Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH

Kecelakaan dan PAK di Pabrik


Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan
(K3L)

Oleh
Kelompok : 5
Anggota : Thea Chatariana E (03031281419100)
Lucky Dharmawan (03031381419116)
Rizki Muthiah R
(03031381419120)

Dewi Asyura

(03031381419137)

Brenda Grace F
(03031381419139)

JURUSAN TEKNIK KIMIA 2014


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah,
Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah tentang
Kecelakaan & Penyakit Akibat Kerja di Pabrik ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana guna untuk memenuhi tugas mata kuliah K3L. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam
melaksanakan kerja di pabrik.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan kita mengenai
cara pencegahan kecelakaan kerja di pabrik, dan juga memahami ancaman bahaya yang ada
di dalam pabrik. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran
dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalh yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di

masa depan.

Palembang, September 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar .................................................................................................................... i
Daftar Isi ............................................................................................................................. ii
Bab I: Pendahuluan
1.1................................................................................................................................Latar
Belakang ............................................................................................................... 1
1.2................................................................................................................................Rum
usan Masalah ........................................................................................................ 2
1.3................................................................................................................................Tuju
an .......................................................................................................................... 2
Bab II: Tinjauan Pustaka
2.1.
2.2.
2.3.
2.4.
2.5.

Pengertian Kecelakaan Kerja ............................................................................... 3


Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja ...................................................................... 3
Pengertian Penyakit Akibat Kerja (PAK) ............................................................. 3
Faktor Penyebab Penyakit Akibat Kerja ............................................................... 4
Tata Cara Pelaporan PAK ..................................................................................... 5

Bab III: Pembahasan

3.1.
3.2.
3.3.
3.4.
3.5.
3.6.
3.7.
3.8.
3.9.
3.10.

Penyebab Kecelakaan dan PAK ........................................................................... 6


Faktor yang Mempengaruhi Kecelakaan dan PAK .............................................. 7
Klasifikasi Kecelakaan Industri ............................................................................ 7
Penanganan Kecelakaan Industri .......................................................................... 8
Kegiatan Sebelum Kecelakaan Industri ................................................................ 8
Kegiatan Sewaktu Terjadi Kecelakaan ................................................................. 10
Kegiatan Setelah Kecelakaan ............................................................................... 11
Akibat Kecelakaan Industri .................................................................................. 11
Contoh Kecelakaan Kerja dan Solusinya ............................................................. 11
Perundang-undangan dan Peraturan ..................................................................... 13

Bab IV: Penutup


4.1.
4.2.

Kesimpulan ........................................................................................................... 14
Saran ..................................................................................................................... 15

Daftar Pustaka ..................................................................................................................... 16

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia secara umum
diperkirakan termasuk rendah. Padahal kemajuan perusahaan sangat ditentukan peranan mutu
tenaga kerjanya. Karena itu disamping perhatian perusahaan, pemerintah juga perlu
memfasilitasi dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Nuansanya harus bersifat manusiawi atau bermartabat. Keselamatan kerja telah menjadi
perhatian di kalangan pemerintah dan bisnis sejak lama. Faktor keselamatan kerja menjadi
penting karena sangat terkait dengan kinerja karyawan dan pada gilirannya pada kinerja
perusahaan. Semakin tersedianya fasilitas keselamatan kerja semakin sedikit kemungkinan
terjadinya kecelakaan kerja.
Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas
kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. Sebagai
faktor penyebab, sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta
keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja,
sehingga

tidak

menggunakan

alat-alat

pengaman

walaupun

sudah

tersedia.

Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan hidupnya. Dalam bekerja
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang sangat penting untuk
diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja akan
berdampak pada diri, keluarga dan lingkungannya. Salah satu komponen yang dapat
meminimalisir Kecelakaan dalam kerja adalah tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan
mempunyai kemampuan untuk menangani korban dalam kecelakaan kerja dan dapat
memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menyadari pentingnya keselamatan dan
kesehatan kerja.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan penjelasan pada latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan
dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Bagaimana cara memahami penyakit akibat kerja dan mencegah penyakit yang
disebabkan saat kerja guna meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja?
2. Apa manfaat mengetahui PAK ini ?
3. Mengapa kita harus mengetahuinya ?
4. Apa yang bisa diterapkan di dalam pabrik dari presentasi tentang PAK ini ?
1.3 Tujuan
1. Untuk memberikan informasi kepada tenaga kerja agar lebih mengerti tentang
penyakit yang diakibatkan akibat kerja.
2. Agar tenaga kerja mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk mencegah
kecelakaan di pabrik
3. Mengembangkan konsep dan kebiasaan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja
di pabrik
4. Memahami ancaman bahaya yang ada di tempat kerja dan menggunakan langkah
pencegahan kecelakaan kerja di pabrik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Pengertian Kecelakaan Kerja


