Anda di halaman 1dari 22

Memahami Gejolak Ekonomi Indonesia dewasa ini

(Suatu tinjauan dari aspek Akuntansi Manajemen)


Oleh

I.Pendahuluan.

Gejolak ekonomi yang dimulai tanggal 14 Juli 1997 yang lalu hingga kini masih belum reda,

bahkan beberapa kalangan menyatakan bahwa pengalaman dibeberapa negara yang mengalami

“exchange rate turbulence” menunjukkan bahwa kembali ke keadaan ekuilibrium baru bisa

memakan waktu 3 bulan hingga 1 tahun. Inggris misalnya, ketika mengalami fluktuasi pound

sterling di tahun 1992, membutuhkan waktu hanya 2 bulan untuk kembali ke ekuilibrium baru

yang ternyata 15 % lebih tinggi (terdepresiasi). Perancis ditahun 1993, memerlukan waktu

sampai 6 bulan untuk mata uangnya kembali ke “pre-float level”, sedangkan Mexico pada masa

krisis tahun 1994 yang lalu mem-butuhkan waktu 1 tahun untuk mencapai ekuilibrium baru.

Pengalaman 3 negara ini sering disebut sebagai “clean floats” dimana boleh dikatakan proses

kembalinya kondisi nilai tukar ke ekuilibrium baru tidak menjadikan “collapse” perekonomian

negara-negara tersebut.

Walaupun pada akhirnya kembali ke keadaan ekuilibrium yang stabil, cerita dibalik proses

tersebut sangat berbeda-beda, Perancis berhasil kembali ke tingkat kurs sebelum terjadinya

floating, namun dengan melaksanakan TMP (tight money policy) yang sangat ketat sehingga

mengorbankan tingkat pertumbuhan ekonominya dan mengakibatkan tingkat pengangguran yang

cukup tinggi. Sebaliknya Inggris, dapat mengembalikan kestabilan mata uang nya, namun pada

tingkat 15 % lebih tinggi dari sebelum floating. Akibat floating ini dikabarkan bahwa

perekonomian dan ekspor Inggris malah ter dongkrak pada periode setelah floating. Dalam kasus

Mexico, loose monetary policy yang dijalankan pada saat floating (termasuk meningkatnya

Ekonomi Indonesia :Akuntansi Manajemen Halaman 1 1


money supply karena diperlukan untuk mensupport bank-bank yang hampir kolaps) ternyata

telah menyebabkan periode floating yang berkepanjangan.

Dalam keseluruhan kasus diatas, pemerintah negara-negara tersebut (bank central) terpaksa

harus berupaya kembali memupuk foreign exchange reserve mereka yang terkuras untuk

menstabilkan nilai tukar mata uangnya (Catatan : ketiga negara pada hakekatnya menganut fixed

exchange rate regime dengan cara menumpuk cadangan devisa yang besar untuk mengendalikan

fluktuasi). Ini berbeda dengan Indonesia yang tidak menghabiskan cadangan devisanya untuk

mengendalikan nilai tukar.

Keadaan di Indonesia terlihat pergerakan nilai rupiah terhadap dolar AS yang

menggambarkan peningkatan (terdepresiasi) yang cukup tajam sejak tanggal 14 Juli 1997 hingga

3 Oktober 1997. Dalam kurun waktu tersebut nilai rupiah terhadap dolar AS telah anjok sekitar

42 %. Kejadian ini tentunya menimbulkan berbagai pertanyaan di benak kita, seperti, apa sebab-

sebab terjadinya kejadian ini, dan sampai kapan akan tercapai ekuilibrium baru. Bagi beberapa

fihak bahkan ingin mengetahui sampai pada tingkat berapa ekuilibrium baru yang akan tercapai,

dan bagi khalayak pasti ingin mengetahui langkah-langkah apa yang akan dan harus dilakukan

oleh otoritas moneter untuk mencapai kestabilan kembali ? Ini semua akan menjadi topik untuk

didiskusikan .

II. Latar Belakang


Kejadian ini yang menimpa Indonesia tidak unik, melainkan terjadi pada negara ASEAN lain

secara hampir bersamaan. Sejumlah negara ASEAN saat ini mengalami hal yang serupa,

sehingga ada baiknya kita melihat latar belakang terjadinya peristiwa ini dan barangkali dapat

belajar dari peristiwa yang terjadi di negara lain.

