Anda di halaman 1dari 5

UPAYA MENGATASI KORUPSI Genderang perang terhadap korupsi yang dikemukakan oleh Presiden

Korupsi pada hakikatnya adalah kebejatan akhlak sehingga


seseorang berani melakukan pelanggaran. Dalam bentuk yang mudah Susilo Bambang Yudhoyono pada saat pelantikan Kabinet Indonesia
tampak, yang diambil ini adalah berupa barang. Dalam bentuk yang Bersatu,
tersembunyi seseorang mungkin berkorupsi dengan mengambil baru-baru ini mendapatkan sambutan yang cukup antusias dari
sesuatu yang bukan haknya seperti uang, sedangkan dalam hal yang masyarakat.
lebih halus lagi yang diambil ini adalah waktu. Gebrakan 100 hari yang dilakukan pemerintah untuk menyeret para
Jika kita telusuri lebih mendasar kunci pokok masalah korupsi dalam koruptor ke
segala bentuknya itu tampak bahwa semua itu berpulang pada si pengadilan adalah salah satu langkah maju bagi upaya penegakan
penerima. Jika seorang pejabat tidak yakin akan terpenuhinya semua hukum terhadap
tugas dan kewajibannya, maka ia akan selalu khawatir akan para koruptor "kakap" yang selama ini dianggap kebal hukum,
kekokohan kedudukannya. Untuk mengatasi ini dia akan berusaha kendati
memperkuat diri dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, implementasinya masih jauh dari harapan.
dengan cara halus ataupun kasar untuk mampu "menghadapi" Sejauh ini serangkaian kasus-kasus korupsi memang terus saja
atasannya. Orang yang ingin cepat kaya akan mencari kesempatan menguak ke permukaan, dan selalu melibatkan pejabat tinggi negara
dengan berbagai cara, misalnya memaksa orang untuk menyerahkan serta anggota
pemberian sebagai pelicin jika mereka ingin urusannya dapat cepat legislatif. Simak saja, dugaan korupsi di Sumbar, Banten, Jateng,
selesai. Kendari dan
Dapat disimpulkan bahwa bagaimanapun juga usaha fihak yang daerah-daerah lain. Sejalan dengan itu, muncul harapan dari
mendorong terjadinya korupsi, semua penyimpangan itu hanya dapat masyarakat tentang
terjadi jika ada fihak yang bersedia menerima uang (baca:menuntut keseriusan pemerintah untuk melakukan pemberantasan KKN di
pemberian), barang, peluang, atau pun juga orang. Fihak ini adalah amat mengurita di
pejabat (baca: penguasa, dilakukan sendiri ataupun lewat anak Indonesia.
buahnya sebagai suatu tim) yang mempunyai kekuasaan. Jadi terjadi Sejarah pemberantasan korupsi di Indonesia telah dilakukan sejak
atau tidaknya semua korupsi itu sangat tergantung pada sikap tahun 1967, dengan dibentuknya Tim Pemberantas Korupsi yang
bagaimana pejabat termaksud memandang besarnya "kenikmatan" diketuai oleh
yang akan diperoleh dari pemberian itu. Di sini kita akan melihat Mayjen Sutopo Yuwono, SH, IJ Kasimo, Anwar Tjokroaminoto, dan
berbagai macam kemungkinannya. Di satu ujung ekstrimnya ada Prof Ir Yohanes. Kemudian Opstib-1977 dengan koordinator
fihak yang memang berusaha mencarinya, dan di ujung kedua ada pelaksana Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, di
fihak yang menolaknya sama sekali; di antara keduanya memang ada tingkat pusat pelaksana operasionalnya oleh Pangkokamtib,
terbentang rentangan luas ragam bentuk yang merupakan spektrum sementara di daerah oleh Laksusda. Tim Pemberantas Korupsi 1982
antara keduanya. Masing-masing tentu saja dengan berbagai pelaksananya melibatkan pula Menteri Pendayagunaan Aparatur
alasannya, yang "rasional" maupun yang tidak. Negara, Pangkokamtim, Ketua MA, Menteri Kehakiman, Jaksa
Di negara yang sedang berkembang, seperti Indonesia sangat terkait Agung dan Kapolri. Sementara Tim Gabungan Pemberantasan
dengan budaya korupsi di dalam masyarakatnya, yang masih sulit Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK) Tahun 1999, berdasarkan putusan
untuk meninggalkan budaya feodalisme. Korupsi yang terjadi di Hak Uji Materiil MA, lembaga ini terpaksa dibubarkan.
