Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
Kondiloma Akuminata merupakan penyakit infeksi anogenital berupa
proliferasi kulit dan mukosa yang disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus
(HPV). Tipe Human Papilloma Virus (HPV) yang paling sering menyebabkan
kondiloma akuminata adalah HPV 6 dan 11.1
Human Papilloma Virus memiliki kemampuan infeksius yang tinggi
dengan masa inkubasi 3 minggu sampai 8 bulan. Tanpa pengobatan Kondiloma
Akuminata dapat mengecil atau menghilang, menetap atau bertambah besar
ukurannya dan bertambah besar jumlahnya.2
. Penyakit ini dijumpai pada usia produktif terutama kelompok dewasa
usia 17 sampai 35 tahun. Prevalensi penyakit Kondiloma Akuminata pada pria dan
wanita adalah sama..3 Transmisi HPV dapat terjadi melalui kontak seksual
langsung sehingga termasuk penyakit menular seksual.3,4
Kondiloma Akuminata biasanya asimptomatik tetapi tergantung ukuran
pada ukuran dan lokasi anatomi. Gambaran klinisnya dapat berupa papul soliter
atau multipel, bertangkai dan permukaannya bisa berjonjot (papilomatosa) atau
verukous (seperti jengger ayam).4 Pada laki-laki daerah yang terkena adalah
frenulum, corona, glans penis, preputium, korpus dan skrotum. Pada wanita
daerah yang terkena adalah labia, klitoris, periuretra, perineum, vagina, serviks.4
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan gejala klinis. Pada lesi
yang meragukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang seperti tes asam asetat
dan histopatologi.4
Tujuan utama pengobatan Kondiloma Akuminata yaitu menghilangkan
lesinya. Pengobatan yang dapat diberikan terbagi atas modalitas yang dapat
diapliksikan sendiri oleh pasien dan modalitas yang harus dilakukan di sarana
kesehatan. Cara pemilihan pengobatan tersebut tergantung pada kondisi pasien,
ukuran, jumlah dan lokasi lesi tersebut, gambaran morfologi Kondiloma
Akuminata, keterampilan dokter yang melakukan pengobatan serta faktor biaya.5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Kondiloma Akuminata adalah merupakan penyakit infeksi anogenital berupa
proliferasi kulit dan mukosa yang disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus
(HPV) terutama tipe 6 dan 11.1
2.2. Epidemiologi
Kondiloma Akuminata termasuk penyakit yang menular melalui kontak seksual.
Prevalensi tertinggi terjadi pada kelompok dewasa muda terutama pada usia 17
sampai 35 tahun. Prevalensi penyakit Kondiloma Akuminata pada pria dan wanita
adalah sama.3
2.3. Etiologi
Kondiloma Akuminata disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV). Human
Papilloma Virus (HPV) merupakan virus DNA yang tergolong dalam keluarga
virus Papova. Tipe HPV yang pernah ditemui pada Kondiloma Akuminata yaitu
tipe 6, 11, 16, 18, 30, 31, 33, 35, 39, 41, 42, 44, 51, 52 dan 56. Beberapa tipe HPV
tertentu mempunyai potensi onkogenik yang tinggi, yaitu tipe 16 dan 18. Tipe ini
merupakan jenis virus yang paling sering dijumpai pada kanker serviks,
sedangkan tipe 6 dan 11 lebih sering dijumpai pada kondiloma akuminata.4

2.4. Patogenesis
Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) merupakan hasil dari kontak
seksual dimana virus penetrasi ke sel basal epidermis.3 Sel basal merupakan
tempat pertama infeksi HPV sehingga setelah inokulasi melalui trauma kecil
(mikrolesi), virion HPV akan masuk sampai lapisan sel basal epitel.3,4 Pada
lapisan sel basal ini virus tetap laten sebagai episom melingkar dalam jumlah yang
rendah. Sesuai dengan pembelahan sel basal, virion HPV akan bergerak ke lapisan

