Anda di halaman 1dari 8

Atasi berbagai masalah di monitor dan kartu grafik Sebagai perangkat terampil, monitor

terkait erat dengan kartu grafik dan selalu dituntut untuk berkondisi stabil. Begitu
vitalnya alat output ini, sehingga jika ada gangguan harus segera diatasi. Lima
permasalahan monitor dan grafis ini merupakan hal yang kerap terjadi. Mungkin anda
pernah mengalaminya. Solusi yang kami berikan disini mungkinbisa Anda jadikan bahan
antisipasi.

1. Gambar di monitor terganggu dan berubah warna.

Solusi : Pastikan sambungan monitor ke PC tidak ada masalah. Perhatikan juga posisi
speaker, apakah terlalu dekat dengan monitor? Sebab, monitor sangat sensitive terhadap
pengaruh medan elektro magnetic, khususnya TV, Radio, Lemari es, dan lainnya. Ponsel
juga termasuk penyebabnya loh.

2. Monitor mati sendiri

Solusi : Coba peiksa pengaturan pada screen saver. Siapa tahu anda mengestnya terlalu
cepat (misalnya 1 menit). Periksa juga colokan power dan kabel monitor ke PC. Pastikan
sudah tertancap dengan benar dan kuat. Cek driver kartu grafik melalui dialog display
properties. Klik-kanan saja area kosong desktop, lalu pilih [properties], maka boks dialog
itu akan terbuka. Uahakan driver-nya cocok dengan kartu grafik yang anda gunakan.
Bukalah juga Control Panel. Lalu klik pada [System] [Device Manager] [Display
Adapter].

3. Gambar di monitor terlihat pecah

Solusi : permasalahan gambar pecah biasanya berkaitan dengan kartu grafik. Setelan
monitor dan memory. Ada kemungkinan kartu grafik anda tidak cukup untuk
menjalankan program beresolusi tinggi. Misalnya memainkan game 3D. Ganti dengan
yang lebih baik, dengan kapasitas memori yang lebih besar. Setelanmonitor juga
mempengaruhi kehalusan gambar.

4. Layar monitor hitam/blank stelah pengesetan display properties.

Solusi : penyetelan display sangat terkait dengan kemampuan kartu grafik. Terlebih jika
mengeset ke area layar yang lebih besar, masalah ini tidak akan terjadi. Sebaiknya setel
monitor dengan resousi yang sepadan dengan kartu grafik yang anda miliki. Setelah itu,
coba cek juga setelan maksimal yang bisa dicapai monitor.
5. Layar monitor buram.

Solusi : monitor kabur/buram disebabkan oleh setelan brightness dan contrast yang tidak
pas. Atur dengan menaikkan angkanya. Jika belum juga berhasi, mungkin saja umur
monitor anda sudah terlalu tua. Perubahan warna menjadi buram akibat kerusakan pada
sirkuit amplifier video. Biasanya gambar akan tampil jelas saat PC dinyalakan, tapi lama-
lama akan memburam. Deteksi kekencangan sambungan raster board dengan video
amplifier board.
Resensi Novel Laskar Pelangi
Admin on Mon Sep 29, 2008 10:14 pm

Ini adalah kisah heroik kenangan 11 anak Belitong yang tergabung dalam ”Laskar
Pelangi”: Syahdan, Lintang, Kucai, Samson, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Mahar,
Flo dan sang penutur cerita – Ikal. Andrea Hirata, yang tak lain adalah Ikal, dengan
cerdas mengajak pembaca mengikuti tamasya nostalgia masa kanak-kanak di pedalaman
Belitong yang berada dalam kehidupan kontras: kaya dengan tambang timah, tapi
rakyatnya tetap miskin dalam kesehariannya.

Ini adalah cerita tentang semangat juang menyala-nyala dari anak-anak kampung
Belitong untuk mengubah nasib melalui sekolah, yang harus mereka dapat dengan
terengah-engah. Sebagian besar orang tua mereka lebih suka melihat anak-anaknya
bekerja membantu orang tua di ladang, atau bekerja menjadi buruh kasar di PN Timah,
daripada sekolah yang tak jelas masa depannya.

Derita sekolah itu tergambar jelas ketika SD Muhammadiyah di kampung miskin itu
terancam tutup kalau murid baru sekolah itu tidak mencapai 10 orang. kesebelas anak
itulah yang telah menyelamatkan masa depan suar pendidikan yang hampir redup digilas
ekonomi.

