Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

ANATOMI DAN FISIOLOGI SALURAN NAFAS ATAS DAN BAWAH

Pembimbing:
DR. dr. M. M. Rudi Prihatno, M.Si. Med, Sp. An-KNA

Disusun Oleh:
1. Widya Kusumastuti
2. Provita Rahmawati

G4A014093
G4A014094

SMF ANESTESIOLOGI
RSUD PROF. MARGONO SOEKARJO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2015
LEMBAR PENGESAHAN
REFERAT
ANATOMI DAN FISIOLOGI SALURAN NAFAS ATAS DAN BAWAH

Disusun Oleh:

1. Widya Kusumastuti G4A014093


2. Provita Rahmawati G4A014094

Diajukan untuk memenuhi syarat mengikuti ujian kepaniteraan klinik


di bagian Anestesiologi RSUD Prof. Margono Soekarjo

telah disetujui dan dipresentasikan


Pada tanggal

Mei 2015

Pembimbing

DR. dr. M. M. Rudi Prihatmo, M.Si. Med. Sp. An-KNA


DAFTAR ISI

I.

PENDAHULUAN.

II.

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi..
B. Anatomi dan Fisiologi
C. Mekanisme Pernafasan..
D. Parameter volume paru-paru..

5
5
10
12

E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.
III.

Ventilasi paru.
Tekanan paru dibanding tekanan atmosfer..
Transport oksigen..
Kurva disosiasi oksi hemoglobin....
Darah..
Perhitungan kapasitas paru.
Volume dinamik paru.

13
13
14
15
16
16
18

KESIMPULAN

20

DAFTAR PUSTAKA..

21

BAB I
PENDAHULUAN
Respirasi merupakan keseluruhan proses yang melaksanakan pemindahan
pasif oksigen dari atmosfer ke jaringan untuk menunjang metabolisme sel, serta
pemindahan pasif terus menerus karbon dioksida yang dihasilkan oleh
metabolisme dari jaringan ke atmosfer. Saluran pernafasan manusia dibagi

menjadi dua yaitu saluran nafas bagian atas dan saluran nafas bagian bawah.
Saluran nafas bagian atas meliputi hidung, faring, dan laring. Sedangkan saluran
pernafasan bagian bawah meliputi trakea, bronkus, bronkiolus, dan paru.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Sistem respirasi mencakup saluran nafas yang menuju paru, paru, dan
struktur thoraks yang berperan menyebabkan aliran udara masuk dan keluar
paru melalui saluran nafas. Sistem respirasi dibedakan menjadi dua saluran
yaitu, saluran nafas bagian atas dan saluran nafas bagian bawah. Saluran nafas

bagian atas terdiri dari: rongga hidung, faring, dan laring. Sedangkan saluran
nafas bagias bawah terdiri dari trakea, bronkus, bronkiolus, dan paru
(Sherwood, 2011).
B. Anatomi dan Fisiologi
1. Saluran nafas bagian atas
Saluran nafas bagian atas terdiri atas rongga hidung, faring, dan laring.
a. Hidung
Hidung atau nasal adalah saluran pernafasan yang pertama.
Ketika proses pernafasan berlangsung, udara inspirasi yang masuk
melalui rongga hidung akan mengalami tiga proses yaitu penyaringan
(filtrasi), penghangatan, dan pelembaban. Rongga hidung kaya akan
anastomosis arteri dan vena sehingga dapat meningkatkan suhu udara
inspirasi sebanyak 25C (Muluk, 2009). Rongga hidung terdiri dari dua
struktur yang berbeda, yaitu vestibulum dan fossa nasalis. Permukaan
dalam vestibulum mengandung kelenjar sebasea, kelenjar keringat dan
vibrissae,

yaitu

rambut-rambut

pendek

dan

tebal.

Hal

ini

mengakibatkan penyaringan udara inspirasi dari partikel-partikel besar.


