Anda di halaman 1dari 13

TUGAS KELOMPOK

COMPOUNDING DAN DISPENSING


RESEP SEDIAAN CAIR

OLEH :
KELOMPOK 5
SARI FITRIANI

(N211 14 038)

NURUL ISMI

(N211 14 039)

MUNAWARAH

(N211 14 040)

KELAS : B

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

Contoh Resep

R/ Codein 0,100
Efedrin 0,200
Bisolvon 10 tab
GG 15 tab
OBH 200 cc
S 3 dd C

Uraian Bahan
1. Codein (2,5)
Pemerian

: hablur berbentuk jarum halus atau serbuk hablur;


putih; tidak berbau; rasa pahit.

Kelarutan

: mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air


panas, sukar larut dalam etanol (95%) tetapi lebih
mudah larut dalam etanol (95%) mendidih.

Penyimpanan

: dalam wadah tertutup rapat dan terlindung dari


cahaya.

Indikasi

: Banyak digunakan sebagai pereda batuk dan


penghilang rasa sakit

Dosis

: oral sebagai analgetikum dan pereda batuk 3-5 dd

10-40mg dan maksimum 200mg sehari. Pada diare


3-4 dd 25-40mg.
Farmakokinetik : resorpsinya dari usus jauh lebih baik, begitu pula
FPE-nya lebih ringan hingga lebih kurang 70%
mencapai

sirkulasi

besar.

PP-nya

hanya

7%,

plasma-t nya 3-4 jam. Metabolitnya diekskresikan


sebagai glukuronida melalui kemih, bersama 5-15%
dalam keadaan utuh.
Mekanisme kerja : obat ini menekan rangsangan batuk di pusat batuk
yang terletak di sumsum-lanjutan (medula) dan
dalam hati zat ini diuraikan menjadi norkodein dan
10% menjadi morfin yang mungkin memegang
peranan atas efek anlgestiknya.
Efek samping

: Jarang terjadi pada dosis biasa dan terbatas pada


obstipasi, mual dan muntah, pusing, dan termangumangu. Pada anak kecil dapat terjadi konvulsi dan
depresi pernafasan. Dalam dosis tinggi dapat
menimbulkan efek sentral tersebut.

2. Ephedrini Hydrochloridum (2, 7)


Pemerian

: Hablur putih atau serbuk putih halus, tidak berbau,


rasa pahit

Kelarutan

: Larut dalam kurang lebih 4 bagian air, dalam kurang


lebih 14 bagian etanol (95%)p; praktis tidak larut

dalam eter p.
Indikasi
-

PO,

:
IM,

IV,

SC;

Digunakan

sebagai

bronkodilator

dalam

penatalaksanaan obstruksi jalan nafas reversibel akibat asma atau


PPOM.
-

PO, Nasal : Penyembuhan kongesti nasal pada infeksi saluran nafas


akibat virus atau rinitis alergi

PO : Penatalaksanaan hipotensi ortostatik

Penatalaksanaan hipotensi akut sehubungan dengan overdosis


agens antihipertensi

PO : Penatalaksanaan depresi mental dan narkolepsi

Mekanisme Kerja :Antagonis adrenergik alfa dan beta. Efek agonis


adrenergik beta menyebabkan akumulasi siklik AMP
pada

reseptor adrenergik beta, mengakibatkan

bronkodilatasi, stimulasi jantung dan SSP, diuresis


dan sekresi asam lambung. Efek adrenergik alfa
primer adalah vasokonstriksi periver.
Efek terapeutik

: Bronkodilatasi, vasokonstriksi dengan berkurangnya


kongesti, kembalinya tekanan darah, stimulasi SSP.

Farmakokinetik :
-

Absorpsi : Diabsorpsi dengan baik setelah pemberian oral IM atau


SC

Distribusi : Kemungkinan menembus plasenta dan memasuki ASI

Metabolisme dan ekskresi : sejumlah kecil dimetabolisme secara


lambat oleh hati. Kebanyakan di ekskresi dalam bentuk yang tidak
berubah oleh ginjal

Waktu paruh : 3-6 jam (tergantung pH urin)

3. Bisolvon (6)
Komposisi

Tiap tablet mengandung bromhexine HCl


Tiap 5 ml elixir mengandung bromexine HCl
(mengandung etil alkohol 3,72% v/v)
Cara kerja Obat : Bromhexine adalah derivat sintetik dari zat aktif
vasicine yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan.
Studi preklinis menunjukkan Bromhexine dapat
meningkatkan sekresi bronkus serous. Bromhexine
memperbaiki transpor mukus dengan mengurangi
viskositas mukus dan dengan mengaktifkan epitel
bersilia (klirens mukosilia).
Studi

klinis

menunjukkan

bahwa

Bromhexine

memiliki efek sekretolitik dan sekretomotor pada


daerah saluran bronkus, yang dapat mempermudah
pengeluaran dahak dan batuk.
Indikasi

: Bekerja sebagai mukolitik untuk meredakan batuk


berdahak.