Kesebalas anak itu memiliki keunikan masing-masing. Diantara 11 anak Laskar Pelangi
itu, Lintang dan Mahar adalah 2 diantara yang paling menonjol. Lintang jenius dalam
bidang eksakta, Mahar ahli di bidang seni budaya. Mereka seolah mewakili otak kanan
dan otak kiri manusia. Lintang memiliki semangat juang yang tiada tara dalam belajar.
Dia rela menempuh perjalanan dengan kereta angin sejauh 80 km pergi pulang demi
dapat memuaskan dahaga ilmu pegetahuan. Saking semangatnya hingga akan tercium
karet terbakar dari sepatunya yang aus digerus pedal sepeda. Jika ada aral melintang di
jalan dan terlambat sampai sekolah, tiada masalah baginya, asal dapat menyanyikan lagu
”Padamu Negeri” pada akhir jam pelajaran.

Novel Laskar Pelangi penuh dengan taburan wawasan yang luas bak samudra dari
penulisnya yang paham betul tentang ilmu eksakta, seni budaya, dan humaniora. Kita
akan dibuat tersenyum geli dari humor kecil yang dilontarkannya, terharu dan bahkan
menangis ketika membaca kisah heroik kesebelas anak Laskar Pelangi.

Filicium adalah pohon yang menjadi saksi seluruh drama kehidupan Laskar Pelangi.
Pohon itu menaungi sekolah mereka yang hampir roboh. Pohon itu menjadi markas setiap
pertemuan mereka: membicarakan soal-soal di sekolah, merancang karya untuk festival
17 Agustus, atau tempat Lintang memberi kuliah tentang ilmu fisika. Pohon itu pulalah
yang menjadi saksi kerinduan Ikal pada gadis manis keturunan cina, anak pemillik toko
Sinar Harapan yang memiliki jari lentik dan kuku cantik.

Anak-anak Laskar Pelangi itu hidup dalam kebahagiaan masa kecil dan menyimpan
mimpi masing-masing untuk hari esok. Tapi siapa yang sanggup melawan sang nasib?
Dua belas tahun kemudian, Ikal menyaksikan perubahan nasib teman-temannya yang
sungguh diluar dugaan. Sang nasib sungguh menjadi sebuah misteri yang maha gelap.
Anak-anak Laskar Pelangi itu boleh punya cita-cita setinggi langit, tapi nasib jualah yang
menentukan episode kehidupan mereka selanjutnya. Sang nasib bisa jadi adalah
ketiadaan kepedulian pemerintah akan bibit-bibit unggul mutiara anak bangsa yang harus
terhempas oleh himpitan ekonomi. Mereka adalah anak-anak harapan bangsa yang
terpaksa harus tunduk oleh gilasan nasib yang semestinya bisa diupayakan oleh
pemerintah yang punya amanah dan kuasa untuk memajukan pendidikan.

Lintang, sang jenius itu misalnya kini harus terpuruk jadi sopir tronton karena harus
menjadi tulang punggung keluarga, menjadi pengganti ayahnya. Tapi Lintang punya
jawaban, ” jangan sedih Ikal, paling tidak aku telah memenuhi harapan ayahku agar tidak
jadi nelayan….” Bagi Ikal, kata-kata itu semakin menghancurkan hatinya, ia marah,
kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena
alasan ekonomi. Ia mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri,
dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan.

Kekuatan novel ini terletak pada sentilan humaniora tentang pentingnya pendidikan
sekolah dan sekaligus kuatnya moral agama. Novel ini wajib baca bagi generasi muda
yang terlena dengan gelimang kemudahan ekonomi dan tak lagi kenal jerih payah untuk
menggapai masa depan. Novel ini juga wajib baca bagi para pendidik, bagi pemerintah
yang selalu alpa pada pentingnya pendidikan. Buah dari kealpaan itu diantaranya adalah,
kini kita menjadi bangsa yang sering menjadi bahan olok-olok oleh bangsa lain, karena
kita rajin mencetak manusia yang tak punya kualitas.