Fossa nasalis terdiri dari dua ruang cavernosa yang dipisahkan oleh
tulang septum nasalis. Dinding lateral fossa nasalis ada yang menonjol
ke dalam berbentuk seperti papan yang disebut concha. Ada tiga buah
concha, yaitu concha nasalis superior, media, dan inferior. Concha
nasalis superior diliputi oleh epitel olfactory khusus. Concha nasalis
media dan inferior diliputi oleh epitel respirasi. Celah antara concha
mengakibatkan penambahan luas permukaan yang mengandung epitel
respirasi dan menimbulkan aliran udara yang turbulen. Hal ini
menyebabkan bertambahnya kontak antara arus udara dan lapisan
mukosa atau epitel respirasi Sedangkan di dalam lamina propria
concha terdapat banyak plexus venosus. Hal ini mengakibatkan udara
inspirasi dihangatkan oleh plexus venosus, dilembabkan oleh lapisan
mukosa dan disaring oleh aliran turbulen sebelum masuk ke saluran
nafas bagian bawah (Muluk, 2009).

Gambar 1. Sinus Paranasal (Moore, 2002)


Sinus paranasal berfungsi sebagai resonator suara dan juga mengurangi
berat tengkorak. Terdapat empat sinus paranasal yaitu sinus frontalis,
sinus ethmoidalis, sinus maxillaris, dan sinus spenoidalis (Moore,
2002).
b. Faring
Faring merupakan suatu traktus aerodigestivus dengan struktur
tubular iregular mulai dari dasar tengkorak sampai setinggi vertebra
servikal VI, berlanjut menjadi esophagus dan sebelah anteriornya
laring berlanjut menjadi trakea. Faring terdiri dari tiga bagian, yaitu
nasofaring, orofaring, dan laringofaring.
1. Nasofaring
Nasofaring terletak tepat di belakang cavum nasi, di bawah basis
crani dan di depan vertebrae cervicalis I dan II. Nasofaring
membuka bagian depan ke dalam cavum nasi dan ke bawah ke
dalam orofaring. Tuba eusthacius membuka ke dalam dinding
lateralnya pada setiap sisi. Pharyngeal tonsil (tonsil nasofaring)
adalah bantalan jaringan limfe pada dinding posterior superior
nasofaring (Martini, et al., 2014).
2. Orofaring
Orofaring merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring.
Orofaring adalah gabungan sistem respirasi dan pencernaan,
makanan masuk dari mulut dan udara masuk dari nasofaring dan
paru (Martini, et al., 2014).
3. Laringofaring

Laringofaring merupakan bagian dari faring yang terletak tepat di


belakang laring dan dengan ujung atas esophagus (Martini, et al.,
2014).

Gambar 2. Faring
c. Laring
Laring merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentuk
suara. Pada bagian pangkal ditutup oleh epiglottis, yang terdiri dari
tulang-tulanng rawan yang berfungsi ketika menelan makanan dengan
menutup laring. Cartilago penyusun laring antara lain (Martini, et al.,
2014):
1) Cartilago tiroid
Cartilago tiroid terdiri dari dua cartilago hyaline yang bertemu di
garis tengah dan disebut prominentia laryngis.
2) Cartilage cricoid
Terletak di bawah cartilago tiroid.
3) Epiglottis
4) Cartilago arytenoidea
Cartilage arytenoidea terletak dibelakang laring pada pinggir atas
lamina cartilage cricoid.
5) Cartilago corniculata
Cartilage corniculata merupakan

tempat

melekatnya

plica

aryepiglotica.
6) Cartilago cuneiformis
2. Saluran nafas bagian bawah
Saluran nafas bawah terdiri atas trakea,bronkus, bronkiolus, dan paru.
A. Trakea
Trakea merupakan struktur mirip pipa dengan diameter sekitar 2,5 cm
dan panjang 11 cm yang bermula di leher, di bawah kartilago cricoidea
laring setinggi corpus vertebrae cervicalis VI. Ujung bawah trakea

