Anda di halaman 1dari 18

MUKKADIMAH

Bahwa kebijakan nasional penanggulangan kemiskinan telah dilaksanakan dan terus


disempurnakan, antara lain melalui program pembangunan berbasis masyarakat, seperti Program
Pengembangan Kecamatan (PPK) dan Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP)
yang memperkenalkan kembali prinsip dan proses pemberdayaan masyarakat, prinsip pengelolaan
pembangunan partisipatif (community driven development) dengan misi meningkatkan
kesejahteraan rakyat, memperkuat pilar ekonomi masyarakat/warga, serta mewujudkan
kepemerintahan yang baik (good governance).
Bahwa sebagai salah satu pelaku program tersebut, para konsultan pendamping telah
mengikuti serangkaian pelatihan, memfasilitasi implementasi prinsip dan mekanisme program,
pembelajaran bersama yang terus menerus perlu ditingkatkan.
Bahwa menyadari kondisi tersebut, konsultan pemberdayaan perlu menggalang
kebersamaan melalui pembentukan wadah dan berhimpun untuk saling berkomunikasi,
meningkatkan mutu profesionalisme, mengembangkan etika profesi serta meningkatkan mutu
pendampingan.
Bahwa sampai saat ini telah dibentuk wadah dan/atau organisasi konsultan pemberdayaan
di berbagai propinsi, seperti Jawa Tengah (IAPM, Ikatan Ahli Pemberdayaan Masyarakat), Jawa
Timur, Sulawesi Tenggara, Lampung (HKPM, Himpunan Konsultan Pemberdayaan Masyarakat),
Sulawesi Selatan (AKPINDO, Ikatan Konsultan Pemberdayaan Indonesia), dan sebagainya sehingga
dipandang perlu memantapkan jaringan dan mengembangkan simpul di jaringan di lingkup
nasional, maka dibentuklah IPPMI IKATAN PELAKU PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
INDONESIA disingkat IPPMI (selanjutnya disebut IPPMI).
Berdasarkan apa yang diuraikan diatas, dan atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa, maka
sekarang para penghadap tetap dalam kedudukan sebagaimana tersebut diatas dngan ini
menerangkan mendirikan badan hukum IPPMI IKATAN PELAKU PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT INDONESIA dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga selengkapnya
seluruhnya sebagai berikut :

ANGGARAN DASAR
IKATAN PELAKU PEMBERDAYAAN MASYARAKAT INDONESIA

BAB I
NAMA, WAKTU DAN TEMPAT KEDUDUKAN
Pasal 1
1. Organisasi ini bernama IKATAN PELAKU PEMBERDAYAAN MASYARAKAT INDONESIA
disingkat IPPMI (untuk selanjutnya dalam anggaran dasar ini disebut juga IPPMI),
berkedudukan di ibukota Negara Republik Indonesia.
2. IPPMI dapat membuka kantor cabang atau perwakilan ditempat lain baik di dalam maupun
diluar wilayah Republik Indonesia berdasarkan keputusan Pengurus dengan Persetujuan
Dewan Pembina dan Pengawas.
Pasal 2
IPPMI didirikan pada tanggal dua puluh tiga bulan Februari tahun dua ribu sebelas (23 2 2011)
berdasarkan Akte Notaris No. 2 oleh Notaris Kristy Sada Perarih Sinulingga, SH, MKn, untuk jangka
waktu yang tidak ditentukan.
BAB II
ASAS, SIFAT, TUJUAN, FUNGSI DAN TUGAS
Pasal 3
IPPMI berasaskan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.
Pasal 4
IPPMI bersifat terbuka dan mandiri menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, berpandangan ke
masa depan (visioner), menegakkan sikap disiplin, profesionalisme, mendorong kerjasama,
serta membangun perilaku bertanggung jawab, adil dan peduli pada masyarakat warga terutama
masyarakat miskin.
Pasal 5
TUJUAN, FUNGSI DAN TUGAS
Tujuan didirikannya IPPMI adalah untuk
1. Meningkatkan profesionalisme, mutu pendampingan, dan etika profesi melalui
sertifikasi profesi dan peningkatan kapasitas;

2. Mengembangkan jaringan komunikasi dan informasi antar sesama pelaku


pemberdayaan masyarakat dan organisasi pelaku pemberdayaan masyarakat baik pada
aras nasional, provinsi, kabupaten maupun komunitas;
3. Mengupayakan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pembangunan;
4. Mendorong perwujudan tata kelola kepemerintahan yang baik;
5. Meningkatkan kesejahteraan anggota.
Pasal 6
IPPMI berfungsi sebagai wadah komunikasi, konsultasi, pembinaan, dan koordinasi antara pelaku
pemberdayaan masyarakat dengan profesi lain, lembaga/instansi masyarakat, swasta, pemerintah
dan internasional, serta sebagai wadah penyalur aspirasi dan kepentingan para pelaku
pemberdayaan masyarakat.
Pasal 7
Untuk mencapai tujuan dan melaksanakan fungsi tersebut di atas, IPPMI bertugas :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

8.
9.

