Anda di halaman 1dari 9

PENGKAJIAN UMUM

KARDIOVASKULER

DOSEN PEMBIMBING : HARIS AB, S.Kep.Ns.M.Ph

Disusun oleh : Hairunnisah


Juwanda
Rahmi
Sri Wahyuningsih

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) YAHYA


TAHUN AKADEMIK 2009-2010
PENGKAJIAN UMUM KARDIOVASKULER

1. Persiapan klien
 Buatlah penerangan yang baik dalam ruangan, termasuk
penerangan untuk pengkajian
 Klien sebaiknya berbaring dengan badan bagian atas sedikit
terangkat, dan pemeriksa sebaiknya berdiri disisi kanan klien.
 Minta klien untuk tidak berbicara selama pemeriksaan kecuali
diminta oleh pemeriksa.
 Agar klien tidak cemas, jangan perlihatkan kekuatiran tentang
hasil selama pengkajian.

2. Pengkajian Riwayat Kesehatan


 Kaji riwayat merokok, penggunaan alkohol, pemakaian obat-
obatan, kebiasaan latihan, dan pola diet termasuk
pemasukannya
 Apakah klien mendapat pengobatan untuk fungsi
kardiovaskuler? Apakah klien mengetahui kegunaan, dosis,
dan efek samping pengobatan?
 Tanyakan apakah klien mengalami nyeri atau
ketidaknyamanan pada dada, palpitasi, kelelahan yang
berlebihan, dispnea, edema pada kaki, pingsan atau ortopnea.
Apakah gejala-gejala ini terjadi saat istirahat atau latihan.

 Bila terjadi nyeri dada, tentukan apakah hal tersebut murni


karena jantung (Rossi dan Leary, 1992 dikutip dari Potter,
1996), nyeri angina biasanya berupa tekanan atau rasa sakit
yang dalam, substernal dan menyebar ke salah satu atau
kedua lengan, bisa sampai ke rahang; Tentukan frekuensinya.
Apakah nyeri menyebar ke lengan, bahu, atau leher? Apakah
nyeri tersebut disertai terjadinya diaforesis.
 Apakah klien menjalani gaya hidup yang penuh stres
 Kaji riwayat keluarga klien mengenai penyakit jantung seperti
hipertensi, stroke, kolesterol tinggi, atau penyakit jantung
rematik.

 Apakah klien mengetahui adanya hipertensi atau penyakit


jantung tersebut
 Apakah klien mengalami diabetes atau gejala awal diabetes,
penyakit paru atau obesitas
 Tentukan apakah klien minum minuman mengandung kafein
yang berlebihan.
 Kaji kebiasaan makan klien seperti mengkonsumsi lemak,
natrium.

11 pola kes.fungsional (Gordon)

 Pola persepsi kes./menanganan kes. klien merasakan


kondisi kes dan bgm menangani
 Pola nutrisi/metabolikgambaran pola makan dan
kebut.cairan b/d kebutuhan metabolik dan suplai nutrisi
 Pola eliminasi gambaran pola fungsi pembuangan (bab,
bak, mel.kulit)

 Pola aktifitas/olah raga gambaran pola aktifitas, olahraga,


santai, rekreasi
 Pola tidur-istirahat  gambaran pola tidur, istirahat, dan
relaksasi
 Pola kognitif dan perceptual  gambaran pola konsep diri
klien dan persepsi thd dirinya
 Pola peran/hubungan  gambaran pola peran dalam
berpartisipasi/berhubungan dg orang lain

 Pola seksualitas/reproduksi gambaran pola


kenyamanan/tidak nyaman dg pola seksualitas edan
gambaran pola reproduksi
 Pola koping/toleransi stress gambaran pola koping klien
secara umum dan efektifitas dalam toleransi thd stress
 Pola nilai/keyakinan  gambaran pola nilai2, keyakinan2
9termasuk asfek spiritual), dan tujuan yg dapat mengarahkan
menentukan pilihan/keputusan.
3. Pemeriksaan Fisik

1). Keadaan Umum Pasien


 Pemeriksaan keadaan umum pasien dimaksudkan untuk
mendapatkan kesan umum pasien tersebut. Dalam
pemeriksaan ini perlu diperhatikan kelainan dan usia pasien,
tampak sakit atau tidak, kesadaran dan keadaan emosi,
dalam keadaan comfort atau distress, serta sikap dan tingkah
laku pasien.

2). Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital

a). Pernapasan :
Dalam menilai pernapasan secara fisis, perlu diperhatikan :
 posisi badan, untuk menilai ortopnea
 ekspresi muka, untuk menilai keadaan emosi atau stress pada
pernapasan
 pernapasan pada gerak badan dibandingkan dengan
pernapasan pada keadaan istirahat
 tanda-tanda objektif dispnea.

b). Nadi
Kriteria keadaan nadi :
 Frekuensi, menyatakan jumlah denyut nadi per menit.
 Regularitas, menunjukkan teratur/tidaknya nadi bila tidak
teratur tentukan apakah ada defisit denyut nadi, yaitu selisih
antara frekuensi nadi dan denyut jantung per menit.
 Amplitudo, menggambarkan besar kecilnya isi sekuncup.
 Bentuk (contour), memberikan gambaran upstroke atau down
stroke.
 Isi (volume), menunjukkan besar/kecilnya isi bolus darah
dalam arteri.
 Perabaan arteri, untuk mengetahui keadaan (kondisi) dinding
arteri.

Macam-Macam Denyut Nadi


• Nadi yang keras (augmented pulsation)
• Nadi yang lemah atau kecil (pulsus parvus)
• Nadi yang kecil dan terisi dengan lambat (pulsus parvus et
tardus)
• Nadi yang terisi dengan cepat dan mengosong dengan
cepat (rapid upstroke and collapsing pulse= Corrigan pulse)

• Nadi bifida (pulsus bisferiens), terjadi pada obstruksi pada


aliran keluar ventrikel kiri yang moderat disertai regurgitasi
pada katup aorta berat (stenosis dan insufisiensi katup aorta)
• Nadi dikrotik (dicrotic pulse) , curah jantung yang rendah
dengan elastisitas dinding arteri yang masih normal, misalnya
pada kardiomiopati, tamponade jantung dan CHF berat
• Pulsus alternans, nadi yang saling bergantian antara nadi
yang relatif kuat diselingi oleh nadi yang lebih lemah (CHF)
• Pulsus paradoxus, terjadi karena pengurangan tekanan
nadi yang berlebihan sampai 15 mmHg atau lebih pada waktu
inspirasi (perikarditis)
• Pulsus bigeminus, dua denyut berturut-turut dan diselingi
oleh interval yang lebih panjang (KAP)
• Pulsus defisit, jumlah denyut jantung lebih besar dari
jumlah denyut nadi (fibrilasi atrial, ekstrasistol prematur)

C). Tekanan Darah


Tekanan darah banyak bergantung pada :
• Curah jantung, yang merupakan cerminan fungsi jantung
• Resistensi vaskular perifer (TPR), ditentukan oleh diameter
pembuluh darah perifer.
• Tonus dan elastisitas arteri, menggambarkan kondisi
dinding pembuluh darah perifer.
• Volum darah dalam arteri, menunjukkan jumlahnya darah
intravaskular.
• Viskositas darah, menunjukkan kondisi cairan
intravaskular.

d). Suhu Badan


• Kalori dalam suhu badan merupakan hasil metabolisme
sel-sel jaringan tubuh. Kalori suhu badan diatur melalui pusat
termoregulator di susunan saraf pusat autonom. Aliran darah
melalui sistem kardiovaskular berperan untuk
mendistribusikan panas ke seluruh tubuh.

