Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan gigi dan mulut adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
kesehatan tubuh secara umum yang merupakan faktor penting kelangsungan
hidup manusia. Penyakit mulut dapat menyebabkan hilangnya gigi anak yang
berpengaruh terhadap pemasukan nutrisi yang secara konsekuensi berpengaruh
juga pada tumbuh kembang anak. Penyakit mulut yang paling banyak terjadi pada
anak adalah karies gigi yang kemudian telah dilaporkan diderita oleh 60-90%
anak-anak di dunia (Petersen, 2003). Anak dengan kebersihan mulut yang buruk
memiliki kemungkinan keterbatasan aktivitas sehari-hari 12 kali lebih besar
daripada yang memiliki kebersihan mulut yang baik. Lebih dari 50 juta jam
sekolah hilang setiap tahunnya karena masalah kesehatan mulut yang
mempengaruhi aktivitas anak di sekolah dan kesuksesan masa depannya (Gift
dkk., 1992 sit. Kwan dkk., 2005).
Banyak masalah gigi dan mulut yang dapat dicegah pada masa awal
kemunculannya. Namun di beberapa negara, anak-anak, orang tua, dan guru
memiliki pengetahuan terbatas tentang penyebab dan pencegahan penyakit gigi
dan mulut (Al-Tamimi dan Petersen, 1998; Petersen dan Zhou, 1998; Rajab dkk.,
2002; Petersen dkk., 1995 sit. Kwan dkk., 2005). Hal tersebut dapat diperparah
oleh pasta gigi berfluoride yang kurang terjangkau, fasilitas pelayanan kesehatan
yang sulit diakses, dan tingkat konsumsi makanan manis dan minuman
berkarbonasi pada anak dan remaja (Currie dkk., 2000 sit. Kwan dkk., 2005).
1

Sekolah memiliki pengaruh yang kuat terhadap perkembangan anak


mengingat banyaknya penyebab penyakit gigi dan mulut yang timbul pada usia
sekolah (Currie dkk., 2000; Center for Disease Control and Prevention, 1994;
Carino dkk., sit. Kwan dkk., 2005). Kebutuhan promosi kesehatan oral di sekolah
menjadi nyata dan dapat terintegrasi dengan promosi kesehatan umum,
kurikulum, dan aktivitas sekolah (Kwan dkk., 2005).
Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut adalah suatu upaya atau kegiatan
untuk menyampaikan pesan mengenai kesehatan gigi kepada masyarakat,
kelompok atau individu dengan harapan dapat memperoleh pengetahuan
kesehatan gigi yang lebih baik serta dapat mempengaruhi perubahan perilaku
mereka (Notoatmodjo, 1993 sit. Hadnyanawati, 2007). Pada tahun 1995 World
Health Organization (WHO) merilis program Global School Health Initiative
yang dirancang untuk meningkatkan kesehatan murid-murid sekolah, tenaga kerja
di sekolah, keluarga, dan anggota lainnya melalui sekolah (Jurgensen dan
Petersen, 2013). Pendidikan kesehatan gigi dan mulut kepada anak sekolah harus
diberikan secara berulang-ulang dan menarik, sehingga dibutuhkan kerjasama
yang baik antara siswa, guru, dan orang tua (Riyanti dan Saptarini, 2009).
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah selain dilaksanakan
melalui kegiatan pokok kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas juga
diselenggarakan secara terpadu dengan kegiatan pokok UKS dalam bentuk
program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang juga dilaksanakan oleh
swasta. Program UKGS sudah berjalan sejak tahun 1951, namun status kesehatan

gigi pada anak usia 12 tahun masih belum memuaskan (Kementerian Kesehatan
RI, 2012).
Kejadian karies gigi di Indonesia dilaporkan dalam hasil Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) Nasional tahun 2013 yang menyatakan prevalensi nasional
masalah gigi dan mulut adalah 25,9 % dan skor DMF-T mencapai 4,6 yang berarti
kerusakan gigi penduduk Indonesia 460 buah gigi per 100 orang. Provinsi
Yogyakarta merupakan salah satu provinsi yang mengalami peningkatan masalah
gigi dan mulut tahun 2013 dibanding tahun 2007 yaitu 23,6% menjadi 32.1%
(Kementerian Kesehatan RI, 2014). Proporsi penduduk kelompok umur 5-9 tahun
yang mengalami permasalahan gigi dan mulut dalam 12 bulan terakhir adalah
sebesar 39.6% dan 28.2% pada usia 10-14 tahun (Riskesdas, 2013). Presentase
murid Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah yang mendapatkan pemeriksaan gigi
dan mulut di Kabupaten Sleman, Yogyakarta menurun pada tahun 2012 dibanding
tahun 2007 yaitu 97,36% menjadi 55,22% (Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman,
2013). Oleh karena itu, perlu dilakukan program UKGS di sekolah dasar
khususnya di Kabupaten Sleman, Yogyakarta untuk meningkatkan kesehatan gigi
dan mulut siswa sekolah dasar. Kegiatan UKGS dilaksanakan oleh mahasiswa
kepaniteraan Ilmu Kesehatan Gigi Pencegahan dan Ilmu kedokteran Gigi
Masyarakat Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada angkatan 75 di
SD Negeri Mustokorejo yang berlokasi di Kelurahan Maguwoharjo, Kecamatan
Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta pada seluruh siswa kelas I hingga VI.
Kegiatan UKGS ini diharapkan dapat menurunkan angka karies yang terjadi pada
usia dini.

