Anda di halaman 1dari 22

Keberadaan Hak Masyarakat Adat

Atas Tanah Di Tanah Karo


Maria Kaban

Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Bila dipelajari sejarah kehidupan manusia, dari nenek moyang yang pertama
mendiami dunia ini, tanah telah menempati posisi yang penting dalam kehidupan
manusia.
Hubungan manusia dengan tanah sangat erat sekali, karena secara ritual
dapat dikatakan bahwa manusia tercipta dari tanah dan akhirnya kembali ke tanah.
Tak ayal lagi bahwa tanah adalah suatu yang penting sekali dalam kehidupan
manusia. Terlebih lagi Bangsa Indonesia yang masyarakatnya bercorak agraris,
dimana telah merupakan unsur yang essensial bagi segala aspek kehidupannya.
Demikian pula penduduk Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai saat
ini sebagian besar tinggal di pedesaan. Pada masyarakat pedesaan yang masih
didasari pada sifat kekeluargaan dan gotong royong sangatlah sederhana cara
berfikirnya. Pengaturan tentang segi-segi kehidupannya pula halnya. Namun aturan-
aturan yang sederhana tersebut sangat erat melihat dalam hidup dan kehidupan
mereka. Aturan-aturan tersebut ditaati dengan suatu keyakinan dan penghormatan
yang sangat mendalam terhadap para pendahulu.
Aturan-aturan tersebut tentunya banyak ragam dan macamnya. Termasuk
aturan tentang tanah, yang merupakan tempat berpijak, beraktifitas menyongsong
hidup dan kehidupan sampai menganggap tanah sebagai salah satu benda yang
mempunyai sifat religius.
Salah satu yang menonjol adalah pengaturan tentang hak ulayat dalam
masyarakat hukum adat. Namun demikian, walaupun dikatakan menonjol, istilah
hak ulayat itu sendiri tidak sama di berbagai daerah di Indonesia. Ada yang
menyebut hak persekutuan, hak pertuanan, tanah batin dan lain sebagainya. Namun
dari berbagai istilah yang ada istilah “Besschikking recht”lah yang menghimpun
semua istilah yang beragam macam tersebut, yang dapat dijumpai dalam berbagai
literatur hukum adat.
Mengenai hak ulayat, Van Vollenhwen menulis bahwa di seluruh kepulauan
Indonesia ini, hak ulayat merupakan “het hoagste richtten aauzien van garand”,
artinya hak tertinggi terhadap tanah dalam hukum adat yang memberi kewenangan
kepada masyarakat hukum adat tertentu atas wilayah tertentu yang merupakan
lingkungan hidup para warganya untuk mengambil manfaat atau hasil-hasil yang ada
di wilayah masyarakat hukum adat tersebut dan tanah ulayat tersebut merupakan

1
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
tanah kepunyaan bersama pada warganya. Sedangkan penjelmaan hak ulayat secara
murni adalah:
a. Persekutuan hukum yang bersangkutan dan para anggotanya berhak dengan
bebas mengerjakan tanah hutan belukar, membuka tanah, mendirikan teratak,
memungut hasil hutan/belukar, berburu dan mengembala.
b. Orang-orang asing dapat melakukan kerja yang serupa dalam sub (a) dengan ijin
dari persekutuan hukum yang bersangkutan, jika tidak ada ijin tersebut, orang-
orang asing itu dipandang melakukan tindak pidana.
c. Orang asing senantiasa harus membayar harga (pajak) untuk melakukan kerja-
kerja di atas tanah tersebut, sementara para warga sendiri kadang-kadang juga
harus membayar sewa bumi.
d. Apabila terjadi sesuatu tindak pidana tertentu dalam wilayah hak ulayat yang
tidak dapat diberatkan kepada seseorang pelaku, maka persekutuan hukum
sendirilah yang bertanggung jawab.
e. Sesuatu yang tunduk pada hak ulayat tidak dapat secara abadi diserah-lepaskan
f. Meskipun sebidang tanah telah dibuka dan dikerjakan oleh seseorang campur
tangan persekutuan hukum terhadap tanah yang bersangkutan tidak lenyap
seluruhnya. Campur tangan ini bisa menjadi besar kalau hak individu menipis.
Sebaliknya campur tangan ini menipis secara proporsional dengan membesarnya
hak individu.

Dari hak tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa hak ulayat itu sebenarnya
adalah hak dari pada persekutuan hukum atas wilayahnya, termasuk segala sesuatu
(kekayaan) yang ada di atasnya. Hal ini dijaga oleh seluruh anggota masyarakat
persekutuan dengan cara mentaati aturan-aturan. Demikian juga tentang
pemanfaatannya. Dari hak ulayat ini pula hak perorangan berasal. Tentunya juga
dengan segala pengaturannya. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa hak
ulayat memagari, meresapi dan memayungi hak-hak yang ada, timbul dan
berkembang di tengah-tengah anggota persekutuan yang menyangkut tentang tanah.
Di Negara Republik Indonesia saat ini mengenai tanah secara pokok telah
diatur oleh Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), yakni Undang-Undang Nomor
5 Tahun 1960. Sampai saat ini berarti telah berlaku ± 43 tahun. Dengan berlakunya
UUPA ini, telah memberikan suatu warna tersendiri dalam pengaturan tentang tanah
di Indonesia. Memang diakui, bahwa UUPA sendiri telah tegas menyebutkan hukum
agraria bersandar pada hukum adat. Selain daripada itu, hak ulayatpun tetap diakui
keberadaannya. Namun pengakuan terhadap hak ulayat dalam UUPA tersebut
bertolak pangkal pada pengakuan bahwa hak ulayat tersebut masih ada dalam
kenyataan di masyarakat hukum adat yang bersangkutan.
Pengakuan ini tidak hanya demi kepentingan masyarakat hukum adat semata-
mata melainkan karena hak ulayat tersebut masih relevan bagi mereka dan loyal
kepada kepentingan bangsa dan negara tanpa diskriminasi.
Di samping itu, dengan meningkatnya kebutuhan akan tanah diiringi dengan
peningkatan permintaan dan penawaran terhadap tanah, mengakibatkan harga tanah
terus melambung, sehingga tanah masyarakat adat (ulayat) mulai diperjual belikan,
hal ini mengakibatkan meningkatnya persengketaan di bidang pertanahan.

2
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
Permasalahan
Bertitik tolak dari apa yang telah diuraikan pada latar belakang di atas, maka
menimbulkan suatu permasalahan sebagai berikut: “Bagaimana eksistensi atau
keberadaan hak masyarakat adat atas tanah di Tanah Karo”.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Persekutuan Hukum
1. Masyarakat hukum adat
Sebagaimana dikemukakan oleh Van Vollenhoven, bahwa untuk mengetahui
hukum pada waktu kapan saja atau di daerah mana saja, maka yang pertama yang
perlu mendapat perhatian ialah sifat dan susunan persekutuan hukumnya.
Bagaimana keadaan persekutuan-persekutuan hukum itu harus diuraikan
berdasarkan kenyataan yang berlaku pada masyarakat bersangkutan. Jika
persekutuan hukum (masyarakat hukum) itu berubah, maka dengan sendirinya
hukum yang berlaku dalam persekutuan hukum itu berubah pula. Jika persekutuan
hukum itu punah apakah hukumnya punah?, tentu tidak demikian, apakah jika
negara punah hukumnya punah pula. Negara bisa hilang, persekutuan itu dapat mati,
namun hukumnya tetap ada, karena hukum itu mengikuti manusia yang hidup
bermasyarakat.
Bila kembali pada pengertian persekutuan sebagaimana dirumuskan Ter
Haar, maka persekutuan hukum itu dapat dinyatakan sebagai kesatuan yang bersifat
tetap dan teratur dengan mempunyai kekuasaan sendiri dan mempunyai harta
kekayaan sendiri baik yang berujud maupun yang tidak berujud (Ter Haar, 1985: 5).
Jadi yang merupakan hukum terdiri dari tiga unsur, adanya kesatuan yang
tetap dan teratur, ada kekuasaan dan ada harta kekayaan. Sebenarnya yang penting
adalah unsur kesatuan yang tetap dan teratur dan ada kekuasaan sendiri, sedangkan
harta kekayaan tidak mutlak harus ada.
Pengertian kesatuan yang tetap artinya kesatuan itu tidak bisa bubar begitu
saja, karena ikatannya kuat, lalu kesatuan itu harus teratur, artinya harus ada tata
tertibnya. Kemudian yang dimaksud ada kekuasaan sendiri berarti berpemerintahan
sendiri mempunyai alat perlengkapan persekutuan sendiri untuk menyelenggarakan
kepentingan dan kebutuhan hidup sendiri.
Sebagaimana dikemukakan di atas yang penting untuk hidup dan
kelangsungan hidupnya suatu persekutuan hukum ialah setidak-tidaknya terdiri dari
adanya kesatuan yang tetap dan teratur serta adanya kekuasaan sendiri.
Pengertian tetap dan teratur dapat dirangkum ke dalam lingkup perkataan
“rukun” oleh karena rukun mengandung arti tertib dan teratur, tentram dan damai,
saling memperhatikan dan saling membantu dalam senang dan susah di antara
anggota satu dengan yang lain.
Jadi hubungan antara anggota bukan saja mesra, karena rasa kekeluargaan
tetapi juga tidak terlepas dari pengaruh adanya kepentingan (pamrih).