terdapat di rongga mediastinum setinggi vertebrae thoracica IV yang


kemudian membelah menjadi bronkus primer kanan dan kiri (Kennedy,
2012).
Trakea tersusun atas 15 20 kartilago trakea yang berbentuk seperti
huruf C. Bagian yang tertutup berada di anterior dan lateral trakea
yang berfungsi untuk memperkuat dinding trakea dan memperkuat
jalan napas. Bagian yang terbuka terdapat di bagian posterior trakea
yang menghadap esofagus, hal ini memungkinkan esofagus untuk
membesar ketika terjadi proses menelan. Setiap kartilago trakea
dihubungkan oleh otot polos yang elastis yang diatur oleh saraf
otonom sehingga diameter trakea dapat melebar dan menyempit pada
saat bernapas (Kennedy, 2012).
B. Bronkus
Trakea bercabang di mediastinum menjadi bronkus primer kanan dan
kiri. Percabangan trakea menjadi bronkus dinamakan carina yang
merupakan pusat refleks batuk.

Bronkus primer memiliki struktur

mirip trakea, yakni tersusun atas kartilago berbentuk seperti huruf C.


Bronkus primer kanan menuju paru-paru kanan, sedangkan bronkus
primer kiri menuju paru-paru kiri. Bronkus primer kanan lebih pendek,
lebih lebar dan lebih vertikal dibandingkan dengan bronkus primer
kiri. Bronkus kemudian memasuki paru melalui hilum pulmonalis. Di
dalam paru-paru, bronkus kemudian bercabang-cabang menjadi
bronkus sekunder dan tersier, serta bercabang menjadi bronkiolus
(Martini, et al., 2014).
C. Bronkiolus
Di dalam paru-paru, bronkus terus bercabang-cabang menjadi saluran
napas yang semakin sempit, pendek, dan banyak yang dikenal dengan
bronkiolus. Dinding bronkiolus tidak memiliki kartilago dan
didominasi oleh otot polos yang dipersarafi oleh sistem saraf otonom
dan peka terhadap hormon dan zat kimia lokal tertentu. Hal ini yang
menyebabkan perubahan derajat kontraksi otot polos bronkiolus
sehingga mampu mengatur jumlah udara yang masuk dari atmosfer
menuju alveolus. Aktivitas saraf simpatis menyebabkan bronkodilusi,

sedangkan saraf parasimpatis menyebabkan bronkokonstriksi (Martini,


et al., 2014).
D. Paru
Paru-paru terletak di rongga dada dengan dasar terletak pada diafragma
dan apeks terletak setingkat clavicula. Paru-paru terdiri atas paru-paru
kanan dan kiri. Paru-paru kanan terdiri atas tiga lobus, yaitu lobus
superior, lobus media, dan lobus inferior. Antara lobus superior dan
lobus media dipisahkan oleh fisura horisontal, sedangkan lobus media
dan lobus inferior dipisahkan oleh fisura obliqus. Paru-paru kiri terdiri
atas dua lobus, yaitu lobus superior dan lobus inferior yang dipisahkan
oleh fisura obliqus. Pada paru-paru kiri terdapat struktur lingula. Pada
permukaan medial masing-masing paru terdapat hilus yang merupakan
tempat masuk dan keluarnya radix pulmo yang terdiri atas bronkus,
arteri pulmonalis, vena pulmonalis, pembuluh limfe, arteri bronkialis,
vena bronkialis, dan plexus nervosus pulmonis (Kennedy, 2012).
Membran pleura adalah suatu membran serosa pada rongga toraks.
Pleura parietal melapisi rongga toraks, dan pleura viseral terdapat di
permukaan paru-paru. Di antara membran pleura terdapat cairan
serosa, yang mencegah friksi dan menjaga kedua membran tetap
bersama selama pernapasan (Kennedy, 2012).
Unit fungsional paru-paru adalah suatu kantung udara yang disebut
alveoli. Dinding alveolus terdiri dari satu lapisan sel alveolus tie I yang
merupakan epitel skuamus. Ruang interstisium antara alveolus dan
jaringan kapiler di sekitarnya membentuk suatu sawar yang sangat
tipis, yang memisahkan udara di dalam alveolus dan darah di dalam
kapiler.

