Anda di halaman 1dari 4

1

KONDISI KONTEMPORER PERS, PENGARUHNYA


TERHADAP EKONOMI NASIONAL

PENDAHULUAN

Membicarakan masalah ekonomi, tidak lepas dari tinjauan dari dua masalah yaitu ekonomi makro
dan ekonomi mikro. Paradigma yang terjadi dewasa ini berkaitan erat dengan ekonomi makro .
Ekonomi makro berkembang sebagai respon pemikiran terhadap masalah-masalah ekonomi, yaitu
mengarah kepada isu-isu pokok yang berkembang di zamannya.

Masalah yang muncul semakin lama semakin komplek, sehingga memerlukan teori-teori baru
untuk menerangkannya. Isu-isu tersebut mungkin sama dengan isu-isu ekonomi tahun sebelumnya
tetapi tidak sejenis dalam arti mempunyai karakteristik , dimensi dan ruang lingkup yang
berbeda.
Saat ini isu-isu ekonomi yang menjadi paradigma ekonomi tahun 2000-an dapat dikelompokan
menjadi enam masalah pokok, yaitu : Pengguran, Inflasi, Penurunan produktifitas, Tingkat bunga
yang tinggi , Defisit anggaran belanja dan defisit pada neraca perdagangan.
Kesemua masalah tersebut mendorong pemikiran-pemikiran baru yang menghasilkan paradigma-
paradigma baru dalam ekonomi makro pada tahun duaribuan.

MASALAH EKONOMI MAKRO


Tujuan ekonomi makro masih tetap berkisar pada output yang tinggi dengan tingkat
pertumbuhan yang tinggi, tingkat kesempatan kerja yang tinggi atau tingkat pengguran suka rela
yang rendah , stabilitas harga berlandaskan pasar bebas, keseimbangan neraca perdagangan yang
disertai dengan tingkat kurs yang relatif stabil.
Permasalahan ekonomi makro secara tradisional tetap menggunakan kebijakan :
a. Kebijakan fiskal yaitu pengeluaran dan pajak ,
b. Kebijaksanaan moneter yaitu melalui pengontrolan jumlah uang yang beredar untuk
mempengaruhi tingkat bunga,
c. Kebijakan perdagangan luar negri dan
d. Kebijakan pendapatan ( income policies)

Walaupun tujuan dan instrumen-instrumen makro dengan adanya isu-isu atau maslah-masalah
baru , mempunyai implikasi terhadap perkembangan ekonomi makro. Dalam situasi ekonomi yang
dangat dipengaruhi oleh pihak luar, IMF , bukan berarti kita tidak memepunyai kedaulatan untuk
mengurus ekonomi nasional, tatapi kita telah melakukan sesuatu untuk memulihkan krisis yang
berkepanjangan. Seperti kita ketahui bahwa krisis moneter di Indondesia banyak disebabkan
struktur ekonomi secara makro yang tidak kuat, serta aspek politik pada masa lalu.

Mengamati kondisi dan karakteristik yang ada di Indonesia serta melihat pengalaman beberapa
negara, maka ilmu ekonomi makro tahun duaribuan dilandasi paradigma-paradigma sebagai
berikut :

1
1. Teori pertumbuhan menjadi bagian integral dari ekonomi makro. Hal ini berkaitan dengan
permasalahan produktifitas, dampak jangka panjang dari kebijaksanaan moneter dan fiskal di
dalam mengurangi GNP gap.
2. Menuju kepada sintesa ekonomi mikro dan ekonomi makro . Hal ini berkaitan dengan masalah
produktivitas, output, employment dan inflasi, yang dapat dengan jelas diterangkan melalui
analisis aggregate demand dan aggregate supply.
3. Menuju kepada sintesa moneter. Kebijakan moneter telah digunakan bersama-sama dengan
kebijakan fiskal untuk mengurangi GNP gap.
4. Menuju kepada internasionalisasi makro ekonomi. Ditandai dengan semakin dimasukannya
ekonomi internasional kedalam ekonomi makro

Sedangakan masalah ekonomi nasional saat ini , dari hasil berbagai diskusi dengan data yang ada,
maka secara ekonomi makro , adalah sebagai berikut:
a. Kepercayaan masyarakat
b. Perekonomia yang merosot drastis ( growing pain )
c. Pemulihan ekonomi yang tidak lagi dapat disusun dalam kacamata ekonomi , semata, tetapi
juga solusi ekonomi harus dengan akar politik.
d. Ekonomi akan pulih jika politik mantap (settled)
e. Tidak adanya prestasi dan solusi dari pemerintah yang sekarang

