Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

DISUSUN OLEH: IKA PRAMITA ARFIATI


NIM: 111220049

STIKES WIDYA DHARMA HUSADA TANGERANG


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN PROGRAM NERS
TAHUN 2015

A. Definisi
Patent Duktus Arteriosus adalah kegagalan menutupnya ductus arteriosus
(arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu pertama
kehidupan, yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta tang bertekanan tinggi
ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah (Suriadi & Rita Yuliani, 2001).
Patent Duktus Arteriosus (PDA) adalah tetap terbukanya duktus arteriosus
setelah lahir, yang menyebabkan dialirkannya darah secara langsung dari aorta
(tekanan lebih tinggi) ke dalam arteri pulmoner (tekanan lebih rendah) (Betz,
Sowden, 2002).

B. Etiologi
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara
pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada
peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan :
1. Faktor Prenatal :
Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella.
Ibu alkoholisme, peminum obat penenang atau jamu
Umur ibu lebih dari 40 tahun.
Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin.
2. Faktor Genetik :
Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.
Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan.
Kelainan kromosom seperti Sindrom Down.
Lahir dengan kelainan bawaan yang lain.
C. Patofisiologi
Duktus arteriosus adalah pembuluh darah yang menghubungkan aliran darah
pulmonal ke aliran darah sistemik dalam masa kehamilan (fetus). Hubungan ini

(shunt) ini diperlukan oleh karena sistem respirasi fetus yang belum bekerja di
dalam masa kehamilan tersebut. Pada saat lahir resistensi dalam sirkulasi pulmonal
dan sistemik hampir sama, persamaan tersebut juga pada resistensi dalam aorta dan
arteri pulmonalis. Karena tekanan sistemik melebihi tekanan pulmonal, darah mulai
mengalir dari aorta, melintasi ke duktus ke arteri pulmonalis (left to right shunt),
darah kembali bersirkulasi melalui paru & turun ke atrium kiri kemudian ventrikel
kiri, pengaruh perubahan sirkulasi kemudian meningkatkan kerja jantung bagian
kiri, meningkatkan kongesti pembuluh darah pulmonal & memungkinkan resistensi,
meningkatkan tekanan ventrikel kanan & hypertrofi. Jika duktus tetap terbuka, darah
yang seharusnya mengalir ke seluruh tubuh akan kembali ke paru-paru sehingga
memenuhi pembuluh paru-paru.

D. Manifestasi Klinik

Manifestasi klinis PDA pada bayi prematur sering disamarkan oleh masalahmasalah lain yang berhubungan dengan prematur (misalnya sindrom gawat nafas).
Tanda-tanda kelebihan beban ventrikel tidak terlihat selama 4 6 jam sesudah lahir.
Bayi dengan PDA kecil mungkin asimptomatik, bayi dengan PDA lebih besar dapat
menunjukkan tanda-tanda gagal jantung kongestif (CHF) diantaranya :
Kadang-kadang terdapat tanda-tanda gagal jantung.
Machinery mur-mur persisten (sistolik, kemudian menetap, paling nyata
terdengar di tepi sternum kiri atas).
Tekanan nadi besar (water hammer pulses) / Nadi menonjol dan meloncat-

loncat, Tekanan nadi yang lebar (lebih dari 25 mmHg).


Takhikardia (denyut apeks lebih dari 170), ujung jari hiperemik.
Resiko endokarditis dan obstruksi pembuluh darah pulmonal.
Infeksi saluran nafas berulang, mudah lelah.
Apnea dan Tachypnea.
Nasal flaring dan Retraksi dada.
Hipoksemia.
Peningkatan kebutuhan ventilator (sehubungan dengan masalah paru).
Jika PDA memiliki lubang yang besar, maka darah dalam jumlah yang besar
akan membanjiri paru-paru. Anak tampak sakit, dengan gejala berupa:
- tidak mau menyusu
- berat badannya tidak bertambah
- berkeringat
- kesulitan dalam bernafas
- denyut jantung yang cepat
Timbulnya gejala tersebut menunjukkan telah terjadinya gagal jantung kongestif,

yang seringkali terjadi pada bayi prematur.


E. Komplikasi
1. Komplikasi paten PDA yang tidak diobati meliputi endokarditis bakteri, akhir
gagal jantung kongestif (CHF), dan pengembangan penyakit paru obstruktif
vaskular.
2. Patent ductus arteriosus (PDA) dapat mempersulit peredaran darah lain atau
kelainan ventilasi, seperti berikut:
a. Aorta pecah
b. Eisenmenger fisiologi
c. Gagal jantung kiri

d.
e.
f.
g.

