Anda di halaman 1dari 20

KAJIAN KANDUNGAN LOGAM BERAT TIMBAL (Pb) DAN KADMIUM

(Cd) PADA PENGOLAHAN IKAN ASIN LENCAM DI KAWASAN


KABUPATEN BANGGAI KEPULAUAN

PROPOSAL
ANDI RIESTI ANGELIN PEURU
G701 11 085

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU, 2015

A. LATAR BELAKANG
Kabupaten Banggai Kepulauan secara geografis terletak di sebelah timur
Pulau Sulawesi, tepatnya di antara 10,06 20,20 LS dan 1220,40 1240,13
BT dengan batas wilayah: sebelah utara berbatasan dengan Selat Peling/Laut
Maluku; sebelah timur berbatasan dengan Laut Maluku; sebelah selatan
berbatasan dengan Teluk Tolo; dan sebelah barat berbatasan dengan Selat Peling.
Kabupaten Banggai Kepulauan merupakan salah satu wilayah pesisir
dengan luas wilayah daratan 3.160,46 km2 dan luas wilayah lautan 18.828,10 km2
(Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai, 2010). Luas wilayah lautan yang cukup
besar dibandingkan dengan wilayah daratannya inilah yang menyebabkan tingkat
ketergantungan hidup masyarakat di Kabupaten Banggai Kepulauan terhadap
sumberdaya laut cukup tinggi. Ketergantungan ini membuat segala aktivitas
untuk memenuhi kebutuhan kesehariannya tidak terlepas dari eksploitasi
sumberdaya ikan (Fahriny & Sharifuddin, 2013).
Ikan diketahui sebagai salah satu sumber masuknya logam berat dalam
tubuh manusia. Dalam lingkungan perairan, unsur-unsur logam walaupun
kadarnya relatif rendah dapat diabsorbsi secara biologik oleh hewan air dan
penyerapan tersebut akan terlibat dalam sistem jaringan makanan.
Sejumlah besar logam berat di udara berasal dari tetesan air laut yang
mengering, debu partikel dari volcano, erosi tanah, pelapukan bebatuan dan
kebakaran hutan. Biodegredasi dari binatang dan tanaman juga memberikan
kontribusi penting dalam peningkatan kadar logam dalam air (Agarwal, 2009).
Agarwal, S. K. , 2009, Heavy Metal Pollution, S.B Nangia, Delhi. Manusia dapat

terkontaminasi logam berbahaya ini melalui makanan (65%), air (20%), maupun
udara (15%).
Akumulasi logam berat pada ikan dapat terjadi karena adanya kontak
antara medium yang mengandung toksik dengan ikan. Kontak berlangsung
dengan adanya pemindahan zat kimia dari lingkungan air ke dalam atau
permukaan tubuh ikan, misalnya logam berat masuk melalui insang. Masuknya
logam berat kedalam tubuh organisme perairan dengan tiga cara yaitu melalui
makanan, insang, dan difusi melalui permukaan kulit. Logam berat dapat
terakumulasi di dalam tubuh suatu organisme dan tetap tinggal dalam jangka
waktu lama sebagai racun. Logam tersebut dapat terdistribusi ke bagian tubuh
manusia dan sebagian akan terakumulasikan melalui berbagai perantara salah
satunya adalah melalui makanan yang terkontaminasi oleh logam berat. Jika
keadaan ini berlangsung terus menerus dalam jangka waktu lama dapat mencapai
jumlah yang membahayakan kesehatan manusia (Sumah & Aunurohim, 2013).
Dalam penelitian ini, digunakan ikan asin sebagai sampel penelitian
karena ikan asin banyak dikonsumsi oleh masyarakat Kabupaten Banggai
Kepulauan. Selain itu, daerah ini juga sangat terkenal dengan hasil pengawetan
ikan, baik melalui proses penggaraman maupun pengasapan, serta merupakan
penyalur terbesar untuk kebutuhan ikan pengasapan dan ikan asin.
Proses penggaraman ikan asin di Kabupaten Banggai Kepulauan
umumnya hanya memanfaatkan halaman rumah mereka berada di pinggir jalan
raya sebagai lokasi penjemuran. Pemanfaatan lokasi penjemuran di pinggir jalan

