Anda di halaman 1dari 3

PIODERMA

UPT Puskesmas
Buleleng II
STANDARD
OPERASIONAL
PROSEDUR

No Dokumen:

Nomor revisi:

Halaman:1/3

Tangal berlaku:
2 Januari 2015

Ditetapkan di Anturan
Kepala Puskesmas Buleleng II

dr. Ni Luh Sustemy


NIP. 567777777879
No ICD X

MASALAH KESE
HATAN

ANAMNESA

L01 Impetigo
L02 Cutaneous abscess, furuncle and carbuncle
L08.0 Pyoderma
Merupakan

infeksi epidermis yang disebabkan oleh

bakteri
gram positif dari Streptokokus dan stafilokokus
Penularan melalui kontak langsung dengan agen penyeba
b
golongan
Stafilokokus
danStreptokokus
Pasien datang mengeluh adanya koreng atau luka di kulit
a. Awalnya berbentuk seperti bintil kecil yang gatal, dap
at berisi cairanatau nanah dengan dasar dan pinggiran seki
tarnya kemerahan. Keluhanini dapat meluas menjadi bengka
k disertai dengan rasa nyeri.
b. Bintil kemudian pecah dan menjadi keropeng/ koreng yan
g mengering,keras dan sangat lengket.
Faktor Risiko:
a. Higiene yang kurang baik
b. Defisiensi gizi

c. Imunodefisiensi (CD 4 dan CD 8 yang rendah)


PEMERIKSAAN
FISIK

Keadaan umum penderita biasanya baik.


Impetigo bentuk krustosa biasanya terjadi pada anak
yaitu di kulit disekitar hidung dan mulut. Tampak

vesikel atau pustula yang cepat pecah dan menyebar


ke sekitarnya.
Impetigo bentuk vesikosibola disebut juga cacar
monyet, menyerang daerah ketiak, dada, dan
punggung. Bentuk ini sering ditemukan bersama
miliaria, hipopion (endapan nanah di bagian bawah
vesikel / bula) dan pada saat penyembuhan mengering
membentuk koleret (warna kemerahan melingkar di

bekas kelainan).
Impetigo neonatorium menyerang hampir seluruh

kulit, biasanya disertai demam.


Furunkel banyak ditemukan di ketiak atau bokong.
Folikel yang terinfeksi membengkak membentuk nodus
bernanah yang nyeri dengan eritema di sekitarnya.
Kelainan ini dapat menjadi abses atau membentuk
fistula. Pada penderita yang berdaya tahan tubuh
rendah misalnya penderita penyakit kronik (diabetes
melitus), furunkel ini sering kambuh dan sukar

PENATALAKSAN
AAN

sembuh.
Bila dijumpai pus banyak, basah atau krusta
dilakukan kompres terbuka dengan NaCL, rivanol
0,1%, larutan povidon 7,5% dilarutkan sepuluh kali,
tiga kali sehari masing-masing 1 jam selama masih
akut.

Bila tidak tertutup pus atau krusta diberikan salep


krim garam natrium fusidat 2 % ataupun bacitracin
polymxin / neomycin yang dapat dikombinasi dengan
kortikosteroid topical seperti betametasone ataupun

desoximetason
Pada lesi dalam dan / atau luas diberikan antibiotik

sistemik :
Lini I : golongan penisilin (Amoksisilin 3 x 10-15

mg/kgBB/x)
Lini II : golongan makrolid (Eritromisin 3-4 x 10-15

mg/kgBB/x )
Lini III: Sefalosporin (Cefadroxil 2 x 10-15 mg/kgBB)
Antibiotik lain-lain: Klindamisin

Pasien dirujuk apabila terjadi:


a. Komplikasi mulai dari selulitis.
b. Tidak sembuh dengan pengobatan selama 5-7 hari.
c. Terdapat penyakit sistemik

PROGNOSIS

Penyakit tanpa disertai komplikasi, umumnya bonam, bil


a dengan komplikasi, prognosis umumnya dubia ad bonam

UNIT TERKAIT

1. Dokter
2. Perawat pelaksana

DAFTAR
PUSTAKA

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


Nomor 5 tahun 2014 tentang
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer

Kriteria Rujuka