Kelemahan novel ini, menurut saya, hanya terletak pada cara mengakhiri cerita.
Semestinya, novel ini sudah ditutup pada bab 33: Anarkonisme, yang menceritakan
kejatuhan Babel (Bangka Belitung) yang dulu bergelimbang Timah. Bab 34: Gotik,
menurut saya menjadi ekor cerita yang membingungkan. Karena penutur ”Aku” secara
tiba-tiba menjadi orang lain, dan bukan lagi Ikal. Bab 34 ini menjadi sebuah
kemubaziran. Sama persis seperti seorang pelukis yang seharusnya berhenti menguaskan
catnya pada bidang lukis yang sudah sempurna, tapi kemudian menjadi berantakan
karena sebuah goresan yang tidak perlu.

Admin
Admin

Jumlah posting: 7
Join date: 28.09.08
Resensi Novel Laskar Pelangi
Admin on Mon Sep 29, 2008 10:14 pm

Ini adalah kisah heroik kenangan 11 anak Belitong yang tergabung dalam ”Laskar
Pelangi”: Syahdan, Lintang, Kucai, Samson, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Mahar,
Flo dan sang penutur cerita – Ikal. Andrea Hirata, yang tak lain adalah Ikal, dengan
cerdas mengajak pembaca mengikuti tamasya nostalgia masa kanak-kanak di pedalaman
Belitong yang berada dalam kehidupan kontras: kaya dengan tambang timah, tapi
rakyatnya tetap miskin dalam kesehariannya.

Ini adalah cerita tentang semangat juang menyala-nyala dari anak-anak kampung
Belitong untuk mengubah nasib melalui sekolah, yang harus mereka dapat dengan
terengah-engah. Sebagian besar orang tua mereka lebih suka melihat anak-anaknya
bekerja membantu orang tua di ladang, atau bekerja menjadi buruh kasar di PN Timah,
daripada sekolah yang tak jelas masa depannya.

Derita sekolah itu tergambar jelas ketika SD Muhammadiyah di kampung miskin itu
terancam tutup kalau murid baru sekolah itu tidak mencapai 10 orang. kesebelas anak
itulah yang telah menyelamatkan masa depan suar pendidikan yang hampir redup digilas
ekonomi.

Kesebalas anak itu memiliki keunikan masing-masing. Diantara 11 anak Laskar Pelangi
itu, Lintang dan Mahar adalah 2 diantara yang paling menonjol. Lintang jenius dalam
bidang eksakta, Mahar ahli di bidang seni budaya. Mereka seolah mewakili otak kanan
dan otak kiri manusia. Lintang memiliki semangat juang yang tiada tara dalam belajar.
Dia rela menempuh perjalanan dengan kereta angin sejauh 80 km pergi pulang demi
dapat memuaskan dahaga ilmu pegetahuan. Saking semangatnya hingga akan tercium
karet terbakar dari sepatunya yang aus digerus pedal sepeda. Jika ada aral melintang di
jalan dan terlambat sampai sekolah, tiada masalah baginya, asal dapat menyanyikan lagu
”Padamu Negeri” pada akhir jam pelajaran.

Novel Laskar Pelangi penuh dengan taburan wawasan yang luas bak samudra dari
penulisnya yang paham betul tentang ilmu eksakta, seni budaya, dan humaniora. Kita
akan dibuat tersenyum geli dari humor kecil yang dilontarkannya, terharu dan bahkan
menangis ketika membaca kisah heroik kesebelas anak Laskar Pelangi.

Filicium adalah pohon yang menjadi saksi seluruh drama kehidupan Laskar Pelangi.
Pohon itu menaungi sekolah mereka yang hampir roboh. Pohon itu menjadi markas setiap
pertemuan mereka: membicarakan soal-soal di sekolah, merancang karya untuk festival
17 Agustus, atau tempat Lintang memberi kuliah tentang ilmu fisika. Pohon itu pulalah
yang menjadi saksi kerinduan Ikal pada gadis manis keturunan cina, anak pemillik toko
Sinar Harapan yang memiliki jari lentik dan kuku cantik.

