Anda di halaman 1dari 24

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS GADJAH MADA


FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
TUGAS KULIAH GEOLOGI INDONESIA
KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI
DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT)

Disusun Oleh:
M. Virgiawan Agustin
13/353018/TK/41322

DOSEN PENGAMPU:
Ir. Budianto Toha, M.Sc.
YOGYAKARTA
MARET
2016
KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI
DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT)

Bab 1. Pendahuluan
Di dunia, wilayah Irian Jaya yang termasuk pada bagian paling timur Indonesia masih
termasuk wilayah yang masih jarang tereksplorasi. Bentuk lahan yang umumnya tertutup oleh
hutan rawa dan pegunungan berelevasi tinggi merupakan alasan mengapa wilayah ini masih
realtif sulit untuk diakses. Bentuk Pulau Irian Jaya yang ada sekarang merupakan ekspresi
permukaan hasil dari interaksi antara lempeng Indo-Australia dengan lempeng Pasifik
menghasilkan kondisi geologi Irian Jaya sangat kompleks dan salah satu keuntungannya
adalah membentuk wilayah yang sangat berpotensial sebagai deposit mineral.
Jika Pulau Irian Jaya dianalogikan sebagai pulau berbentuk burung, maka secara
topografi pulau ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu tubuh burung, leher burung, dan
kepala burung. Tubuh burung merupakan bagian paling timur dan terbesar yang didominasi
oleh pegunungan tengah masif dan daerah Central Range dimana pada bagian utaranya
berupa dataran yang merupakan cekungan disebut dengan Meervlakte yang dibatasi oleh
pegunungan metamorfisme dengan relief sedang. Leher burung terletak ditengah yang
tersusun oleh punggungan membentuk antiklin tersesarkan dan Weyland Range yang
merupakan pegunungan masif sebagi penghubung antara tubuh dan kepala burung. Kepala
burung merupakan bagian paling utara yang tersusun oleh batuan metamorf dan granit
tersesarkan oleh Sesar Sorong dan Sesar Ransiki berarah NE. Pada tulisan kali ini akan lebih
membahas pada bagian Kepala Burung.
Kondisi fisiografis secara umum wilayah Kepala Burung merupakan daerah dengan
pegunungan berelief kasar, terjal sampai sangat terjal. Tersusun atas batuan gunung api,
batuan metamorf, batuan intrusif yang bersifat asam hingga intermediate. Morfologi daerah
ini mengalami perubahan dari barat ke timur membentuk dataran alluvial, rawa dan plateau
dari batugamping. Batuan vulkanik tersebut merupakan batuan yang termasuk dalam bagian
utara lempeng Indo-Australia terjadi selama periode tumbukan kontinen dengan busur
kepulauan pada waktu Oligosen. Bagian dari Mobile Belt ini tersusun oleh batuan ultramafik
Mesozoik sampai Tersier dan mendasari batuan intrusi dari Sabuk Ophiolit Papua dibagian
utara yang dibatasi oleh suatu endapan gunung api bawah laut yang berumur Tersier. Endapan
Gunung Api bawah laut ini tumpang tindih dengan sedimen klastik hasil erosi selama
pengangkatan pegunungan tengah yang diendapkan di cekungan Pantai Utara. Pergerakan
dari kerak samudera Pasifik sekarang mempunyai batas di sebelah utara pantai Pulau New
Guinea.

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

Bab 2. Kondisi Geologi


2.1.

Fisiografi Daerah
Gambar 1.
Fisiografi
daerah
Papua
Nugini

Beberapa peneliti terdahulu yang telah melakukan studi terhadap geologi


Papua berpendapat bahwa orogenesis (pengangkatan) pada Kala Oligosen merupakan
awal mulainya proses tektonik Papua hingga terbentuk fisiografi yang terlihat pada saat
ini yang dikenal sebagao Orogen Melanesia. Orogenesis tersebut menghasilkan 3
mandala geologi, dimana Dow et al. (1986) membagi geologi Papua menjadi 3 lajur
berdasarkan stratigrafi, magmatic, dan tektoniknya yaitu:
1 Kawasan Samudera Utara yang dicirikan oleh ofiolit dan busur vulkanik kepulauan
(Oceanic Province) sebagai bagian dari Lempeng Pasifik. Batuan-batuan ofiolit pada
umumnya tersingkap di sayap utara Pegunungan Tengah Papua Nugini.
2 Kawasan Benua yang terdiri dari batuan sedimen yang menutupi batuan dasar
kontinen yang relative stabil dan tebal yang terpisah dari Kraton Australia.
3 Lajur peralihan yang terdiri atas batuan termalihkan (metamorf) dan terdeformasi
sangat kuat secara regional. Lajur ini terletak di tengah (Central Range).
Fisiografi Papua secara umum juga dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu
bagian Kepala Burung, Leher dan Badan. Bagian utara Kepala Burung merupakan
pegunungan dengan relief kasar, terjal, sampai sangat terjal. Batuan yang tersusun berupa
batuan gunung api, batuan ubahan, dan batuan intrusif asam sampai menengah.
Morfologi ini berangsur berubah ke arah barat sampai selatan berupa dataran rendah
aluvial, rawa dan plateau batugamping.

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

Kenampakan fisiografi dari Papua ini merupakan kenampakan dari keadaan


geologi dan tektonik yang pernah terjadi di tempat tersebut. Menurut Visser dan Hermes
(1962) kerak kontinen Lempeng Australia yang berada di bawah laut Arafura dan meluas
ke arah utara merupakan dasar bagian selatan dari Pegunungan Tengah Papua, batuan
dasarnya tersusun oleh batuan sedimen paparan berumur Paleozoik sampai Kuarter
Tengah.
Kompresi, deformasi dan pengangkatan dari Pegunungan Tengah yang disebut
sebagai Orogenesa Melanesia dimulai pada awal Miosen hingga Miosen Akhir dan
mencapai puncaknya selama Pliosen Akhir hingga Awal Plistosen. Batuan dasar dan
sedimen paparan terangkat secara bersamaan sepajang komplek sistem struktur yang
mengarah ke barat laut. Di Papua bagian utara atau bagian ke dua dari Mobile Belt New
Guinea tersusun oleh batuan vulkanik afanitik yang merupakan bagian tepi utara
lempeng Australia yang terjadi selama periode tumbukan kontinen dengan busur
kepulauan pada waktu Oligosen. Bagian dari Mobile Belt ini tersusun oleh batuan
ultramafik Mesozoik sampai Tersier dan mendasari batuan intrusi dari Sabuk Ophiolit
Papua dibagian utara yang dibatasi oleh suatu endapan gunung api bawah laut yang
berumur Tersier. Pergerakan dari kerak samudera Pasifik sekarang mempunyai batas di
sebelah utara pantai Pulau New Gunea. Formasi stratigrafi yang menyusun daerah ini
diterobos oleh suatu grup magma intermediate berumur Pliosen berupa kalk alkali stock
dan batholit yang menempati sepanjang jalur struktur regional utama.
A Stratigrafi Regional
Kawasan Kepala Burung yang terdiri dari Cekungan Salawati dan Cekungan
Bintuni memiliki tatanan stratigrafi regional yang saling berhubungan antara kedua
cekungan tersebut. Secara keseluruhan, kawasan ini tersusun oleh 12 formasi batuan
dengan batuan tertua mulai dari umur Paleozoikum.