Miokard iskemia
Necrotizing enterocolitis
Hipertensi Paru
Hipertrofi jantung kanan dan Gagal jantung kanan

F. Pemeriksaan Penunjang
Radiologi: foto rontgen dada hampir selalu terdapat kardiomegali.
Elektrokardiografi/EKG, menunjukkan adanya gangguan konduksi pada
ventrikel kanan dengan aksis QRS bidang frontal lebih dari 90.
Pemeriksaan dengan Doppler berwarna : digunakan untuk mengevaluasi aliran
darah dan arahnya.
Ekokardiografi, bervariasi sesuai tingkat keparahan, pada PDA kecil tidak ada
abnormalitas, hipertrofi ventrikel kiri pada PDA yang lebih besar. sangat
menentukan dalam diagnosis anatomik.
Kateterisasi jantung untuk menentukan resistensi vaskuler paru.
G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Konservatif : Restriksi cairan dan pemberian obat-obatan :
Furosemid (lasix) diberikan bersama restriksi cairan untuk meningkatkan
diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban kardiovaskular, Pemberian
indomethacin (inhibitor prostaglandin) untuk mempermudah penutupan duktus,
pemberian antibiotik profilaktik untuk mencegah endokarditis bakterial.
Pembedahan : Pemotongan atau pengikatan duktus.
Non pembedahan : Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada waktu
kateterisasi jantung.
H. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pemberian Asuhan Keperawatan merupakan proses terapeutik yang
melibatkan hubungan kerjasama dengan klien, keluarga atau masyarakat untuk
mencapai tingkat kesehatan yang optimal. ( Carpenito, 2000 ).
a. Anamnesa
Identitas ( Data Biografi)
PDA sering ditemukan pada neonatus, tapi secara fungsional menutup
pada 24 jam pertama setelah kelahiran. Sedangkan secara anatomic
menutup dalam 4 minggu pertama. PDA ( Patent Ductus Arteriosus)

lebih sering insidens pada bayi perempuan 2 x lebih banyak dari bayi
laki-laki. Sedangkan pada bayi prematur diperkirakan sebesar 15 %.
PDA juga bisa diturunkan secara genetik dari orang tua yang menderita
jantung bawaan atau juga bisa karena kelainan kromosom.
Keluhan Utama
Pasien dengan PDA biasanya merasa lelah, sesak napas.
Riwayat penyakit sekarang
Pada pasien PDA, biasanya akan diawali dengan tanda-tanda respiratory
distress, dispnea, tacipnea, hipertropi ventrikel kiri, retraksi dada dan
hiposekmia.
Riwayat penyakit terdahulu
Perlu ditanyakan apakah pasien lahir prematur atau ibu menderita infeksi
dari rubella.
Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit
PDA karena PDA juga bisa diturunkan secara genetik dari orang tua yang
menderita penyakit jantung bawaan atau juga bisa karena kelainan
kromosom.
Riwayat Psikososial
Meliputi tugas perasaan anak terhadap penyakitnya, bagaimana perilaku
anak terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya, perkembangan
anak, koping yang digunakan, kebiasaan anak, respon keluarga terhadap
penyakit anak, koping keluarga dan penyesuaian keluarga terhadap
stress.
b. Pengkajian fisik (ROS : Review of System)
Pernafasan B1 (Breath)
Nafas cepat, sesak nafas ,bunyi tambahan ( marchinery murmur ),
adanyan otot bantu nafas saat inspirasi, retraksi.
Kardiovaskuler B2 ( Blood)
Jantung membesar, hipertropi ventrikel kiri, peningkatan tekanan darah
sistolik, edema tungkai, clubbing finger, sianosis.
Persyarafan B3 ( Brain)
Otot muka tegang, gelisah, menangis, penurunan kesadaran.

Perkemihan B4 (Bladder)
Produksi urine menurun (oliguria).
Pencernaan B5 (Bowel)
Nafsu makan menurun (anoreksia), porsi makan tidak habis.
Muskuloskeletal/integument B6 (Bone)
Kemampuan pergerakan sendi terbatas, kelelahan.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Penurunan Curah jantung b.d malformasi jantung.
b. Gangguan pertukaran gas b.d kongesti pulmonal.
c. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh
tubuh dan suplai oksigen ke sel.
d. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan b.d tidak adekuatnya suplai
oksigen dan zat nutrisi ke jaringan.
e. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kelelahan pada saat
makan dan meningkatnya kebutuhan kalori.
3. Rencana Tindakan Keperawatan
a. Penurunan Curah jantung b.d malformasi jantung.
Tujuan : Mempertahankan curah jantung yang adekuat
Kriteria hasil : Anak akan menunjukkan tanda-tanda membaiknya curah
jantung
Intervensi
Rasional
Mandiri:
1. Observasi kualitas dan kekuatan denyut 1. Permulaan gangguan pada jantung akan
jantung, nadi perifer, warna dan

ada perubahan tanda-tanda vital,

kehangatan kulit

semuanya harus cepat dideteksi untuk

2. Tegakkan derajat sianosis (sirkumoral,


membran mukosa, clubbing)

penanganan lebih lanjut.