raya banyak dilalui kendaraan bermotor dapat menyebabkan meningkatnya


jumlah zat pencemar berupa gas maupun partikel kontaminasi udara di sekitar
tempat penggaraman ikan asin. Penggunaan garam yang diolah sendiri oleh
masyarakat adalah garam laut, memungkinkan adanya kandungan logam yang
berasal dari pencemaran laut.
Badan Standarisasi Nasional (2009) menetapkan batas maksimum
cemaran timbal (Pb) pada ikan dan hasil olahannya sebesar 0,3 mg/kg, dan pada
kadmium (Cd) sebesar 0,1 mg/kg.
Pemaparan timbal dapat menyebabkan efek yang luas, seperti efek pada
perkembangan sistem saraf, mortalitas (kebanyakan disebabkan oleh penyakit
kardiovaskular), kerusakan pada fungsi ginjal, hipertensi, dan gangguan pada
kesuburan. Pada anak-anak, ditemukan hubungan antara tingkat kadar timbal
dalam darah dengan penurunan intelligence equotient (IQ) (JEFCA, 2010).
Sedangkan kadmium merupakan logam berat yang memiliki efek jangka panjang
karena memiliki t yang sangat panjang yaitu 15 tahun (JEFCA, 2010). Dalam
hal ini, pemaparan kadmium dapat menyebabkan peradangan pada saluran
pencernaan dan kerusakan hati dan ginjal (Dreisbach, 1994). Kadmium juga
diklasifikasikan sebagai senyawa karsinogen (WHO, 2010).
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan analisis kadar logam
timbal (Pb) dan kadmium (Cd) pada ikan asin untuk mengetahui tingkat cemaran
yang terjadi di wilayah Teluk Kabupaten Banggai Kepulauan dan mengetahui

apakah ikan asin tersebut layak dikonsumsi masyarakat sehingga masyarakat


terhindar dari bahaya logam timbal (Pb) dan kadmium (Cd).

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang, maka rumusan masalah yang ada
dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah ikan asin lencam yang beredar di kawasan Kabupaten Banggai
Kepulauan tercemar timbal dan kadmium?
2. Berapa banyak cemaran timbal pada ikan asin lencam yang beredar di
kawasan Kabupaten Banggai Kepulauan ?
3. Berapa banyak cemaran kadmium pada ikan asin lencam yang beredar di
kawasan Kabupaten Banggai Kepulauan?
C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui adanya cemaran timbal dan kadmium pada spesies ikan asin yang
beredar di kawasan Kabupaten Banggai Kepulauan.
2. Mengetahui jumlah cemaran timbal pada ikan asin lencam yang beredar di
kawasan Kabupaten Banggai Kepulauan.
3. Mengetahui jumlah cemaran kadmium pada ikan asin lencam yang beredar di
kawasan Kabupaten Banggai Kepulauan.

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi Pemerintah
Dapat memberikan informasi bagi pihak-pihak atau instansi yang secara
langsung maupun tidak langsung sehingga ada inisiatif dari pemerintah untuk
bisa mengantisipasi atau menanggulangi logam berat timbal (Pb) dan
kadmium (Cd) pada ikan asin lencam yang cukup banyak dikonsumsi oleh
masyarakat Kabupaten Banggai Kepulauan.
2. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian menjadi sumber informasi bagi masyarakat Kabupaten
Banggai Kepulauan mengenai keberadaan logam timbal dan kadmium pada
ikan asin lencam di kawasan Kabupaten Banggai Kepulauan.
3. Bagi Peneliti
Memberikan keterampilan dalam menganalisis kandungan zat yang
terdapat dalam suatu bahan, baik zat yang bersifat racun maupun yang
bermanfaat untuk kesehatan.
E. BATASAN MASALAH
Masalah pada penelitian ini dibatasi pada pengukuran jumlah cemaran
logam Timbal (Pb) dan logam Kadmium (Cd) dalam ikan asin lencam di
kawasan Kabupaten Banggai Kepulauan.

F. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Banggai Kepulauan
Kabupaten Banggai Kepulauan pada mulanya adalah bagian dari
Kabupaten Banggai yang dahulu bernama Luwuk Banggai, dengan Ibukota
Kota Luwuk yang terletak di Pulau Sulawesi. Wilayah kabupaten ini
meliputi 14 kecamatan, yakni 7 kecamatan di wilayah daratan, sedang 7
kecamatan lain berada di pulau-pulau kecil diluar Pulau Sulawesi. Wilayah
kepulauan ini dahulu akrab dengan sebutan wilayah Banggai Laut, sedang
kecamatan yang di daratan Sulawesi akrab dengan nama sebutan Banggai
Darat. Pada sektor perikanan untuk potensi hasil laut di wilayah Kabupaten
Banggai Kepulauan pada tahun 2000 dalam bentuk jenis komoditi ikan asin
diperoleh jumlah produksi 27.035 kg (Gema Montolutusan, 2000).
Kabupaten

Banggai

Kepulauan

memiliki

jumlah

penduduk

sebanyak 177.432 jiwa di tahun 2014 (Data Penduduk Kementerian Dalam


Negeri Republik Indonesia, 2014).
Secara geografi Kabupaten Banggai Kepulauan mempunyai
wilayah lautan yang lebih luas dari daratan. Secara keseluruhan luas wilayah
Kabupaten Banggai Kepulauan adalah 22.042,56 km (luas wilayah daratan
3.160,46 km2 dan luas wilayah lautan 18.828,10 km2) (Pemerintah Daerah
Kabupaten Banggai Kepulauan, 2010).
Menurut survei Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai Kepulauan
(2010), Kabupaten Banggai Kepulauan sebagai bagian yang terintegrasi dari

wilayah Provinsi Sulawesi Tengah merupakan salah satu Kabupaten


Maritim yaitu terdiri dari 342 Pulau, dengan rincian 5 Pulau sedang, yang
terdiri dari Pulau Peling (luas 2.340 km2), Pulau Banggai (268 km2), Pulau
Bangkurung (145 km2), Pulau Salue Besar (84km2), Pulau Labobo (80km2)
dan 337 pulau-pulau kecil. Secara administratif, Kabupaten Banggai
Kepulauan memiliki 19 kecamatan yang terbagi menjadi 205 desa, dan 6
kelurahan, dimana rincian luasan setiap kecamatan tersaji pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1.
Pembagian Wilayah Administrasi
Kabupaten Banggai Kepulauan sampai pada Tahun 2010

No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15
16.
17.

Luas Wilayah (Km2)

Kecamatan
Labobo
Bokan Kepulauan
Bangkurung
Banggai
Banggai Utara
Banggai Tengah
Banggai Selatan
Totikum
Totikum Selatan
Tinangkung
Tinangkung Selatan
Tinangkung Utara
Liang
Peling Tengah
Bulagi
Bulagi Selatan
Bulagi Utara

Darat
85,65
229,08
116,55
86,95
58,05
68,19
81,20
155,45
95,19
312,60
187,89
136,65
176,19
140,00
275,66
319,00
318,00

%
4,30
4,07
4,30
15,55
11,53
11,53
11,53
12,55
12,55
41,16
42,79
41,16
25,76
25,76
47,59
47,58
47,59

Laut
1.907,33
5.394,56
2.595,44
667,34
445,54
523,36
623,21
1.082,85
663,09
446,96
251,23
195,38
507,78
403,49
303,58
351,45
350,21

%
95,70
95,93
95,70
88,47
88.47
88,47
88,47
87,45
87,45
58,84
57,21
58,84
74,24
74,24
52,41
52,42
52,41

18.
19.

Buko
Buko Selatan

184,84
14,96
1.050,60
187,32
14,96
1.064,70
3.214,46
14,58
18.828,10
(Sumber : Kabupaten Banggai Kepulauan Dalam Angka (2010))

85,04
85,04
85,42

Menurut survei Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi


Tengah di Tahun 2014 Kab. Banggai Kepulauan memiliki volume produksi
perikanan tangkap di laut menurut jenis ikan, sebagai berikut :
No.

Jenis Ikan

Volume Produksi (Satuan : Ton)

1.

Kuwe

3.792,00

2.

Lencam

4.424,80

3.

Kakap Merah / Bambangan

3.721,90

4.

Kerapu Sunu

3.736,30

5.

