Anda di halaman 1dari 10

BAB 19 PERSAINGAN YIDAK SEMPURNA DAN MONOPOLI

Finansial
Jumat, 10 September 2004

Reindo Syariah Sementara Monopoli Pasar


Jakarta, Kompas - Seiring munculnya reasuransi syariah pertama di Indonesia, yang dioperasikan PT
Reasuransi Internasional Indonesia (Reindo), otoritas asuransi melarang seluruh asuransi jiwa dan
kerugian yang berlandaskan prinsip syariah untuk menempatkan preminya pada reasuransi
konvensional, seperti yang selama ini dilakukan. Asuransi syariah yang saat ini masih menggunakan
reasuransi konvensional diminta menghentikan kerja samanya dan segera menjalin hubungan dengan
Reindo.

"Dengan adanya Divisi Khusus Syariah Reindo, kondisi darurat selama ini yang membolehkan
asuransi syariah melempar preminya ke reasuransi konvensional sudah tidak ada lagi. Dengan kata
lain, mulai saat ini asuransi syariah tidak boleh lagi berhubungan dengan reasuransi konvensional,"
kata Direktur Asuransi Ditjen Lembaga Keuangan Depkeu Firdaus Djaelani saat seminar "Prospek dan
Tantangan Reasuransi Syariah" yang diselenggarakan Reindo di Jakarta, Kamis (9/9).

Reindo Syariah masih memonopoli pasar reasuransi syariah di Indonesia karena baru satu- satunya.
Jika perusahaan reasuransi syariah lain muncul, persaingan perebutan pasar reasuransi tetap terbuka.

Firdaus memaklumi cukup sulit bagi asuransi syariah melakukan hal itu seketika mengingat masa
perjanjian berbagi risiko dengan reasuransi konvensional umumnya belum berakhir. "Saya tidak tahu
bagaimana caranya. Sekarang sudah wajib dan tidak diberikan masa transisi," katanya.

Seperti diberitakan, sejak tanggal 13 Juni 2004, Reindo sudah memperoleh izin membuka Divisi
Khusus Syariah. Namun, divisi tersebut rencananya baru diluncurkan 15 September mendatang.

Dalam bisnis asuransi, premi yang diperoleh perusahaan asuransi wajib diasuransikan kembali ke
perusahaan reasuransi sebagai cara untuk menyebar risiko sekaligus untuk menempatkan premi yang
tidak bisa ditahan sendiri.

Sebelum ada reasuransi syariah, asuransi yang beroperasi secara syariah diperbolehkan
menggunakan reasuransi konvensional meskipun fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) secara tegas
menyatakan asuransi syariah hanya dapat melakukan reasuransi kepada perusahaan reasuransi yang
berlandaskan prinsip syariah.

Masa darurat itu diterapkan agar tetap sejalan dengan aturan pemerintah yang menyatakan asuransi
nasional, baik konvensional maupun syariah, wajib mereasuransikan sebagian preminya ke reasuransi
nasional. Dengan aturan itu, asuransi syariah tidak bisa mereasuransikan seluruh premi yang tidak
BAB 19 PERSAINGAN YIDAK SEMPURNA DAN MONOPOLI

bisa ditahannya ke reasuransi syariah di luar negeri.

Kapasitas cukup

Mengenai kemampuan kapasitas Reindo untuk menerima pelimpahan premi dari seluruh asuransi
syariah di Indonesia, Firdaus mengatakan itu tidak masalah karena Reindo juga menjalin kerja sama
dengan retrosioner (reasuransi dari reasuransi) di luar negeri, seperti Asean Retakaful International Ltd
Malaysia yang memiliki modal sebesar 14 juta dollar AS. "Kalau tidak mampu menahan sendiri, Reindo
bisa melempar lagi ke reasuransi syariah di luar negeri," katanya.

Di tempat yang sama, Direktur Reindo Setiawan mengatakan, modal awal Divisi Khusus Syariah
sebesar Rp 10 miliar. "Dengan modal tersebut, kemampuan retensi Reindo sekitar 400.000 dollar AS.
Jika ada perjanjian treaty, Reindo bisa menutup pertanggungan sampai 4 juta dollar AS. Untuk saat ini,
Reindo sanggup menerima seluruh permintaan reasuransi," katanya.