Mengaktifkan forum komunikasi sebagai sarana dialog, pertukaran informasi antar


anggta serta pengembangan kemampuan anggota;
Mendorong kinerja yang baik dari anggota melalui sertifikasi profesi, menjaga kode etik
pelaku pemberdayaan masyarakat;
Mengadakan berbagai upaya untuk meningkatkan kemampuan, kesejahteraan serta
pengakuan terahdap anggotanya;
Bersama pihak-pihak terkait, mengembangkan dan memasyarakatkan pendekatan
pengelolaan pembangunan yang partisipatif;
Membina hubungan dan kerjasama yang harmonis dengan berbagai pihak unutk
mengembangkan pranata dan kebijakan pembangunan daerah yang sesuai dengan dan
dibicarakan secara terbuka dengan masyarakat;
Menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas
sumber daya manusia di bidang pemberdayaan;
Menyelenggarakan
penelitian
terkait
pemberdayaan
masyarakat,
dan
mensosialisasikan hasil-hasil penelitian guna peningkatan kapasitas pelaku
pemberdayaan masyarakat serta sumber informasi terkait pembangunan partisipatif
secara luas;
Membentuk jaringan kerja baik di tingkat nasional maupun internasional untuk
bertukar informasi atau melakukan kerja sama sepanjang tidak bertentangan dengan
tujuan organisasi;
Mengaktifkan jaringan kerja pelaku pemberdayaan sehingga masyarakat dapat
menjangkau sumber-sumber dan keterampilan teknis yang diperlukan.

Pasal 8
Untuk mencapai tujuan dan melaksanakan fungsi tersebut di atas, IPPMI bertugas :
1. Mengaktifkan forum komunikasi sebagai sarana dialog, pertukaran informasi antar anggota
serta pengembangan kemampuan anggota;

2. Mendorong kinerja yang baik dari anggota melalui sertifikasi profesi, menjaga kode etik
pelaku pemberdayan masyarakat;
3. Mengadakan berbagai upaya untuk meningkatkan kemampuan, kesejahteraan, serta
pengakuan terhadap anggotanya;
4. Menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas
sumber daya manusia di bidang pemberdayaan;
5. Membentuk jaringan kerja baik di tingkat nasional maupun internasional untuk bertukar
informasi atau melakukan kerjasama sepanjang tidak bertentangan dengan tujuan
organisasi;

BAB III
KEANGGOTAAN
Pasal 8
Anggota IPPMI adalah Warga Negara Indonesia.
Pasal 9
Anggota IPPMI terdiri atas :
1. Anggota Biasa;
2. Anggota Kehormatan;
3. Anggota Bersertifikat;

BAB IV
HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA
Pasal 10
1. Setiap Anggota Biasa mempunyai hak untuk:
a.
Menghadiri Musyawarah Nasional dan/atau Musyawarah Daerah;
b.
Memberikan suara dalam pemungutan suara;
c.
Mengemukakan pendapat secara lisan dan tertulis kepada pengurus sesuai ketentuan
yang berlaku;
d.
Mengikuti semua kegiatan IPPMI;
2. Setiap Anggota Kehormatan mempunyai hak yang melekat pada Anggota Biasa dan dapat
memberikan usulan lisan/tertulis serta bantuan lainnya kepada Dewan Pengurus Nasional
maupun Dewan Pengurus Daerah.
3. Setiap Anggota Bersertifikat mempunyai hak yang melekat pada Anggota Biasa dan dapat
memberikan usulan lisan/tertulis serta bantuan lainnya kepada Dewan Pengurus Nasional
maupun Dewan Pengurus Daerah. Anggota Bersertifikat mempunyai hak untuk:
a. Dipilih sebagai pengurus pada perangkat IPPMI;

b. Memperoleh bimbingan dan konsultasi bagi peningkatan profesional dan


kesejahteraannya serta memperoleh perlindungan; serta
c. Memperoleh pembelaan dalam melaksanakan tugas profesionalnya sepanjang tidak
bertentangan atau melanggar ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Pasal 11
1.

Setiap Anggota IPPMI mempunyai kewajiban untuk:


a. Mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, serta ketetapan ketetapan
Musyawarah Nasional, serta keputusan- keputusan Dewan Pengurus Nasional ataupun
keputusan keputusan perangkat organisasi lainnya;
b. Selalu memelihara nama baik dan kehormatan IPPMI;
c. Mematuhi dan menegakkan Etika Profesi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Indonesia;
d. Memelihara kebersamaan dan suasana kekeluargaan;
e. Mengusahakan dan mengembangkan hubungan kerja sama dengan sesama anggota dan
pihak lain dalam pelaksanaan fungsi dan tugas IPPMI;
f. Berperan serta dalam kegiatan kegiatan yang diselenggarakan IPPMI;
g. Membayar iuran anggota secara berkala dan tepat waktu, kecuali bagi Anggota
Kehormatan.
2. Anggota Kehormatan selain melaksanakan kewajiban tersebut pada ayat 1 pasal ini, juga
berkewajiban untuk menjaga keutuhan dan persatuan organisasi serta membantu
pemecahan permasalahan IPPMI maupun permasalahan kegiatan pemberdayaan
masyarakat.
3. Anggota Bersertifikat selain melaksanakan kewajiban tersebut pada ayat 1 pasal ini, juga
berkewajiban untuk :
a. Mengikuti prosedur dan tata laksana sertifikasi profesi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi
terkait;
b. Mengikuti uji kompetensi secara berkala yang dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi
Profesi terkait.

