Anda di halaman 1dari 2

Dampak Krisis Ekonomi Terhadap

Keberadaan Pedagang Kaki Lima


Pedagang kaki lima adalah orang yang dengan modal yang
relatif sedikit berusaha di bidang produksi dan penjualan barang-barang
(jasa-jasa) untuk memenuhi kebutuhan kelompok tertentu di dalam
masyarakat, usaha tersebut dilaksanakan pada tempat-tempat yang
dianggap strategis dalam suasana lingkungan yang informal (Winardi
dalam Haryono, 1989).
Pedagang kaki lima pada umumnya adalah self-employed, artinya mayoritas
pedagang kaki lima hanya terdiri dari satu tenaga kerja. Modal yang
dimiliki relatif tidak terlalu besar, dan terbagi atas modal tetap,
berupa peralatan, dan modal kerja.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen
usaha dan pengelolaan modal yang dilakukan oleh pedagang kaki lima di
Kawasan Malioboro, Selanjutnya penelitian ini juga bertujuan untuk
mengetahui dampak krisis ekonomi terhadap keberadaan pedagang kaki lima
di Kawasan Malioboro dalam manajemen usaha dan pengelolaan modalnya,
serta untuk mengetahui usaha pemberdayaan bagi pedagang kaki lima oleh
organisasi atau pihak terkait sebagai bentuk perhatian dan pemecahan
masalah terhadap kondisi krisis ekonomi saat ini.
Metode penelitian
Dalam penelitian ini terdapat 4 variabel utama yang akan diteliti,
yaitu (1) manajemen usaha pedagang kaki lima, (2) pengelolaan modal
pedagang kaki lima, dan (3) dampak krisis ekonomi terhadap manajemen
usaha dan pengelolaan modal pedagang kaki lima, serta (4) usaha
pemberdayaan pedagang kaki lima di Kawasan Malioboro oleh pihak-pihak
terkait.asil penelitian
Kawasan Malioboro dihuni oleh berbagai macam pedagang kaki lima, antara
lain : pedagang kaki lima yang berjualan dari pagi sampai malam hari
yang berjualan bermacam-macam barang dagangan dan menghadap pertokoan -
umumnya mereka anggota Koperasi Tri Dharma;
pedagang kaki lima yang berjualan malam sampai pagi hari atau dikenal
sebagai pedagang makanan lesehan - umumnya mereka juga merupakan
anggota Koperasi Tri Dharma; pedagang kaki lima yang
membuat atau menjual barang-barang kerajinan yang biasanya membelakangi
pertokoan yang tergabung dalam Paguyuban Pemalni;
dan pedagang kaki lima liar yaitu pedagang kaki lima yang tidak menjadi
anggota Koperasi Tri Dharma maupun Paguyuban Pemalni yang berjualan di
Kawasan Malioboro.Pedagang kaki lima di Kawasan Malioboro secara umum
cukup berpendidikan (terbukti mayoritas telah lulus SLTP ke atas),
namun karena persaingan mencari kerja yang begitu ketat dan kurangnya
ketrampilan untuk memasuki dunia kerja di sektor formal, maka pilihan
menjadi pedagang kaki lima menjadi salah satu alternatif pekerjaan.
Manajemen Usaha dan Pengelolaan Modal Pedagang Kaki Lima Malioboro
Manajemen usaha pedagang kaki lima mencakup asal barang dagangan,
penentu harga barang dagangan, kelayakan harga barang dagangan, sikap
terhadap pembeli, pengelolaan hasil usaha, waktu berjualan sekarang.
Sedangkan pengelolaan modal usaha pedagang kaki lima mencakup sumber
modal usaha, asal modal usaha, jumlah modal usaha awal, taksiran nilai
barang dagangan dan peralatan, pendapatan bersih rata-rata per bulan,
banyaknya kebutuhan dari penggunaan pendapatan bersih rata-rata per
bulan, dan hambatan pengelolaan modal usaha.
abel 3
Perubahan Kebutuhan Dari Penggunaan Pendapatan Bersih Rata-Rata Per
Bulan
PERUBAHAN KONSUMSI HARIAN MODAL USAHA BIAYA PRODUKSI
Tidak berubah 157 (78,5%) 178 (89,0%) 198 (99,0%)
Lebih sedikit 6 (3,0%) 6 (3,0%) 1 (0,5%)
Lebih banyak 37 (18,5%) 16 (8,0%) 1 (0,5%)
TOTAL 200 (100%) 200 (100%) 200 (100%) 200 (100%) 200 (100%) 200 (100%)
PERUBAHAN TABUNGAN BIAYA PENDIDIKAN PEMBAYAR HUTANG Tidak
berubah 167
(83,5%) 179 (89,5%) 182 (91,0%)
Lebih sedikit 28 (14,0%) 3 (1,5%) 12 (6,0%)
Lebih banyak 5 (2,5%) 18 (9,0%) 6 (3,0%)
TOTAL 200 (100%) 200 (100%) 200 (100%)Sumber : Data Diolah (1999)
Bukti-bukti di atas menggambarkan pekerjaan sebagai pedagang kaki lima
merupakan salah satu pekerjaan yang relatif tidak terpengaruh krisis
ekonomi karena dampak krisis ekonomi tidak secara nyata dirasakan oleh
pedagang kaki lima. Oleh karena itu diperlukan kesamaan gerak dan langkah
pedagang kaki lima melalui keberadaan organisasi-organisasi pedagang
kaki lima. Pemberdayaan melalui organisasi pedagang kaki lima perlu diupayakan.
Temuan menarik di lapangan menunjukkan perhatian organisasi pedagang
kaki lima kepada anggota cukup besar, namun demikian perhatian yang
diberikan belum optimal karena masih sebatas mengorganisir dan mengatur
keberadaan pedagang kaki lima dan dalam kondisi krisis ekonomi ini
organisasi kurang mampu melakukan pemberdayaan (empowerment) pedagang
kaki lima.
Berbagai kinerja yang dihasilkan pedagang kaki lima pada saat krisis
ekonomi menunjukkan tidak ada kaitan yang jelas antara upaya organisasi
pedagang kaki lima dengan perubahan kinerja usaha.
Bagaimanapun organisasi pedagang kaki lima belum mampu membantu
pedagang kaki lima dalam mengatasi krisis ekonomi yang terjadi dan
keadaan ini sebenarnya menjadi tantangan yang masih harus diperhatikan
oleh pihak-pihak terkait.