2. Pucat menunjukkan adanya penurunan
perfusi sekunder terhadap ketidak
adekuatan curah jantung, vasokonstriksi

3. Monitor tanda-tanda CHF (gelisah,


takikardi, tachypnea, sesak, mudah

dan anemia.
3. Deteksi dini untuk mengetahui adanya
gagal jantung kongestif

lelah, periorbital edema, oliguria, dan


hepatomegali)
Kolaborasi:
1. Pemberian digoxin sesuai order, dengan
menggunakan teknik pencegahan

1. Obat ini dapat mencegah semakin

bahaya toksisitas.
memburuknya keadaan klien.
2. Berikan pengobatan untuk menurunkan 2. Obat anti afterload mencegah terjadinya
afterload
3. Berikan diuretik sesuai indikasi.

vasokonstriksi
3. Diuretik bertujuan untuk menurunkan
volume plasma dan menurunkan retensi
cairan di jaringan sehingga menurunkan
risiko terjadinya edema paru.

b. Gangguan pertukaran gas b.d kongesti pulmonal.


Tujuan : Mengurangi adanya peningkatan resistensi pembuluh paru:
Kriteria hasil:Anak akan menunjukkan tanda-tanda tidak adanya peningkatan
resistensi pembuluh darah.
Intervensi
1. Observasi kualitas dan kekuatan
denyut jantung, nadi perifer, warna
dan kehangatan kulit.
2. Atur posisi anak dengan posisi fowler.
3. Hindari anak dari orang yang
terinfeksi.
4. Berikan istirahat yang cukup.
5. Berikan oksigen jika ada indikasi
gangguan pernafasan.

Rasional
1. Untuk deteksi dini terjadinya gangguan
pernapasan.
2. Untuk memudahkan pasien dalam
bernapas.
3. Agar anak tidak tertular infeksi yang
akan memperburuk keadaan.
4. Menurunkan kebutuhan oksigen dalam
tubuh.
5. Membantu klien untuk memenuhi
oksigenasinya.

c. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh


tubuh dan suplai oksigen ke sel.
Tujuan : Mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat.
Kriteria hasil : Anak akan mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat.
Intervensi
Rasional
1. Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas 1.Jika tidak sesuai parameter, klien dikaji
menggunakan parameter berikut : Nadi

ulang untuk mendapatkan perawatan

20 per menit diatas frekuensi istirahat,

lebih lanjut.

catat peningkatan TD, Nyeri dada,


kelelahan berat, berkeringat, pusing dan

pingsan.
2. Kaji kesiapan pasien untuk
meningkatkan aktivitas.
3. Dorong memajukan aktivitas.

2.Persiapkan dan dukung klien untuk


melakukan aktivitas jika sudah mampu.
3.Agar klien termotivasi untuk melakukan
aktivitas sehingga terpacu untuk sembuh.
4.Memudahkan klien untuk beraktivitas tapi

4. Berikan bantuan sesuai dengan

tidak memanjakan.

kebutuhan dan anjurkan penggunaan


kursi mandi.
d. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan b.d tidak adekuatnya suplai
oksigen dan zat nutrisi ke jaringan.
Tujuan : Memberikan support untuk tumbuh kembang.
Kriteria hasil: Anak akan tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan berat
dan tinggi badan.
Intervensi
Rasional
1. Kaji tingkat tumbuh kembang anak. 1. Memantau masa tumbuh
2. Berikan stimulasi tumbuh kembang,
kembang anak.
kativitas bermain, game, nonton TV, 2. Agar anak bisa tumbuh dan
puzzle, nmenggambar, dan lain-lain
sesuai kondisi dan usia anak.
3. Libatkan keluarga agar tetap

berkembang sebagaimana
mestinya.
3. Anggota keluarga sangat besar

memberikan stimulasi selama

pengaruhnya terhadap proses

dirawat

pertumbuhan dan juga

perkembangan anak-anak.
e. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kelelahan pada saat
makan dan meningkatnya kebutuhan kalori.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafsu makan timbul
kembali dan status nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil :
- Status nutrisi terpenuhi
- Nafsu makan klien timbul kembali
Intervensi
Rasional
1. Kaji pemenuhan kebutuhan nutrisi klien. 1. Mengetahui kekurangan nutrisi klien.
2. Mencatat intake dan output makanan klien. 2. Mengetahui perkembangan pemenuhan

3. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk


membantu memilih makanan yang dapat

nutrisi klien.
3. Ahli gizi adalah spesialisasi dalam ilmu
gizi yang membantu klien memilih

memenuhi kebutuhan gizi selama sakit.

makanan sesuai dengan keadaan


4. Menganjurkan makan sedikit- sedikit tapi
sering.

sakitnya, usia, tinggi, berat badannya.


4. Dengan sedikit tapi sering mengurangi
penekanan yang berlebihan pada
lambung.

DAFTAR PUSTAKA
Betz, Sowden. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik, Edisi 2. Jakarta: EGC.
Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC,
Jakarta.
Doenges, M.E.,Moorhouse M.F.,Geissler A.C., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan,
Edisi 3, EGC, Jakarta.
Engram, Barbara, 1998, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, Volume 3,
EGC, Jakarta.
Suriadi & Rita Yuliani. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi I. Jakarta: CV
Sagung Seto.

Anda mungkin juga menyukai