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

Gambar 1. Kolom stratigrafi daerah Papua


Formasi batuan yang menyusun kawasan Kepala Burung ini, berdasarkan
umur batuan dari yang tertua hingga yang paling muda dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
1

Paleozoic Basement
a Formasi Kemum
Pada kawasan Kepala Burung, formasi batuan yang tertua yaitu Formasi
Kemum yang tersingkap di sebelah timur Kepala Burung yang dikenal dengan
Tinggian Kemum, serta di sekitar Gunung Bijih Mining Access (GBMA) di
sebelah Barat Daya Pegunungan Tengah. Formasi ini didominasi oleh batuan
metamorf low grade dan tersusun oleh beberapa jenis batuan seperti batusabak
(slate), serpih mengersik, argilit, metaarenit, meta konglomerat, phyllitic dan
minor quartzite. Di kawasan ini, Formasi Kemum diintrusi oleh batuan beku
granitik (Granit Anggi) berumur Karboniferous akhir hingga Permian-Trias, serta
b

oleh dike dengan komposisi basaltik dan andesitik selama kala Pliosen.
Formasi Aifam
Formasi ini menumpang secara tidak selaras di atas Formasi Kemum.
Formasi Aifam dijumpai di bagian utara dari Kepala Burung, pada Sungai Aifam
yang berada di bagian tengah kepala burung. Di kawasan Kepala Burung, formasi
ini merupakan batuan sedimen yang tidak termetamorfkan. Sedangkan di

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

cekungan Bintuni, Formasi Aifam dibagi menjadi 3 formasi yaitu Formasi Aimau,
Aifat, dan Ainim.
Formasi Aimau terdiri dari basal conglomerate, batupasir dan batulempung
dengan sisa-sisa silicified wood, dan berumur Karbon akhir. Setelah itu
diendapkan Formasi Aifat dengan litologi penyusun berupa batulempung yang
memiliki komposisi karbonat dengan konkresi yang melimpah, sedikit
batugamping, serta lapisan batupasir kuarsa yang sangat tipis. Formasi Aifat yang
berumur awal hingga akhir Permian. Sebelum pengendapan Formasi Aifat selesai,
secara menjari pengendapan disusul oleh Formasi Ainim. Formasi ini tersusun
oleh batulempung lanauan, batupasir kuarsa, greywacke dan batulanau, serta
seam batubara dengan ketebalan + 1 meter. Setelah itu, terjadi intrusi batuan beku
granitik (Granit Anggi) hingga menembus lapisan anggota Formasi Kemum
selama akhir Permian hingga Triasik.
2

Mesozoic to Cenozoic Sedimentation


a Formasi Tipuma
Formasi Tipuma dicirikan oleh lapisan batuan berwarna merah yang
menyebar secara luas dari Barat Laut Kepala Burung hingga batas Timur Kepala
Burung. Warna merah pada lapisan batuan tersebut diakibatkan adanya
kandungan oksida besi (hematite) yang terbentuk mulai dari Triassic hingga awal
Jura. Formasi Tipuma diendapkan pada lingkungan fluvial dimana ketebalan
formasi ini berubah secara signifikan yang merepresentasikan topografi berupa
horst dan graben akibat proses ekstensi yang aktif. Pada Cekungan Bintuni,
terdapat kontak yang tidak terpisahkan antara Formasi Tipuma dengan Grup
b

Kembelangan yang menumpang di atasnya secara tidak selaras.


Kembelangan Group
Pada kawasan Kepala Burung, Formasi Tipuma ke arah atas berubah
menjadi Grup Kembelangan yang berumur Cretaceous akhir. Grup Kembelangan
tersingkap sepanjang sisi timur kepala burung, bagian leher, dan bagian tengah.
Pada bagian kepala burung, Grup Kembelangan memiliki anggota Formasi Jass.
Formasi Jass dengan ketebalan maksimum 400 meter terdiri dari batulempung
dan batuan karbonat pasiran berwarna hitam hingga cokelat, batupasir litik, dan
batugamping dengan sedikit sisipan batupasir kuarsa, serta konglomerat kuarsa
(polimiktik). Pada akhir Cretaceous, terjadi intrusi batuan beku granitik di
Cekungan Salawati. Kemudian selama pertengahan Jura hingga sebelum
ditemukan Formasi Jass, pada bagian utara Kepala Burung tidak ditemukan

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

rekaman stratigrafi, yang berarti terjadinya fase non-deposisional dimana tidak


c

terjadi pengendapan.
New Guinea Limestone Group
Selama masa Cenozoic, kurang lebih pada batas Cretaceous hingga
Cenozoic terjadi pengendapan karbonat yang dikenal sebagai New Guinea
Limestone Group (NGLG) yang menumpang di atas Grup Kembelangan. Secara
umum NGLG ini dikelompokkan menjadi 4 formasi yaitu Formasi Waripi,
Faumai, Sirga, dan Kais.
Formasi Waripi tersingkap di pegunungan sebelah barat Central Range
(bagian tengah) dan memanjang ke arah barat hingga mencapai ujung selatan dari
Kepala Burung. Formasi ini terdiri dari kalkarenit oolitik pasiran dan
biokalkarenit, batupasir kuarsa kalkareous, serta biokalkarenit oolitik berwarna
merah hingga cokelat. Batugamping yang ditemui umumnya bersifat dolomitik
dan mengandung foraminifera. Ketebalan maksimum dari Formasi Waripi ini
diperkirakan mencapai 700 meter pada bagian atas sungai Baupo dan mencapai
380 meter pada bagian ujung barat, tetapi akan menghilang pada bagian timur.
Formasi tersebut kemungkinan berumur Paleosen.
Formasi Faumai terdiri dari basal conglomerate yang mencirikan
ketidakselarasan dengan lapisan di bawahnya. Konglomerat tersebut berkembang
ke arah atas menjadi shelf carbonate. Batugamping tersebut tersingkap di bagian
timur Kepala Burung, dimana di atasnya terendapkan batuan klastik dari Formasi
Sirga dan dipisahkan oleh New Guinea Limestone Group yang terbentuk
setelahnya (kala Miosen). Batugamping yang menyusunnya mengandung banyak
jenis foraminifera dengan ukuran yang lebih besar, yang berumur Ta sampai Tb,
yaitu pertengahan Eosen hingga Oligosen.
Formasi Sirga terendapkan secara selaras di atas Formasi Faumai. Litologi
yang menyusun formasi ini berupa batulanau dan batulempung di sebelah barat
dan selatan, hingga menjadi batupasir kuarsa dan konglomerat di bagian utara dan
timur. Formasi ini dibentuk oleh proses transgresif dan diendapkan pada
lingkungan laut dangkal pada akhir Oligosen.
Formasi Kais tersusun oleh batugamping foraminifera, napal, batulanau,
dan batubara. Formasi ini diendapkan pada shelf karbonat energy rendah. Formasi
Kais merepresentasikan kompleks fasies terumbu yang ekivalen dengan Formasi
Klamogun di Cekungan Salawati. Formasi ini memiliki kisaran umur Miosen

Awal hingga Miosen Tengah.