epidermis yang lebih atas dan hanya lapisan keratin di atas lapisan basal yang
dapat mendukung replikasi virus dan virus hadir dalam jumlah yang tinggi.5
Proses replikasi virus mengubah karakter epidermis sehingga menghasilkan
papilloma atau kutil. Walaupun semua sel basal mengandung virion, ekspresi
virion terkait dengan keadaan diferensiasi sel. Kebanyakan virion tidak diaktifkan
sampai keratinosit yang terinfeksi meninggalkan lapisan basal. Replikasi virus
hanya dapat terjadi pada lapisan keratinosit yang berdiferensiasi tinggi. Infeksi
HPV tidak menunjukkan sitolitik, namun partikel virus dilepaskan sebagai akibat
dari degenerasi sel.6
2.5. Manifestasi Klinis
Kebanyakan pasien dengan Kondiloma Akuminata datang dengan keluhan
benjolan pada area anogenital. Jarang terdapat gejala seperti nyeri maupun
perdarahan.7 Pada laki-laki daerah yang terkena adalah frenulum, corona, glans
penis, preputium, korpus dan skrotum. Pada wanita daerah yang terkena adalah
labia, klitoris, periuretra, perineum, vagina, serviks.3,4 Kelainan kulit berupa papul
baik soliter atau multipel, bertangkai dan berwarna kemerahan kalau masih baru,
jika sudah lama maka akan tampak kehitaman. Permukaannya bisa berjonjot
(papilomatosa) atau verukous (seperti jengger ayam). Jika timbul infeksi sekunder
warna kemerahan akan berubah menjadi keabu-abuan dan berbau tidak sedap.4
2.6. Diagnosis
Diagnosis Kondiloma Akuminata berdasarkan atas:
1. Anamnesis
Melalui anamnesis maka akan didapatkan keluhan pasien berupa benjolan
pada area anogenital yang tidak nyeri.4 Pada anamnesis penting untuk
ditanyakan mengenai riwayat kontak seksual karena penyakit ini menular
akibat kontak seksual.3,4
2. Tanda-tanda klinis
Kelainan kulit berupa papul baik soliter atau multipel, bertangkai dan
berwarna kemerahan kalau masih baru, jika sudah lama maka akan tampak
kehitaman. Permukaannya berjonjot (papilomatosa) atau verukous (seperti
jengger ayam).5

3. Pemeriksaan penunjang, yang dapat dilakukan yaitu:8


a.

Tes asam asetat


Pemeriksaan ini dapat mendeteksi infeksi HPV subklinis atau
menentukan batas pada lesi datar. Teteskan asam asetat 5% dengan
lidi kapas pada lesi yang dicurigai. Dalam beberapa menit lesi akan
berubah warna menjadi putih (acetowhite).8

b.

Histopatologi
Pada kondiloma akuminata yang eksofitik, pemeriksaan dengan
mikroskop cahaya akan memperlihatkan gambaran papilomatosis,
akantosis, rete ridges yang memanjang dan menebal, parakeratosis
dan vakuolisasi pada sitoplasma.8

2.7. Diagnosis Banding


Beberapa penyakit yang merupakan diagnosis banding kondiloma akuminata
antara lain : veruka vulgaris, kondiloma lata, dan karsinoma sel skuamosa.
1. Veruka vulgaris7
Kelainan ini berbentuk papul berwarna abu-abu atau seperti warna kulit
normal, besarnya lentikular, yang dapat ditemukan pada permukaan
kutaneus. Veruka vulgaris dapat berupa papul soliter atau multiple di
tangan dan jari.7
2. Kondiloma lata4
Dijumpai pada sifilis stadium II, lesinya berupa papul-papul lentikuler,
permukaannya datar, sebagian berkonfluensi, terletak pada lipatan kulit
dan karena gesekan-gesekan antara kulit permukaannnya menjadi erosif,
eksudatif, dan sangat menular.4 Biasanya pada stadium ini lesi tidak gatal
dan umumnya terjadi limfadenitis generalisata. Selain itu juga dijumpai
gejala konstitusi seperti anoreksia, penurunan berat badan, malaise, nyeri
kepala, demam yang tidak terlalu tinggi, dan atralgia.5
3. Karsinoma sel skuamosa4
Lesinya berupa nodul yang keras dengan batas yang tidak tegas,
permukaan licin seperti kulit normal dan pada akhirnya berkembang
menjadi verukosa atau papiloma dan biasanya akan tampak skuamasi.

