Anda di halaman 1dari 6

RINGKASAN

RAHAYU, Formulasi Granul Effervescent Ekstrak Bunga Rosella (Hibiscus


sabdariffa L.). Program Studi D-III Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Palangkaraya, 2015.
Belakangan ini hampir di seluruh tempat tengah didengungkan program Back
to Nature, termasuk di dalam dunia pengobatan medis. Hal ini mengingat
pengobatan herbal yang memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan
pengobatan secara kimia. Pengobatan herbal sudah sangat dikenal masyarakat
Indonesia secara luas sejak dahulu kala karena penerapannya yang mudah dan
sederhana serta harga bahan-bahannya yang murah meriah yang sangat berbeda
dengan harga obat-obat kimia yang semakin mahal yang tidak terjangkau oleh semua
kalangan masyarakat. Pengobatan herbal banyak diminati oleh masyarakat karena
biasanya bahan-bahannya dapat ditemukan dengan mudah di lingkungan sekitar
mereka. Pengobatannya dilakukan dengan jalan memanfaatkan resep turun temurun
yang diwariskan secara lisan.
Di Indonesia tepatnya di Kalimantan banyak terdapat tumbuhan/tanaman yang
dapat dijadikan bahan obat tradisional, Rosella merupakan salah satu tanaman
berkhasiat yang dapat dijadikan obat tradisional. Rosella mengandung banyak elemen
penting baik bagi kesehatan tubuh manusia, diantaranya yaitu vitamin C, vitamin A,
karbohidrat, kalsium dan sodium. Atas dasar hal tersebut, peneliti tertarik membuat
granul effervescent ekstrak bunga Rosella (Hibiscus sabdariffa L.). Penelitian ini
dilakukan untuk membuat suatu inovasi sediaan farmasi dari bunga Rosella yaitu
sediaan granul effervescent dan juga untuk mengetahui pengaruh perbedaan
formulasi granul effervescent terhadap sifat fisik granul. Sediaan farmasi menjadi
pilihan peneliti dikarenakan sediaan farmasi lebih dipercaya dikalangan masyarakat
daripada sediaan jamu-jamuan biasa, karena sediaan farmasi telah memiliki dasar
ilmiah yang jelas, dan pada pembuatannya telah melewati berbagai proses uji jadi
tingkat keamanannya lebih terjamin.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah experiment atau
percobaan dengan pendekatan laboratorium yang dilakukan dengan serangkaian
pengujian. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah simplisia kering dari
bunga Rosella yang diperoleh dari suatu budidaya tanaman Rosella yang ada di
Kelurahan Kalampangan, Palangka Raya. Granul effervescent ekstrak bunga Rosella
ini diolah menggunakan metode granulasi basah. Granul effervescent merupakan
serbuk kasar sampai kasar sekali dan mengandung unsur obat dalam campuran yang
kering, biasanya terdiri dari natrium bikarbonat, asam sitrat dan asam tartrat, bila
ditambah dengan air, asam dan basanya bereaksi membebaskan karbondioksida
sehingga menghasilkan buih. Granul effervescent biasanya diolah dari suatu
kombinasi asam sitrat dan asam tartrat daripada hanya satu macam asam saja, karena
penggunaan bahan asam tunggal saja akan menimbulkan kesukaran. Apabila asam
tartrat sebagai asam tunggal, granul yang dihasilkan akan mudah kehilangan