Menurut Heinrich, Petersen dan Roos, Kecelakaan kerja atau kecelakaan
akibat kerja adalah suatu kejadian yang tidak terencana dan tidak terkendali akibat
dari suatu tindakan atau reaksi suatu objek, bahan, orang atau radiasi yang
mengakibatkan cidera atau kemungkinan akibat lainnya.
Kecelakaan adalah semua kejadian yang tidak

direncanakan

yang

menyebabkan atau berpotensial menyebabkan cidera, kesakitan, kerusakan, atau


kerugian lainnya. Sementara itu, menurut OHSAS 18001:2007 kecelakaan kerja
didefinisikan sebagai kejadian yang berhubungan dengan pekerjaan yang dapat
menyebabkan cidera atau kesakitan (tergantung dari keparahannya), kejadian
kematian atau kejadian yang dapat menyebabkan kematian. Pengertian ini digunakan
juga untuk kejadian yang dapat menyebabkan merusak lingkungan.
Kecelakaan kerja menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.3 adalah suatu
kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan
korban manusia dan atau harta benda.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa
kecelakaan akibat kerja adalah suatu peristiwa yang tidak terduga, tidak terencana
tidak dikehendaki dan menimbulkan kerugian baik jiwa maupun harta yang
disebabkan oleh pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan yaitu ketika
2.2.

2.3.

pulang dan pergi ke tempat kerja melalui rute yang biasa dilewati.
Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Disebabkan oleh kesalahan tenaga kerja (karyawan) sendiri.
2. Disebabkan teman sekerja sehingga ia (pekerja) mengalami kecelakaan.
3. Tanggungan pekerja, karena menganggap perusahaan merasa sudah membayar
(menggaji) maka resiko kecelakaan menjadi tanggungan pekerja.
4. Karena pekerja mengalami kelalaian, sehingga terjadi kecelakaan
Pengertian Penyakit Akibat Kerja (PAK)
Penyakit Akibat Kerja (PAK) adalah penyakit yang mempunyai penyebab
yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, pada umumnya terdiri dari
satu agen penyebab, harus ada hubungan sebab akibat antara proses penyakit dan
hazard di tempat kerja. Menurut WHO, penyakit akibat kerja berkaitan dengan faktor
penyebab spesifik dalam pekerjaan, sepenuhnya dipastikan dan faktor tersebut dapat

2.4.

diidentifikasi, diukur dan dikendalikan


Faktor Penyebab Penyakit Akibat Kerja

Penyakit akibat kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:


