Anda di halaman 1dari 6

Pembahasan

Gerakan termal kristal

Dalam pembahasan getaran termal kristal ada beberapa hal yang perlu dipahami yaitu:
 Kalor
 Energi termal
 Kristal.

o KALOR
Kalorik, suatu materi yang tak terlihat, yang mengalir dari benda yang
bertemperatur tinggi ke benda yang bertemperatur rendah.
Benyamin Thomson/Count Rumford (1753-1814) dengan eksperimen-nya, dia
mengebor logam, teramati bahwa mata bor menjadi panas dan didinginkan dengan air
(sampai airnya mendidih), tentunya dari teori “kalorik”, kalorik tersebut lama
kelamaan akan habis dan ternyata bila proses tersebut berlanjut terus kalorik tersebut
tidak habis, jadi teori kalorik tidak tepat. Jadi kalor bukan materi.

kalor

T1 T2 T1>T2

o TERMAL
Termal dalam pengertian luas adalah pengukuran sifat kimia fisika bahan
sebagai fungsi suhu. Penetapan dengan metode ini dapat memberikan informasi pada
kesempurnaan kristal, polimorfisma, titik lebur, sublimasi, transisi kaca, dedrasi,
penguapan, pirolisis, interaksi padat-padat dan kemurnian. Data semacam ini berguna
untuk karakterisasi senyawa yang memandang kesesuaian, stabilitas, kemasan dan
pengawasan kualitas. Pengukuran dalam analisis termal meliputi suhu transisi,
termogravimetri dan analisis cemaran.
Teknik-teknik yang mencakup dalam metode analisis termal adalah:
(Analisis termogravimetri termogravimetric analysis=TGA),yang didasari pada
perubahan berat akibat pemanasan.
Analisis diferensial termal(diferential thermal analysis=DTA),di dasari pada
perubahan kandungan panas akibat perubahan temperature dan titrasi termometrik.
Suhu transisi meliputi DTA dan DSC. Dalam DTA (Differential Thermal
Analysis),panas diserap atau diemisikan oleh sistem kimia bahan yang dilakukan
dengan pembanding yang inert (Alumina, Silikon, Karbit atau manik kaca) karena
suhu keduanya ditambahkan dengan laju yang konstan.
Dalam DSC (Differential Scanning Calorimetry), sampel dan pembanding juga
bergantung pada penambahan suhu secara terus-menerus, namun panas yang
ditambahkan baik ke sampel atau ke pembanding dilakukan seperlunya, hal ini untuk
mempertahankan agar suhu keduanya selalu sama. Penambahan panas dicatat pada
recorder, panas ini digunakan untuk mengganti kekurangan atau kelebihan sebagai
akibat dari reaksi endoterm atau eksoterm yang terjadi dalam sampel.
DTA berupa perbedaan temperature antara sampel(yang ditentukan) dengan suatu
senyawa pembanding sebagai fungsi temperature sampel.Ini dilakukan dengan cara
memanaskan kedua zat secara serentak dan mengukur perubahan temperaturnya bila
pemanasan dilakukan pada laju terentu.

o KRISTAL
Kristal. Sering kita dengar dikeseharian. Tapi dalam hal bebatuan, kristal
adalah suatu benda yang homogin, berbentuk sangat geometris dan atom-atomnya
tersusun dalam sebuah kisi-kisi kristal, karena bangunan kisi-kisi kristal tersebut
berbeda-beda maka sifatnya juga berlainan.
Kristal dapat terbentuk dalam alam (mineral). Kristal artinya mempunyai bentuk yang
agak setangkup (symetris) dan yang pada banyak sisinya terbatas oleh bidang datar,
sehingga memberi bangian yang tersendiri sifatnya kepada mineral yang
bersangkutan.
Benda padat yang terdiri dari atom-atom yang tersusun rapi dikatakan mempunyai
struktur kristalen.

