Anda di halaman 1dari 24

MULTI MEDIA

MATA PELAJARAN

PENGETAHUAN SOSIAL

KELAS 3

DISUSUN
SRI YANDI
SMP NEGERI lELES
PERJUANGAN
PERJUANGAN
MEMPERTAHANKAN
MEMPERTAHANKAN
KEMERDEKAAN
KEMERDEKAAN
Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan

Kemenangan Sekutu atas Jepang


Pada perang Dunia II

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Belanda Berusaha menguasai Pergolakan dan Pemberontakan


Kembali Indonesia
 PKI Madiun 1948
 DI/TII Kartosuwiryo
 APRA
 Andi Azis
Fisik Non Fisik  RMS
Pertempuran 5 hr di Semarang Pertemuan di Jakarta  Perundingan
 Pert. Surabaya 10 Nop. 1945  Pertemuan Hooge Veluwe Roem-Royen
 Palagan Ambarawa  Perundingan Linggajati  Konferensi In
 Bandung Lautan Api  Perundingan Jakarta ter Indonesia
 Peristiwa Medan Area  Pembentukan KTN  KMB
 Peristiwa Merah Putih di Biak  Perundingan Renville
A. Perjuangan Bangsa Indonesia dalam Mempertahankan Kemerdekaan

1. Perjuangan Bangsa Indonesia dalam Mempertahankan Kemerdekaan dg Peperangan


a. Pertempuran Lima Hari di Semarang ( 15 Oktober 1945 ).
400 Veteran Jepang yg bekerja di pabrik gula cepiring melarikan diri ketika akan
dipindahkan ke semarang dan minta perlindungan batalyon “Kido Butai di
Jatingaleh”.
Pertempuran pecah di Semarang ketika 2000 pasukan Kido Butai dan tawanan
memasuki Kota Semarang. Pertempuran berakhir setelah ada perundingan antara
TKR dan Jepang, usaha perdamaian berlangsung cepat setelah Sekutu (Inggris)
mendarat di Semarang 20 Okt 1945.
b. Pertempuran Surabaya 10 November 1945.
Pertempuran terjadi karena sekutu yang tergabung dalam AFNEI ( Allied
Forces Netherland East Indies ) yg dipimpin Brigjen Mallaby melanggar perjanjian
yang telah disepakati dg tidak membawa pasukan Belanda; tetapi kenyataannya
dimanfaatkan oleh tentara Belanda (NICA); selain itu sekutu juga melakukan
serangan ke penjara kalisosok dan membebaskan AL Belanda “Kol. Huijer”,
Pangkalan Udara, Pelabuhan Tj. Perak, Kantor Pos Besar dan Gedung Bank
Internito.
Rakyat Surabaya yg bergabung dg TKR melancarkan ke Gedung Bank Internito
Brigjen Mallaby tewas.
Pihak sekutu menuntut Indonesia bertanggungjawab atas terbunuh nya Mallaby
Majen E.C. Mansergh mengeluarkan ultimatum (Ultimatum Mansergh)
Isinya “agar rakyat surabaya menyerahkan senjata dg tangan diatas
kepala dan menandatangani surat penyerahan dan ditahan sekutu
paling lambat pukul 6 sore tgl 9 Nov 1945”, Ultimatum ditolak oleh
Pejuang Surabaya dan Gubernur (Soerjo) yg dikenal dg nama Soetomo
menyerukan agar segenap warga surabaya melawan sekutu dg sekuat
tenaga. Puncak pertempuran pada 10 November 1945 Hal ini
membuktikan kepada sekutu dan Belanda bahwa bangsa Indonesia
ingin mempertahankan kemerdekaan yg telah diperolehnya. Untuk
mengenang setiap 10 Nov. diperingati sbg Hari Pahlawan.
c. Palagan Ambarawa
Di Ambarawa Magelang Pendaratan sekutu yg ingin membebaskan
tawanannya dipimpin Brigjen Bethel tidak disukai bgs Indonesia
dikarenakan diboncengi oleh NICA.
26 oktober 1945 pecah pertempuran melawan sekutu pertempuran
berhenti ketika Pres. Soekarno berunding berunding dengan jendral
Bethel 2 Nov 1945 yg berisi :
1. Sekutu menempatkan pasukan di Magelang utk melindungi & mengevakuasi
dg tentara dibatasi
2. Jalan raya Magelang – Ambarawa terbuka untuk lalulintas Indonesia dan
Sekutu
3. Sekutu tidak akan melakukan aktivitas dengan NICA