3
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
Perlu dijelaskan bahwa antara istilah rukun dan tertib terdapat perbedaan,
bahwa rukun tidak terjadi karena adanya tata paksa, sedangkan tertib terjadi karena
adanya tata paksa (Hilman Hadikusuma, 1981: 11).
Menurut Ter Haar, sebagaimana dikutip oleh Wignjodipoero, di seluruh
kepulauan Indonesia pada tingkatan rakyat jelata, terdapat pergaulan hidup di dalam
golongan-golongan yang bertingkah laku sebagai kesatuan terhadap dunia lahir dan
bathin, golongan tersebut mempunyai tata susunan yang tetap dan kekal dan orang-
orang dalam golongan itu masing-masing mengalami kehidupannya dalam golongan
sebagai hal sewajarnya, hal menurut kodrat alam. Tidak ada seorangpun dari mereka
yang mempunyai pikiran akan kemungkinan pembubaran golongan itu. Golongan ini
mempunyai pengurus sendiri, harta benda sendiri, milik duniawian dan milik gaib,
golongan-golongan inilah yang disebut “Persekutuan Hukum”
Jadi Persekutuan Hukum adalah, merupakan kesatuan-kesatuan yang
mempunyai tata susunan yang teratur dan kekal serta memiliki pengurus sendiri dan
kekayaan sendiri baik kekayaan materiil maupun kekayaan immateriil.
Inti dari perumusan persekutuan hukum menurut Ter Haar adalah bahwa
persekutuan hukum adat itu harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Merupakan kesatuan manusia yang teratur
2. Menetapkan di suatu daerah tertentu
3. Mempunyai penguasa
4. Mempunyai kekayaan baik yang berujud maupun yang tidak berujud
Menurut Mahadi Persekutuan Hukum Adat itu adalah, mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut (Mahadi, 1991: 60).
1. Adanya sejumlah orang-orang tertentu yang bertindak semua merasa terikat dan
semuanya memperoleh untung rugi.
2. Apabila kita melihat ke dalam, maka akan tampak adanya orang-orang tertentu
atau golongan tertentu mempunyai kelebihan, wibawa dan kekuasaan.
3. Adanya harta benda bersama seperti barang-barang tertentu, tanah, air, tanaman,
tempat peribadatan, gedung dan lain-lainnya dan semua orang ikut memelihara
benda itu, menjaga kebersihan pisiknya, menjaga kesuciannya dan sebagainya.
Semua boleh mengenyam nikmat dari harta benda itu, akan tetapi orang yang
bukan anggota pada umumnya tidak boleh mengambil manfaat dari padanya
kecuali dengan seizin persekutuan.
Untuk menggambarkan apakah suatu kesatuan dalam masyarakat merupakan
suatu persekutuan hukum atau bukan, maka kriteria dan ciri seperti tersebut di atas
harus terpenuhi. Sebagai contoh dapat disebutkan sebagai berikut:
Suatu famili di Minangkabau merupakan suatu persekutuan hukum karena:
1. Memiliki tata susunan yang tetap, yaitu terdiri dari beberapa bagian yang disebut
rumah atau jurai, selanjutnya jurai ini terdiri atas beberapa nenek dengan
anaknya yang laki-laki dan perempuan.
2. Memiliki pengurus sendiri, yaitu yang diketuai oleh seorang penghulu andiko.
Sedangkan jurai diketuai oleh seorang mamak kepala waris (tungganai)
3. Memiliki harta kekayaan sendiri (harta pusaka) yang diurus oleh penghulu
andiko atau mamak kepala waris.
Bagi persekutuan hukum di Indonesia yang kecil dan hampir seluruhnya
bertitik tumpu kehidupannya pada pertanian. Suatu wilayah bukan hanya merupakan

4
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
tempat mempertahankan hidup semata, akan tetapi kepada wilayah itu orang-orang
terikat, tanah merupakan modal utama, bagi sebagian besar persekutuan hukum
tersebut, bahkan tanah merupakan satu-satunya modal. Jadi setiap persekutuan
hukum mempunyai tanah adat sendiri yang disebut hak ulayat.
Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang persekutuan-persekutuan
hukum yang terdapat di Indonesia, maka terlebih dahulu harus dimengerti serta
dipahami bentuk serta struktur yang terdapat dalam persekutuan itu.
Menurut dasar susunannya, maka struktur persekutuan-persekutuan hukum di
Indonesia ini dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:

1. Geneologis
Geneologis yaitu keanggotaan suatu kesatuan didasarkan pada faktor yang
berlandaskan kepada pertalian darah, pertalian suatu keturunan, walau dalam
kenyataannya tidak menduduki peranan penting dalam timbulnya suatu persekutuan
hukum. Dalam persekutuan hukum yang bersifat geneologis, terdapat tiga macam
dasar pertalian keturunan, yaitu:
a. Pertalian darah menurut garis Bapak (patrilinial), seperti pada suku Batak, Nias
dan Sumba.
Masyarakat suku Karo sebagai salah satu sub bagian dari suku Batak juga
menganut sistem kekerabatan atau pertalian darah menurut garis Bapak
(patrilinial) artinya bahwa setiap anak-anak yang lahir baik laki-laki maupun
perempuan dengan sendirinya mengikuti klan atau marga dari ayahnya.
b. Pertalian darah menurut garis Ibu (matrilinial), seperti di Minangkabau.
c. Pertalian darah menurut garis Ibu dan Bapak (parental) seperti pada suku Jawa,
Sunda, Aceh, Dayak. Di sini untuk menentukan hak-hak dan kewajiban
seseorang, maka famili dari pihak Bapak adalah sama artinya dengan famili dari
pihak Ibu.

2. Teritorial
Teritorial yaitu keanggotaan suatu kesatuan terikat pada suatu daerah
tertentu, hal ini merupakan faktor yang mempunyai peranan yang terpenting dalam
setiap timbulnya persekutuan hukum. Orang dapat untuk sementara waktu
meninggalkan tempat tinggalnya tanpa kehilangan keanggotaan dari persekutuan
yang bersangkutan. Orang dari luar lingkungan yang ingin masuk menjadi anggota
persekutuan harus diterima menurut hukum adat setempat misalnya, dengan
diperbolehkan ikut serta dalam rukun desa dan sebagainya. Mereka yang sejak
dahulu kala atau sejak nenek moyangnya berdiam dalam daerah persekutuan, pada
umumnya memiliki kedudukan penting dalam persekutuan itu.
Menurut Ter Haar, seperti yang dikutip oleh Mahadi, ada tiga bentuk
persekutuan dengan faktor teritorial, yaitu:
a. Persekutuan Hukum yang berbentuk Desa yaitu, apabila ada orang-orang
segolongan orang-orang terikat pada suatu tempat kediaman, yang mempunyai
batas-batas ini mungkin terdapat Desa induk atau dusun-dusun, termasuk juga
dukuh-dukuh yang terpencil yang merupakan pancaran dari Desa induk dan tidak
berdiri sendiri. Para pejabat Pemerintahan Desa boleh dikatakan semuanya

