Anda di halaman 1dari 11

Terapi Farmakologi

Obat antihipertensi perlu dimulai berdasarkan pada 2 kriteria:


1) tingkatan tekanan darah sistolik dan diastolik,
2) tingkatan risiko kardiovaskular
Tujuan pengobatan hipertensi adalah menurunkan dan mencegah kejadian
kardioserebrovaskular dan renal, melalui penurunan tekanan darah dan juga
pengendalian dan pengobatan faktor-faktor risiko yang reversibel. Obat-obat
hipertennsi dapat digunakan sebagai monoterapi maupun sebagai bagian dari
terapi kombinasi. Obat ini telah terbukti dapat menurunkan morbiditas dan
mortalitas kardiovaskuler pada pengobatan hipertensi jangka panjang.
Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor
Enzim yang mengubah angiotensin I menjadi angiotensin II disebut
dengan Angiotensin Converting Enzyme (ACE) (Sargowo, 1999). Perubahan
angiotensin I menjadi angiotensin II tidak saja terjadi di paru-paru, namun ACE
ditemukan pula di sepanjang jaringan epitel pembuluh darah (Oates, 2001).
Rangkaian dari seluruh sistem renin sampai menjadi angiotensin II dikenal dengan
Renin Angiotensin Aldosteron System (RAAS). Sistem tersebut memegang
peranan penting dalam patogenesis hipertensi baik sebagai salah satu penyebab
timbulnya hipertensi, maupun dalam perjalanan penyakitnya. RAAS merupakan
sistem hormonal yang kompleks berperan dalam mengontrol sism kardiovaskular,
ginjal, kelenjar andrenal, dan regulasi tekanan darah (Ismahun, 2001).
Obat-obatan yang termasuk dalam ACE inhibitor tersebut bekerja dengan
menghambat efek angiotensin II yang bersifat sebagai vasokonstriktor.
Selanjutnya ACE menyebabkan degradasi bradikinin menjadi peptida inaktif atau
dalam pengertian bradikinin tidak diubah. Dengan demikian peranan ACE pada
hipertensi yaitu meningkatkan kadar bradikinin yang memberikan kontribusi
sebagai vasodilatator untuk ACE-inhibitor. Akibat vasodilatasi maka menurunkan

tahanan pembuluh peripheral, preload dan afterload pada jantung sehingga


tekanan darah dapat diturunkan (Sargowo, 1999; Taddei, et al. 2002). Efek
samping obat ini adalah batuk kering berkelanjutan. Jika efek samping ini sangat
mengganggu, ada obat lain dengan fungsi sama seperti Antagonis reseptor
angiotensin-2 yang kemungkinan akan disarankan.

Calcium channel blockers


Calcium channel blockers (CCB) menurunkan influks ion kalsium ke
dalam sel miokard, selsel dalam sistem konduksi jantung, dan selsel otot polos
pembuluh darah. Efek ini akan menurunkan kontraktilitas jantung, menekan
pembentukan dan propagasi impuls elektrik dalam jantung dan memacu aktivitas
vasodilatasi, interferensi dengan konstriksi otot polos pembuluh darah. Semua hal
di atas adalah proses yang bergantung pada ion kalsium (Gomer, Beth., 2007).

Menurut Dipiro et.al CCB yang umum digunakan adalah verapramil,


diltiazem, dihidropiridin, dan nifedipin. Verapramil menurunkan denyut jantung,
memperlambat konduksi nodus AV dan menghasilkan efek inotropik negative
yang dapat memicu timbulnya gagal jantung pada beberapa penderita. Diltiazem
dan verapramil dapat menyebabkan ketidaknormalan konduksi jantung seperti
bradikardia, blok AV, dan gagal jantung. Keduanya menimbullkan anoreksia,
mual, muntah dan hipotensi. Dihidropiridin dapat meningkatkan reflex mediasi
baroreseptor pada denyut jantung. Sedangkan Nifedipin jarang menyebabkan
peningkatan frekuensi, intensitas, durasi pada angina yang berhubungan dengan
hipotensi (Dipiro, JT et al., 2006).