Namun Kesepakatn tetap dilanggar oleh sekutu; Pasukan TKR di


Magelang dipimpin oleh
Mayor Sumarto menyerang sekutu di Ambarawa; Di Kedu perlawanan
dipimpin oleh Letkol. M. Sarbini; di Purwokerto pimpinan pasukan
Letkol. Isdiman Gugur 26 Nov 1945, perlawanan diteruskan pasukan
lain dipimpin Kol. Soedirman mengepung Ambarawa 15 Desember
1945 sekutu mundur ke semarang.
d. Bandung Lautan Api
Perlawanan melawan sekutu dibandung disebabkan karena kedatangan sekutu 12
Okt. 1945 yg tadinya melucuti senjata tentara jepang merembet pada bgs Indonesia
dan memaksa agar Bandung Utara dikosongkan paling lambat 20 Nov. 1945
Karena terjadi perlawanan sekutu mengeluarkan ultimatum 2 yang isinya TRI di
Bandung untuk mengosongkan seluruh kota Bandung paling lambat 23 Maret 1946,
Akhirnya Bandung dikosongkan namun para pejuang membumihanguskan kota
Bandung dari pada jatuh pada sekutu; Peristiwa ini dikenal dengan Bandung Lautan
Api.
e. Medan Area.
Perlawanan terjadi di Medan (Sumut) karena beberapa alasan :
1. Sekutu dibawah Brigjen. T.E.D Kelly ingin mengambil alih
pemerintahan di Sumatera Utara.
2. Sekutu membentuk batalyon KNIL di Medan.
3. Sikap interniran (tawanan Belanda) tidak menghormati republik
memancing berbagai insiden.
4. Campur tangan Inggris membuat NICA didukung sekutu
5. 18 Okt 1945 sekutu mengultimatum agar menyerahkan senjatanya
6. 1 Des. 1945 Sekutu menetapkan fixed boundaries Medan Area pada
daerah yg diakuinya.
f. Puputan Margarana.
2 & 3 Maret 1946 tentara Belanda mendarat di Bali mengajak kerja
sama dengan I Gusti Ngurah Rai pimpinan laskar Bali untuk mendirikan negara
Indonesia Timur, namun ditolak.
18 Nov. 1946 I Gusti Ngurah Rai menyerang markas Belanda di Tabanan
(Belanda Kalah) perlawanan dilanjutkan ke utara di Desa Marga. 20 Nov. 1946
Belanda mengerahkan kekuatan penuh.
Dalam pertempuran itu I Gusti Ngurah Rai menyerukan pasukannya untuk
melakukan perang Puputan (habis-habisan); karena kekuatan yang tidak
seimbang pasukan I Gusti Ngurah Rai kalah dan seluruh pasukan gugur ( perang
tsb dikenal dg Puputan Margarana ).
g. Peristiwa Merah Putih di Biak.
Untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia pada 14 Maret 1948 terjadi
serangan rakyat Biak terhadap NICA (tangsi Sorido), namun karena kalah
persenjataan perlawanan gagal.
h. Peristiwa Merah Putih di Manado
Pasukan AFNEI dari Australia mendarat di Manado telah di boncengi NICA;
mereka mempersenjatai bekas pasukan KNIL (Koniklijk Nederlandsch Indisch
Leger) yang ditawan Jepang
Pada akhir 1945 AFNEI menyerahkan kekuasaan pada NICA dan meninggalkan
Manado, NICA mulai bertindak sewenang-wenang.
Para pemuda dan bekas KNIL yg mendukung RI membentuk pasukan Pemuda
Indonesia (PPI).
14 Februari 1946 PPI menyerbu NICA di Teling membebaskan tokoh PPI yang
ditangkap, berhasil menguasai markas NICA di Tomohon dan Tondano.
16 Februari 1946 dibentuk pemerintahan sipil “B.W. Lapian sebagai Residen, dan
membentuk TRI dipimpin Ch. Taulu dan J. Kaseger.
2. Perjuangan Bangsa Indonesia dalam Mempertahankan Kemerdekaan dengan
Diplomasi
a. Pertemuan Jakarta ( 10 Februari 1946 ).
Pada pertemuan ini Indonesia diwakili oleh PM. Sutan Syahrir sedang Belanda
oleh H.J. Van Mook dan Inggris sbg perantara Jend. Sir Philip Christison.
pada pertemuan ini Van Mook menyampaikan usulan seperti pidato Ratu
Belanda 7 Desember yg isinya :
1. Indonesia akan dijadikan negara persemakmuran berbentuk federasi yg
memiliki pemerintahan sendiri dalam lingkungan kerajaan Belanda.
2. Masalah dalam negeri diurus oleh Indonesia sendiri, urusan LN Belanda.
3. Sebelum dibentuk persemakmuran, akan dibentuk pemerintahan
peralihan selama 10 Th.
4. Indonesia akan dimasukkan sebagai anggota PBB
27 Maret 1946 Sutan Syahrir memberikan jawaban atas usulan Van Mook :
a. supaya pemerintah Belanda mengakui kedaulatan RI secara de facto atas
Jawa dan Sumatera.
b. supaya RI dan Belanda bekerjasama dalam membentuk negara RIS
c. RIS bersama-sama dg Belanda, Suriname, Curocao menjadi peserta dalam
ikatan kenegaraan Belanda.
b. Pertemuan Hooge Veluwe 14 – 24 April 1946.
Delegasi Indonesia : A.G. Pringgodigdo dan Dr. Sudarsono.
Delegasi Belanda : H.J. Van Mook.
Delegasi Inggris : Sir Archibald Clark.
“ Indonesia menuntut pengakuan Belanda atas seluruh bekas jajahan Belanda, akan tetapi
untuk sementara Indonesia meminta Belanda untuk mengakui secara de facto wilayah
Indonesia atas Jawa, Sumatera dan Madura; tuntutan itu ditolak oleh Belanda.
pertemuan berakhir dengan kegagalan.