BAB V
ORGAN IPPMI
Pasal 12
Organ IPPMI terdiri atas :
1. Dewan Pembina dan Dewan Pengawas;
2. Pengurus yang terdiri dari Dewan Pengurus Nasional dan Dewan Pengurus Daerah;
3. Majelis Pengembangan Etika Profesi;
4. Komite Sertifikasi Profesi.

Pasal 13
1. Untuk melaksanakan kegiatan yang bersifat tetap, Dewan Pengurus Nasional dapat
membentuk lembaga-lembaga khusus yang bertanggung jawab langsung kepada Ketua
Umum, setelah memperoleh pertimbangan dari Dewan Pembina dan Dewan Pengawas, dan
dilaporkan pada Rapat Pleno Pengurus.
2. Apabila diperlukan dapat dibentuk Pengurus Komisioner yang hanya bersifat koordinatif
dan merupakan bagian dari Dewan Pengurus Daerah.
BAB VI
MUSYAWARAH DAN RAPAT
Pasal 14
1. Musyawarah IPPMI terdiri atas :
a. Musyawarah Nasional;
b. Musyawarah Daerah;
2. Rapat terdiri atas;
a. Rapat Pleno Pengurus;
b. Rapat Dewan Pengurus Nasional;
c. Rapat Dewan Pengurus Daerah;
3. Dalam kondisi tertentu yang bersifat luar biasa dan tidak dapat diselesaikan oleh unsur
unsur IPPMI, dapat diselenggarakan Musyawarah Luar Biasa.
Pasal 15
1. Musyawarah Nasional adalah pemegang kekuasaan tertinggi organisasi;
2. Musyawarah Nasional diadakan 1 (satu ) kali dalam 3 ( tiga )tahun;
3. Keputusan dalam Musyawarah Nasional ditetapkan secara musyawarah untuk mencapai
mufakat dan apabila tidak tidak tercapai mufakat, diadakan pemungutan suara.
Pasal 16
Musyawarah Nasional mempunyai tugas dan wewenang untuk :
1. Menilai, mengesahkan, atau menolak laporan pertanggung-jawaban dan keuangan Dewan
Pengurus Nasional IPPMI;
2. Mengesahkan laporan kegiatan Dewan Pengurus Nasional, Majelis Kode Etik dan
Kehormatan Profesi, dan Komite Sertifikasi Profesi;
3. Memilih dan menetapkan Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional IPPMI;
4. Memilih dan menetapkan keanggotaan Majelis Pengembangan Etika Profesi;
5. Memilih dan menetapkan keanggotaan Komite Sertifikasi Profesi dan mengesahkan
anggotanya;
6. Mengesahkan Anggota Kehormatan.

Pasal 17
1. Musyawarah Daerah adalah pemegang kekuasaan tertinggi IPPMI di wilayah yang
bersangkutan;
2. Musyawarah daerah diselenggarakan 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) tahun dan dilaksanakan
selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sebelum Musyawarah Nasional;
3. Keputusan Musyawarah Daerah ditetapkan secara musywarah untuk mencapai mufakat
dan apabila tidak tercapai mufakat diadakan pemungutan suara.
Pasal 18
Musyawarah Daerah mempunyai tugas dan wewenang untuk
1. Menilai, mengesahkan, atau menolak laporan pertanggung-jawaban dan keuangan Dewan
Pengurus Daerah;
2. Memilih dan menetapkan susunan Dewan Pengurus Daerah;
3. Menetapkan program kerja Dewan Pengurus Daerah;
4. Menghimpun aspirasi, usulan dan masukan dari Dewan Pengurus Daerah untuk
disampaikan pada Musyawarah Nasional.
Pasal 19
1. Rapat Pleno Dewan Pengurus Nasional merupakan forum koordinasi dan konsultasi antara
unsur pimpinan Pengurus Nasioanal dan sebanyak-banayaknya 2 (dua) orang wakil dari
setiap bidang/komisi Dewan Pengurus Nasional dan mengikutsertakan Dewan Pembina,
Dewan Pengawas, Majelis Pengembangan Etika Profesi, Komite Sertifikasi Profesi; serta
dilaksanakan sekurang-kurangnya sekali dalam setahun.
2. Rapat Dewan Pengurus Nasional maupun Rapat Dewan Pengurus Daerah akan diatur oleh
masing-masing pengurus pada tingkat dan lingkup yang bersangkutan.

BAB VII
KEUANGAN
Pasal 20
Keuangan IPPMI diperoleh dari :
1. Iuran anggota;
2. Sumbangan yang sah dan tidak mengikat;
3. Hasil usaha dan pendapatan lain yang sah, serta tidak bertentangan dengan ketentuan yang
berlaku.
Pasal 21
Keuangan IPPMI digunakan untuk menjalankan fungsi dan tugas IPPMI.