kekuatannya dan akan menggumpal. Asam sitrat saja akan menghasilkan campuran
lekat dan sukar menjadi granul Dibuat 2 formula granul dengan perbedaan
perbadingan komposisi antara asam sitrat, asam tartrat dan natrium bikarbonat yang
kemudian dilakukan pengujian kualitas fisik granul yang terdiri dari pemeriksaan
organoleptis, uji volume ketukan, uji daya alir, uji sudut kemiringan, uji rekonstitusi,
serta uji waktu larut.
Pada penelitian kali ini dilakukan pembuatan formulasi granul effervescent
dari ekstrak bunga Rosella. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang
bertujuan untuk membuat suatu inovasi sediaan farmasi dari bunga Rosella yaitu
sediaan granul effervescent. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui pengaruh
perbedaan formulasi granul effervescent terhadap sifat fisik granul. Sampel yang
digunakan pada penelitian ini adalah bunga Rosella kering berjumlah 1 kg yang dibeli
dari 1 petani pembudidaya yang terdapat di Kelurahan Kalampangan Kota Palangka
Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Alasan pengambilan sampel hanya pada 1 petani,
dikarenakan 4 petani lain tidak memiliki tempat pengeringan khusus bunga Rosella
dan hanya untuk produksi Rosella dalam skala kecil.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, bunga Rosella, etanol 95 %,
laktosa, asam sitrat, asam tartrat, dan natrium bikarbonat.
Tabel 1. Formula granul effervescent ekstrak bunga Rosella
Formula
Bahan
1
2
Ekstrak bunga Rosella
350 mg
350 mg
Asam Sitrat
190 mg
250 mg
Asam Tartrat
280 mg
250 mg
Natrium Bikarbonat
530 mg
500 mg
Laktosa
150 mg
150 mg
Jumlah
1500 mg 1500 mg
Catatan:
Formula 1 diadaptasi dari buku Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Howard
C. Ansel (1989). Sedangkan untuk formula 2 adalah bentuk modifikasi
peneliti.
Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah simplisia kering bunga
Rosella. Sebanyak 1 kg simplisia kering bunga Rosella dihaluskan menggunakan
blender. Kemudian diekstraksi dengan etanol 95% selama 4 hari. Metode ekstraksi
yang digunakan yaitu metode perkolasi yang bertujuan untuk menarik bahan
berkhasiat dari bunga Rosella secara total. Dimana pada perkolasi menggunakan cara
dingin untuk mengekstraksi simplisia tersebut, sehingga teknik ini sesuai untuk
substansi termolabil (yang tidak tahan terhadap panas), seperti vitamin C yang
terkandung di dalam bunga Rosella. Perkolasi menghasilkan pengotor lebih sedikit
karena sistem yang digunakan pada perkolasi yaitu sistem tetesan dibandingkan
dengan maserasi yang menggunakan sistem tumpah. Selama 4 hari proses perkolasi

dilakukan, didapat ekstrak kental sejumlah 150 gram. Peneliti menganggap jumlah ini
sudah mencukupi sebagai bahan baku pembuatan granul.
Tahap selanjutnya adalah pembuatan granul effervescent ekstrak bunga
Rosella sebanyak 2 formula. Dibuat menjadi 2 formula bertujuan sebagai
perbandingan sifat fisik yang dihasilkan dari formula 1, dan 2. Formula 1 merupakan
formula yang diadaptasi dari buku Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi karangan
Ansel tahun 1989, dimana jumlah komponen basa lebih besar dibanding jumlah
komponen asam. Formula 2 merupakan modifikasi peneliti, dimana jumlah asam
sitrat dan asam tartrat yaitu 1:1, dan jumlah komponen basa sama besarnya dengan
jumlah komponen asam (1:1) sehingga membentuk reaksi kesetimbangan asam basa.
Pada formula 2 peneliti ingin mengamati apakah terjadi perubahan reaksi effervescent
dan sifat fisik lain jika formula granul berisi asam dan basa dengan jumlah yang
sama, karena didalam buku Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi karangan Ansel
tahun 1989, disebutkan bahwa untuk membentuk effervescent dibutuhkan jumlah
basa yang lebih besar dibandingkan jumlah asam.
Pada 2 formula ini, digunakan ekstrak kental bunga Rosella sebagai bahan
utama, dan juga terdiri dari asam sitrat dan asam tartrat sebagai sumber asam, serta
natrium bikarbonat sebagai sumber basa, yang diharapkan apabila produk granul
effervescent ini telah jadi dan kemudian dilarutkan ke dalam air, asam dan basa
tersebut akan bereaksi membebaskan karbondioksida sehingga menghasilkan buih.
Selain terdapat asam dan basa, pada formula ini juga ditambahkan laktosa sebagai
bahan pengisi.
Pembuatan granul effervescent dilakukan sesuai dengan metode pengolahan
granul effervescent yang terdapat pada buku Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi
karangan Ansel tahun 1989. Dimulai dengan penimbangan, penggerusan, dan
pencampuran bahan-bahan. Campuran serbuk diletakkan di atas lempeng atau
nampan yang sesuai dalam sebuah oven, kemudian dipanasi dengan suhu 40 C.
Selama proses pemanasan, serbuk dibolak-balikkan. Pemanasan ini dilakukan selama
6 jam sampai campuran bahan mencapai kepadatan yang tepat, serbuk ini dikeluarkan
dari oven, dan diremas melalui ayakan No. 10 untuk membuat granul yang sesuai.
Ketika semua adonan telah melalui ayakan, granul-granul ini dipanaskan
menggunakan oven pada suhu 50 C selama lebih kurang 6 jam. Kemudian
terbentuklah granul effervescent dengan bentuk bulat, berwarna coklat, dengan rasa
asam yang berasal dari campuran rasa asam Rosella dan asam sitrat serta asam tartrat.
Saat granul telah jadi, langkah selanjutnya adalah pengujian kualitas fisik granul yang
terdiri dari pemeriksaan organoleptis, uji volume ketukan, uji daya alir, uji sudut
kemiringan, serta uji waktu larut.
Pemeriksaan organoleptis terdiri dari uji bau, rasa, dan warna. Tujuan
dilaksanakannya uji organoleptis adalah untuk mengenali secara fisik produk yang
dihasilkan, dan berkaitan langsung dengan selera, dimana pada uji ini peneliti
mangandalkan panca indera sebagai alat untuk menguji produk. Uji organoleptik
dilakukan dengan melihat secara langsung mulai dari bentuk, warna, bau dan rasa
dari granul effervescent ekstrak bunga Rosella yang dihasilkan. Hasil yang diperoleh