Negara ASEAN yang pertama kali mengalami “serangan” oleh para spekulator pasar uang

adalah Thailand. Pada tanggal 2 Juli 1997, Pemerintah Thailand terpaksa mengambangkan mata

uangnya setelah terjadi krisis pada sektor keuangannya. Akibatnya, pada keesokan harinya nilai

Bath langsung anjok hingga 22 % dipasar uang. Ini adalah triggering factor yang kemudian

menyulut kemelut jatuhnya mata uang negara ASEAN lainnya. (moment ini oleh Bpk. Rizal

Ramli , dalam suatu seminar disebut sebagai Phatphong effect, istilah yang cukup

mengingatkan kita pada sisi gelap kehidupan sosial di Thailand, sedangkan Bpk. Marzuki

Usman, mengatakan sebagai Chiang Mai effect, menggambarkan keindahan negeri Thailand)

Jatuhnya mata uang Thailand sudah diantisipasi oleh sebagian pengamat pasar uang

internasional dari berbagai indikator. Sebenarnya kinerja pertumbuhan ekonomi Thailand

selama sepuluh tahun kebelakang menunjukkan peningkatan yang tinggi bahkan mungkin terlalu

tinggi. Konfident yang besar telah membawa ekspansi ekonomi yang cukup kuat pula, dan

diwarnai meningkatnya arus modal jangka pendek yang cukup mengkhawatirkan. Serangkaian

kebijaksanaan moneter berupa kontrol melalui instrumen perbankan pernah dicoba tahun yang

lalu untuk mem “filter-out” modal jangka pendek yang bertujuan spekulatif, dengan berbagai

cara antara lain memajaki hasil deposito account orang asing Thailand, memberikan limit yang

cukup ketat pada net foreign position perbankan dan sejenisnya. Perlu diketahui, arus masuk

modal jangka pendek juga “menyerang” negara-negara ASEAN yang lain seperti Malaysia dan

Ekonomi Indonesia :Akuntansi Manajemen Halaman 3 3


Indonesia

Sementara itu walaupun pertumbuhan ekonomi tetap tinggi, defisit neraca berjalan

meningkat dengan cukup mengkhawatirkan hingga mencapai 8 % GDP. Ekonomi Thailand sejak

tahun lalu mengalami “overheating” yang cukup mengkhawatirkan , yang disebabkan oleh

banyaknya investasi di bidang real estate yang “ highly leveraged”. Pembangunan disektor

properti yang melonjak menyebabkan penerimaan yang tidak cukup untuk menutup kewajiban-

kewajiban kepada bank akibat pinjaman tersebut. Dengan menganut kebijaksanaan fixed

exchange rate regim yang dipertahankan selama ini, kesemua hal diatas menjadikan Thai Baht

sebenarnya sudah “overheated” dari sejak lama. Dari gambaran diatas bahkan terlihat bahwa

beberapa bulan menjelang Efek Thailand terjadi, Thai Baht justru “appreciated” yang jelas

merugikan sektor ekspornya.

Dengan membiarkan mata uangnya overvalue berkepanjangan, sebenarnya pemerintah

Thailand telah menjadikan dirinya sebagai sasaran empuk para spekulan pasar uang yang pasti

menduga akan terjadinya “koreksi” atas Bath.

Institusi-institusi keuangan internasional sudah memberikan advisnya agar pemerintah Thailand

meminta asistance dari IMF, namun seperti dirilis oleh publikasi resmi pemerintah Thailand,

kemajuan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik , telah menjadikan otoritas moneternya over-

confident dan tidak segera bertindak.

Pada akhirnya , setelah terjadi krisis keuangan terjadi dan depresiasi sudah hampir

mendekati 40 % sejak deklarasi floating, dengan terpaksa pemerintah Thailand harus mencari

bantuan keuangan dari IMF namun dengan persyaratan yang sangat pahit. Obat yang sangat

pahit, yang disepakati tanggal 5 Agustus ini antara lain berupa :


1. Kenaikan Value Added Tax dari 7 % menjadi 10 % untuk meningkatkan penerimaan negara.

2. Reduksi current account deficit, dari 8 % GDP di tahun 1996 menjadi 5 % GDP ditahun 1997

dan 3 % GDP di tahun 1998 yang berarti reduksi import secara besar-besaran, kalau ekspor

tidak bisa meningkat

3. Sementara itu inflasi harus dapat ditekan setinggi-tingginya hanya boleh mencapai 8-9 persen

4. Public spending harus dikurangi menjadi seminimal mungkin dan hanya diperbolehkan untuk

keperluan esensial seperti public health, education, social welfare, dan infrastructure.

Sebagai tambahan, untuk memperbaiki struktur sistem finansial, pemerintah Thailand dengan

kehendak sendiri telah menutup 58 lembaga keuangan termasuk bank yang sudah tidak sehat.

Dari kebijaksanaan diatas dapat dibayangkan betapa dimasa mendatang pertumbuhan

perekonomian Thailand hampir dipastikan akan merosot dan tingkat pengangguran akan

meningkat, belum lagi menanggung beban hutang ( dan bunganya) kepada IMF. Sungguh suatu

ironi yang menyedihkan bagi sebuah negara berkembang yang tengah mengalami kebahagiaan

atas pertumbuhan ekonomi yang cukup baik selama ini.