Sel

alveolus

tipe

II

menghasilkan

surfaktan,

yaitu

fosfolipoprotein yang berfungsi untuk mempermudah paru-paru untuk


mengembang. Di dalam alveolus juga terdapat sel makrofag yang
berfungsi sebagai sistem pertahanan (Dobby & Chieveley-Williams,
2009).

Gambar 3.
C. Mekanisme Pernafasan
1. Inspirasi.
Inspirasi diatur oleh pusat respirasi di medula oblongata. Aktivasi dari
medula oblongata menyebabkan kontraksi otot diafragma dan intercostalis
yang menyebabkan mengembangnya thoraks dan menimbulkan tekanan
negatif sehingga udara mengalir dari atmosfer menuju paru-paru. Otot-otot
tambahan

inspirasi

yang

lain

yaitu

otot

scalenus

dan

otot

sternocleidomastoideus juga ikut berkontraksi pada kondisi ventilasi yang


sangat ekstrim atau pada distress respirasi (Dobby & Cheveley-Williams,
2009).
2. Ekspirasi.
Proses ekspirasi merupakan proses pasif yang terjadi akibat recoil dari
paru-paru dan dinding dada yang mengembang. Pada proses pernapasan
yang cepat, otot intercostalis interna dan otot-otot abdomen berkontraksi
untuk membantu mengeluarkan udara dari paru-paru lebih cepat (Dobby &
Cheveley-Williams, 2009).

Gambar 4. Sumber : Center for Asbestos Related Disease


Paru-paru memiliki sifat elastic recoil yang menyebabkan paru-paru dapat
kembali ke ukuran semula pada akhir inspirasi. Sifat elastik paru dipengaruhi
oleh jaringan ikat paru yang mengandung sejumlah besar serat elastin. Selain
itu dipengaruhi juga oleh tegangan permukaan alveolus yang disebabkan oleh
lapisan cairan tipis yang menyelimuti semua permukaan alveolus. Pada
pertemuan air-udara, molekul-molekul air di permukaan melekat lebih erat ke
molekul air di sekitarnya dibandingkan ke udara diatas permukaan. Tarikmenarik yang tidak seimbang ini menciptakan suatu gaya yang dikenal
sebagai tegangan permukaan. Tegangan permukaan ini menimbulkan dua efek.
Pertama, lapisan cairan menahan setiap gaya yang meningkatkan setiap luas
permukaannya; yaitu, lapisan tersebut melawan ekspansi alveolus yang
berlebihan. Dengan demikian, semakin besar tegangan permukaan, semakin
rendah compliance paru. Kedua, luas permukaan cairan cenderung menjadi
sekecil-kecilnya karena molekul- molekul air permukaan lebih tertarik satu
sama lain. Dengan demikian, tegangan permukaan cairan yang melapisi
sebuah alveolus cenderung memperkecil ukuran alveolus dan memeras udara
yang berada di dalamnya. Sifat ini, bersama dengan adanya serat elastin,
menyebabkan paru kembali ke ukuran normal setelah inspirasi berakhir
(NIOSH Spirometry Training Guide, 2004).
Compliance paru-paru adalah jumlah tekanan yang dibutuhkan untuk
meningkatkan atau menurunkan volume paru-paru. Compliance paru-paru

normal

sekitar

0,15

L/cmH2O.