Anak-anak Laskar Pelangi itu hidup dalam kebahagiaan masa kecil dan menyimpan
mimpi masing-masing untuk hari esok. Tapi siapa yang sanggup melawan sang nasib?
Dua belas tahun kemudian, Ikal menyaksikan perubahan nasib teman-temannya yang
sungguh diluar dugaan. Sang nasib sungguh menjadi sebuah misteri yang maha gelap.
Anak-anak Laskar Pelangi itu boleh punya cita-cita setinggi langit, tapi nasib jualah yang
menentukan episode kehidupan mereka selanjutnya. Sang nasib bisa jadi adalah
ketiadaan kepedulian pemerintah akan bibit-bibit unggul mutiara anak bangsa yang harus
terhempas oleh himpitan ekonomi. Mereka adalah anak-anak harapan bangsa yang
terpaksa harus tunduk oleh gilasan nasib yang semestinya bisa diupayakan oleh
pemerintah yang punya amanah dan kuasa untuk memajukan pendidikan.

Lintang, sang jenius itu misalnya kini harus terpuruk jadi sopir tronton karena harus
menjadi tulang punggung keluarga, menjadi pengganti ayahnya. Tapi Lintang punya
jawaban, ” jangan sedih Ikal, paling tidak aku telah memenuhi harapan ayahku agar tidak
jadi nelayan….” Bagi Ikal, kata-kata itu semakin menghancurkan hatinya, ia marah,
kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena
alasan ekonomi. Ia mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri,
dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan.

Kekuatan novel ini terletak pada sentilan humaniora tentang pentingnya pendidikan
sekolah dan sekaligus kuatnya moral agama. Novel ini wajib baca bagi generasi muda
yang terlena dengan gelimang kemudahan ekonomi dan tak lagi kenal jerih payah untuk
menggapai masa depan. Novel ini juga wajib baca bagi para pendidik, bagi pemerintah
yang selalu alpa pada pentingnya pendidikan. Buah dari kealpaan itu diantaranya adalah,
kini kita menjadi bangsa yang sering menjadi bahan olok-olok oleh bangsa lain, karena
kita rajin mencetak manusia yang tak punya kualitas.

Kelemahan novel ini, menurut saya, hanya terletak pada cara mengakhiri cerita.
Semestinya, novel ini sudah ditutup pada bab 33: Anarkonisme, yang menceritakan
kejatuhan Babel (Bangka Belitung) yang dulu bergelimbang Timah. Bab 34: Gotik,
menurut saya menjadi ekor cerita yang membingungkan. Karena penutur ”Aku” secara
tiba-tiba menjadi orang lain, dan bukan lagi Ikal. Bab 34 ini menjadi sebuah
kemubaziran. Sama persis seperti seorang pelukis yang seharusnya berhenti menguaskan
catnya pada bidang lukis yang sudah sempurna, tapi kemudian menjadi berantakan
karena sebuah goresan yang tidak perlu.

Admin
Admin

Jumlah posting: 7
Join date: 28.09.08

Resensi Novel Laskar Pelangi


Ini adalah kisah heroik kenangan 11 anak Belitong yang tergabung dalam ”Laskar
Pelangi”: Syahdan, Lintang, Kucai, Samson, A Kiong, Sahara, Trapani, Harun, Mahar,
Flo dan sang penutur cerita – Ikal. Andrea Hirata, yang tak lain adalah Ikal, dengan
cerdas mengajak pembaca mengikuti tamasya nostalgia masa kanak-kanak di pedalaman
Belitong yang berada dalam kehidupan kontras: kaya dengan tambang timah, tapi
rakyatnya tetap miskin dalam kesehariannya.

Ini adalah cerita tentang semangat juang menyala-nyala dari anak-anak kampung
Belitong untuk mengubah nasib melalui sekolah, yang harus mereka dapat dengan
terengah-engah. Sebagian besar orang tua mereka lebih suka melihat anak-anaknya
bekerja membantu orang tua di ladang, atau bekerja menjadi buruh kasar di PN Timah,
daripada sekolah yang tak jelas masa depannya.

Derita sekolah itu tergambar jelas ketika SD Muhammadiyah di kampung miskin itu
terancam tutup kalau murid baru sekolah itu tidak mencapai 10 orang. kesebelas anak
itulah yang telah menyelamatkan masa depan suar pendidikan yang hampir redup digilas
ekonomi.