5
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
bertempat tinggal di pusat kediaman atau di Desa-desa induk tadi. Contohnya
adalah Desa-desa di Bali.
b. Persekutuan Hukum yang berbentuk Daerah. Bentuk persekutuan seperti ini
banyak persamaannya dengan persekutuan yang berbentuk Desa akan tetapi
dalam persekutuan hukum yang berbentuk daerah ini, di dalam suatu daerah
tertentu terletak beberapa desa yang masing-masing mempunyai tata susunan dan
pengurus sendiri-sendiri yang sejenis, berdiri sendiri-sendiri, tetapi semuanya
merupakan bagian bawahan dari daerah. Daerah-daerah ini memiliki harta benda
sendiri-sendiri dan menguasai hutan rimba raya dan tanah-tanah yang mereka
diami. Contohnya adalah Kuria di Angola dan Mandailing, yang mempunyai
hutan-hutan di dalam daerahnya.
c. Persekutuan yang berbentuk federasi desa-desa. Apabila beberapa persekutuan
kampung yang terletak berdekatan mengadakan mufakat untuk memelihara
kepentingan bersama, misalnya akan mengadakan pengairan. Untuk memelihara
keperluan bersama tersebut diadakan suatu badan pengurus yang bersifat kerja
sama antar pengurus-pengurus desa tersebut. Sedangkan wewenang para
pengurus kerjasama tersebut tidak lebih tinggi dari pengurus desa masing-
masing. Contoh, perserikatan huta-huta yang terdapat dalam suku Batak.
Dari ketiga jenis atau bentuk persekutuan di atas, yang semuanya
berlandaskan pada faktor teritorial, persekutuan desalah yang menjadi pusat
pergaulan sehari-hari. Desa yang sebagai badan hukum yang berdiri sendiri secara
bulat, atau sebagai badan persekutuan daerah atasan atau yang mengadakan
kerjasama dengan badan persekutuan hukum setingkat untuk memelihara keperluan
bersama yang tertentu.
Van Vollenhoven, membagi struktur persekutuan hukum ini dalam 4 (empat)
golongan, yakni:
a. Persekutuan hukum yang berupa kesatuan geneologis
Contoh: Uma pada suku Dayak, Fukun di pulau Timor serta Fenna di pulau Baru
dan Seram.
b. Persekutuan hukum yang berupa kesatuan teritorial yang di dalamnya terdapat
kesatuan-kesatuan geneologis.
Contoh: Nagari di Minangkabau dengan famili-famili.
c. Persekutuan hukum yang berupa kesatuan teritorial tanpa kesatuan geneologis di
dalamnya, melainkan dengan atau tidak dengan kesatuan/teritorial yang lebih
kecil.
Contoh: Marga dengan dusun-dusunnya di Sumatera Utara, Kuria dengan huta-
hutanya di Tapanuli Selatan, sedangkan yang tidak dengan kesatuan teritorial
yang lebih kecil lagi adalah desa di Jawa.
d. Persekutuan hukum yang berupa kesatuan teritorial dengan di dalamnya terdapat
persekutuan-persekutuan/badan-badan hukum yang sengaja, didirikan oleh para
warganya.
Contoh: Desa dengan sinoman-sinoman di Jawa dan Desa-desa dengan Subak di
Bali.
Selanjutnya mengenai tata susunan persekutuan-persekutuan hukum Van
Vollenhoven dan Ter Haar menguraikan tentang keadaan tata susunan persekutuan-
persekutuan hukum ini dalam berbagai bentuk di seluruh Indonesia. Garis besar dari

6
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
apa yang diuraikan oleh kedua sarjana ini secara umum dapat dijelaskan sebagai
berikut:
a. Semua Badan Persekutuan Hukum ini dipimpin oleh seorang ketua atau kepala
b. Sifat dan susunan pimpinan itu erat hubungannya dengan sifat serta susunan tiap
jenis badan Persekutuan Hukum yang bersangkutan.

2. Kepala Persekutuan Hukum


Suatu persekutuan hukum dikepalai oleh Kepala Persekutuan Hukum (Kepala
Rakyat), yang aktifitasnya dapat dibagi dalam 3 hal, yaitu:
1. Urusan tanah
2. Penyelenggaraan tata tertib sosial dan tata tertib hukum supaya kehidupan dalam
masyarakat desa berjalan sebagaimana mestinya, supaya mencegah adanya
pelanggaran hukum.
3. Usaha yang tergolong dalam penyelenggaraan hukum untuk mengendalikan
(memulihkan tata tertib dan tata tertib hukum serta kesejahteraan menurut
ukuran-ukuran yang bersumber pada pandangan yang religio-magis (represif).
(Bushar Muhammad, 1988: 29).
Sehubungan dengan hak masyarakat hukum adat atas hak ulayat, maka
masyarakat hukum adat sebagaimana umumnya penguasa mempunyai wewenang
dan tugas sebagai berikut:
1. Melakukan usaha dan mengatur
a. Penyediaan tanah, artinya masyarakat hukum adat wajib menyediakan tanah
bagi para warganya untuk kepentingan hidupnya, pangan, sandang dan papan
dengan jalan membuka hutan tanah yang belum didah.
b. Pendayagunaan tanah, yaitu menyuburkan atau meningkatkan kesuburan
tanah, misalnya dengan menyelenggarakan irigasi pembukaan dan
sebagainya.
c. Pemeliharaan, ialah menjaga agar supaya tanah-tanah tidak menjadi rusak
tandus karena kurang terpelihara atau penggunaan yang tidak tepat.
2. Mengatur hubungan hukum antara warga masyarakat dengan tanah misalnya, hal
apakah yang dapat dipunyai oleh warga masyarakat hukum adat dan juga orang
luar (asing), antara lain: hak milik yayasan, pusaka hak pakai, hak memungut
hasil hutan, hak membuka tanah dan lain-lain.
3. Mengatur hubungan hukum antara perorangan dengan tanah atau yang ada
hubungannya dengan tanah, misalnya hubungan jual beli lepas, jual gadai, jual
sewa, pewarisan, tukar menukar, transaksi bagi hasil.
Hal-hal tersebut di atas selalu dihubungkan dengan hakikat tujuan
penguasaan yaitu untuk kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh warga masyarakat,
besama-sama atau perorangan.
Dengan demikian maka hak ulayat tersebut:
a. Hanya dapat dimiliki oleh masyarakat hukum adat atau persekutuan hukum dan
tidak boleh dimiliki perorangan.
b. Hak ulayat tidak dapat dilepaskan selama-lamanya. Apabila hak ulayat itu
dilepaskan sementara, maka harus ada imbalan (pembayaran) kepada
persekutuan hukum yang memiliki tanah tersebut.

7
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
3. Hak Ulayat
Di dalam lingkungan hukum adat, tanah memegang peranan yang vital dalam
kehidupan masyarakat hukum adat. Tanah bukan hanya merupakan tempat
mempertahankan hidup, akan tetapi kepada tanah pulalah setiap orang menjadi
terikat. Eratnya hubungan antara tanah dengan masyarakat hukum adat melahirkan
hak-hak masyarakat atas tanah yang didasarkan pengolahan yang dilakukan secara
terus menerus.
Mengingat fakta di atas, maka persekutuan hukum dengan tanah yang
didudukinya mempunyai hubungan magis-religius. Hubungan ini menyebabkan
persekutuan hukum memperoleh hak untuk menguasai tanah tersebut, memanfaatkan
tanah dan memungut hasil dari tumbuh-tumbuhan serta binatang-binatang yang
hidup di atasnya.
Tanah-tanah yang dikuasai oleh Masyarakat Hukum Adat yang diperoleh
berdasarkan hak-hak adat disebut tanah adat atau tanah ulayat.
Hak ulayat ini dalam bentuk dasarnya adalah suatu hak dari persekutuan
hukum atas tanah yang didiami sedangkan pelaksanaannya dilakukan oleh
persekutuan hukum itu sendiri atau oleh kepala persekutuan atas nama persekutuan.
Wilayah kekuasaan persekutuan itu adalah milik persekutuan yang pada dasarnya
bersifat tetap, artinya perpindahan hak milik atas wilayah ini adalah tidak
diperbolehkan (Wignjodipoero, 1985: 199).
Gambaran yang jelas untuk mengetahui hak ulayat dapat dilihat pada ciri-
cirinya. Menurut Van Vollenhoven ciri-ciri hak ulayat itu adalah sebagai berikut:
a. Persekutuan hukum itu tiap-tiap anggotanya mempunyai wewenang untuk
dengan bebas mengerjakan tanah yang belukar, persekutuan hukumnya dengan
membuka tanah untuk mendirikan tempat tinggal baru: anggota-anggota
memerlukan tanah untuk ditanami sebagai ladang atau sawah dan sebagainya
b. Bukan anggota persekutuan hukum dalam mengerjakan tanah harus dengan izin
persekutuan hukum, kalau dikerjakan tanpa izin maka ia menjalankan suatu
pelanggaran (maling hutang).
c. Anggota-anggota persekutuan hukum dalam mengerjakan tanah ulayat itu
mempunyai hak yang sama, tapi bukan anggota selalu diwajibkan membayar
suatu retribusi (uang adat, sewa lunas, sewa hutang, bunga pasir dan lain-lain)
ataupun menyampaikan suatu persembahan (ulutaon, pemohon).
d. Persekutuan sendiri sedikit banyak masih mempunyai campur tangan dalam hal
tanah yang dibuka itu.
e. Persekutuan hukum bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi dalam
ulayatnya.
f. Persekutuan hukum tidak dapat memindah tangankan kepada orang lain.
Berdasarkan ciri-ciri yang dikemukakan oleh Van Vollenhoven, hak ulayat
mempunyai arti yang sangat luas, karena memberikan bermacam-macam hak ulayat
kepada anggota masyarakat hukumnya berupa hak untuk menggunakan tanah
sebagai tempat tinggal (pemukiman) termasuk sebagai tempat berkubur, sebagai
lahan pertanian, pengembalaan ternak, mengambil hasil-hasil hutan, berburu
binatang dan menangkap ikan yang kesemuanya berada di bawah wewenang
persekutuan sebagai pelaksana hak ulayat dan mengawasi serta membatasi
warganya.