1. Faktor fisik
Faktor fisik yang berpengaruh pada penyakit akibat kerja misalnya kebisingan,
suhu dan kelembaban, kecepatan aliran udara / angin, getaran / vibrasi mekanis,
radiasi gelombang elektromagnetik dan tekanan udara / atmosfir.
2. Faktor kimia
Petugas yang sering kali kontak dengan bahan kimia dan obat-obatan seperti
antibiotika, demikian pula dengan solvent yang banyak digunakan dalam
komponen antiseptik, desinfektan dikenal sebagai zat yang paling karsinogen.
Semua bahan cepat atau lambat ini dapat memberi dampak negatif terhadap
kesehatan mereka. Gangguan kesehatan yang paling sering adalah dermatosis
kontak akibat kerja yang pada umumnya disebabkan oleh iritasi (amoniak,
dioksan) dan hanya sedikit saja oleh karena alergi (keton). Bahan toksik (
trichloroethane, tetrachloromethane) jika tertelan, trhirup atau terserap melalui
kulit dapat menyebabkan penyakit akut atau kronik, bahkan kematian. Bahan
korosif (asam dan basa) akan mengakibatkan kerusakan jaringan yang irreversible
pada daerah yang terpapar.
3. Faktor biologi
Lingkungan kerja pada Pelayanan Kesehatan favorable bagi berkembang
biaknya strain kuman yang resisten, terutama kuman-kuman pyogenic, colli,
bacilli dan staphylococci, yang bersumber dari pasien, benda-benda yang
terkontaminasi dan udara. Virus yang menyebar melalui kontak dengan darah dan
sekreta (misalnya HIV dan Hep. B) dapat menginfeksi pekerja hanya akibat
kecelakaan kecil dipekerjaan, misalnya karena tergores atau tertusuk jarum yang
terkontaminasi virus.
Angka kejadian infeksi nosokomial di unit Pelayanan Kesehatan cukup tinggi.
Secara teoritis kemungkinan kontaminasi pekerja LAK sangat besar, sebagai
contoh dokter di RS mempunyai risiko terkena infeksi 2 sampai 3 kali lebih besar
dari pada dokter yang praktek pribadi atau swasta, dan bagi petugas kebersihan
menangani limbah yang infeksius senantiasa kontak dengan bahan yang tercemar
kuman patogen, debu beracun mempunyai peluang terkena infeksi.
4. Faktor fisiologi (ergonomi)
Sebagian besar pekerja di perkantoran atau Pelayanan Kesehatan Pemerintah,
bekerja dalam posisi yang kurang ergonomis, misalnya tenaga operator peralatan,
hal ini disebabkan peralatan yang digunakan pada umumnya barang impor yang
disainnya tidak sesuai dengan ukuran pekerja Indonesia. Posisi kerja yang salah
dan dipaksakan dapat menyebabkan mudah lelah sehingga kerja menjadi kurang

efisien dan dalam jangka panjang dapat menyebakan gangguan fisik dan
psikologis (stress) dengan keluhan yang paling sering adalah nyeri pinggang kerja
(low back pain).
5. Faktor mental psikologis
Faktor mental psikologis yang berpengaruh pada penyakit akibat kerja
misalnya suasana kerja, hubungan antara karyawan dan pengusaha pemilihan kerja
2.5.

dan lain-lain.
Tata Cara Pelaporan PAK
Tata cara pelaporan PAK diatur dalam:
1. Permennaker No. Per. 01/Men/1981 tentang Kewajiban Melapor PAK.
Pasal 2 (a) : pengurus dan badan yang ditunjuk wajib melaporkan secara
tertulis kepada Kantor Bina lindung Tenaga Kerja setempat.
Pasal 3 (a) : Laporan dilakukan dalam waktu paling lama 2 kali 24 jam setelah
penyakit dibuat diagnosa.
2. Kepmannaker No. Kepts. 333/Men/1989 tentang Diagnosa dan Pelaporan PAK
Pasal 3 (3) : setelah ditegakkan diagnosis PAK oleh dokter pemriksa maka
wajib membuat laporan medik.
Pasal 4 (a) :PAK harus dilaporkan oleh pengurus tempat kerjayang
bersangkutan selambat-lambatnya 2 kali 24 jam kepada Kanwil Depnaker melalui
Kantor Depnaker.
Pasal 4 (b) : Untuk melaporkan PAK harus menggunakan bentuk B2/F5,
B3/F6, B8/F7.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Penyebab Kecelakaan dan PAK
1. Penyebab Langsung (Immediate Causes)
Penyebab langsung kecelakaan adalah suatu keadaan yang biasanya bisa dilihat dan di
rasakan langsung, yang di bagi 2 kelompok:
A. Tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) yaitu perbuatan berbahaya dari dari
manusia yang dalam beberapa hal dapat dilatar belakangi antara lain:

Cacat tubuh yang tidak kentara (bodilly defect)

Keletihan dan kelesuan (fatigiue and boredom)

Sikap dan tingka laku yang tidak aman

Pengetahuan

B. Kondisi yang tidak aman (unsafe condition) yaitu keadaan yang akan
menyebababkan kecelakaan, terdiri dari:

Mesin, peralatan, bahan.

Lingkungan

Proses pekerjaan

Sifat pekerjaan

Cara kerja

2. Penyebab Dasar (Basic causes)


Penyebab Dasar (Basic Causes), terdiri dari 2 faktor yaitu:
A. Faktor manusia/personal (personal factor)

Kurang kemampuan fisik, mental dan psikologi

Kurangnya /lemahnya pengetahuan dan skill

Stres

Motivasi yang tidak cukup/salah

B. Faktor kerja/lingkungan kerja (job work enviroment factor)

Faktor fisik yaitu, kebisingan, radiasi, penerangan, iklim dll.