Sampai sekarang terdapat 20 asuransi syariah, terdiri atas tujuh asuransi jiwa syariah dan 13 asuransi
umum syariah. Dilihat dari operasionalnya, tiga asuransi menjalankan prinsip syariah secara penuh.
Adapun 17 lainnya merupakan cabang dari asuransi konvensional. Sampai akhir 2002, total premi
asuransi syariah mencapai Rp 48,5 miliar.

Direktur Pemasaran Asuransi Syariah Takaful Indonesia Muhammad Syakir Sula mengatakan,
prospek industri reasuransi syariah di Indonesia sangat cerah mengingat dalam tiga tahun terakhir,
industri asuransi syariah bertumbuh pesat.

Dia mengatakan, saat ini pangsa pasar asuransi syariah terhadap asuransi konvensional hanya sekitar
1,5 persen. "Namun, pada akhir 2008 diperkirakan pangsa pasar asuransi syariah sudah mencapai 10
persen," katanya.

Saat ini Indonesia merupakan negara yang paling banyak memiliki asuransi syariah. Dengan potensi
masyarakat muslim yang sangat besar diperkirakan Indonesia menjadi kiblat industri asuransi syariah.
(FAJ)
BAB 19 PERSAINGAN YIDAK SEMPURNA DAN MONOPOLI

Analisis artikel “Reindo Syariah Sementara Monopoli Pasar”

Reasuransi sayariah Reindo merupakan contoh monopoli pasar reasuransi


syariah.Hal ini disebabkan karena hanya Reindo lah satu-satunya perusahaan reasuransi
yang bergerak dilandasi asas syariah.Apabila perusahaan monopoli lain biasanya
memonopoli pasar dengan backup proteksi dari pemerintah,tidak demikian halnya dengan
reasuransi Reindo.Reindo dikategorikan memonopoli hanya karena belum ada competitor
yang masuk ke dalam persaingan pasr reasuransi.Oleh karena itu,sifat monopoli dari
Reindo sendiri bersifat sementara.Dan untuk ke depannya,memungkinkan terjadinya
pasar persaingan sempurna.
Ilham Adipradana
BAB 19 PERSAINGAN YIDAK SEMPURNA DAN MONOPOLI

Contoh oligopoly

Senin, 22 Mei 2006 NASIONAL


Indikasi Kartel Semen
KARTEL semen sudah terjadi sebelum krisis, saat Asosiasi
Semen Indonesia (ASI) selalu berkumpul untuk mengatur wilayah
penjualan. Kartel tersebut juga mengatur harga sehingga dari
tahun ke tahun terus meningkat. Akan tetapi karena negara
mengawasi, kenaikan harga yang ekstrem tidak terjadi.

Pada saat itu masih belum ada undang-undang yang mengatur


pengendalian praktik monopoli atau persaingan yang tidak sehat.
Negara, dalam hal ini Presiden Soeharto, mengatur industri
tersebut karena alokasi penguasaannya juga atas restu presiden
yang kontrolnya sangat kuat atas politik dan ekonomi pada waktu
itu.
Didik J Rachbini
Setelah krisis, terjadi perubahan fundamental dalam sistem politik
dan ekonomi. Undang-Undang Antipersaingan dibuat untuk mencegah praktik monopoli,
yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999.

Akan tetapi, semua industri semen swasta sudah diambil alih oleh perusahaan multinasional
yang juga banyak berkiprah di berbagai negara berkembang. Kini, mayoritas saham
perusahaan semen swasta tersebut sudah beralih ke pihak asing. Tinggal perusahaan semen
negara (BUMN) yang mayoritas sahamnya masih di dalam negeri, yaitu PT Semen Gresik.

Sebenarnya swastanisasi atau privatisasi tidak menjadi masalah jika dilakukan secara
normal. Akan tetapi yang terjadi di industri semen adalah "asingisasi", yakni perusahaan
semen swasta yang kritis diambil alih karena terpaksa dijual (hostile takeover). Pelaku
internasional juga sebagai pemain yang terbatas dan di banyak negara terindikasi melakukan
praktik kartel untuk menghindari persaingan dan mengambil keuntungan ekstra dengan
meraup surplus konsumen.

