Anda di halaman 1dari 3

Pertanyaan

1. Bagaimana mekanisme ion ion masuk ke dalam sel prokariotik?


2. Mengapa ribosom pada sel prokariotik lebih banyak dari sel eukariotik, padahal
struktur dari sel eukariotik lebih kompleks sehingga membutuhkan protein lebih
banyak?
Jawaban
1. Mekanisme transport ion ion ke dalam sel dibedakan menjadi dua yaitu Transport
pasif dan transport aktif
Transpor pasif
Transpor pasif merupakan perpindahan zat yang tidak memerlukan energi.
Perpindahan zat ini terjadi karena perbedaan konsentrasi antara zat atau larutan.
Transpor pasif melalui peristiwa difusi, osmosis, dan difusi terbantu.
a. Difusi
Difusi dapat diartikan perpindahan zat (padat, cair, dan gas) dari larutan konsentrasi
tinggi (hipertonis) ke larutan dengan konsentrasi rendah (hipotenis). Dengan kata lain
setiap zat akan berdifusi menuruni gradien konsentrasinya. Hasil dari difusi adalah
konsentrasi yang sama antara larutan tersebut dinamakan isotonis. Kecepatan zat
berdifusi melalui membran sel tidak hanya tergantung pada gradien konsentrasi, tetapi
juga pada besar, muatan, dan daya larut dalam lemak (lipid). Membran sel kurang
permeabel terhadap ion-ion (Na+, Cl, K+) dibandingkan dengan molekul kecil yang
tidak bermuatan. Dalam keadaan yang sama molekul kecil lebih cepat berdifusi
melalui membran sel daripada molekul besar. Molekul-molekul yang bersifat
hidrofobik dapat bergerak dengan mudah melalui membran daripada molekul-molekul
hidrofolik. Molekul-molekul yang besar dan ion dapat bergerak melalui membran.
b. Difusi terfasilitasi
Difusi terfasilitasi melibatkan difusi dari molekul polar dan ion melewati membran
dengan bantuan protein transpor. Protein transpor merupakan protein khusus yang
menyediakan suatu ikatan sik bagi molekul yang sedang bergerak. Protein transpor
juga merentangkan membran sel sehingga menyediakan suatu mekanisme untuk
pergerakan molekul. Difusi terfasilitasi juga merupakan transpor pasif karena hanya
mempercepat proses difusi dan tidak merubah arah gradien konsentrasi.
c. Osmosis
Osmosis merupakan difusi air melalui selaput semipermeabel. Air akan bergerak dari
daerah yang mempunyai konsentrasi larutan rendah ke daerah yang mempunyai

konsentrasi larutan tinggi. Tekanan osmosis dapat diukur dengan suatu


alat yang disebut osmometer. Air akan bergerak dari daerah dengan tekanan osmosis
rendah ke daerah dengan tekanan osmosis tinggi. Sel akan mengerut jika berada pada
lingkungan yang mempunyai konsentrasi larutan lebih tinggi. Hal ini terjadi karena air
akan keluar meninggalkan sel secara osmosis. Sebaliknya jika sel berada pada
lingkungan yang hipotonis (konsentrasi rendah) sel akan banyak menyerap air, karena
air berosmosis dari lingkungan ke dalam sel. Jika sel-sel tersebut adalah sel
tumbuhan, maka akan terjadi tekanan turgor apabila dalam lingkungan hipotonis.
Sebaliknya jika sel tumbuhan beradapada lingkungan hipertonis, dapat mengalami
plasmolisis yaitu terlepasnya sel dari dinding sel.
Transport aktif
Pada transpor aktif diperlukan energi dari dalam sel untuk melawan gradien
konsentrasi. Transpor aktif sangat diperlukan untuk memelihara keseimbangan
molekul-molekul di dalam sel. Sumber energi untuk transpor aktif adalah ATP
(adenosin trifosfat).
Transpor aktif primer dan sekunder
Transpor aktif primer membutuhkan energi dalam bentuk ATP, sedangkan transpor
aktif sekunder memerlukan transpor yang tergantung pada potensial membran. Kedua
jenis transpor tersebut saling berhubungan erat karena transpor aktif primer akan
menciptakan potensial membran dan ini memungkinkan terjadinya transpor aktif
sekunder.Transpor aktif primer dicontohkan pada keberadaan ion K+ dan Na+ dalam
membran. Kebanyakan sel memelihara konsentrasi K+ lebih tinggi di dalam sel
daripada di luar sel. Sementara konsentrasi Na+ di dalam sel lebih kecil daripada di
luar sel.Transpor aktif sekunder dicontohkan pada asam amino dan glukosa dengan
molekul pengangkutannya berupa protein transpor khusus. Pengangkutan tersebut
bersama dengan pengangkutan Na+ untuk berdifusi ke dalam sel. Pengangkutan Na+
adalah transpor aktif primer yang memungkinkan terjadinya pontensial membran,
sehingga asam amino dan glukosa dapat masuk ke dalam sel.
Endositosis dan Eksositosis
a. Eksositosis
Eksositosis dapat diartikan, keluarnya zat dari dalam sel. Vesikel dari dalam sel berisi
senyawa atau sisa metabolisme. Bersama aliran plasma, vesikel tersebut akhirnya
sampai pada membran dan terjadilah perlekatan. Daerah perlekatan akan mengalami
lisis dan isi vesikel keluar.
b. Endositosis
Endositosis merupakan proses pemasukan zat dari luar sel ke dalam sel. Partikel-

partikel dari luar sel menempel pada membran kemudian mendesak membran
sehingga terjadilah lekukan yang semakin lama semakin dalam bentuknya seperti
kantung dan akhirnya menjadi bulat lalu terlepas dari membran. Bulatan tersebut
berisi partikel, lalu akan dicerna oleh lisosom/enzim pencerna yang lain.
Endositosis memiliki dua macam bentuk yaitu pinositosis dan fagositosis. Pinositosis
merupakan proses pemasukan zat ke dalam sel yang berupa cairan. Hal ini sesuai
dengan arti pino sendiri yaitu minum. Sedangkan fagositosis (fago = makan)
merupakan pemasukan zat padat atau sel lainnya ke dalam tubuh sel. Sesuai dengan
artinya, peristiwa ini seperti sel memakan zat lain.

A) Pinositosis
Bahan pada membran plasma reseptor akan menempel sehingga terjadi lekukan.
Lekukan lama-kelamaan semakin dalam dan membentuk kantung. Kantung yang
terlepas akan berada dalam sitoplasma. Kantung ini disebut gelembung pinositosis.
Gelembung pinositosis akan mengerut dan pecah menjadi gelembung kecil-kecil
kemudian bergabung menjadi gelembung yang lebih besar.
B) Fagositosis
Fagositosis merupakan proses penelanan partikel-partikel makanan dan sel-sel asing,
misalnya pada Amoeba dan sel-sel darah putih. Makanan atau partikel lain akan
menempel pada membran, lalu membran akan membentuk lekukan. Membran akan
menutup dan membentuk kantung, lalu kantung melepaskan diri.
2. Ribosom pada sel prokariotik memang lebih banyak daripada sel eukariotik, namun
jumlah ribosom tidak berpengaruh pada jumlah sintesis proteinnya. Bukan berarti
dengan jumlah ribosom yang lebih banyak menunjukkan bahwa protein yang
disintesis lebih banyak pula. Sebenarnya protein yang disintesis oleh kedua jenis sel
tersebut adalah sama banyak meski jumlah ribosomnya berbeda.