Late Cenozoic Sedimentation
KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

Formasi Klasafet
Formasi Klasafet terendapkan secara menjari dengan Formasi Kais dan
menutupi Formasi Kais yang berada di bawahnya, dimana ketebalannya mencapai
1.925 meter. Formasi ini tersingkap secara lokal (tidak menerus) sepanjang barat
hingga timur Kepala Burung. Litologi yang menyusun formasi ini berupa
batupasir karbonatan, napal yang masif maupun berlapis, batulanau mikaan atau
karbonatan, dan sedikit sisipan batugamping. Umur Formasi Klasafet ini sendiri
ialah Miosen awal hingga tengah. Formasi Klasafet secara selaras ditumpangi
oleh Formasi Klasaman pada cekungan Salawati dan Formasi Steenkool pada
Cekungan Bintuni. Sedangkan kedua Formasi Klasaman dan Steenkool tersebut

memiliki hubungan yang saling menjari.


Formasi Klasaman
Formasi Klasaman beranggotakan interbedding batulempung dan batupasir
argilaseous dengan sedikit sisipan konglomerat dan lignit. Formasi ini memiliki
ketebalan 4.500 meter dan tersingkap di sejumlah area yang cukup luas pada
Pulau Salawati di sebelah barat kepala burung dan sepanjang bagian selatan
dataran tinggi Ayamaru. Formasi Klasaman ini terbentuk pada akhir Pliosen. Pada
Formasi Klasaman yang berada di Cekungan Salawati ini terendapkan
Konglomerat Sele dengan ketebalan sekitar 120 meter. Lapisan ini tersusun atas
konglomerat polimiktik dengan lapisan-lapisan tipis batulempung dan batupasir.
Lapisan ini terbentuk selama Zaman Kuarter.

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

Gambar 2. Kolom Stratigrafi Regional Papua menurut Sapiie (2000)


Bab 3. Proses Geologi
III.1 Sejarah Geologi (Umur batuan,)
Sejarah pengendapan daerah Kepala Burung dimulai dengan batuan dasar kontinental,
yang kemudian diikuti dengan pembentukan batulempung dan endapan turbidit berumur
Silurian Devonian. Kedua jenis litologi ini dikelompokkan sebagai Formasi Kemum.
Formasi Kemum ini juga mengalami intrusi oleh batuan beku granitik (Granit Anggi)
berumur Karboniferous akhir hingga Permian-Trias, serta oleh dike dengan komposisi
basaltik dan andesitik selama kala Pliosen. Setelah Formasi Kemum terbentuk, maka
selanjutnya terendapkan sedimen sin-orogenik yang merupakan bagian dari Formasi Aisajur
yang berumur awal Karbon. Selanjutnya terbentuk kelompok Aifam (di dalamnya terdapat
Formasi Aimau, Aifat, dan Ainim) yang memiliki hubungan tidak selaras dengan Formasi
Aisajur di bawahnya. Kelompok Aifam terbentuk selama pertengahan zaman Karbon hingga
akhir Perm. Formasi selanjutnya ialah Formasi Tipuma yang diwujudkan oleh sikuen red bed
yang terbentuk selama Triasik hingga awal Jura.
KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

Pada bagian kepala burung, Formasi Tipuma ke arah atas berubah menjadi kelompok
Kembelangan yang berumur Cretaceous akhir (Pigram dan Sukanta, 1982, dalam Charlton,
1996). Di atas Formasi tersebut, diendapkan batulempung Yefbie secara tidak selaras.
Secara vertikal, batulempung Yefbie berkembang menjadi Formasi Ligu yang beranggotakan
shelf carbonate berumur akhir Jura serta batulempung dari Formasi Lelinta. Secara selaras,
pengendapan kemudian dilanjutkan dengan batugamping yang terbentuk pada lingkungan
pengendapan bathyal berumur Cretaceous. Batugamping tersebut merupakan bagian dari
kelompok Batugamping Facet (yang beranggotakan Formasi Batugamping Gamta dan
Waaf). Litologi penyusun stratigrafi yang terakhir dari Kala Tersier ini ialah batulempung
yang merupakan anggota dari Formasi Fafanlap berumur Cretaceous akhir.
Stratigrafi Tersier dipelopori oleh Formasi Faumai yang berumur Eosen awal hingga
akhir. Formasi Sirga ditemukan melalui survei bawah permukaan di Cekungan Salawati,
tepatnya pada bagian barat dataran tinggi Ayamaru. Formasi ini dibentuk oleh proses
transgresif dan diendapkan pada lingkungan laut dangkal, seiring dengan naiknya muka air
laut setelah penurunan global pada akhir Oligosen (Vail dan Mitchem, 1979). Bagian tertua
dari suksesi cekungan (terdiri dari tiga formasi di atas) berkembang menjadi litofasies
batugamping berumur Miosen awal hingga tengah, dengan lingkungan pengendapan berkisar
antara shelf (paparan) yang berkembang ke arah laut dalam yang merupakan anggota dari
Formasi Kais. Singkapan dari batugamping Formasi Kais yang berumur Eosen (Visser dan
Hermes, 1962). Secara lateral, formasi ini lazimnya disetarakan dengan Formasi Klamogun,
Sekau, dan Klasafet. Batuan yang terendapkan pada lingkungan laut dalam ialah anggota dari
Formasi Klamogun dengan ketebalan 1.159 meter. Di atas Formasi Klamogun, pada Miosen
tengah hingga akhir diendapkan Formasi Klasafet yang beranggotakan batupasir karbonatan,
napal yang masif maupun berlapis, batulanau mikaan atau karbonatan, dan sedikit sisipan
batugamping.
Setelah kala Miosen habis, dimulailah pengendapan yang didominasi material klastik.
Pada awal hingga akhir Pliosen, terbentuk Formasi Klasaman yang beranggotakan
interbedding batulempung dan batupasir argilaseous dengan sedikit sisipan konglomerat dan
lignit. Formasi Klasaman diperkirakan berumur akhir Miosen hingga Pliosen. Di atas
Formasi Klasaman, terendapkan secara tidak selaras Konglomerat Sele yang berumur
Kuarter. Lapisan ini diperkirakan berumur lebih muda dari Pliosen.
3.2. Proses Tektonik Yang Terjadi (Evolusi Tektonik, Fase Tektonik)
Periode tektonik utama daerah Papua dan bagian utara Benua Indo-Australia dijelaskan
dalam empat periode (Henage, 1993) yaitu
KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

