viskositas suatu cairan.
Pada percobaan kali ini digunakan sampel yaitu F1 (0.0031%), F2
(0.0037%), F3 (0.0041%), F4 (50mL + F1 dikeringkan), F5 (50mL + F2
dikeringkan) dengan variasi konsentrasi yang berbeda-beda. Variasi ini

11

dimaksudkan agar dapat mengetahui bagaimana pengaruh konsentrasi terhadap


viskositas cairan tersebut.
Pada pengukuran viskositas dengan menggunakan Viskometer Brookfield
prinsipnya yaitu rotasi dengan mengkombinasikan setting spindle dan kecepatan
putar spindle. Pada viskometer ini dilengkapi dengan tiga spindle yang memiliki
bentuk yang berbeda-beda, ada yang berukuran kecil (R2), sedang (R1), dan besar
(R3). Pada literatur, spindel R2 digunakan untuk sampel yang memiliki
kekentalan antara 100 4000 dPa-s, spindle R1 digunakan untuk sampel yang
memiliki kekentalan antara 3 150 dPa-s dan untuk spindle R3 untuk sampel
yang memiliki 0.3 13 dPa-s.

Selain ukurannya berbeda-beda, ketiga jenis

spindle ini memiliki fungsi yang berbeda-beda pula.


Proses pengadukan tergantung pada viskositas cairan itu sendiri karena
semakin kental suatu cairan, maka semakin sulit dilakukan pengadukan sehingga
harus digunakan ukuran pengadukan yang kecil. Hal ini dikarenakan, pada larutan
yang memiliki viskositas yang tinggi, bila diaduk menggunakan pengaduk dengan
ukuran besar maka akan dibutuhkan gaya yang lebih besar pula. Hal ini akan
menyebabkan sulitnya spindle untuk berputar sehingga tidak terbacanya nilai
viskositas suatu cairan pada alat. Sehingga pengaduk ukuran besar digunakan
untuk mengukur viskositas cairan yang memiliki viskositas yang kecil, sedangkan
pengaduk ukuran kecil digunakan untuk mengukur viskositas yang besar.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa sampel
terdeteksi pada spindle 1 dan 2 sedangkan pada spindle 3 tidak terdeteksi, karena
sampel yang digunakan ini terlalu kecil konsentrasinya, seharusnya pada semua
spindle sampel ini tidak terdeteksi. Kesalahan ini dapat terjadi karena kesalahan
dalam pengukuran atau pembacaan dalam viskometer belum terlihat secara
konstan, sehingga menghasilkan angka yang tidak sesuai.
Pada pengukuran viskositas dengan menggunakan Viskometer Ostwald,
yang mana pada metode ini dilakukan dengan mengukur waktu alir yang
dibutuhkan oleh suatu cairan untuk mengalirkan antara dua tanda yaitu tanda atas
dan tanda bawah pada pipa viskometer. Aliran pada viskometer Ostwald
tergantung dari kecepatan, kerapatan dan kekentalan dari cairan dan ukuran dari
tempat mengalirnya. Pada pengukuran ini, viskositas berbanding lurus dengan

12

kerapatan. Jadi semakin besar viksositas suatu zat maka semakin besar pula
kerapatanya. Akan tetapi pada pengukuran sampel tidak menunjukkan hal yang
demikian, hal ini disebabkan pada faktor pengukuran yang tidak sesuai sehingga
menyebabkan kesalahan.
Pengukuran ini dilakukan berulang karena untuk mendapatkan nilai yang
mendekati benar karena alat yang digunakan tidak dapat menentukan hasilnya
secara pasti sehingga hasilnya bisa dirata-ratakan. Pembanding pada viskometer
Ostwald ini adalah dengan air yang sudah diketahui tingkat viskositasnya yaitu
0,89 cpoise.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa
waktu alir yang diperlukan sampel dari garis atas ke garis bawah tidak
memerlukan waktu yang lama, hal ini dikarenakan semakin kecil viskositas cairan
maka semakin cepat pula waktu alir dari cairan tersebut. Cairan yang mempunyai
tipe alir Newton misalnya ; air, etanol, gliserin, minyak pelumas serta larutan yang
mempunyai senyawa terlarut dengan ukuran partikel kecil, misalnya larutan gula.
Karena pada tipe aliran Newtonian apabila diberika gaya maka viskositas tidak
berubah. Sedangkan aliran non-newtonian apabila diberikan gaya, maka viskositas
akan berubah. Biasanya cairan tipe non Newtonian ini terdapat pada sediaan
farmasi misalnya suspensi, emulsi, gel dan sedian yang serupa dengan kelas ini.
8.

KESIMPULAN
Berdasarkan data dan pengamatan, dapat disimpulkan bahwa viskositas

digunakan untuk mengukur suatu kekentalan suatu cairan. Viskometer Ostwald


dapat digunakan untuk larutan yang memiliki tipe aliran Newtonian, yang apabila
diberikan gaya maka viskositasnya tidak berubah seperti air, gliserin dan senyawa
terlarut dengan ukuran partikel yang kecil sedangkan viskometer Brookfield dapat
digunakan untuk suspensi, emsulsi, gel, salep, koloid, yang memiliki tipe aliran
Non-Newtonian apabila diberikan gaya maka viskositasnya akan berubah.

13

DAFTAR PUSTAKA
Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Keempat.Jakarta :
Universitas Indonesia.
Chang, R. 2005. Kimia Dasar Konsep-konsep Inti. Jakarta : Erlangga.
Dogra, S. 1990. Kimia Fisika dan Soal-soal . Jakarta : Universitas Indonesia.
Rowe, R.C., Sheckey, P.J., and Quinn, M.E., 2009, Handbook of Pharmaceutical
Excipients, Sixth Edition, Pharmaceutical Press and American Pharmacists
Association, London, page 766.
Sukarjo, Dr. 1989. Kimia fisika. Jakarta PT : Bina Aksara.
Martin, A. Farmasi Fisik Edisi ketiga. Jakarta : UI-Press.
Wylie, EB. 1992. Mekanika Fluida. Jakarta : Erlangga.

14

LEMBAR DISTRIBUSI
1. Ernawati : Tujuan, Prinsip, Teori dasar, Alat dan Bahan, Prosedur
2. Rostika : Pembahasan, Kesimpulan dan Daftar Pustaka
3. Betty : Data pengamatan dan perhitungan, Edit

Anda mungkin juga menyukai