Anda di halaman 1dari 7

Nama : Palar Siahaan

NPM : 0806352372

Sumber :Jackson Nyamuya Magoto, Walking An International Law Tightrope: Use


Of Military Force To Counter Terrorism-Wlling The End, diakses dari
http//www.brooklaw.edu/students/journals/6jil/6jil31ii_maogoto.pdf

WALKING AN INTERNATIONAL

LAW TIGHTROPE:

USE OF MILITARY FORCE TO COUNTER

TERRORISM-WILLING THE ENDS

Pada hakekatnya, setiap negara menginginkan perdamaian, tidak ada perang ataupun
konflik. Keinginan akan perdamaian ini dibuktikan dengan pembentukan Liga Bangsa-bangsa
(LBB) yang merupakan cikal-bakal dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk
menhindari dan menghentikan perang. Namun, perdamaian tidak selalu berjalan lancer.
Runtuhnya LBB menjadi bukti bahwa peperangan selalu ada yang ditandai dengan
munculnya PD II. Baiknya, setiap negara menyadari betapa pentingnya perdamaian.
Pembentukan PBB menjadi bukti nyata bahwa perdamaian adalah mutlak bagi setiap negara
dan hingga sekarang tidak ada perang yang muncul secara terang-terangan.

Dewasa ini, perang sudah menjadi suatu hal yang tabu dan bodoh jika suatu negara
berperang. Suasana sistem internasional dirasakan sangat kondusif dan perdamaian telah
berlangsung cukup lama. Akan tetapi, ada satu masalah bersama yang dapat mengusik
perdamaian itu, bukan perang gaya modern, melainkan terorisme.

Kata terorisme berasal dari bahasa latin yakni Terrere (gemetaran) dan Deterrere
(takut)1. Defenisi terorisme, berdasarkan konvensi PBB tahun 1939, adalah segala bentuk
tindak kejahatan yang ditujukan langsung kepada negara dengan maksud menciptakan bentuk
teror terhadap orang-orang tertentu atau kelompok orang atau masyarakat luas. Sedangkan

1
Rosyada, S. H., Peperangan Melawan Terorisme,
http://www.pemantauperadilan.com/opini/28.PEPERANGAN%20MELAWAN%20TERORISME.pdf, diakses
pada tanggal 13 November 2009 pkl. 18.11

1
menurut Departemen Pertahanan Amerika Serikat, terorisme merupakan perbuatan melawan
hukum atau tindakan yang mengandung ancaman dengan kekerasan atau paksaan terhadap
individu atau hak milik untuk memaksa atau mengintimidasi pemerintah atau masyarakat
dengan tujuan politik, agama, atau ideologi. Jadi, berdasarkan penjelasan sebelumnya, kita
dapat memahami bahwa unsur utama dari terorisme adalah penggunaan kekerasan yang
dilatarbelakangi oleh motif-motif tertentu seperti motif perang suci (agama), motif ekonomi,
dan balas dendam, membebaskan tanah air, menyingkirkan musuh politik, dan bahkan
gerakan separatis.2

Faktanya, terorisme sudah ada bahkan jauh sebelum adanya perang pertama. Namun,
terorisme muncul dan mulai membahayakan perdamaian internasional pada abad ke-20,
tepatnya sejak periode pasca Perang Dunia II. Kemunculan terorisme internasional modern
pertamakali terjadi pada tanggal 22 Juli 1968 saat tiga orang dari kelompok Popular Front for
the Liberation of Palestine (PFLP) membajak sebuah penerbangan komersil Israel “El Al”
yang sedang terbang dari Roma, Italia ke Tel Aviv, Israel. Terorisme kemudian mencapai
puncaknya dan menjadi agenda internasional pada tanggal 11 September 2001 yang dikenal
dengan tragedi “nine eleven.” Dalam aksinya, teroris membajak tiga pesawat penerbangan
komersil Amerika Serikat yang mana dua dari tersebut ditabrakkan ke gedung kembar World
Trade Center (WTC) dan gedung pentagon. Tragedi ini kemudian menjadi titik tolak
Amerika yang kemudian mengajak dunia internasional untuk memerangi terorisme. Dari
sinilah kemudian dunia internasional memiliki kepentingan bersama (common interest) untuk
menangani terorisme.