tingkat para elit politik dapat menjadi sarana "pembonsaian" politik Pada tahun 2002 terbentuklah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
karena mereka merendahkan politik menjadi masalah bisnis dan
keuntungan pribadi atau keluarga. Upaya penanganan kejahatan yang juga telah memasukkan fungsi KPKPN dalam tugasnya
korupsi yang selama ini dilakukan oleh pemerintah belum mampu sehingga diharapkan akan
menyentuh akar persoalan korupsi itu sendiri. Penegakan hukum menjadi instrumen yang melembaga dan bersifat independen, bebas
dengan membawa para koruptor kemeja hijau adalah persoalan taktis dari pengaruh
dari penanganan korupsi. kekuasaan mana pun sehingga mampu maksimal dalam menjalankan
tugasnya. Tetapi dilakukan sebelum menguak kasus-kasus korupsi yang melibatkan
tampaknya upaya-upaya tersebut tidak cukup mampu mengatasi para pejabat publik dan konglomerat besar. Dengan demikian
persoalan langkah-langkah yang bisa dilakukan antara lain :
pemberantasan korupsi. Hal ini lebih dikarenakan belum adanya 1. meletakkan persoalaan korupsi dalam perspektif sistem,
keseriusan dari khususnya sistem negara sebagaimana yang diatur oleh konstitusi.
pemerintah untuk mengadili secara tegas para pelaku korupsi di Hal ini penting mengingat kejahatan korupsi adalah crime against
Indonesia. constitution, sehingga meletakkan penanganan korupsi dalam
Karena, persoalan korupsi bukan hanya melibatkan satu sisi saja, konstitusi atau undang-undang menjadi satu langkah maju
tetapi telah penanganan. Selain itu persoalan korupsi menyangkut seluruh aspek
merasuki seluruh aspek kehidupan dan pemerintahan. dan sisi kehidupan rakyat dan negara. Maka, dengan menempatkan
Dari sisi peraturan perundang-undangan pemberantasan korupsi persoalan korupsi sebagai persoalan sistem maka langkah-langkah
tertuang dalam Tap MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang penanggulanganya tidak bisa dilakukan secara parsial. Tetapi harus
penyelengaraan negara yang diikuti dengan langkah-langkah strategis dalam kerangka sistem itu,
bersih dan bebas KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), UU Nomor yaitu melakukan perubahan konstitusi yang akan mengatur
28 Tahun 1999 mekanisme penanganan dan sanksi atas para koruptor. Baik dari sisi
tentang penyelengaraan negara yang bersih dan bebas KKN, UU pembuatan kebijakan, aparatur penegak hukum, seperti kepolisian,
Nomor 31 Tahun 1999 pengadilan (jaksa dan hakim), masyarakat itu sendiri maupun lem
tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Hal ini mengartikan baga-lembaga yang berkompeten dalam pemberantasan korupsi yang
bahwa dalam hal ini adalah KPK.
persoalan korupsi bukan hanya perilaku, tindakan atau upaya 2. melakukan pembagian kekuasaan.