c. Perundingan Jakarta (7 Oktober 1946 ).


Delegasi Indonesia : Sutan Syahrir.
Delegasi Belanda : Prof. Schermerhorn
Perundingan mencapai kesepakatan sebagai berikut :
a. Gencatan senjata Indonesia – Belanda.
b. Dibentuk Komisi bersama gencatan senjata untuk menangani masalah
gencatan senjata & teknis pelaksanaanya
c. Disepakati bahwa Indonesia – Belanda melaksanakan perundingan secepat
mungkin.
d. Perundingan Linggajati (10 November 1946 ).
Perundingan dilaksanakan di Linggajati, Kuningan Jawa Barat.
Delegasi Indonesia : A.G. Pringgodigdo, Dr. Sudarsono, Mr. Susanto
Dr. J. Leimena, dr. A.K. Gani, Moh. Roem,
Mr. Amir Syarifudin, Mr. Ali Budiarjo.
Delegasi Belanda : Mr. Van Pool, F. de Boer dan Van Mook.
Delegasi Inggris : Lord Killearn.
15 November menghasilkan keputusan :
a. Belanda mengakui secara de facto, Indonesia terdiri atas wilayah Jawa
Madura dan Sumatera. Belanda meninggalkan paling lambat 1 Jan. 1946
b. Indonesia – Belanda sepakat bekerjasama membentuk negara serikat/RIS
Yang didalamnya RI
c. RIS dan Belanda membentu Uni Indonesia - Belanda dg Ratu Belanda sbg
Ketua
Agresi Militer Belanda I
Agresi Belanda I 21 Juli 1947, beberapa kota penting di Jawa dan Sumatera jatuh ke
pihak Belanda.
Belanda mendapat kecaman dunia Internasional; India & Australia simpati terhadap
perjuangan bangsa Indonesia mengajukan tututan pada PBB untuk menciptakan
perdamaian di Indonesia.
31 Juli 1947 DK PBB meminta Indonesia – Belanda untuk melakukan gencatan senjata
dan melakukan perundingan.
e. Pembentukan Komisi Tiga Negara (KTN)
14 Agustus 1947 DK PBB bersidang membahas masalah Indonesia – Belanda
Indonesia diwakili : Sutan Syahrir, H. Agus Salim, Dr. Sumitro Djojohadikusumo
,Sudjatmoko dan Charles Tumbun menyampaikan keadaan Indonesia akibat Agresi Belanda.
DK PBB menyepakati dibentuknya badan Arbitrase yg tidak memihak untuk menyelesaikan
konflik Indonesia – Belanda; Badan itu bernama Komisi Tiga Negara (KTN).
KTN terdiri dari Australia ( Richard C. Kirby ) wakil Indonesia, Belgia ( Paul Van Zeeland )
wakil Belanda dan Amerika Serikat ( Dr. Frank B. Graham ).
KTN mulai kerja 27 Okt.1947 dibidang politik dan militer hasil KTN perundingan Renville
8 Des.1947.
f. Perundingan Renville 17 Januari 1948
Delegasi Indoneia dipimpin oleh PM. Amir Syarifudin.( terdiri dari Ali
Sastro Amidjojo, H. Agus Salim, Dr. j. Lei
mena, Dr. Latuharhary, TB. Simatupang.
Delegasi Belanda dipimpin oleh R. Abdul Kadir Widjojoatmodjo.
Isi Perundingan Renville :
1. Persetujuan Gencatan senjata antara Indonesia – Belanda.
2. Enam pokok prinsip tambahan untuk perundingan guna mencapai
penyelesaian politik yang meliputi :
