Anda di halaman 1dari 8

Laporan Eksperimen Eksperimen Fisika I

INTERFEROMETER DAN (+) PRINSIP BABINET

Saepurrohman Sidik (208 700 649)


Prodi Fisika Saintek UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Indonesia
Email : saepul.sarsi@gmail.com

Tanggal Praktikum : 17 April 2010


Asisten : Donald Hery Pratama

1. Tujuan Praktikum
 Merangkai, memahami prinsip kerja interferometer dan membuktikan teori Michelson dan
Mach-Zehnder
 Memahami beberapa karakteristik laser dan optik
 Memahami difraksi dan prinsip babinet untuk mengukur ketebalan rambut

2. Alat dan Bahan


 Kamera untuk memfoto (dibawa oleh praktikan)
 Meja Optik
 Laser He-Ne
 Lima bangku optic
 Dua buah pembagi berkas sinar (beam divider)
 Dua buah penyangga beam divider
 Dua buah cermin datar
 Lensa steris f = 2,7 mm
 Mekanisme fine adjustment
 Layar translusen
 Rambut praktikan (1 helai)
3. Teori Dasar
3.1 Interferometer Michelson
Interferensi adalah penggabungan secara superposisi dua gelombang atau lebih yang bertemu
pada satu titik di ruang. Apabila dua gelombang yang berfrekuensi dan berpanjang gelombang
sama tapi berbeda fase bergabung, maka gelombang yang dihasilkan merupakan gelombang
yang amplitudonya tergantung pada perbedaan fasenya. Jika perbedaan fasenya 0 atau bilangan
bulat kelipatan 3600, maka gelombang akan sefase dan berinterferensi secara saling menguatkan
(interferensi konstruktif). Sedangkan amplitudonya sama dengan penjumlahan amplitudo
masing-masing gelombang. Jika perbedaan fasenya 1800 atau bilangan ganjil kali 1800, maka
gelombang yang dihasilkan akan berbeda fase dan berinterferensi secara saling melemahkan
(interferensi destruktif). Amplitudo yang dihasilkan merupakan perbedaan amplitudo masing-
masing gelombang.

Gambar (1) Rangkaian Interferometer Michelson


Seberkas cahaya dari sumber cahaya laser dipisahkan menjadi dua berkas di beam divider.
Berkas cahaya yang satu dipantulakan oleh cermin datar M1, sedangkan yang lainnya di cermin
datar M2. Kedua berkas cahaya tersebut kemudian dipadukan kembali pada lensa steris untuk
diamatai interferensinya.

3.2 Interferometer Mach Zender


Hampir sama dengan eksperimen Michelson bahwa sinar laser pipancarkan melalui beam
divider ke-1 kemudian di biaskan ke cermin M1 dan M2 kemudian dipantulkan kembali ke beam
divider ke-2 dan dibiaskan ke lensa sferis, hingga menghasilkan gambar pola yang terdapat di
layar.
Gambar (2) Rangkaian Interferometer Mach-Zender

Salah satu keuntungan Interferometer Mach Zender adalah lingkaran daerah interferensi
yang luas pada layar. Seperti yang telah disebutkan interferensi terjadi bila ada dua sinar koheren
dan monokromatik bertemu perbedaan fase akan sangat menentukan jenis interferensi yang
terjadi.
Gelombang dengan fase sama akan saling berinterferensi sempurna, sedangkan bila
gelombang dengan fase berbeda akan berinterferensi destruktif dan bila keduanya digabungkan
maka akan berinterferensi kombinasi dari keduanya. Ada kemungkinan bila arah kedua
gelombang belawanan itu terjadi maka gelombang yang dihasilkan akan saling bertumbukan atau
lurus membentuk garis.

3.3 Prinsip Babinet


Menurut Prinsip Babinet, pola difraksi yang sama terjadi jika satu atau sekelompok celah
diganti dengan komplemennya.
Cahaya yang digunakan pada eksperimen babinet yaitu menggunakan sinar laser karena
sangat baik untuk mengamati pola interferensi. sinar laser memiliki frekuensi yang sama
(monokromatik), tidak beda fase antar gelombang cahaya (koheren), sulit menyebar dan
intensitas berkas cahaya yang tinggi. Dengan kelabihan-kelabihan sinar laser tersebut maka
sangat baik untuk digunakan dalam eksperimen prinsip babinet.
Selalin interferensi, cahaya juga dapat terdifraksi atau penyebaran cahaya akibat melalui
celah sempit. Untuk cahaya monokromatik dengan panjang gelombang λ, dan lebar celah d,
persamaan difraksi adalah