III. Mereview Keadaan ekonomi di Indonesia

Bagaimana dengan di Indonesia ? Apakah gejolak yang menimpa Rupiah saat ini hanya

karena “imbas” yang dialami oleh Bath, atau memang sebenarnya perekonomian kita memang

tengah mengalami penyakit kronis yang menggrogoti dari dalam sehingga jatuh tunggang

langgang ketika terkena imbas serangan para spekulan valas?

Ekonomi Indonesia :Akuntansi Manajemen Halaman 5 5


Bukankah semua fihak seolah-olah sepakat bahwa fundamental ekonomi Indonesia jauh lebih

baik dari Thailand maupun Mexico, tetapi mengapa nilai rupiah terus merosot selama tiga bulan

ini masih menunjukkan kecenderungan merosot terus? Adakah berbagai alternatif respon

ataupun kebijaksanaan otoritas moneter yang tepat untuk ini, dan manakah yang terbaik untuk

kondisi ekonomi kita ? Pertanyaan ini memang sulit dijawab, dan saya ber pretensi apapun

untuk berlagak sok tahu tentang jawabannya.

Namun ada baiknya kita mereview beberapa kondisi yang ada sebelum krisis terjadi dan

berbagai langkah yang telah diambil selama krisis ini berlangsung.

Dengan mereview kedua hal diatas , secara implisit saya berpendapat bahwa, analisis

fundamental ekonomi dalam mencoba “mengupas” penyebab kejadian adalah sangat perlu .

Namun difihak lain, kita kutip kata-kata Julian Walmsley seorang periset yang sekaligus

eksekutif pasar uang, dalam bukunya : The Hand Book of Foreign Exchange and Money Market

Guide” yang menyatakan bahwa :

“ ... despite all the electronic hardware that has been brought to bear on global financial

markets, the market is still only a collection of people. It will reflect their moods, their hopes,

and their fears. Even the most exactly calculated arbitrage position could be blown out of the

water because the rest of the market suddenly goes crazy.”

Dengan kata lain, bahwa “ sentimen pasar” terlepas dari rasional atau setidaknya sentimen

tersebut, juga turut menciptakan pergerakan dipasar uang, khususnya pada saat-saat turbulence

terjadi dan berkepanjangan. Pada saat itu, kepercayaan pasar akan sensitif terhadap perilaku
kebijaksanaan moneter dan sinyal-sinyal yang diterima oleh dunia pasar uang, walaupun

fundamental ekonomi menunjukkan hal yang lain. Salah satu contoh bahwa sentimen pasar

dipercaya sangat berperan dalam jangka pendek, otoritas moneter dan bahkan pimpinan tertinggi

negara di Malaysia misalnya, baru-baru ini menyempat kan diri melakukan serangkaian

kampanye , dalam rangka “confidence building” di pasar uang.

Fundamental ekonomi, perekonomian kita memang masih jauh lebih baik dari Thailand.

Pertumbuhan yang cukup stabil selama dekade terakhir sekitar 7 %, defisit transaksi berjalan

yang hanya sekitar 3-4 % dari DGP, inflasi yang cukup terkendali, dan cadangan devisa yang

cukup menjamin impor sampai lebih dari 4 bulan impor. Namun sebagian pengamat per

ekonomian ada yang berpendapat bahwa “manage floating” nilai rupiah terhadap dolar AS pada

tahun yang lalu dirasa masih “kurang pas” sehingga rupiah dianggap “over value”. Namun

memang tidak mudah untuk menghitung apakah suatu currency itu overvalued atau undervalued.

Contohnya adalah dari cara penghitungan real exchange rate yang konvensional dengan

memperhatikan tingkat inflasi didalam negeri maupun di negeri partner dagang kita, bisa terjadi

bahwa tingkat inflasi yang semakin membaik di negara partner dagang dapat menjadikan mata

uang kita overvalued walau tingkat inflasi domestik dapat dipertahankan stabil pada rate yang

sama. Ini baru satu variabel, belum lagi mempertimbangkan suku bunga dan pertumbuhan

likuiditas yang juga berubah-ubah. Dengan kata lain nilai rupiah juga sangat sensitif terhadap

kondisi perekonomian dan kebijaksanaan moneter dari major trade partner kita diluar negeri.

IV. Fluktuasi Rupiah selama ini

Proses fluktuasi rupiah sejak pertama terpuruk dapat dibagi 5 tahap dimana terjadi

Ekonomi Indonesia :Akuntansi Manajemen Halaman 7 7


peningkatan yang cukup tajam, masa diantaranya adalah dimana nilai rupiah kembali menguat

atau “levering off”, masa depresiasi, dan sebaliknya yang diduga mendorong ke arah appresiasi.