Beberapa contoh obat golongan CCB antara lain:


Obat

Rentang Dosis (mg/hari)

Frekuensi penggunaan

Nifedipin (long acting)

30-60

1 x sehari

Amlodipin

2,5-10

1 x sehari

Nicardipin

60-120

2 x sehari

Verapamil

80-320

2-3 x sehari

Diltiazem

90-180

3 x sehari

(Nafrialdi dkk, 2009).


Penghambat Reseptor Angiotensin II (ARB)
Angiotensin II digenerasikan oleh jalur rennin-angiotensin (termasuk
ACE) dan jalur alternative yang digunakan untuk enzim lain seperti chymases.
Mekanisme kerja ARB adalah menagan langsung reseptor angiotensin tipe I,
reseptor yang memperantarai efek angiotensin II (vasokonstriksi, pelepasan
aldosteron, aktivasi simpatetik, pelepasan hormone antidiuretik). (Sukandar dkk,
2008).
Tidak seperti inhibitor ACE, ARB tidak mencegah pemecahan bradikinin,
hal ini tidak memberikan efek samping batuk. ARB memiliki efek samping yang

lebih rendah dari antihipertensi lainnya. Batuk sangat jarang terjadi. Seperti
inhibitor ACE mereka dapat mengakibatkan insufisiensi ginjal, hiperkalemia dan
hipotensi ortostatik. ARB tidak boleh digunakan pada ibu hamil (Sukandar dkk,
2008).
Beberapa obat golongan ARB diantaranya:
Obat

Rentang Dosis (mg/hari)

Frekuensi penggunaan

Lasartan

25-100

1-2 x sehari

Valsartan

80-320

1 x sehari

Irbesartan

150-300

1 x sehari

Telmisartan

20-80

1 x sehari

(Nafrialdi dkk, 2009).

Diuretik
Diuretik juga dikenal sebagai pil air yang berfungsi untuk membuang
sisa air dan garam dari dalam tubuh melalui urine Obat-obatan antihipertensi
golongan diuretik memiliki mekanisme kerja menurunkan tekanan darah dengan
cara memicu pengeluaran urin (dieresis) yang akan menimbulkan reduksi volume
plasma darah dan kemudian menyebabkan curah jantung dan tekanan darah
menurun (Sukandar dkk, 2008).
Menurut Dipiro, et.al terdapat beberapa jenis diuretik yang umum
digunakan dalam mengobati hipertensi, obat-obat tersebut adalah: Thiazid,
diuretik hemat kalium, dan antagonis aldosteron. Anti diuretik golongan thiazid
merupakan tipe diuretic yang digunakan untuk mengobati hipertensi dan cukup
efektif dalam mengurangi tekanan darah. Diuretik hemat kalium merupakan
antihipertensi yang lemah apabila digunakan secara tunggal, tetapi dapat
menambah efek hipoitensif ketika dikombinasikan bersama thiazid atau loop
diuretics. Antagonis aldosteron seperti spironolakton dan eplerenon merupakan

diuretic hemat kalium yang lebih potensial danb memiliki onset of action yang
cukup lama, yaitu sekitar 6 minggu.
Apabila diuretik dikombinasikan dengan obat antihipertensi lain, akan
timbul efek hipotensi yang disebabkan oleh mekanisme aksi. Banyak
antihipertensi lain yang menginduksi retensi garam dan air, yang akan dilawan
aksinya oleh penggunaan bersama diuretik.(Sukandar dkk, 2008)
Berikut beberapa obat golongan diuretik beserta dosis dan frekuensi
penggunaannya:
Obat

Dosis (mg/hari)

Pemberian

Contoh

nama

dagang
a. Diuretik Thiazide
Hidroklortiazid
12,5-25

1 x sehari

(generik)

Indapamid

1,25-2,5

1 x sehari

Natrilix

Klortalidon

12,5-25

1 x sehari

Hygroton, Tenoret

Metolazon

2,5-5

1 x sehari

Zaroxolyn

b. Diuretik kuat
Furosemid
20-80

2-3 x sehari

Arsiret, Farsix

Torsemid

1-2 x sehari

Unat

c. Diuretik hemat kalium


Amilorid
5-10

1-2 x sehari

(generik), Putritid

Spironalakton

1 x sehari

(generik),

2,5-10

25-100

(Nafrialdi dkk, 2009).