a. Belanda tetap memegang kedaulatan atas seluruh wilayah
Indonesia sampai dibentuk RIS.
b. Sebelum RIS dibentuk Belanda dapat menyerahkan sebagian
kekuasaannya pada pemerintah federal sementara.
c. RIS sederajat dengan Belanda dan menjadi bagian Uni-Indonesia
Belanda dengan Ratu Belanda sebagai Ketua.
d. Republik Indonesia bagian dari RIS
e. Akan diadakan penentuan pendapat rakyat (plebisit) di Jawa, Madura dan
Sumatera untuk menentukan apakah rakyat akan bergabung dg RI atau RIS
f. Dalam waktu 6 bl – 1 th akan diadakan Pemilu untuk membentuk Dewan
Konstitusi.
Agresi Belanda II 19 Desember 1948
Walaupun sudah diadakan perundingan Belanda tetap melanggar, melakukan aksi
militer ke Ibukota RI di Jogyakarta.
Pres. Soekarno mengungsi ke Prapat (Sumatra), Hatta ke Bangka; pemerintahan
dipindahkan ke Sumatra dibawah Menteri Kemakmuran ( Mr. Syafrudin Prawira
Negara ).
RI terus melakukan perlawanan secara gerilya oleh Panglima Jend. Soedirman,
A.H. Nasution; puncak serangan 1 Maret 1949 berhasil menguasai Jogya selama
6 jam.
Menghadapi tindakan KTN hanya dapat melapor pada DK. PBB.
22 Desember 1948 keluar resolusi yg mendesak agar permusuhan segera
dihentikan serta pemimpin yang ditawan agar dibebaskan dan KTN sebagai
pengawas pelaksanaan resolusi tersebut.
g. Konferensi Asia New Delhi
Menghadapi agresi Belanda, Indonesia mendapat simpati Internasional
terutama dari negara-negara Asia – Afrika.
23 Januari 1949 PM. Jawaharlal Nehru (India) atas nama Konferensi Asia di
New Delhi menuntut dipulihkannya RI seperti semula :
 tentara Belanda ditarik mundur
 kedaulatan diserahkan pada RI
 kewenangan KTN diperluas
Konferensi New delhi dihadiri oleh : Afganistan, Australia, Burma, Sri
Lanka, Mesir, Ethiopia, India, Iran, Irak, Libanon, Pakistan, Philipina, Saudi
Arabia, Suriah, dan Yaman.
Negara peninjau : Cina, Nepal, Selandia Baru dan Thailand.
Atas desakan peserta Konferensi maka DK. PBB menerima hasil resolusi yg
berbunyi :
1. segera melakukan gencatan senjata.
2. Pemimpin-pemimpin RI segera dibebaskan dan dikembalikan ke Jogya.
3. Pengembalian pemerintahan RI ke Jogyakarta.
4. KTN diganti menjadi UNCI (United Nations Commisions for Indonesia)
h. Perundingan Roem – Royen
UNCI mulai melaksanakan tugas yaitu melancarkan perundingan antara
Indonesia – Belanda , mengurus pengembalian kekuasaan ketangan
Indonesia dan mengadakan Plebisit; salah satu perundingan yang di
selenggarakan UNCI adalah Perundingan Roem – Royen ( 17 April 1949 )
yang isinya : “ kedua pihak sepakat menciptakan perdamaian, mengadakan
perundingan berikutnya, dan menerima inisiatif dari badan Internasional.”