Faktor kimia yaitu debu, uap logam, asap, gas dst

Faktor biologi yaitu bakteri,virus, parasit, serangga

Ergonomi dan psikososial

3.2 Faktor yang Mempengaruhi Kecelakaan dan PAK

Lingkungan kerja

Metode kerja

Pekerja sendiri

Kelelahan (fatigue)

Kondisi tempat kerja (enviromental aspects) dan pekerjaan yang tidak aman (unsafe
working condition)

Kurangnya penguasaan pekerja terhadap pekerjaan, ditengarai penyebab awalnya


(pre-cause) adalah kurangnya training

Karakteristik pekerjaan itu sendiri.

3.3 Klasifikasi Kecelakaan Industri

1.

Klasifikasi menurut jenis kecelakaan :


Terjatuh, terdiri dari 2 jenis yaitu jatuh dari ketinggian, jatuh tanpa beda
ketinggian, misalnya terpeleset dan tergelincir.

2.

Tertimpa benda jatuh.

3.

Tertumbuk.

4.

Kontak/terkena benda berbahaya, misalnya zat kimia berbahaya, dengan benda


panas.

5.

Terperangkap di ruang tertutup.

6.

Terjepit dan lain-lain.

Klasifikasi menurut penyebabnya :

1. Mesin
2. Alat angkut dan alat angkat
3. Bejana tekan (Boiler), diagram kebakaran, peralatan lainnya : alat kerja dan
perlengkapanya, instalasi listrik, instalasi pendingin
4. Bahan kimia/radiasi.
5. Lingkungan kerja.

Klasifikasi menurut sifat, luka dan kelainan :

1. Patah tulang.
2. Dislokasi.
3. Memar.
4. dll.

Klasifikasi menurut letak kelainan di tubuh :

1. Kepala.
2. Leher.

3. Badan.
4. Anggota badan.
3.4 Penanganan Kecelakaan Industri
Dokter perusahaan harus dapat memperhatikan berbagai faktor penting dalam
merencanakan penanganan kecelakaan di industri. Dia harus dapat menentukan
kemungkinan kecelakaan yang biasa terjadi pada suatu industri jenis dan jumlah tenaga
yang dibutuhkan, berbagai peralatan dan bahan yang siap pakai termasuk kendaraan
untuk penanganan kecelakaan yang mungkin terjadi. Pelaksanaannya akan menyangkut
lintas program, lintas sektor terkait dan juga tim kesehatan dan keselamatan kerja di
perusahaan (panitia pembina K3), serta perundang-undangan dan peraturan yang berlaku.
Perencanaan ini harus jelas, singkat tetapi lengkap serta meliputi seluruh kegiatan yang
diperlukan pada saat pelaksanaan. Tugas dan peran personil yang terlibat harus jelas,
termasuk sosialisasi rutin kepada pihak industri.
3.5 Kegiatan Sebelum Kecelakaan Industri
Pada tahap ini perlu adanya penegasan tanggung jawab pihak-pihak yang terlibat serta
penentuan jalur komunikasi-informasi harus ditentukan dengan mengacu pada peraturan
yang berlaku (misalnya keharusan melapor kepada Dinas Kesehatan dll). Kegiatan
penting lainnya adalah menyediakan dan menyiapkan perbekalan dan peralatan di tempat
strategis meliputi antara lain :
1. Peralatan pelindung bagi petugas penyelamat termasuk disini helm keselamatan,
sepatu keselamatan, pakaian pelindung bahan berbahaya, dan lainnya seperti sumbat
telinga, sarung tangan dan alat keselamatan berupa pengikat dan panahan tubuh
(safety harnesses).
2. Peralatan medik. Peralatan darurat medis diletakan di kotak berlabel yang
konstruksinya kuat dan mudah dibawa. Berisi alat pemindai, penahan tulang belakang,
perban dan penutup luka serta peralatan lain seperti pipa bantu pembuka jalan nafas,
resusitator dan ventilator, peralatan infus dll. Alat pengikat dan selimut sebaiknya
tersedia.
3. Lokasi pengobatan. Perlu ditentukan tempat yang pantas sebagai tempat untuk
melakukan tindakan pertolongan medis, dapat berupa tempat yang kosong, atau klinik
medis yang ada, atau ditempat yang mudah dijangkau mobil ambulans. Tempat