Dosis

: Tablet

Dewasa dan anak > 10 tahun

: 3x1 tablet per hari

Anak 5-10 tahun

: 3x1/2 tablet per hari

Anak 2-5 tahun

: 2x1/2 tablet per hari

Eliksir
Dewasa dan anak > 10 tahun

: 3x10 ml per hari

Anak 5-10 tahun

: 3x5 ml per hari

Anak 2-5 tahun

: 2x5 ml per hari

Atau menurut petunjuk dokter


Perhatian

:Sebagaimana

obat

lainnya,

sebaiknya

hindari

penggunaan BISOLVON pada tiga bulan pertama


kehamilan dan pada masa menyusui. Hati-hati pada
penderita tukak lambung.
Masa kehamilan dan menyusui : Baik uji preklinis maupun uji klinis
hingga saat ini menunjukkan tidak ada efek yang
tidak diinginkan

atau yang

merugikan

selama

kehamilan. Namun demikian, penggunaan obat


selama masa kehamilan, terutama pada tiga bulan
pertama kehamilan memerlukan pengawasan ketat.
Obat ini diperkirakan masuk kedalam air susu,
karena itu harus dihindari selama masa menyusui.
Efek samping

: Bisolvon pada umumnya dapat ditoleransi dengan


baik. Pernah dilaporkan efek samping diare, mual,
muntah, dan efek samping gastro-intestinal lainnya.

Juga

pernah

dilaporkan

adanya

reaksi

alergi

termasuk ruam kulit, urtikaria, bronkospasme, angioudema dan anafilaksis.


Kontraindikasi

: Bisolvon tidak boleh digunakan oleh penderita yang


hipersensitif

terhadap

bromhexine

HCl

atau

komponen lain dalam formula.


Interaksi Obat

: Pemeberian bromhexine HCl bersamaan dengan


antibiotika (amoxisisilin, seforoxim, doksisiklin) akan
meningkatkan konsentrasi antibiotika dalam jaringan
paru.

Kelebihan dosis : Tidak ada laporan mengenai kelebihan dosis pada


menusia hingga saat ini. Jika terjadi, perlu dilakukan
pengobatan simptomatik.
4. Glyceryl Guaiacolate (8)
Indikasi

: Sementara bantuan dari batuk yang terkait dengan


infeksi saluran pernafasan dan kondisi terkait seperti
sinusitis, faringitis, bronkitis, dan asma ketika kondisi
ini rumit oleh lendir ulet plugs atau lendir dan
kemacetan; efektif untuk produktif serta batuk
produktif, khususnya kering, batuk produktif yang
cenderung melukai selaput lendir dari saluran udara;
membantu melepaskan lendir dan sekresi bronkial
tipis pada pasien dengan bronkitis kronis yang stabil.

Farmakokinetik :
-

Absorpsi : Dengan mudah diabsorpsi

Eliminasi : waktu paruh 1jam, ekskresi ginjal, metabolit utama dari


urin adalah asam laktat -2-(methoxyphenoxy).

Dosis
-

Dewasa

:
dan

Anak-anak

(lebih

tua

dari

usia

12

tahun)

PO 200-400 mg setiap jam 4 (maks, 2,4 g / hari).


-

Anak-anak (6 sampai 12 tahun lebih muda dari usia) PO 100-200


mg setiap jam 4 (maks, 1,2 g / hari).

Anak-anak (2 sampai lebih muda dari 6 th usia) PO 50-100 mg


setiap jam 4 (maks, 600 mg / hari).

Anak-anak (6 mo ke muda dari 2 th usia) PO Individualize dosis,


25-50 mg setiap jam 4 (maks, 300 mg / hari).

Penyimpanan

: pada suhu ruangan terkontrol (59 sampai 86 F).


Lindungi

dari

cahaya.

Lindungi

tablet

dari

kelembaban.
Interaksi Obat

:Tidak

ada

Laboratorium

didokumentasikan
Uji

Interaksi

dengan

baik.

Guaifenesin

dapat

meningkatkan Cl ginjal untuk asam urat, yang dapat


menurunkan

kadar

asam

urat

serum;

dapat

menghasilkan peningkatan asam 5-yroxyindoleacetic


kemih, yang dapat mengganggu interpretasi dari tes
ini untuk diagnosis sindrom karsinoid; palsu dapat

meninggikan asam vanillymandelic di metabolit


serotonin tertentu tes kimia karena gangguan warna.
Efek samping

:Pusing, sakit kepala. Ruam; urtikaria. Mual, muntah.