Compliance

yang

menurun

dapat

menyebabkan paru-paru menjadi sulit untuk mengembang dan kembali ke


ukuran normal. Compliance yang menurun disebabkan oleh beberapa hal,
diantaranya tekanan vena pulmonalis meningkat, edema alveoli, atelektasis,
dan fibrosis jaringan paru. Compliance yang meningkat terjadi pada penyakit
paru obstruktif kronik. Resistensi jalan napas merupakan derajat seberapa
mudah udara dapat melalui saluran pernapasan. Hal ini ditentukan oleh
panjang dan diameter saluran pernapasan (NIOSH Spirometry Training
Guide, 2004).
D. Parameter volume paru-paru
Parameter volume paru
1. Volume tidal (TV). Volume udara yang masuk atau keluar paru selama satu
kali bernapas. Nilai rata-ratanya 500 ml.
2. Volume cadangan inspirasi (VCI). Volume udara maksimal yang dapat
diinspirasi setelah inspirasi normal. Nilai rata-ratanya 1500 ml.
3. Volume cadangan ekspirasi (VCE). Voluma udara maksimal yang dapat
diekspirasi setelah ekspirasi normal. Nilai rata-ratanya 1200 ml.
4. Volume residu. Volume udara yang tersisa di paru-paru setelah ekspirasi
maksimal. Nilai rata-ratanya 2100 ml.
5. Kapasitas vital paru. Volume maksimal udara yang dapat diekspirasi secara
maksimal setelah inspirasi maksimal. Kapasitas vital merupakan total dari
volume tidal, volume cadangan inspirasi, dan volume cadangan ekspirasi.
Nilai rata-ratanya 3200 ml.
6. Kapasitas total paru. Volume udara di dalam paru setelah akhir inspirasi
maksimal. Kapasitas total merupakan jumlah dari kapasitas vital paru dan
volume residu. Nilai rata-ratanya 5300 ml (NIOSH Spirometry Training
Guide, 2004).
E. Ventilasi paru
Ventilasi paru adalah volume udara yang dihirup dan dihembuskan dalam satu
menit. Faktor lain yang penting yaitu frekuensi pernapasan, sekitar 15 kali per
menit. Apabila volume tidal sejumlah 500 ml, maka ventilasi total paru selama
satu menit yaitu 500 x 15 = 7500 ml/menit. Namun tidak semua udara yang
dihirup akan mencapai tempat pertukaran gas di alveolus. Sebagian tetap
tertinggal di saluran pernapasan dan tidak ikut serta dalam pertukaran gas.
Volume ini gas yang tertinggal sebesar 150 ml. Volume ini dikenal sebagai

anatomic dead space. Volume udara yang dipertukarkan antara atmosfer dan
alveolus per menit dikenal dengan ventilasi alveolus. Ventilasi alveolus
ditentukan oleh: (volume tidal anatomic dead space) x frekuensi pernapasan.
Jumlahnya sekitar 5250 ml/menit (NIOSH Spirometry Training Guide,
2004).
F. Tekanan paru disbanding tekanan atmosfer
Udara mengalir dari tekanan yang tinggi menuju tekanan rendah, sehingga
proses masuknya udara dari atmosfer menuju paru-paru mengikuti perbedaan
tekanan antara atmosfer dengan paru-paru. Tekanan yang berperan penting
dalam proses ventilasi yaitu tekanan atmosfer, tekanan intrapulmoner, dan
tekanan intrapleura. Tekanan atmosfer yaitu tekanan yang ditimbulkan oleh
berat udara di atmosfer terhadap benda-benda di permukaan bumi. Tekanan
intrapulmoner yaitu tekanan di dalam alveolus, dan tekanan intrapleura yaitu
tekanan di dalam kantung pleura. Pada kondisi istirahat, tekanan udara di
atmosfer sebesar 760 mmHg, tekanan intrapulmoner 760 mmHg, dan
intrapleura 756 mmHg (Sherwood, 2011).
Pada saat inspirasi, otot diafragma dan interkostalis eksterna berkontraksi
sehingga rongga toraks membesar dan paru-paru mengembang. Paru-paru
mengembang mengikuti pengembangan toraks karena adanya gradien tekanan
transmural antara tekanan intrapulmonal dan intrapleura. Ketika paru-paru
mengembang, tekanan intrapleura turun menjadi 754 mmHg, dan tekanan
intrapulmoner turun menjadi 759 mmHg. Penurunan tekanan dalam paru-paru
menyebabkan udara mengalir dari atmosfer menuju ke dalam paru-paru
hingga tekanan paru-paru kembali setara dengan tekanan atmosfer (Sherwood,
2011).
Ketika ekspirasi, otot diafragma kembali mendatar, dinding dada dan paru
kembali ke ukuran semula. Tekanan intrapulmoner meningkat menjadi 761
mmHg disebabkan karena jumlah molekul udara yang terkandung di dalam
paru-paru terkompresi ke dalam volume paru-paru yang mengecil. Tekanan
intrapulmoner menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan atmosfer
sehingga udara mengalir keluar dari paru-paru menuju atmosfer (Sherwood,
2011).
G. Transport oksigen