pertolongan medis ini sebaiknya cukup luas untuk pemeriksaan awal saat memilih
kasus prioritas serta memudahkan tindakan pertolongan korban-korban dari kasus
berat, sedang dan ringan.
4. Alat komunikasi. Komunikasi yang efektif adalah aspek penting saat kejadian kecelakaan/bencana. Jaringan komunikasi memakai frekuensi yang sama sangat penting,
untuk koordinasi antara tim medis dan petugas penyelamat lainnya (atau Tim
penyelamat dari perusahaan). Handy-talkie sangat berguna bagi personil medis untuk
berkomunikasi diantara mereka. Telepon selular dan jalur telephon khusus dapat
dipergunakan untuk komunikasi tim medis di lapangan dan rumah sakit.
5. Pelatihan petugas kecelakaan industri. Semua pekerja di perusahaan sebaiknya
diperkenalkan dengan pertolongan pertama pada kecelakaan dan resusitasi jantungparu. Staf medik seharusnya dilatih dalam Basic Training Life Support (BTLS).
Idealnya semua dokter harus dilatih Advanced Trauma Life Support (ATLS).
6. Latihan Simulasi Kecelakaan. Latihan dan praktek penanganan kecelakaan industri
seperti keadaan yang sesungguhnya harus benar-benar dilakukan.Mempelajari
bencana ataupun kecelakaan yang telah lalu pada beberapa industri, tidaklah cukup
karena walaupun perencanaan telah ada, mereka tidak dihadapkan pada keadaan yang
sesungguhnya, hal ini menyebabkan lemahnya organisasi bahkan kacau balau ketika
kecelakaan benar-benar terjadi.Seringkali pimpinan puncak tidak menguasai
perencanaannya atau perannya dalam situasi kekacauan tersebut.
3.6 Kegiatan Sewaktu Terjadi Kecelakaan
Walaupun ada variasi di lingkungan kerja industri, tetapi perencanaan penanganan
kecelakaan medis termasuk penyelamatan, pemeriksaan awal untuk menentukan
prioritas, stabilisasi dan evakuasi korban dari lokasi kejadian dapat diterapkan pada
semua situasi kecelakaan. Kegiatan saat terjadi kecelakaan meliputi antara lain :
(1) Penyelamatan awal saat kegiatan mulai, informasi tentang macam kecelakaan dan
jumlah korban harus segera diketahui. Tim medis di lapangan harus melaporkan
pada pimpinan penanggulangan kecelakaan.Hartus berhati-hati ketika memasuki
daerah berbahaya (hazaedous area) meskipun sudah dibersihkan.Evakuasi korban
yang sulit dari lokasi rawan merupakan tanggung jawab petugas khusus yang
berpengalaman atau terlatih misalnya dari kepolisian, Tim SAR dll.Dengan
dukungan