Periode rifting awal Jura di sepanjang batas utara Lempeng Benua Indo-Australia,
Periode rifting awal Jura di Paparan Baratlaut Indo-Australia (sekitar Palung Aru),
Periode tumbukan Tersier antara Lempeng Samudera Pasifik-Caroline dan

Australia, zona subduksi berada di Palung New Guinea, dan


Periode tumbukan Tersier antara Busur Banda dan Lempeng Benua Indo-Australia.
Periode tektonik Tersier ini menghasilkan kompleks-kompleks struktur seperti Jalur Lipatan

Indo-

Anjakan Papua dan Lengguru, serta Antiklin Misool-Onin-Kumawa.


Pada Kala Oligosen terjadi aktivitas tektonik besar pertama di Papua, yang merupakan
akibat dari tumbukan Lempeng Australia dengan busur kepulauan berumur Eosen pada
Lempeng Pasifik. Hal ini menyebabkan deformasi dan metamorfosa fasies sekis hijau
berbutir halus, turbidit karbonan pada sisii benua membentuk Jalur Metamorf Rouffae yang
dikenal sebagai Metamorf Dorewo. Akibat lebih lanjut tektonik ini adalah terjadinya
sekresi (penciutan) Lempeng Pasifik ke tas jalur malihan dan membentuk Jalur Ofiolit Papua.
Peristiwa tektonik penting kedua yang melibatkan Papua adalah Orogenesa Melanesia
yang berawal dipertengahan Miosen yang diakibatkan oleh adanya tumbukan Kraton
Australia dengan Lempeng Pasifik. Hal ini mengakibatkan deformasi dan pengangkatan kuat
batuan sedimen Karbon-Miosen (CT), dan membentuk Jalur Aktif Papua. Kelompok
Batugamping New Guinea kini terletak pada Pegunungan Tengah. Jalur ini dicirikan oleh
sistem yang komplek dengan kemiringan ke arah utara, sesar naik yang mengarah ke Selatan,
lipatan kuat atau rebah dengan kemiringan sayap ke arah selatan Orogenesa Melanesia ini
diperkirakan mencapai puncaknya pada Pliosen Tengah. Dari pertengahan Miosen sampai
Plistosen, cekungan molase berkembang baik ke Utara maupun Selatan. Erosi yang kuat
dalam pembentukan pegunungan menghasilkan detritus yang diendapkan di cekungancekungan sehingga mencapai ketebalan 3.000 12.000 meter.
Tumbukan Kraton Australia dengan Lempeng Pasifik yang terus berlangsung hingga
sekarang menyebabkan deformasi batuan dalam cekungan molase tersebut.
3.3. Proses Sedimentasi (Lingkungan Pengendapan, Evolusi Basin)
Evolusi cekungan di daerah Kepala Burung, dapat dijelaskan dari adanya 2 cekungan
utama di daerah Papua, yaitu Cekungan Salawati dan Cekungna Bintuni.
a. Cekungan Salawati
Berdasarkan genesa dan evolusi pembentukan cekungan, cekungan Salawati dapat dipisahkan
menjadi 3 kelompok sikuen yang berbeda berdasarkan stratigrafi dan episode umbukan
tektoniknya,
1. Sikuen pre collision meliputi batuan pre-rifting, syn rifting, transgressive, dan drifting.
- Kelompok batuan pre-rifting berlangsung selama Silur-Devon, diendapkan didalamnya
Formasi Kemun dan Formasi Aifam.

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

Kelompok batuan syn-rift berlangsung selama Trias-Jura diikuti oleh pemusatan termal pada
tepian Utara Benua Australia, mengakibatkan Kepala Burung menjadi terpisah dan bergerak
ke arah Utara. Pada cekungan sedimenasi ini diendapkan Formasi Tipuma. Selama fase syn-

rifting, terbentuk ketidakselarasan akibat pengangkatan selama Jura.


Kelompok batuan transgersive berlangsung selama Kapur-Eosen, menghasilkan sedimentasi
Formasi Kembelangan dan Formasi Waripi. Ketidakselarasan terbentuk pada fase

transgersive pada Kapur Akhir menjelang pengendapan Formasi Waripi.


Kelompok batuan drifitng berlangsung selama Eosen-Miosen Akhir dan diendapkan Formasi

Faumai, Formasi Sirga, Formasi Klamogun, dan Formasi Kais.


2. Sikuen syn-collision berlangsung Miosen Akhir-Pliosen menghasilkan Formasi Klasafet.
3. Sikuen post-collision berlangsung selama Pliosen menghasilkan Formasi Klsaman.
b. Cekungan Bintuni
Berdasarkan stratigrafi Cekungan Bintuni, dapat dibagi evolusi cekungn Bituni dalam
beberapa tahapan yaitu :
1. Tahapan Pemisahan Gondwana dan Asia
Tahapan pemisahan Gondwana dan Asia berlangsung pada umur Paleozoikum Akhir,
dibagi menjadi 3 periode pengendapan pre-rift, syn-rift, post-rift.
a. Pre- Rift(Paleozoikum)
Batuan dasar dari daerah Kerak Benua terdiri dari sedimen pada umur SilurDevon
yang kemudian terlipat dan mengalami metamorfisme. Kegiatan sedimen ini terus
berlangsung sampai umur Karbon-Permian diendapkan Kelompok Aifam yang terdiri dari 3
formasi dari tuamuda yaitu Formasi Aimau, Aifat dan Ainin. Kelompok ini tersebar luas
pada bagian Kerak Benua, tetapi tidak terlihat dipengaruhi oleh metamorfisme melainkan
lebih terdeformasi. Pada bagian Tubuh Burung Kelompok Aifam ini setara dengan Formasi
Aiduna yang berumur Karbon Akhir-Permian. Kelompok Aifam ini dapat dikelompokan
dalam tahap Pre-riftingyakni proses pengendapan yang tejadi sebelum tahap tektonik (rifting)
pada masa Mezosoikum.
b. Syn-Rift(Mezosoikum)
Pada Triasik, di daerah kerak benua ditemukan adanya redbeds yang menandakan
sebagian area terekspos atau terangkat ke permukaaan sehingga mengalami oksidasi pada
lingkungan yang kering. Sebagian daerah yang terangkat ini mengakibatkan Cekungan
Bintuni mengalami ketidakselarasan (unconformity) antara Permian Akhir dengan Jurasik,
dengan demikian selama umur Triasik Cekungan Bintuni tidak terjadi proses sedimentasi
(Perkins & Livesey, 1993). Sementara pada beberapa bagian, terendapkan Formasi Tipuma
pada umur Triasik AwalAkhir. Periode riftingitu sendiri dimulai pada umur Jurasik,
sedangkan Formasi Tipuma berumur Triasik AwalAkhir, jadi dapat disimpulkan bahwa
endapan ini merupakan endapan pertama pada periode rifting. Rifting pada bagian utara
diperkirakan dibatasi oleh batas yang kompleks berupa Palung New Guinea, Fold Belt Papua
KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