Beta-blockers
Beta-blocker memblok betaadrenoseptor. Reseptor ini diklasifikasikan menjadi
reseptor beta1 dan beta2. Reseptor beta1 terutama terdapat pada jantung
sedangkan reseptor beta2 banyak ditemukan di paruparu, pembuluh darah

perifer, dan otot lurik. Reseptor beta2 juga dapat ditemukan di jantung,
sedangkan reseptor beta1 juga dapat dijumpai pada ginjal. Reseptor beta juga
dapat ditemukan di otak. Stimulasi reseptor beta pada otak dan perifer akan
memacu penglepasan neurotransmitter yang meningkatkan aktivitas system saraf
simpatis. Stimulasi reseptor beta1 pada nodus sinoatrial dan miokardiak
meningkatkan heart rate dan kekuatan kontraksi. Stimulasi reseptor beta pada
ginjal akan menyebabkan pelepasan renin, meningkatkan aktivitas system rennin
angiotensinaldosteron. Efek akhirnya adalah peningkatan cardiac output,
peningkatan tahanan perifer dan peningkatan sodium yang diperantarai aldosteron
dan retensi air. Terapi menggunakan betablocker akan mengantagonis semua efek
tersebut sehingga terjadi penurunan tekanan darah. Betablocker yang selektif
(dikenal juga sebagai cardioselective betablockers), misalnya bisoprolol, bekerja
pada reseptor beta1, tetapi tidak spesifik untuk reseptor beta1 saja oleh karena
itu penggunaannya pada pasien dengan riwayat asma dan bronkhospasma harus
hati hati. Betablocker yang nonselektif (misalnya propanolol) memblok
reseptor beta1 dan beta 2 (Gomer, B., 2007).
Betablocker yang mempunyai aktivitas agonis parsial (dikenal sebagai
aktivitas simpatomimetik intrinsic), misalnya acebutolol, bekerja sebagai
stimulanbeta pada saat aktivitas adrenergik minimal (misalnya saat tidur) tetapi
akan memblok aktivitas beta pada saat aktivitas adrenergik meningkat (misalnya
saat berolah raga). Hal ini menguntungkan karena mengurangi bradikardi pada
siang hari. Beberapa betablocker, misalnya labetolol, dan carvedilol, juga
memblok efek adrenoseptor alfa perifer. Obat lain, misalnya celiprolol,
mempunyai efek agonis beta2 atau vasodilator. Betablocker diekskresikan lewat
hati atau ginjal tergantung sifat kelarutan obat dalam air atau lipid. Obatobat
yang diekskresikan melalui hati biasanya harus diberikan beberapa kali dalam
sehari sedangkan yang diekskresikan melalui ginjal biasanya mempunyai waktu
paruh yang lebih lama sehingga dapat diberikan sekali dalam sehari. Betablocker
tidak boleh dihentikan mendadak melainkan harus secara bertahap, terutama pada
pasien dengan angina, karena dapat terjadi fenomena rebound (Gomer, B., 2007).

Efek samping Blokade reseptor beta2 pada bronkhi dapat mengakibatkan


bronkhospasme, bahkan jika digunakan betabloker kardioselektif. Efek samping
lain adalah bradikardia, gangguan kontraktil miokard, dan tangakaki terasa
dingin karena vasokonstriksi akibat blokade reseptor beta2 pada otot polos
pembuluh darah perifer. Kesadaran terhadap gejala hipoglikemia pada beberapa
pasien DM tipe 1 dapat berkurang. Hal ini karena betablocker memblok sistem
saraf simpatis yang bertanggung jawab untuk memberi peringatan jika terjadi
hipoglikemia. Berkurangnya aliran darah simpatetik juga menyebabkan rasa malas
pada pasien. Mimpi buruk kadang dialami, terutama pada penggunaan beta
blocker yang larut lipid seperti propanolol. Impotensi juga dapat terjadi. Beta
blockers nonselektif juga menyebabkan peningkatan kadar trigilserida serum dan
penurunan HDL.
(Gomer, B., 2007).