Pita cahaya yang terang pada bidang pengamatan terjadi karena interferensi konstruktif, saat
puncak gelombang berinterferensi dengan puncak gelombang yang lain, dan membentuk cahaya
maksimal. Pita cahaya yang gelap terjadi saat puncak gelombang berinterferensi dengan landasan
gelombang dan menjadi cahaya minimal. Interferensi konstruktif terjadi saat:

4. Metoda
4.1 Interferometer Michelson
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam penelitian ini adalah mengkalibrasi
interferometer Michelson dengan cara mengatur posisi laser, beam divider, kedua cermin dan
lensa agar sinar laser yang melewati semua peralatan tersebut tepat segaris. Kemudian nyalakan
sinar laser tersebut dengan menggunakan kunci yang tersedia dan tunggu sekitar tiga menit
hingga sinar laser terpancar keluar, untuk mencari pola interferensi lakukan dengan cara
menggeser-geser salah satu cermin sampai dihasilkan pola gelap terang (frinji) pada layar,
Seperti pada Gambar (1). Kemudian amati hasil interferensi yang terjadi dan ambil gambar
dengan menggunakan kamera atau alat foto, jika dalam proses ini belum berhasil maka lakukan
eksperimen ini berulang-ulang sehingga didapat data yang akurat
Setelah eksperimen selesai dan data sudah di dapat jangan lupa matikan kembali sinar laser
agar tidak terjadi kontraksi dengan mata praktikan yang lainnya.

4.2 Interferometer Mach Zender


Langakah pertama sama dengan eksperimen Michelson hanya saja dalam eksperimen Mach
Zender dilakukan dengan dua cermin dan dua beam divider, seperti yang terlihat pada gambar
(2). Lakukan beberapa kali jika belum mendapatkan data dari eksperimen ini, jika dalam waktu
yang sudah ditentukan belum mendapat data kemungkina ada pengaruh cahaya luar atau posisi
yang di pasang tidak benar.
Setelah selesai eksperimen, matikan sinar laser agar tidak terjadi kontraksi dengan mata para
praktikan yang lain.

4.3 Difraksi Dengan Prinsip Babinet


Pertama-tama siapkan sehelai rambut untuk melakukan eksperimen difraksi dengan prinsip
Babinet dan disisipkan pada sebuah penyangga atau bangku optik agar rambut terbentang
vertikal, kemudian nyalakan sinar laser dan di pancarkan tepat mengenai rambut.
Amati pola difraksi yang muncul pada layar, kemudian ukur jarak antara sinar terang dan
gelapnya adalah Δx (cm) dan jarak antara bayangan dan rambut L (cm). lakukan eksperimen ini
hingga 5 kali eksperimen atau lebih tergantung berapa data yang akan diambil.
Setelah selesai eksperimen matika kembali sinar laser agar tidak terjadi kontraksi dengan
mata praktikan yang lain.
5. Hasil Eksperimen
5.1 Data Eksperimen Michelson