8
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
Ter Haar, telah mengemukakan, berlakunya hak ulayat berarah dua, ke dalam
menyangkut pengaturan hak dan kewajiban anggota masyarakat hukum adat, keluar
merupakan pengaturan hak dan kewajiban orang luar dan hak untuk
mempertahankan hak ulayatnya terhadap gangguan dari pihak luar.
Substansi ini akan mempengaruhi daya berlakunya hak ulayat dengan hak
perorangan atas tanah, karena itu jelas menuntut adanya fungsi pengaturan yang
jelas dalam masyarakat hukum adat.
Adanya hubungan yang saling berkaitan itu karena masyarakat hukum adat
mempunyai tiga dimensi yaitu: masyarakat hukum adat sebagai totalitas, kesatuan
publik dan badan hukum sebagai totalitas masyarakat hukum adat merupakan
penjumlahan dari warga-warganya termasuk kepala adatnya (kepala
persekutuannya). Kesatuan publik karena itu merupakan badan hukum yang
mempunyai penguasa yang memiliki kewajiban untuk menertibkan dan mengambil
tindakan tertentu terhadap warganya, sedangkan sebagai badan hukum ia diwakili
oleh kepala suku/kaumnya.
Jadi dapat dikemukakan adanya fungsi pengaturan tersebut di atas, berkenaan
dengan berlakunya hak ke luar dan ke dalam.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 (UUPA) yang jiwa serta filosofinya
berdasarkan hukum adat dan secara prinsip mengakui keberadaan hak ulayat, namun
pengaturan materinya secara lebih lanjut tidak dirinci. Hal tersebut menimbulkan
permasalahan-permasalahan akibat adanya perbedaan persepsi hukum baik antara
masyarakat, khususnya masyarakat hukum adat dengan instansi pemerintah,
lembaga-lembaga masyarakat, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Di masa
lalu dimana kebijakan makro pemerintah lebih mengutamakan pertumbuhan
ekonomi, sehingga mengakibatkan kepentingan rakyat/khususnya masyarakat
hukum adat kurang diperhatikan bahkan tersingkir, dan hal tersebut banyak
menimbulkan tuntutan gugatan dan pendudukan tanah yang telah dikuasai atau
dimiliki oleh pihak ketiga/orang khususnya tanah di bawah pengelolaan instansi
pemerintah, badan hukum swasta maupun badan hukum pemerintah.
Intinya UUPA sendiri tidak memberikan penjelasan tentang pengertian hak ulayat
itu, kecuali menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan hak ulayat adalah
“beschikkings recht”.
Istilah hak ulayat dalam referensi hukum adat di kalangan masyarakat hukum
adat di berbagai daerah dikenal dengan nama yang berbeda-beda. Hak ulayat
merupakan hak penguasaan yang tertinggi atas tanah dalam hukum adat, yang
memberi kewenangan kepada masyarakat hukum adat tertentu atas wilayah tertentu
yang merupakan lingkungan hidup para warganya untuk mengambil manfaat atau
hasil-hasil yang ada dari tanah-tanah ulayat yang ada di wilayah masyarakat hukum
adat tersebut, dan tanah ulayat tersebut merupakan tanah kepunyaan bersama pada
warganya.
Hak ulayat mengandung 2 unsur (BPN 14 September 2000):
Pertama, unsur hukum perdata, yaitu sebagai hak kepunyaan bersama para warga
masyarakat hukum adat yang bersangkutan atas tanah ulayat yang dipercaya berasal
dari peninggalan nenek moyang mereka sebagai suatu karunia dari kekuatan magis
religius, sebagai pendukung utama kehidupan dan penghidupan serta lingkungan
hidup seluruh warga masyarakat hukum adat tersebut.

9
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
Kedua, unsur hukum publik, yaitu sebagai kewenangan untuk mengelola dan
mengatur peruntukan, penggunaan dan penguasaan tanah ulayat tersebut baik dalam
hubungan intern dengan para warganya sendiri maupun ekstern dengan orang-orang
bukan warga masyarakat tersebut atau pihak orang luar. Yang dapat menjadi objek
hak ulayat adalah warga masyarakat hukum adat itu sendiri yang dicirikan dengan
adanya persekutuan hukum berdasar atas kesamaan tempat tinggal (territorial), yang
dikenal dengan berbagai nama khas seperti Torluk di Ambon, Prabumian di Bali,
Pertuanan di Batak Simalungun, Tatabuan di Bolangmangondowe Kawasan
Indragiri, Wewekon di Jawa, Penyampeto di Kalimantan, Limpo di Sulawesi dan Hak
Ulayat di Minangkabau. Sedangkan di Batak Karo untuk hak ulayat, istilahnya tidak
terdapat keseragaman artinya berbeda dari satu desa ke desa yang lain. Akan tetapi
untuk lebih memudahkan para pembaca lazimnya hak ulayat di Tanah Karo disebut
dengan Tanah Kesain.
Van Vollenhoven menyatakan: “Tanah ulayat itu adalah, suatu rangkaian
dari suatu wewenang dan kewajiban-kewajiban suatu masyarakat hukum yang
berhubungan dengan tanah termasuk dalam lingkungan wilayahnya”
Van Vollenhoven, menggunakan istilah “beschikkingrecht” karena secara
defacto persekutuan hukum mempunyai hak atas tanah yang didudukinya, hak atas
pohon, tebat dan lain-lain, dalam suatu wilayah penguasaan (beschikkingrecht).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), dikatakan bahwa hak ulayat
adalah hak yang dimiliki suatu masyarakat hukum adat untuk menguasai tanah
beserta isinya di lingkungan wilayahnya.
Hak ulayat menurut hukum adat ada di tangan suku/masyarakat hukum/desa.
Berlakunya hak ulayat ini menurut sistimatika Ter Haar (1985: 71-72) adalah
sebagai berikut:
1. Masyarakat hukum/anggotanya bersama-sama dapat mengambil manfaat atas
tanah serta tumbuh-tumbuhan maupun hewan liar yang hidup di atasnya.
2. Masyarakat hukum/anggota suku, untuk keperluan sendiri berhak berburu,
mengumpulkan hasil hutan yang kemudian dimiliki dengan hak milik bahkan
berhak memiliki beberapa pohon yang tumbuh liar apabila pohon itu dipelihara
olehnya.
3. Mereka mempunyai hak untuk membuka hutan dengan sepengetahuan kepala
suku/masyarakat hukum. Pembukaan tanah dengan sepengetahuan kepala
suku/masyarakat hukum/desa. Merupakan suatu perbuatan hukum yang
mendapat perlindungan dalam masyarakat hukum itu. Hubungan hukum antara
orang membuka tanah dengan tanah itu, makin lama makin kuat, apabila tanah
tersebut terus menerus dipelihara/digarap dan akhirnya dapat menjadi hak milik
si pembuka, sekalipun demikian hak ulayat masyarakat hukum tetap ada
walaupun melemah. Apabila tanah yang dibuka itu tidak diurus atau
diterlantarkan maka tanah akan kembali menjadi tanah masyarakat hukum. Lain
dari itu transaksi-transaksi penting mengenai tanah harus dengan dukungan
kepala suku/masyarakat hukum/desa.
4. Oleh masyarakat hukum sendiri dapat ditemukan bagian-bagian wilayah yang
dapat digunakan untuk tempat permukiman, makam, pengembalaan umum, dan
lain-lain.

10
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
5. Anggota suku lain (juga bertetangga) tidak boleh mengambil manfaat daerah hak
ulayat, kecuali dengan seizin kepala suku/masyarakat hukum/desa, dan dengan
memberi semacam hadiah kecil (uang pemasukan) terlebih dahulu. Izin yang
diberikan kepada suku lain sifatnya sementara, misalnya untuk selama musim
panen. Dalam prinsip anggota suku lain tidak dapat mempunyai hak milik atas
tanah tersebut.
6. Suku/masyarakat hukum yang mempunyai hak ulayat atas wilayah itu, misalnya
apabila ada anggota suku bangsa lain ditemukan meninggal dunia atau dibunuh
di wilayah tersebut, maka suku atau masyarakat hukum wilayah bersangkutan
bertanggung jawab untuk mencari siapa pembunuhnya atau membayar denda.
Sifat istimewa hak ulayat terletak pada daya berlakunya secara timbal balik
hak-hak itu terhadap orang lain. Karena pengelolaan tanah makin memperkuat
hubungan perseorangan dengan sebidang tanah dan makin memperdalam hubungan
seseorang, makin turutlah hak-hak masyarakat hukum terhadap sebidang tanah. Bila
hubungan perorangan atas tanah itu berkurang atau bila hubungan itu diabaikan
terus menerus, maka pulihlah hak masyarakat hukum atas tanah itu dan berlaku
kembali hak ulayat.