penyelewengan Pembagian kekuasaan menjadi penting untuk menjaga
anggaran negara. Tetapi, praktik korupsi sudah dapat diaartikan profesionalisme kelembagaan. Hal ini menjadi strategis untuk
sebagai menjaga independensi lembaga-lembaga tersebut khususnya dalam
"pemerkosaan" perundang-undangan di Indonesia atau yang sering rangka pembuatan kebijakan-kebijakan publik. Serta dalam rangka
disebut dengan meminimalisir segala bentuk intervensi kekuasaan, baik kekuasaan
crime against constitution. Dengan demikian pengadilan atas para eksekutif, yudikatif dan legeslatif. Pada sisi lain pembagian
koruptor kekuasaan dalam lembaga-lembaga tinggi negara baik eksekutif,
secara tidak langsung adalah upaya untuk menegakkan konstitusi yudikatif dan legislatif menjadi penting untuk sama-sama
atau menjalankan fungsinya secara substantif dan prinsipiil. Serta
perundang-undangan. melakukan pembagian kerja dalam struktur pemerintahan secara
Pada perkembangan selanjutnya, karena tidak adanya keseriusan profesional sesuai dengan pembidangan masing-masing. Dengan
pemerintah untuk melakukan pemberantasan korupsi, maka korupsi tetap menempatkan fungsi pengawasan dan kontrol sebagai
memiliki manifestasi dari prinsip transparansi dan akuntabilitas publik.
kecenderungan untuk menjadi masalah publik, yang dilakukan secara Pembagian kekuasaaan ini juga strategis dalam rangka untuk
bersama-sama mewujudkan profesional kelembagaan, khususnya KPK sebagai
atau yang juga disebut dengan "korupsi berjamaah", sebagaimana lembaga yang berkompeten terhadap penanganan korupsi di
praktik korupsi Indonesia. Selain itu penanggulangan secara berkelanjutan dengan
atau penyelewengan anggaran yang dilakukan oleh para anggota kerjasama semua aparatur penegak hukum, baik kepolisian, jaksa,
dewan yang hakim, MA dan pemerintah itu sendiri.
terhormat. 3. menghindari politisasi dan intervensi politik terhadap upaya
Kejahatan korupsi merupakan crime against constitution, maka hukum penanganan korupsi.
mendasarkan penanganan korupsi pada sistem pembuatan kebijakan Hal ini strategis mengingat fenomena maraknya korupsi di Indonesia
adalah lebih strategis dan menjadi langkah pertama yang harus juga sangat potensial dipolitisir oleh elite-elite politik kita, sehingga
kecenderungan terjadinya intervensi terhadap upaya penegakan berlaku.
korupsi cukup dominan mewarnai pengadilan-pengadilan terhadap Jika kita sepakat mengatakan bahwa korupsi merupakan penyakit,
kasus-kasus korupsi di Indonesia. Baik dilakukan oleh penguasa yakni penyakit pelanggaran moral, maka setiap penyakit tentu ada
maupun dilakukan oleh para elit politik kita. Dalam suasana euforia penyebab. Dengan demikian, maka untuk mengatasi korupsi terlebih
demokrasi dan reformasi seperti sekarang ini, persoalan korupsi juga dahulu harus dicari akar penyebabnya. Dalam kaitan ini terdapat
telah merebak dalam proses-proses politik yang terjadi di Indonesia, sejumlah teori yang dikemukakan para ahli tentang sebab-sebab
baik di tingkat legislasi maupun dalam proses politik yang lain, terjadinya korupsi. Sejumlah teori tersebut dapat dikemukakan
seperti suksesi. Maka menjadi sangat penting untuk mengedepankan sebagai berikut.
prinsip-prinsip etika politik karena telah tereduksir sedemikian rupa Pertama, menurut Robert Merton yang terkenal dengan teorinya
yang lambat laun akan menjadi krisis etika politik, sehingga elit tentang “means-ends scheme”, bahwa korupsi merupakan suatu
politik tidak sadar lagi akan posisinya atas hak dan kewajiban yang perilaku manusia yang diakibatkan oleh tekanan sosial, sehingga
harus ditanggungnya sebagai konsekuensi dari kekuasaannya di menyebabkan pelanggaran norma-norma. Semua system sosial
dalam lembaga mempunyai tujuannya. Manusia berupaya untuk mencapainya
publik yang juga berfungsi sebagai kepanjangan tangan dari melalui cara-cara (means) yang telah disepakati. Inilah yang
masyarakat (baca: selanjutnya disebut norma-norma lembaga yang dikenal di dalam
partai politik) masyarakat.