dari uji organoleptis yaitu bentuk granul berupa bulat, aroma yang tercium dari 2
formula adalah aroma khas dari bunga Rosella, rasa yang diperoleh adalah asam,
warna yang terbentuk adalah coklat tanah.
Selanjutnya dilakukan pengujian volume ketukan. Volume ketukan diperoleh
melalui ketukan vertikal timbunan serbuk yang diisikan dalam keadaan longgar ke
sebuah gelas ukur tertutup yang terletak di atas dasar lunak. Pengujian volume
ketukan dilakukan berdasarkan tata cara yang terdapat pada Buku Pelajaran
Teknologi Farmasi karangan Rudolf Voigt, tahun 1971. Sampel diketuk 1250 kali,
dan volume hasil ketukan dibaca pada skala gelas ukur yang tertera. Setelah 1250
ketukan lagi, volume yang dihasilkan tidak boleh menyusut > 2ml dibanding 1250
ketukan yang pertama, jika hasil antara ketukan 1250 pertama dan 1250 kedua
memiliki selisih > 2ml, maka pengetukan harus diulang, sampai susutnya volume
tidak lebih dari 2%. Hasil yang diperoleh dari uji volume ketukan yaitu untuk granul
formula 1 volume ketukan yang diperoleh rata-ratanya adalah sebesar 1,76 ml/g
dengan nilai indeks pengetapan 8,33% yang berarti deskripsi sifat alir adalah baik.
Untuk formula 2 diperoleh volume ketukan sebesar 1,74 ml/g nilai indeks pengetapan
9,37% yang berarti deskripsi sifat alir adalah baik. Adapun standar volume ketukan
berdasarkan buku Teori dan Praktek Farmasi Industri (Lachman, 1989) yaitu jika
indeks pengetapan 15 % maka sifat alir granul adalah baik, dan jika >25 % berarti
sifat alir granul adalah buruk.
Tahap ketiga dari pengujian kualitas fisik granul yaitu uji daya alir yang
dilakukan untuk mendeteksi sifat aliran yaitu dengan memperhatikan kecepatan
aliran. Prinsip pengukuran yang digunakan pada uji daya alir granul effervescent ini
adalah waktu yang diperlukan oleh sejumlah tertentu zat untuk mengalir melalui
lubang corong. Mudah tidaknya aliran granul mengalir melalui lubang corong dapat
dipengaruhi oleh bentuk granul, keadaan permukaan dan kelembabannya. Tujuan
dilakukan uji daya alir granul adalah untuk mengetahui kecepatan alir granul.
Kecepatan alir granul sangat penting karena berpengaruh pada keseragaman
pengisian ruang kompresi dan keseragaman bobot jika kemudian hari granul ini
diolah menjadi tablet. Hasil yang diperoleh dari uji alir yaitu formula 1 sebesar 6,25
g/s, dan formula 2 sebesar 5,83 g/s. Dari uji alir granul 2 formula tersebut memiliki
hasil deskripsi kecepatan alir granul baik. Standar untuk uji kecepatan aliran ini yaitu
jika hasil > 10 g/s maka kecepatan aliran granul sangat baik, jika 4-10 g/s deskripsi
kecepatan alir granul adalah baik, jika 1,6-4 g/s berarti kecepatan alir granul berada
dalam tingkat sukar, dan jika <1,6 menandakan kecepatan alir granul sangat sukar.
Tahap keeempat dari pengujian kualitas fisik granul adalah uji sudut
kemiringan (uji sudut diam) yang bertujuan untuk menentukan sifat aliran. Uji
sudut diam menggambarkan sifat alir serbuk pada waktu mengalami proses
penabletan. Granul tersebut akan membentuk suatu kerucut, yang kemudian sudut
kemiringannya diukur. Formula 1 dan formula 2 sudut kemiringannya adalah sebesar
25,14. Sudut dari 2 formula dinyatakan dalam kategori baik, dimana pada standarnya
jika menghasilkan sudut 20-40 termasuk dalam kategori potensi aliran baik. Jika
hasil menunjukan 50 maka berarti potensi aliran buruk. Semakin datar kerucut