B. Jenis-Jenis Hak Atas Tanah Menurut Hukum Adat


Menurut Purnadi Purbacaraka dan Ridwan Halim hak atas tanah adat dapat
dibedakan atas:
1. Hak ulayat, yaitu hak atas tanah yang dipegang oleh seluruh anggota masyarakat
hukum adat secara bersama-sama. Dengan hak ini masyarakat hukum adat yang
bersangkutan menguasai tanah tersebut secara menyeluruh atau bersama.
Adapun hak anggota masyarakat hukum adat atas tanah yang berujud hak ulayat
itu pada dasarnya:
a. Hak meramu atau mengumpulkan hasil hutan yang ada di
wilayahnya/wewenang masyarakat hukum adat yang bersangkutan.
b. Hak untuk berburu dalam batas wilayah wewenang hukum masyarakat
mereka.
Tetapi dalam konsekkuensinya hak ulayat yang bersifat komunal ini pada
hakekatnya terdapat pula hak perorangan untuk menguasai sebagian dari objek
penguasaan hak ulayat tersebut secara tertentu agar diketahui oleh para anggota
lainnya dalam waktu tertentu pula.
Contoh, ada seseorang anggota masyarakat secara pribadi berniat untuk
mengambil manfaat dari tanah yang termasuk ke dalam tanah ulayat masyarakat
yang bersangkutan untuk kepentingan sendiri, hal tersebut boleh dilakukan,
meskipun tanah tersebut dan segala isinya menjadi hak bersama semua anggotanya.
Untuk sementara waktu ia berhak mengolah serta menguasai tanah itu dengan
mengambil hasilnya, tetapi hal ini bukan berarti bahwa hak ulayat atas tanah yang
dikuasai oleh seseorang tadi menjadi terhapus karenanya, melainkan hak ulayat
tetap melapisi atau mengatasi hak pribadi atau perseorangan tersebut.
Hak ulayat baru pulih kembali bila orang yang bersangkutan telah
melepaskan hak penguasaannya atas tanah ulayat tersebut.

2. Hak milik dan hak pakai.


11
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
Hak milik adat atas tanah adalah, suatu hak atas tanah yang dipegang oleh
perseorangan atas sebidang tanah tertentu dalam wilayah masyarakat hukum adat
yang bersangkutan.
Hak pakai adat atas tanah adalah, suatu hak atas tanah menurut hukum adat
yang telah diberikan kepada seseorang tertentu untuk memakai sebidang tanah bagi
kepentingannya, biasanya tanah yang dipakai dalam hukum adat dengan dasar hak
pakai, dan biasanya terhadap tanah sawah ladang.
Van Dijk (1982: 43) menyebutkan bahwa hak atas tanah adat dapat
dibedakan atas:
1. Hak persekutuan atau hak pertuanan.
Hak persekutuan/pertuanan atas tanah adat mempunyai akibat keluar dan
kedalam.
Hak persekutuan yang mempunyai akibat ke dalam antara lain:
a. Memperbolehkan kepada anggota persekutuan untuk menarik keuntungan
dari tanah dan segala yang ada di atasnya.
b. Mendirikan tempat kediaman
c. Menggembalakan ternak dan berburu ternak.
Di sini dibatasi hak untuk menarik keuntungan dari tanah adat dan hanya
diperbolehkan sekedar dipergunakan untuk keperluan hidup keluarga dan diri
sendiri, jadi hak yang melampaui batas terhadap tanah adat tidak diakui
sepanjang bertujuan untuk persediaan bagi usaha perdagangan.
Hak persekutuan yang berakibat keluar ialah:
a. Larangan terhadap orang luar untuk menarik keuntungan dari tanah ulayat,
kecuali setelah mendapat izin dan sesudah membayar uang pengakuan
(recognitie).
b. Larangan pembatasan atau berbagai peraturan yang mengikat terhadap orang-
orang untuk mendapatkan hak-hak perorangan atas tanah pertanian.
2. Hak perorangan atas tanah adat terdiri dari:
a. Hak milik adat (inland bezitrecht) adalah, hak perorangan atas tanah, di mana
yang bersangkutan tenaga dan usahanya telah terus menerus ditanamnya pada
tanah tersebut, sehingga kekuatannya semakin nyata dan diakui oleh anggota
lainnya, dan kekuasaan kaum/persekutuan semakin menipis, dan kekuasaan
perorangan semakin kuat.
Hak milik ini walaupun telah kokoh dan sempurna namun dapat dibatalkan
kembali bila:
1. Tidak diusahakan terus menerus, sehingga telah hilang bekas-bekas atau
tanda-tanda itu dan tanah itu kembali menjadi belukar.
2. Tidak ada yang berhak atas tanah, karena pemiliknya pergi meninggalkan
tanah tersebut.
3. Tidak dipenuhi kewajiban-kewajiban yang dibebankan persekutuan
hukum.
b. Hak memungut hasil tanah (genotrecht) ialah, suatu hak pribadi yang
mempunyai kekuatan tertentu, yaitu tentang menikmati hasil tanah saja,
sedangkan kekuasaan atas tanah yang berada pada persekutuan, hak ini
mempunyai kekuatan sementara.

12
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
c. Hak menarik hasil ialah, suatu hak yang diperdapat dengan suatu persetujuan
para pemimpin persekutuan dengan orang yang mengelola sebidang tanah
untuk satu atau dua kali panen.
Hak menarik hasil ini juga berakhir apabila:
1. Tanah itu diolah lebih sempurna, sehingga dapat diperoleh hak milik atas
tanah tersebut.
2. Habis waktunya, jika diberikan jangka waktu tertentu.
3. Tidak dipenuhinya kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya
oleh persekutuan.
Dari penjelasan di atas jelaslah bagi kita bahwa jenis-jenis hak atas tanah
adat didasarkan kepada hubungan antara anggota persekutuan dengan tanah dan
hubungan itu tidak terlepas dari pengawasan persekutuan/masyarakat hukum
adatnya.

C. Pengertian Tanah Adat


Tanah adat itu sangat penting artinya bagi masyarakat Karo, karena tanah
adat merupakan tanah milik bersama masyarakat adat yang harus dijaga
keberadaannya dan merupakan sumber kehidupan bagi para pengguna tanah yang
tersebut. Dengan perkataan lain tanah adat adalah tanah yang berada dalam
lingkungan hak ulayat (tanah ulayat) dan bukan merupakan hak milik perseorangan.
Di Tanah Karo tanah adat ini biasanya dikuasai oleh Penghulu (sekarang
Kepala Desa) atau Sibayak atau biasa juga disebut dengan istilah “Simantik Kuta”
yang artinya orang atau pihak yang pertama sekali mendirikan desa, mereka ini juga
sering disebut dengan “Marga Tanah”.
Marga tanah ini dapat mencari tanah subur untuk perladangan di tempat lain,
apabila tanah kurang subur di lingkungan desanya. Di tempat/tanah yang ditemukan
tersebut marga tanah pertama kali mendirikan barung-barungnya (pondok), lama
kelamaan pondok berubah menjadi rumah yang pada akhirnya barung-barung
berubah menjadi desa.
Desa pada mulanya adalah berasal dari barung-barung yang apabila
penduduknya sudah bertambah banyak, maka salah seorang dari penduduk pendiri
barung-barung tadi diangkat menjadi Penghulu yang semarga dengan marga tanah
pendiri barung-barung tersebut, namun ada juga pendiri barung-barung tersebut
bukan berasal dari marga tanah yang diberi nama “biak senina” di dalam suatu desa.
Biak senina ini meskipun dia semarga dengan marga tanah, tetapi dia tidak berasal
dari keturunan marga tanah tersebut.
Penghulu dan marga tanah inilah yang menguasai seluruh tanah-tanah yang
terdapat di dalam suatu desa ataupun di sekitar desa, dalam arti bahwa marga tanah
adalah sebagai pihak yang akan mengatur tentang hak apa saja yang dapat dipegang
oleh suatu anggota masyarakat dengan dibantu oleh pihak anak beru, kalimbubu dan
senina (dalihan sitelu). Anggota masyarakat adat yang bukan marga tanah hanya
dapat mempunyai hak yang derajatnya di bawah hak milik.
Untuk lebih jelasnya dapat dikemukakan bahwa jika diamati dalam
kehidupan masyarakat Karo yang tradisional (tempo dulu), maka masyarakat Karo
dibagi atas 3 (tiga) kelas secara vertikal, yaitu:

13
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
a. Golongan Bangsawan (Sibanyak, Pengulu, Simantik Kuta/Simada Taneh atau
Marga Tanah).
b. Ginemgem dan
c. Rakyat Derip
(Darwin Prinst, 1980: 2).
Ad.a. Golongan Bangsawan yang terdiri dari Pengulu atau pendiri kampung (marga
tanah) yang pada umumnya cukup kaya dan mempunyai tanah pertanian yang
luas. Golongan inilah yang melaksanakan pemerintahan di daerahnya, serta
memungut cukai perdagangan atau cukai tanah.
Ad.b. Ginemgen ialah keluarga yang turut menempati suatu kampung, tapi bukan
sebagai pendiri pertama dari kampung tersebut. Kedatangan golongan ini ke
kampung tersebut diterima serta dilindungi oleh marga tanah. Biasanya
mereka ini tidak membayar pajak ataupun ikut kerahan (kerja paksa)
Ad.c. Rakyat Derip adalah golongan yang paling bawah dari masyarakat adat.
Mereka ini datang dari luar namun diperkenankan tinggal di kampung itu,
rakyat derip ini tidak mempunyai tanah pertanian sendiri, serta harus
membayar pajak dan ikut dalam kerahen (kerja paksa).
Begitulah hirarki masyarakat Karo pada zaman dahulu dimana pemerintahan
dipegang oleh Sibanyak (raja) dan Penghulu secara turun temurun.

