Anda di halaman 1dari 48

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.

S DENGAN
FRAKTUR DIGIT III PEDIS SINISTRA DI RUANG
PERAWATAN BEDAH CEMPAKA RSUD
ABDUL WAHAB SJAHRANIE
SAMARINDA

KARYA TULIS ILMIAH

Disusun Guna Memenuhi Sebagai Persyaratan Memperoleh


Derajat Ahli Madya Keperawatan Pada Akademik
Keperawatan Muhammadiyah Samarinda

Oleh:

IMAM ABDURROHMAN
NIM: 722002 SO 5728

PROGRAM PENDIDIKAN DIPLOMA III KEPERAWATAN


AKADEMI KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
SAMARINDA
2008
2

BAB I

PENDAHULUAN

A . Latar Belakang Masalah

Sehat menurut batasan World Health Organization adalah

keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan

setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis

(http//www.medicastore.com,2004).

Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan

dinyatakan bahwa untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal

bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan dengan

pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan, pencegahan

penyakit, penyembuhan penyakit, dan pemulihan kesehatan, yang

dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan

(http//www.medicastore.com,2004).

Untuk penyelenggaraan upaya kesehatan tersebut tenaga

kesehatan bertugas menyelenggarakan atau melakukan kegiatan

kesehatan sesuai dengan bidang keahlian dan atau kewenangan

tenaga kesehatan yang bersangkutan,misalnya dalam memberikan

asuhan keperawatan pada pasien.

Asuhan keperawatan adalah faktor penting dalam survival pasien

dan dalam aspek aspek pemeliharaan,rehabilitatif,dan preventif

perawatan kesehatan (Doenges,1999).


3

Seiring dengan kemajuan jaman tenaga kesehatan di tuntut untuk

berpikir cepat dan tepat dalam bertindak dengan sesuai bidang

keahlian dan prosedurnya,misalnya dalam menangani kasus

kecelakaan.Kecelakaan lalu-lintas di Indonesia sangat tinggi dan

merupakan pembunuh nomor tiga di Indonesia, setelah penyakit

jantung dan stroke,dan yang paling sering terjadi dalam sebuah

kecelakaan adalah fraktur / patah tulang

(http//www.medicastore.com,2004).

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan

tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh

rudapaksa.Fraktur dibagi atas fraktur terbuka, yaitu jika patahan tulang

itu menembus kulit sehingga berhubungan dengan udara luar, dan

fraktur tertutup, yaitu jika fragmen tulang tidak berhubungan dengan

dunia luar. (Mansjoer,2000).

Secara umum, fraktur terbuka bisa diketahui dengan melihat

adanya tulang yang menusuk kulit dari dalam, biasanya disertai

perdarahan. Adapun fraktur tertutup, bisa diketahui dengan melihat

bagian yang dicurigai mengalami pembengkakan, terdapat kelainan

bentuk berupa sudut yang bisa mengarah ke samping, depan, atau

belakang. Selain itu, ditemukan nyeri gerak, nyeri tekan, dan

perpendekan tulang (http//.www.medicastore.com).

Penanganan fraktur merupakan penanganan yang utama, secara

umum bertujuan mengurangi rasa nyeri,kecatatan,dan


4

komplikasi.Penanganan pra Rumah Sakit bertujuan untuk mengatasi

masalah Airway (jalan Nafas),Breathing (proses pernafasan),Circulasi

(system sirkulasi darah),setelah itu mengimobilisasi/mencegah

pergerakan ekstremitas yang cedera dengan menggunakan splint/bidai

yang sesuai,tujuan pemasangan ini mencegah adanya gerakan pada

ujung tulang yang patah,(Pusponegoro,et al,2007).

Menurut Mansjoer (2000),penanganan pada fraktur terbuka

harus dilakukan secepat mungkin waktu optimal untuk bertindak

adalah sebelum 6 – 7 jam (golden periode),penundaan waktu dapat

mengakibatkan komplikasi infeksi,selain itu komplikasi lain dapat

terjadi yaitu syok akibat perdarahan,sindrom emboli lemak (masuknya

lemak ke dalam komponen darah dan menjadi gumpalan yang

menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah kecil),sindrom

kompartemen(tekanan pada area cedera/kompartement yang

meningkat. dan terjadi bila jaringan dalam kompartemen tertekan

dalam fasia,mempengaruhi saraf dan aliran darah).

Menurut data kepolisian Republik Indonesia Tahun 2003, jumlah

kecelakaan di jalan mencapai 13.399 kejadian, dengan kematian

mencapai 9.865 orang, 6.142 orang mengalami luka berat, dan 8.694

mengalami luka ringan. Dengan data itu, rata-rata setiap hari, terjadi 40

kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan 30 orang meninggal

dunia(http//www.medicastore.com,2004).
5

Berdasarkan data yang di dapat dari rekam medik Rumah Sakit

Umum Abdul Wahab Syahrani dalam empat bulan terakhir yaitu sejak

bulan Januari sampai April 2008 ada 17 pasien dengan kasus fraktur

ekstremitas bawah dari 1121 kasus yang ada di ruang Cempaka

Rumah Sakit Umum Abdul Wahab Syahrani Samarinda atau sekitar

1,52%.

Berdasarkan uraian di atas,maka penulis tertarik untuk membuat

karya tulis ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan pada Tn.S

dengan Fraktur Digit III Pedis Sinistra di Ruang Cempaka Rumah

Sakit Abdul Wahab Syahrani Samarinda”dengan rumusan masalah

adalah “Bagaimana Gambaran Nyata Tentang Pelaksanaan Asuhan

Keperawatan pada Tn.S dengan Fraktur Digit III Pedis Sinistra di

Ruang Cempaka Rumah Sakit Umum Abdul Wahab Syahrani

Samarinda ?”.

B . Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini dibedakan menjaditujuan

umum dan tujuan khusus :

1. Tujuan Umum

Mendapat gambaran dan pangalaman nyata dalam memberikan

asuhan keperawatan pada Tn.S dengan Fraktur Digit III pedis

sinistra diruang Cempaka Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab

Sjahranie Samarinda
6

2. Tujuan Khusus

Memperoleh pengalaman nyata tentang tentang penerapan

proses asuhan keperawatan pada Tn.S dengan Fraktur Digit III Pedis

Sinistra diruang Cempaka Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab

Syahranie Samarinda,yang meliputi :

a. Pengkajian dan analisa data

b. Membuat diagnosa keperawatan

c. Menyusun rencana asuhan keperawatan

d. Melaksanakan implementasi keperawatan

e. Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilaksanakan

f. Mendokumentasikan asuhan keperawatan

C .Metode Penulisan

Penyusunan karya tulis ilmiah ini menggunakan metode deskriptif

dengan pendekatan studi kasus Fraktur secara nyata dalam

melaporkan perubahan perubahan yang terjadi pada Tn.S dengan

Fraktur Digit III Pedis Sinistra di ruang Cempaka Rumah Sakit Umum

Abdul Wahab Syahrani Samarinda.

Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam

penyusunan karya tulis ilmiah ini adalah :

1. Wawancara yaitu dengan mengajukan pertanyaan langsung pada

klien dan keluarga untuk menggali permasalahan klien

2. Observasi yaitu pengumpulan data melalui hasil pengamatan.


7

3. Pemeriksaan fisik yaitu cara pengumpulan data mealui inspeksi,

palpasi, perkusi, auskultasi.

4. Catatan medik yaitu data yang di dapat dari status pasien,hasil

laboratorium,rontgen,data pasien.