 IKATAN PADA KRISTAL


Jenis Ikatan Asal ikatan Sifat

Sangat keras; titik lebur tinggi;


Kovalen Patungan elektron larut dalam sedikit cairan;
transparan terhadap cahaya
tampak
Gaya tarik menarik elektrostatikKeras; titk lebur tinggi; larut
Ionik antara ion positif dan ioan negatif dalam cairan polar seperti air
Gaya tarik menarik elektrostatikLebih kuat dari ikatan Van der
Hidrogen kuat antara hidrogen pada satuWals, titik lebur dan titik didih
molekul dengan atom N, O atau F lebih tinggi dari ikatan Van der
Wals
Gaya Van der Waals akibatLunak; titik lebur dan titik
Van der Waals distribusi muatan yang tidakdidih rendah ; larut dalam
simetris cairan kovalen
Logam Gaya tarik menarik elektrostatikBerkilauan; menghantarkan
antara ion positif logam dengankalor dan listrik dengan baik
awan elektron
• Bentuk kristal dibagi dalam 6 bentuk, yaitu :
1. REGULER, Kubus atau ISOMETRIK ketiga poros sama panjang dan berpotongan
tegak lurus satu sama lain (contoh : Batu Intan, garam batu)
2. TETRAGONAL (berbintang empat) contoh chalkopirit, rutil, zircon.
3. HEKSAGONAL (berbintang enam) contoh apalit, beryl, korundum.
4. ORTOROMBIS (irisan wajik) contoh berit, belerang, topaz.
5. MONOKLIN (miring sebelah) contoh gips, muskovit, augit.
6. TRIKLIN (miring, ketiga arah) contoh albit, anortit, distin.

• Sifat-sifat Kristal Logam


1. Tidak tembus cahaya
2. Permukaannya tampak mengkilap
3. Memiliki konduktivitas yang baik
4. Dapat dilarutkan dan dicampurkan dengan logam lain sehingga membentuk
senyawa baru

• Perbedaan kristal, intan, dan grafit di lihat dari strukturnya.

 kristal
Kristal dapat terbentuk dalam alam (mineral). Kristal artinya mempunyai
bentuk yang agak setangkup (symetris) dan yang pada banyak sisinya terbatas
oleh bidang datar, sehingga memberi bangian yang tersendiri sifatnya kepada
mineral yang bersangkutan.
Benda padat yang terdiri dari atom-atom yang tersusun rapi dikatakan mempunyai
struktur kristalen.

 Intan
Adalah polimorpik karbon meta stabil pada temperatur ruang dan tekanan
atmosfir. Struktur kristalnya adalah sejenis dengan zinc blende dimana karbon
menempati semua posisi (kedua posisi Zn dan S), seperti yang ditunjukkan
gambar 15. Ikatannya adalah kovalen. Struktur ini disebut struktur kristal kubus
Intan mempunyai sifat sangat keras dan konduktivitas listrik yang rendah, sifat
ini dikarenakan oleh struktur kristalnya dan ikatan kovalen atomnya yang kuat.
Intan mempunyai konduktivitas termal yang tinggi diantara material non-logam,
secara optik transparan pada daerah cahaya tampak dan infra merah. Di industri,
intan digunakan untuk menggerinda atau memotong benda yang lebih lunak.
Intan berbentuk lapisan tipis banyak dikembangkan dan diantaranya digunakan
sebagai pelapis pada permukaan gurdi/bor, die (cetakan), bantalan, pisau dan
tool-tool lainnya. Lapisan intan juga digunakan pada speaker tweeter dan
mikrometer presisi tinggi.

 grafit
Struktur kristal grafit ditunjukkan oleh gambar 17. Struktur kristal grafit berbeda
dengan intan dan juga lebih stabil pada temperatur dan tekanan ambien.
Sifat-sifat grafit yang disukai adalah : kekuatan tinggi, kestabilan kimia pada
temperatur tinggi, konduktivitas termal tinggi, koefisien ekspansi termal rendah
dan mempunyai tahanan kejut tinggi, absorpsi gas tinggi, kemampuan pemesinan