D. Kedudukan Tanah Adat


Sebelum lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria, maka di Indonesia pernah
berlaku suatu undang-undang pertanahan yaitu hak-hak atas yang tunduk kepada
hukum barat (BW) dan yang tunduk kepada hukum adat. Tanah-tanah yang tunduk
kepada hukum adat tersebut menurut ketetapan Domein Verklaring milik Belanda
tersebut masih tergolong pula kepada tanah negara yang tidak bebas.
Ketentuan mengenai tanah tersebut dicantumkan dalam suatu undang-undang
yang disebut dengan Agrarischewet dengan Stb. 1870 No. 55 yang mana sebagai
asas pokoknya adalah domein negara.
Dalam peraturan pelaksana undang-undang tersebut ditetapkan bahwa semua
tanah yang tidak dapat dibuktikan ada hak eigendom di atasnya, maka tanah tersebut
merupakan domein negara (milik negara), sementara tanah yang dikuasai oleh
rakyat pribumi (tanah adat) tidak pernah mendapat hak eigendom yang sah.
Sesuai dengan asas domein negara tersebut, maka keadaan tanah di Indonesia
saat itu ada kita kenal apa yang dinamakan dengan tanah domein negara yang bebas
atau tanah domein negara yang tidak bebas.
a. Tanah domein negara bebas, yaitu tanah-tanah yang dikuasai langsung oleh
Pemerintah Belanda seperti: pelabuhan, pasar-pasar, tanah-tanah instansi dan
lain sebagainya.
b. Tanah domein negara yang tidak bebas yaitu tanah-tanah yang tidak dikuasai
langsung oleh Pemerintah Belanda, tetapi dipakai dengan sesuatu hak yang
diberikan pemerintah dengan suatu perjanjian atau peraturan tetapi masih
dianggap milik Belanda, seperti tanah yang didiami oleh penduduk Bumi Putera
yang disebut dengan tanah adat.

14
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
Dilihat dari pembagian tanah tersebut di atas, maka jelaslah bahwa
kedudukan tanah adat termasuk dalam domein negara yang tidak dalam arti tunduk
kepada hukum adat.
Jadi dari pernyataan domein tersebut menegaskan bahwa tanah negara ialah
semua tanah yang seseorang itu tidak dapat membuktikan bahwa tanah tersebut
adalah hak miliknya, sebaliknya tanah adat itu adalah tanah yang tidak tunduk
kepada aturan-aturan “eigendom” (hak milik) atau dengan kata lain tanah adat
adalah tanah yang tidak dimiliki oleh seseorang dengan hak “eigendom”.
Di dalam Pasal 75 RR (lama) dikatakan bahwa para hakim dapat
mempergunakan hukum adat sepanjang hukum adat itu tidak bertentangan dengan
dasar-dasar umum yang diakui tentang kepatutan dan keadilan. Dalam hal inipun
ditonjolkan tentang berlakunya hukum adat, baru sesudah itu disebut
pembatasannya. Pembatasan lain terdapat dalam ayat (6) Pasal 75 RRL yang
mengatakan bahwa hukum adat boleh disingkirkan kalau masalah yang dihadapi itu
tidak diatur dalam hukum adat. Demikian lemahnya kedudukan hak adat itu di mata
hukum Belanda, sehingga hukum adat itu sering dikesampingkan. Dalam hal
memutus suatu perkara tentang tanah, pengadilan Belanda sering menyatakan bahwa
hukum adat tidak mengatur masalah tersebut oleh karena itu dipakailah hukum
Eropa.
Dengan demikian dualisme dalam hukum pertanahan yang kita kenal pada
zaman Hindia Belanda tersebut tidak sama derajatnya dan yang lebih diakui adalah
hak eigendom. Hal tersebut terbukti dari pernyataan politik yang tertuang dalam
persyaratan domein tersebut yaitu bahwa segala tanah yang tidak dibuktikan dengan
sesuatu hak eigendom adalah domein negara (milik negara).
Jadi hal-hal atas tanah adat adalah berada dalam posisi yang sangat lemah
sekali dan terlalu diarahkan kepada hak-hak yang mirip dengan hak eigendom BW.
Pemerintah Hindia Belanda sama sekali tidak berusaha untuk
mengembangkan hak adat itu menjadi suatu sistem hukum tanah adat, dalam arti
kata bahwa pihak Belanda tetap menganak tirikan hak-hak tanah adat, sehingga
dengan demikian hak-hak tanah adat tidak diakui begitu saja oleh pihak Belanda
kecuali dimintakan oleh yang bersangkutan dengan sesuatu hak eigendom.

E. Sistem Pemilihan, Penggunaan Tanah Adat


Sebagaimanha diketahui bahwa marga tanah adalah sebagai pendiri desa
yang pertama. Sebagai suatu kelompok masyarakat yang membutuhkan
kelangsungan hidup sekaligus menjaga perkembangan serta pertumbuhan dari
masyarakat persekutuan hukum tersebut, maka mereka tentu sangat memerlukan:
1. Sumber-sumber alami yang menyediakan atau memberikan bahan-bahan bagi
kepentingan hidupnya, dimana tanah merupakan pengandung sumber-sumber
tersebut, sehingga tanah sebagai tempat tinggal dan sebagai pengandung sumber-
sumber tersebut merupakan wilayah territorial mereka (marga tanah) yang tidak
boleh diganggu oleh pihak lain (pihak luar).
2. Kebudayaan yang tumbuh dan dikembangkan oleh para anggota masyarakat itu
sendiri.

15
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
Di dalam kebudayaan yang tumbuh dan dikembangkan di dalam masyarakat
tersebut terciptalah peraturan-peraturan mengenai hak-hak dan kewajiban dalam
usaha memanfaatkan dan mendayagunakan tanah seperti:
a. Hak memungut hasil hutan
b. Diatur pula secara sedemikian rupa mengenai pemberian-pemberian kesempatan
kepada anggota masyarakat untuk membuka hutan di lingkungan masyarakatnya
c. Hak menggembalakan ternak di kawasan hutan yang ada di bawah persekutuan
hukum.
Norma ini merupakan norma yang sifatnya masih sederhana dan belum
tertulis. Sejalan dengan perkembangan kebudayaan dari masyarakat itu, sifat yang
sederhana tersebut makin lama makin disempurnakan, namun norma-norma tersebut
masih bersifat longgar dimana pada waktu itu motivasinya adalah pemanfaatan
tanah atau pendayagunaan tanah guna menjamin kelangsungan dan perkembangan
hidup anggota masyarakat yang berada di bawah persekutuan hukum tersebut.
Hak suatu persekutuan hukum atas tanah-tanah di sekitar lingkungannya
dikenal dengan istilah hak ulayat yang merupakan hak tertinggi atas tanah yang
dimiliki oleh sesuatu persekutuan hukum (desa) untuk menjamin ketertiban
pemanfaatan/pendayagunaan tanah.
Di tanah Karo tanah ulayat ini pada saat sekarang lazim disebut dengan tanah
kesain. Tanah kesaian ini kekuasaan oleh masyarakat adat secara bersama-sama
yang biasanya dipergunakan sebagai tempat penggembalaan ternak-ternak. Namun
penguasaan akan tanah adat ini (tanah kesain) diawasi oleh marga tanah sebagai
pendiri pertama dari desa itu.
Hak ulayat tersebut menurut Van Vollenhoven seperti yang dikutip
G. Kartasapoetra (1985: 89) mempunyai arti yang cukup luas karena memberikan
bermacam-macam hak kepada warga persekutuannya secara terjamin dan
terlindungi, yaitu:
a. Hak menggunakan tanah sebagai tempat tinggal (mendirikan rumah)
b. Melakukan bercocok tanam dan mengumpulkan hasil hutan
c. Menggembalakan ternak pada tanah-tanah tertentu.
d. Berburu atau menangkap ikan.
Dalam hal ini kepala persekutuan hukum sebagai pelaksana hak ulayat
mengawasi serta membatasi gerak gerik para warganya agar tidak mencari
keuntungan yang berlebih-lebihan dari tanah yang didayagunakan, dengan maksud
dan tujuan agar warga lain dalam persekutuan hukum itu tidak dirugikan.
Di Tanah Karo dalam pengawasan penggunaan tanah adat tersebut marga
tanah ini dibantu oleh pihak keluarga yakni anak beru, kalimbubu, serta seninanya
(dalihan setelu). Sementara anggota masyarakat yang bukan berasal dari marga
tanah hanya dapat mempunyaii hak yang derajatnya di bawah hak milik.
Hak ulayat ini tidak menutup pintu bagi orang-orang di luar persekutuan
hukum yang berkeinginan untuk melakukan hak-hak seperti di atas, asal saja
terlebih dahulu mereka meminta atau memperoleh izin dari kepala persekutuan.
Pada saat tersebutlah mulai dikenal praktek-praktek yang mengatur agar
orang di luar persekutuan hukum untuk dapat turut memanfaatkan tanah persekutuan
tersebut yang mana praktek-praktek tersebut dikenal dengan istilah recognitie dan
retribusi (memperoleh kewenangan dengan memberikan imbalan).