5. studi kepustakaan yaitu mempelajari literatur–literatur yang

berkaitan atau relevan dengan isi karya tulis.

D. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan karya tulis ini disusun secara singkat dan

sistematis. Penyusunannya dibagi dalam lima bab yang terdiri dari :

Bab pertama pendahuluan yang berisi latar belakang, masalah,

tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

Bab kedua tinjauan pustaka,bab ini menguraikan tentang konsep

dasar penyakit yang mendukung isi karya tulis ilmiah terdiri dari

pengertian,etiologi,patofisiologi dan komplikasi serta tujuan tentang

asuhan keperawatan secara teoritis yang meliputi pengkajian,diagnosa

keperawatan,rencana tindakan dan evaluaai keperawatan.

Bab ketiga tinjauan kasus,bab ini berisikan tentang kegiatan

kegiatan yang dilaksanakan dan dilaporkan dalam bentuk proses

keperawatan yang terdiri dari pengkajian,diagnosa

keperawatan,rencana asuhan keperawatan,tindakan keperawatan,dan

evaluasi berdasarkan kasus yang dikelola.

Bab keempat pembahasaan,bab ini menguraikantentang analisa

terhadapkesenjangan yang terjadi antara konsep dengan kasus yang


8

terjadi secara nyata dengan mencantumkan faktor apa saja yang

mendukung,bagaiman cara menanggulangi masalah,alternatif

pemecahan masalah yang rasional..

Bab kelima penutup berisikan kesimpulan tentang hasil dari

tinjauan kasus serta saran saran untuk meningkatkan mutu asuhan

keperawatan.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

Definisi Fraktur menurut Mansjoer,dkk (2000) adalah terputusnya

kontunuitas tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh

rudapaksa.

Definisi Fraktur menurut Suddarth (2001),adalah terputusnya

kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.

Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung ,gaya

meremuk,gerakan puntir mendadak,dan bahkan kontraksi otot

ekstrem(Suddarh,2001).

Menurut Mansjoer,Arief (2000),klasifikasi fraktur dapat dibagi menjadi

dua yaitu ;Fraktur tertutup bila tidak tedapat hubungan antara fragmen

tulang dengan dunia luar.Fraktur terbuka bila terdapat hubungan antara

fragme tulang dengan dunia luar kaena adanya perlukaan dikulit,fraktur

terbuka terbagi atas tiga derajat yaitu :


9

1) Derajat I : luka <1cm,kerusakan jaringan lunak sedikit,tidak ada luka

remukFraktur ,sederhana,transversal,oblik,atau komunutif ringan

2) Derajat II :laserasi >1cm,kerusakan jaringan lunak,tidak luas,Fraktur

kominutif sedang,kontaminasi sedang

3) Derajat III : jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang tidak adekuat

walaupun terdapat laserasi luas,kehilangan jaringan lunak denga

fraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi massif,luka pada

pembuluh arteri / saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihat

kerusakan jaringan lunak.

Suddarth et,al (2001),membagi jenis jenis fraktur yaitu sebagai

berikut,Fraktur complete adalah patah pada seluruh garis tengah tulang

dan biasanya mengalami pergeseran (berbeser dari posisi normal).Fraktur

Incomplete adalah patah hanya terjadi pada sebagian garis

tulang.Greenstick adalah fraktur dimana salah satu sisi tulag patah

sedang sisi lainnya membengkok,Transversaladalah fraktur sepanjang

garis tengah tulang,Spiral adlah fraktur memuntir seputar batang

tulang,Kominutif adalah fraktur dengan tulang pecah menjadi bebrapa

fragmen,Depresi adalah fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke

dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah),Kompresi

adalah fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang

belakang),Patologik dimana fraktur yang terjadi pada daerah tulang

berpenyakit (kista tulang,penyakit osteoporosis,tumor),avulse adalah

tertariknya fragmen tulang oleh ligament atau tendo pada perlekatannya


10

,Epifiseal adalah fraktur melalui epifis,Impaksi adalah fraktur dimana

fragmen tulang terdorong kef ragmen tulang lainnya.

Etiologi Fraktur merupakan akibat dari cedera,seperti kecelakaan

mobil,olahraga atau karena jatuh.Fraktur terjadi jika tenaga yang melawan

tulang lebih besar dari pada kekuatan tulang (Susi, 2007).

Manifestasi klinis fraktur menurut Suddath,et al(2001)adalah

nyeri,hilangnya fungsi,deformitas,pemendekan ekstrmitas, krepitus,

pembengkakan lokal, dan perubahan warna

Patofisiologi fraktur adalah fraktur akan terjadi kerusakan di korteks,

pembuluh darah, sumsum tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal

tersebut adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan

sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla

antara tepi tulang dibawah periostium dengan jaringan tulang yang

mengatasi fraktur. terjadinya respon inflamsi akibat sirkulasi jaringan

nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan leukoit.

Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses

penyembuhan untuk memperbaiki cidera, tahap ini menunjukkan tahap

awal penyembuhan tulang. Hematon yang terbentuk bisa menyebabkan

peningkatan tekanan dalam sumsum tulang yang kemudian merangsang

pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam

pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematom

menyebabkan dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan


11

kapiler, kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan

menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini

menyebabkan terjadinya edema. Edema yang terbentuk akan menekan

ujung syaraf, yang bila berlangsung lama bisa menyebabkan syndroma

comportement.

Tujuan dari pengobatan adalah untuk menempatkan ujung ujung dari

tulang patah tulang supaya saling berdekatan dan untuk menjaga agar

ujung tulang tetap menempel sebagaimana mestinya,(Kartono,Moh.2005)

Menurut Suddarth,et al (2001) prinsip penatalaksanaan fraktur adalah

mengembalikan fragmen tulang ke posisi anatomis normal

(reduksi),mempertahankan reduksi sampai terjadi penyembuhan

(imobilisasi),mempercepat pengembalian fungsi dan kekuatan normal

bagian yang terkena (rehamilitatif).

Prinsip penatalaksanaan fraktur yang di gunakan ada beberapa

metode,yaitu ;metode untuk mencapai reduksi terdiri ;reduksi

tertutup,traksi,dan reduksi terbuka,sedangkan metode memepertahankan

imobilisasi adalah alat eksterna yang terdiri ;bebat,brace,case,pin dan

gips,fiksator eksterna,traksi,balutan,alat interna terdiri

;nail,plat,sekrup,kawat,batang,dan

Penatalaksanaan pada fraktur terbuka harus dilakukan secepat

mungkin,penundaan waktu dapat mengakibatkan komplikasi infeksi.waktu

optimal untuk bertindak adalah sebelum 6 – 7 jam (golden periode)


12

Menurut Suddarth et al,2001 komplikasi fraktur terbagi

dua,yaitukomplikasi awal dan komplikasi lambat,komplikasi awal fraktur

adalah syok,yang bias berakibat fatal dalam beberapa jam setelah cedera

;emboli lemak ,yang dapt terjadidalam 48 jam atau lebih;dan sindrom

kompartemen yang berakibat kehilangan fungsiekstremitas permanen

yang jika tidak ditangan I segera.kompikasi awal lainnya yang

berhubungan denganfraktur adalah infeksi ,trombo emboli dan KID.

Sedangkan komplikasi lambat yaitu ;penyatuan terlambat atau tidak

ada penyatuan diakibatkan dengan infeksi sistemik dan distraksi (tarikan

jauh)fragmen tulang,Necrosis avasculer tulang,terjadi jika tulang

kehilangan asupan darah dan mati,reaksi terhadap alat fiksasi interna ,alat

fiksasi interna biasanya diambil setelah penyatuan tulangtelah

terjadi,namun pada kebanyakan pasien alat tersebut tidak di angkat

sehingga dapat menimbulkan gejala,masalah tersebut meliputikegagalan

mekanis (pemasangan dan stabilisasi yang tidak memadai,berkaratnya

alat,menyebabkan inflamasi local,respon alergi,kegagalan material(alat

yng rusak).

Faktor faktor yang mempengaruhi penyembuhan tulang menurut

Suddarth et al (2001),yaitu ;factor yang mempercepat penyembuhan

fraktur diantaranya,imobilisasi fragmen tulang,kontak fragmen tulang

maksimal,asupan darah yang memadai,nutrisi yang baik,sedangkan factor

yang menghambat penyembuhan tulang antara lain ;trauma local


13

ekstenstif,kehilangan tulang,imobilisasi tidak memadai,infeksi,keganasan

local,lansia.

A. PENGKAJIAN

Pengkajian adalah langkah awal dari tahapan proses

keperawatan. Dalam pengkajian, harus memperhatikan data dasar

pasien. Informasi yang didapat dari klien adalah data primer, dan data

yang didapat dari orang lain adalah data skunder, catatan kesehatan

klien, informasi atau laporan laboratorium, tes diagnostik, keluarga

dan orang yang terdekat atau anggota tim kesehatan merupakan

pengkajian data dasar.,Hidayat (2001).

Menurut Doenges,dkk (1999)dengan asuhan keperawatan pada

klien Fraktur didapatkan data sebagai berikut :

1. Aktivitas dan istirahat

Tanda : keterbatasan / kehilangan fungsi pada bagian yang

terkena (mungkin segera ,fraktur itu sendiri,atau terjadi

secara sekunder,dari pembengkakan jaringan,nyeri)

2. Sirkulasi

Tanda : hipertensi(kadang kadang terlihat sebagai respon terhadap

nyeri / ansietas)atau hipotensi(kehilangan darah)

3. Neurosensori
14

Gejala : hilang gerakan / sensasi,spasme otot,kebas / kesemutan

(parestesi)

Tanda : deformitas local ;angulasi abnormal,pemendekan,rotasi

krepitasi,spasme otot,terlihat kelemahan / hilang fungsi.

Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri / ansietas

atau trauma lain)

4. Nyeri / Kenyamanan

Gejala : nyeri berat tiba tiba pada saat cedera (mungkin

terlokalisasi pada area jaringan / kerusakan tulang ;dapat

berkurang pada imoblisasi);tidak ada nyeri akibat

kerusakan syaraf.spasme / kram otot (setelah imobilisasi)

5. Keamanan

Tanda : Laserasi kulit,avulse jaringan,perdarahan,perubahan

warna,pembengkakan local (dapat meningkat secara

bertahap atau tiba tiba).

6. Penyuluhan / Pembelajaran

Gejala : Lingkungan cedera

7. Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksaan rontgen : menentukan lokasi,/luasnya fraktur,

b. Skan tulang,tomogram,scan CT/MRI :Memperlihatkan fraktur

juga dapat digunakan untuk mengidntifikasi jaringan lunak.

c. Arteriogram :Dilakukan bila kerusakan vascular di curigai.


15

d. Hitung darah lengkap :Ht mungkin meningkat

(hemokonsentrasi)atau menurun (perdarahan bermakna pada

sisi frakturatau organ jauh pada trauma multiple).Peningkatan

jumlah SDP adalah respon stress normal setelah trauma.

e. Kreatinin : trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk

klirens ginjal.

f. Profil koagulasi :perubahan dapat terjadi pada kehilangan

darah tranfusi multiple atau cedera hati.

B. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi,

memfokuskan dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respon

terhadap masalah actual dan resiko tinggi (Doenges et al,1999).

Menurut Doenges,dkk (1999),diagnosa keperawatan pada pasien

fraktur adalah sebagai berikut ;

1. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan

integritas tulang (fraktur)

2. Nyeri (akut) berhubungan dengan spase otot,gerakan fragmen

tulang,edema dan cedera pada jaringan lunak.alat traksi,stress /

ansietas

3. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovascular perifer berhubungan

dengan penurunan / interupsi aliran darah :cedera vaskuler

lagsung,edema berlebihan,pembentukan thrombus,hipovolemi.


16

4. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan

dengan perubahan aliran :darah/emboli lemak,perubahan membran

alveolar/kapiler ;intertitsil,edema paru,kongesti.

5. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka

neurovascular: nyeri/ketidaknyamanan.

6. Kerusakan jaringan / integritas kulit berhubungan dengan cedera

fraktur tebuka, bedah perbaikan,pemasangan traksi pen, kawat,

sekrup, perubahan sesasi, sirkulasi, akumulasi ekskresi/secret,

imobilisasi.

7. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak

adekuatnya pertahanan primer kerusakan kulit, trauma jaringan,

terpajan pada lingkungan

8. Kurang pengetahuan tentang kondisi ,prognosis,kebutuhan

pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan / mengingat,

salah interprestasi informasi/tidak mengenal sumber informasi.

C. Rencana Tindakan

Intervensi keperawatan adalah deskripsi untuk perilaku spesifik

yang diharapkan dari pasien dan/atau tindakan yang harus dilakukan

oleh perawat, (doenges,marlynn.1999).

a. Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan

integritas tulang (fraktur)

a. Tujuan : Mempertahankan stabilisasi dan posisi fraktur.


17

b. Kriteria hasil : Menunjukan mekanika tubuh yang

meningkatkan stabilitas pada sisi fraktur.

c. Intervensi

1.1 Pertahankan tirah baring/ekstremitas sesuai indikasi.berikan

sokongan sendi diatas dan dibawah fraktur bila

bergerak/membalik.

R : Meningkatkan stabilitas,menurunkan kemungkinan

gangguan posisi/penyembuhan.

1.2 Letakan papan dibawah tempat tidur/tempatkan pasien pada

tempat tidur ortopedik.

R : Tempat tidur lembut dapat mengakibatkan deformasi gips

yang masih basah,mematahkan gips yang sudah

kering,atau mepengaruhi penarikan traksi.

1.3 Sokong fraktur dengan bantal,pertahankan posisi netral pada

bagian yang sakitdengan bantal pasir,pembebat.

R : Mencegah gerakan yang tak perlu dan perubahan,posisi.

Posisi yang tepat dari bantal juga dapat mencegah

tekanan deformitas yang kering.

1.4 Pertahankan posisi/integritas traksi.

R : Traksi memungkinkan tarikan pada aksis panjang fraktur

tulang dan mengatasi tegangan otot untuk memudahkan

posisi/penyatuan. Traksi tulang memungkinkan


18

penggunaan berat lebih besar untuk penarikan traksi

daripada digunakan untuk jaringan kulit.

1.5 Kaji ulang tahanan yang mungkin timbul karena terapi,contoh

pergelangan tidak menekuk dengan traksi buck,atau tidak

memutar di bawah pergelangan dengan traksi russel.

R : Mempertahankan tarikan intgritas tarikan traksi.

1.6 Kaji integritas alat fiksasi eksternal

R : Traksi Hoffman memberikan stabilisasi dan sokongan

kaku untuk tulang fraktur tanpa menggunakan katrol, tali

atau beban, memungkinkan mobilitas/kenyamanan pasien

lebih besar dan memudahkan perawatan luka.