Dari masalah-masalah tersebut telah dilakukan program-program kegiatan untuk mengatasinya


dengan beberapa solusi sebagai berikut:
1. Meringankan kesulitan hidup yang dirasakan masyarakat dalam jangka pendek
2. Mengupayakan penghimpunan bantuan asing sebanyak mungkin
3. Menghidupkan kembali sistem finansial yang diinjeksikan kedalam sistem
Langkah-langkah yang ditempuh dari permasalahan setiap sektor sebagai berikut:
a. Mengatasi masalah yang dihadapi sektor perbankan yaitu : Negatif kapital, dibutuhkan
rekapitalisasi , berarti membutuhkan investor baru, terutama investor asing
b. Hutang swasta , melalui INDRA ( Indonesia debt structuring agency), dan Prakarsa Jakarta (
Jakarta initiative taskforce )
c. Rasionalisasi subsidi, dengan membatasi subsisdi hanya untuk beras.
d. Mewaspadai inflasi
e. Mendorong ekspor. Problema ekspor Indonesia, sejak 1993 penekanan investasi pada industri
yang berorientasi dalam negri dari pada ekspor

Pinjaman yang diberikan CGI dan IMF hanya merupakan life vest (pelampung) dalam guncangan
ekonomi, untuk pertanyaan-pertanyaan menyangkut masalah ekonomi dan politik harus ditanganai
secara paralel

MASALAH EKONOMI MIKRO


Ekonomi mikro, pandangan dari pelaku ekonomi di masyatakat ( worm eye ), melalui aktivitas
produsen, konsumen dan tentu saja intervensi pemerintah, sedangkan makro ekonomi ( bird eye),
yang dibicarakan adalah masalah uang, pasar, barang dan perdagangan luar negri.

Menghadapi realita dimasyarakat, saat ini tuntutan pengembangan diarahkan kepada masalah
bisnis yang sedang berlangsung yaitu : Globalisasi ekonomi, Teknologi informasi, Quality
3

management, dan Organization systems, menyebabkan kebijakan perusahaan dituntut mengarah


kepada hal-hal sebagai berikut :
a. Lebih profesional dalam pengelolaan dan penggunaan sumber daya manusia ,
b. Ber ‘visi dan misi’ yang jelas serta diarahkan untuk efektifitas dan efisiensi operasi
diantaranya dengan cara outsourcing.
Hal ini akan mendorong timbulnya Business process reengineering,; suatu perubahan konsep yang
drastis terhadap proses bisnis, Total quality management,; mengutamakan kualitas dari hasil
pekerjaan secara menyeluruh, Agile competition; berkonpetisi secara mantap, Virtual
Corporation ; perusahaan dengan kendali ‘virtual’ ,dan penggunaan internet untuk kegiatan
strategis.

Pemanfaatan politik dan pers digunakan untuk mendukung strategi perusahaan : dalam rangka
menghadapi pesaing produk baru, substitusi produk, daya tawar konsumen dan daya tawar
pemasok

PERS , POLITIK DAN EKONOMI NASIONAL


Politik merupakan akar dan arah dari perubahan ekonomi, sedangkan pers sebagai alat kontrol
terhadap kebijakan yang diambil , Hal ini terjadi karena pers mempunyai kekuatan untuk
mensosialisasikan, menyebarluaskan , mengevaluasi melalui umpan balik dari masyarakat luas.

Dalam perkembangan teknologi informasi dan tuntutannya di masyarakat global saat ini, tanpa
sensor, tanpa izin SIUP, dan tanpa instansi departemen penerangan, maka situasi ini memaksa
pers untuk berubah menjadi media dengan ciri-ciri sebagai berikut : (a) Keterbukaan dan
transparansi, (b) Kebebasan berekspresi, (c) Penggunaan Teknologi informasi ,(d) Mengajari /
mendidik masyarakat mengetahui sesuatu, (e) Memandang masyarakat sebagai ‘share holders’,
serta (f) Berorientasi kepada ‘costomer satisfaction’

Berikut ini beberapa aplikasi pers dalam kegiatan ekonomi makro :