Pertukaran gas di tingkat kapiler paru dan kapiler jaringan terjadi melalui
difusi pasif yang mengikuti penurunan gradien tekanan parsial. Gradien
tekanan parsial merupakan perbedaan tekanan parsial antara darah paru dan
udara alveolus. Udara akan berdifusi dari tekanan parsial tinggi menuju
tekanan parsial rendah (Dobby & Cheveley-Williams, 2009).
Darah yang masuk ke kapiler paru melalui arteri pulmonalis mengandung O2
yang relatif rendah dan CO2 yang tinggi. PO2 sebesar 40 mmHg dan PCO2
sebesar 46 mmHg. Pada saat melewati kapiler-kapiler paru, darah ini akan
terpajan dengan udara alveolus. Udara di alveolus memiliki PO2 100 mmHg,
dan

PCO2 40 mmHg. Perbedaan tekanan parsial ini menyebabkan O2

berdifusi dari alveolus menuju darah dan CO2 berdifusi dari darah menuju
alveolus. Setelah meninggalkan paru-paru melalui vena pulmonalis, darah
mengandung PO2 100 mmHg dan PCO2 40 mmHg. Darah kemudian
dialirkan ke jantung untuk dialirkan ke seluruh tubuh (Dobby & CheveleyWilliams, 2009)
H. Kurva disosiasi oksihemoglobin
Oksigen yang ditransportasikan oleh darah terdapat dalam dua bentuk, 97%
terikat dalam hemoglobin dan 3% larut dalam plasma. 1 molekul hemoglobin
mengandung 4 atom Fe yang masing-masing atom dapat mengikat 1 molekul
O2, sehingga setiap molekul hemoglobin mampu mengikat 4 molekul O2.
Hemoglobin dan oksigen memiliki kemampuan untuk membentuk sebuah
ikatan (Hb + O2 HbO2) yang reversibel (Dobby & Cheveley-Williams,
2009).
Persen saturasi hemoglobin merupakan suatu ukuran yang menyatakan
seberapa banyak hemoglobin yang berikatan O2. Faktor yang mempengaruhi
persen saturasi hemoglobin adalah PO2 darah. Apabila PO2 darah meningkat,
maka reaksi akan mengarah ke sisi kanan persamaan, sehingga terjadi
peningkatan pembentukan HbO2 (peningkatan % saturasi Hb). Apabila PO2
darah berkurang, reaksi akan mengarah ke sisi kiri persamaan dan O2 akan
dibebaskan dari Hb ketika HbO2 terurai (Dobby & Cheveley-Williams, 2009).
Hubungan antara PO2 darah dan % saturasi hemoglobin dapat dinyatakan
dalam kurva disosiasi oksi-hemoglobin. Kurva disosiasi oksi-hemoglobin
adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara saturasi oksigen atau
kejenuhan hemoglobin terhadap oksigen dengan tekanan parsial oksigen pada

ekuilibrium yaitu pada keadaan suhu 37oC, pH 7.40 dan PCO2 40 mmHg.
Kurva disosiasi oksi-hemoglobin ini dipengaruhi oleh pH darah, PCO2, suhu,
dan 2,3-difosfogliserat (Dobby & Cheveley-Williams, 2009).
Apabila pH darah turun atau PCO2 meningkat, maka kurva oksi-hemoglobin
akan tergeser ke kanan. Dalam keadaan ini afinitas Hb terhadap O2 akan
menurun sehingga Hb akan lebih banyak melepaskan O2 ke jaringan.
Pengaruh CO2 dan asam pada pembebasan O2 dari Hb dikenal dengan nama
Efek Bohr. Efek Bohr menyatakan bahwa peningkatan konsentrasi proton
dan/atau CO2 akan menurunkan daya serap hemoglobin terhadap oksigen
(Dobby & Cheveley-Williams, 2009).
Apabila pH darah meningkat, PCO2, suhu, dan 2,3-difosfogliserat menurun
akan menyebabkan pergeseran kurva ke kiri. Hal ini akan meningkatkan
afinitas hemoglobin terhadap oksigen sehingga uptake oksigen ke dalam paruparu akan meningkat tetapi pelepasan oksigen ke jaringan akan terganggu
(Dobby & Cheveley-Williams, 2009).