Menarik diamati, bahwa pada tahap krisis yang pertama trigering factornya (bukan faktor

penyebab) adalah berita tentang kredit macet perbankan sebesar 10,23 trilliun rupiah tanggal 10

Juli disusul oleh pengumuman pelebaran batas kurs intervensi menjadi 12 % oleh BI. Setelah

mencapai peak tanggal 20 Juli 1997, kurs rupiah “leveling off” di sekitar Rp. 2.600/US$ sampai

tanggal 8 Agustus 1997. Diperkirakan hal ini di support oleh penghentian perdagangan SBPU

(Surat Berharga Pasar Uang) tanggal 30 Juli 1997 dan Intervensi BI di pasar forward sebesar 1

milyar US$ tanggal 31 Juli 1997.

Tahap kedua, adalah antara tanggal 10 Agustus s.d 18 Agustus 1997, dimana kurs rupiah

terhadap dolar Amerika meningkat tajam dari sekitar Rp. 2.600 menjadi Rp. 2.990 per US$.

Trigering momentnya adalah penurunan suku bunga SBI 0.5 % pada tanggal 30 Juli 1997.

Ditengah gencarnya serangan spekulan terhadap rupiah, penurunan bunga SBI ini mungkin agak

“membingungkan” dan agak kurang sejalan dengan iklim pengetatan likuiditas. Menyadari hal

ini, dan melihat gejala trend terdepresiasinya rupiah BI meluncurkan “counter policy” yang

berlawanan dengan penurunan bunga SBI 4 hari kemudian, yaitu menaikkan bunga SBI 1 % dan

intervensi di pasar spot rupiah sebesar 500 juta US$, dan sehari kemudian melepaskan

kebijaksanaan intervensi untuk tidak terjebak terkurasnya cadangan devisa, namun pada saat itu

BI telah kehilangan 1,5 milyar dolar dari cadangan devisa yang ada.

Setelah mencapai peak kedua tanggal 18 Agustus 1997, rupiah kembali appreciated dengan

tajam menjadi sekitar Rp. 2.650 per US$ pada tanggal 21 Agustus 1997. Trigering factornya
adalah kombinasi penarikan dana BUMN di perbankan dan pengumuman rencana revisi APBN,

pada tanggal 18 Agustus 1997. Ini merupakan kombinasi kebijaksanaan fiskal dan moneter yang

terbukti cukup ampuh dalam jangka pendek untuk meredam kejatuhan rupiah. Appresiasi tajam

rupiah ini diperkuat dengan penaikan bunga SBI secara tajam pada tanggal 19 Agustus 1997.

Namun hal ini juga disertai kebijaksanaan yang dibaca agak “membingung kan” dan

“inkonsisten” oleh pelaku pasar keuangan, yaitu disetujuinya akad kredit sebesar 600 juta US$

dari BDN bagi PT Timor Putra ditengah usaha pengetatan likuiditas. Mungkin hal inilah yang

menjadikan kredibilitas TMP hanya bertahan dua hari sampai tanggal 21 Agustus 1997 saat

mana tahap depresiasi ke tiga mulai kembali.

Tahap ketiga, adalah sejak 21 Agustus sampai dengan tanggl 28 Agustus 1997, dimana

rupiah kembali terdepresiasi secara tajam dari sekitar Rp. 2.650 menjadi sekitar Rp. 3.000 per

US$. Penghentian pencairan anggaran pembangunan APBN dan penundaan pembayaran beras

ke Bulog yang diumumkan pada tanggal 21 September 1997 nampaknya tidak mampu menolong

memperbaiki kondisi kepercayaan pasar uang terhadap rupiah.

Dalam kurun waktu ini diwarnai dengan kebijaksanaan yang “membingungkan” dan

“inkonsisten” yang bisa dibaca oleh masyarakat pasar uang, yaitu kembali diinjeksikannya

likuiditas dari BI sebesar 300-500 US$ kepada perbankan pada tanggal 26 Agustus 1997

ditengah suasana TMP. Faktor ini oleh beberapa pengamat ekonomi dianggap sebagai

pendorong depresiasi dalam kurun waktu ketiga ini.

Tahap keempat, adalah tanggal 29 Agustus s.d 4 September 1997, ketika rupiah kembali

Ekonomi Indonesia :Akuntansi Manajemen Halaman 9 9


terdepresiasi dari Rp 2.900 menjadi sekitar Rp. 3.040 per US$. Penghentian perdagangan

forward valas tanggal 29 Agustus 1997 nempaknya tidak mampu untuk mencegah jatuhnya

rupiah pada kurun waktu ini, bahkan sementara pengamat mengatakan bahwa hal ini jutru

mengurangi kepercayaan pasar uang kepada statement pemerintah yang selalu mengklaim

fundamental ekonomi Indonesia yang masih bagus.