Pada keadaan yang lebih lanjut dapat timbul ulserasi, mudah berdarah ,dan
berbau.4,5
2.8. Penatalaksanaan
1. Nonmedikamentosa
a. Diberikan penjelasan kepada pasien bahwa Kondiloma Akuminata
menular melalui kontak seksual sehingga perlu dilakukan
penanganan terhadap pasangan seksualnya4
b. Pasien sebaiknya melakukan konseling kemungkinan risiko tertular
HIV4
2. Medikamentosa4
a. Triktura podofilin 25%. Podofilin memiliki sifat antimitotik dan
sitotoksik.4 Kulit di sekitarnya dilindungi dengan vaselin agar tidak
terjadi iritasi, biarkan selama 1 sampai 4 jam kemudian dicuci.
Pemberian obat dilakukan seminggu dua kali sampai lesi hilang,
Pada wanita hamil jangan diberikan karena dapat terjadi kematian
fetus.3,4
b. Asam trikloasetat. Asam trikoasetat mempunyai efek kaustik
dengan menimbulkan koagulasi dan nekrosis pada jaringan
superficial.4 Digunakan larutan dengan konsentrasi 50%, dioleskan
seminggu sekali. Respon baik pada wanita hamil.7
c. Bedah listrik (elektrokauterisasi)4
d. Bedah beku (N2, N2O cair)4
e. Bedah scalpel4

2.9. Prognosis
Walaupun sering mengalami residif, prognosisnya baik. Infeksi HPV dapat
berulang jika ada infeksi berulang dari kontak seksual, adanya virus persisten di
sekitar kulit, folikel rambut atau tempat yang tidak dijangkau secara adekuat
dengan terapi yang digunakan serta ada penyakit immunosupresi.7

BAB III
LAPORAN KASUS

I Identitas Pasien
Nama

: INK

Umur

: 34 Tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Belayu, Tabanan

Suku

: Bali

Bangsa

: Indonesia

Agama

: Hindu

Tanggal Pemeriksaan : 6 April 2015


II Anamnesis
Keluhan Utama
bintik-bintik pada batang penis sejak 10 hari yang lalu
Perjalanan Penyakit
Pasien datang ke poliklinik Kulit dan Kelamin BRSU Tabanan (6 April 2015)
dengan keluhan bintik-bintik di batang penis sejak 10 hari yang lalu. Awalnya
pasien merasa ada lecet dan gatal pada batang penisnya lama-kelamaan timbul
bintik-bintik pada batang penisnya. Nyeri dan rasa terbakar pada penis disangkal
pasien. Pasien mengaku riwayat kontak sosial dengan lebih dari 1 perempuan
bahkan pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Setiap melakukan
kontak seksual kadang menggunakan kondom. Riwayat kontak seksual terakhir
sekitar 1 minggu yang lalu dengan istri. Riwayat ulkus pada penis disangkal
pasien. Riwayat adanya benjolan yang membesar dan berdarah disangkal pasien.
Gejala mual, muntah dan penurunan berat badan disangkal pasien.
Riwayat Pengobatan
Pasien sudah berobat ke dokter umum dan diberikan salep acyclovir dan sudah
menggunakan salep tersebut selama 3 hari
Riwayat Penyakit Terdahulu
Pasien tidak memiliki keluhan serupa sebelumnya

Riwayat Penyakit dalam Keluarga


Riwayat penyakit sistemik dan kelamin dalam keluarga disangkal pasien
Riwayat Sosial
Pasien sudah menikah. Pasien memiliki kebiasaan melakukan kontak seksual
dengan lebih dari 1 perempuan dan lebih sering tidak menggunakan kondom.
Pasien memiliki kebiasaan merokok 1 bungkus per hari
III Pemeriksaan Fisik
Status Present
Keadaan Umum

