Anda di halaman 1dari 5

PAJAK SARANG BURUNG WALET

A. PENGERTIAN
Pajak sarang burung walet adalah pajak atas kegiatan pengambilan dan atau
pengusahaan sarang burung walet. Sedangkan sarang burung walet sendiri adalah
satwa yang termasuk marga collocalia, yaitu collocalia fuchliap, collocalia maxina,
collocalia esculanta, dan collocalia linchi. Pajak sarang burung walet merupakan
jenisa pajak kabupaten/kota yang baru diterapkan berdasar UU No.28 tahun 2009.
Sebelum berlakunya UU No.28 tahun 2009, pajak sarang burung walet dengan
berbagai macam nama pada dasarnya telah banyak ditetapkan oleh pemerintah
kabupaten atau kota di Indonesia. Pungutan atas budidaya burung walet dilakukan
oleh berbagai kabupaten/kota dengan nama yang berbeda, ada yang dengan tegas
menetapkan sebagai pajak daerah, tapi ada pula yang menyatakan sebagai retribusi
daerah.
Pengenaan pajak sarang burung walet tidak mutlak ada pada seludur daerah
kabuaten/kota yang ada di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan kewenangna yang
diberikan kepada pemerintah kabupaten/kota untuk mengenakan atau tidak
mengenakan suatu jenis pajak kabupaten/kota. Karena itu, untuk dapat dipungut pada
suatu daerah kabupaten/kota maka pemerintah daerah harus terlebih dahulu
menerbitkan peraturan daerah tentang pajak sarang burung walet yang akan dijadikan
landasan hukum operasional dalam teknis pelaksanaan pengenaan dan pemungutan
pajak sarang burung walet di daerah kabupaten/kota yang bersangkutan.
B. OBJEK PAJAK SARANG BURUNG WALET
1. Objek pajak
Objek pajak sarang burung walet adalah pengambilan dan atau pengusahaan
sarang burung walet. Yang dimaksud dengan burung walet adalah satwa yang
termasuk marga collocalia, yaitu collocalia fuchliap, collocalia maxina, collocalia
esculanta, dan collocalia linchi.
Burung walet termasuk burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan
suka meluncur. Sarang burung walet yang tersusun oleh air luir burung walet
mempunyai daya jual yang tinggi karena sarang tersebut dapat dimakan. Sarang
tersebut biasanya dimasak untuk campuran obat tradisional atau makanan mewah.

2. Bukan objek pajak sarang burung wallet


a. Pengambilan sarang burung walet yang telah dikenakan penerimaan
Negara Bukan pajak (PNBP)
b. Kegiatan pengambilan dan atau pengusahaan sarang burung walet lainnya
yang ditetapkan dengan peraturan daerah.
C. SUBJEK PAJAK DAN WAJIB PAJAK SARANG BURUNG WALET
Subjek pajak sarang burung walet adalah orang pribadi atau badan yang
melakukan pengambilan dan atau mengusahakan sarang burung walet. Sementara itu,
wajib pajak sarang burung walet adalah orang pribadi atau badan yang melakukan
pengambilan dan atau mengusahakan sarang burung walet. Hal ini berarti subjek
pajak dan wajib pajak sarang burung walet berada pada diri orang yang sama.
Dalam menjalankan kewajiban pajaknya, wajib pajak dapat diwakili oleh
pihak tertentu yang diperkenankan oleh undang-undang dan peraturan daerah tentang
pajak sarang burung walet. Wakil wajib pajak bertanggung jawab secara pribadi dan
atau secara tanggung renteng atas pembayaran pajak terutang. Selain itu,wajib pajak
dapat menunjuk seorang kuasa dengn surat kuasa khusus untuk menjalankan hak dan
memenuhi kewajiban perpajaknnya.
D. DASAR PENGENAAN, TARIF, dan CARA PERHITUNGAN PAJAK SARANG
BURUNG WALET
1. Dasar pengenaan pajak sarang burung walet
Dasar pengenaan pajak sarang burung walet adalah nilai jual sarang burung
walet. Nilai jual sarang burung walet dihitung berdasarkan perkalian antara harga
pasaran umum sarang burung walet yang berlaku di daerah kabupaten/kota yang
bersangkutan dengan volume sarang burung walet.
2. Tarif pajak sarang burung walet
Tarif pajak sarang burung walet ditetapkan paling tinggi sebesar 10% dan
ditetapkan dengan peraturan daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. Hal ini
dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan kepada pemerintah kabupaten/kots
untuk menetapkan tarif pajak yang dipandang sesuai dengan kondisi masingmasing daerah kabupaten/kota. Dengan demikian, etiap daerah kabupaten/kota
diberi kewenangan untuk menetapkan besarnya tarif pajak yang mungkin berbeda
dengan kota/kabupaten lainnya, asal tidak lebih dari 10%.
3. Perhitungan pajak sarang burung walet
Besaran pokok pajak sarang burung walet yang terutang dihitung dengan cara
mengalikan tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak. Secara umum perhitungan
pajak sarang burung walet adalah sesuai dengan rumu berikut:

Pajak terutang = tarif pajak x dasar pengenaan pajak


= tarif pajak x nilai jual sarang burung walet
E. SAAT TERUTANG PAJAK, MASA PAJAK, DAN WILAYAH PEMUNGUTAN
PAJAK
Saat terutang pajak sarang burung walet adalah pada saat pengambilan sarang
burung walet,

atau diterbitkan SKPD. Bagi wajib pajak yang pemungutannya

menggunakan sistem self assement, saat terutang pajak terhitung pada saat
pengambilan sarang burung walet. Bagi wajib pajak yang pemungutan pajaknnya
menggunakan sistem ketetapan (official assesment), saat terutng pajak terhitung pada
saat SKPD diterbitkan
Masa pajak merupakan jangka waktu yang lamanya sama dengan satu ulan
takwim atau jangka waktu lain yang ditetapkan dengan keputusan bupati/walikota.
Pajak sarang burung walet yang terutang dipungut diwilayah kabupaten atau
kota tempat pengambilan dan atau pengusahaan sarang burung walet berada. Hal ini
terkait dengan kewenangan pemerintah kabupaten/kota yang hanya terbatas atas
pengambilan atau pengusahaan sarang burung walet yang berlokasi dan terdaftar
dalam lingkup wilayah administrasinya.
F. CARA PEMUNGUTAN, PENETAPAN, DAN KETETAPAN PAJAK
1. Cara pemungutan
Pemungutan pajak sarang burung walet tidak dapat diborongkan atau
diserahkan kepada pihak ketiga. Namun dimungkinkan adanya kerjasama dengan
pihak ketiga dalam proses pemungutan pajak, antara lain pencetakan formulir
perpajakan, pengiriman sura-surat kepada wajib pajak, atau penghimpunan data
objek dan subjek pajak. Kegiatan yang idak dapat diserahkan kepada pihak ketga
adalah perhitungan besarnya pajak terutang, pengawasan penyetoran pajak, dan
penagihan pajak.
2. Penetapan pajak
Setiap wajib pajak yang membayar sendiri pajaknya wajib menghitung,
memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri pajak sarang burung walet
yang terutang dengan menggunaka STPD. Ketentuan ini menunjukkan pada
dasarnya merupakan sistem self assesement.
Walaupun demikian, dalam pemungutan pajak sarang burung walet
dimungkinkan penetapan pajak ridak diserahkan sepenuhnya kepada wajib pajak,
tetapi ditetapkan oleh kepala daerah. Terhadap wajib pajak yang pajaknya

ditetapkan oleh bupayi/walikota, jumlah pajak trutang ditetapkan dengan


menerbitkan SKPD. Wajib pajak tetap memasukkan SPTPD, tetapi tanpa
perhitungan pajak. Umumnya SPTPD dimasukkan bersamaan dengan pendataan
yang dilakukan oleh petugas Dinas Pendapatan Daerah kabupaten/kota atau
petugas lain yang ditunjuk.
G. PEMBAYARAN DAN PENAGIHAN PAJAK SARANG BURUNG WALET
1. Pembayaran pajak sarang burung walet
Pajak sarang burung walet terutang dilunasi dalam jangka waktu yang
ditentukan dalam peraturan daerah, misalnya selambat-lambatnya pada tanggal 15
bulan berukutnya dari masa pajak yang setelah berakhirnya masa pajak. Apabila
kepada wajib pajak diterbitkan SKPDKB, SKPDKBT, SKPDN, Surat Keputusan
Pembetulan, Surat keputusan Keberatan, DAN Putusan Banding yang
menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah, pajak yang dimaksud
harus dilunasi paling lambat 1 bulan sejak tanggal diterbitkan.
Pembayaran pajak dilakukan ke kas daerah, bank, atau tempat lain yang
ditunjuk oleh walikota/bupati sesuai waktu yang ditentukan SPTPD, SKPD,
SKPDKB, SKPDKBT, dan SPTD. Pebayaran pajak dilakukan dengan
menggunakan SSPT (Surat Setoran Pajak). Pembayaran harus dilakukan sekaligus
lunas
2. Penagihan pajak sarang burung walet
Apabila pajak yang terutang tidak dilunasi setelaj jatuh tempo pembayaran
maka bupati/walikota atau pejabat yang ditunjuk akan melakukan penagihan
pajak. Penagihan pajak dilakukan terhadap pajak terutang dalam SKPD,
SKPDKB, SKPDKBT, STPD, Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan
Keberatan, dan Putusan Banding yang menyebabkan jumlah pajak yang harus
dibayar bertambah. Penagihan pajak dilakukan terlebih dahulu memberikan surat
teguran atau surat peringatan atau surat lain yag sejenis.
Apabila jumlah pajak yang terutang yang masih harus dibayar tidak
dilunasi dalam jangka waktu yang ditentukan dalam surat teguran akan ditagi
dengan Surat Paksa. Tindakan penagihan yang dilakkan dengan surat paksa dapat
dilanjutkan

dengan

tindakan

penyitaan,

pelelangan,

pencegahan,

dan

penyanderaan apabila wajib pajak tetap tidak mau melunasi utang pajak
sebagaimana mestinya.