dan Sorong Koor Suture. Sementara rifting yang terjadi pada bagian baratlaut dapat
diperkirakan dibatasi oleh Timor Trough hingga Aru Trough.
c. Post-Rift/ Passive Margin (Mesozoikum)
Pada umur Jurasik Tengah-Akhir terjadi suatu proses transgresi. Pada proses ini
diendapkan Kelompok Kambelangan Bawah yang berumur Jurasik AwalAkhir. Disamping
itu, pada umur Jurasik merupakan tahapan postrift / passive margin hal ini ditandai dengan
adanya seafloor spreadingpada umur Jurasik, hingga terpecahnya Kontinental Australia pada
bagian timurlaut menjadi lempeng-lempeng kontinen berukuran kecil (mikro kontinen). Pada
masa ini bagian timurlaut Kontinen Australia masih bertindak sebagai passive margin.
Kelompok Kambelangan Bawah yang menindih secara tidak selaras sekuen rift(syn-rift)
yakni Formasi Tipuma. Kemudian terjadi proses pengangkatan yang terjadi sepanjang zaman
Kapur Awal membentuk apa yang dikenal dengan intracretaceous uncorformity (Perkins
danLivsey,1993) sehingga tidak ada proses sedimen pada Kapur Awal pada Cekungan
Bintuni. Pada umur Kapur Akhir diperkiran terjadi proses extensional rift, sehingga
memisahkan Kepala Burung dengan wilayah Kontinental Australia. Dengan adanya aktivitas
ini Formasi Tipuma dan Kelompok Kembelangan mengalami pengangkatan sehingga
menghasilkan erosional pada sedimen yang lebih tua atau malah tidak terjadinya proses
pengendapan. Kelompok ini diendapakan hingga terjadi pengurangan suplai sedimen pada
umur Kapur Akhir sehingga memberikan jalan untuk berkembangnya batuan karbonat
(Batugamping New Guinea) pada umur EosenMiosen Akhir. Catatan Batugamping New
Guinea terdiri atas: (1) Formasi Waripi (Paleosen), (2) Formasi Faumai (Eosen-Oligosen), (3)
Formasi Sirga (Miosen Awal), (3) Formasi Kais (Miosen Tengah).
2. Tahap Tumbukan Lempeng Australia dengan Pasifik (Kenozoikum)
Pada umur Kenozoikum adalah waktu tektonik aktif di daerah Kepala Burung,
sehingga membentuk geografi, struktur geologi dan stratigrafi KB. Pada Kenozoikum Awal
(PaleosenEosen), kemungkinan bahwa Lempeng KB menjadi terlepas dari Lempeng
AustraliaNew Guinea. Pada umur Eosen-Oligosen ditandai oleh kemunculan batuan
transgresi karbonat Formasi Faumai. Sebuah ketidakselarasan muncul pada kolom stratigrafi
dari lapangan Wariagar, Bintuni yang berumur Oligosen Akhir. Ketidakselarasan menandakan
terjadinya peristiwa kompresi, yang membagi Formasi Faumai dengan Formasi di atasnya
(Formasi Sirga dan Kais). Fase kompresi ini terjadi akibat adanya tumbukan antara Lempeng
Australia dengan Lempeng Pasifik pada umur Eosen. Pada umur Eosen Akhir Lempeng
Australia bergerak ke arah utara dan menyusup sebagai subduksi terhadap Kerak Samudra
dari Lempeng Pasifik dan kemudian membentuk busur-busur kepulauan (island arc).
Kompresi ini mengakibatkan pembentukan antiklin yang berarah NW-SE dan merupakan
KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

pusat berkembangnya kelompok BNG dalam Cekungan Bintuni. Proses subduksi ini terus
berlanjut ke arah utara hingga akhirnya kerak samudera dari Lempeng Australia termakan
habis (overriding plate) oleh Lempeng Samudra Pasifik. Proses ini berlanjut terus hingga
terjadinya tumbukan (collision) pada umur Oligosen antara Lempeng Australia dan busur
kepulauan Samudera Pasifik.
3. Tahap Pembalikan Zona Subduksi (Neogen)
Pada Neogen telah terjadi pembalikan arah subduksi. Pada mulanya Lempeng
Australia menunjam ke dalam Lempeng Pasifik ke arah utara, tetapi setelah terjadi tumbukan
terjadi perubahan arah subduksi, dimana Lempeng Pasifik menunjam ke dalam Lempeng
Australia ke arah selatan yang kini dikenal sebagai Palung New Guinea. Berdasarkan
tektonik Kepala Burung, umur penunjaman Palung New Guinea ke arah selatan ini berumur
Miosen. Hal ini diperkuat oleh kemunculan pertama sedimen klastik tebal setelah
pengendapan BNG Formasi Kais, formasi silisiklastik ini dikenal dengan Formasi Klasafet.
Tahap tektonik tumbukan umur ini menghasilkan New Guinea Mobile Belt dan Lengguru
Fold Belt, sesarsesar aktif (Sesar Sorong, Terera dan sebagainya) dan cekungancekungan
forelandseperti Cekungan Salawati dan Cekungan Bintuni di wilayah Kepala Burung. Pada
Miosen AkhirPleistosen diendapkan sedimen klastik, disebut dengan Formasi Steenkool.
Rangkaian formasi ini merupakan tudung (seal) dari Formasi Kais yang merupakan
batugamping reservoir. Kemudian terjadi penurunan cekungan, sedimentasi yang cepat
dengan kedalaman yang sangat dalam sehingga baik untuk Kitchen area sebagai syarat
pembentukan hidrokarbon dari Permian AkhirAwal Jurasik yang sebelumnya telah
terendapkan pada Cekungan Bintuni.
Bab 4. Sumber Daya Geologi
Setiap daerah akan memiliki potensi sesumber maupun bencana geologi khusus sesuai
dengan kondisi geologi daerah tersebut. Dalam hal ini, lempeng kepala burung yang
mempunyai kondisi geologi sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, juga memiliki
berbagai potensi sesumber geologi yang telah dimanfaatkan maupun belum dieksplorasi.
Adanya potensi tersebut tidak terlepas dari semua proses geologi yang berperan membentuk
kondisi geologi daerah. Beberapa contoh potensi sesumber tersebut antara lain berupa sumber
daya energi, sumber daya mineral, dan sumber daya air tanah.
4.1. Sumber Daya Energi
Terdapat beberapa potensi sumber daya energi untuk kawasan kepala burung, meliputi
potensi hidrokarbon dan potensi batubara. Di antara kedua potensi energi tersebut, potensi
hidrokarbon lebih banyak dieksplorasi dan telah menjadi salah satu penghasil minyak bumi
KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

terbesar di kawasan Papua. Selain berupa minyak bumi, juga terdapat potensi gas alam
sebagai potensi hidrokarbon. Selain hidrokarbon, kawasan Papua bagian Barat juga banyak
mempunyai potensi batubara yang cukup signifikan.
4.1.1. Potensi Hidrokarbon
Potensi minyak dan gas bumi di Papua bagian Barat meliputi beberapa lokasi, seperti
yang ditunjukkan oleh peta berikut.