: Baik

GCS

: 15

Tekanan Darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Respirasi

: 20 x/menit

Temperatur aksila

: 36

Status General
Kepala

: Normocephali

Mata

: anemia -/-, ikterus -/-

THT

: dalam batas normal

Thorax: Cor

: S1 S2 reguler, murmur (-)

Pulmo
Abdomen

: Vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/: distensi (-), bising usus normal, hepar dan lien tidak
teraba

Ekstremitas

: akral hangat, pitting edema (-/-)

Status Dermatologi dan Venerologi


1. Lokasi
Effloresensi

: Korpus penis
: papul multipel, berbentuk bulat, berbatas
tegas, diameter sekitar 0,2 sampai 0,4 cm

2. Mukosa

: dalam batas normal

3. Rambut

: dalam batas normal

4. Kuku

: dalam batas normal

5. Fungsi Kelenjar Keringat

: dalam batas normal

6. Kelenjar Limfe

: dalam batas normal

7. Saraf

: dalam batas normal

Gambar 3.1 Lesi pada korpus penis


Diagnosis Banding
1. Kondiloma Akuminata
2. Veruka Vulgaris
3. Kondiloma Lata
4. Karsinoma Sel Skuamosa
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang tidak dikerjakan

Resume
Pasien laki-laki, 34 tahun, suku Bali mengeluh adanya bintik-bintik di
batang penis sejak 10 hari yang lalu. Awalnya pasien merasa ada lecet dan gatal

pada batang penisnya lama-kelamaan timbul bintik-bintik pada batang penisnya.


Gatal, nyeri dan rasa terbakar pada penis disangkal pasien. Pasien sudah berobat
ke dokter umum dan diberikan salep acyclovir dan sudah menggunakan salep
tersebut selama 3 hari. Pasien mengaku riwayat kontak sosial dengan lebih dari 1
perempuan bahkan pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan status present dan status general dalam
batas normal. Sedangkan pada status dermatologi dan venerologi didapatkan
papul multipel, berbentuk bulat, berbatas tegas, diameter sekitar 0,2 sampai 0,4
cm pada korpus penis.
Diagnosis Kerja
Kondiloma akuminata
Penatalaksanaan
1. Bedah listrik (elektrokauterisasi)
2. KIE : Selama masih terdapat lesi dan dalam masa pengobatan, disarankan
untuk tidak melakukan kontak seksual dan memeriksakan partner seksual
untuk menghindari infeksi berulang.
Prognosis
Dubius ad bonam

