Anda di halaman 1dari 20

Makalah

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

OLEH:
Nama: MONIKA LINDA
Nim: 1527040018
Kelas: PTP A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNOLOGI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat TUHAN Yang Maha Esa atas
perkenaannya sehigga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini, yang
didalamnya membahas tentang Materi Kesehatan, Keselamatan Kerja.
Materi dalam makalah ini penulis mendapatkan dari berbagai sumber
literatur dalam internet, dan beberapa materi yang pernah di pelajari sewaktu
SMK dulu.
Terimakasih penulis sampaikan kepada dosen Mata Kuliah Arman S.Pd.,
M.Pd yang memberikan arahan dalam penyusunan makalah ini. Meskipun
penulis tidak sempat hadir dalam kelas saat penyampaian tugas ini dikarenakan
suatu dan lain hal yang sangat mendesak, Mohon maaf untuk itu, tapi penulis
mendapatkan info dari Ketua Tingkat yang selalu setia menyebarkan setiap
perkembangan yang terjadi yang menyangkut akademik, Terimakasih untuk itu.
Dan juga ucapan terimakasih untuk mantan sekamar penulis yang telah
meminjamkan laptop miliknya untuk memudahkan dalam penyusunan makalah
ini.
Tugas makalah ini merupakan tugas pertama yang menyambut penulis
mengawali semester genap ini, sehingga penulis sendiri sangat antusias untuk
memulai fokus pada inti dari jati diri sebagai seorang mahasiswa.
Namun penulis menyadari isi dari makalah ini masih sangat jauh dari yang
diharapkan, karena masih kurangnya pengetahuan dari penulis tentang materi ini,
olehnya itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari siapapun yang mungkin
tidak sengaja membaca Makalah ini, diharapkan kritik yang membangun untuk
tugas-tugas yang akan datang, khususnya dari dosen Mata Kuliah.
Makassar, 21 Februari 2016
Penulis

BAB I
PEMBAHASAN
1.1 PENGERTIAN ISTILAH KESEHATAN, KESELAMATAN KERJA
(K3)
Terdapat beberapa pengertian dan definisi K3 (Keselamatan dan
Kesehatan Kerja) yang dapat diambil dari beberapa sumber sebagai berikut:
Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. No. Kep. 463/MEN/1993 Kesehatan
dan Keselamatan Kerja adalah upaya perlindungan yang ditujukan agar tenaga
kerja dan orang lainnya di tempat kerja /perusahaan selalu dalam keadaan selamat
dan sehat, serta agar setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan
efisien.
Filosofi (Mangkunegara) : Suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin
keutuhan dan kesempurnaan jasmani maupun rohani tenaga kerja khususnya dan
manusia pada umumnya serta hasil karya dan budaya menuju masyarakat adil dan
makmur. Z y7
Keilmuan : Semua Ilmu dan Penerapannya untuk mencegah terjadinya
kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja (PAK), kebakaran, peledakan dan
pencemaran lingkungan.
OHSAS 18001:2007 : Semua kondisi dan faktor yang dapat berdampak
pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja maupun orang la (kontraktor,
pemasok, pengunjung dan tamu) di tempat kerja
Beberapa pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja Menurut Para Ahli
antara lain:
a. Menurut Mondy (2008) keselamatan kerja adalah perlindungan karyawan
dari luka-luka yang disebabkan oleh kecelakaan yang terkait dengan
pekerjaan. Resiko keselamatan merupakan aspek-aspek dari lingkungan
3

kerja yang dapat menyebabkan kebakaran, ketakutan aliran listrik,


terpotong, luka memar, keseleo, patah tulang, kerugian alat tubuh,
penglihatan dan pendengaran. Sedangkan kesehatan kerja adalah
kebebasan dari kekerasan fisik. Resiko kesehatan merupakan faktor-faktor
dalam lingkungan kerja yang bekerja melebihi periode waktu yang
ditentukan, lingkungan yang dapat membuat stres emosi atau gangguan
fisik
b. Menurut Mangkunegara (2002) Keselamatan dan kesehatan kerja
adalahsuatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan
kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada
khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan b udaya untuk
menuju masyarakat adil dan makmur.
c. Menurut Sumamur (2001), keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha
untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para
karyawan yang bekerja di perusahaan yang bersangkutan.
d. Menurut
Simanjuntak
(1994),
Keselamatan

kerja

adalah kondisikeselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan dan


kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan,
kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja .
e. Mathis dan Jackson (2002), menyatakan bahwa