Dalam kurun waktu ini kembali diwarnai kebijaksanaan fiskal yang kurang “konsisten dan

membingungkan” yaitu diberikannya tax holiday kepada enam perusahaan besar pada tangal

30 Agustus 1997.

Tahap kelima, adalah dari tanggal 22 September 1997 sampai dengan hari ini 29 Oktober

1997 dimana rupiah kembali terdepresiasi dari Rp 2.950 menjadi Rp 3.800 per US$. Dalam

kurun waktu ini pemerintah nampak menghadapi dilema, disatu pihak ingin mengurangi

likuiditas melalui pembatalan dan penjadwalan ulang proyek-proyek pemerintah, dilain fihak

harus tetap menjaga likuiditas perekonomian melalui kredit untuk sektor swasta melalui

perbankan . Ini terlihat ketika Pemerintah “terpaksa” harus melonggarkan likuiditas kembali

dengan menurunkan bunga SBI pada tanggal 10 September dan 16 September 1997. Dampak

dari pelonggaran ini langsung terlihat di pasar uang dengan terdepresiasinya kembali rupiah ke

tingkat paling tinggi saat ini.

Namun perlu dicatat, diantara kurun waktu ketiga dan keempat ini, dua kebijaksanaan fiskal,

yaitu pengumuman revisi proyek-proyek APBN pada tanggal 17 September dan 23 September

1997, serta deregulasi 3 September

1997 termasuk pelepasan batas penguasaan saham oleh investor asing, telah nyata memberikan
kontribusi kepada menguatnya rupiah dalam kurun waktu tersebut.

V. Sikap yang dihadapi

Demikian sebagai tambahan insight kepada masalah finansial yang kita hadapi sekarang.

Sengaja tidak menyimpulkan apapun dari fakta yang disampaikan secara kronologis. Namun

demikian hanya ingin mengulangi apa yang lazimnya dipersetujui oleh pengamat ekonomi

sebagai conventional wisdom, yaitu pada saat krisis seperti ini menuntut suatu sinyal yang jelas

dan pasti dari otoritas moneter mengenai langkah dan strategi yang konsisten.

Perbaikan atau mempertahankan fundamental ekonomi merupakan langkah penting namun

memerlukan waktu. Sedangkan untuk jangka pendek ,” confidence building” justru sangat

diperlukan, dari sekedar statement-statement yang sporadis. Dalam ketidak adanya “campaign

strategy” yang jelas, maka pasar akan membaca langkah-langkah kebijaksanaan pemerintah dan

berita-berita tentang yang terjadi diperekonomian melalui mass media.

Sangat penting bagi para pengambil keputusan untuk dapat mengambil langkah-langkah yang

konsisten dengan general policy yang dianut dalam masa krisis. Penerbitan-penerbitan

kebijaksanaan yang saling bertentangan hanya akan meng-erosi kepercayaan pasar uang kepada

rupiah yang masih menunjukkan kecenderungan melemah.

VI. Hutang Luar Negri

Hutang luar negri swasta Indonesia pada akhir Maret 1999, menurut BI, masih sebesar US$

81,5 milyar. Masih besarnya hutang tersebut disebabkan engganya kreditur memberikan

Ekonomi Indonesia :Akuntansi Manajemen Halaman 11 11


pinjaman atau memperpanjang pinjaman sehingga tidak ada dana masuk kedalam negri. Disisi

lain cepatnya kenaikan hutang tersebut juga didorong relatif mudahnya sektor swasta

memperoleh pinjaman luar negri di pasar internasional, karena kepercayaan kreditur atas

kemampuan sektor swasta memenuhi kewajiban-kewajibanya .

Disamping itu, pemasukan dana dalam bentuk lain seperti penanaman modal langsung dan

investasi dan investasi dalam bentuk portofolio mengalami penurunan yang tajam. Kondisi ini

menyebabkan aliran pemasukan dana luar negri menurun drastis, bahkan terjadi peningkatan

yang sangat besar atas kewajiban pembayaran hutang luar negri.

Hal ini menyebabkan adanya kekuranghatian dari sektor swasta dalam mengelola

pinjamannya, ini tercermin dari penggunaan pinjaman jangka pendek untuk membiayai proyek

jangka panjang (maturity gap ), penggunaan pinjaman luar negri untuk membiayai proyek

berorientasi kepasar domestik. Sehinga tidak menghasilkan devisa ( currency mismatch) dan

tidak melakukan lindung nilai (hedging) atas pinjamannya.

Atas hutang luarnegri swasta ini telah dilakukan bebrapa upaya, khususnya untuk

penyelesaian pinjaman atar bank telah terjadwal ulang sebesar US$ 6 milyar hingga akhir tahun

2001. Dari jumlah tersebut pada tahun 1998 telah direstrukturisasi sebesar US$ 2.7 milyar

melalui skema inter bank debt exchange offer I, dan tahun 1999 sebesar US$ 3.2 milyar melalui

skema inter bank debt exchnge offer II. Sementara satuan tugas Prakarsa Jakarta telah

menanganai 112 dengan nilai hutang sebesar US$ 15.5 milyar

Posisi tagihan bersih BI ke pemerintah hingga tanggal 23 juni 1999 sebesar Rp. 141 triliyun .