1). Posture Tubuh


2). Bentuk Badan
3). Textur Jaringan dan Wama Kulit
4). Kepala
5). Mata
6). Mulut
7). Kuping
8). Muka
9). Leher
10). Vena Jugularis Eksterna
11). Cannon Waves
12). Arteri Karotis
13). Kelenjar Tiroid
14). Kelenjar Getah Bening

15). Dada
• Kelainan bentuk dada seringkali berkaitan dengan anatomi
dan faal jantung. Di samping itu juga mempengaruhi faal
pernapasan yang kemudian secara tidak langsung mempe
ngaruhi faal sirkulasi darah yang akan menjadi beban kerja
jantung

16). Pemeriksaan Perut


• Diperhatikan besar, bentuk dan konsistensi serta mencari
ada tidaknya nyeri tekan.
• Hepato jugular reflux dapat diperiksa dengan menekan
perut di kuadran atas, maka akan menambah pembendungan
vena jugularis yang sudah meninggi. Keadaan ini dapat
ditemukan pada gagal jantung kanan dan gagal jantung
kongestif

Pemeriksaan Khusus

1). Inspeksi
• Perhatikan bentuk prekordial, apakah normal, mengalami
depresi atau ada penonjolan asimetris (voussure cardiaque),
yang disebabkan pembesaran jantung sejak kecil. Hipertropi dan
dilatasi ventrikel kiri dan kanan dapat terjadi akibat kelainan
kongenital.

• Garis anatomis pada permukaan badan yang penting pada


permukaan dada ialah :
• garis tengah sternal (mid sternal line/MSL)
• garis tengah klavikular (mid clavicular
• line/MCL)
• garis anterior line (anterior axillary
• line/AAL)
• garis para sternal kiri dan kanan
• (parastrenal line/PSL)

2). Palpasi Jantung


• Pada palpasi jantung telapak tangan diletakkan di atas
prekordium dan dilakukan perabaan di atas iktus kordis (apical
impulse)
• Lokasi point of maximal impulse (PMI) terletak pada ruang sela
iga (RSI) V kira-kira 1 jari medial dari garis midklavikular (medial
dari apeks anatomis). Pada bentuk dada yang panjang dan
gepeng, iktus kordis terdapat pada RSI VI medial dari garis
midklavikular, sedangkan pada bentuk dada yang pendek lebar,
letak iktus kordis agak ke lateral.

3). Perkusi Jantung

Cara Perkusi
• Batas atau tepi kiri pekak jantung yang normal terletak pada
ruang interkostal III/IV pada garis parasternal kiri. Pekak jantung
relatif dan pekak jantung absolut perlu dicari untuk menentukan
gambaran besamya jantung.
• Pada kardiomegali, batas pekak jantung melebar ke kiri dan ke
kanan.
• Dilatasi ventrikel kiri menyebabkan apeks kordis bergeser ke
lateral-bawah.
• Hipertrofi atrium kiri menyebabkan pinggang jantung merata
atau menonjol ke arah lateral.
• Pada hipertrofi ventrikel kanan, batas pekak jantung melebar ke
lateral kanan dan/ atau ke kiri atas.
• Pada perikarditis pekak jantung absolut melebar ke kanan dan ke
kiri.
• Pada emfisema paru, pekak jantung mengecil bahkan dapat
menghilang pada emfisema paru yang berat, sehingga batas
jantung dalam keadaan tersebut sukar ditentukan.

4). Auskultasi Jantung


• Bunyi jantung I ditimbulkan karena
• kontraksi yang mendadak terjadi pada awal sistolik
meregangnya daun-daun katup mitrai dan trikuspid yang
mendadak akibat tekanan dalam ventrikel yang meningkat
dengan cepat,
• meregangnya dengan tiba-tiba chordae tendinea yang
memfiksasi daun-daun katup yang telah menutup dengan
sempurna,
• dan getaran kolom darah dalam outflow tract (jalur keluar)
ventrikel kiri dan dinding pangkal aorta dengan sejumlah darah
yang ada di dalamnya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas BJ I, yaitu :


• kekuatan dan kecepatan kontraksi otot ventrikel makin kuat dan
cepat, makin keras bunyinya.
• Posisi daun katup atrio-ventrikular pada saat sebelum kontraksi
ventrikel.
• Jarak jantung terhadap dinding dada. Pada pasien dengan dada
kurus BJ lebih keras terdengar dibandingkan pasien gemuk deng-
an BJ yang terdengar lebih lemah. Demikian juga pada pasien
emfisema pulmonum BJ terdengar lebih lemah.