secara

simultan

dari

petugas

medis

darurat

dalam

upaya

penyelamatan.Kecepatan bertindak sangat penting, tetapi harus tetap berhati-hati


agar tidak terjadi kecelakaan tambahan sewaktu melakukan penyelamatan, misalnya
saat mengeluarkan korban dari mesin, reruntuhan gedung dan lain-lain.Personel
medis harus selalu membuat penilaian cepat untuk mempertimbangkan sumber
bantuan dan meminta hal-hal yang diperlukan untuk upaya penyelamatan ini.
(2) Mengaktifkan bantuan sumber medis tiap negara biasanya mempunyai aturan yang
berbeda. Di Indonesia misalnya pihak Kepolisian, ABRI, PMI, Tim SAR, Ambulan
118, Ambulan 119, Brigade Siaga Bencana, Bakortanas (Satgas,Satlak), Rumah
Sakit, Pramuka dll.
(3) Pemeriksaan awal untuk menentukan prioritas Triage ditujukan untuk cenderung
melakukan yang baik untuk jumlah besar, korban-korban dipilih agar segera bisa
ditolong sesuai dengan kebutuhannya. Prioritas harus diberikan kepada korban yang
terancam kehidupannya dan yang mempunyai kemungkinan besar untuk bertahan
bila segera ditolong.
Misalnya digunakan 4 kategori (Singapore) :
Prioritas I : Korban cedera serius/berat (label merah) dengan problem kehidupan
terancam memerlukan perhatian segera. Jangan dipindahkan.
Prioritas II : Korban cedera sedang (label kuning) membutuhkan pertolongan cukup
segera. Jangan dipindahkan.
Prioritas III : Korban ringan (label hijau). Cedera ringan saja.Bisa dipindahkan.
Prioritas IV : Korban meninggal (label hitam).
(4) Penanganan Korban. Pada saat kecelakaan/bencana perlu tindakan segera, padahal
biasanya situasinya sangat rawan untuk terjadinya stress. Oleh karena itu diperlukan
protocol yang mudah diingat dan dilakukan, seperti yang disarankan oleh American
College of Surgeon dan Amerika College of Emergency Physicians, prioritas yang
dimaksud adalah : a. Airway / jalan nafas dan pemeriksaan tulang leher b.
Breathing / pernafasan c. Circulation / sirkulasi darah d. Disability assessment /
penilaian kecacatan dan status nerologik. e. Exposure / pajanan (lepaskan baju dan
cegah kedinginan)
(5) Evakuasi Korban. Dua pertimbangan mendasar yang harus dijaga sewaktu evakuasi,

ialah Keselamatan pasien dan kecepatan transportasi.


3.7 Kegiatan Setelah Kecelakaan
Baik pasien maupun petugas penyelamat, sering secara psikologis tertekan stressor
kecelakaan tersebut. Hal ini akan membaik setelah beberapa hari, beberapa minggu atau
bulan. Perawatan lanjutan termasuk konsultasi dan acara wawancara setelah tugas
selesai.Dukungan dari anggota keluarga, teman dan pekerja social yang dapat
membesarkan hati sangat diperlukan.Pada pengusutan dan penyelidikan saat setelah
kecelakaan, Dokter bersama petugas keselamatan lainnya membantu mengindentifikasi
penyebab kecelakaan tersebut, dari factor manusia atau masalah kesehatan dan
keselamatan kerja.Kelemahan pada kesehatan dan keselamatan kerja serta kurangnya
kesiapsiagaan, keduanya memudahkan terjadinya kecelakaan industri bahkan mungkin
berkembang menjadi bencana industri.
3.8 Akibat Kecelakaan Industri
Sebagai akibat dari kecelakaan industri terjadi 5 jenis kerugian: kerusakan, kekacauan
organisasi, keluhan dan kesedihan, kelainan dan kecacatan, serta kematian.
3.9 Contoh Kecelakaan Kerja dan Solusinya
Empat Pekerja di Pabrik Gula Tewas, Tersiram Air Panas
CilacapEmpat pekerja cleaning servis di pabrik gula Rafinasi PT Darma Pala Usaha
Sukses, Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/07/09), tewas setelah tersiram air panas didalam
tangki. Satu pekerja lainnya selamat namun mengalami luka parah.Diduga kecelakaan ini
akibat operator kran tidak tahu masih ada orang di dalam tangki.Pihak perusahaan
terkesan menutup-nutupi insiden ini.
Peristiwa tragis di pabrik gula Rafinasi PT Darma Pala Usaha Sukses yang ada di
komplek Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap ini terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Musibah
bermula saat 5 pekerja tengah membersihkan bagian dalam tangki gula kristal di pabrik
tersebut. Tiba-tiba kran yang berada di atas dan mengarah kedalam tangki mengeluarkan
air panas yang diperkirakan mencapai 400 derajat Celsius. Akibatnya, keempat pekerja
yang ada didalamnya tewas seketika dengan kondisi mengenaskan karena panasnya uap.
Para korban yang tewas semuanya warga Cilacap yakni Feri Kisbianto, Jumono, Puji
Sutrisno dan Kasito. Sedangkan pekerja yang bernama Adi Purwanto berhasil
menyelamatkan diri, namun mengalami luka parah.

Menurut salah seorang rekan pekerja, air panas tersebut mengucur ke dalam tangki
setelah tombol kran dibuka oleh salah seorang karyawan pabrik.Diduga operator kran
tidak

mengetahui

jika

pekerjaan

didalam

tangki

tersebut

belum

selesai.