i. Konferensi Inter Indonesia.


Negara-negara bagian yang dibentuk Belanda merasa bahwa dukungan yang
diberikan Belanda adalah upaya untuk menguasai kembali seluruh Indonesia
dengan politik devide et impera.
19 – 22 Juli 1949 Negara-negara diluar Ri sepakat mengadakan konferensi
dengan RI yang disebut Konferensi Inter – Indonesia.
30 Juli 1949 Konferensi dilanjutkan di Jakarta dipimpin Moh. Hatta
menghasilkan kesepakatan untuk menyelenggarakan KMB ( Konferensi Meja
Bundar ).
j. Konferensi Meja Bundar ( KMB ).
23 Agustus – 2 November 1949 di Den Haag hasil kesepakatan diajukan ke
KNIP untuk di sahkan.
Berdasarkan sidang KNIP 6 Desember 1949 hasil KMB diterima dg suara
terbanyak dan disahkan.
15 Desember 1949 diadakan pemilihan Presiden RIS, 17 Desember 1949 Ir.
Soekarno dilantik sebagai Presiden.
Kabinet RIS I dipimpin oleh Drs. Moh. Hatta

Pengakuan Kedaulatan
23 Desember 1949 delegasi RIS dipimpin Drs. Moh. Hatta berangkat ke
Belanda untuk menandatangani akte Penyerahan Kedaulatan dari pemerintah
Belanda.
27 Desember 1949 diadakan upacara naskah “Penyerahan” kedaulatan dari
pemerintah Belanda kepada RIS.
Catatan.
Penyerahan kedaulatan dimaksud adalah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda;
karena RI telah memiliki kedaulatan sejak 17 Agustus 1945
B. PERJUANGAN BANGSA INDONESIA MENGHADAPI
PERGOLAKAN DAN PEMBERONTAKAN