• BJ II ditimbulkan karena
• vibrasi akibat penutupan katup aorta (komponen aorta),
• penutupan katup pulmonal (komponen pulmonal),
• perlambatan aliran yang mendadak dari darah pada akhir ejeksi
sistolik,
• dan benturan balik dari kolom darah pada pangkal aorta dan
membentur katup aorta yang baru tertutup rapat.

• BJ III terdengar karena pengisian ventrikel yang cepat (fase rapid


filling). Vibrasi yang ditimbulkan adalah akibat percepatan aliran
yang mendadak pada pengisian ventrikel karena relaksasi aktif
ventrikel kiri dan kanan dan segera disusul oleh perlambatan
aliran pengisian.

• Bunyi jantung IV: dapat terdengar bila kontraksi atrium terjadi


dengan kekuatan yang lebih besar, misalnya pada keadaan
tekanan akhir diastol ventrikel yang meninggi sehingga
memerlukan dorongan pengisian yang lebih keras dengan
bantuan kontraksi atrium yang lebih kuat.

Bunyi Jantung Tambahan


Bunyi Ekstra Kardial
• Gerakan perikard (pericardial friction rub) terdengar pada fase
sistolik dan diastolik akibat gesekan perikardium viseral dan
parietal. Bunyi ini dapat ditemukan pada perikarditis.

Bising (Desir) Jantung (Cardiac Murmur)


• Bising jantung ialah bunyi desiran yang terdengar memanjang,
yang timbul akibat vibrasi aliran darah turbulen yang abnormal.

Intensitas Bunyi Murmur


• intensitas bunyi murmur didasarkan pada tingkat
• kerasnya suara dibedakan :
• Derajat I : bunyi murmur sangat lemah dan hanya dapat
terdengar dengan upaya dan perhatian khusus.
• Derajat II : bunyi bising lemah, akan tetapi mudah terdengar.
• Derajat II : bunyi bising agak keras.
• Derajat IV : bunyi bising cukup keras.
• Derajat V : bunyi bising sangat keras.
• Derajat VI : bunyi bising paling keras.

Tipe (konfigurasi) Bising Jantung


• Tipe bising jantung dibedakan :
• Bising tipe kresendi (crescendo murmur), mulai terdengar dari
pelan kemudian mengeras.
• Bising tipe dekresendo (decrescendo murmur), bunyi dari keras
kemudian menjadi pelan.
• Bising tipe kresendo-dekresendo (crescendo-decrescendo =
diamond shape) murmur yaitu bunyi pelan lalu keras kemudian
disusul pelan kembali disebut ejection type.
• Bising tipe plateau (sustained plateau mumur) disebut juga
bising pansistolik atau holosistolik. Keras suara bising kurang
lebih menetap sepanjang fase sistolik, biasanya merupakan
bunyi desiran yang disebabkan karena arus balik (regurgitasi)
atau aliran abnormal melalui defek septum interventrikular.

Kualitas Bunyi (Timbre)


• Kualitas bunyi dibedakan :
• Bising musikal yaitu bunyi yang terdiri dari bunyi-bunyi dengan
frekuensi dari satu atau beberapa gelombang nada dasar.
• Bising dengan suara meniup (blowing) yaitu terdengar seperti
suara meniup dengan nada yang rendah.
• Bising dengan suara desiran (harsh) berupa desir halus, seperti
suara meniup dengani nada yang tinggi.
• Bising dengan suara geram (rumbling), terdengar seperti suara
menggeram yang agak keras dengan nada yang rendah