Hingga saat ini belum diperoleh keterangan resmi terkait kecelakaan kerja tersebut,
karena semua pimpinan di Pabrik PT Darma Pala Usaha Sukses berusaha menghindar
saat ditemui wartawan.Sementara polisi juga belum mau memberikan keterangan atas
musibah tersebut.
Analisis : Jika ditinjau dari faktor penyebab kecelakaan kerja, penyebab dasar
kecelakaan kerja adalah human error. Dalam hal ini, kesalahan terletak pada operator
kran. Menanggapi kecelakaan yang telah menewaskan empat orang tersebut, seharusnya
sang operator kran bersikap lebih hati-hati serta teliti yaitu dengan benar-benar
memastikan bahwa tangki gula krsital tersebut telah kosong serta aman dialirkan air ke
dalamnya, maka mungkin kecelakaan kerja tersebut tidak akan terjadi. Karyawan saat
memasuki tangki seharusnya juga mengenakan alat-alat pelindung diri agar terhindar dari
bahaya kecelakaan kerja.
Kemudian penyebab kecelakaan yang lain adalah kurangnya pengawasan manajemen
dalam bidang kesehatan, keselamatan, dan keamanan pada perusahaan tersebut. Sistem
manajemen yang baik seharusnya lebih ketat pengawasannya terhadap alat ini menyadari
alat ini memiliki risiko yang besar untuk menghasilkan kerugian.Beberapa tindakan
manajemen yang bisa dilakukan adalah dengan meletakkan kamera-kamera di dalam alat
tersebut sehingga operator kran dapat memastikan bahwa di dalam tangki benar-benar
tidak ada orang. Kemudian, apabila teknologi yang lebih canggih dapat diterapkan di
sana, maka pada tangki tersebut dapat dipasang sebuah alat pendeteksi di mana apabila di
dalam tangki masih terdapat orang atau benda asing, maka ada sebuah lampu yang
menyala yang mengindikasikan di dalam tangki tersebut terdapat orang atau benda asing.
3.10 Perundang-undangan dan Peraturan

Undang-undang No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan, khususnya pasal 23


sehubungan dengan Kesehatan Kerja.

Undang-undang No.14 tahun 1986 tentang ketentuan pokok ketenaga


kerjaan.

Peraturan-peraturan lain yang berhubungan dengan kesehatan dan

keselamatan kerja.

Joint-committee WHO-ILO 1995.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Semua kecelakaan baik secara langsung maupun tidak langsung, di akibatkan oleh
kesalahan manusia. Oleh karena itu, selalu ada resiko kegagalan (risk of failures) pada
setiap proses atau aktifitas pekerjaan. Kemudian, ketika suatu kecelakaan kerja (work
accident) terjadi, seberapa pun kecil resikonya, pasti akan mengakibatkan efek kerugian
(loss). Karena itu:
- Sebisa/sedini mungkin, kecelakaan atau potensi kecelakaan kerja harus dicegah dan
-

dihilangkan, dan atau setidak-tidaknya dikurangi dampaknya.


Para pekerja harus mengetahui, mengerti, dan mengikuti prosedur keselamatan kerja

guna menghindari adanya kecelakaan yang mungkin akan terjadi.


Penanganan masalah keselamatan kerja dalam sebuah perusahaan harus dilakukan
secara serius oleh seluruh komponen pelaku usaha (tidak bisa secara parsial) dan

diperlakukan sebagai bahasan-bahasan marginal dalam perusahaan


Perusahaan harus menyiapkan perbekalan dan peralatan di tempat strategis, yaitu:
1. Peralatan pelindung bagi petugas penyelamat (helm keselamatan, sepatu
keselamatan, pakaian pelindung bahan berbahaya, pengikat dan panahan tubuh
(safety harnesses).
2. Peralatan medik (kotak berlabel, alat pembidai, penahan tulang belakang, perban,
penutup luka, dan peralatan infus.
3. Lokasi pengobatan (tempat yang kosong, klinik medis, atau tempat yang mudah

dijangkau mobil ambulans).


4. Alat komunikasi (handy-talkie atau telepon seluler).
5. Pelatihan petugas kecelakaan.
6. Latihan Simulasi Kecelakaan.
Dokter perusahaan harus dapat memperhatikan berbagai faktor penting dalam
merencanakan penanganan kecelakaan di industri (menentukan kemungkinan
kecelakaan yang biasa terjadi pada suatu industri).