Kesebalas anak itu memiliki keunikan masing-masing. Diantara 11 anak Laskar Pelangi
itu, Lintang dan Mahar adalah 2 diantara yang paling menonjol. Lintang jenius dalam
bidang eksakta, Mahar ahli di bidang seni budaya. Mereka seolah mewakili otak kanan
dan otak kiri manusia. Lintang memiliki semangat juang yang tiada tara dalam belajar.
Dia rela menempuh perjalanan dengan kereta angin sejauh 80 km pergi pulang demi
dapat memuaskan dahaga ilmu pegetahuan. Saking semangatnya hingga akan tercium
karet terbakar dari sepatunya yang aus digerus pedal sepeda. Jika ada aral melintang di
jalan dan terlambat sampai sekolah, tiada masalah baginya, asal dapat menyanyikan lagu
”Padamu Negeri” pada akhir jam pelajaran.

Novel Laskar Pelangi penuh dengan taburan wawasan yang luas bak samudra dari
penulisnya yang paham betul tentang ilmu eksakta, seni budaya, dan humaniora. Kita
akan dibuat tersenyum geli dari humor kecil yang dilontarkannya, terharu dan bahkan
menangis ketika membaca kisah heroik kesebelas anak Laskar Pelangi.

Filicium adalah pohon yang menjadi saksi seluruh drama kehidupan Laskar Pelangi.
Pohon itu menaungi sekolah mereka yang hampir roboh. Pohon itu menjadi markas setiap
pertemuan mereka: membicarakan soal-soal di sekolah, merancang karya untuk festival
17 Agustus, atau tempat Lintang memberi kuliah tentang ilmu fisika. Pohon itu pulalah
yang menjadi saksi kerinduan Ikal pada gadis manis keturunan cina, anak pemillik toko
Sinar Harapan yang memiliki jari lentik dan kuku cantik.

Anak-anak Laskar Pelangi itu hidup dalam kebahagiaan masa kecil dan menyimpan
mimpi masing-masing untuk hari esok. Tapi siapa yang sanggup melawan sang nasib?
Dua belas tahun kemudian, Ikal menyaksikan perubahan nasib teman-temannya yang
sungguh diluar dugaan. Sang nasib sungguh menjadi sebuah misteri yang maha gelap.
Anak-anak Laskar Pelangi itu boleh punya cita-cita setinggi langit, tapi nasib jualah yang
menentukan episode kehidupan mereka selanjutnya. Sang nasib bisa jadi adalah
ketiadaan kepedulian pemerintah akan bibit-bibit unggul mutiara anak bangsa yang harus
terhempas oleh himpitan ekonomi. Mereka adalah anak-anak harapan bangsa yang
terpaksa harus tunduk oleh gilasan nasib yang semestinya bisa diupayakan oleh
pemerintah yang punya amanah dan kuasa untuk memajukan pendidikan.

Lintang, sang jenius itu misalnya kini harus terpuruk jadi sopir tronton karena harus
menjadi tulang punggung keluarga, menjadi pengganti ayahnya. Tapi Lintang punya
jawaban, ” jangan sedih Ikal, paling tidak aku telah memenuhi harapan ayahku agar tidak
jadi nelayan….” Bagi Ikal, kata-kata itu semakin menghancurkan hatinya, ia marah,
kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena
alasan ekonomi. Ia mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri,
dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan.

Kekuatan novel ini terletak pada sentilan humaniora tentang pentingnya pendidikan
sekolah dan sekaligus kuatnya moral agama. Novel ini wajib baca bagi generasi muda
yang terlena dengan gelimang kemudahan ekonomi dan tak lagi kenal jerih payah untuk
menggapai masa depan. Novel ini juga wajib baca bagi para pendidik, bagi pemerintah
yang selalu alpa pada pentingnya pendidikan. Buah dari kealpaan itu diantaranya adalah,
kini kita menjadi bangsa yang sering menjadi bahan olok-olok oleh bangsa lain, karena
kita rajin mencetak manusia yang tak punya kualitas.

Kelemahan novel ini, menurut saya, hanya terletak pada cara mengakhiri cerita.
Semestinya, novel ini sudah ditutup pada bab 33: Anarkonisme, yang menceritakan
kejatuhan Babel (Bangka Belitung) yang dulu bergelimbang Timah. Bab 34: Gotik,
menurut saya menjadi ekor cerita yang membingungkan. Karena penutur ”Aku” secara
tiba-tiba menjadi orang lain, dan bukan lagi Ikal. Bab 34 ini menjadi sebuah
kemubaziran. Sama persis seperti seorang pelukis yang seharusnya berhenti menguaskan
catnya pada bidang lukis yang sudah sempurna, tapi kemudian menjadi berantakan
karena sebuah goresan yang tidak perlu.