Anda di halaman 1dari 10

PENGARUH PEMBERIAN SITOKININ TERHADAP

PENGHAMBATAN DEGRADASI KLOROFIL

Oleh :
Nurfitriyani Rahesti
Febriyanti Rachmi
Vivi Santoso
Dewi Masfuah
Titi Wulandai
Azhar Fathurakhman A.
Rombongan
Kelompok
Asisten

B1J013005
B1J013019
B1J013049
B1J013088
B1J013099
B1J013167
: II
:1
: Rizki Amalia Dianing Ratri

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI ZAT PENGATUR TUMBUH

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Senesen daun salah satunya ditandai oleh terdegradasinya senyawa klorofil dan
protein daun (Biswas and Mondal, 1986), dan peristiwa ini akan semakin dipercepat
apabila tanaman mengalami cekaman kekurangan air (Yang et al., 2002). Adanya
cekaman kekeringan maka jumlah air yang dapat diserap tanaman berkurang, sehingga
turgor sel tanaman menurun selanjutnya akan diikuti oleh menurunnya nilai kadar air
nisbi (KAN) daun. Turgor sel tanaman yang rendah maka metabolisme sel dapat
terganggu dan menjadi tidak normal, termasuk diantaranya menyebabkan degradasi
senyawa protein juga klorofil daun menjadi lebih cepat (Widiatmoko et al., 2010).
Sitokinin berinteraksi dengan hormon lainnya yaitu ABA (asam absisat),
dengan menghambat produksi ABA yang menyebabkan penuaan pada daun.
Penggunaan sitokinin (benzil adenin) pada konsentrasi yang tepat pada larutan
perendam bunga potong dapat menghambat penuaan daun dan perubahan warna daun
menjadi kuning pada Alstromeria (Hicklenton 1991, Mutui et al. 2001), dan Lily (Han
1997, Heins et al., 1996). Selain itu sitokinin dalam bentuk TDZ (tidiazuron) dapat
menghambat penguningan dan mencegah degradasi klorofil pada tulip (Ferrante et al.,
2003).
Secara umum fungsi sitokinin ialah untuk meningkatkan aktivitas pembelahan
dan pembesaran sel. Peningkatan aktivitas pembelahan sel yang diakibatkan oleh
sitokinin terjadi pada bagian mersitematis tanaman, salah satu contoh ialah dalam
pertumbuhan tunas aksilar, sehingga meningkatkan jumlah daun dan tanaman lebih
menyemak. Dalam mengatur pertumbuhan tunas aksilar ini, sitokinin bekerja
antagonistis dengan auksin dalam menghambat dominansi apikal. Dengan
penambahan sitokinin pada konsentrasi yang tepat dan didukung oleh meningkatnya
kemampuan akar menyerap air dan unsur hara, maka diduga pada akhirnya
memengaruhi proses pembelahan dan pembesaran sel pada daun (Widiatmoko et al.,
2010).
Penggunaan sitokinin eksogen melalui daun untuk meningkatkan pertumbuhan
luas daun dan menunda senesen daun telah berhasil meningkatkan hasil benih umbi
pada tanaman kentang (Caldiz, 1996) dan meningkatkan hasil biji pada tanaman bunga
matahari (Beltrano et al., 1994). Berdasarkan peranannya dalam menunda senesen
daun maka penggunaan sitokinin ini diharapkan dapat mengatasi kendala cekaman

kekeringan pada tanaman kedelai yang terjadi selama fase pertumbuhan reproduktif,
yaitu dengan meningkatkan status klorofil dan protein daun serta mempertahankannya
selama proses pembentukan biji (Widiatmoko et al., 2010).

B. Tujuan
Tujuan praktikum acara pembuatan media kali ini yaitu untuk mempelajari
pengaruh pemberian sitokinin terhadap penghambatan degradasi klorofil.

II. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu klorofil meter, cawan
petri, gunting, dan penggaris.
Bahan-bahan yang digunakan yaitu daun terung (Solanum melongena), BAP
(0, 5, 10, 15, 20 M).
B. Metode

Daun tanaman terung disiapkan

Potong bagian daun sebanyak 1x1 cm

Ukur kadar klorofil awal

Beri label

Rendam di dalam media MS


cair
Inkubasi selama 1 minggu secara in vivo

Ukur kadar klorofil akhir

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Gambar 1. Daun tanaman terung

Gambar 2. Potongan daun tanaman terung

Gambar 3. Inkubasi

Tabel 4.1. Pengamatan Kandungan Klorofil


Konsentrasi

Kandungan Klorofil

Kandungan Klorofil

Awal

Akhir

16,3

1,23

12,6

3,9

16,5

1,63

16,5

1,8

1,63

Ulangan
BAP

5 M

B. Pembahasan
Kandungan klorofil merupakan parameter yang sangat penting untuk
mempertimbangkan tingkat produksi tanaman (Sabovljevic et al., 2010). Laju
degradasi klorofil yang menggambarkan proses senesen daun secara nyata memang
dapat dipertahankan dengan pemberian kinetin yang berarti senesen daun terjadi lebih
lambat. Kinetin berperan dalam menunda senesen daun yaitu dengan menghambat
perombakan butir-butir klorofil dan protein daun (Wattimena, 1987).
Status klorofil dan protein daun meningkat dengan pemberian kinetin yang
berarti senesen tanaman dapat diperlambat, akan tetapi nampaknya pengaruh kinetin
ini tidak mampu mengurangi pengaruh negatif penurunan kadar air tanah yang ternyata
lebih dominan (Widiatmoko et al., 2010). Salah satu peranan sitokinin (kinetin) ialah
dalam hal sintesis protein (Gardner et al., 1991) yaitu dengan mengarahkan asam
amino pada saat translasi (Fox, 1969).
Sitokinin merupakan golongan hormon tumbuhan yang memiliki peran utama
dalam siklus sel dan mempengaruhi beberapa proses perkembangan. Sitokinin juga
memiliki implikasi dalam perbaikan tingkat klorofil, protein dan RNA, yang
mengahmbat senesens. Fakta membutikan bahwa sitokinin sangat efektif dalam
memperlambat kerusakan klorofil yang ditunjukkan dengan peran zat pengatur
tumbuh tersebut dalam memperbaiki aparatus fotosintesis organ tumbuhan. Pemberian
sitokinin meingkatkan DNA kloroplas dan sistesis protein, mengatur level pigmen,
menurunkan permeabilitas membran, merangsang replikasi kloroplas, pembentukan
grana, dan mempengaruhi pematangan (Sabovljevic et al., 2010).
Meningkatnya konsentrasi kinetin secara nyata meningkatkan laju transpirasi
tanaman pada kondisi tingkat kadar air tanah 100% dan 75% kapasitas lapangan.
Perlakuan kadar air tanah 50% kapasitas lapangan akan menurunkan laju transpirasi,
dan akan semakin menurun dengan pemberian kinetin pada konsentrasi yang tinggi
dibandingkan dengan yang tanpa kinetin. Pemberian sitokinin eksogen ditunjukkan
dengan meningkatnya laju transpirasi pada organ daun (Hare et al., 1997), dan
tentunya ini berkaitan dengan peranan sitokinin dalam mempengaruhi pembukaan
stomata, yang juga dikendalikan oleh kandungan ABA. Kinetin yang disemprotkan
melalui daun pada beberapa tingkat konsentrasi diduga mempengaruhi keseimbangan
hormon antara sitokinin dan ABA sehingga menyebabkan terjadinya pengaruh

interaksi antara perlakuan kadar air tanah dengan konsentrasi kinetin (Widiatmoko et
al., 2010).
Kinetin ternyata hanya efektif menunda senesen tanaman, yaitu dengan
mempertahankan pertumbuhan bagian vegetatif saja namun tidak meningkatkan
pertumbuhan reproduktif tanaman. Keberadaan daun yang dipertahankan tetap hijau
membutuhkan asimilat yang lebih banyak untuk respirasi, sehingga mengurangi
translokasinya ke bagian biji (Widiatmoko et al., 2010).
Praktikum kali ini menggunakan daun terung sebagai eksplan. Kandungan
klorofil dihitung menggunakan klorofil meter. Konesntrasi BAP yang digunakan
adalah 5 M. Berdasarkan hasil pengamatan, didapatkan data penurunan kandungan
klorofil. Rata-rata kandungan klorofil awal ulangan 1 sebanyak 16,3, ulangan 2
sebanyak 12,6, ulangan 3 sebanyak 16,5, ulangan 4 sebanyak 16,5, dan ulangan 5
sebanyak 8. Hasil rata-rata kandungan klorofil akhir yang didapatkan yaitu ulangan 1
sebanyak 1,23, ulangan 2 sebanyak 3,9, ulangan 3 sebanyak 1,63, ulangan 4 sebanyak
1,8, dan ulangan 5 sebanyak 1,63. Hal ini kurang sesuai dengan pustaka. Kandungan
BAP mempengaruhi retensi klorofil a pada tanaman khusunya pada konsentrasi yang
tinggi (10 M) (Sabovljevic et al., 2010).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas maka dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut:
1. Sitokinin berperan dalam menghambat degradasi klorofil
2. Hasil menunjukkan bahwa kandungan klorofil menurun pada konsentrasi BAP
5 M. Hal ini menunjukkan BAP 5 M tidak menghambat degradasi klorofil.