Alpha-blockers
Prazosin, terazosin, dan doxazosin adalah penyekat reseptor 1 selektif.
Bekerja pada pembuluh darah perifer dan menghambat pengambilan katekolamin
pada sel otot halus, menyebabkan vasodilasi dan menurunkan tekanan darah. Pada
studi ALLHAT doxazosin adalah salah satu obat yang digunakan, tetapi di stop
lebih awal karena secondary end point stroke, gagal jantung, dan kejadian
kardiovaskular terlihat dengan pemberian doxazosin dibanding chlorthalidone.
Tidak ada perbedaan pada primary end point penyakit jantung koroner fatal dan
infark miokard nonfatal. Data ini menunjukkan kalau diuretik tiazid superior dari
doxazosin (dan barangkali 1-blocker lainnya) dalam mencegah kejadian
kardiovaskular pada pasien dengan hipertensi. Jadi penyekat alfa adalah obat
alternatif kombinasi dengan obat antihipertensi primer lainnya. Penyekat alfa1
memberikan keuntungan pada laki-laki dengan BPH (benign prostatic
hyperplasia). Obat ini memblok reseptor postsinaptik alfa1 adrenergik ditempat

kapsul prostat, menyebabkan relaksasi dan berkurang hambatan keluarnya aliran


urin (Gomer, B., 2007).
Efek samping yang tidak disukai dari penyekat alfa adalah fenomena dosis
pertama yang ditandai dengan pusing sementara atau pingsan, palpitasi, dan
bahkan sinkop 1 -3 jam setelah dosis pertama. Efek samping dapat juga terjadi
pada kenaikan dosis. Episode ini diikuti dengan hipotensi ortostatik dan dapat di
atasi/dikurangi dengan meminum dosis pertama dan kenaikan dosis berikutnya
saat mau tidur. Hipotensi ortostatik dan pusing dapat berlanjut terus dengan
pemberian terus menerus. Penggunaannya harus hati-hati pada pasien lansia.
Penyekat alfa melewati hambatan otak-darah dan dapat menyebabkan efek
samping CNS seperti kehilangan tenaga, letih, dan depresi (Gomer, B., 2007).

Agonis 2 sentral4
Klonidin dan metildopa menurunkan tekanan darah terutama dengan
merangsang reseptor 2 adrenergic di otak. Perangsangan ini menurunkan aliran
simpatetik dari pusat vasomotor di otak dan meningkatkan tonus vagal. Penurunan
aktivitas simpatetik, bersamaan dengan meningkatnya aktivitas parasimpatetik,
dapat menurunkan denyut jantung, cardiac output, total peripheral resistance,
aktifitas plasma rennin, dan reflex baroreseptor. Klonidin sering digunakan untuk
hipertensi yang resistan, dan metildopa adalah obat lini pertama untuk hipertensi
pada kehamilan (Nafrialdi dkk, 2009).
Penggunaan agonis 2 sentral secara kronis menyebabkan retensi natrium
dan air, paling menonjol dengan penggunaan metildopa. Penggunaan klonidin
dosis kecil dapat digunakan untuk mengobati hipertensi tanpa penambahan
diuretik. Tetapi, metildopa harus diberikan bersama diuretik untuk mencegah
tumpulnya efek antihipertensi yang terjadi dengan penggunaan jangka panjang,
kecuali pada kehamilan
Seperti dengan penggunaan obat antihipertensi yang bekerja sentral
lainnya, depresi dapat terjadi. Kejadian hipotensi ortostatik dan pusing lebih tinggi
dari pada dengan obat antihipertensi lainnya, jadi harus digunakan dengan hati-

hati pada lansia. Klonidin mempunyai kejadian efek samping antikolinergik yang
cukup banyak seperti sedasi, mulut kering, konstipasi, retensi urin, dan kabur
penglihatan.
Dosis
Obat

Rentang Dosis (mg/hari) Frekuensi penggunaan

Klonidin

0,1-0,8

2 x sehari

Klonidin patch

0,1-0,3

1 x seminggu

Metildopa

250-1000

2 x sehari

(Nafrialdi dkk, 2009).