I. Darah
Hemoglobin yang berikatan dengan oksigen akan menjadi oksihemoglobin,
sedangkan hemoglobin yang berikatan dengan karbondioksida akan menjadi
karboksihemoglobin (Price, 2005). Warna gelap menandakan darah yang kaya
dengan oksigen sedangkan warna terang menandakan darah yang miskin
oksigen (Campbell, 2004).
J. Perhitungan kapasitas paru
Rata-rata kapasitas paru yang dapat dicapai pria dewasa muda kira-kira
4.600cc dan pada wanita dewasa muda kira-kira 3.100cc. Beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi kapasitas vital paru antara lain posisi seseorang
selama pengukuran kapasitas vital paru, kekuatan otot pernapasan,

pengembangan paru dan rangka dada (Guyton, 2006). Volum udara yang dapat
dicapai masuk dan keluar paru-paru pada penarikan nafas dan pengeluaran
nafas paling kuat, disebut kapasitas vital paru. Kapasitas vital sama dengan
volum cadangan inspirasi ditambah volum tidal dan volum cadangan eskpirasi
(Price, 2005). kapasitas vital paru adalah jumlah udara yang dapat dikeluarkan
dari paru-paru secara maksimal setelah melakukan inspirasi secara maksimal.
Kapasitas vital paru adalah volum udara yang dapat dikeluarkan dari
penarikan napas. Kapasitas vital paru pada pria dewasa muda rata-rata 4,6liter
dan pada wanita dewasa muda kira-kira 3,1liter, meskipun jumlah ini jauh
lebih besar dari pada orang yang pendek gemuk dan seorang atlit yang terlatih
baik mempunyai kapasitas vital paru 30 sampai 40 persen di atas normal yaitu
6 sampai7 liter (Guyton, 2006).
Kapasitas dan volum paru
1. Volume tidal (Vt)
Volume tidal adalah jumlah udara yang diinspirasi atau diekspirasi pada
setiap kali bernapas. Volume tidal dapat menggunakan + 6,0-7,5 ml/KgBB.
Pada neonatal aterm digunakan 6,0 ml/KgBB, setelah usia sebulan
digunakan 7,0 ml/KgBB, dan pada dewasa digunakan 7,5 ml/KgBB (Price,
2005).
2. Volume cadangan inspirasi (IRV)
IRV adalah jumlah udara yang dapat diinspirasi secara paksa sesudah
inhalasi volume tidal normal. Jumlahnya mendekati 40-50% dari kapasitas
total paru-paru, atau sekitar 2000-3000 ml pada dewasa dengan BB 70 Kg.
Pada dewasa muda sekitar 3000-3500 ml, pada >50 tahun 2500 ml (Price,
2005)
3. Volume cadangan ekspirasi (ERV)
ERV adalah jumlah udara yang dapat diekspirasi secara paksa sesudah
ekspirasi volume tidal yang normal. Volumenya mendekati 20% dari
kapasitas total paru-paru, atau mendekati 1000-1200 ml (Price, 2005).
4. Volume residu (RV)
Jumlah udara yang masih tertinggal diparu-paru sesudah ekspirasi paksa.
Jumlahnya sekitar 20% dari kapasitas total paru-paru, atau 1200 ml.
besarnya volume bervariasi seiring dengan usia, pada 20-30 tahun sekitar
1300 ml, pada 30-40 tahun sekitar 1500 ml, pada 40-60 tahun sekitar 2000
ml, pada usia lebih tua dapat mencapai 2400 ml. Hal ini tidak dapat diukur

dengan spirogram, namun dapat ditentukan secara tidak langsung.