Keselamatan

adalahmerujuk pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang


terhadap cedera yang terkait dengan pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk
pada kondisi umum fisik, mental dan stabilitas emosi secara umum.
f. Menurut Ridley, John (1983) yang dikutip oleh Boby Shiantosia (2000),
mengartikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah suatu kondisi
dalam pekerjaan yang sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya,
perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar pabrik atau
tempat kerja tersebut.
g. Jackson (1999), menjelaskan bahwa Kesehatan dan Keselamatan
Kerjamenunjukkan

kepada

kondisi-kondisi

fisiologis-fisikal

dan

psikologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh lingkungan kerja yang


disediakan oleh perusahaan.

Pengertian/definisi K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di atas


merupakan pengertian/definisi K3 yang secara umum digunakan dan diajarkan,
namun di luar referensi di atas masih banyak referensi mengenai pengertian /
definisi K3 baik menurut ILO, WHO, WHS, atapun HSE namun belum sempat
dicantumkan dalam makalah ini.
1.2 PENGERTIAN ISTILAH DALAM KESEHATAN, KESELAMATAN
KERJA (K3)
Dalam Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) ada beberapa istilah yang sering
digunakan, antara lain:
1) Hazard
Hazard adalah sesuatu yang mempunyai potensi membahayakan
kesehatan, dan kenyamanan orang di tempat kerja. Hazard (bahaya) adalah
sesuatu yang dapat menyebabkan cedera pada manusia atau kerusakan pada alat
atau lingkungan.
Contoh hazard:
Batuan rapuh di tambang bawah tanah
Batuan rapuh di bawah tanah mempunyai potensi bahaya yang besar bagi
keselamatan para pekerja karena banyak kemungkinan yang dapat terjadi
dari batuan rapuh tersebut
Bahan kimia
Bahan kimia termasuk hazard karena potensi untuk menyebabkan
gangguan kesehatan dan keselamatan bagi para pekerja dan orang yang
ada di sekitar bahan kimia tersebut kebanyakan bahan kima bersifat toxic
Listrik
Listrik termasuk hazard krena potensi bahayanya yang bisa kapanpun
mengancam keselamatan orang yang ada di sekitarnya.
Beban berat
Beban berat termasuk hazard karena banyak potensi bahaya dari beban
tersebut bagi keselamatan manusia
Api

Api mempunyai potensi bahaya yg cukup tinggi bagi keselamatan dan


kesehatan manusia
2) Danger
Danger adalah suatu kondisi yang dapat mengakibatkan peluang bahaya
yang sudah mulai tampak, sehingga memunculkan suatu tindakan. Tingkat bahaya
(Danger) ialah merupakan ungkapan dengan potensi Bahaya secara relatif, kondisi
yang berbahaya mungkin saja ada, akan tetapi dapat menj adi tidak begitu
berbahaya, karena telah dilakukan beberapa t indakan pencegahan.
Contoh Danger:
Gas bocor
Gas bocor merupakan sebuah keadaan yg bahaya dan perlu tindakan
segera
Listrik konslet
Listrik yang sudah konslet dapat menimbulkan bahaya yang lebih besar
lagi perlu penanganan segera
Tangki rusak
Tangki yangrusak dapat menimbulkan kecelakaan atau bahaya yang lebih
parah harus segera mendapatkan penanganan
Tangga rapuh
Tangga yang rapuh perlu perbaikan segera agar tidak menimbulkan
kecelakaan
Bahan kimia
Bahan kimia yang mudah terbakar jika tidak dikasih pelindung maka akan
menimbulkan kecelakaan berupa kebakaran
3) Resiko:
Risk (resiko) didefinisikan sebagai peluang terpaparnya seseorang atau
alat pada suatu hazard (bahaya). Peluang atau kemungkina tinggi, sedang, atau
rendah, bahwa seorang yang terkena bahaya bisa celaka akibat hal tersebut.
Menyatakan kemungkinan terjadinya kecelakaan / kerugian pada periode tertentu
atau siklus operasi tertentu. Kombinasi dari kemungkinan dan konsekuensi
terjadinya kejadian berbahaya yang terpersyaratan. (OHSAS 18001:1999)

