Anda di halaman 1dari 20

ENERGI, AIR DAN PANGAN

SERTA TEKNOLOGI TEPAT GUNA ACEH UTARA

Kajian Hasil Riset Partisipatif Kebutuhan Teknologi Tepat Guna Di Kabupaten Aceh Utara

Penulis :
JUNI PRANANTA
DAFTAR ISI

Pengantar
Pendahuluan
Aceh Utara
Kebijakan pembangunan Aceh Utara
Lokasi kajian riset
Kayu masih menjadi sumber bahan bakar dominan rumah tangga
Minyak tanah sebagai energi penerangan
Akses listrik dikawasan dataran tinggi sulit
Besarnya potensi energi yang tidak termanfaatkan
Sumber penyediaan air bersih dominan adalah sumur gali
Sebagian masyarakat menggunakan air sungai dan hujan untuk minum
PDAM belum mampu menyuplai 50% kebutuhan air bersih Aceh Utara
Kebutuhan teknologi dan potensi air
Sumber bahan pangan
Kesimpulan
Daftar pustaka
PENGANTAR Dalam laporan ini dijelaskan bahwa upaya-upaya yang
selama ini dilakukan oleh masyarakat untuk mengelola sumber daya
Pergeseran peran teknologi yang mengakibatkan konsep alam ternyata sedikit banyaknya telah mengakibatkan kerusakan.
dasarnya sebagai sebuah media komunikasi umat manusia dengan Gambaran tentang pergeseran peran pada lingkup energi, air bersih
alam telah berubah. Dibanyak tempat teknologi telah dan pangan terlihat lambat laun mengakibatkan dependensi terhadap
mengendalikan manusia untuk mengeksploitasi alam lebih jauh dan kebutuhan teknologi dan bukan kebutuhan kehidupan. Sumber-
dalam. Saat ini, dimana globalisasi semakin mempersempit ruang sumber daya pun dikelola secara tidak berkelanjutan dan berakibat
dan waktu setiap aspek-aspek kehidupan, ketergantungan akan pada munculnya bencana yang selama ini tanpa sadar telah kita
teknologi semakin terlihat jelas. Ketimpangan sosial yang bangun bersama.
disebabkan oleh semua keterbatasan yang dimiliki oleh orang-orang
yang kurang beruntung mengakibatkan persaingan yang mencolok
dalam pengelolaan sumber daya alam. Teknologi mengambil peran
penting dimana manusia yang secara hakiki diciptakan sebagai Lhokseumawe 25 Maret 2009
khalifah yang berfungsi memimpin alam.
Riset partisipatif yang selama ini dilakukan oleh JINGKI
menggambarkan dengan jelas bahwa teknologi canggih dengan
segala kepraktisannya telah menciptakan ketergantungan. Perilaku Penulis
konsumtif pun terbentuk sebagai akibat dari pola pikir ingin praktis.
Sementara, teknologi tepat guna yang seharusnya menjadi
pendorong kedaulatan hanya dianggap sebagai “peninggalan kreasi
daerah”
PENDAHULUAN telah menambah semakin terpinggirkan keberadaan masyarakat
akan akses masyarakat untuk menciptakan inovasi teknologi yang

Tuntutan peningkatan pendapatan perkapita telah sesuai dengan kebutuhan dan kondisi setempat. Sebagian besar

mendorong negara untuk mengeksploitasi sumber daya alam secara upaya yang dilakukan cenderung mendatangkan teknologi dari luar

besar-besaran dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang tanpa dilakukan kajian mendalam akan dampak dan kesesuaian

sebesar-besarnya. Salah satunya cara adalah melalui penggunaan teknologi tersebut.

teknologi canggih yang padat modal serta memerlukan energi yang Masyarakat sebagai pelaku utama dari inovasi dan penerap

besar. Hal ini ternyata telah menyebabkan terpinggirkannya teknologi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan merupakan

masyarakat yang tidak memiliki modal yang cukup dalam komponen terpenting dalam riset yang menjadi acuan penulisan

pemanfaatan SDA khususnya masyarakat miskin local terutama buku ini. Secara individual pemahaman akan TTG cenderung

perempuan yang lebih jarang mendapatkan akses terhadap lamban bergerak di masyarakat sehingga tujuan pencapaian

pengelolaan sumberdya alam. Efek dari globalisasi yang teknologi tepat guna sebagai alat atau pintu masuk mencapai

mengarahkan manusia sebagai objek dari penerapan teknologi. perubahan sosial dan kedaulatan masyarakat cenderung akan

Sehingga mendorong pola pikir kebanyakan orang bahwa teknologi berjalan di tempat. Hal ini merupakan implikasi dari minimnya

adalah alat yang bukan lagi menjadi pembantu aktifitas manusia, akses informasi yang sampai di masyarakat bawah akan teknologi.

justru teknologi dipakai sebagai alat untuk menguasai manusia Padahal, dalam keseharian masyarakat sendiri, penerapan teknologi

lainnya. Hal ini diperparah akan dampak teknologi maju saat ini tepat guna tersebut sudah dilakukan sejak dahulu meskipun butuh

yang selalu menciptakan ketergantungan apabila tidak ada persiapan inovasi-inovasi baru yang merupakan pengembangan dari teknologi

penguasaan teknologi tersebut terhadap penggunanya. Upaya tersebut agar sesuai dengan masanya.

rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana tsunami di Aceh yang Buku ini berisi beberapa fakta yang menjelaskan bahwa

dilakukan oleh berbagai pihak baik dari dalam maupun luar negeri, tingkat kebutuhan akan teknologi tepat guna di Aceh Utara sangat
tinggi. Kemiskinan, ketergantungan dan terbatasnya akses informasi ACEH UTARA
menjadikan pengelolaan sumberdaya alam bukan atas kedaulatan
rakyat. Sementara, teknologi tepat guna yang seharusnya dapat Secara Geografis kabupaten Aceh Utara terletak pada posisi 4º
dijadikan sebagai alternatif driven, hanya dianggap sebagai sebuah 54' – 5º 18' Lintang Utara (LU) dan 96º 20' – 97 º 21' Bujur Timur
peninggalan kreasi daerah. (BT). Keadaan topografinya sangat bervariasi, dari dataran rendah
sampai berbukit dan sedikit pegunungan. Rata-rata ketinggian
daerah ini adalah 125 m di atas permukaan laut. Dataran rendah
pada umumnya terdapat di sepanjang kawasan pantai dan jalan
negara yang memanjang dari arah Barat ke
Timur, sedangkan dataran tinggi/perbukitan
dan pergunungan terdapat di sepanjang
daerah pedalaman di bagian selatan. Sekitar
43,6 % dari luas wilayah ini berada pada
ketinggian 25 - 500 m di atas permukaan
laut, sementara tingkat kemiringannya
sangat bervariasi, mulai datar sampai curam
Luas wilayah Aceh Utara kurang lebih
3.296,86 Km2 atau sekitar 329.686 Ha,
Wilayah tersebut terbagi 850 desa dan 2
kelurahan, yang terbagi ke dalam 56 buah
mukim dan 26 kecamatan. Kecamatan tersebut tersebar di 3 Kust Van Aceh (Kabupaten Aceh Utara) yang meliputi Aceh Utara
kawasan, yaitu ; dataran tinggi, dataran rendah dan kawasan pesisir. sekarang ditambah Kecamatan Bandar Dua yang kini telah
Sebanyak 780 desa berada di kawasan dataran rendah dan pesisir termasuk Kabupaten Pidie1
dan 70 desa di kawasan berbukit. Desa yang terletak di daerah
Afdeeling Noord Kust Aceh dibagi dalam 3 (tiga) Onder Afdeeling
berbukit dijumpai di 12 kecamatan.
(Kewedanaan) yang dikepalai seorang Countroleur (Wedana) yaitu :
Secara historis, Aceh Utara merupakan wilayah dimana
kerajaan islam besar berdiri. Kerajaan Islam di pesisir Sumatera
1. Onder Afdeeling Bireuen
yaitu Samudera Pasai yang terletak di Kecamatan Samudera
2. Onder Afdeeling Lhokseumawe
Geudong yang merupakan tempat pertama kehadiran Agama Islam
3. Onder Afdeeling Lhoksukon
di kawasan Asia Tenggara. Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh
mengalami pasang surut, mulai dari zaman Kerajaan Sriwijaya, Selain Onder Afdeeling tersebut terdapat juga beberapa Daerah
Majapahit, kedatangan Portugis ke Malaka pada tahun 1511 Ulee Balang (Zelf Bestuur) yang dapat memerintah sendiri terhadap
sehingga 10 tahun kemudian Samudera Pasai turut diduduki, daerah dan rakyatnya yaitu Wee Balang Keuretoe, Geurogok,
hingga masa penjajahan Belanda. Jeumpa, dan Peusangan yang diketuai oleh Ampon Chik. Pada masa
Belanda menguasai Aceh pada tahun 1904, yaitu ketika pendudukan Jepang istilah Afdeeling diganti dengan Bun, Onder
Belanda dapat menguasai benteng pertahanan terakhir pejuang Afdeeling disebut Gun, Zelf Bestuur disebut Sun, Mukim disebut
Aceh Kuta Glee di Batee Iliek di Samalanga. Dengan surat Kun dan Gampong disebut Kumi. Sesudah Indonesia
Keputusan Vander Geuvemement General Van Nederland Indie diproklamirkan sebagai Negara Merdeka, Aceh Utara disebut Luhak
tanggal 7 September 1934, Pemerintah Hindia Belanda membagi yang dikepalai oleh seorang Kepala Luhak sampai dengan tahun
Daerah Aceh atas 6 (enam) Afdeeling (Kabupaten) yang dipimpin
1
Monografi Aceh Utara tahun 1986, BPS dan BAPPEDA Aceh Utara).
seorang Asistent Resident, salah satunya adalah Affleefing Noord
1949. Melalui Konfrensi Meja Bundar, pada 27 Desember 1949 KEBIJAKAN PEMBANGUNAN ACEH
Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia dalam bentuk Negara UTARA
Republik Indonesia Serikat yang terdiri dari beberapa negara
bagian. Salah satunya adalah Negara Bagian Sumatera Timur. Dalam perencanaan pembangunan ekonomi berkelanjutan

Tokoh-tokoh Aceh saat itu tidak mengakui dan tidak tunduk pada Aceh Utara tahun 2009, sasaran pokok pemerintah daerah adalah :

RIS tetapi tetap tunduk pada Negara Republik Indonesia yang 1. Menurunkan jumlah penduduk miskin serta

diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. 2. terciptanya lapangan kerja yang mampu mengurangi
pengangguran
Pada tanggal 17 Agustus 1945 Republik Indonesia Serikat kembali 3. diversifikasi kegiatan ekonomi perdesaan dalam upaya
ke Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berlaku Undang memperluas akses masyarakat perdesaaan ke sumber daya
Undang Sementara 1950 seluruh negara bagian bergabung dan produktif
statusnya berubah menjadi propinsi. Aceh yang pada saat itu bukan 4. meningkatkan keberdayaan masyarakat perdesaan melalui
negara bagian, digabungkan dengan Propinsi Sumatera Utara. peningkatan kualitas, penguatan kelembagaan sosial
Dengan Undang Undang Darurat Nomor 7 tahun 1956 tentang masyarakat perdesaan
Pembentukan Daerah Otonom setingkat Kabupaten di Propinsi 5. membaiknya infrastruktur yang ditunjukkan dengan
Sumatera Utara, terbentuklah Daerah Tingkat II Aceh Utara yang meningkatkan kualitas dan kuantitas pembangunan serta
juga termasuk dalam wilayah Propinsi Sumatera Utara. sarana penunjang pembangunan.
Salah satu strategy yang dapat ditempuh adalah dengan
memaksimalkan peran-peran teknologi lokal yang berkelanjutan.
Sebaliknya, implikasi dari tidak terbendungnya teknologi dengan
orientasi industri telah merusak tatanan sosial kemasyarakatan di
Aceh Utara. Paradigma berfikir masyarakat cenderung berorientasi
pada penguasaan sumber daya, individualistis serta tidak lagi peka
terhadap norma-norma lingkungan. Seluruh sumber daya di
eksplorasi secara besar-besaran tanpa memikirkan keberlanjutannya.
Riset ini membuktikan ternyata teknologi canggih telah membantu
mempercepat pengelolaan sumber daya alam dengan orientasi
ekonomi kapitalistik. Hal ini akan terus mengalir jika tidak ada
upaya untuk membendung pesatnya kemajuan teknologi yang tidak
membumi tersebut. Peran serta pemerintah guna mendorong
pengembangan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan dinilai
sangat penting untuk saat ini. Sejalan dengan 5 sasaran pokok
pemerintah yang disebutkan diatas, penyebaran teknologi sederhana
hasil inovasi rakyat merupakan salah satu metode mudah yang dapat
menjadi affirmative action terhadap 5 capaian pembangunan
ekonomi berkelanjutan diatas
LOKASI KAJIAN RISET sebesar 238 responden. Pada tabel di bawah dapat dilihat detail
responden yang menjadi objek wawancara penelitian ini :
Tabel 1; Nama desa, kecamatan dan jumlah responden riset
Jumlah Responden
esuai dengan metodologi penelitian yang Kecamatan Nama desa
Laki-laki Perempuan
dikembangkan, maka didapatkan jumlah total responden yang
diwawancarai pada penelitian ini berjumlah 422 orang yang 1. Kutamakmur Panton rayeuk I 12 14
2. Nibong Keulilhei 11 7
mewakili 422 keluarga. Distribusi hak suara antara laki-laki dan
3. Langkahan Seureke 6 4
perempuan ditentukan oleh kuantitas yang berimbang antara laki- 4. Paya bakong Peurupok 13 9
5. Matang kuli Meunasah blang 11 11
laki dan perempuan atas 6. Sawang Teupin reusep 13 6
pembagian kategori 7. Nisam antara Seumirah 15 4
8. Cot girek Cot girek 10 10
mata pencaharian 9.Simpang keuramat Paya leupah 16 6
masing-masing 10. Tanah luas Rayeuk meunye 10 4
1. Lhoksukon Lhok sentang 9 5
responden disetiap desa 2. Baktiya Ujong dama 5 3
3. Syamtalira aron Meunasah U 9 4
dengan jumlah
4. Meurah meulia Baree blang 2 6
penduduk yang berbeda. 5. Tanah jambo aye Glp Umpung Unoe 11 4
6. Baktiya barat Matang Paya 10 6
Sehingga didapatkan 1. Tanah pasir Gampong pande 11 11
jumlah responden laki- 2. Samudera Tanjung hagu 8 8
3. Seunodon Teupin kuyuen 20 16
laki sebesar 184 dan 4. Muara batu Pinto makmu 3 9
responden perempuan 5. Dewantara Lancang barat 26 26
6. Syamtalira bayu Blang patra 7 11
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam pelaksanaan KAYU MASIH MENJADI SUMBER BAHAN BAKAR
penelitian yaitu pendekatan deskriptif dengan melakukan survei RUMAH TANGGA

korelatif serta komparatif. Metode pengumpulan data yang


Rata-rata masyarakat Aceh Utara masih menggunakan kayu
dilakukan adalah dengan studi dokumen, observasi, serta
bakar sebagai sumber energi yang digunakan untuk memasak.
wawancara langsung dengan respondens.
Penggunaan kayu bakar sebagai sumber energi domestik masih
Dalam menganalisis/olah data penelitian ini menggunakan
sangat tinggi. Dari data statistik riset pemkian kayu bakar rata-rata
teknik analisis rasional yang non parametrik. Metode pokok yang
per rumah tangga adalah 9,5 Kg/hari. Artinya, jika dari seluruh
menjadi acuan dalam pelaksanaan riset adalah penekanan partisipasi
responden riset terdapat 350 pengguna kayu bakar secara tetap
responden dan kesetaraan
setiap harinya maka 3,3 ton kayu bakar menjadi konsumsi tetap
setiap harinya bagi ketersediaan kebutuhan energi rumah tangga. Ini
merupakan gambaran kecil fenomena dominsi kayu bakar sebagai
sumber energi rumah tangga. 3,3 ton per hari merupakan konsumsi
350 keluarga yang diambil dari 420 responden.
Hal ini tentunya menggambarkan sebuah ancaman terhadap
hutan pemukiman maupun hutan-hutan yang terletak diluar kawasan
pemukiman penduduk. Jika ada 3,3 ton/hari kebutuhan kayu bakar
artinya akan terjadi penebangan kayu hutan sebesar 1.188 ton tiap
tahunnya dan ini akan benar-benar menjadi bahaya laten bagi
kelangsungan ekosistem serta ketahanan lingkungan terhadap
bencana.
MINYAK TANAH DOMINAN SEBAGAI ENERGI
Penggunaan sumber energi PENERANGAN

Penerangan Masak Lain-lain


Menurut data statistik Aceh Utara tahun 2008 angka konsumsi
400
350
349 BBM jenis minyak tanah adalah sebesar 20,4 Kiloliter dengan rata-
300 258 rata penggunaan oleh sekitar 95.320 KK penduduk adalah sebesar
Pengguna

250
200 0,6 liter/hari. Dari
150
101 hasil riset rata-rata
100
51
50
0
36
0
17
0
masyarakat
0
Kayu bakar Minyak tanah Gas
membutuhkan
Jenis
minimal 3 liter/hari
Grafik penggunaan 3 jenis sumber energi terhadap kebutuhan sehari-
minyak tanah untuk
hari
kebutuhan memasak
dan penerangan.
Artinya distribusi 0,6
liter/hari hanya
cukup bagi
kebutuhan
penerangan, itu
sebabnya mengapa kayu bakar menjadi dominasi sumber energi
rumah tangga yang dipakai untuk memasak telah menggantikan
fungsi minyak tanah. Hal ini terjadi pada sebagian besar wilayah- AKSES LISTRIK DIKAWASAN DATARAN TINGGI SULIT
wilayah dengan jarak akses yang sulit. Meskipun Aceh Utara
Akses bagi ketersediaan listrik yang sulit menjadi fakta bagi
menjadi penghasil bahan bakar migas sejak 30 tahun lalu, namun
daerah-daerah kawasan dataran tinggi di kabupaten Aceh Utara
fakta ini menunjukkan bahwa ketimpangan penguasaan sangat
seperti kecamatan Nisam antara, Kutamakmur, Sawang,
mencolok.
Matangkuli, Langkahan, Baktiya dan lainnya. Banyak desa-desa
Berbeda halnya dengan wilayah-wilayah pesisir, minyak tanah
diantara Kecamatan-Kecamatan tersebut “gelap dan terisolir listrik”
subsidi digunakan oleh sebagian besar nelayan untuk kebutuhan
desa Ujong Dama misalnya, hanya terdapat 2 keluarga yang
melaut. Minyak tanah ini digunakan pada mesin diesel boat dengan
rumahnya terpasang listrik PLN. Mahalnya biaya instalasi bagi
cara dioplos dengan solar. Sebagian besar pengoplosan dikendalikan
kawasan yang masih jauh dari gardu-gardu induk PLN menjadi
langsung oleh para toke bangku2
alasan utama masyarakat maupun pihak PLN atas lambannya
pelayanan listrik yang dimonopoli oleh Badan Usaha Milik Negara
tersebut. Beban pemasangan yang ditanggung oleh pelanggan
merupakan faktor utama penyebab keengganan masyarakat
mengakses listrik. Ditengah globalisasi dan kemajuan jaman dengan
penggunaan berbagai jenis teknologi serba praktis, kebutuhan listrik
mutlak menjadi hal primer dikarenakan sebagian besar teknologi
yang dikonsumsi masyarakat saat ini menggunakan listrik sebagai
satu-satunya energi yang dibutuhkan. Hal ini menjadi bukti bahwa
masyarakat Aceh Utara khususnya belum siap dalam menghadapi
globalisasi dan penggunaan teknologi yang mahal energi. Ditambah
2
Para pemilik boat nelayan
minimnya usaha pemerintah dalam menyikapi permasalahan ini BESARNYA POTENSI ENERGI YANG TIDAK
mengakibatkan daerah-daerah tersebut akan terus terisolir dalam TERMANFAATKAN

jangka waktu yang lama. Peran utama listrik bagi rakyat kecil
Permasalahan energi diatas seharusnya dapat dijawab dengan
digantikan oleh minyak tanah dan peran minyak tanah harus
melihat potensi sumber daya alam Aceh Utara yang begitu besar.
terbayar oleh penebangan kayu yang berakibat pada kerentanan
Pemanfaatan briket arang untuk mereduksi tingginya pemakaian
terhadap bencana.
kayu bakar sangat baik dikembangkan dan disosialisasikan di
masyarakat. Sedikitnya 308 ton/hari tempurung kelapa yang
dihasilkan dari 15.665 Ha luas areal penanaman kelapa di Aceh
Utara menjadi potensi besar untuk mereduksi pemakaian kayu bakar
yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk.
Ratusan sungai kecil maupun besar yang banyak terdapat dikawasan
dataran tinggi Aceh Utara menjadi potensi pengembangan listrik
microhydro yang dapat berkelanjutan. Fungsi sungai yang selama
ini hanya dimanfaatkan sebagai media distribusi air pertanian juga
dapat dimanfaatkan sebagai sumber penyedia energi listrik
berkelanjutan yang dapat dikelola secara mandiri oleh masyarakat
lokal setempat.
Jika ingin menggali lebih dalam, potensi energi energi alternatif
berkelanjutan yang terdapat di Aceh Utara khususnya sangat besar
dan beragam. Berikut data jenis dan ketersediaan sumber-sumber SUMBER PENYEDIAAN AIR BERSIH DOMINAN ADALAH
energi alternatif yang terdapat di Aceh Utara SUMUR GALI

Tabel ; jenis dan ketersediaan sumber energi alternatif di Aceh


Pemakaian sumur gali di sebagian besar penduduk Aceh
Utara
Jenis Potensi penggunan Ketersediaan Utara menjadi sumber utama dalam mendapatkan ketersediaan air
Aliran sungai Listrik microhydro Debit air : 88, 90 m3/detik
bersih. Di sebagian besar desa-desa yang menjadi lokasi survei
Potensi air : 2.804 juta m3/tahun
Tempurung kelapa Briket arang Kuantitas : 110.880 ton/tahun terlihat bahwa penggunaan air sumur gali menjadi sumber utama
Kotoran ternak Biogas Kuantitas :
pemenuhan kebutuhan air bersih yang digunakan untuk masak dan
a. Sapi : 1.292,20 Ton
kotoran/hari kebutuhan MCK (mandi, cuci dan kakus). Dominasi ini terjadi di
b. Kerbau : 462,7 Ton
kotoran/hari kawasan dataran tinggi. Sedikitnya ada 348 KK yang menggunakan
c. Lain-lain : 845,3 Ton
kotoran/hari air sumur gali untuk kebutuhan minum. Untuk kebutuhan MCK
Jarak pagar Biodiesel Potensi lahan : 15.500 Ha lahan
Kuantitas : 116,250 Ton/6 masyarakat juga menggunakan air sumur gali meskipun ada 78
bulan
Biji Karet Biodiesel Potensi lahan : 9.797 Ha Responden yang diwawancarai menggunakan air sungai.
Kuantitas :-
Kondisi ini menjadi hal yang dilematis, dimana pada musim
Molases tebu Bioethanol Potensi lahan : 49 Ha
penghujan sebagian besar air sumur gali menjadi sangat keruh
Kuantitas :-
Kecepatan angin Listrik tenaga kincir Kecepatan angin : 5 hingga 10 sedangkan dimusim kemarau airnya kering. desa Ujong Dama
Knots
Intensitas sinar matahari Listrik Solar cell Intensitas cahaya : 75 – 100 % misalnya, di desa ini terdapat 186 jiwa penduduk yang sehari-
di kawasan pesisir dan 40
hingga 70 % dikawasan dataran harinya terpaksa harus mengkonsumsi air sumur dengan kualitas
tinggi dengan rata-rata
temperatur berkisar antara 30 yang buruk. Rata-rata permasalahan air sumur gali di dataran tinggi
hingga 42 0C
Sumber : dikutip dari beberapa literatur adalah tingkat kekeruhan yang mencapai 200 NTU (satuan
kekeruhan air).
SEBAGIAN MASYARAKAT MENGGUNAKAN AIR ketersediaan air bersih terbatas masyarakat terpaksa harus
SUNGAI DAN HUJAN UNTUK KEPERLUAN KONSUMSI mengkonsumsi air tersebut
Lain halnya yang terjadi di kawasan dataran tinggi. Daerah-daerah
Air sungai dan hujan masih menjadi sumber air konsumsi
yang minim sumber air bersihnya mengakibatkan masyarakat harus
masyarakat terutama
mengkonsumsi air sungai. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya
di daerah-daerah
pilihan lain untuk memperoleh air. Kasus ini ditemukan disebagian
dengan sumberdaya
besar wilayah yang menjadi kawasan perkebunan seperti desa
air tanah yang kadar
Teupin Reusep Kecamatan Sawang dan Panton Rayeuk Kecamatan
garamnya tinggi. Hal
Kuta Makmur. Ada 16 dari 42 KK responden di dua desa tersebut
ini umumnya terjadi
yang menggunakan air sungai untuk konsumsi.
di kawasan pesisir.
Kecamatan Tanah
Jambo Aye, Baktiya,
Seunuddon serta
Samudera terbukti masyarakatnya masih mengkonsumsi air hujan
yang diperoleh dengan menampung cucuran hujan dari atap rumah.
Di desa Geulumpang Umpueng Unoe kecamatan Tanah Jambo Aye,
terdapat 15 dari 130 KK penduduk yang hingga saat ini masih
mengkonsumsi air hujan. Meskipun masyarakat menyadari bahwa
air tersebut tidak layak dikonsumsi, namun dikarenakan oleh
PDAM BELUM MAMPU MENYUPLAI 50 % KEBUTUHAN memperoleh akses instalasi PDAM hanya untuk beberapa rumah.
AIR BERSIH DI ACEH UTARA Kawasan dataran tinggi umumnya lebih sedikit memperoleh akses
dikarenakan oleh luasnya jangkauan serta sulitnya medan untuk
Dari 22 desa yang menjadi lokasi pelaksanaan riset, hanya 5 desa
pemasangan instalasi.
yang dapat mengakses pelayanan air bersih dari PDAM. Sebagian
Gambaran diatas sangat beralasan, menurut data BPS tahun 2007
besar desa-desa tersebut terletak dikawasan pesisir. Seperti desa
PDAM hanya dapat merealisasikan pemasangan instalasi air bersih
Teupin kuyuen, Geulumpang Umpung Onoe, Gampoeng pande dan
sebesar 40% dari seluruh cakupan di Aceh Utara.
lancang barat. Meskipun demikian pelayanan terhadap akses air
bersih di desa-desa tersebut masih sangat buruk. Desa Teupin
Kuyuen misalnya, masyarakat hanya dapat menikmati aliran air dari
PDAM hanya sekali dalam sebulan. Lain halnya yang terjadi di desa
Geulumpang Umpung Unoe. Meskipun sudah ada jaringan
pemipaan air milik PDAM yang dibangun sejak tahun 2000 silam,
namun aliran air bersih hanya dapat dirasakan satu kali pada saat
pemasangan pertama. Hingga saat ini, masyarakat desa tersebut
terpaksa harus mengkonsumsi air hujan dan sumur gali yang
rasanya payau karena sudah tidak ada lagi sama sekali aliran air dari
PDAM. Menurut hasil wawancara dengan masyarakat kondisi ini
terjadi karena terputusnya instalasi perpipaan pada saat konflik.
Ketersediaan air bersih di kawasan dataran tinggi masih sangat
minim. Desa Peurupok yang terletak di kecamatan Cot Girek
KEBUTUHAN TEKNOLOGI DAN POTENSI AIR partisipatif menjadi penting untuk diterapkan. Berbagai pilihan
teknologi sederhana pengelolaan air bersih seperti distilasi surya,
Kabupaten Aceh Utara memiliki lebih kurang 20 buah sungai induk system penyaluran meggunakan pompa vacuum serta penyaringan
sebagai sumber air permukaan yang terdapat di beberapa kawasan dengan karbon aktif sangat cocok diterapkan melihat potensi dan
dataran tinggi maupun rendah. Rata-rata debit air yang dihasilkan di keadaan alam di Aceh Utara.
sungai-sungai tersebut adalah 88,90 m3/detik pada musim hujan dan
sekitar 41,20 m3/detik pada musim kemarau. Namun kualitas air
yang buruk menyebabkan potensi air ini tidak layak digunakan
untuk kebutuhan sehari-hari.
Keterpaksaan yang menyebabkan masyarakat harus mengkonsumsi
air dengan kualitas yang buruk. Peran pihak terkait maupun tokoh-
tokoh adat dalam manajemen air juga akhir-akhir ini sudah tidak
lagi berfungsi. Umumnya masyarakat menggunakan pola-pola
sederhana dalam pengelolaan air untuk konsumsi. Penyaringan pasir
biasa, penampungan air hujan serta membuat sumur bor bagi yang
mampu menjadi alternative untuk memperoleh air bersih. Bagi
masyarakat di daerah pesisir terpaksa harus membeli air kemasan
atau isi ulang karena sumber air yang ada rasanya asin.
Padahal jika melihat potensi sumber air yang tersedia hal ini
merupakan pendukung solusi utama terhadap permasalahan air
bersih. Manajemen pengelolaan yang baik dan dilakukan secara
SUMBER BAHAN PANGAN gabah dan dijual sehingga ketersediaan pangan keluarga tidak
tersedia. Kasus ini juga terjadi pada sektor perkebunan dan kelautan.
Masyarakat selalu menjual hasil mentah dari produksi alamnya
Pada sektor pangan riset dilakukan guna mengetahui sejauh
untuk menutupi biaya hidupnya kemudian menggunakan uang hasil
mana ketahanan pangan yang dicerminkan oleh perilaku konsumtif
penjualan untuk membeli produk olahan dari bahan mentah yang
di 22 sample desa pada kabupaten Aceh Utara. Kebutuhan terhadap
dijualnya.
teknologi tepat guna di sektor ini dapat diindikasikan apabila
Gambaran diatas menggambarkan bagaimana ketergantungan
perilaku konsumtif masyarakat meninggi. Artinya jika pola
masyarakat dalam penggunaan teknologi pengolahan bahan pangan.
konsumsi meningkat akses dan kontrol masyarakat terhadap sumber
Pola konsumtif ini akan dapat direduksi apabila masyarakat
daya alamnya akan berkurang yang disebabkan oleh kapitalisasi
memiliki pengetahuan pengelolaan yang diimbangi dengan
penguasaan sumber daya alam lokal semakin meningkat.
ketersediaan bahan baku dan alat bantu.
Beberapa bahan pangan lebih besar didapatkan oleh
masyarakat dengan jalan membeli dibandingkan dengan hasil usaha
mereka sendiri (berkebun, bertani dan menangkap ikan) masyarakat
lebih memilih untuk membeli kebutuhan pokok mereka. Pada item
beras misalnya, hampir 95 % masyarakat yang diwawancarai
menerima beras bantuan dari pemerintah, namun mereka juga harus
membeli beras tersebut. Ironisnya dari 75 % petani yang menjadi
responden 60 % diantaranya mengakui bahwa mereka juga harus
membeli beras tersebut. Realita ini menunjukkan kerawanan pangan
yang diakibatkan oleh krisis knowledge. Petani hanya memproduksi
KESIMPULAN 4. Permasalahan air bersih di Aceh Utara bukan disebabkan
Dari beberapa uraian diatas telah nyata bagaimana sumberdaya alam oleh ketiadaan sumber dayanya, namun lebih disebabkan
aceh yang begitu besar belum dapat diolah menjadi barang jadi yang oleh minimnya pengetahuan akan pengelolaan serta
dibutuhkan dalam setiap aspek kebutuhan dasar masyarakat Aceh. manajemen air yang kurang baik
Dapat ditarik beberapa kesimpulan mengenai hal ini terutama 5. Pada bahan pangan pokok (beras), masyarakat masih
mengenai peranan teknologi tepat guna untuk pemanfaatan memiliki alternatif ketahanan pangan. Namun untuk bahan
melimpahnya sumber daya alam yang berkelanjutan, diantaranya pangan sekunder lainnya pola konsumtif semakin jelas
ialah: terlihat manakala tidak adanya diversifikasi produk
1. Ketergantungan energi di Aceh Utara akan selalu meningkat pertanian palawija disetiap kawasan.
seiring dengan tingkat pertumbuhan penduduk serta trend 6. Pola-pola peningkatan perekonomian yang dilakukan oleh
globalisasi dunia berbagai pihak terkait selama ini masih kurang tepat sasaran.
2. Ketiadaan akses listrik menjadi faktor x terhadap keberalihan Hal ini dikarenakan tidak adanya perencanaan yang
fungsi sumber-sumber energi lain yang apabila permasalahan dilakukan secara partisipatif dimasyarakat. Oleh karena itu
ini tidak dijawab akan muncul dampak-dampak kerusakan penelitian terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat
lingkungan menjadi penting untuk dijadikan acuan bagi perencanaan
3. Pola konsumtif air bersih yang disebabkan oleh trend serta pembangunan ekonomi
kebutuhan menjadi semakin meningkat seiring dengan
menjamurnya embrio-embrio privatisasi air seperti perusahaan
air minum dan usaha air minum isi ulang. Lambat laun hal ini
akan mengakibatkan masyarakat semakin konsumtif
DAFTAR PUSTAKA

1. Team riset, 2008. ”Data Hasil Penelitian Partisipatif


JINGKI institute” media JINGKI 2009
2. BPS-AU, 2006. ”Aceh Utara Dalam Angka” Badan
Pusat Statistik Aceh Utara 2006
3. Kasryno, F. 1998. Pemikiran Peningkatan Daya Saing
Komoditas Pertanian melalui Pemanfaatan Mekanisasi
Pertanian yang Ramah Lingkungan dalam Prosiding
Perspektif Pemanfaatan Mekanisasi Pertanian dalam
Peningkatan Daya Saing Komoditas. PSE, Badan Litbang
Pertanian.
4. Mugniesyah, S.S.M. 2001. Gender Analysis Pathway
Dalam Sektor Pertanian dan Perhutanan, WSP II,
BAPPENAS RI, Jakarta.
5. Ahmadi Partowiyoto, 2000. Pemberdayaan Teknologi tepat Guna
untuk Menumbuh kembangkan Industri Pertanian. Prosiding
Seminar Nasional Teknologi Tepat Guna. Diterbitkan Atas
Kerjasama Jurusan Teknologi Pertanian Unpad, UPT-TTG LIPI
Subang, PERTETA Cab.Bandung dan Sekitarnya.