Industri semen di negara berkembang yang mengalami krisis diambil alih oleh perusahaan
multinasional seperti Lafarge, Holcim, Helderberger, Cemex, dan lainnya. Kasus di Filipina
terjadi sama dengan di Indonesia, tetapi sudah lebih parah karena harga sudah ditarik naik ke
atas sampai 2-3 kali lipat dalam beberapa tahun saja.

Adakah hubungannya dengan Cemex dan penjualan sahamnya kepada swasta nasional atau
negara?
BAB 19 PERSAINGAN YIDAK SEMPURNA DAN MONOPOLI

Jelas sekali ada. Penjualan saham dari keinginan Cemex tersebut perlu direalisasikan agar
komplikasi swastanisasi yang telah dilakukan bisa diredam. Penjualan tersebut harus
terwujud agar Semen Gresik bisa leluasa melakukan kiprahnya sebagai pengimbang dalam
persaingan agar potensi kartel oleh perusahaan multinasional di Indonesia dapat dihindari.

Jadi, PT Semen Gresik tetap memiliki saham mayoritas dan saham Cemex beralih ke pihak
domestik. Hak-hak istimewa dan pengaturan ekspor oleh pihak Cemex bisa dihapuskan agar
persaingan menjadi lebih sehat dan lebih baik.

Langkah peran pengimbang ini perlu mengingat kartel internasional di industri semen ini
tergolong kartel keras kepala (hardcore cartel). Jenis kartel seperti ini sulit dicegah karena
perjanjiannya tersembunyi, tidak tertulis dan tidak menampakkan bekas-bekas.

Eksistensi KPPU juga dapat menjadi penjaga paling akhir agar pasar semen bersaing dengan
sehat sehingga konsumen dan masyarakat mendapat harga yang wajar. KPPU mesti bekerja
keras untuk menjaganya dengan instrumen pemantauan secara khusus dan
berkesinambungan.

Industri semen dinilai cukup strategis karena terkait dengan pembangunan perumahan
rakyat, infrastruktur jalan, pelabuhan, dan sebagainya. Karena itu, pasar dan industri semen
harus diarahkan kepada sistem persaingan yang sehat sehingga potensi kartel dapat dicegah.

Pada waktu lalu seluruh industri ini ditata oleh pemerintah dengan pemain terdiri atas
BUMN dan swasta dalam negeri. Negara yang belum demokratis mengatur perekonomian
terkait dengan swasta sehingga terjadi praktik monopoli. Pada masa itu masih belum lahir
undang-undang antimonopoli karena kepentingan kekuasaan di dalam negara atas dunia
usaha sangat besar.

Paktik monopoli pada masa lalu terlihat dari adanya indikasi penetapan harga semen yang
disepakati bersama. Jika ada anggota ASI (Asosiasi Semen Indonesia) tidak mematuhi,
diberi sanksi berupa isolasi atau pengucilan oleh ASI dalam bentuk tidak diundang dalam
rapat-rapat.

Akan tetapi kartel domestik tersebut sudah berakhir karena adanya Undang-Undang
Antimonopoli. Kini potensi kartel internasional akan menggantikannya jika tidak berhati-
hati. (46n)

- Penulis adalah ekonom dan Ketua Komisi VI DPR RI.


BAB 19 PERSAINGAN YIDAK SEMPURNA DAN MONOPOLI

Analisis artikel “Indikasi Kartel Semen”

Contoh praktek oligopoly di Indonesia adalah persaingan perusahaan-perusahaan


semen yang dikuasai nama-nama besar sehingga menciptkan ketidaksempurnaan pasar
lewat Barrier yang mereka buat untuk perusahaan-perusahaan yang baru
berkembang.Barrier yang ada contohnya adalah tingginya biaya entry industri
tersebut,diferensiasi produk,advertising,hingga pembatasan jumlah pengusaha yang
dilakukan secara legal oleh pemerintah.Namun,kalau dilihat dari kasus di atas,mereka
melakukan kesepakatan harga harga semen yang semula mereka telah rapatkan terlebih
dahulu sehingga persaingan menjadi tidak kompetitif bahkan menjurus ke arah monopoli
pasar.Oleh karena itu,kesepakatan harga seperti demikian sudah dilarang di Indonesia dan
itu merupakan tugas dari pemerintah.
Ilham Adipradana
BAB 19 PERSAINGAN YIDAK SEMPURNA DAN MONOPOLI