Contoh Resiko:
Keracunan makanan
Makanan yang termasuk unsur risk adalah jika makanan tersebut tidak
diolah dan disajikan secara benar di tempat pekerja.
Tersengat listik
Listrik yang ada di tempat kerja apalagi yang bermasalah (lecet)
mempunyai kemungkinan yang tinggi untuk mengancam keselamatan
para pekerja
Ngantuk
Ngantuk merupakan risk karena jika dalam pekerjaan pekerja tersebut
mengantuk maka potensi terjadinya keselakaan sangat tinggi
Kelelahan
Kelelahan merupakan risk karena dari pekerja yang mengalami kelelahan
maka akan mengurangi fokus kerjanya dan mempunyai potensi besar
untuk terkena bahaya.
Merokok
Merokok merupakan risk karena rokok itu mengandung percikan atau api
kecil yang dapat mempunyai potensi bahaya mengancam keselamatan
pekerja jika berada pada sekitar bahan yg mudah meledak
Heat stress
Kondisi heat stress mempunyai resiko yang besar karena dapat
mengancam keselamatan pekarja pada saat bekarja.
4) Unsafe act
Unsafe act Unsur perilaku tidak memuaskan segera seblum suatu peristiwa
kecelakaan yang segnifikan dalam memulai acara. Suatu pelanggaran terhadap
prosedur keselamatan yang memberi peluang terjadinya kecelakaan.
Contoh Unsafe act :
Mengambil jalan pintas
Merupakan perilaku yang

melanggar

aturan

terhadap

prosedur

keselamatan kerja akibat dari perilaku tersebut dapat terjadi kecelakaan


Kecerobohan

Kecerobohan merupakan perilaku yang tidak mengindahkan prosedur


keselamatan kerja, akibat yang ditimbulkan bisa sangat fatal bisa
merugikan dirinya serta orang lain
Kurangnya perhatian
Kurangnya perhatian merupakan

perilaku

yang

dapat

memicu

kecelakaan karena kurangnya perhatian pasti akan memicu pelanggaran


prosedur keselamatan.
Membuang Sampah Sembarangan Tempat
Merupakan perilaku yang kurang mempuaskan dan dari hal yang sepele
tersebut

dapat

menyebabkan

kecelakaan

yang

membahayakan

keselamatan pekerja
Bekerja Sambil Bercanda dan Bersenda Gurau.
Perilaku tersebut merupakan pelanggaran prosedur karena dengan
bercanda gurau dalam bekerja dapat menimbulkan kecelakaan kerja
Mengerjakan Pekerjaan Yang Tidak Sesuai Dengan Skill / Keterampilan
Perilaku tersebut mempunyai potensi bahaya yang besar uintuk terjadinya
suatu kecelakaan karena orang yang bukan ahlinya akan memicu
kesalahan kerja.
5) Unsafe contdition
Unsafe contdition adalah Kondisi fisik yang tidak memuaskan yang ada
dilingkungan tempat kerja segera sebelum suatu peristiwa kecelakaan yang
segnifikan dalam melalui acara.

Suatu kondisi fisik keadaan/ keadaan yang

berbahaya yang mungkin langsung dapat menimbulkan kecelakaan.


Contoh Unsafe contdition:
Bahaya seperti lantai licin
Kondisi licin sangat potensial sekali untuk dapat menyebabkan
kecelakaan bagi para pekerja
Pecahan kaca
Kondisi mempu yai kemungkian yang besar untuk mengancam
keselamatan kerja
Tingkat pencahayaan yang rendah
Keadaan pencahayaan yang sangat rendah dapat memicu kesalahan
kerja yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja.
Tempat Kerja Yang Tidak Memenuhi Standar / Syarat.
8

Kondisi yang tidak memuaskan seperti ini mempunyai kemungkianan


terjadinya kecelakaan yang sangat tinggi
Alat Pelindung Diri Yang Tidak Sesuai Dengan Standar Yang Telah di
Tetapkan.
Kondisi seperti ini dapat menimbulkan kecelakaan baik secara
langsung ataupun tidak langsung.
Kebisingan di Tempat Kerja.
Kondisi yang tidak sesuai dengan prosedur seperti ini sangat
memungkinkan membahayakan keselamatan dan menyebabkan tidak
fokus dalam bekerja sehingga dapat menimbulkan kecelakaan kerja
Waktu kerja atau Jam Terbang Yang Berlebihan.\
Kondisi kerja yang terlalu lama maka akan mngakibatkan fokus
bekerja menjadi berkurang sehingga kemungkinan terjadinya suuatu
kecelakaan kerja sangatlah besar.
6) Incident
Incident adalah Kejadian yang bisa menimbulkan atau potensi mengarah
pada kecelakaan. Suatu kejadian yang tidak dinginkan yang dapat dan telah
mengadakan kontak dengan sumber energi melebihi nilai ambang batas.
Contoh Incident:
Kenaikan Temperatur Mesin
Naiknya temperatur mesin adalah suatu kejadiana diluar prosedur
maka dapat menimbulkan kecelakaan karena beban mesin yang terlalu
berat dan lama
Debit air dalam pipa meningkat
Kejadian meningkatnya air dalam pipa sangat bisa mengarah terhadap
kecelakaan kerja
Genangan oli
Kejadian adanya genangan oli sangat berpotensi menimbulkan
kecelakaan kerja jika tidak segera ditangani
Kabel mengelupas
Kabel yang mengelupas dapat membahayakan keselamatan para
pekerja
Bahan kimiatumpah

Bahan kimia yang tumpah jika dapat menimbulkan bahaya bagi


pekerja apalagi yang dapat terbakar dan bersifat toxic
7) Accident:
Accident adalah Kejadiaan yang tidak diinginkan terjadi, mengakibatkan
cidera pada manusia dan kerusakan/ kerugian/ lost lainnya. Acident juka sudah
ada luka-luka, kematian, dan terkait dengan health and safety lainnya (kerusakan
property, kerusakan tempat kerja tidakj masuk lagi dalam istilah accident di
OHSAS versi 2007.
Contoh Accident:
Kecelakan industry
Kecelakaan industri sudah pasti menimbulkan kerugian material dan
non material
Kecelakaan perjalanan
kecelakaan perjalanan menimbulkan kerugian atau menimbulkan
cidera bahkan kecacatan sehingga masuk dalam kategori Accident
Kebakaran kapal
Mengakibatkan kerugain dan kerusakan baik pada manusia maupun
bagi perusahaan itu sendiri
Pekerja tertimpa bowl
Kecelakaan tersebut menimbulkan cidera atau mereugikan dagi
manusia
Floorman tertimpa elevator
Tentu saja dapat menimbulkan pekerja dan kerugian bagi pekerja
tersebut karea mengalami gangguan kerja nantinya
8) Near miss:
Near miss adalah Sebuah peristiwa tak terencana yang tidak menyebabkan
cidera , penyakit atau kerusakan tapi memiliki potensi untuk melakukanya. Near
miss adalah incident yang tidak menimbulkan cidera manusia atau kerusakan
/kerugian/lost lainya.
Contoh Near miss:
Terpeleset

10

Terpeleset yang tidak menimbulkan cidera ini lah yang dikatakan near
miss
Salah mengambil bahan kimia
Kesalahan menggambil bahan kimia tapi tidak terjadi kecelakaan yang
lebih parah makan termasuk near miss
Mencabut kabel hampir kesetrum
Pada saat mau mencabuk kabel yang berseliweran dan terjadi konslet
tapi anda tidak kesetrum maka masuk dalam near miss.
Terpukul kayu
Terkena kayu pada saat kerja tetapi tidak menimbulkan cidera bisa
termasuk near miss
Terperosok
Terperosok di tempat kerja tetapi tidak menimbulkan cidera atau
kerugian bagi manusia maka termasuk near miss
1.3 SEJARAH KESEHATAN, KESELAMATAN KERJA (K3)
Sejarah perkembangan K3 mulai dari zaman pra-sejarah sampai dengan zaman
modern sekarang secara ringkas adalah sebagai berikut:
a. Zaman pra-sejarah
Pada zaman batu dan goa (Paleolithic dan Neolithic) dimana manusia
yang hidup pada zaman ini telah mulai membuat kapak dan tombak yang mudah
digunakan serta tidak membahayakan bagi mereka saat digunakan. Disain tombak
dan kapak yang mereka buat umumnya mempunyai bentuk yang lebih besar
proporsinya pada mata kapak atau ujung tombak. Hal ini adalah untuk
menggunakan kapak atau tombak tersebut tidak memerlukan tenaga yang besar
karena dengan sedikit ayunan momentum yang dihasilkan cukup besar. Desain
yang mengecil pada pegangan dimaksudkan untuk tidak membahayakan bagi
pemakai saat mengayunkan kapak tersebut.
b. Zaman bangsa babylonia (Dinasti Summeria) di Irak
Pada era ini masyarakat sudah mencoba membuat sarung kapak agar
aman dan tidak membahayakan bagi oranag yang membawahnya. Pada masa ini
masyarakat sudah mengenal berbagai macam peralatan yang digunakan untuk

11

membantu pekerjaan mereka. Dan semakin berkembang setelah ditemukannya


tembaga dan suasa sekitar 3000-2500 BC. Pada tahun 3400 BC masyarakat sudah
mengenal kontruksi dengan menggunakan batubara yang dibuat proses
pengeringan oleh sinar matahari. Pada era ini masyarakat sudah membangun
saluran air dari batu sebagai fasilitas sanitasi. Pada tahun 2000 BC muncul suatu
peraturan Hammurabi yang menjadi dasar adanya kompensasi asuransi bagi
pekerja.
c. Zaman Mesir Kuno
Pada masa ini terutama pada masa berkuasanya Firaun banyak sekali
dilakukan pekerjaan-pekerjaan raksasa yang melibatkan banyak orang sebagai
tenaga kerja. Pada tahun 1500 BC khususnya pada masa Raja Ramses II
dilakukan pekerjaan pembangunan terusan dari Mediterania ke laut Merah.
Disamping itu Raja Ramses II meminta para pekerja untuk membangun temple
Rameuseum. Untuk menjaga agar pekerjaannya lancar Raja Ramses II
menyediakan tabib serta pelayan untuk menjaga kesehatan para pekerjanya.
d. Zaman Yunani Kuno
Pada zaman romawi kuno tokoh yang paling terkenal adalah Hippocrates.
Hippocrates berhasil menemukan adanya penyakit tetanus pada awak kapal yang
ditumpanginya.
e. Zaman Romawi
Ahli seperti Lecretius, Martial, dan Vritivius mulai memperkenalkan
adanya gangguan kesehatan yang diakibatkan karena adanya paparan bahan-bahan
toksik dari lingkungan kerja seperti timbal dan sulfur. Pada masa pemerintahan
Jenderal Aleksander yang Agung sudah dilakukan pelayanan kesehatan bagi
angkatan perang.

12

f. Abad Pertengahan
Pada abad pertengahan sudah diberlakukan pembayan terhadap pekerja
yang mengalami kecelakaan sehingga menyebabkan cacat atau meninggal.
Masyarakat pekerja sudah mengenal akan bahaya vapour dilingkungkan kerja
sehingga di isyaratkan bagi pekerja yang bekerja pada lingkungan yang
mengandung vapour harus menggunakan masker.
g. Abad ke-16
Satu tokoh yang terkenal pada masa ini adalah Phillipus Aureolus
Theophrastus Bombastus Von Hoheinheim atau yang kemudian lebih dikenal
dengan sebutan Paracelsus mulai memperkenalkan penyakit-penyakit akibat kerja
terurtama yang dialami oleh pekerja tambang. Pada era ini seorang ahli yang
bernama Agricola dalam bukunya De Re Metallica bahkan sudah mulai
melakukan upaya pengendalian bahwa timbale di pertambangan dengan
menerapkan prinsip ventilasi.
h. Abad ke-18
Pada masa ini ada seorang ahli yang bernama Bernardino Ramazzini
(1664-1714) dari Universitas Modern Italia menulis dalam bukunya yang
terkenal: Discourse on the diseases of works, (buku klasik ini masih sering
dijasikan referensi oleh para ahli k3 sampai sekarang). Ramazzini melihat bahwa
dokter-dkter pada masa itu jarang yang melihat hubungan antara pekerjaan dan
penyakit, sehingga ada kalimat yang selalu ada kalimat yang selalu diingat pada
saat dia mendiagnosa seorang yaitu What Is Your Occupation?. Ramazzini
melihat bahwa ada dua faktor besar yang menyebabkan penyakit akibat kerja,
yaitu bahaya yang ada dalam bahan-bahan yang digunakan ketika bekerja dan
adanya gerakan-gerakan janggal yang dilakukan oleh para pekerja ketika bekerja.
i. Era Revolusi Industri (Traditional Industrialization)
Pada era ini hal-hal yang turut mempengaruhi perkembangan K3 adalah:

13

1)Penggantian tenaga hewan dengan mesin-mesin seperti mesin uap yang baru
ditemukan sebagai sumber energi.
2)Penggunaan mesin-mesin yang menggantikan tangan manusia.
3)Penggunaan metode-metode baru dalam pengolahn bahan baku (khususnya
bidang industri kimia dan logam ).
4)Pengorganisasian pekerjaan dalam cakupan yang lebih besar, berkembangnya
industry yang ditopang oleh penggunaan mesin-mesin baru.
5)Perkembangan teknologi ini menyebabkan mulai muncul penyakit-penyakit yang
berhubungan dengan pemajanan karbon dari bahan-bahan sisa pembakaran.
j. Era Industrialisasi ( Modern Industrialization)
Sejak era revolusi industri di atas, sampai dengan pertengahan abad 20
maka penggunaan teknologi semakin berkembang sehingga K3 juga mengikuti
perkembangan ini. Perkembangan pembuatan alat pelindung diri, safety devices,
dan interlock dan alat-alat pengaman lainnya juga turut berkembang.
k. Era Manajemen dan Manajemen K3
Perkembangan era manajemen modern dimulai sejak tahuan 1950-an
hingga sekarang. Perkembangan ini dimulai dengan teori Heinrich (1941) yang
meneliti penyebab-penyebab kecelakaan bahwa umumnya 85% terjadi karena
faktor manusia (unsafe act) dan faktor kondisi kerja ( unsafe condition ). Pada era
ini berkembang sistem automasi pada pekerjaan untuk mengatasi masa sulitnya
melakukan perbaikan terhadap faktor manusia. Namun sistem automasi
menimbulkan masalah-masalah manusiawi yang akhirnya berdampak kepada
kelancaran

pekerjaan

karena

adanya

blok-blok

pekerjaan

dan

tidak

terintegrasinya masing-masing unit pekerjaan. Selain dengan itu Frank Bird dari
Internasional Loss Control Institute (ILCI) pada tahuan 1972 mengemukakan teori
Loss Causation Model yang menyatakan bahwa faktor manajemen merupakan
latar belakang penyebab yang menyebabkan terjadinya kecelakaan. Berdasarkan
perkembangan tersebut serta adanya kasus kecelakaan di Bhopal pada tahun 1984,
akhirnya pada akhir abad 20 berkembanglah suatu konsep keterpaduan sistem
manajemen K3 yang berorientasi pada koordinasi dan efisiensi penggunaan
sumber daya. Keterpaduan semua unit-unit kerja seperti safety, health dan

14

masalah lingkungan dalam suatu sistem manajemen juga menuntut adanya


kualitas yang terjamin baik dari aspek input proses dan output. Hal ini
ditunjukkan dengan munculnya standar-standar internasional seperti ISO 9000,
ISO 14000 dan ISO 18000.
l. Era sekarang
Dalam tahun 1970, Occupational Safety and Health Act (OSHA) yang
bersejarah disahkan dan menjadi undang-undang federal yang efektif pada tahun
1971. Ini diikuti dengan beberapa kejadian, termasuk pembaharuan pada
keselamatan kendaraan dengan buku Ralph Nader yang berjudul Unsafe at Any
Speed.
Keselamatan dan kesehatan kerja menjadi elemen penting pada sebagian
besar industri manufakturing. Standard-standard telah dimulai dan manajemen
telah mengetahui bahwa keuntungan operasi secara langsung terpengaruh ketika
pekerja

mengalami

lost

time

karena

cidera

yang

disebabkan

kerja.

Beberapa orang akan membantah bahwa OSHA Act mengubah perhatian


manajemen dari pencegahan cidera menjadi mematuhi undang-undang. Namun
demikian dengan maksud baik, regulasi pertama keselamatan kerja diadopsi dari
dokumen-dokumen lain yang ditetapkan oleh standard yang dihasilkan berbagai
organisasi. Dalam banyak kasus, standard-standard tersebut dimaksud untuk
digunakan sebagai panduan. Tanggung jawab penerapan dari panduan
keselamatan kerja diganti dengan perilaku bagaimana kita sesuai sampai
beberapa tingkatan. Selain itu, karena undang-undang difokuskan pada kondisi
tempat kerja, mungkin akan menghambat perkembangan perangkat manajemen
keselamatan kerja berdasarkan intervensi perilaku. Pendekatan kondisi tempat
kerja ini bertentangan dengan prinsip yang diusulkan oleh Heinrich yang
mengatakan bahwa sebagian besar kecelakaan disebabkan oleh tindakan manusia.
Pada beberapa kejadian, Occupational Safety and Health Act, bersama dengan
partner penelitiannya, National Institute for Occupational Safety and Health
(NIOSH)

dan

komite

penasehatnya

15

National

Advisory

Committee

on

Occupational Safety and Health (NACOSH), menciptakan perhatian baru dan era
baru dalam bidang keselamatan dan kesehatan.
Undang-undang yang memberikan sanksi terhadap ketidaksesuaian
dengan persyaratan menyediakan tempat kerja yang bebas dari bahaya yang
diketahui cenderung berorientasi pada spesifikasi dan diberikan secara terperinci
apa yang perlu dilakukan. Banyak kesenangan yang dibuat sehubungan dengan
persyaratan rancangan tempat duduk toilet serta ketinggian letak alat pemadam
kebakaran. Peraturan yang baru telah berubah berdasarkan orientasi kinerja, yang
dapat mendorong pengesahan alasan dan penerapan tanggung jawab terhadap
persyaratan. Suatu contoh mengenai pendekatan ini ditemukan dalam Standard
Manajemen Keselamatan Proses, yang mempersyaratkan penakaran resiko sekitar
keselamatan pabrik kimia.
Sementara sebagian besar perusahaan besar telah mengikuti persyaratan
OSHA Act dalam sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerjanya,
perusahaan-perusahaan yang progresif telah bergerak lebih maju daripada sekedar
kepatuhan. Mereka mengetahui bahwa sekedar mematuhi peraturan safety tidak
cukup. Mereka mengetahui bahwa kondisi tempat kerja, yang menjadi fokus
utama peraturan ini, hanya satu aspek dari program yang dikelola secara baik.
Peraturan mewakili kriteria minimal dan pendekatan tingkat awal. Off-the-job
safety programming oleh beberapa perusahaan mengambil pelajaran dari tempat
kerja ke dalam rumah dan keluarga para pekerja.
Teknologi keselamatan dan kesehatan sebagian besar telah berkembang
menjadi ilmu yang matang. Standard telah tersedia dan metodologi telah
dikembangkan untuk keselamatan kerja mekanis, penakaran resiko bahaya kimia,
standard keselamatan listrik, standard perlindungan kebakaran, serta standard
perlengkapan pelindung perorangan. Teknologi-teknologi ini akan dibahas Babbab berikut. Standard sekitar ergonomi tempat kerja menjadi bidang yang
berkembang secara cepat. Walaupun awal peraturan dalam bidang ini tidak sukses,

16

sebagian besar perusahaan besar melihat keuntungan dari program ergonomi


sebagai bagian dari keseluruhan usaha keselamatan dan kesehatan mereka.
Beberapa orang mungkin membantah bahwa kinerja safety aktual telah
tercampur karena ditetapkannya OSHA. Statistik dari Bureau of Labor
memperlihatkan bahwa tingkat cedera total yang tercatat telah menurun secara
perlahan selama 20 tahun terakhir dari 13.2 cidera dan penyakit per 100 pekerja
menjadi 11.6 dalam sektor manufaktur. Cidera dan penyakit yang mengakibatkan
lost working time telah menurun pada periode yang sama dari 4.4 menjadi 2.9
persen. Namun demikian sangat sulit dibantah bahwa kondisi tempat kerja aktual
telah meningkat secara substansial dari awal industrialisasi.
Di dunia Barat, bahaya dari manufaktur berat telah berganti dengan
bahaya lain yang tidak segera tampak. Sebagai contoh, perusahaan manufaktur
sekarang telah mengalami peningkatan cacat kronis sehubungan dengan trauma
kumulatif, penyakit kulit, dan penyakit saluran pernafasan. Beban dari cidera akut
sekarang telah muncul pada industri manufakturing di negara Dunia Ketiga.
Selama waktu ini, satu dari para penulis yang produktif dalam bidang keselamatan
dan kesehatan adalah Dan Petersen. Dia menulis sejumlah buku dan artikel
mengenai manajemen keselamatan dan kesehatan. Dia mengembangkan teori
Heinrich. Dia mengemukakan lima prinsip keselamatan pada buku Techniques of
Safety Management yang diterbitkan pada tahun 1978, yang pertama
adalah Unsafe act, unsafe condition dan kecelakaan adalah gejala mengenai
kesalahan dalam sistem manajemen. Bukunya Challenge of Change: Creating a
New Safety Culture pada tahun 1993, menggambarkan suatu proses untuk
menciptakan perubahan dalam sistem manajemen yang mendorong kinerja
keselamatan yang diinginkan.
m. Era Mendatang
Perkembangan K3 pada masa yang akan datang tidak hanya difokuskan
pada permasalahan K3 yang ada sebatas di lingkungan industry dan pekerja.
Perkembangan K3 mulai menyentuh aspek-aspek yang sifatnya public atau untuk
17

masyarakat luas. Penerapan aspek-aspek K3 mulai menyentuh segala sector


aktivitas kehidupan dan lebih bertujuan untuk menjaga harkat dan martabat
manusia serta penerapan hak asasi manusia demi terwujudnya kualitas hidup yang
tinggi. Upaya ini tentu saja lebih banyak berorintasi kepada aspek perilaku
manusia yang merupakan perwujudan aspek-aspek K3.
1.4 PRINSIP DASAR KESEHATAN, KESELAMATAN KERJA (K3)
Dalam upaya mewujudkan sebuah sistem kerja yang memperhatikan
masalah

keselamatan

dan

kesehatan

kerja,

sebuah

perusahaan

harus

memperhatikan tiga prinsip dasar. Ketiga prinsip tersebut harus dilaksanakan


secara integral dan tidak boleh ditinggalkan. Termasuk ketika selama proses kerja
berlangsung, tidak terdapat hal-hal yang menyebabkan masalah keselamatan dan
kesehatan kerja tersebut terganggu.
Tiga prinsip dasar keselamatan kerja tersebut antara lain adalah:
a. Penataan dan pengaturan
Di sini segala aktivitas yang ada di dalam sebuah perusahaan, harus
didasarkan pada tatanan serta aturan yang ada. Sebab, setiap aktivitas yag
dilakukan, pasti akan memiliki keterkaitan dengan aktivitas yang ada di
divisi lainnya. Sehingga masing-masing divisi harus tetap menjalankan
aktivitas berdasar ketentuan yang sudah ditetapkan.
b. Pemeriksaan dan pemeliharaan
Pemeriksaan dan pemeliharaan semua komponen yang mendukung
terciptanya keselamatan dan kesehatan kerja, harus selalu diperiksa dan
dipelihara.

Dengan

demikian,

sewaktu-waktu

dibutuhkan

semua

komponen tersebut bisa berfungsi dan digunakan sebagaimana mestinya.


Salah satu contohnya adalah, pemeriksaan peralatan pemadam kebakaran.
Meski tidak terjadi kebakaran, jangan sampai membiarkan tangki
pemadam kebakaran dalam keadaan kosong atau berkarat. Sehingga ketika
terjadi kebakaran, peralatan tersebut tidak bisa berfungsi sebagaimana
mestinya. Perlu diingat, bahwa segala musibah pasti terjadi tanpa adanya

18

perencanaan, sehingga kita harus selalu waspada ketika musibah itu terjadi
kapan saja.
c. Operasi Standar
Operasi standar adalah sebuah keadaan yang harus disadari oleh semua
pihak manakala terjadi hal-hal yang terkait dengan masalah keselamatan
dan kesehatan kerja. Mereka harus bekerja sesuai dengan prosedur agar
bisa tetap terhindar dari masalah. Misalnya, wajib mengenakan helm
ketika berada di lingkungan proyek atau lapangan. Atau juga mengenakan
masker ketika berada di lingkungan yang berdebu.
Operasi standar termasuk pula membahas langkah yang harus dilakukan
ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya ketika terjadi
bencana kebakaran, kita harus mengetahui langkah apa saja yang harus
dilakukan dan bagaimana teknik untuk mencegah terjadinya dampak yang
lebih besar.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.jayatamasafetindo.com/artikel?ckattempt=1

19

http://www.sanggarkesehatan.com/2015/06/makalah-kesehatan-dan-keselamatankerja.html
http://www.materikesehatan.com/2015/01/budaya-keselamatan-dan-kesehatankerja.html
http://www.anneahira.com/keselamatan-dan-kesehatan-kerja.htm
https://id.wikipedia.org/wiki/Kesehatan_dan_keselamatan_kerja
http://www.anneahira.com/prinsip-prinsip-kesehatan-dan-keselamatan-kerja.htm
http://www.materikesehatan.com/2015/04/sejarah-kesehatan-dan-keselamatankerja.html
http://www.materikesehatan.com/2015/04/sejarah-kesehatan-dan-keselamatankerja.html
smkyadika3.sch.id/pembelajaran/introtoK3.pdf
https://qhseconbloc.wordpress.com/2012/01/26/unsafe-action-unsafe-condition/
http://jurnalk3.com/wp-content/uploads/2012/10/

20