Pinjalo

3.280,00

2.2 Ikan Lencam


Ikan lencam (Gambar 1) merupakan salah satu jenis ikan karang yang
termasuk dalam kelompok ikan target konsumsi dan memiliki nilai ekonomis
penting. Menurut Marsoali (2001), klasifikasi adalah sebagai berikut :
Filum

: Chordata

Subfilum

: Vertebrata

Kelas

: Pisces

Subkelas

: Teleostei

Ordo

: Percimorphi

Subordo

: Perciodea

Family

: Lethrinidae

Genus

: Lethrinus

Spesies

: Lethrinus lentjan

Nama umum : Pink ear emperor


Nama local : Drapapa (Pulau Panggang), Butila (Halmahera)

Gambar 1. Ikan Lencam (Lethrinus lentjan)


Secara umum, ciri morfologi ikan lencam (Lethrinus lentjan), yaitu
bentuk badan agak tinggi dan pipih. Lengkung kepala bagian atas sampai
setelah mata hampir lurus, dari mata sampai awal dasar sirip punggungnya

agak cembung dan sirip ekor berlekuk. Kepala dan badan bagian atas hijau
kecokelatan, bagian bawah lebih terang. Badan dengan sirip yang
mempunyai bercak putih, kuning atau merah mudah. Sirip punggung
berwarna putih dengan burik garis jingga kemerahan. Sirip berwarna putih
dengan ujung-ujung sirip berwarna putih atau jingga. Bagian belakang
operkulum dan dekat dengan sirip dada terdapat garis merah. Mulut yang
tipis memanjang dengan bibir tebal (FAO, 2001).
Sirip punggung yang keras sebanyak 10 dan 9 sirip yang lemah, sirip
dubur yang keras sebanyak 3 dan 8 sirip yang lemah, sirip dada yang keras
sebanyak 1 dan 12 sirip yang lemah, sirip perut yang keras sebanyak 1 dan 5
sirip yang lemah, dengan jumlah sisik pada guratan sisik antara 47-48 buah.
Habitat ikan lencam umumnya di daerah terumbu karang, lamun, mangrove,
di perairan pantai yang dangkal dengan dasar berpasir hingga perairan
dengan kedalaman 50 meter. Biasanya menempati daerah laguna dan dekat
terumbu karang (FAO, 2001).
Ikan lencam adalah karnivor bottom feeders. Secara umum, ikan
lencam memangsa krustasea (kepiting, udang), moluska (gastropoda,
bivalvia, nudribranch, cumi-cumi dan gurita kecil), echinodermata
(seaurchins, bintang dolar, bintang laut, brittlestar), polychaeta, dan ikan
(Toor, 1986).

2.3 Logam Timbal


Timbal merupakan logam berwarna abu-abu kebiruan dengan
kerapatan yang tinggi 11,48 g/ml pada suhu kamar. Pb mudah larut dalam
asam nitrat yang sedang pekatnya (8 M) dan terbentuk nitrogen oksida :
Pb + 8 HNO3 3 Pb2+ + 6 NO3- + 2 NO + 4 H2O ............................(2.1)
Gas nitrogen (Il) oksida yang tidak berwarna itu, bila dicampur
dengan udara akan teroksidasi menjadi nitrogen dioksida yang merah :
NO (tak berwama) + O2 2 NO2 (merah) .................................... (2.2)
Dengan asam nitrat pekat, terbentuk lapisan pelindung berupa timbal
nitrat pada permukaan logam yang mencegah pelarutan lebih lanjut.Asam
klorida encer atau asam sulfat encer mempunyai pengaruh yang hanya
sedikit, karena terbentuknya timbal klorida atau timbal sulfat yang tak larut
pada permukaan logam itu (Svehla, 1990).
Akumulasi timbal di dalam tubuh manusia mengakibatkan gangguan
pada otak dan ginjal, serta kemunduran mental pada anak yang sedang
tumbuh. Perairan tawar alami biasanya memiliki kadar timbal < 0,05
mg/liter. Pada perairan laut, kadar timbal sekitar 0,025 mg/liter. Toksisitas
akut timbal terhadap beberapa jenis avertebrata air tawar dan air laut
berkisar antara 0,5 5,0 mg/liter (Toor, 1991).
Keracunan logam timbal dapat menyebabkan anemia, dalam darah Pb
dapat bersenyawa dengan enzim aktif menjadi enzim tidak aktif sehingga
sintesa darah merah (HbO) dapat dihambat, akibatnya dapat menimbulkan
penyakit anemia (Palar, 1994).
2.4 Logam Kadmium