Keinginan bersama untuk mengatasi permasalahan terorisme ini dituangkan dalam


berbagai peraturan internasional, mulai dari Convention for the Suppression of Unlawful
Seizure of Aircraft atau yang lebih dikenal dengan Hague Convention tahun 1970 hingga
Resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1368 tanggal 12 September 2001 yang berkaitan
dengan tragedi nine eleven3. Walaupun sangat terbatas, ada dua belas perjanjian internasional
yang juga berkaitan dengan terorisme4:

2
http://buletinlitbang.dephan.go.id/index.asp?vnomor=8&mnorutisi=2, diakses pada tanggal 13 November
2009 pkl. 18.15
3
Terorisme dalam Perspektif Hukum Internasional, http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-
makalah/hukum-pidana-internasional/terorisme-dalam-perspektif-hukum-internasional, diakses pada tanggal
13 November 2009 pkl. 18.19
4
Ibid, Terorisme dalam Perspektif Hukum Internasional

2
a) Convention on Offences and Certain Other Acts Committed On Board Aircraft
(“Tokyo Convention,” 1963),

b) Convention for the Suppression of Unlawful Seizure of Aircraft (“Hague


Convention,” 1970),

c) Convention for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Civil
Aviation (“Montreal Convention,” 1971),

d) Convention on the Prevention and Punishment of Crimes Against Internationally


Protected Persons (1973),

e) International Convention Against the Taking of Hostages (“Hostages Convention,”


1979),

f) Convention on the Physical Protection of Nuclear Material (“Nuclear Materials


Convention,” 1980),

g) Protocol for the Suppression of Unlawful Acts of Violence at Airports Serving


International Civil Aviation, supplementary to the Convention for the Suppression of
Unlawful Acts against the Safety of Civil Aviation (1988),

h) Convention for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Maritime
Navigation (1988),

i) Protocol for the Suppression of Unlawful Acts Against the Safety of Fixed Platforms
Located on the Continental Shelf (1988),

j) Convention on the Marking of Plastic Explosives for the Purpose of Detection (1991),

k) International Convention for the Suppression of Terrorist Bombing (1997 UN General


Assembly Resolution), dan

l) International Convention for the Suppression of the Financing of Terrorism (1999)


Cyber-terorisme.

Peraturan mengenai tindakan suatu negara dalam menanggapi aksi terorisme juga
tertera dalam piagam PBB. PBB, sebagai organisasi internasional terbesar di dunia,
mengharuskan tiap-tiap negara untuk menggunakan cara-d-cara damai, tiap negara anggota
PBB dilarang untuk menggunakan kekerasan.

3
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu dan keterbatasan perjanjian internasional
tersebut, banyak negara memilih mengambil tindakan sendiri sebagai respon dari pembelaan
diri/self-defence. Negara-negara tersebut mulai meragukan dan menganggap “collective
security” sudah tidak relevan lagi dewasa ini. Tidak jarang, suatu negara menggunakan
kekerasan dalam bentuk kekuatan militer untuk melawan terorisme. Padahal, penggunaan
kekerasan/kekuatan militer sangat bertentangan dengan isi piagam PBB seperti pasal 2 ayat 4
yang mengharuskan adanya kerjasama, serta pasal 51 yang mengharuskan penggunaan jalan
damai dalam menangani terorisme. Selain itu, dalam pasal 33 juga tertera dengan jelas
bahwa5:

“The parties to any dispute, the continuance of which is likely to endanger


the maintenance of international peace and security, shall, first of all, seek a
solution by negotiation, enquiry, mediation, concilliation, arbitration,
judicial settlement, resort to regional agencies or arrangements, or other
peaceful means of their own choice.”

Jadi, berdasarkan beberapa contoh pasal dalam Piagam PBB tesebut di atas, setiap
negara dalam upaya menangani terorisme harus menggunakan cara damai serta melakukan
kerjasama yang berarti menghindari tindakan sendiri/tanpa sepengetahuan negara lain. Dalam
Piagam PBB juga terdapat pengecualian yang memperbolehkan suatu negara untuk
menggunakan kekerasan dalam melawan terorisme. Akan tetapi, pengecualian itu berlaku
hanya jika negara bersangkutan diserang secara langsung terlebih dahulu oleh teroris.

Mengenai penggunaan kekuatan militer sebagai hak suatu negara dalam menangani
terorisme, terdapat tiga pemikiran yang memiliki argument berbeda satu sama lain.

1. The Restrictionist Approach

Pemikiran ini berpendapat bahwa penggunaan kekuatan militer /kekerasan tidak dapat
dibenarkan. Pengecualian seperti yang tertera pada pasal 2 ayat 4 dan pasal 51 berlaku
apabila suatu negara menghadapi serangan bersenjata secara nyata. Pemikiran ini juga
berpendapat bahwa, berdasarkan isi Piagam PBB, self defence hanya boleh dilakukan jika
yang melakukan serangan adalah negara.

2. The Counter-Restrictionist Approach

5
Ibid, Terorisme dalam Perspektif Hukum Internasional

4
Bertentangan dengan Restrictionist Approach, pemikiran ini membenarkan
penggunaan kekuatan militer dengan alasan untuk melindungi kedaulatan dan kemerdekaan
suatu negara. Selain itu, pemikiran ini juga menganggap setiap serangan dari luar, dalam
bentuk apapun, bisa saja dihadapi dengan kekuatan militer untuk mempertahankan
kemerdekaan, kedaulatan, batas wilayah, serta properti negara.

3. Anticipatory Self-Defence

Anticipatory self-defense atau yang sering disebut dengan pre-emptive self-defense


merupakan tindakan suatu negara untuk mengatasi terorisme sebelum aksi terorisme tersebut
terjadi. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah aksi terorisme terhadap suatu negara.