Gambar (3) Data hasil Eksperimen Fisika 1, Interferometer Michelson


5.2 Mach Zender

Gambar (4) Data hasil Eksperimen Fisika 1, Interferometer Mach Zender


5.3 Difraksi Pada Prinsip Babinet

Gambar (5) Data hsil Eksperimen Fisik 1, Difraksi Pada Prinsip Babinet
6. Pembahasan
Dari hasil eksperimen diperoleh data dengan pola interferensi berupa garis, berarti ini
merupakan interferensi destruktif karena terjadi selisih antara jarak dari cermin ke beam divider.
Dari eksperimen Michelson membuktikan bahwa eter itu tidak, terbukti bahwa yang
dilakukan dalam eksperimen Fisika 1 seperti pada gambar (3), yang terdapat sisi terang dan sisi
gelap, hasil dari interferensi yang dilakukan oleh Michelson. Ini membuktikan tentang teori
Michelson yang menyanggah teori Maxwell dengan menyebutkan bahwa eter itu ada untuk
merambatkan cahaya.
Namun dalam eksperimen Mach Zender, mendapat kesulitan hingga tidak ada data yang
seperti pada eksperimen Michelson, untuk sementara eksperimen Mach Zender belum
disimpulkan bahwa eter itu ada atau tidak. Namun dalam eksperimen Mach Zender hampir sama
dengan eksperimen Michelson yang membedakan hanya rancangan eksperimennya saja yang
sulit untuk mengatur posisi cermin datar hingga sinar laser susah untuk diatur tepat pada beam
divider dan masuk dalam lensa sferis.
Fase gelombang pada interferensi sangat berpengaruh, andai fase pada gelombang
interferensi berbeda maka akan memperoleh hasil seperti pada gambar (3), pada fase yang sama
maka akan memperoleh gelombang interferensi yang normal dan pada fase gelombang
interferensi terdapat keduanya maka akan terjadi tumbukan gelombang.
Jarak beam divider dan layar berpengaruh pada hasil pola interferensi yang di dapat,
hasilnya interferensinya memudar atau tidak jelas terlihat oleh mata.
Laser merupakan singkatan dari Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation,
yang artinya penguatan cahaya dengan rangsangan pancaran radiasi. Sifat yang terjadi akibat
kesamaan frekuensi adalah monokromatik dan sifat yang terjadi akibat kesamaan fase adalah
koherensi. Jadi, syarat terbentuknya laser adalah sumber cahaya yang monokromatik dan
koheren. Laser mempunyai sifat-sifat yang tidak dimiliki oleh sumber cahaya lain. Sifat-sifat
khas laser antara lain kesearahan, intensitas, monokromatik, dan koherensi.
Dalam prinsip Babinet diperoleh data seperti pada data grafik gambar (5) dengan
perhitungan matematiknya sebagai berikut:
Diketahui dari eksperimen 1 sampai 5
Δx1 = 0,3 cm L1 = 50,7 cm λ = 633 x 10 -7 cm
Δx2 = 0.4 cm L2 = 62,4 cm
Δx3 = 0,5 cm L3 = 72,3 cm
Δx4 = 0,6 cm L4 = 77,4 cm
Δx5 = 0,7 cm L5 = 88,6 cm
Ditanyakan lebar pada celah d…?
Dari grafik didapat m = 0,01

Untuk eksperimen 1 sampai 5 memenuhi persamaan :

Maka uraian matematik eksperimen 1 sampai 5 prinsip Babinet

Untuk ketelitiannya:

Presisi Kebenaran
7. Kesimpulan
Dari eksperimen Michelson rangkaian yang dibuat sangat sederhana sehingga bisa
memudahkan para peneliti lain untuk melakukn eksperimen seperti yang dilakukan oleh
Michelson.
Dengan terbentuknya interferensi berupa garis pada eksperimen Michelson ini membuktikan
bahwa teori yang diutarakan oleh Michelson terbukti benar bahwasanya cahaya merambat tidak
memerlukan medium atau eter tidak ada.
Namun dalam eksperimen Mach Zender tidak diperoleh pola interferensi apapun, karena
bentuk rangkaian yang digunakan sulit untuk memposisikan arah cahaya yang akan dibiaskan ke
lensa sferis. Sehingga teori mach Zender belum membuktikan bahwa eter itu tidak ada.
Sinar laser yang digunakan dalam eksperimen baik namun kondisi ruangan dengan cahaya
lampu neon bisa jadi mempengaruhi kasap mata untuk melihat hasil interferensi yang didapat
dari eksperimen Michelson dan Mach Zender.
Pada prinsip Babinet terjadi difraksi cahaya pada celah tunggal yang memudarkan cahaya
yang terlihat pada layar seperti pada gambar (5) dalam eksperimen Babinet. Dan ketebalan
rambut dapat diukur melalui sinar laser tersebut.

8. Referensi
 Beiser.Konsep Fisika Modern
 Staf Pengajar Fisika, FMIPA, IPB Fisika Modern. http://www.toodoc.com/percobaan-
michelson-ebook.html
 Gunawan, Setia. Pemantulan Cahaya.
http://elcom.umy.ac.id/elschool/muallimin_muhammadiyah/file.php/1/materi/Fisika/Pemant
ulan%20Cahaya.pdf
 Setyaningsih, Agustina.Penentuan Nilai Panjang Koherensi Laser Menggunakan.
http://eprints.undip.ac.id/2491/1/Penentuan_Nilai_Panjang_Koherensi_Laser_Menggunakan
_Interferometer_Michelson.pdf
 Universitas Diponogero. Panduan Praktikum Eksperimen FISIKA I
http://staff.undip.ac.id/fisika/ekohidayanto/files/2009/11/panduan-eksperimen-fisika-1.pdf