5. OBH (3)
Nama resmi

: Potio Nigra Contratussif

Sinonim

: Obat batuk hitam

Komposisi

: Tiap 300 ml mengandung :


Succus liquiritae

10 g

Amonium klorida

6g

SASA

6g

Aquadest

ad 300 ml

Analisis Resep
1. Skrining Resep
a. Pada bagian Inscriptio yang memuat identitas dokter penulis resep,
SIP, alamat, kota, tanggal dan tanda R/
b. Pada bagian Prescriptio yang memuat Inti resep, nama obat,
bentuk sediaan obat (BSO), dosis dan jumlah obat, tidak ditemukan
adanya ketidak lengkapan, termasuk aturan pembuatan tidak
dicantumkan.
c. Pada bagian Signatura yang mencakup tanda yang harus ditulis
pada etiket nama pasien dan petunjuk pemakaian, tidak ditemukan
adanya ketidaklengkapan.
d. Pada bagian Subscriptio, tercantum tanda tangan atau paraf dari
dokter.
2. Analisis Kerasionalan Resep
a. Tepat indikasi
Resep ini mengandung obat yang berlawanan indikasinya, ada
obat yang bekerja sebagai antitusif yaitu kodein, yang berlawanan
dengan kerja ekspektoran yaitu OBH dan GG.
b. Tepat obat
Penggunaan GG pada resep ini tidak tepat karena kerjanya yang
sinergis dengan OBH sebagai ekspektoran.
c. Tepat dosis
Dosis obat yang diberikan tidak mencapai dosis terapi.
d. Tepat cara dan waktu pemberian
Cara pemberian secara oral sudah tepat karena merupakan pasien

dewasa yang belum memerlukan perlakuan khusus. Obat diberikan


setelah makan sudah tepat untuk pasien ini.
e. Tepat bentuk sediaan yang dipilih
Bentuk sediaan pada resep ini adalah larutan. Larutan memiliki
keuntungan yaitu memiliki waktu absorpsi yang lebih cepat,
meningkatkan kenyamanan pasien untuk menggunakan obat.
f. Tepat penderita
Obat-obat yang terdapat dalam resep ini kebanyakan merupakan
obat-obat paten, sehingga dapat tidak dapat diterima oleh hampir
semua pasien dilihat dari segi ekonomi.
Perhitungan Dosis
1. Codein (DM; 60mg/ 300mg; DL: 10-20mg/ 30-60mg)
1 kali

= 15/200 x 100mg

= 7,5 mg < 60mg

= 7,5mg/ 60mg x 100%

= 12,5%

3 x sehari

= 3 x 7,5 mg

= 22,5mg < 300mg

= 22,5mg/ 300mg x 100% = 7,5 %

2. Efedrin (DM: 50mg/ 150mg; DL: 10-30mg/ 30-100mg)


1 kali

= 15/200 x 200mg

= 15 mg < 50mg

= 15mg/ 50mg x 100%

= 30 %

3 x sehari

= 3 x 15mg

= 45 mg < 150 mg

= 45mg/ 150mg x 100%

= 30%

3. Peracikan
1. Disiapkan alat dan bahan

2. Digerus 10 tablet bisolvon didalam lumpang (1)


3. Kemudian ditambahkan 15 tablet GG, lalu digerus kembali (2)
4. Lalu ditambahkan 10 tablet codein (tab 10 mg) (3)
5. Ditambahkan 8 tablet efedrin (tab 25 mg) lalu gerus kembali (4)
6. Dimasukkan sedikit OBH kedalam lumpang yang berisi campuran
tablet yang telah digerus, homogenkan
7. Kemudian larutan tersebut disaring
8. Dimasukkan kedalam botol yang berisi sisa OBH
9. Homogenkan larutan
10. Tempelkan etiket pada botol
4. Dispensing
1. Lakukan pengecekan ulang terhadap kesesuaian obat dan resep
2. Penyerahan

obat

pada

pasien

disertai

dengan

pemberian

informasi, seperti:
a. Kocok dahulu sebelum obat diminum
b. Penjelasan tentang takaran minum obat
c. Penjelasan tentang aturan pemakaian obat
d. Penjelasan tentang cara penggunaan obat
e. Jangan mengendarai kendaraan setelah meminum obat ini
karena dapat menyebabkan kantuk.

DAFTAR PUSTAKA

1. Anief, Moh. Ilmu Meracik Obat. UGM Press. Yogyakarta. 2005


2. Dirjen POM. Farmakope Indonesia III. Departemen Kesehatan RI.
Jakarta. 1987.
3. Dirjen POM. Formularium Nasional. Departemen Kesehatan RI.
Jakarta. 1987.
4. Ganiswarna, G., Sulistia. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Bagian
Farmakologi FK-UI. Jakarta. 2005.
5. Tjay, Tan Hoan. Obat-obat Penting. PT. Elex Media Komputindo.
Jakarta. 2002.