4. membangun cara pandang baru negara atas penanganan korupsi Sebagaimana biasanya banyak orang mengikutinya. Mereka adalah
dengan jalan meletakkan persoalan korupsi dalam persoalan sistem golongan kompromis. Namun demikian sistem sosial juga
sama halnya dengan melakukan perubahan perilaku negara dalam menimbulkan tekanan yang menyebabkan banyak orang tidak
praktik penanganan korupsi. Maka, keseriusan pemerintah akan mempunyai akses atau kesempatan di dalam struktur tersebut karena
menjadi indikator penting dalam menilai keberhasilan pembatasan-pembatasan atau diskriminasi rasial, etnis, kekurangan
pemberantasan korupsi di Indonesia. keterampilan, kapital, dan sumber-sumber lainnya. Golongan ini
Mengenai upaya mengatasi korupsi yang sudah menjadi budaya, kemudian berupaya mencari berbagai cara untuk mendapatkan
dikatakan Franz Magnis, Guru Besar Sekolah Tinggi Driyarkara, ada pengakuan di dalam masyarakat. Di dalam perjuangan ini banyak
dua hal yang harus digarisbawahi. Pertama, upaya dari atas atau terdapat jarak antara kebutuhan dan apa yang dapat disediakan oleh
pemerintah untuk memberi contoh tidak korupsi dan memberantas masyarakat. Kenyataan di dalam masyarakat ialah banyak yang tidak
korupsi. Kedua, peranan civil society untuk mendesak para mendapatkan kesempatan yang sama sehingga mereka melawan
pengambil kebijakan melakukan pemberantasan korupsi. peraturan yang ada baik secara inovatif maupun secara kriminal.
Ia menekankan pentingnya peran perempuan dalam upaya Di dalam teori Merton ditunjukkan bahwa kebudayaan yang terlalu
memberantas korupsi demikian juga dapat menjadi penyebab menekankan kepada sukses ekonomi namun membatasi kesempatan-
korupsi. Yang menjadi faktor soliditas bangsa itu perempuan, kesempatan untuk mencapainya akan menyebabkan tingkat korupsi
termasuk korupsi itu kan persoalan utama bangsa maka perempuan yang tinggi. Suatu kehidupan masyarakat yang mementingkan
itu bisa diandalkan untuk mengatasi kesulitan ini, mengingat korupsi anggota keluarga sendiri seperti di dalam nepotisme akan
itu persoalan kultural yang telah mengakar. menyebabkan orang lain iri dan menyuburkan korupsi. Demikian
Korupsi merupakan wabah yang sangat berbahaya bagi umat pula orang akan mencari jalan di dalam mencapai struktur kekuasaan
manusia. Karena begitu dahsyatnya bahaya korupsi ini, tidak kurang agar ia mendapatkan kesempatan untuk memperoleh apa yang
dari organisasi dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadakan diinginkannya.
pertemuan-pertemuan yang menghasilkan konvensi pemberantasan Hal ini dapat menjelaskan mengapa banyak negara berkembang jatuh
korupsi sedunia. Dalam konferensi Merida (Mexico), Desember, ke dalam wabah korupsi. Apalagi dalam suatu masyarakat transisi di
2003 konvensi PBB antikorupsi telah ditandatangani oleh sejumlah mana control masyarakat menjadi lemah dan kekuasaan yang
negara dan konvensi ini akan diberlakukan di seluruh dunia setelah berlebihan di dalam negara yang tidak demokratis mengalami
90 hari sejak penandatangan pada 11 Desember 2003 yang lalu. kekurangan kontrol dari masyarakat. Negara-negara ini adalah
Sekarang tahun 2005. Dengan demikian konvensi tersebut telah negara-negara yang lemat atau menurut istilah Gunnar Myrdal, ahli
ekonomi Norwegia, menunjukkan hubungan antara motivasi untuk menerabas (cutting-corner attitude), 3) sikap tak percaya pada diri
maju (achievement motivation) dan korupsi. Survey tersebut sendiri; 4) sikap tak berdisiplin murni; dan 5) sikap mental yang suka
menunjukkan bahwa semakin kurang makmur suatu negara, tetapi mengabaikan tanggung jawab yang kokoh.