Piutang BI tersebut merupakan perhitungan dari posisi tagihan BI ke pemerintah sebesar Rp.

264,9 triliyun dikurangi posisi rekening pemerintah pada tanggal 23 juni 1999 sebesar Rp.

123,9 triliyun. Rekening pemerintah terdiri atas rekening giro Bendahara umum Negara dan

rekening giro pemerintah serta rekening giro lembaga khusus pemerintah. Sedangkan tagihan
BI kepada pemerintah antara lain berkaitan dengan hutang dalam rangka program pinjaman

pemerintah, obligasi pemerintah untuk restrukturisasi perbankan keanggotaan dalam lembaga

keuangan internasional , program restrukturisasi hutang swasta nasional, program restrukturisasi

perbankan serta hutang dalamrangka pemberian kredit .

BI sendiri berdasarkan UU no 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia masih bertindak

sebagai pemegang kas pemerintah . Namun disisi lain dalam UU itu disebutkan BI dilarang

memberikan kredit kepada pemerintah.

BAB II

PERAN AKUNTANSI MANAJEMEN

I.Pemanfaatan Akutansi Manajemen untuk keunggulan strategis

Sebagai ekonom yang profesional kaitannya dalam mengatasi hutang dan profesionalisme dalam

mengatasi masalah bisnis dalam sektor swasta, Akuntansi Manajemen tidak dipandang hanya

sebagai suatu set pengetahuan yang mendukung pengguna data ekonomi , tetapi Akuntansi

manjemen dipandang sebagai sesuatu yang menyebabkan efisien dalam operasi bisnis dan suatu

negara, serta efektif dalam pengambilan keputusan .

Akuantansi manajemen dapat mengubah organisasi negara secara lengkap, termasuk

pemanfaatannya untuk keunggulan strategis , hal ini berarti kita harus membuat jaringan

Ekonomi Indonesia :Akuntansi Manajemen Halaman 13 13


strategis diantara organisasi dan lembaga negara, serta berarti pula kita harus dapat

menggembangkan pemikiran baru artinya organisasi harus mempunyai setting baru.

Hutang swasta yang besar dapat di perkecil dengan pengelolaan kegiatan bisnis yang

memanfaatkan kaidah-kaidah bisnis yang baik. Berikut ini beberapa yang dapt dilakukan .

Sebagai organisasi negara yang besar dengan memanfaatkan akuntansi manajemen, hal ini akan

mendorong pemanfaatannya harus lebih strategis dalam suatu sistem organisasi, yang disebut

juga Strategic information System.

Sistem ini dikembangkan sekaligus untuk melawan kekuatan ( Competitive force) struktur

kompetisi bisnis, yang meliputi : (1) Rival diantara bisnis yang telah ada, (2) Ancaman

pendatang baru , (3) Ancaman perusahaan substitusi, (4) Daya tawar supplier dan (5) Daya tawar

konsumen.

Strategi yang dapat dilakukan untuk melawan kompetisi bisnis (competitive strategies ), yaitu :

- Cost leadership strategy . Menjadikan produsen dengan biaya yang rendah terhadap produk

dan jasa, dan juga membantu supplier dan pelanggan mengurangi biaya atau menaikan biaya

bagi kompetitor.

- Differentiation strategy, Mengembangkan produk dan jasa yang bervariasi / berbeda

dengan kompetitor atau mengurangi keungulan yang berbeda dengan kompetitor.

- Innovation Strategy, Menemukan cara baru dalam berbisnis, dapat berupa produk atau jasa

yang unik.

- Growth strategy , Perkembangan kapaitas perusahaan yang signifikan untuk memproduksi

barang dan jasa , ekspansi dalam pasar global, atau bergabung dengan produk dan jasa yang

berhubungan atau sejenis.

- Alliance Strategy , Memantapkan jaringan baru dengan supplier, konsumen , konsultan dan
perusahaan lain melaui pembentukan aliansi, gabungan , merger, atau akuisisi, yang bersifat

sementara atau tetap, dalam rangka perjanjian marketing, distribusi atau produksi.

II. Peranan teknologi informasi dalam strategi perusahaan

Persaingan bisnis yang hebat diantara negara-negara berkembang mendorong pemanfaatan

Teknologi Informasi (TI) untuk digunakan dalam keunggulan strategi.