BAB IV
PEMBAHASAN

10

Berdasarkan anamnesis yang telah dilakukan dengan penderita didapatkan


bahwa penderita mengeluh adanya bintik-bintik di batang penis sejak 10 hari yang
lalu. Awalnya pasien merasa ada lecet dan gatal pada batang penisnya lamakelamaan timbul bintik-bintik pada batang penisnya. Lesi tidak disertai nyeri dan
rasa terbakar. Pasien mengaku riwayat kontak sosial dengan lebih dari 1
perempuan bahkan pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Setiap
melakukan kontak seksual kadang menggunakan kondom.
Hal ini sesuai dengan teori yang ada bahwa pada Kondiloma Akuminata
khususnya pada pria tempat predileksinya di frenulum,corona, glans penis,
preputium, korpus dan skrotum.3,4 Kelainan kulit yang timbul dapat berupa papul
baik soliter atau multipel, bertangkai serta tidak disertai nyeri.5,7 Kondiloma
Akuminata merupakan salah satu penyakit yang disebarkan melalui hubungan
seksual. Hal ini juga mendukung penegakan diagnosis kondiloma akuminata pada
penderita ini dimana penderita memiliki riwayat melakukan hubungan seksual
dengan multipartner.1,3
Dari status dermatologi dan venerologinya kita dapatkan bahwa lesi
ditemukan di daerah preputium penis dengan effloresensi berupa papul multipel,
berbentuk bulat, berbatas tegas, diameter sekitar 0,2 sampai 0,4 cm. Hal ini sesuai
untuk diagnosis kondiloma akuminata berdasarkan gambaran efloresensinya yang
berupa papul bisa soliter atau multipel.
Dalam mendiagnosis kondiloma akuminata sering dibingungkan dengan
penyakit-penyakit yang lain seperti Kondiloma Lata pada penyakit sifilis stadium
2 (sifilis sekunder), veruka vulgaris dan karsinoma sel skuamosa.7 Sifilis stadium
2 (sifilis sekunder) didapatkan Kondiloma Lata yang berupa papul-papul
lentikuler, permukaannya datar, sebagian berkonfluensi, terletak pada lipatan kulit
dan karena gesekan-gesekan antara kulit permukaannnya menjadi erosif,
eksudatif, dan sangat menular.8 Biasanya pada stadium ini lesi tidak gatal dan
umumnya terjadi limfadenitis generalisata.4 Diagnosis sifilis sekunder dapat
ditentukan oleh adanya ruam kulit yang khas dan tes serologi positif untuk sifilis.
Pada 1 sampai 2% dari kasus sifilis sekunder, tes VDRL kemungkinan memiliki
hasil negatif palsu karena kelebihan antibodi (efek prozone), yang mengganggu
hasil tes.8 Oleh karena tes VDRL tidak spesifik, maka perlu dilakukan

11

pemeriksaan penunjang

lanjutan seperti TPHA (Treponema Pallidum

Haemaglutination Assay) yaitu pemeriksaan antibody spesifik Treponema


pallidum.8,9 Selain itu biasanya pada sifilis stadium 2 ini juga dijumpai gejala
konstitusi seperti anoreksia, penurunan berat badan, malaise, nyeri kepala, demam
yang tidak terlalu tinggi, dan atralgia, gejala ini tidak ditemukan pada Kondiloma
Akuminata.3,4
Veruka vulgaris biasanya terjadi pada anak-anak, namun bisa juga terjadi
pada orang dewasa.4 Kelainan ini berbentuk papul berwarna abu-abu atau seperti
warna kulit normal, besarnya lentikular, yang dapat ditemukan pada permukaan
kutaneus.3,5 Veruka vulgaris juga disebabkan oleh Human Papilloma Virus sama
seperti Kondiloma Akuminata namun tipe virus yang berbeda.7 Veruka vulgaris
disebabkan oleh HPV tipe 1 dan 2 sedangkan Kondiloma Akuminata disebabkan
oleh HPV tipe 6 dan 11.3 Veruka vulgaris dapat berupa papul soliter atau multipel
di tangan dan jari.3,4
Pada kasus karsinoma sel skuamosa didapatkan berupa nodul yang keras
dengan batas yang tidak tegas, permukaan licin seperti kulit normal dan pada
akhirnya berkembang menjadi verukosa atau papiloma dan biasanya akan tampak
skuamasi.3,5 Pada keadaan yang lebih lanjut dapat timbul ulserasi, mudah berdarah
,dan berbau.4
Modalitas terapi penderita Kondiloma Akuminata ada dua yaitu terapi
topikal dan terapi bedah.4 Selain terapi tersebut, pemberian KIE kepada penderita
juga sangat penting untuk mencegah penularan atau penyebaran penyakit ini ke
orang lain.5,7 Pada penderita ini penatalaksanaan yang dilakukan adalah dengan
melakukan elektrokauterisasi. Elektrokauterisasi merupakan tindakan bedah minor
menggunakan energi panas dengan voltase yang rendah untuk menghilangkan lesi
berupa papul.3,4
Prognosis pada penderita ini adalah dubius. Hal ini disebabkan karena
kesembuhan penderita terhadap penyakit kondiloma akuminata ini bergantung
pada status imunitas penderita dan sejauh mana penderita bisa menjaga perilaku
khususnya dalam melakukan hubungan seksual dan juga menjaga kebersihan
dirinya.4,7 Meskipun sudah dilakukan terapi elektrokauterisasi, jika virus HPV