1.7 Kaji ulang foto/evaluasi

R : Memberikan bukti visual mulainya pembentukan

kalus/proses penyembuhan untuk menentukan tingkat

aktivitas dan kebutuhan perubahan/tambahan terapi.

b. Nyeri (akut) berhubungan dengan spase otot. Gerakan fragmen

tulang, edema, dan cedera pada jaringan lunak. Alat

traksi/imobilisasi. Stress, ansietas.

a. Tujuan : Menyatakan nyeri hilang.

b. Kriteria hasil : Menunjukan tindakan santai; mampu

berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat

dengan tepat.

c. Intervensi
19

2.1 Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring,

gips, pembebat, traksi.

R : Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi

tulang/tegangan jaringan yang cedera.

2.2 Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena.

R : Meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema, dan

menurunkan nyeri.

2.3 Hindari penggunaan sprei/bantal plastik di bawah ekstremitas

dalam gips.

R : Dapat meningkatkan ketidaknyamanan karena

peningkatan produksi panas dalam gips yang kering.

2.4 Evaluasi keluhan nyeri/ketidaknyamanan, perhatikan lokasi dan

karakteristik, termasuk intesitas (skala nyeri 0-10).

R : Mempengaruhi pilihan/pengawasan keefektifan intervensi.

2.5 Perhatikan petunjuk nyeri non verbal (perubahan pada tanda

vital dan emosi/perilaku).

R : Tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi /reaksi

terhadap nyeri.

2.6 Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah sehubungan

dengan cedera.

R : Membantu untuk menghilangkan ansietas.

2.7 Jelaskan prosedur sebelum memulai.


20

R : Memungkinkan pasien untuk siap secara mental untuk

aktivitas juga berpartisipasi dalam mengontrol tingkat

ketidaknyamanan.

2.8 Dorong menggunakan teknik manajemen stress, contoh

relaksasi progresif, latihan nafas dalam, imajinasi visualisasi.

R : Memfokuskan kembali perhatian, dapat meningkatkan

koping dalam manajemen nyeri, yang mungkin menetap

untuk periode lebih lama.

2.9 Lakukan dan awasi latihan rentang gerak pasif / aktif.

R : Mempertahankan kekuatan/mobilitas otot yang sakit dan

memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang

cedera.

2.10 Berikan obat sesuai indikasi: narkotik dan analgesik non

narkotik ; NSAID injeksi contoh ketorolak (toradol); atau

relaksan otot, contoh siklobenzaprin (flekseril).

R : Diberikan untuk menurunkan nyeri atau spasme otot.

d. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovascular perifer berhubungan

dengan penurunan/interupsi aliran darah: cedera vaskuler

langsung, edema berlebihan, pembentukan thrombus. Hipovolemia.

a. Tujuan : Mempertahankan perfusi jaringan

b. Kriteria hasil :Terabanya nadi, kulit hangat/kering, tanda vital

stabil, dan haluaran urine adekuat.

c. Intervensi
21

3.1 Evaluasi adanya/kualitas nadi perifer distal terhadap cedera

melalaui palpasi/Doppler, bandingkan dengan ekstremitas yang

sakit.

R : Penurunan nadi menggambarkan cedera vaskuler dan

perlunya evaluasi medik segera terhadap status sirkulasi.

3.2 Kaji aliran kapiler, warna kulit, dan kehangatan distal pada

fraktur.

R : Kembalinya warna harus cepat (3-5 detik). Warna kulit

pucat menunjukan gangguan arterial. Sianosis diduga ada

gangguan vena.

3.3 Lakukan pengkajian neuromuskuler, perhatikan fungsi

motorik/sensorik. Minta pasien untuk melokalisasi

nyeri/ketidaknyamanan.

R : Gangguan perasaan kebas, kesemutan, peningkatan

/penyebaran nyeri terjadi bila sirkulasi pada saraf tidak

adekuat atau saraf rusak.

3.4 Tes sensasi syaraf perifer dengan menusuk pada kedua

selaput antara ibu jari pertama dan kedua.

R :Panjang dan posisi saraf perineal meningkatkan resiko

cedera pada adanya fraktur kaki, edema/sindrom

kompartemen.

3.5 Awasi posisi/lokasi cincin penyokong bebat.


22

R : Alat traksi dapat menyebabkan tekanan pada pembuluh

darah/saraf, terutama pada aksila dan lipat paha,

mengakibatkan iskemia dan kerusakan saraf permanen.

3.6 Perhatikan keluhan nyeri ekstrem untuk tipe cedera atau

peningkatan nyeri pada gerakan pasif ekstremitas, terjadinya

parestesia, tegangan otot/nnyeri tekan dengan eritema, dan

perubahan nadi distal.

R : Perdarahan/pembentukan edema berlanjut dalam otot

tertutup dengan fasia ketat dapat menyebabkan gangguan

aliran darah dan iskemia miositis atau sindrom

kompartemen, perlu intervensi darurat untuk memperbaiki

sirkulasi.

3.7 Selidiki tanda iskemia ekstremitas tiba tiba, contoh penurunan

suhu kulit, dan peningkatan nyeri.

R : Dislokasi fraktur sendi dapat menyebabkan kerusakan

arteri yang berdekatan. dengan akibat hilangnya aliran

darah distal.

3.8 Dorong pasien untuk secara rutin latihan jari/sendi distal

cedera. Ambulasi sesegera mungkin.

R : meningkatkan sirkulasi dan menurunkan pengumpulan

darah khususnya pada ekstremitas bawah.

3.9 Selidiki nyeri tekan, pembengkakan pada dorsofleksi kaki.


23

R : Terdapat peningkatan potensial untuk tromboflebitis dan

emboli paru pada pasien imobilisasi selama 5 hari atau

lebih.

3.10 Awasi tanda vital, perhatikan tanda-tanda pucat/sianosis

umum, kulit dingin, perubahan mental.

R : Ketidakadekuatan volume sirkulasi akan mempengaruhi

sistem perfusi jaringan.

3.11 Berikan kompres es sekitar fraktur sesuai indikasi,

R : Menurunkan edema/pembentukan hematoma, yang

dapat mengganggu sirkulasi.

3.12 Awasi Hb/Ht, pemeriksaan koagulasi, contoh kadar

protrombin.

R : Membantu dalam kalkulasi kehilangan darah dan

membutuhkan keefektifan terapi penggantian.

e. Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan

dengan perubahan aliran: darah/emboli lemak. Perubahan

membran alveolar/kapiler: interstisial,edema paru, kongesti.

a. Tujuan : Mempertahankan fungsi pernafasan adekuat.

b. Kriteria hasil : Tidak adanya dispnea/sianosis; frekuensi

pernapasan dan GDA dalam batas normal.

c. Intervensi
24

4.1 Awasi frekuensinya pernafasan dan upayanya. Perhatikan

stridor, penggunaan otot bantu, retraksi, terjadinya sianosis

sentral.

R : Takipnea, dispnea, dan perubahan dalam mental dan

tanda dini insufisiensi pernafasan dan mungkin hanya

indikator terjadinya emboli paru.

4.2 Auskultasi bunyi napas perhatikan terjadinya ketidaksamaan,

bunyi hiperesonan, juga adanya gemericik/ronki/mengi dan

inspirasi mengorok/bunyi sesak napas.

R : Perubahan adanya bunyi adventisius menunjukkan

terjadinya komplikasi pernafasaan, contoh atelektasis,

pneumonia, dan emboli.

4.3 Atasi jaringan cedera/tulang dengan lembut, khususnya selama

beberapa hari pertama.

R : Ini dapat mencegah terjadinya emboli lemak yang erat

hubungannya dengan fraktur.

4.4 Instruksikan dan bantu dalam latihan nafas dalam dan batuk.

Reposisi dengan sering.

R : Meningkatkan ventilasi alveolar dan perfusi.

4.5 Perhatikan peningkatan kegelisahan, kacau, letargi,

stupor.
25

R : Gangguan pertukaran gas/adanya emboli paru dapat

menyebabkan penyimpangan pada tingkat

kesadaranpasien seperti terjadinya hipoksia/asidosis.

4.6 Observasi sputum untuk tanda adanya darah,dan inspeksi kulit

untuk ptekie diatas garis puting; pada aksila, meluas ke

abdomen/tubuh; mukosa mulut, palatum keras; kantung

konjungtiva dan retina

R : Ini adalah karakteristik paling nyata dari tanda emboli

lemak, yang tampak dalam 2 – 3 hari setelah cedera.

4.7 Bantu dalam spirometri insentif.

R : Memaksimalkan ventilasi/oksigenasi dan meminimalkan

atelektasis.

4.8 Berikan tambahan O2 bila diindikasikan.

R : Meningkatkan sediaan O2 untuk oksigenasi optimal

jaringan.

4.9 Awasi hasil Hb, Kalsium, LED, lipase serum, lemak, trombosit.

R : Anemia, hipokalsemia, peningkatan LED dan kadar lipase,

gelembung lemak dalam darah/urine/sputum dan

penurunan jumlah trombosit sering berhubungan dengan

emboli lemak.

4.10 Berikan obat kortikosteroid.

R : Steroid telah digunakan dengan beberapa keberhasilan

untukj mencegah emboli lemak.


26

f. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka

neuromuskuler: nyeri/ketidaknyamanan; terapi restriktif (imobilitas

tungkai).

a. Tujuan : Meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada

tingkat paling tinggi yang mungkin.

b. Kriteria hasil : Mempertahankan posisi fungsional.

c. Intervensi

5.1 Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera/pengobatan

dan perhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi.

R : Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi diri

tentang keterbatasan fisik aktual.

5.2 Instruksikan pasien untuk/bantu dalam rentang gerak pasif/aktif

pada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit.

R : Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk

meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi;

mencegah kontraktur/atrofi dan resorpsikalsium karena

tidak digunakan.

5.3 Berikan papan kaki, bebat pergelangan, gulungan

trokanter/tangan yang sesuai.

R : Berguna dalam mempertahankan posisi fungsional

ekstremitas, tangan/kaki, dan mencegah komplikasi.


27

5.4 Tempatkan dalam posisi telentang secara periodik bila

mungkin, bila traksi digunakan untuk menstabilkan fraktur

tungkai bawah.

R : Menurunkan resiko kontraktur fleksi panggul.

5.5 Bantu/dorong dalam perawatan diri/kebersihan.

R : Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan

kesehatan diri langsung.

5.6 Awasi TD dengan melakukan aktivitas. Perhatikan keluhan

pusing.

R : Hipotensi postural adalah masalah umum menyertai tirah

baring lama dan dapat memerlukan intervensi khusus.

5.7 Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan

batuk/napas dalam.

R : Mencegah/menurunkan insiden komplikasi

kulit/pernafasan, (contoh dekubitus,pneumonia).

5.8 Auskultasi bising usus. Awasi kebiasaan eliminasi dan berikan

keteraturan dalam defekasi rutin. Berikan prifvasi.

R : Tirah baring, penggunaan analgesic, dan perubahan

dalam kebiasaan diet dapat memperlambat peristaltik dan

mengakibatkan konstipasi.

5.9 Dorong peningkatan masukan cairan sampai 2000-3000ml/hari,

termasuk air asam/ jus.


28

R : Mempertahankan hidrasi tubuh, menurunkan resiko infeksi

urinarius, pembentukan batu, dan konstipasi.

5.10 Berikan diit tinggi protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral.

Pertahankan penurunan kandungan protein sampai setelah

defekasi pertama.

R : Pada adanya cedera muskuloskeletal, nutrisi yang

diperlukan untuk penyembuhan berkurang dengan cepat,

ini dapat mempengaruhi massa otot, tonus, dan kekuatan.

5.11 konsul dengan ahli terapi fisik/okupasi dan/atau rehabilitasi

spesialis.

R : Berguna dalam membuat aktivitas individual/program

latihan. Pasien dapat memerlukan bantuan jangka

panjang dengan gerakan, kekuatan, dan aktivitas.

5.12 Lakukan program defekasi (pelunak feses, enema, laksatif)

sesuai indikasi.

R : Dilakukan untuk meningkatkan evakuasi usus.

g. Kerusakan jaringan/integritas kulit berhubungan dengan cedera

tusuk; fraktur tebuka; bedah perbaikan; pemasangan traksi pen,

kawat, sekrup. Perubahan sensasi, sirkulasi; akumulasi

ekskresi/sekret. Imobilisasi fisik.

a. Tujuan : Menyatakan ketidaknyamanan hilang.

b. Kriteria hasil : Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu.

c. Intervensi
29

6.1 Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan,

perdarahan, perubahan warna, kelabu, memutih.

R : Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah

yang mungkin disebabkan oleh alat dan/atau

pemasangan gips,/babet atau traksi.

6.2 Ubah posisi dengan sering.

R : Mengurangi tekanan konstan pada area yang sama dan

meminimalkan resiko kerusakan kulit.

6.3 Bersihkan kulit dengan sabun dan air. Gosok perlahan dengan

alkohol; dan/atau bedak dengan jumlah sedikit borat atau

stearat seng.

R : Memberikan gips tetap kering, dan area bersih.

6.4 Tingkatkan pengeringan gips dengan mengangkat linen tempat

tidur, memajankan pada sirkulasi udara.

R : Mencegah kerusakan kulit yang disebabkan oleh tertutup

pada kelembaban di bawah gips dalam jangka lama.

6.5 Observasi untuk potensial area yang tertekan, khususnya pada

akhir dan bawah bebatan/gips.

R : Tekanan dapat menyebabkan ulsrasi, nekrosis, dan/atau

kelumpuhan saraf.

6.6 Beri bantalan (petal) pada akhir gips dengan plester tahanan

air.
30

R : Memberikan perlindungan efektif pada lapisan gips dan

kelembaban.

6.7 Balik pasien dengan sering untuk melibatkan sisi yang tak sakit

dan posisi tengkurap dengan kaki pasien diatas kasur.

R : Meminimalkan tekanan pada kaki dan sekitar tepi gips.

6.8 Bersihkan kulit dengan air sabun hangat.

R : Menurunkan kadar kontaminasi kulit.

6.9 Letakan bantalan pelindung dibawah kaki dan diatas tonjolan

tulang.

R : Meminimalkan tekanan pada area ini.

6.10 Palpasi jaringan yang di plester tiap hari dan catat adanya

nyeri tekan atau nyeri.

R : Bila area di bawah plester nyeri tekan, diduga ada iritasi

kulit, dan siapkan untuk membuka sistem balutan.

6.11 Tekuk ujung kawar atau tutup ujung kawat/pen dengan karet

atau gabus pelindung/tutup jarum.

R : Mencegah cedera pada bagian tubuh lain.

6.12 Buat gips dengan katup tunggal, katup ganda atau jendela,

sesuai prosedur.

R : Memungkinkan pengurangan tekanan dan memberikan

akses untuk perawatan luka/kulit.


31

h. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak

adekuatnya pertahanan primer; kerusakan kulit, trauma jaringan,

terpajan pada lingkungan.

a. Tujuan : Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu.

b. Kriteria hasil : Bebas drainase purulen atau eritema, dan

demam.

c. Intervensi

7.1 Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan kontinuitas.

R : Pen atau kawat tidak harus dimasukkan melalui kulit yang

terinfeksi, kemerahan atau abrasi.

7.2 Kaji sisi pen/kulit perhatikan keluhan peningkatan nyeri/rasa

terbakar atau adanya edema, eritema, drainase/bau tak enak.

R : Dapat mengindikasikan timbulnya infeksi lokal/nekrosis

jaringan, yang dapat menimbulkan osteomielitis.

7.3 Tutupi pada akhir gips peritoneal dengan plastik.

R : Gips yang lembab, dapat meningkatkan per tumbuhan

bakteri.

7.4 Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi, perubahan

warna kulit, bau drainase yang tidak enak.

R : Tanda perkiraan infeksi gangren.

7.5 Kaji tonus otot, reflek tendon dalam dan kemampuan untuk

berbicara.
32

R : Kekakuan otot, spasme tonik otot rahang, dan disfagia

menunjukkan terjadinya tetanus.

7.6 Selidiki nyeri tiba-tiba/keterbatasan gerakan dengan edema

lokal/eritema ekstremitas cedera.

R : Dapat mengindikasikan terjadinya osteomielitis.

7.7 Awasi pemeriksaan laboratorium, darah lengkap, LED, kultur

dan sensitivitas luka/serum/tulang; skan radioisotope.

R : Anemia dapat terjadi pada osteomielitis; leukositosis

biasanya ada dengan proses infeksi.

7.8 Berikan obat sesuai indikasi, contoh: Antibiotik IV/topical.

R : Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secara

profilaktik atau dapat ditujukan pada mikroorganisme

khusus.

7.9 Berikan irigasi luka/tulang dan berikan sabun basah/hangat

sesuai indikasi.

R : Debridemen lokal/pembersihan luka menurunkan

mikroorganisme dan insiden infeksi sistemik.

i. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan

pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat.

salah interprestasi informasi/tidak mengenal sumber informasi.

a. Tujuan : Menyatakan pemahaman kondisi, prognosis,

dan pengobatan.
33

b. Kriteria hasil : Melakukan dengan benar prosedur yang

diperlukan dan menjelaskan alasan tindakan.

c. Intervensi

8.1 Kaji ulang patologi, prognosis, dan harapan yang akan datang

R : Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat

membuat pilihan informasi.

8.2 Beri penguatan metode mobilitas dan ambulasi sesuai instruksi

dengan terapi fisik bila diindikasikan.

R : Banyak fraktur memerlukan gips, bebat, atau penjepit

selama proses penyembuhan.

8.3 Buat daftar aktivitas dimana pasien dapat melakukannya

secara mandiri dan yang memerlukan batuan.

R : Penyusunan aktivitas sekitar kebutuhan dan yang

memerlukan bantuan.

8.4 Identifikasi tersedianya sumber pelayanan di masyarakat,

contoh tim rehabilitasi, pelayanan perawatan dirumah.

R : Memberikan bantuan untuk memudahkan perawatan diri

dan mendukung kemandirian.

8.5 Dorong pasien untuk melanjutkan latihan aktif untuk sendi di

atas dan di bawah fraktur.

R : Mencegah kekakuan sendi, kontraktur, dan kelelahan otot,

meningkatkan kembalinya aktivitas sehari-hari secara dini.

8.6 Diskusikan pentingnya perjanjian evaluasi klinis.


34

R : Penyembuhan fraktur memerlukan waktu tahunan untuk

sembuh lengkap, dan kerjasama pasien dalam program

pengobatan membantu untuk penyatuan yang tepat dari

tulang.

8.7 Kaji ulang perawatan pen/luka yang tepat.

R : Menurunkan resiko trauma tulang/jaringan dan infeksi

yang dapat berlanjut menjadi osteomielitis.

8.8 Anjurkan penggunaan pengering rambut untuk mengeringkan

area gips yang lembab.

R : Penggunaan yang hati-hati dapat mempercepat

pengeringan.

8.9 Anjurkan penggunaan pakaian yang adaptif.

R : Membantu aktivitas berpakaian/kerapian.

D.Pelaksanaan.

Pelaksanaan atau implementasi adalah merupakan perencanaan

keperawatanoleh perawat dank lien,hal hak yang harus diperhatikan

ketika melakukan implementasi adalah implementasi dilakukan menurut

dengan rencana tindakan yang valid.

Tahap implementasi keperawatan pada klien dengan Fraktur

menurut Doenges,dkk (1999) sbb:

1. Mempertahankan tirah baring/ekstremitas sesuai indikasi.berikan

sokongan sendi diatas dan dibawah fraktur bila bergerak /membalik.


35

2. Mendorong menggunakan teknik manajemen stress,contoh

relaksasi,latihan nafas dalam,imajinasi visualisasi.

3. Melakukan pengkajian fungsi neuromuskuler,perhatikan fungsi

motorik/sensorik dan minta pasien untuk melokalisasi

nyeri/ketidaknyamanan.

4. Mengauskultasi bunyi nafas prhatikan terjadinya

ketidaksamaan,bunyi hipersonan, juga adanya gemericik/ronki/bunyi

ssesak nafas.

5. Menginstruksikan pasien dalam rentang gerak pasif/aktif pada

ekstremitas yang sakit dan yang tidak sakit.

6. Mengkaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan,

perdarahan dan perubahan warna.

7. Mengkaji sisi pen/kulit perhatikan keluhan peningkatan nyeri/rasa

terbakar atau adanya edema, eritema, drainase/bau tak enak.

8. Mengkaji ulang patologi, prognosis, dan harapan yang akan datang

E. Evaluasi Keperawatan

Menurut carpenito (1998), evaluasi mencakup 3 pertimbangan

yang berbeda: evaluasi mengenai stasus klien, evaluasi status

kemajuan klien kearah pencapaian. Sasaran dan evaluasi mengenai

status dari kejasian rencana keperawatan.

Evaluasi yang diharapkan pada klien dengan fraktur adalah sbb:


36

1. Menunjukan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilitas pada

sisi fraktur,menunjukan pembentukan kalus/mulai penyatuan

fraktur.

2. Menunjukan teknik santai,mampu berpartisipasi dalam aktivitas /

tidur / istirahat dengan tepat,menggunakan penggunaan

keterampilan relaksasi.

3. Terabanya nadi,kulit hangat tanda vital stabil,haluaran urine

adekuat.

4. Tidak adanya dispnea,sianosis.frekuensi dan seri GDA dalam batas

normal.

5. Meningkatkan kemampuan dalam melakukan aktivitas

meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi

bagian tubuh

6. Bebas drainage purulent,eritema,dan demam.

7. Tidak ada tanda tanda infeksi.s

8. Klien paham/mengerti tentang informasi yang di berikan perawat.


37

Bab VI

Pada bab ini penulis akan membahas tentang kesenjangan yang

didapat antara teori dan kenyataan saat pelaksanaan asuhan

keperawatan pada Tn .S dengan Fraktur Digit III Pedis Sinistra.

A. Pengkajian

Pengkajian adalah langkah awal dari tahapan proses

keperawatan.Dalam pengkajian ,harus memperhatikan data dasar

pasien,informasi yang di dapat dari klien adalah data primer dan data

yang didapat dari orang lain adalah dat sekunder ,catatan kesehatan

klien,informasi atau laporan laboratorium,te diagnostic,keluarga dan

orang yang terdekat atau anggotatim kesehatan merupakan pengkajian

data dasar,(Hidayat,2001).

Menurut Doenges (1999),pada asuhan keperawatan dengan

Fraktur akan ditemukan data yaitu ;dalam aktivitas ditemukan

keterbatasan/kehilangan fungsi yang terkena (mungkin segera fraktur

itu sendiri atau terjadi secara sekunder,dari pembengkakan

jaringan,nyeri), data sirkulasi ditemukan data hipertensi (kadang

kadang terlihat sebagai respon terhadap nyeri/ansietas) atau hipotensi

(kehilangan darah),data neurosensori ;terjadi hilang

gerakan/sensasi,spasme otot,kebas/kesemutan,selain itu ditemukan

deformitas lokal;angulasi abnormal,pemendekan,rotasi

krepitasi,spasme otot,terlihat kelemahan/hilang fungsi,agitasi (mungkin

berhubungan dengan nyeri/ansietas atau trauma lain)Nyeri berattia tiba


38

pada saat cedera (mungkin terlokasi pada area jaringan/kerusakan

tulang;dapat berkurang pada saat imobilisasi),spasme /kram

otot,terdapat laserasi kulit, perdarahan, perubahan warna,

pembengkakan lokal.

Sedangkan menurut Engram (1998)dalam pengkajian ditemukan

nyeri pada lokasi fraktur terutama pada saat

digerakan,pembengkakan,pemendekan ekstremitas yang sakit,paralisis

(kehilangan daya gerak),angulasi ekstremitas yang

sakit,krepitasi,spasme otot,penurunan sensasi,pucat dan tidak ada

denyut nadi pada bagian distal pada lokasi fraktur bila aliran darah

terganggu oleh fraktur.

Pada pengkajian yang dilakukan tanggal 7 Agustus 2008 pada Tn

.S,ditemukan data kien yaitu TD 120/80 mmHg,nadi

88x/menit,ditemukan keterbatasan karena nyeri, ,selain itu ditemukan

deformitas, nyeri berat tiba tiba pada saat cedera terlokasi pada area

jari kaki,Nyeri dapat berkurang pada saat imobilisasi,,spasme /kram

otot,terdapat luka robekan pembengkakan lokal.klien mengatakan

cemas

Dari hasil pengkajian Tn.S tanggal 7 Agustus 2008 , ada beberapa

data saat penulis mengkaji tidak menemukan pada klien tetapi

tercantum pada literatur,yaitu pada data Menurut Doenges (1999), pada

sirkulasi ditemukan data hipertensi atau hipotensi sedangkan pada data

klien ditemukan data TD 120/80(tekanan darah normal), menururt teori


39

hipotensi terjadi mungkin dikarenakan adanya perdarahan sewaktu

cedera, tapi pada klien tidak ditemukan data hipotensi dikarenakan

kien mungkin mengalami perdarahan ringan,sedangkan menurut

Doenges (1999) hipertensi dikarenakan respon terhadap nyeri atau

cemas,pada klien ditemukan data nyeri dan cemas tapi tidak ditemukan

hipertensi,ini dikarenakan respon fisiologi klien bagus ditunjang leh

factor usia.

B. Diagnosa

Menurut bahan literature yang menjadi pedoman penulis,yaitu

Doenges (1999),diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien fraktur

adalah resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan

integritas tulang (fraktur),nyeri (akut) berhubungan dengan spasme

otot,gerakan fragmen tulang,edema dan cedera pada jaringan

lunak.alat traksi,stress / ansietas,resiko tinggi terhadap disfungsi

neurovascular perifer berhubungan dengan penurunan / interupsi aliran

darah :cedera vaskuler lagsung,edema berlebihan,pembentukan

thrombus,hipovolemi,resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas

berhubungan dengan perubahan aliran :darah/emboli lemak,perubahan

membran alveolar/kapiler ;intertitsil,edema paru,kongesti,kerusakan

mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka neurovascular:

nyeri/ketidaknyamanan.kerusakan jaringan / integritas kulit

berhubungan dengan cedera ;fraktur tebuka,bedah

perbaikan,pemasangan traksi pen,kawat,sekrup,perubahan


40

sesasi,sirkulasi;akumulasi ekskresi/secret,imobilisasi,resiko tinggi

terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan

primer :kerusakan kulit,trauma jaringan,terpajan pada

lingkungan,kurang pengetahuan tentang

kondisi ,prognosis,kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang

terpajan / mengingat,salah interprestasi informasi/tidak mengenal

sumber informasi.

Sedangkan saat pengkajian pada Tn.S tanggal 7 Agustus

ditemukan diagnose pre operasi yaitu Nyeri akut berhubungan dengan

diskontinuitas jaringan,Cemas berhubungan dengan rencana prosedur

operasi,sedangkan setelah operasi ditemukan diagnose Nyeri

berhubungan dengan luka pasca operasi,hipertermi berhubungan

dengan proses inflamasi,kerusakan imobilitas fisik berhubungan

dengan nyeri,resiko terhadap infeksi berhubungan dengan adanya

tidakadekuatnya terhadap pertahanan primer.

Pada pengkajian ditemukan beberapa diagnose keperawatan yang

tercantum dalam teori literature yaitu,nyeri (akut) berhubungan dengan

gerakan fragmen tulang, kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan

nyeri/ketidaknyamanan.,resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan

dengan tidak adekuatnya pertahanan primer.

Sedangkan diagnose dalam teori yang tidak diangkat saat

pengkajian yaitu,resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan

kerusakan integritas tulang (fraktur),karena penulis sudah mengangkat


41

diagnose gangguan imobilitas fisik sehingga resiko cedera trauma bisa

diminimalkan melalui intervensi diagnose kerusakan imobilitas fisik.

Yang kedua diagnose resiko tinggi terhadap disfungsi

neurovascular perifer berhubungan dengan penurunan / interupsi aliran

darah :cedera vaskuler lagsung,edema berlebihan,pembentukan

thrombus,hipovolemi,

Diagnosa resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas

berhubungan dengan perubahan aliran :darah/emboli lemak,perubahan

membran alveolar/kapiler ;intertitsil,edema paru,kongesti tidak diangkat

karena pada saat pengkajian tidak ditemukan data data yang

mendukung dengan resiko kerusakan pertukaran gas

seperti,hipoksia,takipnea,dispnea tetapi ditemukan data yaitu tidak ada

dispnea yang berhubungan dengan batuk/sputum, ,tidak menggunakan

alat bantu pernafasan.,frekuensi pernafasan 20 x/menit,kedalaman saat

inspirasi/ekspirasi simetris,tidak menggunakan otot aksesori,bunyi

nafas vesikuler, tidak ada sianosis.

Sedangkan diagnose kerusakan jaringan / integritas kulit

berhubungan dengan cedera ;fraktur tebuka, bedah perbaikan,

pemasangan traksi pen, kawat, sekrup, perubahan sesasi, sirkulasi;

akumulasi ekskresi/secret, imobilisasi

Diagnose kurang pengetahuan tentang kondisi

,prognosis,kebutuhan pengobatan tidak diangkat karena dalam

pengkajian tidak ditemukan data data tentang kurang pengetahuan


42

seperti berlatar belakang tingkat pendidikan SMA,kemampuan belajar

khusus,tidak ada keterbatasan dalam berpikir/kognitifnya,klien tidak

banyak bertanya tentang kondisi yang dialami.saat ditanya tentang

factor pnyembuhan luka dan berapa lama tahap penyembuhan klien

mampu menjawab sesuai kata dokter/perawat,klien Nampak

memperhatikan saat dokter visite/saat perawat member informasi

tentang penyakitnya.

C. Intervensi

Setelah menegakan diagnose maka penulis menyusun rencana

tindakan dengan tujuan mengatasi/menyelesaikan masalah yang

ditemukan oleh klien.

Dalam penyusunan intervensi ini ada beberapa intervensi teori

yang tidak dicantumkan dalam intervensi pengkajian,dikarenakan

dipengaruhi oleh factor lingkungan ,factor kondisi dan fasilitas ruangan

yang tidak mendukung dalam penyusunan intervensi.

Menurut Doenges,(1999),intervensi diagnosa nyeri terdapat 15

intervensi,tetapi penulis menyusun intervensi hanya 5 intervensi,

Dari intervensi Nyeri menurut Doenges (1999),yaitu

2.1 Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah

baring,gips,pembebat,traksi.

2.2 Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena.

2.3 Hindari penggunaan sprei/bantal plastic dibawah ekstremitas

dalam gips.
43

2.4 Evaluasi keluhan nyeri/ketidaknyamanan,perhatikan,perhatikan

lokasi dan karakteristik,intesitas (skala nyeri 0-10).

2.5 Perhatikan petunjuk non verbal(perubahan pada tanda tanda vital

dan emosi/perilaku)

2.6 Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah sehubungan

dengan cedera

2.7 Jelaskan prosedur sebelum memulai tindakan

2.8 Dorong menggunakan teknik manajemen stress,contoh

relaksasi,latihan nafas dalam,imajinasi visualisasi.

2.9 Lakukan dan awasi latihan gerak pasif / aktif.

Kolaborasi

2.10 Berikan obat sesuai indikasi :narkotik dan analgetik non narkotik

:NSAID injeksi contoh ketorolak(toradol);atau relaksan

otot,contoh;siklobenzaprin (flekseril).

Intervensi yang di susun oleh penulis semua tercantum menurut

teori,tetapi ada intervensi yang tidak dicantumkan dalam intervensi

pengkajian,yaitu pada intervensi 2.3,2.5,2.6,2.7,Pada intervensi 2.3

tidak dicantumkan karena tidak didukung oleh fasilitas

ruangan,sedangkan intervensi 2.5.2.6 dan 2.7 sudah tercakup pada

intrevensi 2.4
44

BAB V

PENUTUP

Asuhan keperawatan pada Tn.S dengan Fraktur Digit III Pedis

Sinistra yang dilakukan selama 3 hari yaitu dimulai dari tanggal 7

Agustus 2008 sampai dengan 9 Agustus 2008, yang telah dilakukan

penulis pada dasarnya untuk mengaplikasikan ilmu keperawatan yang

berdasarkan teori – teori keperawatan yang dituangkan dalam

kehidupan nyata dan realita, dan juga untuk meningkatkan kualitas

asuhan keperawatan .

A. Kesimpulan

1. Pengkajian

Asuhan keperawatan pada Tn.S,maka penulis dapat

menyimpulkan data dari pengkajian yaitu ditemukan data,pada pre

operasi Mengeluh nyeri pada kaki kiri bagian jari kaki.karena

kecelakaan,mengatakan cemas sehubungan dengan prosedur

operasi,dan data setelah operasi yaitu ;mengeluh nyeri pada

daerah luka pasca operasi yaitu di daerah jari kaki

kiri,mengatakan keterbatasan bergerak karena nyeri setelah

operasi.TD 120/80 mmHg,nadi 88 kali permenit,temp 380C

2. Diagnosa keprawatan

Berdasarkan hasil pengkajian penulis menemukan 6 diagnosa

keperawatan yang terdiri dari diagnose pre operatif dan diagnose


45

post operatif.Dimana 2 diagnosa pre operatif yaitu nyeri akut

berhubungan dengan diskontinuitas jaringan tulang,cemas

berhubungan dengan rencana prosedur operasi.sedangkan

diagnose post operatif adalah nyeri berhubungan dengan luka

pasca operatif,hipertermi berhubungan dengan proses

inflamasi,kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri,dan

resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengantidak

adekuatnya pertahanan primer.

3. Perencanaan keperawatan

Proses keperawatan merupakan tahap penting dalam proses

keprawatan karena akan membantu keberhasilan asuhan

keperawatan pada Tn. S dengan fraktur digit 3 pedis sinistra.

Setelah ditentukannya diagnose,maka penulis membuat

perencanaan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut,

dimana setiap diagnosa memiliki perencanaan keperawatan yang

sudah disesuaikan dengan teori keperawatan.Pada diagnose

Nyeri (pre operatif) penulis mencantumkan 5 intervensi

keperawatan,diagnose Cemas penulis mencantumkan 4 intervensi

keperawatan,diagnose Nyeri (post operatif) penulis

mencantumkan 6 intervensi,diagnose hipertermi 4

intervensi,diagnose kerusakan mobilitas fisik 5 intervensi dan

diagnose resti infeksi ada 5 intervensi.


46

4. Pelaksanaan

Pelaksanaan asuhan keprawatan dapat dilakukan, maka oleh

penulis tidak ada kendala yang berarti karena penulis mendapat

dukungan dari pihak Rumah Sakit tenaga perawatan ruang

Cempaka dan kesehatan yang lain dan pihak akademi.

Dalam melakukan implementasi keperawatan, penulis

mengalami sedikit kendala yang pertama kendala

fasilitas,misalnya saat merawat luka,alat perawatan luka tidak

mencukupi dan solusinya penulis meminjam alat pada ruangan

lain,kendala tenaga,:penulis tidak hanya memberikan asuhan

keperawatan pada Tn S tapi asuhan keperawatan diberikan juga

kepada pasien lain.Tapi dengan semangat dan motivasi tinggi

penulis dapat pelaksanaan asuhan keperawatan pada Tn.S sesuai

dengan yang dinginkan penulis.

5. Evaluasi

Evaluasi keperawatan dilakukan untuk menilai tingkat

keberhasilan dan asuhan keprawatan kepada Tn.S dengan

Fraktur digit 3 Sinistra tidak teratasi dengan baik karena, selain

masa tugas perawat yang singkat dan keadaan klien yang tidak

memungkinkan untuk mencapai tingkat keberhasilan yang baik

dalam waktu singkat.


47

Hasil dari melaksanakan semua perencanaan yang telah

dibuat penulis sudah sesuai dengan apa yang ada di teori

keperawatan yang digunakan penulis sebagai tolak ukur dalam

menentukan kriteria tingkat keberhasilan, sehingga semua

masalah yang ingin di atasi dapat terlaksana dengan hasil yang

baik.

6. Pendokumentasian

Tahap ini penulis mendokumentasikan setiap tindakan

keperawatan yang telah dilakukan sebagai tanggung jawab

perawata. Tidak ada kesulitan yang berarti karena adannya

kerjasama denga tim kesehatan yang lain yaitu, dokter, perawat

ruangan, ahli gizi dan, Lab.

Pendokumentasian dari semua kegiatan dilakukan setelah

melakukan tindakan, dimana dalam dokumentasi telah tercantum

semua yang telah dikerjakan penulis mulai dari pengkajian,

penentuan diagnose keperawatan, menyusun perencanaan,

melaksanakan isi dari perencanaan yang sesuai dengan kondisi

klien, dan mengevaluasi apakah masalah sudah teratasi atau

belum.

B. Saran – saran
48