Berikut ini ringkasan bagaimana teknologi informasi (TI) dapat digunakan untuk berperan

dalam kompetisi strategi :

Lower Cost:

- Penggunaan TI untuk mengurangi biaya proses bisnis

- Penggunaan TI untuk mengurangi biaya konsumen atau supplier

Differentiate :

- Mengembangkan fasilitas TI baru untuk perbedaan produk dan jasa

- Menggunakan fasilitas TI untuk mengurangi keunggulan perbedaan dari kompetitor

- Menggunaka fasilitas TI untuk difokuskan kepada produk dan jasa yang dipilih oleh

konsumen

Promote growth :

- Menggunakan TI untuk pengaturan ekspansi regional dan global

- Menggunakan TI untuk perpaduan dan penggabungan dengan produk dan jasa yang telah

ada.

Develop Aliances

- Menggunakan TI untuk organisasi “virtual” dalam patner bisnis

- Mengembangkan sistem informasi interorganisasional yang dapat menciptakan hubungan

bisnis yang strategis antara supplier, konsumen subkontraktor dan lainnya.

Ekonomi Indonesia :Akuntansi Manajemen Halaman 15 15


Improve Quality and efficiency

- Menggunakan TI untuk pengembangan yang dramatis dalam produk dan jasa.

- Menggunakan TI untuk pengembangan yang terus-menerus , dalam rangka effisiensi proses

bisnis.

- Menggunakan TI untuk menjadikan waktu yang dibutuhkan lebih singkat untuk

pengembangan, produksi dan distribusi barang dan jasa.

Built in IT platform

- Penghematan investasi dalam sumber daya manusia di bidang TI, perangkat keras, perangkat

lunak, dan sistem jaringan dari pengunaan operasional ke aplikasi strategis

- Membangun sistem informasi strategis dari data internal dan eksternal yang dihimpun dan

dianalisis dengan TI.

Other Strategies

- Memanfaatkan sistem informasi internasional untuk mencari jalan keluar dalam rangka

mengubah biaya yang terpendam di langganan dan supplier

- Menggunakan investasi dalam TI untuk mengembangkan hambatan agar industri dari luar

tidak mauk untuk bersaing

- Mengunakan komponen TI untuk kompetisi dari perusahaan substitusi menjadikan suatu

produk tidak menarik.

III. Strategi pemanfaatan TI dalam Profesi Akuntansi

Untuk pekerjaan yang berkaitan dengan pemanfaatan Akuntansi manajemen dalam

mengatasi hutang luar negri sektor swasta , maka profesi akuntan perlu dilibatkan guna tertib

administarsi dalam pengelolaan bisnis yang efisien.

Model pemecahan hutang sektor swasta dengan melibatkan pemanfaatan teknologi informasi
dapat dilihar dari bagan model berikut ini :

Masalah ekonomi

Akuntansi Manajemen

Diantaranya : Strategi Pemanfaatan Teknologi Informasi


Hutang swasta Untuk keunggulan perusahaan

Pengelolaan Hutang swasta yang efisien

Ekonomi yang Indonesia


Yang lebih baik

Dari gambar tersebut diatas maka jelaslah bahawa peranan akuntansi manajemen dapat

membantu maslah hutang-hutang sektor swasta , melalui strategi pemanfaatan teknologi

informasi .

Penyediaan informasi akuntansi untuk pengambilan keputusan merupakan salah satu

bagian terpenting, adapun pekerjaan yang utama dalam bidang sistem informasi akuntansi

(James,1997) adalah :

- Order processing , menangkap, mencatat, dan memproses order dari langganan dan invoice

dari produsen

- Inventory control , Proses memperbaharui data yang merefleksikan perubahan persediaan

barang dan menyiapakan, dokumen pelabuhan, serta mencatat informasi order berikutnya.

- Account receivable, mencatat jumlah piutang dari langganan dan produsen , mebuat laporan
Ekonomi Indonesia :Akuntansi Manajemen Halaman 17 17
bulanan bersasarkan setiap langganan dan laporan piutang bagi manjemen.

- Account payable , Mencatat pembelian melalui hutang ke supplier dan menghasilkan

laporan pembayarn kas kepada manajemen

- Payroll, Mencatat pekerjaan karyawan dan data untuk kompesasi , menyiapakn cek, dan

dokumen penggajian lainnya

- General Ledger , Mengkonsolidasikan data dari sistem akuntansi lainnya dan menghasilakn

laporan fianansial secara periodik dan laporan kegiatan bisnis

Dalam kaitannya dengan kegiatan bisnis dalam sektor swasta pemanfaatan TI (James, 1997)

dapat mengatasi masalah hambatan bisnis berupa : (1). Hambatan Waktu, (2) Hmabatan Biaya,

(3) Hambatan Geografis, dan (4) Hambatan struktural.

Untuk semua pekerjaan tersebut diatas serta pekerjaan lainnya yang mencakup fungsi profesi

akuntansi dapat digunakan teknologi informasi dengan pemilihan penggunaan aplikasi TI

sebagai berikut :

1. Transaction processing system untuk mencatat transaksi harian (day to day transaction)

2. Processing Control system, untuk meyakinkan bahwa data transaksi telah di proses dengan

mekanisme kontrol yang baik

3. Electronic data interchange , untuk pencatatan order dan mengorder kembali

4. Point of sales , unruk mecatat penerimaan penjualan serta pengeluaran persediaan barang

yang dijual.