BAB VIII
IKATAN HUKUM
Pasal 22
Sepanjang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar maka Ketua Umum Dewan Pengurus
Nasional atau Sekretaris Umum atas Kuasa Ketua Umum dapat bertindak atas nama IPPMI
dan/atau mengadakan ikatan hukum dengan pihak ketiga.
BAB IX
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR
Pasal 23
Perubahan Anggaran Dasar hanya dapat dilakukan dalam Musyawarah Nasional yang dihadiri
oleh sekurang-kurangnya 3/4(tiga perempat) dari jumlah peserta Musyawarah Nasional yang
ditetapkan untuk itu, dan disetujui sekurang-kurangnya 3/4(tiga perempat) dari jumlah
peserta yang hadir.
BAB X
PEMBUBARAN
Pasal 24
1. Pembubaran IPPMI hanya dapat dilakukan dalam Musyawarah Nasional yang khusus untuk
itu dan dilaksanakan atas usul 150 (seratus lima puluh) orang anggota IPPMI dan didukung
oleh 1/3 (satu pertiga) Dewan Pengurus Daerah, dan Musyawarah Nasional tersebut
dihadiri sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah anggota dan disepakati
bahwa IPPMI tidak diperlukan lagi karena tidak mampu mencapai tujuannya, dan disetujui
oleh sekurang-kurangnya 3/4 (tiga perempat) dari jumlah peserta yang hadir.
2. Jika IPPMI dibubarkan, Dewan Pembina IPPMI wajib menunjuk 3 (tiga) orang dari unsur
Dewan Pengurus Nasional, Komite Pengembangan Etika Profesi, Komite Sertifikasi Profesi
untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban. IPPMI dengan dukungan dan partisipasi
anggota, dibawah pengawasan Komite Pengembangan Profesi.
BAB XII
PERATURAN PENUTUP
Pasal 26
1. Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini akan diatur dalam Anggaran Rumah
Tangga.
2. Anggaran Dasar ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

ANGGARAN RUMAH TANGGA


IKATAN PELAKU PEMBERDAYAAN MASYARAKAT INDONESIA

BAB I
KEANGGOTAAN
Pasal 1
1. Anggota Biasa adalah;
Seseorang yang mempunyai pengetahuan, kemampuan dan keterampilan tertentu dalam
pemberdayaan masyarakat yang diperoleh melalui pendidikan dan atau pengalaman yang
diakui IPPMI serta bertekad untuk mengembangkan kemampuannya serta membaktikan
kemampuannya dalam pemberdayaan masyarakat.
2. Anggota Kehormatan adalah :
a. Seseorang pakar atau tokoh dalam bidang pemberdayaan masyarakat;atau
b. Seseorang yang memiliki jabatan strategis di bidang pemberdayaan masyarakat yang
dapat mempengaruhi langsung atau tidak langsung terhadap upaya pemberdayaam
masyarakat; atau,
c. Seseorang yang dipandang sangat berjasa bagi pengembangan IPPMI.
3. Anggota Bersertifikat adalah anggota biasa yang mempunyai kemampuan profesional di
bidang pemberdayaan masyarakat yang dapat mempengaruhi langsung atau tidak langsung
terhadap perkembangan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang telah mengikuti uji
sertifikasi profesi oleh lembaga sertifikasi profesi terkait dan dinyatakan lulus.
Pasal 2
1. Penerimaan anggota dilaksanakan dengan ketentuan
a. Anggota Biasa.
Calon Anggota mengajukan permohonan tertulis kepada Dewan Pengurus Nasional
melalui Dewan Pengurus Daerah untuk menjadi anggota dan memberikan pernyataan
tertulis bahwa ia setuju dan akan tunduk pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga IPPMI.
b. Anggota Kehormatan.
Calon Anggota mengisi formolir kesediaan atas permohonan Dewan Pengurus Nasional,
untuk kemudian diajukan dan disahkan dalam musyawarah Nasional.
c. Anggota Bersertifikat.
Prosedur dan tata laksana untuk menjadi anggota bersertifikat ditetapkan secara
berjenajng oleh Komite Sertifikasi Profesi.
2. Penetapan status keanggotaan dilaksanakan melalui keputusan Dewan Pengurus Nasional.
3. Anggota yang telah disetujui dan ditetapkan keanggotaannya akan diberikan Sertifikat
Tanda Anggota yang dikeluarkan oleh Dewan Pengurus Nasional.
4. Dewan Pengurus Nasional memberikan Buku Direktori Anggota yang memuat semua data
dan profil anggota IPPMI.

BAB II
STATUS KEANGGOTAAN DAN PEMBERHENTIAN ANGGOTA
Pasal 3
1. Anggota kehilangan status keanggotaannya karena :
a. Meninggal dunia;
b. Atas permintaan sendiri dan disetujui Dewan Pengurus Nasional;
c. Diberhentikan oleh Dewan Pengurus Nasional.
2. Anggota Kehormatan mempunyai status keanggotaan yang berlaku seumur hidup atau
ditetapkan oleh Musyawarah Nasional.
3. Penetapan pemberhentian Anggota Biasa dilakukan ole Majelis Pengembangan Etika Profesi
setelah anggota yang bersangkutan diberikan kesempatan untuk mengajukan pembelaan
diri.
4. Penetapan pemberhentian atau peninjauan jenjang sertifikasi bagi anggota bersertifikat
dilakukan oleh Komite Sertifikasi Profesi.
Pasal 4
Pemberhentian atau peninjauan jenjang sertifikasi keanggotaan IPPMI dilaksanakan melalui
keputusan oleh Dewan Pengurus Nasional.
BAB III
KEPENGURUSAN
Pasal 5
Anggota Dewan Pengurus Nasional adalah Anggota Perkumplan yang bermandat penuh selama
1 (satu) masa bakti kepengurusan dan ditetapkan dengan keputusan Dewan Pengurus Nasional
atau Dewan Pengurus Daerah menurut tingkatan masing-masing.
Pasal 6
Syarat-syarat untuk dapat dipilih sebagai pengurus :
a. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
b. Berprestasi dan berdedikasi penuh terhadap pengembangan upaya dan kegiatan
pemberdayaan massyarakat.
c. Bekerja atau berpraktek di bidang pemberdayaan masyarakat, atau pada lembaga/instansi
serta program/proyek pemberdayaan masyarakat yang menjunjung tinggi niali-nilai pelaku
pemberdayaan masyarakat, pengetahuan serta kemampuan teknis dalam pemberdayaan
masyarakat.
d. Sehat pikiran, jasmani dan rohani.