Contoh konkrit dari pemikiran ini misalnya serangan Israel terhadap Iraq tahun 1981.
Dengan dalih khawatir akan menjadi sasaran pengembangan senjata nuklir Iraq, Israel
menggunakan kekuatan militernya untuk menyerak kota Osirak, Iraq. Tindakan antisipatoris
Israel ini mendapat kecaman dari Dewan Keamanan PBB dan dunia internasional karena
pada hakekatnya, penggunaan kekerasan tidak dapat dibenarkan.

Kejadian serupa mengenai tindakan antisipatoris ini adalah invasi Iraq oleh Amerika
Serikat tahun 2001. Amerika menyatakan bahwa Iraq memiliki senjata pemusnah massal dan
keberadaan Saddam Husein yang disinyalir sebagai pemimpin jaringan teroris internasional,
Al Qaeda, sangat membahayakan keamanan internasional dan Amerika sendiri. Dengan aksi
antisipatorisnya, AS mengirimkan pasukan bersenjatanya ke Iraq. Namun, seperti Israel,
Amerika juga mendapat kecaman internasional karena, hingga sekarang, keberadaan senjata
nuklir di Iraq tidak dapat dibuktikan.

 Humanitarian Intervention

Di dalam Bab VIII Piagam PBB diatur dengan jelas mengenai humanitarian
intervention. Bab ini berkaitan dengan penggunaan kekuatan militer dalam menangani
terorisme. Apabila aksi terorisme telah melanggar Hak Azasi Manusia (HAM) dalam skala
yang besar serta negara yang bersangkutan tidak dapat mengatasinya dan mengancam
perdamaian internasional, maka terdapat pengecualian untuk menggunakan kekuatan militer.
Intervensi ini boleh dilakukan tanpa ada izin dari negara yang bersangkutan. Salah satu
contoh kasusnya adalah intervensi NATO di Yugoslavia, 24 Maret 1999. Pada saat itu,

5
terjadi pelanggaran HAM yang sangat berat oleh tentara Serbia yang membantai etnis di
Kosovo. Kasus ini menjadi masalah internasional dan dipandang sebagai aksi terorisme
karena mengancam perdamaian internasional dan bersifat tidak manusiawi, kejam, dan
terorganisir.

Selain itu, humanitarian intervention dapat dilakukan oleh negara tertentu, sekalipun
tanpa persetujuan PBB, jika ada warga sipil yang terjebak dalam perang6. Humanitarian
Intervention juga diatur dalam konvensi Genewa yang menjadi hukum perang.

 Memerangi Terorisme

Banyak pihak beranggapan bahwa penggunaan kekuatan militer dapat menghentikan


terorisme secara tuntas. kenyataannya adalah sebaliknya. Tindakan melawan terorisme
seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat, Inggris dan Australia terhadap Iraq dan
Afganistan memang terbukti efektif. Namun, itu hanya dalam jangka waktu yang sebentar
dan membutuhkan biaya yang sangat besar. Menindak para pelaku aksi terorisme dengan
kekerasan justru akan membuat mereka merasa seperti pahlawan. Fakta menunjukkan bahwa
membunuh pelaku, mengisolasi, dan memenjarakan pemimpin organisasi teroris dapat
menghentikan tindak terorisme, namun tidak berlangsung lama.7

Maka dapat kita simpulkan bahwa, bukan dengan kekerasan, sangatlah penting untuk
menerapkan cara-cara lain yang bersifat persuasif dan akomodatif terhadap kepentingan
berbagai kelompok yang dianggap berpotensi melakukan tindakan terorisme, seperti
kelompok yang termaginalisasi atau dirugikan atas penerapan kebijakan selama ini. Selain
itu, untuk menangani terorisme sebaiknya lebih mengedepankan solusi politik. Solusi politik
ditujukan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat dengan cara pertama,
merekonstruksi kebijakan terhadap kawasan konflik, dan kedua, menghentikan tindakan
unilateralisme dan mengedepankan multilateralisme8. Jadi, jelas bahwa penggunaan kekuatan
militer/kekerasan dalam melawan terorisme tidaklah selalu efektif.

6
Geoffrey Robertson, Crimes Against Humanity: The Struggle for Global Justice (England: Allen Lane The
Penguin Press, 1999), hlm. 156
7
Robert A. Pape, The Strategic Logic of Suicide Terrorism (2003), hlm. 14-15
8
http://www.ui.ac.id/download/kliping/210705/Solusi_Politik_Harus_Dikedepankan_Untuk_Terorisme.pdf,
diakses pada tanggal 13 November 2009 pkl. 18.07

6
Selain itu, penanganan terorisme harus dilakukan secara bersama-sama dan
melibatkan semua pihak karena, jika tidak, hanya akan menimbulkan kekacauan yang
baru.penggunaan kekuatan militer juga akan melanggar komitmen negara sebagai anggota
organisasi internasional, yakni menjaga dan menciptakan perdamaian internasional.