5. Electronic Fund Transfer, untuk penagihan piutang dan pembayaran hutang

6. Office Automation system, untuk melakukan konfirmasi piutang, surat penagihan hutang

7. Magnetic card / bar code , untuk mencatat jumlah jam hadir karyawan dalam rangka

perhitungan gaji
8. Application portfolio, Alat untuk merencanakan dan mengevaluasi investasi dan

menghasilkan informasi tentang aktiva serta pendapatan untuk keputusan bisnis.

9. Audit around the computer, Audit with the computer dan Audit through the computer,

teknik-teknik audit berbantuan komputer

10. Autometed teller machine , transaksi untuk pelayanan perbankan

11. Expert system, system yang menggantikan kepakaran tenaga ahli

12. Internet , untuk bertransaksi secara global

13. Telecomunication, mentransfer data dalam jarak yang jauh

Strategi yang digunakan dapat berupa :

1. Business process reengineering, Restrukturisasi dan transformasi proses bisnis dengen

perubahan fundamental dan rekayasa kembali untuk mendorong kualitas, kecepatan ,

menekan biaya organisassi dan sebagainya

2. Downsizing strategy, Berubah kebentuk format organisasi yang menggunakan komputer ,

teknologi informasi yang lebih kecil

3. Integration strategy , Memadukan pekerjaan secara forward, backward dan harizontal

dalam operasi perusahaan swasta

4. Intensive strategy , Pengembangan produk dan jasa serta pengembangan aplikasi teknologi

guna mengatasi masalah persaingan bisnis yang sehat.

5. Diversification strategy, Mengkonsentrasikan arah perubahan ke Concentric, dan Horizontal

diversification melalui core competence

6. Generic Strategy , Untuk keunggulan biaya, dalam perubahan produk dan jasa yang

dihasilkan oleh swasta Indonesia harus berbeda dengan khas dan unggul dari produk yang

lainnya.

Ekonomi Indonesia :Akuntansi Manajemen Halaman 19 19


Sedangkan strategi penyebaran dan sosialisasi kompetensi pengetahuan tentang teknologi

informasi yang harus dimiliki oleh profesi akuntan , akhirnya diharapkan sektor swasta dapat

bersaing dengan swata di luar negri secara efisien

BAB III

KESIMPULAN

1. Keadaan masalah ekonomi yang terjadi dewsa ini, tidak hanya disebabkan karena pijakan

ekonomi makro Indonesia yang rapuh , tetapi juga hutang sektor swasta yang tidak

terkontrol.

2. Hutang swasta dapat dikurangi dengan profesionalisme pengelolaan bisnis oleh swasta dalam
negri, dengan memanfaatkan akuntansi manjemen yang baik.

3. Strategi bersaing yang dapat dilukukan untuk keunggulan strategi perusahaan adalah dengan

memanfaatkan penggunaan teknologi informasi (TI)

4. Perubahan kegiatan profesi akuntansi tidak saja ditandai dengan bisnis global, tetapi juga

perubahan teknologi informasi pada pekerjaan akuntansi.

5. Teknolgi informasi harus merupakan bagian yang tidak terpisah dari kompetensi profesi

akuntansi, yang pada gilirannya dapat membantu dalam kegaiatan akuntansi manajemen, dan

menyebabkan pengelolaan sektor swasta yang efisien, sehingga dapat mengurang hutang

sektor swasta.

Bandung, Juli 1999

Daftar Pustaka

Andersen consulting,1992,Foundation of Business system, 2nd ed. Fort worth,TX


Dryden press

Anwar Nasution, 1997,Manajemen Usahawan Indonesia, No 10 Th XXVI Oktober 1997.


Jakarta.

Marzuki Usman,1997, Pengendalian Nilai tukar rupiah : Fakta dan Implikasi, Makalah
Panel Diskusi, 4 Oktober 1997 Fakultas Ekonomi UNPAD Bandung

O’Braian James, 1997, Management information system , 3rd ed, Richard Irwin
Education group
Ekonomi Indonesia :Akuntansi Manajemen Halaman 21 21
Wamsley, Julian, 1995,The Hand Book of foreign Exchange and Money Market Guide, Mc
Grow Hill,

Wimar Witoelar,1997 Die Hard 2, Kompas Minggu 26 Oktober 1997.

Wiseman, Charles,1988, Strategic information system, Homewood IL, Richard D


Irwin .

------------, Berbagai berita, dari Tabloid Kontan, Pikiran Rakyat dan Harian Kompas, periode
Juli 1997 – Juli 1999.