Gambar 4.7. peta persebaran potensi hidrokarbon di papua


Dalam hal ini, daerah kepala burung mempunyai dua cekungan besar yakni cekungan
Salawati dan Bintuni yang merupakan lokasi potensial produksi hidrokarbon. Kedua
cekungan ini memiliki tatanan geologi sedemikian rupa sehingga mampu menghasilkan
minyak bumi untuk dieksplorasi lebih lanjut. Berikut ini adalah pembahasan masing-masing
cekungan secara lebih detail.
Daerah Salawati berada di satu dari empat pulau utama di Kepulauan Raja Ampat, Irian
Jaya, Indonesia dengan luas daerah 1.623 km2. Cekungan Salawati terletak sepanjang batas
sebelah barat dari bagian kepala burung Irian Jaya dan terdesak ke sebelah utara oleh sesar
Sorong.

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

Gambar 4.1. Cekungan Salawati di Kepala Burung


Cekungan Salawati berkembang di sebelah selatan Sesar Sorong dan perkembangan
cekungannya dikontrol oleh pergerakan sesar besar mendatar ini (Hamilton, 1979). Tinggian
Ayamaru menjadi batas sebelah timur Salawati, yang memisahkannya dari cekungan Bintuni.
Tinggian tersebut merupakan lokasi dimana terdapat bagian dari paparan karbonat yang
tersingkap ke permukaan. Di sebelah selatan, cekungan Salawati dibatasi oleh geantiklin
Misool-Onin, dan di sebelah barat dibatasi oleh hasil tarikan (ekstensi) sesar Sorong.
Kemiringan lapisan batuan yang menyusun cekungan tersebut baik on-shore maupun offshore mengarah ke Barat Laut.
Sebagai salah satu daerah potensi hidrokarbon, cekungan ini memiliki suatu sistem
petroleum yang meliputi batuan induk atau sumber (source rock), reservoar, proper timing of
migration, trap, batuan penutup (seal), serta batuan overburden sebagaimana yang
ditunjukkan oleh skema di bawah ini

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

Gambar 4.2. Petroleum system Cekungan Salawati (Situmeang, 2012)


a. Source Rock
Cekungan Salawati sendiri terbagi ke dalam dua sub-cekungan utama, yaitu subcekungan Miosen dan Pliosen-Kuarter. Hingga Kala Miosen, litologi yang terbentuk ialah
batuan dengan unsur karbonat yang kaya akan organic content, berbeda dengan subcekungan Pliosen-Kuarter yang didominasi oleh batuan sedimen klastik. Sehingga batuan
dari sub-cekungan Miosen ini sangat cocok dan berpotensi sebagai batuan sumber
hidrokarbon. Sub-cekungan Miosen ini sendiri tidak hanya terdiri dari satu formasi batuan.
Walaupun Formasi Kais merupakan formasi yang lazim dianggap sebagai batuan sumber
hidrokarbon utama pada Cekungan Salawati, pada kenyataannya masih terdapat
kemungkinan bahwa formasi lainnya yang bersifat karbonatan juga berpotensi sehingga
terkadang menimbulkan masalah dalam penentuan source rock tersebut. Pada Cekungan
Salawati, eksplorasi hidrokarbon lazim dilakukan pada sikuen Tersier akhir. Cekungan
Salawati ini sendiri mulai terbentuk sejak Miosen hingga Pliosen. Sebelum waktu tersebut,
muka air laut Tersier mengalami transgresi hingga menutupi seluruh area yang menunjukkan
ketidakselarasan yang tersingkap pada akhir Paleozoikum. Dari analisa geokimia yang
dilakukan, Robertson Research (dalam Phoa & Samuel, 1986) mendapatkan hasil bahwa
batuan sumber hidrokarbon merupakan batuan yang kaya akan kandungan alga dan tumbuhan
tingkat tinggi lainnya, dimana minyak bumi kemudian dihasilkan dengan kematangan yang
KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

sedang. Pada Cekungan Salawati, terdapat lima formasi atau litologi penyusun yang
terendapkan pada lingkungan laut dangkal dan patut dipertimbangkan dalam penentuan
source rock, antara lain:
a. Batulempung Klasaman, mengandung material organik yang cukup tinggi, tetapi tekstur
batuannya belum dewasa atau matang di sebagian besar cekungan.
b. Batulempung Klasafet, anggota Formasi Klasafet ini (yang telah matang / dewasa) ditemukan
pada bagian cekungan yang dalam.
c. Batuan Karbonat dari Formasi Klamogun, kerogen yang kaya akan sulfur dari Formasi
Klamogun diperkirakan sudah cukup matang untuk dapat menghasilkan hidrokarbon.
d. Batulempung dari Formasi Sirga, batuan ini mengandung kerogen tipe I dan II pada satu
sumur, dan kerogen tipe IV pada sumur lainnya.
e. Formasi Pre-Tersier, contohnya adalah batulempung dari Formasi Tipuma yang memiliki
potensi menjadi batuan sumber hidrokarbon cekungan.
b. Reservoar
Reservoar Tersier utama pada cekungan tersebut terdiri dari bioclastic packstone dan
wackestone dari Formasi Kais yang berumur Miosen tengah hingga akhir. Litologi-litologi
tersebut terbentuk pada shelf laut dangkal dengan pertumbuhan terumbu yang berkembang
pada akhir shelf tersebut (shelf-slope break). Pertumbuhan terumbu ini kemudian membentuk
reservoar secara merata di seluruh lapangan Cekungan Salawati.
Di Cekungan Salawati, pertumbuhan terumbu tersebut dapat mencapai ketinggian 500
meter, dengan kualitas reservoar bervariasi, porositas sekitar 10-20 %, walaupun terkadang
dapat mencapai 30%, serta permeabilitas antara 10-400 mD. Persebaran terumbu tersebut
umumnya hanya secara lokal pada sebelah selatan pusat Cekungan Salawati.
c. Proper Timing of Migration
Pada Cekungan Salawati, jalur migrasi yang ada terkonsentrasi sepanjang struktur
geologi dan jauh dari daerah dengan intensitas struktur yang rendah. Hidrokarbon yang
terbentuk pertama-tama akan terkonsentrasi di sekitar struktur geologi utamanya, mengalir ke
arah atas (melawan dip, karena mencari lingkungan dengan tekanan yang lebih rendah), dan
akhirnya jalur migrasi tersebut dikontrol oleh sesar-sesar di sana. Di Cekungan Salawati,
batuan-batuan berumur Neogen dapat berperan sebagai source rock utamanya, dimana waktu
dan kedalaman saat lapisan di atasnya terbentuk telah menghambat peningkatan maturitas
source rock tersebut. Migrasi yang terjadi ialah melawan dip (ke arah atas) secara radial dan
menjauhi area pematangan source rock yang berada di Selat Sele dan bagian utara Pulau
Salawati. Gambar berikut mengilustrasikan kemungkinan pembentukan dan migrasi
hidrokarbon pada Cekungan Salawati.