yang dihasilkan, artinya sudut kemiringannya semakin kecil, maka semakin baik sifat
aliran serbuk tersebut.
Selanjutnya adalah hasil yang diperoleh dari uji rekonstitusi sampel granul
effervescent yaitu aroma yang tercium dari 2 formula adalah aroma khas dari bunga
Rosella, rasa yang diperoleh dari larutan granul tersebut beragam, formula 1 terasa
sedikit asam, formula 2 terasa lebih asam dibanding formula 1. Formula 2 terasa lebih
asam dibanding formula 1 dikarenakan formula 2 mengandung komposisi asam lebih
besar dibanding kandungan asam pada formula 1. Kemudian warna yang terbentuk
saat granul dilarutkan adalah warna coklat muda. Warna dari 2 formula lebih kurang
adalah sama, tidak terlihat perbedaan yang signifikan, diketahui warna yang dimiliki
larutan granul berasal dari ekstrak Rosella, dikarenakan bobot ekstrak Rosella dari
masing-masing formula besarnya sama, sehingga warna dari tiap larutan juga sama.
Tahap pengujian kualitas fisik granul yang terakhir adalah uji waktu larut.
Digunakan 1 sendok teh granul, kemudian dicampurkan ke dalam segelas air.
Dilakukan pengamatan apakah terjadi reaksi pembebasan karbondioksida sehingga
menghasilkan buih. Mengamati waktu yang dibutuhkan selama reaksi pembuihan
terjadi, sehingga dapat diketahui granul mana yang kualitasnya paling baik. Dari
penelitian yang dilakukan diperoleh hasil yaitu formula 1 waktu larut nya adalah 53
detik, dan formula 2 adalah 64 detik.
Dari keseluruhan pengujian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa
kedua formula ini memenuhi persyaratan dari uji serangkaian uji sifat fisik granul (uji
volume ketukan, uji daya alir granul, uji sudut kemiringan, dan uji waktu larut).
Namun diantara 2 formula, formula terbaik adalah formula 1. Hal ini dibuktikan dari
hasil uji uji waktu larut yaitu formula 1 waktu larut nya adalah 53 detik, karena salah
satu persyaratan bagi granulat yang baik yaitu mudah hancur di dalam air dan hasil
dari uji volume ketukan dimana indeks pengetapan formula 1 adalah sebesar 8,33%
hasil ini menunjukkan nilai indeks pengetapan formula 1 adalah yang terkecil
dibandingkan formula 2, serta dari hasil uji daya alir, formula 1 juga memiliki hasil
terbaik dimana kecepatan alir granulnya adalah sebesar 6,25 gram per detik. Dari
hasil pengujian terhadap formula 2 yang merupakan modifikasi peneliti menghasilkan
bahwa kesetimbangan asam basa mempengaruhi reaksi effervescent, hal ini terlihat
dari waktu larut yang dibutuhkan selama 64 detik. Proses reaksi effervescent pada
formula 2 lebih lama dibandingkan dengan formula 1.
Peneliti tertarik membuat inovasi sediaan farmasi dari ekstrak bunga Rosella
ini dikarenakan telah diketahui bahwa Rosella mengandung banyak elemen penting
baik bagi kesehatan tubuh manusia, diantaranya yaitu vitamin C, vitamin A,
karbohidrat, kalsium dan sodium. Pengolahan sediaan granul effervescent bertujuan
untuk membuat sediaan yang menarik dan praktis pada pemanfaatan khasiat bunga
Rosella. Sehingga masyarakat dapat mengkonsumsi Rosella dengan cara yang lebih
praktis.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak bunga Rosella dapat diolah
menjadi suatu sediaan granul effervescent dan semua formula memiliki sifat fisik
yang baik. Yang mempunyai karakteristik fisik paling baik adalah formula 1. Hal ini

dibuktikan dari hasil uji fisik yang telah dilakukan yaitu hasil uji waktu larut formula
1 adalah selama 53 detik, dan hasil uji volume ketukan formula 1 dimana indeks
pengetapannya adalah sebesar 8,33% serta hasil uji daya alir formula 1 sebesar 6,25
gram per detik.

Proses melarutnya granul

Proses melarutnya granul

effervescent

effervescent

Proses melarutnya granul effervescent

Kata kunci : Granul Effervescent, Bunga Rosella.