B. Saran
Sebaiknya pada praktikum kali ini menggunakan jenis sitokinin Kinetin atau
Benziladenin (BA) agar hasilnya lebih baik.

DAFTAR REFERENSI
Biswas, A.K and S.K Mondal. 1986. Regulation by kinetin and abscisic of correlative
senescence in relation in grain maturation, source and sink relationship and
yield of rice (Oryza sativa L.). Plant Growth Regulation 4: 239- 245.
Beltrano, J., D. O. Caldiz, R. Barreyro, G. S. Vallduri and R. Besus. 1994. Effect of
foliar applied gibberelic acid and benzyladenin upon yield component in
sunflower (Helianthus annus L.). Plant Growth Regulation 15: 101-106.
Caldiz, D. O. 1996. Seed potato (Solanum tuberosum L.) yield and tuber number
increase after foliar application of cytokinins and gibberelic acid under field
and glasshouse conditions. Plant Growth Regulation 20: 185-188.
Ferrante, A, Tognomi, F, Mensuali-Sodi, A & Serra, G 2003, Treatment with
thidiazuron for preventing leaf yellowing in cut Tulip and Chrysanthemum,
Acta Horticulturae, vol. 624, pp. 357-63.
Fox, J.E. 1969. Sitokinin, pp. 97-234. Dalam Wilkins, M.B. (Eds). Fisiologi tanaman,
Jilid 1. Alih bahasa oleh Mul Mulyani Sutedjo dan A.G. Kartasapoetra. PT.
Bina Aksara, Jakarta.
Gardner, F.P., R.B. Pearce dan Roger L. Mitchell. 1991. Fisiologi tanaman budidaya.
Penerjemah Herawati Susilo. UI Press, Jakarta. 428p.
Han, SS 1997, Preventing postproduction leaf yellowing in Easter Lily, J. the Amer.
Soc. for Hortic. Sci., vol. 122, pp. 869-972.
Hare, P.D., W.A. Cress and J.V. Staden. 1997. The involvement of cytokinin in plant
responses to environment stress. Plant Growth Regulation 23: 79-103.
Heins, RD, Wallace, TF & Han, SS 1996, GA 4+7 plus benzyladenine reduce leaf
yellowing of greenhouse Easter lilies, HortSci., vol. 31, pp. 597.
Hicklenton, PR 1991, GA3 and benzylaminopurine delay leaf yellowing in cut
Alstromeria stem, HortSci., vol. 26, pp. 1198-99.
Mutui, TM, Emongor, VE & Hutchinson, J 2001 Effect of Accel on vaselife and
postharvest quality of Alstromeria (Alstromeria aurantica L.) cut flowers,
Afr. J. Sci. and Technol., vol. 2, pp. 82-8.
Sabovljevic, A., Sabovljevic, M., dan Vukojevic, V. 2010. Effects of different
cytokinins on chlorophyll retention in the moss Bryum argenteum (Bryaceae).
Peridicum biologorum, 112(3): 301-305.
Wattimena, G.A. 1987. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Laboratorium Kultur Jaringan
Tanaman. PAU Bioteknologi IPB, Bogor. 247p.
Widiatmoko, T., Agustono, T dan Faozi, K. 2010. Penggunaan Sitokinin untuk
Mengatasi Cekaman Kekeringan selama Fase Reproduktif Tanaman kedelai.
Agrin, 4(1): 79-88.

Yang, J., J. Zhang, L. Liu, Z. Wang and Q. Zhu. 2002. Carbon Remobilization and
Grain Filling in Japonica/ Indica Hybrid Rice Subjected to Postanthesis Water
Deficits. Agron J 94: 102-109.