16
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
“Recognitie artinya: tanda pengakuan.
Retribusi artinya: iuran atau pajak (G. Kartasapoetra, 1985: 89).
Menurut Sukamto, hubungan antara persekutuan hukum dengan tanahnya
(ulayat) diliputi oleh suatu sifat yang disebut magis religius artinya masih kuat
dipengaruhi oleh serba roh yang menggambarkan bahwa segala sesuatu yang
bersangkut paut dengan pemanfaatan tanah harus dilakukan secara hati-hati
karena adanya potensi-potensi gaib (G. Kartasapoetra, 1985: 90).

Kehati-hatian terhadap roh halus tersebut mempunyai dampak yang positif


terhadap tanah, dimana mereka tidak mau merusak tanah, mereka takut melakukan
pelanggaran-pelanggaran yang telah ditentukan oleh ketua Persekutuan Hukumnya,
karena jika dilanggar akan merupakan perlakuan jahat terhadap roh tersebut.
Hubungan seperti di atas menghambat pula pada hubungan antara individu,
dimana jika terjadi seseorang yang membuka tanah/lahan dan dapat dipertahankan
lebih dari waktu 1 atau 2 kali musim panen, maka hubungan antara individu dengan
tanahnya tersebut dipandang sebagai hubungan yang lebih erat lagi sehingga lama
kelamaan timbul pengakuan bahwa tanah tersebut telah direstuai sebagai miliknya.
Akibat selanjutnya timbul perkembangan dari hak ulayat menjadi hak milik menurut
hukum adat.
Di Karo hal semacam inipun ada dijumpai, dimana para pendatang yang tidak
semarga dengan marga tanah selaku pendiri desa, bagi mereka juga diberi lahan oleh
marga tanah tersebut untuk dimanfaatkan.
Namun oleh karena pada pendatang ini secara terus menerus memanfaatkan
lahan tersebut, sehingga pada akhirnya tanah-tanah tersebut menjadi hak milik dari
pendatang yang biasanya terdiri dari berbagai marga seperti Sembiring, Ginting,
Tarigan dan sebagainya. Dengan demikian tiap-tiap kelompok marga inipun telah
mempunyai tempat atau memiliki tanah sendiri yang lazim disebut dengan Taneh
kesain marga Sembiring, Taneh kesain marga Ginting dan lain sebagainya.
Tanah kesain ini meliputi tanah untuk perumahan berikut halaman-
halamannya, hutan tempat mengambil hasil hutan bagi masing-masing kelompok
marga. Tanah kesain ini tidak boleh diperjual belikan kecuali bangunan yang berada
di atasnya, umpamanya salah seorang dari warga persekutuan tidak membutuhkan
tanah tersebut, maka tanah itu kembali jatuh kepada desa.
Hak milik menurut hukum adat, mempunai kekuasaan penuh bagi setiap
warga yang menggunakan, dimana warga persekutuan dapat secara bebas mengolah
dan mengelola tanah miliknya, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Tidak menimbulkan gangguan terhadap warga lainnya.
b. Apabila diperoleh suatu sumber yang mengandung bahan yang bermanfaat bagi
kehidupan, penggunaaannya diserahkan kepada kebijaksanaan Kepala
Persekutuan Hukum.
c. Apabila tanah tersebut ditelantarkan, maka tanah tersebut akan kembali menjadi
tanah milik persekutuan hukum yang dilindungi oleh hak ulayat dan kepala
persekutuan hukum akan mengatur pendayagunaannya atau memberikannya
kepada warga yang lain dalam lingkungan persekutuan hukumnya.
Dalam hal pemilikan tanah bagi masyarakat pendatang seperti tersebut di
atas, selain meminta izin terlebih dahulu kepada pihak penguasa tanah untuk

17
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
mendapatkan lahan, maka di Tanah Karo untuk memiliki tanah bagi para pendatang
ini, mereka mengawini atau ketemu jodoh dengan salah satu keluarga marga tanah
atau turunannya, sehingga dengan posisi sebagai anak beru (menantu) dari marga
tanah tersebut, maka akan ada kemungkinan ia dapat memiliki atau menggunakan
tanah di desa tersebut.
Bukan tidak ada kejadian bahwa, marga tanah di seseuatu desa karena
memiliki tanah yang cukup luas, sehingga dalam mengurus tanah perladangan atau
persawahan agak malaas. Sebaliknya para pendatang rajin bekerja, sehingga
akhirnya tanah yang dikuasai para pendatang ini kadang-kadang lebih luas dari
tanah yang dimiliki oleh golongan marga tanah itu sendiri.
Bertitik tolak dari keterangan-keterangan di atas maka dapatlah kita ketahui
bahwa penggunaan tanah ini diawasi oleh kepala persekutuan hukum, dimana
masyarakat hukum atau para warganya boleh memanfaatkan secara bebas tanah-
tanah belukar/hutan di dalam batas hak ulayat, masyarakat adat boleh memungut
hasil hutan, berburu atau mengembala. Terhadap orang asing yang ingin
menggunakan tanah adat harus dengan izin persekutuan hukum dengan membayar
bunga tanah. Jika penggunaan hak pakai tersebut di atas tidak dipergunakan lagi
oleh masyarakat adat, maka tanah itu kembali kepada desa dan pengulu desalah
yang berhak untuk menentukan penggunaannya kembali.

F. Keberadaan Hak Masyarakat Adat / Ulayat Atas Tanah di Tanah Karo


(Kabupaten Karo)
Pada kenyataan yang ditemukan dalam masyarakat suku Karo di Kabupaten
Karo sekarang eksistensi atau keberadaan dari hak ulayat dan kekuasaan penguasa
adat atas tanah ulayat menunjukkan kecendrungan semakin berkurang.
Berkurangnya tanah masyarakat adat ini dapat dilihat sebagai contoh di Desa
Sarinembak, dimana hutan (kerangen geteng) yang selama ini menjadi tempat
mengambil kayu, bercocok tanam, dan lain-lain oleh penduduk asli maupun
pendatang maka saat ini kerangen geteng ini sudah diusahai oleh penduduk Desa
Selakkar yang berdampingan dengan Desa Sarinembah.
Di sinilah fungsi Kepala Desa sebagai suatu lembaga yang berfungsi sebagai
badan yang dapat menyelesaikan sengketa di desa diminta untuk berperan aktif.
Karena sampai saat ini belum terdapat penyelesaian (hasil wawancara penulis
dengan informan dan masyarakat Desa Sarinembah).
Di samping tanah masyarakat adat di Desa Sarinembah dengan nama
Kerangen Geteng masih ada lagi tanah perladangan yang kurang rata tidak berbukit-
bukit yang juga merupakan tanah masyarakat adat Desa Sarinembah saat ini oleh
Kepala Desa atas musyawarah mufakat dengan masyarakat disewakan kepada
penduduk pendatang. Dan kalau pada zaman Jepan tanah tersebut di atas juga
disewakan kepada Jepang. Tanah yang disewakan ini bernama Perjuman
(perladangan) Arum Mulia. Hasil dari sewa tanah tersebut dimasukkan ke kas desa
dan digunakan untuk perbaikan jambur, jalan dan lain-lain. Mengenai luas Perjuman
(perladangan) Arum Mulia menurut data di lapangan ± 25 ha. Hanya pengukuran
dari Badan Pertanahan belum pernah dilakukan.
Dengan melihat kenyataan di atas bahwa di Desa Sarinembah Kabupaten
Karo, keberadaan hak masyarakat Adat yang lazim disebut dengan hak ulayat
18
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
sampai saat ini masih diakui keberadaannya artinya masih dikuasai secara
berkelompok. Hal ini sesuai dengan bunyi Pasal 3 UUPA yang menentukan
masyarakat hukum adat sepanjang menurut kenyataan masih ada, harus sedemikian
rupa hingga sesuai dengan kepentingan nasional dan negara, yang berdasarkan atas
persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan undang-undang dan
peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi.
Di samping hak masyarakat adat/ulayat yang terdapat di Desa Sarinembah
terdapat juga hak tersebut di atas di Kecamatan Mardinding di Desa Mbal-mbal
Petarum yang dikenal dengan nama Mbal-mbal Nodi, Nodi artinya mbelang (bahasa
Indonesia “yang sangat luas”) jadi Mbal-bal Nodi kalau diterjemahkan secara bebas
adalah padang rumput yang sangat luas. Kawasan ini mulai dijadikan tempat
perjalangen (lokasi pemeliharaan tanah) sekitar tahun 1921 (hasil wawancara
dengan penduduk Desa Mbal-bal Petarum). Sampai saat ini masih dikuasai secara
berkelompok oleh marga tanah dan di sana sini diperbaharui oleh masyarakat hukum
adat namun sama sekali tidak menghilangkan sifat hak ulayatnya. Sebab pada
dasarnya hak ulayat adalah bagian dari hukum adat itu sendiri.
Di dalam Pasal 6 UUPA dijelaskan bahwa semua hak atas tanah mempunyai
fungsi sosial, berarti bahwa hak atas tanah apapun yang ada pada seseorang tidaklah
dapat dibenarkan apabila tanahnya itu akan dipergunakan atau tidak dipergunakan
semata-mata untuk kepentingan pribadinya apalagi kalau hal itu menimbulkan
kerugian bagi masyarakat dan negara. Tetapi dalam pada itu ketentuan tersebut tidak
berarti, bahwa kepentingan perseorangan akan terdesak sama sekali oleh
kepentingan umum (masyarakat). Undang-Undang Pokok Agraria memperhatikan
pula kepentingan-kepentingan perseorangan.
Kepentingan umum dan kepentingan perseorangan haruslah saling
mengimbangi, hingga pada akhirnya akan tercapailah tujuan pokok kemakmuran,
keadilan dan kebahagiaan bagi seluruh rakyat Indonesia (Pasal 2 ayat 3 UUPA).
Berhubung dengan fungsi sosialnya, maka adalah sesuatu hal yang sewajarnya
bahwa tanah itu harus dipelihara baik-baik, agar bertambah kesuburannya serta
dicegah kerusakannya.
Kewajiban memelihara tanah ini tidak saja dibebankan kepada pemilik atau
pemegang hak yang bersangkutan, melainkan menjadi beban pada dari setiap orang,
badan hukum atau instansi yang mempunyai suatu hubungan hukum dengan tanah
(Pasal 15 UUPA) dan dalam melaksanakan ketentuan ini akan diperhatikan
kepentingan pihak ekonomis yang lemah.
Sehubungan dengan uraian di atas maka pada tahun 1961, diadakanlah suatu
musyawarah/mufakat oleh masyarakat Desa Mbal-mbal Petarum dan pengetua-
pengetua adat, anak beru, kalimbubu serta senina dengan maksud untuk lebih
memajukan perjalangen Mbal-mbal Nodi dan akhirnya dicapailah suatu kesepakatan
yang antara lain:
“Yang merupakan hak”:
- Setiap orang bebas untuk menggembalakan ternaknya ke Mbal-mbal Nodi.
- Setiap orang bebas untuk berburu ke Mbal-mbal Nodi
- Setiap orang bebas untuk mengambil hasil hutan, misalnya kayu, bambu dan
lain-lain. (Dikatakan bebas sepanjang sudah mendapat izin dari pihak pengurus,
pengelola Mbal-mbal Nodi).