>Selasa, 5 September 2000

Berlaku 5 September 2000


UU Antipraktik Monopoli, Awal Membangun Sistem Sehat
PROSES penyesuaian dunia usaha dengan Undang-Undang No 5 Tahun 1999 tentang Larangan
Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha tidak Sehat (disingkat UU Antipraktik Monopoli) telah
selesai pada tanggal 5 September 2000. UU ini seharusnya berlaku setahun sejak diundangkan
(5 Maret 1999), untuk memberikan peluang penyesuaian dunia usaha terhadap substansi
larangan praktik monopoli, yang dicantumkan di dalamnya.Itu berarti sejak 5 Maret 2000,
seharusnya UU ini diberlakukan terhadap dunia usaha, tetapi pemerintah memberi waktu
tambahan proses penyesuaian sekitar enam bulan, sehingga pada tanggal 5 September 2000
undang-undang ini praktis diberlakukan.

***

UU No 5/1999 ini adalah refleksi dari semangat membangun sistem ekonomi pasar yang efisien,
terbuka, dan sehat. Bahkan suatu bangsa yang hendak maju menuju sistem ekonomi dan politik
yang modern, perlu meletakkan fondasi sistem legalnya di bidang ekonomi dalam bentuk
peraturan, yang menjaga agar dunia usaha bersaing secara sehat, jujur dan adil. Kehadiran
institusi legal ini merupakan syarat mutlak bagi sistem ekonomi yang modern.

Semua negara modern dengan sistem ekonomi yang maju meletakkan lebih dulu fondasi dasar
ini. Bahkan tradisi antimonopoli dan persaingan yang sehat di negara AS yang paling modern,
telah diinisiasikan sebagai sukma sistem ekonomi sejak lebih dari 100 tahun lalu.

Di Indonesia, semangat antipraktik monopoli dan antibisnis yang tidak sehat sebenarnya sudah
tumbuh hampir 20 tahun yang lalu, terutama sejak pertengahan tahun 1980-an. Usaha-usaha
industri dan perdagangan telah mulai tumbuh membesar ketika itu. Praktik-praktik bisnis yang
tidak sehat sudah mulai tercium sehingga tercetus semangat untuk mengaturnya. Semangat itu,
terlihat dari substansi UU Industri Tahun 1984, yang mencantumkan larangan terhadap praktik
monopoli, meskipun masih bersifat sangat umum.

Warisan buruk

Semangat ini tidak berlanjut, paling karena tiga hal pokok. Pertama, lingkungan ekonomi-politik
yang tidak mendukung, yang bernuansa pekat dengan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme
(KKN) antara pengusaha dengan penguasa, terutama praktik monopoli dalam perburuan rente
ekonomi (economic rent seeking). Faktor pertama inilah yang menjadi penyebab utama dari
sulitnya menerobos benteng kolusi melalui sistem legal yang ada.

Kedua, semangat yang sudah formal masuk di dalam UU tersebut tidak berjalan karena tidak ada
aturan yang lebih detail dan menjelaskan tentang bagaimana larangan praktik monopoli tersebut
dilaksanakan. Dalam tataran aturan yang biasanya berlaku pada saat itu ketiadaan peraturan
pemerintah dan petunjuk pelaksanaannya telah menyebabkan semangat normatif tidak
terinstitusikan dan tidak dapat diimplementasikan.

Ketiadaan peraturan pemerintah ini juga berkaitan dengan alasan pertama, yakni tidak lain
karena banyak kepentingan pengusaha-penguasa terusik bila peraturan tersebut dilaksanakan.
Maklum sekali, bisnis di masa lalu sangat penuh dengan praktik persaingan tidak jujur, praktik
monopoli, dan KKN lewat perburuan rente, yang melibatkan perilaku kolusi pengusaha-
penguasa.
BAB 19 PERSAINGAN YIDAK SEMPURNA DAN MONOPOLI

Ketiga, meskipun larangan antipraktik monopoli tersebut telah tercantum di dalam UU, tetapi
tidak ada badan atau institusi yang berwenang melaksanakannya. Itu berarti bahwa legalitas
yang ada tidak bermakna bagi perbaikan sistem untuk membebaskan bisnis dari praktik monopoli
karena tidak ada yang bisa melakukan eksekusi jika terjadi praktik monopoli, yang tidak
dikehendaki UU tersebut.