1. Pemberontakan PKI Madiun 1948


Timbulnya pemberontakan PKI dikarenakan kembalinya Muso dari Uni Soviet
dan upaya Amir Syarifuddin yang ingin menjatuhkan Kabinet Hatta.
Muso ingin merebut Indonesia dari tangan Nasionalis menjadi Sosialis
Komunis.
26 Februari 1948 di Surakarta Partai-partai yg berfaham sosialis ( Sosialis
Indonesia, Pesindo, Partai Buruh, SOBSI ) melebur menjadi Front Demokrasi
Rakyat (FDR) dipimpin Amir Syarifuddin, (sbg Oposisi anti pemerintah).
Rencana perebutan kekuasaan dimulai dg demonstrasi dan mengacaukan kota.
Muso berhasil menggabungkan FDR dg Komunis, melancarkan adu domba antar
golongan, memimpin pemogokan buruh di Jawa dan Sumatra.
18 September 1948 PKI berhasil merebut Madiun; memproklamasikan
berdirinya “Soviet Republik Indonesia”.
19 September 1948 PKI menguasai : markas CPM Siliwangi, markas SPDT,
STM, Tangsi Polisi, menangkap para perwira TNI AD dan RRI dijadikan siaran
propaganda PKI
Untuk menumpas PKI pemerintah membentuk Komando Operasi dipimpin Kol.
A.H Nasution ( Panglima Markas Besar Komando Djawa ).
Dalam operasi penumpasan Muso tewas dan Amir Syarifuddin ditangkap di
Grobogan Purwodadi.
2. Pemberontakan DI/ TII.
DI/ TII adalah gerakan yang menginginkan berdirinya Negara Islam Indonesia
a. DI/ TII di Jawa Barat – Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo.
Kartosuwirjo bercita-cita ingin mendirikan Negara Islam Indonesia,
mendirikan pesantren di Mlangbong Garut; setelah perjanjian Reville RI agar
mengosongkan Jawa Barat pindah ke Jawa Tengah dianggap RI menghianati
perjuangan rakyat Jawa Barat.
Kartosuwirjo menolak hijrah dan mendirikan Negara Islam Indonesia 7
Agustus 1949. Untuk menumpas DI/ TII pemerintah melakukan operasi
Baratayudha 27 Agustus 1949.
b. DI/ TII di Jawa Tengah – Amir Fatah dan Mahfu’dz Abdurachman.
Amir Fatah adalah komandan laskar Hizbullah di Tulangan, Sidoarjo dan
Mojokerto memproklamasikan diri bergabung dg DI/TII 23 Agustus 1949 di
Tegal, diangkat sebagai Komandan pertempuran Jawa Tengah dg pangkat Majen
TII; di Kebumen Pemberontakan DI/TII dilakukan oleh Angkatan Umat Islam
dipimpin Kyai Somalangu
Kedua gerakan bergabung dg DI/TII Jawa Barat (Kartosuwirjo), Gerakan
DI/TII di Jawa Tengah semakin kuat didukung oleh batalyon 624 yg
membelot.
Untuk mengatasi gerakan ini pemerintah membentuk pasukan khusus Yaitu
Banteng Raiders; pasukan ini melakukan operasi Gerakan Banteng Negara
dipimpin Letkol. Sarbini, kemudian diganti Letkol. M Bahrun, kemudian Letkol.
A. Yani.
pemberontakan dapat ditumpas th 1954. untuk mengatasi Batalyon 624
dilakukan operasi Merdeka Timur oleh LetKol. Soeharto.

c. DI/ TII di Aceh – Daud Beureuh.


Pemberontakan disebabkan karena ketidakpuasan rakyat Aceh terhadap
kebijakan pemerintah karena Daerah Istimewa Aceh diubah tmenjadi salah
satu Karesidenan dibawah Sumatra Utara.
Ketidakpuasan menyangkut : Otonomi daerah, pertentangan antar golongan,
ketidak lancaran rehabilitasi dan modernisasi di Aceh.
20 September 1953 Aceh memproklamirkan sebagai bagian dari wilayah NII
Kartosuwirjo.
26 Mei 1959 Aceh diselesaikan dg musyawarah antara Menteri Hardi. SH
(pemerintah), T. Hamzah & Ali Hasjmy (pemerintah rakyat Aceh), Ayah Gani
Usman (DI/TII)
Hasil musyawarah : Aceh berstatus Daerah Istimewa dg hak-hak otonomi luas
dibidang Agama, pendidikan & peradatan.
penyelesaian masalah Daud Beureuh diadakan Musyawarah Kerukunan Rakyat
Aceh 17 – 21 Desember 1962; menghasilkan keputusan pemberian Amnesti
jika bersedia menyerahkan diri dan kembali ke masyarakat Aceh.

d. DI/ TII di Sulawesi Selatan – Kahar Muzakar.