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

Gambar 4.3. Kemungkinan jalur migrasi hidrokarbon pada Cekungan Salawati (Phoa dan
Samuel, 1986)
d. Trap / Perangkap Hidrokarbon
Kandungan hidrokarbon yang ditemukan di Pulau Misool dan Cekungan Salawati
terperangkap secara struktural oleh sesar normal yang terbentuk selama Miosen akhir dan
pada bagian baratdaya (di umur yang lebih muda) terbentuk sesar geser dan perlipatan
sebagai akibat gaya kompresi yang terjadi. Petroleum play yang paling efektif ialah play
yang diterapkan pada bagian selatan area dengan struktur geologi yang kompleks, dan paling
dekat dengan lokasi pematangan source rock saat ini yang berada di trough Seram Utara dan
pada lapisan-lapisan yang sealnya belum terubah akibat pengangkatan yang terjadi pada akhir
Miosen. Bentukan-bentukan regional dengan beberapa seal baik pada pematang, bagian
selatan flank, maupun pada lingkungan laut dalam merupakan struktur-struktur yang
menonjol dan akan berperan sebagai pusat migrasi dan dapat memiliki seal atau trap-trap
tersendiri di sepanjang struktur tersebut.
Struktur slump dan blok-blok tersesarkan di sepanjang pematang Misool-Onin dan di
area Seram utara menurut petroleum play ini dianggap sangat prospektif karena letaknya
yang sangat dekat dengan lokasi pematangan hidrokarbon. Perangkap-perangkap struktural
dan seal berupa sesar juga sering ditemui pada cekungan ini.
e.

Seal / Batuan Segel

Seal utama yang berperan bagi pertumbuhan terumbu ialah batulempung yang berumur
Miosen akhir hingga Recent dari Formasi Steenkool, yaitu formasi yang memiliki ketebalan
KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

paling besar di ujung timur Cekungan Bintuni dan sepanjang bagian utara Cekungan
Salawati. Ketebalan lapisan tersebut dapat mencapai 6.000 feet pada bagian terdalam
Cekungan Berau.
Selain di cekungan Salawati, Kawasan kepala burung juga mempunyai cekungan lain
yang mempunyai potensi hidrokarbon yaitu cekungan Bintuni. Cekungan Bintuni merupakan
cekungan dengan luas 30.000 km2 yang cenderung berarah utaraselatan dengan umur
Tersier Akhir yang berkembang pesat selama proses pengangkat LFB ke timur dan Blok
Kemum dari sebelah utara. Cekunganini di sebelah timur berbatasan dengan Sesar Arguni, di
depannya terdapat LFB yang terdiri dari batuan klastik berumur Mesozoik dan batugamping
berumur Tersier yang mengalami perlipatan dan tersesarkan. Di sebelah barat cekungan ini
ditandai dengan adanya tinggian struktural, yaitu Pegunungan Sekak yang meluas sampai ke
utara, di sebelah utara terdapat Dataran Tinggi Ayamaru yang memisahkan Cekungan Bintuni
dengan Cekungan Salawati yang memproduksi minyak bumi. Di sebelah selatan, Cekungan
Bintuni dibatasi oleh Sesar TareraAiduna, sesar ini paralel dengan Sesar Sorong yang
terletak di sebelah utara KB. Kedua sesar ini merupakan sesar utama di daerah Papua Barat.
Berikut ini adalah ilustrasi cekungan bintuni di kawasan Kepala Burung.

Gambar 4.4. Peta Geologi Regional Kepala Burung (KB). (Dumex, dkk 2007, BP Indonesia)
Cekungan Bintuni, tersusun oleh beberapa komponen yang membentuk sistem
petroleum meliputi batuan induk, reservoar, migration time, perangkap, dan seal

atau

penutup.
a.

Batuan Induk (source rock)

Pada Cekungan Bintuni batuan reservoar adalah batugamping pada Formasi Kais berumur
Miosen Tengah. Batuan induk ini juga dapat berasal dari batuan yang berumur lebih tua atau
KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

Pra-Tersier. Batugamping ini mengandung material organik yang mampu menghasilkan


hidrokarbon.
b. Batuan Reservoar (Reservoir Rock)
Batuan reservoar pada Cekungan Bintuni yaitu batugamping pada Formasi Kais berumur
Miosen Tengah. Batugamping ini berfungsi sebagai reservoar karena memiliki pori-pori yang
baik. Sehingga minyak yg bersumber dari batuan induk dapat terperangkap dan terakumulasi
pada batugamping ini.
c.

Migrasi

Migrasi hidrokarbon, merupakan proses perpindahan hidrokarbon dari lapisan


induk menuju ke lapisan resevoar untuk dikonsentrasikan didalamnya. Untuk arah
migrasi yaitu dari cekungan menuju ke perangkap yaitu suatu perangkap antiklin.
Migrasi tersebut melewati suatu adanya sesar normal yang terbentuk pada daerah Bintuni.
d. Perangkap (Trap)
Perangkap pada Cekungan Bintuni berupa perangkap struktur yaitu antiklin yang berumur
lebih muda dari batuan reservoir diperkirakan berumur Miosen Akhir-pliosen Awal.
e.