Terdapat 2 metode: sirkuit terbuka dan sirkuit tertutup. Pada sirkuit
terbuka, semua nitrogen dalam paru ( + 80% volume) di keluarkan dengan
cara inspirasi oksigen dan ekspirasi ke dalam spirometer. Volume gas
ekspirasi diukur dan kadar nitrogen diukur. Pada sirkuit tertutup, digun
akan helium yang telah diketahui volume dan konsentrasinya ( 10% ), di
inspirasi dari reservoar. Perubahan persentase dalam reservoar digunakan
untuk menghitung kapasitas paru (Price, 2005).
5. Kapasitas paru total (TLC)
Adalah jumlah udara maksimal yang dapat dimasukan ke dalam paru
sesudah inspirasi maksimal. Dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut,
TLC = Vt + IRV + ERV +RV atau TLC = VC + RV (Price, 2005).
6. Kapasitas vital (VC)
Adalah jumlah udara maksimal yang dapat diekspirasi susudah inspirasi
maksimal. Dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut, VC = Vt + IRV +
ERV (seharusnya 80% dari TLC)
7. Kapasitas inspirasi (IC)
Adalah jumlah udara maksimal yang dapat diinspirasi susudah ekspirasi
normal. Dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut, IC = Vt + IRV
(Price, 2005).
8. Kapasitas residu fungsional (FRC)
Adalah volume udara yang tertinggal dalam paru sesudah ekspirasi
volume tidal normal. Dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut, FRC =
ERV + RV (Price, 2005).
K. Volume dinamik paru
1. Volume semenit atau ventilasi semenit Ve) merupakan volume udara yang
terkumpul selama ekspirasi dalam periode satu menit. Perhitungannya
adalah volume tidal x kecepatan pernafasan. Dalam keadaan istirahat Ve
adalah 6-7 liter /menit (Price, 2005).
2. Frekuensi pernafasan adalah jumlah pernafasan yang dilakukan per menit.
Kecepatan pernafasan kira-kira 15 kali/menit (Price, 2005).
3. Volume tidal (Vt) merupakan banyaknya udara yang diinspirasi atau
diekspirasi selama pernafasan. Perhitungannya adalah Ve dibagi dengan
kecepatan pernafasan (Price, 2005).

BAB III
KESIMPULAN

1. Sistem respirasi mencakup saluran nafas yang menuju paru, paru, dan struktur
thoraks yang berperan menyebabkan aliran udara masuk dan keluar paru
melalui saluran nafas
2. Saluran nafas bagian atas terdiri dari: rongga hidung, faring, dan laring.
3. Saluran nafas bagias bawah terdiri dari trakea, bronkus, bronkiolus, dan paru

DAFTAR PUSTAKA
Center for Asbestos Related Disease. Anatomy and Physiology of the Lungs.
Campbell, N.A. 2004. Biologi. Jakarta: Erlangga.

Dobby, Nadine & Sarah Chieveley-Williamas. 2009. Respiratory Physiology.


Anaesthesia Tutorial Of The Week 147.
Guyton, 2006. Textbook of Medical Physiology 11ed. Philadelphia: Elseiver.
Kennedy, John W. 2012. Clinical Anatomy Series-Lower Respiratory Tract
Anatomy. Scottish Universities Medical Journal. Vol. 1(2): 174-179.
Moore, K.L., Agur, A.M.R., Dalley, A.F. 2002. Essential Clinical Anatomy 8 ed.
San Fransisco: Lippincott Williams and Wilkins.
Muluk, A. 2009. Pertahanan Saluran Nafas. Majalah Kedokteran Nusantara. Vol.
42: 55-58.
Martini, F. H, Judi L. Nath, & Edwin F. B. 2014. Fundamentals of Anatomy and
Physiology 10 ed. USA: Pearson.
Overview of Pulmonary Anatomy and Physiology. The National Institute for
Occupational Safety and Health (NIOSH) Spirometry Training Guide,
2004.
Price, S.A. 2005. Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Sherwood, L. 2011. Fisiologi Manusia: Dari Sel Ke Sistem. Jakarta: EGC.