19
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
“Yang merupakan kewajiban”
Bagi penduduk desa (kewajiban kedalam):
“Apabila seseorang ingin menggembalakan ternaknya, harus terlebih dahulu
memberikan setoran wajib kepada pihak pengelola/pengurus sebesar Rp. 50.000
(lima puluh ribu rupiah) tanpa memperhitungkan jumlah ternak yang
dimasukkan/digembalakan ke Mbal-mbal Nodi.”
Bagi penduduk luar Desa (kewajiban keluar)
“Apabila seseorang ingin menggembalakan/memasukkan ternaknya ke Mbal-mbal
Nodi tersebut, terlebih dahulu melunasi kewajibannya kepada pihak pengelola/
pengurus sebesar Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah) tanpa memperhitungkan jumlah
ternak yang dimasukkan/digembalakan ke Mbal-mbal Nodi”
Adapun hasil yang diperoleh dari Mbal-mbal Nodi tersebut sama seperti di
Desa Sarinembah oleh pengurus pengelolanya disimpan di kas desa dan
dipergunakan untuk keperluan:
- Perbaikan jalan desa
- Perbaikan jalan ke Mbal-mbal Nodi
- dan lain-lain.
Sebenarnya keberadaan hak masyarakat adat/hak ulayat di Desa yang lain
juga ada. Artinya setiap desa pada dasarnya mempunai hak masyarakat adat (hak
persekutuan) yang dapat dikelola secara bersama-sama oleh penduduk desa tersebut.
Namun karena keterbatasan waktu, penulis hanya mengambil dua desa sebagai
mewakili desa yang ada di Tanah Karo (Kabupaten Karo).

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa dalam lingkungan
masyarakat adat di Tanah Karo masih dikenal adanya hak ulayat/hak masyarakat
adat atas tanah yang merupakan hak persekutuan adat, di mana kewenangan
penguasaan atas tanah tersebut dipegang oleh Kepala Desa dan pemangku adat. Di
dalam hak ulayat diakui pula adanya hak atas tanah perseorangan. Wewenang
penggunaan tanah selalu disertai dengan kewajiban sehingga dalam pemanfaatan
tanah tidak hanya berguna bagi individu tetapi juga memberi manfaat bagi warga
persekutuan. Bilamana kewajiban atas penguasaan tanah ulayat tidak dipenuhi atau
tidak ada tanda-tanda adanya hubungan seseorang dengan tanah, maka penguasa
adat berhak untuk mengambilnya dan status itu kembali menjadi hak ulayat dan
seterusnya dapat diberikan kepada warga persekutuan yang lain. Hukum Adat dalam
masyarakat Adat Karo pada dasarnya tidak membedakan hak antara warga
masyarakatnya dengan warga luar sehubungan dengan pemilikan dan penguasaan
atas tanah ulayat.
Walaupun keberadaan hak ulayat sampai saat ini dianggap masih eksis
khususnya di Tanah Karo tetapi masih terdapat persengketaan antara warga
masyarakat, yaitu mengenai penguasaan atas tanah ulayat. Dengan demikian

20
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
membawa konsekuensi bahwa hak ulayat (hak masyarakat adat) semakin hari
semakin berkurang luasnya.
Tanah ulayat yang diambil untuk kepentingan tertentu cukup banyak dan cara
pengambilannya dinilai banyak kalangan mengabaikan peranan penguasa adat dan
ketentuan hukum adat setempat. Sekarang keberadaan dari tanah ulayat dan peranan
penguasa adat dalam mengatur tanah ulayat hanya kelihatan sebatas di dalam desa
dan pada tanah-tanah di sekitar wilayah desa pada areal yang terbatas.

B. Saran
1. Hendaknya tanah ulayat masyarakat hukum adat yang masih ada dinyatakan
dalam peta dasar pendaftaran tanah dengan membubuhkan suatu tanda kartografi
dan apabila memungkinkan menggambarkan batas-batasnya serta mencatatnya
dalam daftar tanah. Sedangkan penguasaan bidang-bidang tanah yang termasuk
tanah ulayat oleh perseorangan dan badan hukum dapat dilakukan oleh warga
masyarakat hukum adat yang bersangkutan dengan hak penguasaan menurut
ketentuan hukum adatnya yang berlaku, yang apabila dikehendaki oleh
pemegang haknya dapat didaftarkan sebagai hak atas tanah yang sesuai menurut
ketentuan Undang-Undang Pokok Agraria.
2. Hendaknya keberadaan masyarakat adat itu sendiri secara utuh pengaturannya,
dan tidak dicampur aduk dengan orang-orang pendatang. Dengan demikian
tercapai kepastian hukum
3. Perlu dijaga kewibawaan serta keberadaan pemimpin, sehingga memperkecil
sengketa di antara para warga khususnya menyangkut tanah persekutuan.
4. Perlu kiranya Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 dirubah dan ditambah
ketentuan yang mengikutsertakan pengetua adat dalam hal pendaftaran tanah
ulayat.
5. Perlu juga kiranya diadakan unifikasi mengenai peristilahan hak masyarakat adat
atas tanah di Tanah Karo sehingga tidak menyulitkan bagi orang luar (di luar
suku Karo) memahaminya.

21
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Bushar Muhammad, Asas-Asas Hukum Adat Suatu Pengantar, Pradnya Paramita,


Jakarta, 1988.

Darwin Prinst, Pendidikan Kepemimpinan Pada Suku Karo, 1980.

Hilman Hadikusuma, Hukum Ketatanegaraan Adat, Alumni, Bandung, 1981.

Mahadi, Uraian Singkat Tentang Hukum Adat RR 1854, cetakan kesatu, Alumni,
Bandung, 1991.

Purnadi Purbacaraka, Ridwan Halim, Sendi-Sendi Hukum Agraria, Ghalia Indonesia,


1993.

Ter Haar, Asas-Asas dan Susunan Hukum Adat, Sumur Batu, Bandung, 1985.

Wignodipuro Berojo, Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat Indonesia, Haji


Masagung, Jakarta, 1987.

G. Kartasapoetra, Hukum Tanah Jaminan UUPA Bagi Keberhasilan Pendayagunaan


Tanah, PT. Bina Aksara, Jakarta, 1985.

22
e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara