Anda di halaman 1dari 15

BAB II

ISI

1.

Definisi

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh
bakteri Salmonella typhi. S.typhi dapat masuk dalam tubuh manusia melalui
makanan yang tercemar. Demam tifoid adalah suatu penyakit sistemik akut yang
disebabkan oleh Salmonella enterica serotype typhi, dapat juga disebabkan oleh
Salmonella enterica serotype paratyphi A, B, atau C (demam paratifoid).6
2.

Epidemiologi

Demam tifoid masih merupakan penyakit endemik di Indonesia. Penyakit ini


termasuk penyakit menular yang tercantum dalam Undang-Undang nomor 6
Tahun 1952 tentang wabah. Kelompok penyakit menular ini merupakan penyakit
yang mudah menular dan dapat menyerang banyak orang sehingga dapat
menimbulkan wabah.4 Penyakit ini juga merupakan masalah kesehatan
masyarakat terutama di daerah yang sedang berkembang karena erat berhubungan
dengan kemiskinan, pengetahuan yang rendah, hygiene dan sanitasi jelek.
Penyebabnya adalah Salmonella typhi dengan masa inkubasi antara 3-60 hari.7
Demam tifoid pada umumnya menyerang penderita kelompok umur 5 30 tahun,
laki laki sama dengan wanita resikonya terinfeksi. Jarang pada umur dibawah 2
tahun maupun diatas 60. Kelompok penyakit menular ini merupakan
penyakit-penyakit yang mudah menular dan dapat menyerang banyak
orang, sehingga dapat menimbulkan wabah. 4
Ada dua sumber penularan Salmonella typhi yaitu pasien dengan demam
tifoid dan yang lebih sering adalah pasien karier (pasien karier adalah orang
yang sembuh dari demam tifoid dan masih terus mengekskresi Salmonella typhi
dalam tinja dan air kemih selama lebih dari satu tahun). Di daerah endemik

transmisi terjadi melalui air yang tercemar. Di daerah nonendemik penyebaran


terjadi melalui tinja.8
Di Indonesia rata-rata terdapat 900.000 kasus, 91% pada umur 3-19 tahun dengan
20.000 kematian setiap tahun. Penyakit ini ditandai dengan panas tinggi dan
persisten 7-10 hari, disertai sakit kepala, malaise, gangguan defekasi (obstipasi
atau diare). Pada daerah endemik gejala klinik sering terjadi multidrug resistant
sehingga pasien akan kelihatan lebih toksik dengan gangguan kesadaran,
hepatomegali, DIC, dan komplikasi lainnya. Infeksi akut bisa mengalami
komplikasi sebesar 10, bergantung pada kondisi klinik dan kualitas perawatan
yang ada. Komplikasi yang sering terjadi adalah perforasi usus (3 %), dimana
keadaan ini akan sangat mempengaruhi prognosis.7
2.1. Epidemiologi Demam Tifoid pada Kehamilan
Pada tahun 1930, sebanyak 64 orang wanita hamil dengan demam tifoid diteliti.
Angka kematian fetal dan maternal masing-masing mencapai 26% dan 60%.
Angka kelahiran prematur sebesar 25%.9 Angka kejadian infeksi Salmonella pada
pasien hamil adalah sama dengan populasi umum (0,2%).5
3.

Etiologi

Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella enterik serotype typhi. 5 Salmonella


typhi dengan masa inkubasi antara 3-60 hari.7
Salmonella merupakan bakteri yang bersifat motil, gram negatif tidak berkapsul,
tidak berspora, yang berasal dari famili Enterobacteriaceae. Salmonella
merupakan bakteri anaerob fakultatif yang memfermentasikan glukosa dan
mereduksi nitrat menjadi nitrit.8 Terdapat tiga kelompok utama dari Salmonellae
yaitu S.enteritidis, S.typhi, dan S.choleraesuis. Salmonella typhi memiliki antigen
H yang terletak pada flagela, O yang terletak pada badan, dan K yang terletak
pada amplop, serta komponen endotoksin yang membentuk bagian luar dari
dinding sel.8 Spesies ini kemudian dibagi menjadi serogrup dan serotype
berdasarkan antigen flagel (H), dinding sel lipopolisakarida antigen (O) dan
antigen amplop virus (Vi)

Gambar 1. Bakteri Salmonella Typhi10

Gambar 2. Daur hidup Salmonella Typhi dalam menginfeksi tubuh manusia10

Salmonella resisten dengan berbagai agen fisik, akan tetapi dapat dimatikan
dengan pemanasan hingga 54,4C selama 1 jam atau 60C 15K/menit. Salmonella
dapat hidup selama beberapa hari hingga minggu pada kotoran, makanan kering,

dan feses. Kemampuan Salmonella untuk bertahan hidup di dalam fagolisosom


dari fagositik sel oleh karena sifat dari lipopolisakarida Salmonella. Hal ini
menjelaskan tentang pengobatan yang gagal dengan antibiotik yang tidak mampu
mempenetrasi dari fagolisosom, demam berkepanjangan walaupun dengan
pengobatan yang memadai, dan kekambuhan dari penyakit setelah masa
penyembuhan.9
Rute penularan yang paling umum adalah fekal-oral. Pada usia muda, tua, hamil,
terinfeksi HIV dan pasien yang telah menjalani transplantasi berada pada risiko
tinggi untuk infeksi Salmonella. Salmonella menjadi organisme intraselular yang
bermobilisasi ke lokasi implantasi janin pada awal perjalanan penyakit sebelum
pengobatan atau selama episode bakteremia. Trofoblas ekstravili dengan
modifikasi kekebalan tubuh terletak berdampingan di dekat sel-sel desidua
maternal. Oleh karena berbagai strategi invasif dan evasif Salmonella typhi dapat
menyebabkan kerusakan yang signifikan pada ibu dan janin.5
4.

Patogenesis Demam Tifoid

Masuknya kuman Salmonella typhi (S.Typhi) dan Salmonella parathypi


(S.Parathypi) ke dalam tubuh manusia terjadi melalui mekanisme makanan yang
terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan dalam lambung, sebagian
lolos masuk ke dalam usus dan selanjutnya berkembang biak. Bila respon
imunitas humoral mukosa (IgA) usus kurang baik, maka kuman akan menembus
sel-sel epitel (terutama sel M) dan selanjutnya ke lamina propria. Di lamina
propria kuman berkembang biak dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh
makrofag. Kuman dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan
selanjutnya dibawa ke plak Peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah
bening mesenterika.4
Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang terdapat pada makrofag ini
masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakterimia pertama yang
asimptomatik) dan menyebar ke seluruh organ retikulo endothelial tubuh terutama
di hati dan limfa. Di organ ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian
berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam

sirkulasi darah lagi sehingga mengakibatkan bakterimia kedua kalinya dengan


disertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik.4
Di dalam hati, kuman masuk ke dalam kandung empedu, berkembang biak, dan
bersama cairan empedu diekskresikan secara intermiten ke lumen usus. Sebagian
kuman dikeluarkan melalui feses dan sebagian masuk lagi ke dalam sirkulasi
setelah menembus usus. Proses yang sama terulang kembali, berhubung makrofag
telah teraktivasi dan hiperaktif maka saat fagositosis kuman Salmonella terjadi
pelepasan beberapa mediator inflamasi yang selanjutnya akan menimbulkan
gejala reaksi inflamasi sistemik seperti demam, malaise, mialgia, sakit kepala,
sakit perut, instabilitas vaskuler, gangguan mental, dan koagulasi.4
Di dalam plak Peyeri makrofag hiperaktif menimbulkan reaksi hiperplasia
jaringan. Perdarahan saluran cerna dapat terjadi akibat erosi pembuluh darah
sekitar plak Peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hiperplasia akibat
akumulasi sel-sel mononuklear di dinding usus. Proses patologi jaringan limfoid
ini dapat berkembang hingga ke lapisan otot, serosa usus, dan dapat menghasilkan
perforasi. Endotoksin dapat menempel di reseptor sel endotel kapiler dengan
akibat timbulnya komplikasi seperti gangguan neuropsikiatrik, kardiovaskular,
pernafasan, dan gangguan organ lainnya.4
Endotoksin S.typhi berperan dalam proses inflamasi lokal ada jaringan tempat
kuman tersebut berkembang biak sehingga merangsang sintesis dan pelepasan zat
pirogen dan leukosit pada jaringan yang meradang, sehingga terjadi demam. 2
Sekitar dua per tiga strain Salmonella memproduksi enterotoksin secara
imunologik dan berhubungan dengan toksin kolera, hal ini dapat menjelaskan
gejala diare yang sering muncul.9

Gambar
3.

Patofisiologi Demam Tifoid

Gambar 4. Patofisiologi Demam Tifoid


Penularan Salmonella typhi dapat terjadi melalui makanan atau minuman yang
terkontaminasi dan juga dapat melalui transmisi secara transplasental dari ibu

hamil ke bayinya. Transmisi vertikal dari Salmonella terjadi melalui penyebaran


transplasenta atau karena bakteremia selama persalinan atau karena kontaminasi
tinja pada jalan lahir. Kejadian kematian janin dalam tifoid yang tidak diobati
dapat setinggi 80%. Salmonella typhi telah dikaitkan dengan abortus pada hewan
seperti domba, sapi dan kuda.5
Berdasarkan penelitian Hicks dan French, Salmonella typhi dapat melewati
plasenta dan menyebabkan keguguran (65-80%), kematian saat lahir dan
persalinan prematur. Transmisi transplasental biasanya bermanifestasi sebagai
abortus spontan trimester kedua tanpa ketuban pecah dini. Neonatus yang lahir
dengan ibu yang mengalami Salmonellosis lebih rentan terhadap komplikasi berat
seperti septikemia dan meningitis.5
Pengaruh infeksi tifoid pada kehamilan yaitu adanya panas yang lama dan tinggi
di samping keadaan umum yang jelek sehingga menyebabkan keguguran,
persalinan prematur, dan kematian janin intrauterine terutama jika terjadi infeksi
pada trimester pertama dan kedua. Morbiditas dan mortalitas bisa terjadi lebih
tinggi pada kehamilan. Kehamilan sendiri tidak mempengaruhi jalannya
penyakit.2
5.

Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi demam tifoid meliputi6:


6.

Faktor kebersihan makanan


Faktor kebersihan lingkungan
Imunitas tubuh buruk
Manifestasi Klinis

Gejala klinis pada umumnya2:


1
2
3
-

Panas badan tinggi


Mual, muntah, nafsu makan kurang.
Terutama gangguan gastrointestinal:
Diare ringan sampai berat
Bahaya yang paling besar adalah kemungkinan perforasi usus dengan segala
manifestasinya.

10

Gejala khususnya : perut sakit, tinja mungkin bercampur darah


Tanda dan Gejala6
-

Demam >38C
Sakit kepala
Nyeri perut
Nafsu makan berkurang
Diare atau konstipasi
Coated tongue
Nyeri otot

Masa tunas demam tifoid berlangsung antara 10-14 hari. Gejala-gejala klinis yang
timbul sangat bervariasi dari ringan sampai dengan berat, dari asimptomatik
hingga gambaran penyakit yang khas dengan komplikasi hingga kematian.4
Secara umum gejala klinis penyakit ini pada minggu pertama ditemukan keluhan
dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya, yaitu demam,
nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare,
perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya
didapatkan suhu badan meningkat. Sifat demam adalah meningkat perlahan-lahan
dan terutama pada sore hari hingga malam hari.
Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardia
relatif (bradikardi relative adalah peningkatan suhu 1C tidak diikuti peningkatan
denyut nadi 8 kali permenit), lidah yang berselaput (kotor ditengah, tepi dan ujung
merah

serta

tremor),

hepatomegali,

meteorismus, gangguan mental berupa somnolen,

stupor,

splenomegali,
koma,

delirium,

atau psikosis. Roseolae jarang ditemukan pada orang Indonesia.4


7.

Diagnosis

Penegakan diagnosis sedini mungkin sangat bermanfaat agar bisa diberikan terapi
yang tepat dan meminimalkan komplikasi. Pengetahuan gambaran klinis penyakit
ini sangat penting untuk membantu mendeteksi secara dini. Walaupun pada kasus
tertentu dibutuhkan pemeriksaan tambahan untuk membantu menegakkan
diagnosis.4

11

Diagnosis tifoid karier dapat ditegakkan berdasarkan ditemukannya kuman


S.typhi pada biakan feses ataupun urin pada seseorang tanpa tanda klinis infeksi
atau pada seseorang yang telah satu tahun paska demam tifoid. Saat ini, kultur
darah langsung yang diikuti dengan identifikasi mikrobiologi adalah standar emas
untuk mendiagnosa demam tifoid.10
Diagnosis berdasarkan kultur. Kultur darah positif pada 40-60% pasien pada awal
perjalanan penyakit. Kultur darah berulang direkomendasikan. Metode baru pada
diagnosis cepat yaitu melalui deteksi secara langsung dari S. typhi antigen spesifik
pada serum atau urin melalui metode PCR (Polymerase Chain Reaction). Tes
serologi memiliki nilai klinis yang kecil.9
8.

Pemeriksaan Penunjang

8.1.

Pemeriksaan darah perifer

Walaupun pada pemeriksaan darah perifer lengkap dapat ditemukan leukopenia,


dapat pula terjadi kadar leukosit normal atau leukositosis. Leukositosis dapat
terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder. Selain itu pula dapat ditemukan
anemia ringan dan trombositopenia pemeriksaan hitung jenis leukosit dapat terjadi
aneosinofilia maupun limfepenia. Laju endap darah pada demam tifoid dapat
meningkat. Pemeriksaan SGOT dan SGPT seringkali meningkat, tetapi akan
kembali menjadi normal setelah sembuh. Kenaikan SGOT dan SGPT tidak
memerlukan penanganan khusus.4
8.2.

Uji Widal

Uji widal dilakukan untuk deteksi antibodi terhadap kuman S.typhi.


Pada uji widal terjadi suatu reaksi aglutinasi antara antigen kuman S.typhi
dengan antibodi yang disebut aglutinin.Antigen yang digunakan pada uji widal
adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium.
Maksud

uji

widal

adalah

menentukan

adanya

aglutinin

dalam

serum penderita tersangka demam tifoid. Akibat infeksi oleh S.typhi,


pasien membuat antibodi( aglutinin ). Dari ketiga hanya agglutinin O dan H
yang digunakan untuk diagnosis demam tifoid. Makin tinggi titernya makin besar

12

kemungkinan menderita demam tifoid. Pembentukan agglutinin mulai terjadi pada


akhir minggu pertama demam, kemudian meningkat secara cepat dan mencapai
puncak pada minggu ke empat dan tetap tinggi selama beberapa minggu. Pada
fase akut mula-mula timbul aglutinin O, kemudian diikuti dengan
aglutinin H. Pada orang yang telah sembuh aglutinin O masih tetap
dijumpai setelah 4-6 bulan, sedangkan aglutinin H menetap lebih lama antara
9-12 bulan. Oleh karena itu uji widal bukanlah pemeriksaan untuk menentukan
kesembuhan penyakit.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi uji widal, yaitu:
-

Pengobatan dini dengan antibiotik, pemberian kortikosteroid


Gangguan pembentukan antibodi
Saat pengambilan darah
Daerah endemik atau non-endemik
Riwayat vaksinasi
Reaksi anamnestik, yaitu peningkatan titer agglutinin pada infeksi bukan

demam tifoid akibat infeksi demam tifoid masa lalu atau vaksinasi.
Faktor teknik akibat aglutinasi silang, strain Salmonella yang digunakan
untuk suspensi antigen4

Saat ini belum ada kesamaan pendapat mengenai titer aglutinin yang bermakna
diagnostik untuk demam tifoid. Batas titer yang sering dipakai hanya kesepakatan
saja, hanya berlaku setempat dan batas ini bahkan dapat berbeda di berbagai
laboratorium setempat.4 Tes widal yang mengukur titer antibody dari Gland Hantigen dari S.typhi, tidak sensitif maupun spesifik.9
8.3.

Kultur

Diagnosis pasti demam tifoid dapat ditegakkan bila ditemukan bakteri S. typhi
dalam biakan dari darah, urine, feses, sumsum tulang, cairan duodenum atau dari
rose spots. Berkaitan dengan patogenesis penyakit, maka bakteri akan lebih
mudah ditemukan dalam darah dan sumsum tulang pada awal penyakit, sedangkan
pada stadium berikutnya di dalam urine dan feses.4
Hasil biakan darah yang positif memastikan demam tifoid, akan tetapi
hasil negatif tidak menyingkirkan demam tifoid, karena mungkin disebabkan
beberapa hal sebagai berikut4:

13

Telah mendapat terapi antibiotik. Bila pasien sebelum dilakukan kultur


darah telah mendapat antibiotik, pertumbuhan kuman dalam media biakan

terhambat dan hasil mungkin negatif.


Volume darah yang kurang (diperlukan kurang lebih 5 cc darah), bila
darah yang dibiak terlalu sedikit hasil biakan bisa negatif. Darah yang
diambil sebaiknya secara bedside langsung dimasukkan ke dalam media

cair empedu (oxgall) untuk pertumbuhan kuman.


Riwayat vaksinasi. Vaksinasi di masa lampau menimbulkan antibodi
dalam darah pasien. Antibodi agglutinin ini dapat menekan bakterimia
hingga biakan darah dapat negatif. Saat pengambilan darah setelah minggu
pertama, dimana pada saat itu agglutinin semakin meningkat.4

Kultur feses dan urin dapat positif setelah minggu pertama. Pada akhir perjalanan
penyakit, saat kultur darah steril, Salmonella dapat ditemukan pada sumsum
tulang. Kultur sumsum tulang merupakan tes yang paling sensitif (positif pada 8590%). Salmonella dapat dikultur dari cairan amnion, swab serviks, dan plasenta
pada kasus kehamilan prematur karena demam enterik.9
9.

Tatalaksana

Tatalaksana dari demam tifoid pada kehamilan yaitu:


-

Masuk rumah sakit.


Tirah baring dan perawatan profesional bertujuan untuk mencegah
komplikasi. Tirah baring dengan perawatan sepenuhnya di tempat seperti
makan, minum, mandi, buang air kecil, dan buang air besar akan
membantu dan mempercepat masa penyembuhan. Dalam perawatan perlu
sekali dijaga kebersihan tmpat tidur, pakaian, dan perlengkapan yang
dipakai. Posisi pasien perlu diawasi untuk mencegah dekubitus dan
pneumonia ortostatik serta higiene perorangan tetap perlu diperhatikan dan

dijaga.
Diet makanan encer sehingga dapat mengistirahatkan kerja usus.
Diet merupakan hal yang cukup penting dalam proses penyembuhan
penyakit demam tifoid, karena makanan yang kurang menurunkan keadaan
umum dan gizi penderita akan semakin turun dan proses penyembuhan

14

akan menjadi lama. Penderita demam tifoid diberi diet bubur saring,
kemudian ditingkatkan menjadi bubur kasar dan akhirnya diberikan nasi,
yang perubahan diet tersebut disesuaikan dengan tingkat kesembuhan
pasien. Pemberian bubur saring tersebut ditujukan untuk menghindari
komplikasi perdarahan saluran cerna atau perforasi usus. Hal ini
disebabkan ada pendapat bahwa usus harus diistirahatkan. Beberapa
peneliti menunjukkan bahwa pemberian makan padat dini yaitu nasi
dengan lauk pauk rendah selulosa (menghindari sementara sayuran yang
-

berserat) dapat diberikan dengan aman pada pasien demam tifoid.


Diberikan rehidrasi, sebagai pengganti cairan yang hilang atau kurang.2
Berikan parasetamol 3x500 mg per oral bila demam.6
Antibiotik yaitu:
Berikan sefotaksim 200 mg/kgBB IV per 24 jam dibagi menjadi 3-4
dosis, atau seftriakson 100 mg/kgBB IV per 24 jam (maksimal 4 g/24 jam)
dibagi menjadi 1-2 dosis.6

Terapi antibiotik harus diberikan kepada semua pasien dengan kecurigaan demam
enterik. Pemberian antibiotik yang segera sangat penting selama kehamilan.
Resistensi yang tinggi pada umumnya terhadap banyak jenis antibiotik seperti
ampicillin, chlorampenicol, dan TMP-SMX . Strain yang resisten biasanya lebih
rentan terhadap sefalosporin generasi ketiga. Sefotaksim 200 mg/kg/24 jam (dosis
maksimal 12gram/24 jam) diberikan secara intravena, dibagi menjadi tiga atau
empat dosis, dan Seftriakson (100 mg/kg/24jam, dosis maksimal 4gr/24 jam)
diberikan secara intravena dalam satu atau dua dosis, keduanya efektif untuk
mengobati demam enterik. Seftirakson digunakan pda kehamilan, walaupun
keamanannya belum dibuktikan. Fluoroquinolon efektif namun saat ini tidak
diperbolehkan pada anak-anak dan wanita hamil, walaupun beberapa tulisan
merekomendasikan ciprofloxacin sebagai obat pilihan bagi demam tifoid pada
kehamilan yang resisten terhadap terapi ampicillin.9
Ciprofloxacin yang diberikan secara oral menghasilkan kesembuhan yang lebih
cepat pada demam tifoid dibandingkan dengan Seftriakson yang diberikan secara
parenteral. Pemberian dexametason, 3mg/kg untuk inisial dosis diikuti 1 mg/kg

15

tiap 6 jam selama 48 jam, menunjukkan peningkatan angka kelangsungan hidup


pada pasien dengan syok. Terapi suportif diperlukan yaitu koreksi cairan dan
ketidakseimbangan elektrolit.9
Poonia dkk. menyatakan bahwa ampisilin atau amoksisilin dianggap sebagai obat
lini pertama pada tifoid selama kehamilan. Seftriakson adalah obat pilihan pada
resistensi asam nalidiksat Salmonella typhi, juga yang resisten terhadap
ciprofloxacin. Vaksin tifoid (baik polisakarida dan vaksin hidup) termasuk dalam
obat kategori C selama kehamilan.5
Kloramfenikol dan tiamfenikol menghambat sintesis protein bakteri dan memiliki
aktivitas bakteriostatik. Kloramfenikol relatif toksik dan dapat menyebabkan
agranulositosis yang berat. Kloramfenikol dapat melewati dinding plasenta dan
dapat mencapat konsentrasi terapeutik pada janin.11
Kloramfenikol tidak dianjurkan pada trimester ke-3 kehamilan karena
dikhawatirkan dapat terjadi partus premature, kematian fetus intrauterine, dan
grey syndrome pada neonatus. Tiamfenikol tidak dianjurkan digunakan pada
trimester pertama kehamilan karena kemungkinan efek teratogenik terhadap fetus
pada manusia belum dapat disingkirkan. Pada kehamilan lebih lanjut tiamfenikol
dapat digunakan.4 Dosis kloramfenikol yang berlebihan pada neonatus dapat
menyebabkan gray baby syndrome, anoreksia, takipnea, pucat, sianosis, dan
kolaps

vascular.

Hepar

yang

belum

matang,

kurangnya

enzim

glukoronuiltransferase yang adekuat, tidak dapat memetabolisme kloramfenikol


dengan cukup cepat, dan toksik terakumulasi pada darah.12
Demikian juga obat golongan fluorokuinolon maupun kotrimoksazol tidak boleh
digunakan untuk mengobati demam tifoid.4 Penggunaan fluorokuinolon pada
wanita hamil diduga tidak aman karena kerja obat menghambat DNA kuman
sehingga kemungkinan besar dapat terjadi cacat janin atau malformasi dalam
pembentukan organ janin.13
10. Pencegahan

16

Sanitasi yang baik, mencuci tangan, mengontrol produksi makanan dan eradikasi
dari S.typhi diperlukan. Beberapa vaksin (parenteral dan oral) untuk melawan
S.typhi tersedia. Vaksin parenteral heat-phenol-inactivated memberikan proteksi
yang terbatas (51-70%) dan berhubungan dengan tingginya tingkat efek samping
dari vaksin tersebut seperti demam, sakit kepala, dan reaksi lokal. Vaksin yang
paling efektif yang saat ini digunakan adalah vaksin oral berupa vaksin hidup
yang dilemahkan Ty21a strain I dari Salmonella typhi. Keberhasilan vaksin
tersebut berkisar antara 67-82%, dan tidak ada efek samping signifikan yang
dilaporkan. Vaksin tersebut tidak direkomendasikan untuk digunakan pada pasien
dengan immunocompromised, dan tidak direkomendasikan pada anak dibawah 6
tahun. Pada fetus tidak terbangun respon imun dengan vaksin tersebut.9
11.

Komplikasi

Pada daerah endemik gejala klinik sering terjadi multidrug resistant sehingga
pasien akan terlihat lebih toksik dengan gangguan kesadaran, hepatomegali, DIC,
dan komplikasi lainnya. Infeksi akut bisa mengalami komplikasi sebesar 10,
bergantung pada kondisi klinik dan kualitas perawatan yang ada. Komplikasi yang
sering terjadi adalah perforasi usus (3 %), dimana keadaan ini akan sangat
mempengaruhi prognosis.1

12.

Prognosis

Dalam penelitiannya, Carles dkk menyatakan bahwa infeksi yang terjadi pada
awal masa kehamilan menghasilkan prognosis yang lebih buruk bagi janin,
berdasarkan penelitian terhadap usia gestasi pada saat terjadi infeksi.14

17