4.2 Saran
Setiap kecelakaan industri menunjukan gambaran yang sangat bervariasi, tidak ada
satu perencanaan bahkan perencanaan multiple yang dapat menjawab seluruh situasi
yang terjadi. Oleh karena itu, guna meminimalisir kemungkinan kecelakaan/kerugian
yang dapat terjadi, terdapat saran-saran atau kiat-kiat yang dapat dilakukan.

Adapun saran-saran yang dapat dilakukan oleh pribadi masing-masing, yaitu:


1. Mengerti dan mengikuti prosedur keselamatan kerja.
2. Mengetahui resiko kecelakaan yang dapat terjadi dengan tidak menganggap remeh
setiap jenis kecelakaan.
3. Meningkatkan kesadaran diri untuk menaati peraturan prosedur keamanan kerja.
4. Bersikap lebih berhati-hati serta teliti ketika melakukan suatu pekerjaan.
5. Mengenakan alat-alat pelindung diri agar terhindar dari bahaya kecelakaan kerja.
Adapun saran-saran yang dapat dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan, yaitu:
1. Memberikan dan bertanggung jawab atas prosedur kerja yang diberikan kepada
pegawai.
2. Memperhatikan setiap kinerja yang dilakukan oleh para pegawai guna meminimalisir
kemungkinan terjadinya kecelakaan.
3. Menangani masalah keselamatan kerja secara serius (tidak secara parsial atau
seadanya saja)
4. Menyiapkan perbekalan dan peralatan yang lengkap di tempat strategis (seperti yang
tertulis di kesimpulan)
5. Melakukan pengawasan dengan teliti perihal kesehatan, keselamatan, dan keamanan
prosedur kerja, misalnya dengan menambahkan kamera-kamera cctv atau sebuah alat
pendeteksi yang canggih.

DAFTAR PUSTAKA
Alrasyid, Harun. 2011. Analisis Kecelakaan Kerja pada Kasus Kecelakaan Pekerja Proyek
Pembangunan Hotel Panghegar Tewas Terjatuhdari Lantai 20, Rabu 23 Maret 2011.
(online)

http://www.academia.edu/3414299/Analisis_Kecelakaan_Kerja_Basic_OHS_,

diakses pada 13 September 2015


Anonim.

2014.

Penyakit

Akibat

Kerja.

(online)

http://newssafety.blogspot.co.id/

2014/04/penyakit-akibat-kerja.html?m=1, diakses pada 16 September 2015


Arrester. 2009. Penyakit Akibat Kerja. (online) https://arrester.wordpress.com/tag/
penyakit-akibat-kerja/, diakses pada 13 September 2015
Himawari,

Ewy.

2011.

Kecelakaan

Kerja

di

Industri

Kimia.

(online)

http://ewyhimawary.blogspot.co.id/2011/04/kecelakaan-kerja-di-industri-kimia.html?
m=1, diakses pada 13 September 2015
Hutagaol, Felix. 2012. Penyebab Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja. (online)
http://fx-kerja.blogspot.co.id/2012/03/penyebab-kecelakaan-kerja.html, diakses pada 15
September 2015
Mundir, Abdillah. 2013. Faktor-Faktor Terjadinya Kecelakaan Kerja. (online) http://k3smk.blogspot.co.id/2013/12/faktor-faktor-penyebab-terjadinya.html, diakses pada 14
September 2015
Poltek,

Mahasiswa.

2008.

Kecelakaan

di

Industri.

(online)

https://bempolnes.

wordpress.com/2008/05/14/kecelakaan-di-industri/, diakses pada 15 September 2015


Sulaksmono, M.. 2012. Occupational Disease and Work Related Disease. Surabaya:
Universitas Airlangga
Unsri, Alfa. 2012. Makalah Penyakit Akibat Kerja. (online) http://alfa1995.blogspot.co.id/
2012/09/makalah-tentang-anemia-apalastik.html, diakses pada 16 September 2015
Zhainal. 2014. Contoh-Contoh Kecelakaan Kerja yang Terjadi di Indonesia. (online)
http://zhainal99.blogspot.co.id/2014/05/contoh-contoh-kecelakaan-kerja-yang.html,
pada 14 September 2015

diakses