Akhirnya bisnis dan sistem ekonomi-politik secara keseluruhan penuh dengan praktik monopoli,
persaingan tidak sehat, sekaligus perburuan rente ekonomi. Karena itu, tidak aneh jika dunia
usaha diliputi oleh dominasi usaha konglomerasi karena praktik bisnis pada umumnya tidak jujur.
Praktik monopoli dan persaingan tidak sehat yang dilakukan oleh pengusaha bahkan didukung
dengan semangat KKN oleh penguasa.

Wajah sistem ekonomi yang bopeng, benjol, dan struktur yang ringsek seperti kita lihat sekarang
tidak lain karena ketiadaan sistem legal yang mengatur persaingan bisnis secara sehat. Praktik
yang distortif dalam kurun yang panjang ini tidak mudah diselesaikan, tetapi dengan adanya iklim
baru yang didukung oleh masyarakat luas, maka implementasi semangat antipraktik monopoli
akan dapat dengan mudah dilaksanakan.

Semangat untuk membangun sistem ekonomi dan bisnis yang sehat baru terwujud setelah rezim
lama tumbang. DPR tidak lagi menjadi stempel karet, tetapi mulai bergigi untuk kemudian
mengambil inisiatif mengusulkan UU Anti Praktik Monopoli ini. Bahkan bersamaan dengan itu,
Sidang Istimewa MPR juga telah menetapkan TAP MPR No 16/1998, yang mengamahkan dan
memperkuat upaya untuk mewujudkan aturan tentang antipraktik monopoli.

Praktik monopoli cenderung mengambil keuntungan berlebihan (super normal), tetapi harus
dibayar oleh pelaku lain, yang tersingkir secara tidak dari pasar. Praktik perburuan rente ekonomi
yang semarak pada masa yang lalu, berkaitan sangat erat dengan praktik persaingan tidak sehat
semacam ini, sehingga pasar tertutup untuk pelaku-pelaku, yang sebenarnya efisien, inovatif,
dan mampu menghasilkan produk berkualitas dengan harga yang lebih baik untuk masyarakat
luas.

Akan tetapi, hambatan-hambatan yang tercipta karena faktor-faktor persaingan tidak sehat
menyebabkan pelaku usaha yang baik tersebut tidak dapat memasuki pasar secara terbuka.

Pendekatan dan substansi

Sebagai lembaga baru dan meskipun terbatas dalam sumberdaya, Komisi Pengawas Persaingan
Usaha (MIPPA) telah ditetapkan sebagai badan yang berwenang melaksanakan pengawasan
sekaligus melakukan eksekusi jika terjadi pelanggaran terhadap UU Antimonopoli ini. Posisi
lembaga ini adalah regulator bukan pemerintah, melainkan sebagai salah satu lembaga negara
yang independen. Karena itu, pengesahan keanggotaannya harus disetujui DPR untuk
menjadikan tingkat independensinya sebaik mungkin.

Dalam pengawasan yang dilakukannya, komisi melihat kombinansi dua aspek pendekatan yang
mendasar, yaitu: a) pendekatan struktur pasar, dan b) perilaku pelaku pasar. Artinya, bukti-bukti
dari kedua aspek ini menjadi bahan analisis utama untuk menentukan pelanggaran-pelanggaran,
yang dilakukan oleh pelaku usaha sehingga menyebabkan terjadinya persaingan tidak sehat dan
praktik monopoli, yang merugi-kan pelaku lainnya.

Tidak hanya itu, praktik ini berdampak negatif lebih luas karena merugikan masyarakat banyak
pada umumnya, terutama karena tingkat harga yang tercipta lebih tinggi (keuntungan monopolis
super normal) dan kualitas barang lebih rendah.
BAB 19 PERSAINGAN YIDAK SEMPURNA DAN MONOPOLI

Aspek struktur dilihat dari tingkat penguasaan pasar, yang dilakukan oleh pelaku usaha. Tingkat
penguasaan atas barang atau jasa tertentu dijadikan bahan analisis yang pertama, apakah
pelaku usaha cenderung melakukan pelanggaran hukum persaingan usaha yang sehat. Secara
alamiah, penguasaan pasar yang besar berkorelasi positif dengan kecenderungan praktik
bersaing tidak sehat dan praktik monopoli pada umumnya.