Batuan Penutup

Batuan penutup adalah suatu batuan sedimen yang kedap air sehingga hidrokarbon yang
ada dalam reservoar tidak dapat keluar lagi. Untuk batuan penutup pada Cekungan Bintuni
berupa serpih pada Formasi Klasafet berumur Miosen Akhir.
Selain potensi minyak bumi, di kawasan Kepala Burung ini juga menghasilkan gas
alam sebagai produk lain. Sebagai contoh adalah di Cekungan Salawati dengan batuan
sumber (Source rock) berupa batulempung Klasafet.
Anggota Formasi Klasafet ini (yang telah matang / dewasa) ditemukan pada bagian
cekungan yang dalam. Jika jenis litologi ini menghasilkan hidrokarbon cair (liquid), maka
hidrokarbon tersebut akan segera berubah menjadi wujud gas. Hal ini dikarenakan hanya gas
dan minyak dengan nilai gravitasi tinggilah yang dapat diharapkan untuk diproduksi oleh
daerah eksplorasi dengan hanya Formasi Klasafet sebagai batuan sumbernya. Sebalikanya,
minyak bumi yang dihasilkan Cekungan Salawati memiliki nilai gravitasi (GOR) yang
rendah. Gas yang dihasilkan dapat diabaikan, yang tidak mendukung Formasi Klasafet
sebagai batuan sumber hidrokarbon utama. Lapangan yang menghasilkan gas bumi (Philips,
dalam Phoa & Samuel, 1986) terletak di Pulau Salawati dan di bagian utara Cekungan
Salawati. Dalam hal ini, studi geokimia dan gas chromatograph saat ini masih menunjukkan
bahwa sumber utama gas dan minyak bumi tersebut berada di bagian selatan cekungan.
KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

4.1.1. Potensi Batubara


Adanya perubahan kondisi lingkungan pengendapan menghasilkan berbagai produk
sumber daya energi berupa batubara. Berikut ini adalah peta penyebaran potensi batubara di
kawasan Papua

Gambar 4.5. Peta distribusi potensial batubara di Papua


Seperti yang dapat dilihat dari gambar di atas, kawasan Kepala burung memiliki
sejumlah potensi batubara maupun gambut. Beberapa daerah cekungan sedimen yang
mengandung batubara antara lain terletak di Distrik Salawati, Sorong Timur, Alfat, dan
Bintuni.
Salah satu lokasi eksplorasi batubara ini berada di Selat Lenna yang berada di antara
Pulau Warir dan Pulau Salawati. Batubara di tempat tersebut relatif muda, dengan perlapisan
batupasir-konglomerat dan interkalasi Lignit. Jurus dari perlapisan batuan adalah WSW
sampai WNW, dengan kemiringan umumnya curam sampai vertikal. Ketebalan lignit tersebut
sekitar 3 meter atau lebih. Dimana kandungan ash dalam batubara sekitar 6,3 % dan sulfur
0,36 % sehingga dapat dikatakan bahwa kualitasnya relatif baik.
4.2. Sumber Daya Mineral

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

Berdasarkan kondisi geologinya, kawasan kepala burung juga memiliki potensial lain
terutama untuk sumber daya mineral maupun non mineral, antara lain berupa :
4.2.7. Zirkon
Zirkon adalah jenis bahan galian mineral non logam dikelompokkan dalam
bahan galian golongan C. Zirkon dapat dipergunakan dalam industri teknologi tinggi baik
logam maupun non logam. Pada industri logam digunakan untuk logam zirkon dan logam
paduan. Dalam industri non logam mineral zirkon dapat digunakan dalam industri keramik,
gelas, bata tahan api (refractory), pasir cetak (foundri), amplas (abrasif), kimia dan batu
permata (gemstone). Dalam bentuk tepung zirkon digunakan sebagai pelapis logam (baja dan
besi tulang seperti peralatan dapur, dll). Padaindustri gelas zirkon (zirkonia) digunakan untuk
menghasilkan

gelasberkualitas

tinggi

seperti

gelas

optik,

gelas

fiber,

gelas

tv

berwarna,monitor komputer dan lain-lain. Dalam industri keramik rekayasa dan


listrik, zirkon digunakan sebagai bahan pembuatan keramik berkekuatan tinggi, untuk
komponen mesin atau motor, pompa kimia dan nozel.
4.2.8. Bijih besi
Bijih besi adalah mineral logam yang dikelompokkan kedalam logam besi
dan campuran besi (Fe, Co, Cr dan Mn). Terbentuk dalam beberapa proses antara lain:
metasomatik kontak dengan batugamping (skarn), endapan bijih besi plaser/rombakan,
endapan bijih besi laterit/residu pelapukan dan endapan bijih besi sedimen. Bijih besi
biasanya bewarna abu-abu kehitaman kecoklatan terdiri dari mineral-mineral magnetit,
hematit, gutit, oksidabesi/ limonit, siderit dan pirit. Bijih besi dipergunakan sebagai bahan
dasar dalam peleburan bijih besi (Fe) untuk bahan baku besi beton, baja, besi plat dan
lainnya.
4.2.9. Emas
Emas adalah mineral logam yang dikelompokan kedalam logam mulia (Au, Ag dan
Pt) yang terbentuk dari magma melalui proses hidrothermal/epithermal. Emas bisa ditemukan
dalam bentuk primer dan sekunder. Dalam bentuk primer tersebar (porfiri) dan urat (vein)
pada batuan skarn, sedimen vulkanik dan urat-urat kuarsa, sedangkan bentuk sekunder
ditemukan pada endapan aluvial dan sungai. Emas sebagai logam mulia dimanfaatkan
sebagai bahan dasar dari berbagai macam perhiasan, peralatan elektronik dan mata uang.
4.2.10. Gypsum
Gypsum adalah mineral non logam yang dikelompokan kedalam Bahan
Galian Aneka Industri, biasanya terbentuk secara sekunder dalam lempung, berwarna putih
keabuan- kehijauan, padat, rapuh berserabut dan berlembar. Gypsum digunakan sebagai
KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |

bahan dasar dan penyerta pada industri pupuk, kertas, plastik, cat, peternakan, pertanian,
kosmetik, farmasi dan kimia.
Bab 5. Kesimpulan
Bab 6. Daftar Pustaka
http://www.scribd.com/doc/58369888/Geologi-Papua-ika-Nourma-Sari-k5410025
http://www.scribd.com/doc/88309494/Bab-2-Kondisi-Umum
http://geoenviron.blogspot.com/2012/10/tektonik-papua-dalam-ilmu-geologi.html
Darman, Herman dan Sidi, F. Hasan. 2000. An Outline of The Geology of Indonesia. IAGI:
Jakarta.
Paper :
Geology and Tectonic Evolution of Bird Head Region Papua, Indonesia: Implication for
Hydrocarbon Exploration in the Eastern Indonesia*
Benyamin Sapiie, W. Naryanto3, Aileron C. Adyagharini2, and Astyka Pamumpuni2
Search and Discovery Article #30260 (2012)**
Posted December 31, 2012
by Hugh L. Davies
The geology of New Guinea - the cordilleran margin of the Australian continent
Earth Sciences, University of Papua New Guinea, PO Box 414, University NCD, Papua New
Guinea. E-mail: hdavies@upng.ac.pg

( sumber : http://irwan-idrus.blogspot.com/2011/06/12.html )

KONDISI DAN POTENSI GEOLOGI DI KAWASAN KEPALA BURUNG (PAPUA BARAT) |