mempunyai motivasi untuk maju yang sangat tinggi akan Di antara lima sikap yang mendorong timbulnya korupsi
menyebabkan korupsi yang besar. Sebaliknya, suatu negara yang sebagaimana tersebut di atas, yang paling dominan adalah sikap suka
motivasinya rendah dan akses untuk memperoleh kemajuan itu tinggi menerabas dan sikap tak berdisiplin murni. Sikap suka menerabas
mempunyai korupsi yang rendah seperti yang terlihat di negara- (cutting-corner attitude) ialah suatu sikap yang ingin mencapai
negara Skandinavia. sesuatu dengan tidak memperhatikan cara-cara yang berlaku. Sikap
Kedua, menurut Edward Banfeld yang mendasarkan teorinya pada ini mengabaikan peraturan-peraturan yang ada karena semuanya
keterikatan erat dekat kepada keluarga, mengatakan bahwa korupsi dapat diserobot. Orang Indonesia sangat sulit untuk antri di dalam
merupakan suatu ekspresi dari partikularisme. Sikap partikularisme berbagai kehidupan bersama. Sikap suka menerabas ini ternyata
ialah suatu perasaan kewajiban untuk membantu, membagi-bagi berkaitan erat dengan kepatuhan terhadap keberaturan atau disiplin.
sumber kepada pribadi-pribadi yang dekat pada seseorang. Bantuan Manusia Indonesia adalah manusia yang tidak berdisiplin, ada yang
tersebut merupakan suatu kewajiban personal kepada keluarga atau mengatakan sikap tidak berdisiplin ini merupakan suatu system
kepada sahabat atau kepada anggota kelompoknya. Inilah yang norma yang ditinggalkan oleh norma-norma kolonial. Antara
dinamakan nepotisme. kolonialisme Inggris dan kolonialisme Belanda terdapat perbedaan di
Nepotisme merupakan suatu sikap loyal terhadap kewajiban dalam penghormatan kepada prosedur. Pemerintahan penjajah
partikularistik yang merupakan ciri dari suatu masyarakat Inggris sangat mementingkan prosedur dan hal ini terlihat misalnya
prakapitalis atau masyarakat feodal. Partikularisme ini bertentangan di negara bekas jajahan Inggris seperti Singapura dan Malaysia yang
dengan universalisme, yaitu komitmen untuk bersikap sama terhadap sangat mementingkan ketertiban umum. Sebaliknya di bekas-bekas
yang lain. Inilah ciri-ciri suatu masyarakat modern yang berorientasi jajahan Belanda terlihat kesemrawutan karena tidak mementingkan
pasar dan menghormati nilai-niali universal tersebut. Pendapat prosedur yang ada. Hal ini menyulitkan tradisi masyarakat Indonesia
Banfeld ini sesuai dengan konsep yang dikemukakan oleh Max menjadi masyarakat yang demokratis, sebab salah satu tuntutan
Weber tentang munculnya nilai-nilai etik Protestan dalam lahirnya masyarakat yang demokratis adalah disiplin dari para anggotanya.
kapitalisme. Menurut Weber, nilai-nilai yang ada di dalam Disiplin berarti mengikuti keberaturan hidup yang diatur oleh
masyarakat (Barat) sebelum protestanisme adalah nilai-nilai gereja peraturan dan undang-undang yang telah disepakati bersama.
(Katolik) yang mementingkan nilai-nilai masyarakat, keluarga, dan Dalam masyarakat Indonesia, banyak undang-undang yang tidak
golongan masyarakat yang dominan dalam membantu yang miskin. sampai dilaksanakan dan sekedar hanya merupakan wacana, baik
Dengan lahirnya Kalvinisme (suatu aliran Protestanisme) nilai-nilai wacana para pemimpin maupun rakyat karena mereka melihat para
komunitarian tersebut menghilang diganti dengan sifat yang pemimpinnya sendiri yang melanggar apa yang telah dibuatnya.