Kadmium merupakan hasil sampingan dari pengolahan bijih logam


seng (Zn), yang digunakan sebagai pengganti seng. Unsur ini bersifat
lentur, tahan terhadap tekanan, memiliki titik lebur rendah serta dapat
dimanfaatkan untuk pencampur logam lain seperti nikel, perak, tembaga,
dan besi. Senyawa kadmium juga digunakan bahan kimia, bahan fotografi,
pembuatan tabung TV, cat, karet, sabun, kembang api, percetakan tekstil
dan pigmen untuk gelas dan email gigi (Jensen and Bateman, 1981).
Kadmium merupakan salah satu jenis logam berat yang berbahaya
karena elemen ini beresiko tinggi terhadap pembuluh darah. Waktu paruh
kadmium 10-30 tahun. Akumulasi pada ginjal dan hati 10-100kali
konsentrasi pada jaringan yang lain. Logam berat ini bergabung bersama
timbal dan merkuri sebagai the big three heavy metal yang memiliki tingkat
bahaya tertinggi pada kesehatan manusia (Widaningrum, dkk, 2007).
Kadmium digunakan pada pembuatan logam campuran, dan
terdapat pada solder perak. Patologi yang ditemukan pada kasus keracunan
kadmium dalam pencernaan adalah peradangan pada saluran pencernaan,
kerusakan hati dan ginjal (Dreisbach, 1994).

2.5 Metode Spektrofotometer Serapan Atom


Spektrofotometer serapan atom digunakan untuk analisis kuantitatif
unsur-unsur logam dalam jumlah sekelumit (trace) dan sangat sekelumit
(ultratrace). Cara analisis ini memberikan kadar total unsur logam dalam
suatu sampel dan tidak tergantung pada bentuk molekul logam dalam
sampel tersebut. Cara ini cocok untuk analisis sekelumit logam karena
mempunyai kepekaan yang tinggi (batas deteksi kurang dari 1 ppm),
pelaksanaanya

relatif

sederhana,

dan

interferensinya

sedikit.

Spektrofotometri serapan atom didasarkan pada penyerapan energi sinar


oleh atom-atom netral dalam bentuk gas (Rohman dan Gandjar, 2007).
Proses yang terjadi ketika dilakukan analisis dengan menggunakan
spektrofotometri atom dengan cara absorbsi yaitu penyerapan energi radiasi
oleh atom-atom yang berada pada tingkat dasar. Atom-atom tersebut
menyerap radiasi pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat
atom tersebut (Rohman dan Gandjar, 2007).

Gambar 2. Skema Umum Komponen pada Alat Spektrofotometer


Serapan Atom (Welz and Michael, 2005).
Prinsip dasar spektrofotometri serapan atom adalah penyerapan
cahaya oleh atom bebas dari suatu unsur pada tingkat energi terendah
(ground state). Keadaan ground state dari sebuah atom adalah keadaan
dimana semua elektron yang dimiliki unsur tersebut memiliki konfigurasi

yang stabil. Saat cahaya diserap oleh atom, maka satu atau lebih electron
tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi. Penyerapan energi cahaya ini
berlangsung pada panjang gelombang yang spesifik untuk setiap logam dan
mengikuti humum Lambert-Beer, yakni serapan berbanding lurus dengan
konsentrasi uap atom dalam nyala (Vandecasteele & Block, 1993).
G. METODE PENELITIAN
1. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Sampel yang digunakan diperoleh dari 2 wilayah yang berbeda di kawasan
Kabupaten

Banggai

Kepulauan.

Lokasi

wilayah

pengambilan

sampel

digambarkan pada gambar 3.


Penelitian ini akan dilaksanakan dari bulan Juli 2015 sampai selesai.
Tempat penelitian adalah Laboratorium Kimia Farmasi, Prodi Farmasi FMIPA
Universitas Tadulako dan Laboratorium Kesehatan Kota Palu.

Gambar 3. Lokasi pengambilan sampel


2. Alat dan Bahan
Alat yang

digunakan

adalah

alumunium

foil,

gelas

beaker,

blender/homogenizer, botol polypropylene, cawan porselen tertutup; corong

plastic, desikator, gelas ukur, hot plate, labu takar (polypropylene), labu takar,
microwave (khusus destruksi sampel ikan asin lencam untuk pengujian logam),
mikropipet, oven, pipet tetes, pipet volumetric, pisau, refrigerator atau freezer,
sendok plastik, seperangkat alat Spektrofotometer Serapan Atom (Atomatic
Absorption spectrophotometer) dengan graphite furnace, timbangan analitik,
tungku pengabuan (furnace), dan wadah polystyrene.
Bahan-bahan yang digunakan adalah: ikan asin lencam yang berasal dari
kawasan Kabupaten Banggai Kepulauan, air deionisasi, HCl 37 %, HCl 6 M,
HNO3 65 %, HNO3 0,1 M, NH4OH 1N, larutan NH4H2PO4 40mg/ml .