Pemberontakan terjadi karena ketidakpuasan terhadap kebijakan
pemerintah mengharuskan adanya seleksi terhadap anggota laskar KGSS
(Komando Gerilya Sulawesi Selatan), Kahar Muzakar meminta agar semua
laskar KGSS masuk dalam APRIS dg nama Brigade Hasanudin.
Karena tuntutan tidak disetujui dan pasukannya hanya dijadikan Korps
Cadangan Nasional dan Kahar Muzakar diberi pangkat Letkol.
Pada pelantikan 17 Aguatus 1951, Kahar Muzakar beserta pengikutnya
melarikan diri ke hutan dan menyatakan daerah Sulawesi Selatan sebagai
bagian NII dibawah Karto Suwiryo.
Pemerintah melancarkan Operasi militer dari Divisi Siliwangi, Pemberontakan
dapat ditumpas dg tewasnya Kahar Muzakar (Februari 1965) & Gerungan
ditangkap Juli 1965
e. DI/ TII di Kalimantan – Ibnu Hajar ( Haderi bin Umar alias Agil )
Ibnu Hajar adalah Mantan Letnan dua TNI yang membelot membentuk
gerakan “Kesatuan Rakyat Yang Tertindas (KRYT)” menyatakan gerakannya
sebagai bagian dari DI/ TII Karto Suwirjo.
Pada Oktober 1950 melakukan penyerangan pos-pos APRIS di Kalimantan
Selatan.
Pada akhir 1959 gerakan Ibnu Hajar dapat ditumpas oleh pasukan pemerintah
Ibnu Hajar dihukum mati Juli 1963.

3. Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) – Raymond Westerling 23 Januari 1950.


Gerakan ini dibantu oleh Bekas tentara Belanda (KNIL) yang menolak bentuk
negara Kesatuan dan mendukung negara Federal dan menuntut agar bekas
tentara Belanda ditetapkan menjadi tentara negara bagian yang ditempati.
Karena tuntutan tidak diperhatikan melakukan teror pembunuhan 800 tentara
KNIL termasuk TNI yang ditemuinya di kota Bandung.
Operasi penumpasan dilakukan oleh TNI, Gerombolan APRA dapat dihancurkan
sedang Westerling melarikan diri ke Luar Negeri.
4. Pemberontakan Andi Aziz – Andi Aziz di Makasar ( 5 April 1950 )
Gerakan ini dilakukan oleh mantan tentara Belanda yang tergabung dalam KNIL
karena tidak puas atas kehadiran TNI yang akan mengamankan situasi di
Makasar karena sering bentrok antar masyarakat yg pro persatuan dan pro
Federal.
Pasukan Andi Aziz berhasil menduduki sarana penting di Makasar dan menahan
Panglima Tentara Teritorium Indonesia Timur “Letkol. A.J. Mokoginta”
Pemerintah mengirim pasukan ekspedisi dipimpin Kol. A.E. Kawilarang 26 April
1950; pemberontakan dapat dipadamkan dan pasukan Andi Aziz menyerah.

5. Republik Maluku Selatan (RMS) – Dr. Ch.R.S. Soumokil ( 25 April 1950 ).


Berdirinya RMS didukung KNIL dan sisa pasukan Andi Aziz yang melarikan diri
ke Maluku.
Pada awalnya pemerintah bersikap lunak untuk penyelesaian secara damai dg
mengirim “dr. J. Leimena” untuk berunding tapi ditolak RMS.
Pemerintah mengirim ekspedisi untuk menumpas RMS dipimpin Kol. A.E.
Kawilarang 14 Juli 1950 mendarat di Laha (P. Buru), dalam di Seram dan Ambon
banyak korban di kedua belah pihak; namun akhirnya dapat dikuasai TNI
sedang sisa pasukan RMS melarikan diri ke hutan-hutan.