Pendekatan kedua adalah aspek perilaku (conduct). UU maupun semangat komisi relatif sejalan,
yakni tidak melarang pelaku usaha menjadi besar sepanjang proses dan tindakannya tidak
melanggar undang-undang. Proses menjadi besar tercipta karena perusahaannya efisien,
inovatif, dan bisa menciptakan barang atau jasa yang terbaik kualitasnya untuk masyarakat
dengan harga yang bersaing.

Justru perusahaan seperti inilah yang menjadi harapan yang hendak diciptakan dari DPR
sebagai pembuat UU. Kehadiran perusahaan yang baik ini sangat didambakan, sehingga
masyarakat luas diuntungkan dengan hadirnya pemain-pemain yang terbaik karena efisien dalam
bersaing secara sehat. Yang tidak dikehendaki oleh UU adalah perusahaan yang berhasil
menjadi besar dan menguasai pasar dengan praktik-praktik persaingan yang tidak sehat.

Dalam aspek perilaku ini ditelusuri berbagai bentuk praktik yang tidak lazim dilihat dari standar
persaingan yang sehat dan jujur. Berbagai tindakan dan upaya secara tidak sehat untuk
menyingkirkan pelaku usaha lainnya (misalnya trust, kartel, price fixing, diskriminasi harga,
pembagian wilayah, dan lainnya) bisa dimasukkan ke dalam katagori praktik monopoli dan
persaingan tidak sehat.

Pendekatan komisi terhadap praktik-praktik persaingan yang tidak sehat ini dilihat dari dua jenis
rumusan pasal-pasal, yang memperlihatkan: a) asas per se illegal, b) asas rule of reason.

Kegiatan bisnis senantiasa berkembang dengan cepat sehingga kedua asas ini dilihat dengan
seksama oleh komisi untuk menentukan ada atau tidaknya praktik monopoli dan persaingan tidak
sehat, yang dilakukan oleh pelaku usaha.

Yang pertama adalah, jenis tindakan dan upaya yang dilakukan pelaku usaha, yang jelas-jelas
ilegal karena tidak saja bertentangan dengan substansi UU, tetapi juga melanggar norma-norma
umum. Mencuri adalah salah dan karenanya harus dihukum, apa pun alasannya. Substansi
hukum seperti ini tergolong ke dalam kelompok tindakan yang jelas-jelas bersifat ilegal. Di dalam
substansi UU azas per se illegal ini, terlihat pada berbagai bentuk kegiatan atau perjanjian,
misalnya price fixing (penetapan harga), diskriminasi harga, boikot, tying in, dan lainnya.

Yang kedua adalah hukum sebab akibat, di mana tindakan pelaku usaha secara langsung
maupun tidak langsung telah berakibat merugikan pelaku usaha lainnya dan atau masyarakat
konsumen pada umumnya.

Oleh karena itu, komisi memantau setiap perkembangan usaha, terutama yang potensial
melanggar, sehingga dengan azas rule of reason ini dapat diketahui akibat yang tercipta karena
tindakan atau perjanjian, yang mengakibatkan persaingan tidak sehat dan praktik monopoli
sehingga merugikan pihak lain.

* Dr Didik Rachbini, dosen dan anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha/ MIPPA.
BAB 19 PERSAINGAN YIDAK SEMPURNA DAN MONOPOLI

Analisis artikel “UU Antipraktik Monopoli, Awal Membangun Sistem Sehat”

Pembuatan Undang-undang antimonopoly di atas merupakan bentuk nyata


intervensi pemerintah untuk mencegah praktik monopoli yang dilakukan oleh beberapa
perusahaan yang bekerjasama untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.Undang-
undang ini juga berlaku untuk melindungi pemain-pemain baru yang masuk ke pasar
supaya bisa bersaing dengan produk-produk yang mereka tawarkan.Selain itu,konsumen
juga mendapaat keuntungan,karena dengan tidak adanya monopoli akan suatu barang dan
jasa,perusahaan-perusahaan akan berusaha memproduksi barng dan jasa yang terbaik
dengan harga kompetitif sehingga produk mereka bisa diterima oleh pasar.
Ilham Adipradana