 Kalor Spesifik pada Volume Konstan


Adalah jumlah panas yang diperlukan untuk menaikkan temperatur satu
satuan massa gas sebesar 10 C, jika dipanaskan pada volume konstan. Umumnya
dilambangkan dengan Cv atau Kv.
Misalkan sebuah gas diisikan pada sebuah kotak dengan tutup yang tetap
seperti ditunjukkan gambar.
Jika sekarang kotak dipanaskan, maka temperatur dan tekanan gas dalam kotak akan
naik. Karena tutup kotak tetap, maka volume gas tidak berubah.
Kalor total yang diberikan ke gas pada volume tetap adalah:
Q = massa X kalor spesifik pada vol. Konstan X kenaikan teperatur
= m Cv (T2 – T1)
dimana, m = massa gas
T1 = temperatur awal gas
T2 = temperatur akhir gas
Gb.1 kalor yang diberikan pada volume tetap

Jika gas dipanaskan pada volume konstan, tidak ada kerja yang dilakukan. Semua energi
kalor digunakan untuk menaikkan temperatur dan tekanan gas. Dengan kata lain, semua
kalor yang diberikan ada pada gas, dan menaikkan energi dalam gas.

 Kalor Spesifik pada Tekanan Konstan


Adalah jumlah kalor yang diperlukan untuk menaikkan temperatursatu satuan
massa gas sebesar 10 C, jika dipanaskan pada tekanan konstan. Biasanya dilambangkan
dengan Cp atau Kp.
Misalkan sebuah gas diisikan pada sebuah kotak dengan tutup yang bergerak seperti
ditunjukkan gambar.
Jika sekarang kotak dipanaskan, maka temperatur dan tekanan gas dalam kotak akan naik.
Karena tutup kotak bisa bergerak, maka ia akan naik ke atas, untuk mengatasi kenaikan
tekanan.

Gb.2 kalor yang diberikan pada tekanan tetap


Kalor total yang diberikan ke gas pada tekanan tetap adalah:

Q = massa X kalor spesifik pada tekanan konstan X kenaikan


teperatur
= m Cp (T2 – T1)
dimana, m = massa gas
T1 = temperatur awal gas
T2 = temperatur akhir gas
Jika gas dipanaskan pada tekanan konstan, kalor yang diberikan ke gas
dimanfaatkan untuk dua hal berikut:

1. Untuk menaikkan temperatur gas. Kalor ini berada pada gas, dan
mengakibatkan kenaikan energi dalam. Secara matematis, bagian
kalor ini dirumuskan:
Q1 = m.Cv.(T2 – T1)

2. Untuk melakukan kerja luar/eksternal selama ekspansi. Secara


matematis, ditulis:
Q2 = p(v2 – v1) (dalam kalor mekanik)
= = p(v2 – v1) (dalam satuan kalor)
j

Terlihat bahwa kalor spesifik pada tekanan konstan lebih tinggi dari pada kalor spesifik pada
volume konstan.
W=p(v2 – v1)= pv2 – pv1
J J
=mRT2 – mRT1 = mR(T2 – T1) (dalam satuan kalor)
J J
Gb.2 kalor yang diberikan pada tekanan tetap

Kalor total yang diberikan ke gas pada tekanan tetap adalah:

Q = massa X kalor spesifik pada tekanan konstan X kenaikan


teperatur
= m Cp (T2 – T1)
dimana, m = massa gas
T1 = temperatur awal gas
T2 = temperatur akhir gas
Jika gas dipanaskan pada tekanan konstan, kalor yang diberikan ke gas
dimanfaatkan untuk dua hal berikut:

1. Untuk menaikkan temperatur gas. Kalor ini berada pada gas, dan
mengakibatkan kenaikan energi dalam. Secara matematis, bagian
kalor ini dirumuskan:
Q1 = m.Cv.(T2 – T1)

2. Untuk melakukan kerja luar/eksternal selama ekspansi. Secara


matematis, ditulis:
Q2 = p(v2 – v1) (dalam kalor mekanik)
= = p(v2 – v1) (dalam satuan kalor)
j

Terlihat bahwa kalor spesifik pada tekanan konstan lebih tinggi dari pada kalor spesifik pada
volume konstan.
W=p(v2 – v1)= pv2 – pv1
J J
=mRT2 – mRT1 = mR(T2 – T1) (dalam satuan kalor)
J J