Pasal 7
1. Masa bakti pengurus adalah 3 (tiga) tahun dan hanya boleh menjabat sebanyak-banyaknya
2 (dua) periode kepengurusan pada jabatan yang sama.
2. Penetapan susunan Dewan Pengurus Nasional dan pengukuhan susunan Dewan Pengurus
Daerah dilaksanakan melaui keputusan Dewan Pengurus Nasional.
Pasal 8
1. Jabatan sebagai Dewan Pengurus Nasional berakhir karena :
a. Berhalangan tetap;
b. Berakhir masa jabatannya;
c. Berhenti atau mengundurkan diri atas permintaan sendiri;
2. Diberhentikan karena melanggar ketentuan dasar dan atau mencemarkan nama baik
organisasi yang diputuskan oleh Rapat Pleno Dewan Pengurus Nasional atau Rapat Dewan
Pengurus Daerah sesuai dengan keanggotan pengurus yang bersangkutan.
Pasal 9
1. Dewan Pengurus Nasional dipimpin oleh seorang Ketua Umum dengan dibantu oleh Wakil
Ketua Umum, Sekretaris Umum, Bendahara, beberapa Ketua Bidang dan beberapa Ketua
Komite/Forum, serta Dewan Pengurus Daerah dipimpin oleh seorang Ketua dengan dibantu
oleh Wakil Ketua, Bendahara, dan Ketua Bidang/Komisi sesuai dengan keperluan.
2. Apabila Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional berhalangan tetap, maka Wakil Ketua
Umum dan Sekretaris Umum atau salah satu Ketua Bidang Pengurus pusat ditetapkan
sebagai Pejabat Ketua Umum melalui rapat Pleno Dewan Pengurus Nasional sampai dengan
diadakannya Musyawarah Nasional.
3. Apabila Ketua Dewan Pengurus Daerah berhalangan tetap, maka Wakil Ketua, Sekretaris
Dewan Dewan Pengurus Daerah ditetapkan sebagai Pejabat Ketua Melalui rapat Dewan
Pengurus Daerah sampai dengan diadakannya Musyawarah Daerah.
4. Apabila suatu jabatan kepengurusan selain Ketua Umum dan Sekretaris Umum dari Dewan
Pengurus Nasional lowong, maka jabatan tersebut diisi melalui Rapat Pleno Dewan
Pengurus Nasional.
5. Apabila suatu jabatan kepengurusan selain Ketua dan Sekretaris dari Dewan Pengurus
Daerah Lowong ,maka jabatan tersebut diisi melalui Rapat Dewan Pengurus Daerah.
Pasal 10
1. Dalam melaksanakan kegiatan Dewan Pengurus Nasional dan Dewan Pengurus Daerah
harus menyusun Program kerja yang konkrit, realistis dan trukur, yang berpedoman
kepada Pokok-pokok Kebijakan dan Program IPPMI.
2. Pokok-pokok Kebijakan dan Program IPPMI ditetapkan dalam Musyawarah Nasional
berdasarkan masukan dari Dewan Pengurus Nasional dan Musyawarah Daerah.
3. Program Kerja Dewan Pengurus Nasional dan Program Kerja Dewan Pengurus Daerah
merupakan penjabaran pokok-pokok Kebijakan dan Program IPPMI, disusun dan dinilai
secara berkala dalam Rapat Pleno Pengurus.

4. Pelaksanaan Program Kerja Dewan Pengurus Nasional dipertanggung-jawabkan dalam


Musyawarah Nasional, sedangkan Program Kerja Dewan Pengurus Daerah dipertanggungjawabkan dalam Musyawarah Daerah.
BAB IV
DEWAN PENGURUS NASIONAL
Pasal 11
Dewan Dewan Pengurus Nasional adalah badan eksekutif tertinggi dalam IPPMI.
Pasal 12
Dewan Dewan Pengurus Nasional berhak :
1. Dalam masalah keanggotaan, untuk:
a. Menerima dan menyeleksi calon anggota IPPMI;
b. Menetapkan dan mengeluarkan surat keputusan sanksi atas anggota yang terbukti
bersalah melanggar ketentuan dalam Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Etika
Profesi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Indonesia, Keputusan Musyawarah Nasional
IPPMI, dan keputusan-keputusan Dewan Pengurus Nasional.
c. Memberhentikan anggota dan melakukan rehabilitasi anggota.
2. Dalam masalah administrasi, untuk :
a. Menyelenggarakan hubungan keluar maupun ke dalam, baik lisan maupun tertulis.
b. Meminta laporan kepada Dewan Pengurus Daerah secara berkala dan khusus.
c. Membentuk staf pelaksana harian yang dipimpin oleh sekretaris eksekutif.
3. Dalam bidang keuangan, untuk mengelola keuangan IPPMI bagi kepentingan IPPMI.
Pasal 13
Dewan Dewan Pengurus Nasional berwenang untuk :
1. Memberikan pengakuan profesional kepada suatu lembaga pendidikan yang menunjang
pengembangan profesi pelaku Pemberdayaan Masyarakat atas pertimbangan Komite
Sertifikasi Profesi.
2. Memberikan pengakuan profesional kepada lembaga atau badan hukum yang bergerak
dalam bidang pelayanan jasa konsultasi pemberdayaan masyarakat dan perseorangan atas
dasar Pertimbangan Komite Sertifikasi Profesi IPPMI.
3. Memberikan penghargaan dan tanda kehormatan lainnya atas Pertimbangan Dewan
Pembina dan Dewan Pengawas, dan Komite Pengembangan Etika Profesi.
4. Menetapkan suatu keanggotaan bagi setiap jenis keanggotaan.
Pasal 14
Dewan Dewan Pengurus Nasional mempunyai kewajiban untuk :
1. Menjalankan penuh tanggung jawab segala ketentuan yang ada dalam Anggaran Dasar dan
Anggaran
Rumah
Tangga,
serta
ketetapan
Musyawarah
Nasional
dan
mempertanggungjawabkan kepada Musyawarah Nasional berikutnya.