Vasodilator Arteri Langsung
1. Hidralazin dan Minoksidil menyebabkan relaksasi langsung otot polos
arteriol. Aktivitas refleks baroreseptor dapat meningkatkan aliran
simpatetik dari pusat vasomotor, meningkatnya denyut jantung, curah
jantung, dan pelepasan renin. Efek hipotensif vasodilator berkurang
pada pemberian bersama dengan inhibitor simpatetik dan diuretik
(Dipiro et al, 2006).
2. Hidralazin tidak digunakan sebagai obat tunggal karena takifilaksis
akibat retensi cairan dan refleks simpatis akan mengurangi efek
antihipertensinya. Maka sebaiknya diatasi dengan diuretik atau
bloker (Dipiro et al, 2006) .
3. Hidralazin dapat menyebabkan sindrom yang tergantung dosis seperti
lupus yang bersifat reversible yang umum terjadi pada pasien asetilator
lambat. Efek lupus dapat dihindari dengan menggunakan dosis kurang
dari 200 mg/hari. Efek samping lainnya ialah dermatitis, demam, sakit
kepala, hepatitis, dan lain-lain (Sukandar dkk, 2008).
4. Minoksidil lebih kuat dan kerjanya lebih lama dibandingkan dengan
hidralazin. Minoksidil berguna untuk terapi jangka panjang dan harus
dikombinasikan dengan diuretik dan penghambat adrenergik (biasanya
bloker) untuk mencegah retensi cairan. Efek samping utamanya ialah

retensi cairan dan garam, efek samping kardiovaskular karena refleks


simpatis, dan hipertrikosis (Nafrialdi dkk, 2009).
5. Dosis
Obat

Rentang dosis (mg/hari)

Frekuensi Penggunaan

Hidralazin

10-40

1 atau 2 x sehari

Minoksidil

20-100

2-4 x sehari

(Dipiro et al, 2006).


Reserpin
1. Reserpin mengosongkan norepinefrin dari saraf akhir simpatik dan
memblok transpor norepinefrin ke dalam granul penyimpanan. Pada
saat saraf terstimulasi, sejumlah norepinefrin (kurang dari jumlah
biasanya) dilepaskan ke dalam sinaps. Pengurangan tonus simpatetik
menurunkan resistensi perifer dan tekanan darah (Sukandar dkk,
2008).
2. Reserpin menyebabkan retensi natrium dan cairan dengan signifikan
sehingga perlu diberikan bersama dengan diuretik thiazide (Sukandar
dkk, 2008).
3. Efek sampingnya yang paling serius adalah berhubungan dengan dosis
yaitu depresi. Depresi disebabkan oleh kosongnya katekolamin dan
serotonin di SSP. Hal ini dapat diminimalkan dengan penggunaan dosis
tidak lebih dari 0,25 mg/hari (Sukandar dkk, 2008).
4. Kombinasi reserpin dengan diuretik efektif dan tidak mahal (Sukandar
dkk, 2008).
5. Rentang dosis yang dapat digunakan 0,05-0,25 mg/hari dengan
penggunaan sekali sehari (Dipiro et al, 2006).

Daftar Pustaka
Dipiro, JT et al. 2006. Pharmacotherapy Handbook 7th. New York: Mc Graw Hill
Companies, Inc.

Gomer, Beth., 2007, Farmakologi Hipertensi, Terjemahan Diana Lyrawati, 2008.


Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
Ismahun, P. 2001. Peranan Angiotensin II Receptor Antagonist pada Penyakit
Jantung Hipertensi. Cermin Dunia Kedokteran, 132, 20-23
Nafrialdi, dkk. 2009. Farmakologi dan Terapi, edisi 5. Jakarta: Departemen
Farmakologi dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Oates JA, and Brown NJ. 2001. Antihypertensive agents and drugs therapy of
hypertension In: Hardman JG, Gilman AG (editors). The Pharmacological basis of
Theurapeutics. 10th ed. New York: McGraw-Hill.
Sargowo D. 1999. Peran endotel pada patogenesis penyakit kardiovaskular dan
program pencegahannya. Medika, 10: 643-655

Sukandar, E.Y., Andrajati, R., Sigit, J.I dan Kusnandar., 2008. ISO Farmakoterapi.
ISFI, Jakarta.

Taddei S, Virdis A, Ghadom L, Sudono I, and Salvetti A. 2002. Effects


antihypertensive drugs on endothelial dysfunction. Drugs, 62: 265-284.