1. Penentuan kebijakan keuangan negara ; contoh, Penentuan penerapan CBS ( currency board
standard)
2. Perencanaan keuangan dalam APBN ; contoh Rencana penerimaan , pengurangan subsidi bahan
bakar dan listrik , rencana bantuan dan resep-resep IMF dalam rangka pemulihan krisis
moneter
3. Pelaksanaan kebijakan keuangan negara ; contoh : Kasus penyelewengan kredit BLBI yang
melanggar BMPK( batas maksimum pemberian kredit) , Kasus Bank Bali, BPPN, Korupsi Kolusi
dan Nepotisme oknum pejabat , kebijakan privatisasi BUMN ; listrik swasta,
4. Perubahan ekonomi strategis : misalnya: Rencana amandemen pasal 33 UUD 45 , organisasi
perdagangan dunia, WTO yang mengikat anggotanya.
5. Mendorong kebijakan pengawasan keuangan negara ; misalnya: Membicarakan dugaan
korupsi , yang mendorong kebijakan sistem pengawasan keuangan di tubuh POLRI, pada salah
satu acara dialog di TVRI
6. Menjaga tingkat inflasi, Menyelamatkan produk dalam negri ; misalnya kasus gula impor
ilegal , beras impor ilegal, tekstil dan produk tekstil ilegal, serta kendaraan ilegal

Sedangkan pada ekonomi mikro adalah sebagai berikut :


1. Pers sebagai ladang operasi bisnis ; Surat kabar, televisi swasta, internet yang sarat dengan

3
iklan, merupakan daya tarik bagi pengusaha
2. Pers pendukung kegiatan bisnis ; sebagai media untuk menyebarkan , mesosialisasikan produk
perusahaan dan proses transaksi bisnis
3. Pers untuk keunggulan strategi perusahaan ; sebagi media yang dapat diandalkan untuk lintas
batas organisasi ,dalam rangka keunggulan strategi perusahaan.
4. Pers dapat dugunakan sebagai pendukung dan pengambilan keputusan manjemen
5. Pers dapat mengatasi hambatan bisnis ; yaitu hambatan biaya; hambatan geograafis,
hambatan waktu dan hambatan struktural
6. Pers mendukung global manajemen ; ekspansi produk ke luar negri , memerlukan manajemen
sumber daya manusia yang berwawasan global.

Beberapa harapan kepada dunia pers , sekiranya dapat dijelaskan dengan baik kepada masyarakat
terhadap hal-hal berikut :
1. Proses keijaksanaan ekonomi indonesia ; kiranya mampu diterangkan fenomena perekonomian
indonesia dengan lebih baik.
2. Paradigma sintesa ekonomi makro dan mikro khususnya mengenai aggregate supply misalnya
mungkin dapat diterangkan lebih baik terjadinya “overheted” ekonomi indonesia. Yaitu gejala
kenaikan inflasi dan defisit neraca berjalan dengan investasi , yang sering diinterprestasikan
sebagai gejala moneter. Masalah overheated ekonomi itu adalah masalah aggregate
supply, yaitu yang disebabakan kendala-kendala karena kekurangan prasarana, tenaga trampil,
persediaan barang-barang kebutuhan pokok dan sebagainya.
3. Masalah defisit kembar ( defisit pada anggaran belanja dan defisit pada nerca transaksi
berjalan), harus dengan mudah dapat dipahami apabila dalam model pendapatan nasional telah
dimasukan variabel pada transaksi berjalan. Juga dapat dideteksi dengan lebih cepat
kecenderungan defisit pada neraca perdagangan karena GNP naik pertumbuhan impor akan
lebih cepat dari pada pertumbuhan ekspor.

Kesimpulan tidak kami lakukan, karena perkembangan ekonomi, kodisi dan karakteristik yang
dinamis menyebabkan kami lebih suka menyerahkan tugas ini kepada forum. Demikian pokok-
pokok pikiran untuk bahan didiskusikan dalam seminar nasional tentang kondisi pers Indonesia
pengaruhnya terhadap kebijakan-kebijakan politik dan ekonomi. Terima kasih.

Bandung, 30 Maret 2000

-----
Nanang Sasongko, Akuntan, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Achmad Yani
(UNJANI), kandidat Doktor dalam bidang Ilmu Ekonomi- Akuntansi pada Universitas
Padjadjaran Bandung.