Anda di halaman 1dari 12

the_wie

Sabtu, 23 Mei 2009


Kebutuhan Psikologi Ibu Hamil Trimester I, II dan III

1. TRIMESTER I

Sekarang wanita merasa sedang hamil dan perasaannya pun bisa menyenangkan
atau tidak menyenangkan. Hal ini dipengaruhi oleh keluhan umum seperti lelah,
lemah, mual, sering buang air kecil, membesarnya payudara. Ibu merasa tidak sehat
dan sering kali membenci kehamilannya perubahan emosi yang sering terjadi adalah
mudah menangis, mudah tersinggung, kecewa penolakan, dan gelisah serta seringkali
biasanya pada awal kehamilan ia berharap untuk tidak hamil.

Pada trimester ini adalah periode penyesuaian diri, seringkali ibu mencari tanda-
tanda untuk lebih meyakinkan bahwa dirinya memang hamil. ibu sering merasa
ambivalen, bingung, sekitar 80% ibu melewati kekecewaan, menolak, sedih, gelisah.
Kegelisahan timbul karena adanya perasaan takut, takut abortus atau kehamilan
dengan penyulit, kematian bayi, kematian saat persalinan, takut rumah sakit, dan lain-
lain. Perasaan takut ini hendaknya diekspresikan sehingga dapat menambah
pengetahuan ibu dan banyak orang yang membantu dan member perhatian. Oleh
karena itu sangat penting adanya keberanian wanita untuk komunikasi baik dengan
pasangan, keluarga meupun bidan.

Sumber kegelisahan lainnya adalah aktivitas seks dan relasi dengan suami.
Wanita merasa tidak mempunyai daya tarik, kurang atraktif adanya perubahan fisik
sehingga menjadi tidak percaya diri. Kebanyakan wanita mengalami penurunan libido
pada periode ini. Keadaan ini membutuhkan adanya komunikasi yang terbuka dan
jujur dengan suami. Perubahan psikologi ini menurun pada trimester 2 dan meningkat
kembali pada saat mendekati persalinan.
Kegelisahan sering dibarengi dengan mimpi buruk, firasat dan hal ini sangat
mengganggu. Dengan meningkatnya pengetahuan dan pemahaman akan kehamilan,
bahaya/risiko,komitmen untuk menjadi orang tua, pengalaman hamil akan membuat
wanita menjadi siap. Perasaan ambivalen akan berkurang pada akhir trimester 1
ketika wanita sudah menerima/ menyadari bahwa dirinya hamil dan didukung oleh
perasaan aman untuk mengekspresikan perasaannya.

Reaksi pertama seorang pria ketika mengetahui bahwa dirinya akan menjadi ayah
adalah timbulnya perasaan bangga atas kemampuannya mempunyai keturunan
bercampur dengan keprihatinan akan kesiapannya untuk menjadi seorang ayah dan
pencari nafkah untuk keluarganya. Seorang calon ayah akan sangat memperhatikan
keadaan ibu yang sedang mulai hamil dan menghindari hubungan seks karena takut
mencederai janin.

2. TRIMESTER II

Periode ini sering disebut periode sehat (radian health) ibu sudah bebas dari
ketidaknyamanan. Selama periode ini wanita sudah mengharapkan bayi. Dengan
adanya gerakan janin, rahim yang semakin membesar, terlihatnya gerakan bayi saat di
USG semakin meyakinkan dia bahwa bayinya ada dan dia sedang hamil. Ibu
menyadari bahwa bayinya adalah individu yang terpisah dari dirinya oleh karena itu
sekarang ia lebih fokus memperhatikan bayinya. Ibu sudah menerima kehamilannya
dan mulai dapat menggunakan energi dan pikirannya secara lebih konstruktif.
Sebelum adanya gerakan janin ia berusaha terlihat sebagai ibu yang baik, dan dengan
adanya gerakan janinia menyadari identitasnya sebagai ibu. Hal ini menimbulkan
perubahan yang baik seperti kontak sosial meningkat dengan wanita hamil lainnya,
adanya gelar calon ibu baru, ketertarikannya pada kehamilan dan persalinan serta
persiapan untuk menjadi peran baru.

Kebanyakan wanita mempunyai libido yang meningkat dibandingkan trimester I,


hal ini terjadi karena ketidaknyamanan berkurang, ukuran perut tidak begitu besar.

3. TRIMESTER III
Periode ini sering disebut priode menunggu dan waspada sebab pada saat itu ibu
tidak sabar menunggu kelahiran bayinya, menunggu tanda-tanda persalinan. Perhatian
ibu berfokur pada bayinya, gerakan janin dan membesarnya uterus mengingatkan
pada bayinya. Sehingga ibu selalu waspada untuk melindungi bayinya dari bahaya,
cedera dan akan menghindari orang/hal/benda yang dianggapnya membahayakan
bayinya. Persiapan aktif dilakukan untuk menyambut kelahiran bayinya, membuat
baju, menata kamar bayi, membayangkan mengasuh/merawat bayi, menduga-duga
akan jenis kelaminnya dan rupa bayinya.

Pada trimester III biasanya ibu merasa khawatir, takut akan kehidupan dirinya,
bayinya, kelainan pada bayinya, persalinan, nyeri persalinan, dan ibu tidak akan
pernah tahu kapan ia akan melahirkan. Ketidaknyamanan pada trimester ini
meningkat, ibu merasa dirinya aneh dan jelek, menjadi lebih ketergantungan, malas
dan mudah tersinggung serta merasa menyulitkan. Disamping itu ibu merasa sedih
akan berpisah dari bayinya dan kehilangan perhatian khusus yang akan diterimanya
selama hamil, disinilah ibu memerlukan keterangan, dukungan dari suami, bidan dan
keluarganya.

Masa ini disebut juga masa krusial/penuh kemelut untuk beberapa wanita karena
ada kritis identitas, karena mereka mulai berhenti bekerja, kehilangan kontak dengan
teman, kolega (Oakley, dalam Sweet,1999). Mereka merasa kesepian dan terisolasidi
rumah. Wanita mempunyai banyak kekhawatiran seperti tidakan meedikalisasi saat
persalinan, perubahan body image merasa kehamilannya sangat berat, tidak praktis,
kurang atraktif, takut kehilangan pasangan. Bidan harus mampu mengkaji dengan
teliti/hati-hati sejumlah stres yang dialami ibu hamil, mampu menilai kemampuan
coping dan memberikan dukungan.

IV.MENGURANGI DAMPAK PSIKOLOGIS IBU HAMIL TRIMESTER I, II,


DAN III

A. Support Keluarga
Dukungan selama masa kehamilan sangat dibutuhkan bagi seorang wanita yang
sedang hamil, terutama dari orang terdekat apalagi bagi ibu yang baru pertama
kali hamil. Seorang wanita akan merasa tenang dan nyaman dengan adanya
dukungan dan perhatian dari orang – orang terdekat.

1. Suami

 Dukungan dan peran serta suami dalam masa kehamilan terbukti


meningkatkan kesiapan ibu hamil dalam menghadapi kehamilan dan proses
persalinan, bahkan juga memicu produksi ASI. Suami sebagai seorang yang
paling dekat, dianggap paling tahu kebutuhan istri. Saat hamil wanita
mengalami perubahan baik fisik maupun mental. Tugas penting suami yaitu
memberikan perhatian dan membina hubungan baik dengan istri, sehingga
istri mengkonsultasikan setiap saat dan setiap masalah yang dialaminya dalam
menghadapi kesulitan-kesulitan selama mengalami kehamilan.

 Keterlibatan suami sejak awal masa kehamilan, sudah pasti akan


mempermudah dan meringankan pasangan dalam menjalani dan
mengatasi berbagai perubahan yang terjadi pada tubuhnya akibat hadirnya
sesosok “manusia mungil” di dalam perutnya.
Bahkan, keikutsertaan suami secara aktif dalam masa kehamilan, menurut
sebuah penelitian yang dimuat dalam artikel berjudul “What Your Partner
Might Need From You During Pregnancy” terbitan Allina Hospitals &
Clinics (tahun 2001), Amerika Serikat, keberhasilan seorang istri dalam
mencukupi kebutuhan ASI untuk si bayi kelak sangat ditentukan oleh
seberapa besar peran dan keterlibatan suami dalam masa-masa
kehamilannya.

 Saat hamil merupakan saat yang sensitif bagi seorang wanita, jadi sebisa
mungkin seorang suami memberikan suasana yang mendukung perasaan
istri, misalnya dengan mengajak istri jalan-jalan ringan, menemahi istri ke
dokter untuk memeriksakan kehamilannya serta tidak membuat masalah
dalam komunikasi. Diperoleh tidaknya dukungan suami tergantung dari
keintiman hubungan, ada tidaknya komunikasi yang bermakna, dan ada
tidaknya masalah atau kekhawatiran akan bayinya.

Menurut penelitian di Indonesia

Dukungan suami yang diharapkan istri:

1. Suami sangat mendambakan bayi dalam kandungan istri

2. Suami senang mendapat keturunan

3. Suami menunjukkan kebahagian pada kehamilan ini

4. Suami memperhatikan kesehatan istri yakni menanyakan keadaan


istri/janin yang dikandung

5. Suami tidak menyakiti istri

6. Suami menghibur/ menenangkan ketika ada masalah yang dihadapi istri

7. Suami menasihati istri agar istri tidak terlalu capek bekerja

8. Suami membantu tugas istri

9. Suami berdoa untuk kesehatan istrinya dan keselamatannya

10. Suami menungu ketika istri melahirkan

11. Suami menunggu ketika istri di operasi

2. Keluarga

 Lingkungan keluarga yang harmonis ataupun lingkungan tempat tinggal


yang kondusif sangat berpengaruh terhadap keadaan emosi ibu hamil.
Wanita hamil sering kali mempunyai ketergantungan terhadap orang lain
disekitarnya terutama pada ibu primigravida. Keluarga harus menjadi
bagian dalam mempersiapkan pasangan menjadi orang tua.

 Dukungan Keluarga Dapat Berbentuk :

- Ayah – ibu kandung maupun mertua sangat mendukung kehamilan ini

- Ayah – ibu kandung maupun mertua sering berkunjung dalam periode ini

- Seluruh keluarga berdoa untuk keselamatan ibu dan bayi

- Adanya ritual adat istiadat yang memberikan arti tersendiri yang tidak
boleh ditinggalkan

3. Lingkungan
Dukungan Lingkungan Dapat Berupa :

- Doa bersama untuk keselamatan ibu dan bayi dari ibu – ibu pengajian/
perkumpulan/ kegiatan yang berhubungan dengan sosial/ keagamaan

- Membicarakan dan menasehati tentang pengalamaan hamil dan melahirkan

- Adanya diantara mereka yang bersedia mengantarkan ibu untuk periksa

- Menunggui ibu ketika melahirkan

- Mereka dapat menjadi seperti saudara ibu hamil

B. Support Tenaga kesehatan

Tenaga kesehatan dapat memberikan peranannnya melalui dukungan :

 Aktif : melalui kelas antenatal

 Pasif : dengan memberikan kesempatan kepada ibu hamil yang mengalami


masalah untuk berkonsultasi.
Tenaga kesehatan harus mampu mengenali tentang keadaan yang ada disekitar
ibu hamil atau pasca bersalin, yaitu:bapak, kakak, dan pengunjung.

C. Rasa Aman Nyaman Selama Kehamilan

Peran keluarga khususnya suami, sangat diperlukan bagi seorang wanita


hamil. Keterlibatan dan dukungan yang diberikan suami kepada kehamilan akan
mempererat hubungan antara ayah anak dan suami istri. Dukungan yang
diperoleh oleh ibu hamil akan membuatnya lebih tenang dan nyaman dalam
kehamilannya. Hal ini akan memberikan kehamilan yang sehat. Dukungan yang
dapat diberikan oleh suami misalnya dengan mengantar ibu memeriksakan
kehamilan, memenuhi keinginan ibu hamil yang ngidam, mengingatkan minum
tablet besi, maupun membantu ibu malakukan kegiatan rumah tangga selama ibu
hamil. Walaupun suami melakukan hal kecil namun mempunyai makna yang
tinggi dalam meningkatkan keadaan psikologis ibu hamil ke arah yang lebih baik.

D. Persiapan Menjadi Orang Tua

 Kehamilan dan peran sebagai orang tua dapat dianggap sebagai masa transisi
atau peralihan

 Terlihat adanya peralihan yang sangat besar akibat kelahiran dan peran yang
baru, serta ketidak pastian yang terjadi sampai peran yang baru ini dapat
disatukan dengan anggota keluarga yang baru.

Peran orang tua sebagai proses peralihan yang berkelanjutan :

1) Peralihan menjadi orang tua merupakan suatu proses dan bukan suatu
keadaan statis

2) Berawal dari kehamilan dan merupakan kewajiban menjadi orang tua


dimulai

Peran orang tua sebagai krisis dibandingkan sebagai masa peralihan :


1) Perubahan ini dianggap suatu krisis apabila sangat hebat, sangat
mengganggu dan merupakan perubahan negatif

2) Perubahan kebiasaan yang mengganggu seperti:

- Perubahan kehidupan seksual

- Pola tidur dan lain - lain

Hal- hal yang perlu diperhatikan terhadap kehadiran dari bayi baru lahir
adalah:

- Temperamen

- Cara pasangan mengartikan stres dan bantuan

- Bagaimana mereka berkomunikasi dan mengubah peran sosial mereka

Peralihan menjadi orang tua

 Fase Penantian:

1. Berkaitan dampaknya pada kehamilan

2. Calon orang tua perlu menyelesaikan tugasnya untuk menjadi orang


tua, misalnya : pembagian tugas dalam keluarga

3. Pasangan dalam fase ini akan mengalami perasaan yang hebat,


tantangan, dan tanggung jawab.

 Fase bulan madu

1. Sangat berdampak pada masa puerpurium, perlu mendapat perhatian


pada askebnya

2. Bersifat psikis dan bukan merupakan saat damai dan gembura


3. Hubungan antar pasangan memiliki peran penting dalam membina
hubungan baru dengan bayi

4. Merupakan fase yang berat adaptasi dengan anggota baru

V. PERAN BIDAN

Bidan harus memahami berbagai perubahan psikologis yang terjadi pada


ibu hamil untuk setiap trimester agar asuhan yang diberikan tepat sesuai
kebutuhan ibu. Hal ini diperlukan ketelitian dan kehati-hatian bidan untuk
mengkaji /menilai kondisi psikologi seorang wanita hamil tidak hanya aspek fisik
saja. Memfasilitasi wanita agar mau terbuka berkomunikasi baik dengan suami,
keluarga ataupun bidan.

Dukungan psikososial selama kehamilan telah menunjukkan secara


signifikan dapat meningkatkan kesejateraan emosi. Dukungan psikososial dalam
hal ini, (Cobb, 1976) mendefinisikan dukungan psikososial sebagai informasi
yang membawa seseorang untuk mempercayai bahwa dirinya diperhatikan,
dicintai dihargai. Menurut Schumaker dan Brownell (1984) dukungan psikososial
adalah pertukaran sumber informasi antara minimal 2 individu, yang terdiri dari
provider dan resipien dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan resipien.

Dukungan psikososial ini akan melingdungi/mengurangi efek negatif dari


faktor resiko psikososial, Clupepper, Jack (1993) membagi resiko psikososial
menjadi 3 yaitu : karakteristik sosial/demografi : usia tua, muda, kurang
pendidikan, rumah yang tidak layak huni: faktor psikoligis :stress. Gelisah dengan
riwayat /sedang mengalami gangguan psikologis dan kebiasaan hidup yang
merugikan kesehatan : merokok, suka mabuk, pemakaian obat-obatan, obesitas,
terlalu kurus.

Adapun jenis dukungan psikososial yang dapat diberikan berupa esteem


support (dukungan untuk meningkatkan kepercayaan diri), informational support,
tangible support (sarana fisik) dan perkumpulan sosial. Power et al (1988)
membagi dukungan sosial menjadi 2 :

1. Emosional support : semua yang dapat meyakinkan/menjamin kedekatan dan


pengetahuan bahwa dia dicintai, diperhatikan dan deterima serta nasihat, saran
yang diberikan dapat dapat menimbulkan kepercayaan diri.

2. Practical support : meliputi semua aspek bantuan yang bertujuan membentuk


individu dari sebuah masalah berupa kegiatan fisik (action) seperti
meminjamkan uang, membantu tugasnya yang tidak bisa dikerjakan sendiri.

Bidan harus mampu mengidentifikasi sumber dukungan yang ada disekitar


ibu, mempelajari keadaan lingkungan ibu, keluarga, ekonomi, pekerjaan sehari-
hari. Perlu dipahami bahwa sumberdukungan psikososial yang paling besar
pengaruhnya pada individu adalah orang yang terdekat bagi mereka seperti
pasangan, teman baik, kerabat.

Diposkan oleh the_wie di 01:43

4 komentar:

Deni Setyawan mengatakan...

Terima kasih. Lengkap sekali.


Istri saya sedang menjalani kehamilannya yang ketiga. Mungkin ini pada tahap
trimester kedua. Gejala-gejala yang paling saya khawatirkan adalah dari segi
psikologisnya. Ia banyak kehilangan semangat dan mulai merasa capek meski
hanya ikut berekspresi ketika anak bermain, sehingga anak-anak seolah menjadi
susah diatur.
Apa yang mesti saya lakukan sebagai seorang suami dan bapak dari dua anak
laki-laki?

25 November 2009 07:27

the_wie mengatakan...
thankz, m'f ru bsa dblz...
mngkn byk lbih byk meluangkan wktu buat keluarga, dan mmbantu istri bpk utk
jga mngatur ank2..

5 Februari 2010 19:22

amrul mengatakan...

tengkiu yah bu' info nya

nice info.. :)

13 Februari 2010 21:55

the_wie mengatakan...

ok,,,sama2

27 Februari 2010 17:45

Poskan Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda


Langgan: Poskan Komentar (Atom)

Pengikut

Arsip Blog
• ▼ 2009 (8)
o ► Oktober (4)
 ► Okt 08 (3)
 Tanda – tanda kehamilan
 Premenstrual Syndrome (PMS)
 Proses Adaptasi Psikologis Ibu Dalam Masa Nifas
 ► Okt 07 (1)
 PARADIGMA KEBIDANAN
o ▼ Mei (3)
 ▼ Mei 23 (2)
 Metode kontrasepsi mantap dan hormonal
 Kebutuhan Psikologi Ibu Hamil Trimester I, II dan ...
 ► Mei 14 (1)
 kesehatan reproduksi
o ► Februari (1)
 ► Feb 28 (1)
 Bidan Sebagai Profesi

Mengenai Saya

the_wie
pekanbaru, riau, Indonesia
gw ankx supel, ga milih temen n suka berbagi satu sama laen..pokokx gw seh
asyk2 j slama org ga nyenggol gw.hehehe...pnddkan gw dimulai dr TK tunas
baru, SDN 004 ranah, SLTPN 1 kampar, SMUN 2 kampar, n AKBID medistra
lubuk pakam selanjutnya skrg gw jd mahasiswi D4 kebdanan UNPAD.
Lihat profil lengkapku