12

masih berada di stratum basal tempat lain, ada kemungkinan untuk terjadinya
Kondiloma Akuminata kembali.4

BAB V
SIMPULAN
13

Kondiloma Akuminata adalah merupakan penyakit infeksi menular


seksual berupa proliferasi kulit dan mukosa yang disebabkan oleh infeksi Human
Papilloma Virus (HPV) terutama tipe 6 dan 11. Prevalensi tertinggi terjadi pada
kelompok dewasa muda terutama pada usia 17 sampai 35 tahun. Prevalensi
penyakit Kondiloma Akuminata pada pria dan wanita adalah sama.
Kebanyakan pasien dengan Kondiloma Akuminata datang dengan keluhan
benjolan pada area anogenital. Jarang terdapat gejala seperti nyeri maupun
perdarahan. Kelainan kulit berupa papul baik soliter atau multipel, bertangkai dan
permukaannya bisa berjonjot (papilomatosa) atau verukous (seperti jengger
ayam).
Diagnosis Kondiloma Akuminata berdasarkan atas anamnesis, tanda-tanda
klinis dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis penting untuk ditanyakan
mengenai riwayat kontak seksual karena penyakit ini menular akibat kontak
seksual. Pemeriksaan penunjang, yang dapat dilakukan yaitu tes asam asetat dan
pemeriksaan histopatologi. Beberapa penyakit yang merupakan diagnosis banding
kondiloma akuminata antara lain veruka vulgaris, kondiloma lata, dan karsinoma
sel skuamosa.
Penatalaksanaan Kondiloma Akuminata ada dua yaitu nonmedikamentosa
dan medikamentosa. Secara nonmedikamentosa yaitu diberikan penjelasan kepada
pasien bahwa Kondiloma Akuminata menular melalui kontak seksual sehingga
perlu dilakukan penanganan terhadap pasangan seksualnya. Penatalaksanaan
medikamentosa dapat diberikan podofilin 25%, Asam trikloasetat, bedah listrik
(elektrokauterisasi), bedah beku (N2, N2O cair) dan bedah scalpel.
Walaupun sering mengalami residif, prognosis Kondiloma Akuminata
umumnya baik. Infeksi HPV dapat berulang jika ada infeksi berulang dari kontak
seksual, adanya virus persisten di sekitar kulit, folikel rambut atau tempat yang
tidak dijangkau secara adekuat dengan terapi yang digunakan serta ada penyakit
immunosupresi.
DAFTAR PUSTAKA

14

1. Bakardzhiev I, Pehlvanov G, Stransky D. Treatment Of Condylomata


Acuminata and Bowenoid Papulosis With CO 2 Laser and Imiquimod.
2012. Journal of IMAB, vol 18 (1)
2. Sexually transmitted disease treatment guideline 2010. Morbidity and
Mortality Weekly Report. 2010;59:70-8
3. Ghadishah D, Brenner BE, Chiang WK. Condyloma Acuminata. 2015
Available at http://emedicine.medscape.com/article/781735-overview#3
Accessed in April 7th 2015.
4. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 2010.
Jakarta; FKUI
5. Lacey N, Woodhal C, Wikstorm A, Ross J. European guideline for
management of anogenital warts in adults: 2010,5:1-18
6. Gearhart PA, Chandrasekar PH. Human Papillomavirus. 2015. Available at
http://emedicine.medscape.com/article/219110-overview#3

Accesed

in

April 7th 2015


7. Androphy E, Lowy D, Warts. In Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI,
Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ, eds. Fitzpatricks Dermatology in
General Medicine, 7th ed. New York: Mc Graw-Hill; 2008:p1914-23
8. Joseph Dylewski J, Duong M. The rash of secondary syphilis. CMAJ
January 2, 2007 vol. 176 no. 1 33-35
9. Cherneskie T. An Update and Review of the Diagnosis and Management
of Syphilis. Region II STD/HIV Prevention Training Center; New York
City Department of Health and Mental Hygiene, New York. NY: 2006.

15