2. Menyusun dan menjalankan program kerja sesuai tujuan, fungsi, dan tugas IPPMI, yang
disusun melalui Rapat Pleno Pengurus dan mempertanggung jawabkan pelaksanaannya
dalam Musyawarah Nasional.
3. Menyusun anggaran berdasarkan program kerja Dewan Pengurus Nasional dan
menyampaikan laporan
pelaksanaannya untuk dipertanggung-jawabkan dalam
Musyawarah Nasional.
4. Menyampaikan laporan berkala setiap tahun kepada Dewan Pembina dan Dewan Pengawas
IPPMI.
5. Melaksanka Musywarah Nasional secara tepat waktu.
Pasal 15
Penetapan Ketua Umum dan susunan Dewan Pengurus Nasional dilaksanakan dengan
ketentuan :
1. Pemilihan ketua Umum dilakukan secara musya warah dan mufakat.
2. Prosedur pemilihan Ketua Umum ditentukan dalam musyawarah nasional melalui Panitia
Pemilihan.
3. Musyawarah Nasional memilih dan mengesahkan Ketua Umum serta mengesahkan
Sekretaris Umum yang dipilih oleh Ketua Umum terpilih.
4. Anggota Dewan Pengurus Nasional yang lain dipilih dan ditatapkan oleh ketua umum.
5. Ketua Umun harus menyelesaikan kegiatan penyusunan Dewan Pengurus Nasional
selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah terpilih.
Pasal 16
Masa Bakti Dewan Pengurus Nasional adalah 3 (tiga) tahun.
BAB V
DEWAN PENGURUS DAERAH
Pasal 17
Pembentukan Dewan Pengurus Daerah IPPMI dilaksanakan dengan ketentuan :
1. Dewan Pengurus Daerah IPPMI berkedudukan didalam cakupan wilayah yang
bersangkutan.
2. Penetapan cakupan wilayah cabang dilakukan berdasarkan jumlah anggota serta
kemudahan kordinasi dan komunikasi, dan dapat ditinjau kembali dalam musyawarah
Nasional berikutnya.
3. Pembentukan diprakarsai oleh sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) orang anggota atau
pelaku pemberdayaan masyarakat yang berdomisili dalam wilayah yang akan dibentuk.
4. Usulan penetapan Dewan Pengurus Daerah diajukan kepada Dewan Pengurus Nasional
IPPMI.
5. Penetapan Dewan Pengurus Daerah dapat dilaksanakan dalam Rapat Pleno Dewan
Pengurus Nasional atau dalam Musyawarah Nasional dan disahkan dalam Musyawarah
Nasional.

6. Bilamana Penetapan Dewan Pengurus Daerah telah disetujui oleh Dewan Pengurus
Nasional dan belum disahkan dalam Musyawarah Nasional, maka Dewan Pengurus Daerah
dapat berjalan secara sementara dengan keputusan Dewan Pengurus Nasional.
Pasal 18
Dalam kondisi tertentu Dewan Pengurus Nasional dapat memprakarsai pembentukan Dewan
Pengurus Daerah atau Komisariat tertentu melalui Rapat Pleno Pengurus.
Pasal 19
Penetapan Ketua dan susunan Dewan Pengurus Daerah dilaksanakan dengan ketentuan :
1. Pemilihan ketua dilakukan secara musyawarah dan mufakat;
2. Prosedur pemilihan Ketua ditentukan dalam musyawarah Daerah melalui panitia
pemilihan;
3. Musyawarah Daerah memilih ketua;
4. Anggota Dewan Pengurus Daerah yang lain dipilih dan ditetapkan oleh ketua terpilih;
5. Ketua harus menyelesaikan kegiatan penyusunan Dewan Pengurus Daerah selambatlambatnya 1 (satu) bulan setelah dipilih.
Pasal 20
Dewan Pengurus Daerah mempunyai hak dan kewajiban :
1. Dewan Pengurus Daerah berhak melaksanakan segenap kegiatan sesuai tujuan, fungsi,
tugas, dan kebijaksanaan IPPMI dalam skala dan ruang lingkup organisasi Daerah atau
wilayah yang bersangkutan.
2. Dewan Pengurus Daerah berkewajiban mentaati segenap kebijaksanaan, ketentuan dan
peraturan yang berlaku serta menjalankan segenap ketetapan Musyawarah Nasional dan
keputusan Dewan Pengurus Nasional.
BAB VI
MAJELIS PENGEMBANGAN ETIKA PROFESI
Pasal 21
Penetapan susunan Majelis Pengembangan Etika Profesi dilaksanakan dengan ketentuan :
1. Ketua dipilih dan disahkan dalam Musyawarah Nasional berdasarkan Usulan Pengurus
Nasional;
2. Anggota disahkan dalam Musyawarah Nasional berdasarkan persetujuan Ketua terpilih;
3. Anggota Majelis Pengembangan Etika Profesi sekurang-kurangnya terdiri dari 5 (lima)
orang;
4. Syarat-syarat sebagai anggota Majelis Pengembangan Etika Profesi adalah :
a. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berjiwa Pancasila.
b. Berprestasi dan berdedikasi penuh terhadap pengembangan pelaku pemberdayaan
masyarakat;
c. Memiliki pengetahuan dan kemampuan di bidang pemberdayaan masyarakat.
d. Sehat jasmani dan rohani