3. Prosedur Analisis (SNI 2354.5:2011)


a. Preparasi sampel
Sampel yang telah diambil dibersihkan dan dicuci, kemudian
dilumatkan/haluskan sampel dengan blender/homogenizer hingga menjadi
partikel kecil. Tempatkan sampel ke dalam wadah polystyrene yang bersih dan
bertutup. Jika sampel tidak langsung dianalisis, simpan sampel dalam suhu
ruang sampai saatnya untuk dianalisis.
b. Pengabuan kering (dry ashing)
Produk basah ditimbang sebanyak 5 gram atau produk kering sebanyak
0,5 gram ke dalam cawan porselin dan catat beratnya (W). Kontrol positif Pb
dan Cd dibuat dengan cara pembuatan spiked 0,05 mg/kg Pb dan Cd, spiked
diuapkan di atas hot plate pada suhu 100C sampai kering, sampel dan spiked
dimasukkan kedalam tungku pengabuan dan separuh permukaannya ditutup.
Suhu tungku pengabuan dinaikkan secara bertahap 100C setiap 30 menit
sampai mencapai 450C dan dipertahankan selama 18 jam, sampel dan spiked
dikeluarkan dari tungku pengabuan dan didinginkan pada suhu kamar, setelah
dingin ditambahkan 1 ml HNO3 65%, kemudian digoyangkan secara hati-hati
sehingga semua abu terlarut dalam asam dan selanjutnya diuapkan diatas hot
plate pada suhu 100oC sampai kering, setelah kering sampel dan spiket
dimasukkan kembali ke dalam tungku pengabuan, kemudian suhu dinaikkan
secara bertahap 100oC setiap 30 menit sampai mencapai 450oC dan
pertahankan selama 3 jam, setelah abu terbentuk sempurna berwarna putih,
sampel dan spiked didinginkan pada suhu ruang, selanjutnya ditambahkan 5
ml HCl 6 M kedalam masing-masing sampel dan spiked, dan digoyangkan

secara hati-hati sehingga semua abu larut dalam asam, lalu diuapkan diatas
hot plate pada suhu 100C sampai kering, lalu ditambahkan 10 ml HNO 3 0,1
M dan didinginkan pada suhu ruang selama 1 jam, kemudian larutan
dipindahkan ke dalam labu takar polypropylene 50 ml dan ditambahkan
larutan matrik modifier, selanjutnya ditepatkan sampai tanda batas dengan
menggunakan HNO3 0,1 M.
c. Dekstruksi basah menggunakan microwave
Sampel basah ditimbang sebanyak 2 gram atau sampel kering
ditimbang sebanyak 02, gram 0,5 gram, lalu dimasukkan ke dalam tabung
sampel (vessel) kemudian beratnya (W) dicatat, untuk kontrol positif (spiked
0,1 mg/kg), ditambahkan masing-masing 0,2 ml larutan standar Pb dan Cd 1
mg/l atau larutan standar Pb dan Cd 200g/l sebanyak 1 ml ke dalam sampel
kemudian di vortex, lalu ditambahkan secara berurutan 5 ml 10 ml HNO 3
65% dan 2 ml H2O2, kemudian dilakukan destruksi dengan mengatur program
microwave (disesuaikan dengan microwave yang digunakan), selanjutnya
hasil destruksi dipindahkan ke labu takar 50 ml dan ditambahkan larutan
matrik modifier, kemudian ditepatkan sampai tanda batas dengan air
deionisasi.

d. Pembacaan kurva kalibrasi pada SSA


Menyiapkan larutan standar kerja Pb dan Cd masing-masing minimal 5
titik konsentrasi, membaca larutan standar kerja, mengamati sampel dan
spiked pada alat spektrofotometer serapan atom pada panjang gelombang
283,3 mm untuk Pb dan 228,8 nm untuk Cd.
4. Analisa Data
a. Uji Sampel
Pengujian kadar Pb dan Cd dengan menggunakan persamaan yang
sesuai dengan SNI 2354.5:2011.
Perhitungan :
Konsentrasi Pb atau Cd g/g =
Keterangan :
D

: konsentrasi sampel (g/L) dari hasil pembacaan


SSA

: kadar blanko contoh (g/L) dari hasil pembacaan


SSA

: volume akhir larutan contoh yang disiapkan (ml)

Fp

: faktor pengenceran

: berat basah sampel (g)