mementingkan diri sendiri, sehingga kondusif untuk akumulasi Longgarnya kontrol hukum menyebabkan lahan yang sangat subur
kapital. Untuk itu lahirlah kapitalisme dengan norma-normanya. untuk korupsi. Kita lihat praktik-praktik hukum dewasa ini di mana
Teori Banfeld menekankan kepada yang disebutnya sebagai konsep para pemimpinnya meremehkan pelaksanaan hukum dan kontrol
amoral familism, yaitu budaya yang kurang mengandung nilai-nilai masyarakat, sehingga pengadilan menjadi bahan tertawaan orang
komunitarian tetapi sangat memperkuat hubungan keluarga. banyak. Demokrasi sebenarnya meliputi dua hal, yaitu demokrasi
Familisme yang tidak bermoral tersebut memberikan kesempatan prosedural dan demokrasi substantive.
untuk hidupnya korupsi dan memperkuat tingkah laku yang Dalam pelaksanaan demokrasi prosedural kita harus menghormati
menyeleweng dari nilai-nilai universalisme serta sistem merit. prosedur-prosedur yang ada, agar hak asasi manusia dapat
Selain itu, Koentjaraningrat melihat, bahwa di samping adanya nilai- terlaksana. Demokrasi substansial menunjukkan kepada kematangan
nilai budaya tradisional yang masih didup di dalam masyarakat dari anggota masyarakat sebagai warga yang cerdas. Warga yang
Indonesia, juga terdapat mentalitas yang timbul sesudah revolusi. cerdas adalah warga yang telah dikembangkan kecerdasan
Dalam hubungan ini ada lima sikap mental yang berkembang: 1) kewarganegaraannya (civic intelligent). Dalam hubungan ini menarik
sikap mental meremehkan mutu; 2) sikap mental yang suka sekali apa yang dikatakan oleh Azyumardi Azra, bahwa civic
intelligent mencakup tiga hal, yaitu pengetahuan kewargaan (civic dajeonghage
knowledge), keterampilan kewargaan (civic skills), dan sikap geunyang yeppeuge naman bwajugo
kewargaan yang terpuji (sivic disposition), dan akhirnya partisipasi ttaseuhage
warga secara aktif di dalam membangun masyarakatnya (civic hanmadiman haejumyeon
participation). Dengan adanya civic intelligent ini, maka kontrol sowoneobseo
masyarakat terhadap penyelenggara negara, pemimpin-pemimpin ttutdu ttutthtutdu ttutduru ttutdut ttutdu
masyarakat di dalam lembaga-lembaga pemerintahan dapat dikontrol ppapba ppapbapba
secara terbuka, sehingga memungkinkan meminimkan tumbuhnya geudaen jakku nareul
sikap korupsi. nappeun maeumeul meokge hae
geudaereul itneun maeum
naegeneun joheun mam anya
eotteokhanya jakku nappeun maeumeul meokge dwae neomu nappeun maeumiya
mianhae nappeun mamiya nappeun mamiya
uri sarang yeongwonhi eobseojiji anha
ireomyeoneun andoeneungeol ara nappeun maeumeul meokge hae
geojitmal geojitmarira malhamyeon geudaereul itneun maeum
naemaeumi dasi doragalkka naegeneun joheun mam anya
nunmurina neomu nappeun maeumiya
neomu mianhaeseo nungil motjugo neomu nappeun mamiya neomu nappeun maeumiya
gaseumapa urisarang jiuneungeon
cheotmadireul mwollo hae neomu nappeun maeumiya
saenggaganna
ttutdu ttutthtutdu ttutduru ttutdut ttutdu
ppapba ppapbapba
geudaen jakku nareul
nappeun maeumeul meokge hae
geudaereul itneun maeum
naegeneun joheun mam anya
neomu nappeun maeumiya
nappeun mamiya nappeun mamiya
uri sarang yeongwonhi eobseojijianha
nappeun maeumeul meokge hae
geudaereul itneun maeum
naegeneun joheun mam anya
neomu nappeun maeumiya
neomu nappeun mamiya neomu nappeun maeumiya
urisarang jiuneungeon
neomu nappeun maeumiya
ibyeori sirheunde geunyang neorang heeojigin jugeodo
sirheo
museunmalhago jebal nal jaba jebal
jeongmal nae maeum byeonhage hajimalgo
yejeoncheoreomman