Pasal 22
Majelis Pengembangan Etika Profesi berkewajiban untuk :
1. Menegakkan norma-norma Kode Etik yang berllaku bagi segenap anggota.
2. Menyelesaiakan segenap permasalahan secara adil dan bijaksana atas segala kasus
pelanggaran Kode Etik dan standar Perilaku Pelaku Pemberdayaan Masyarakat.
3. Menyusun program kerja Dewan Kehormatan dan menyampaikan laporan pelaksanaannya
untuk dipertanggungjawabkan dalam musyawarah Nasional.

BAB VII
KOMITE SERTIFIKASI PROFESI
Pasal 23
Penetapan Komite Sertifikasi Profesi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat dilaksanakan dengan
ketentuan :
1. Ketua Komite Sertifikasi Profesi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat dipilih dan disahkan
dalam Musyawarah nasional berdasarkan usulan Dewan Pengurus Nasional.
2. Susunan dan anggota Komite Sertifikasi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat disahkan dalam
Musyawarah Nasional berdasarkan persetujuan Ketua terpilih.
3. Anggota Komite Sertifikasi Profesi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat sekurang-kurangnya
terdiri dari 5 (lima) orang.
4. Syarat-syarat anggota Komite Sertifikasi Profesi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat adalah :
a. Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berjiwa Pancasila.
b. Berprestasi dan berdedikasi penuh terhadap pengembangan IPPMI dan kegiatankegiatan pemberdayaan masyarakat.
c. Tidak terlibat organisasi terlarang.
d. Memiliki pengetahuan dan kemampuan di bidang pemberdayaan masyarakat, terutama
dalam fasilitasi pola pembangunan partisipatif.
e. Sehat jasmani dan rohani
Pasal 24
Komite Sertifikasi Profesi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat berhak untuk :
1. Merumuskan prosedur dan tata laksana sertifikasi anggota.
2. Memfasilitasi proses sertifikasi anggota yang diusulkan Dewan Pengurus Nasional dan
Dewan Pengurus Daerah.
3. Bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi terkait tentang prosedur dan tata cara
sertifikasi profesi serta menginformasikan kepada anggota yang akan disertifikasi.
4. Menyiapkan orientasi dan atau pelatihan kepada anggota yang akan mengikuti sertifikasi
profesi.
5. Menyiapkan penetapan dan pembatalan status dan jenjang sertifikasi bagi setiap anggota
biasa secara berkala.

6. Mengajukan usulan dan memberikan rekomendasi bagi pelaksana kegiatan penunjang


sertifikasi anggota untuk dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Nasional dan/atau Dewan
Pengurus Daerah.

Pasal 25
Komite Sertifikasi Profesi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat berkewajiban untuk :
1. Melaksanakan proses sertifikasi bagi anggota yang diusulkan oleh Dewan Pengurus
Nasional bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi terkait;
2. Memberikan informasi status dan jenjang sertifikasi anggota berdasarkan hasil sertifikasi
oleh Lembaga Sertifikasi Profesi terkait untuk ditetapkan melalui keputusan Dewan
Pengurus Nasional dan dipublikasikan oleh Dewan Pengurus Nasional dalam bentuk
Direktori Anggota IPPMI.
3. Menetapkan prinsip-prinsip obyektivitas, kejujuran dan keterbukaan dalam proses
sertifikasi anggota.
4. Menyusun program kerja Komite Setifikasi Pelaku pemberdayaan Masyarakat sebagai
bagian dari Program Kerja Dewan Pengurus Nasional.
5. Menyusun lapotan pelaksanaan kegiatan Komite Sertifikasi untuk dipertanggungjawabkan
dalam Musyawarah Nasional.
BAB VIII
PELAKSANAAN MUSYAWARAH RAPAT
Pasal 26
Musyawarah Nasional dilaksanakan dengan ketentuan :
1. Musyawarah Nasional diselenggarakan 3 (tiga) tahun sekali;
2. Musyawarah Nasional dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Nasional dengan menunjuk
Panitia Pelaksana Musyawarah Nasional yang dibentuk Dewan Pengurus Nasional;
3. Musyawarah nasional diikuti oleh peserta yang terdiri atas Dewan Pengurus Nasional,
Dewan Pengurus Daerah, Dewan Pembina, Dewan Pengawas, Majelis Pengembangan Etika
Profesi, Komite Sertifikasi Profesi, Anggota Kehormatan, serta anggota Lainnya yang
mewakili Dewan Pengurus Daerah;
4. Usulan jumlah anggota yang mewakili Dewan Pengurus Daerah ditetapkan dalam Rapat
Pleno Pengurus Pusat.
5. Musyawarah Nasional didahului oleh musyawarah Daerah yang khusus diadakan untuk
menetapkan peserta mewakili wilayah yang bersangkutan serta menetapkan bahan dan
masukan bagi Musyawarah Nasional.
6. Tata tertib Musyawarah Nasional disiapkan oleh Panitia Pelaksana Musyawarah Nasional
untuk disetujui oleh para peserta musyawarah pada saat Musyawarah Nasional.

Pasal 27
Musyawarah Daerah dilaksanakan dengan ketentuan :
1. Musyawarah Daerah diselenggarakan 3 (tiga) tahun sekali, paling lambat 1(satu) bulsn
sebelum Musyawarah Nasional.
2. Musyawarah Daerah dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Daerah dengan menunjuk Panitia
Pelaksana Musyawarah Daerah yang dibentuk oleh Dewan Pengurus Daerah.
3. Musyawarah Daerah diikuti peserta yang terdiri dari atas wakil-wakil Dewan Pengurus
Nasional, Dewan Pengurus Daerah, serta segenap anggota yang terdaftar di daerah atau
dalam wilayah yang bersangkutan.
4. Apabila Musyawarah Daerah tidak dapat menghasilkan ketetapan maka Dewan Pengurus
Daerah dapat menetapkan keputusan secara sementara sampai berlangsungnya
Musyawarah Daerah berikutnya.

BAB IX
KEUANGAN
Pasal 28
1. Pengelolahan keuangan oleh Dewan Pengurus Nasional dilaksanakan dengan berpedoman
kepada anggaran yang disusun berdasarkan program kerja Dewan Pengurus Nasional,
Majelis Pengembangan Etika Profesi, serta Komite Sertifikasi Pelaku Pemberdayaan
Masyarakat, yang ditetapkan dengan keputusan Dewan Pengurus Nasional melalui Rapat
Pleno Pengurus dan disetujui oleh Dewan Pembina;
2. Pelaksanaan anggaran keuangan Dewan Pengurus Nasional dilaporkan secara tertulis oleh
Dewan Pengurus Nasional Pusat dan telah diaudit oleh Akuntan Publik serta harus
dipertanggungjawabkan dalam Musyawarah Nasional.
Pasl 29
1. Pengelolaan keuangan Dewan Pengurus Daerah dilaksanakan dengan berpedoman pada
anggaran yang disusun berdasarkan program kerja Dewan Pengurus Daerah yang
ditetapkan dengan keputusan Dewan Pengurus Daerah.
2. Pelaksanaan anggaran keuangan Dewan Pengurus Daerah dilaporkan secara tertulis oleh
Dewan Pengurus Daerah dan harus dipertanggungjawabkan dalam musyawarah daerah.
Pasal 30
1. Pembiayaan program kerja dewan pakar dan pertimbangan IPPMI, Majelis Kode Etik dan
Kehormatan Profesi, serta Bdan Sertifikasi Profesi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat
dibebankan kepada anggaran Dewan Pengurus Nasional.
2. Pembiayaan Musyawarah Nasional dibebankan kepada anggaran Dewan Pengurus Nasional
dalam periode yang sedang berjalan, dan bila mana saldo keuangan Dewan Pengurus
Nasional tersebut tidak mencukupi, maka pembiayaan diupayakan oleh panitia Pelaksana
Musyawarah nasional dan harus dipertanggungjawabkan pada Musyawarah Nasioanal
berikutnya.

3. Pembiayaan Musyawarah Daerah dibebankan kepada anggaran Dewan Pengurus Daerah


dalam periode sedang berjalan, dan bila saldo keuangan Dewan Pengurus Daerah tersebut
tidak mencukupi, maka pembiayaan diupayakan oleh panitia Pelaksana Musyawarah
Daerah dan harus dipertanggungjawabkan pada Musyawarah Daerah berikutnya.
Pasal 31
Keuangan yang diperoleh dari iuran anggota diatur sebagai berikut :
1. Pemungutan iuran anggota dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Daerah.
2. Dewan Pengurus Nasional berhak untuk menggunakan 3/10 (tiga persepuluh) bagian dari
jumlah hasil perolehan iuran anggota.
Pasal 32
Keuangan yang diperoleh dari biaya sertifikasi diatur sebagai berikut :
1. Pemungutaan biaya sertifikasi dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Nasional.
2. Komite Sertifikasi Pelaku Pemberdayaan Masyarakat berhak membebankan biaya
tambahan kepada calon anggota yang akan disertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi
terkait.
BAB X
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 33
1. Hal-hal yang belum diatur dalam anggaran rumah tangga ini, ditetapkan oleh Dewan
Pengurus Nasional sepanjang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran
Rumah Tangga.
2. Anggaran Rumah Tangga ini hanya dapat diubah oleh Musyawarah Nasional.
Pasal 34
Anggaran Rumah Tangga ini berlaku sejak ditetapkan.