B. Pengertian UKGS
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2012) dalam buku
Pedoman UKGS, Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) adalah upaya kesehatan
masyarakat yang ditujukan untuk memelihara, meningkatkan kesehatan gigi dan
mulut seluruh peserta didik di sekolah binaan yang ditunjang dengan upaya
kesehatan perorangan berupa upaya kuratif bagi individu (peserta didik) yang
memerlukan perawatan kesehatan gigi dan mulut.
C. Kegiatan UKGS
Menurut Kementerian Kesehatan RI (2012), kegiatan atau ruang lingkup
program UKGS sesuai dengan Tiga Program Pokok Usaha Kesehatan Sekolah
(TRIAS UKS) yang meliputi: pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan dan
pembinaan lingkungan kehidupan sekolah sehat. Kegiatan UKGS adalah seperti
berikut:
1. Penyelenggaraan Pendidikan kesehatan gigi dan mulut yang meliputi:
a. Pemberian pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut
b. Latihan atau demonstrasi cara memelihara kebersihan dan kesehatan gigi
dan mulut.
c. Penanaman kebiasaan pola hidup sehat dan bersih agar dapat
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Penyelenggaraan Pelayanan kesehatan gigi dan mulut dalam bentuk:
a. Pemeriksaan dan penjaringan kesehatan gigi dan mulut peserta didik
b. Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut perorangan;
c. Pencegahan/pelindungan terhadap penyakit gigi dan mulut;
d. Perawatan kesehatan gigi dan mulut;
e. Rujukan kesehatan gigi dan mulut.
3. Pembinaan lingkungan kehidupan sekolah kerjasama antara masyarakat
sekolah (guru, murid, pegawai sekolah, orang tua murid,dan masyarakat).
D. Tahapan UKGS
a. UKGS Tahap I (Satu)/Paket Minimal UKGS

Pelayanan kesehatan gigi dan mulut untuk murid SD dan MI yang belum
terjangkau oleh tenaga dan fasilitas kesehatan gigi. Tim Pelaksana UKS di SD
dan MI melaksanakan kegiatan yaitu :
1. Pelatihan kepada guru Pembina UKS dan dokter kecil tentang
pengetahuan kesehatan gigi dan mulut secara terintegrasi. Pelatihan
dilaksanakan oleh dinas pendidikan dengan nara sumber tenaga kesehatan
gigi.
2. Pendidikan dan penyuluhan kesehatan gigi dilaksanakan oleh guru
penjaskes/guru pembina UKS/dokter kecil sesuai dengan kurikulum yang
berlaku (Buku Pendidikan Olahraga dan Kesehatan) untuk semua murid
kelas 1-6, dilaksanakan minimal satu kali setiap bulan.
3. Pencegahan penyakit gigi dan mulut dengan melaksanakan kegiatan sikat
gigi bersama setiap hari minimal untuk kelas I, II, dan III dibimbing oleh
guru dengan memakai pasta gigi yang mengandung fluor.
b. UKGS Tahap II (Dua)/Paket Standar UKGS
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut untuk murid SD dan MI sudah
terjangkau oleh tenaga dan fasilitas kesehatan gigi yang terbatas, meliputi
seluruh paket minimal UKGS Tahap I ditambah dengan :
1. Pengobatan darurat untuk menghilangkan rasa sakit oleh guru.
2. Penjaringan kesehatan gigi dan mulut untuk kelas I pada awal tahun ajaran
diikuti dengan pencabutan gigi sulung yang sudah waktunya tanggal,
dengan persetujuan tertulis (informed consent) dari orang tua dan tindakan
dilakukan oleh tenaga kesehatan gigi.
3. Surface protection pada gigi molar tetap yang sedang tumbuh (dilakukan
di sekolah atau dirujuk sesuai kemampuan), bila pada penjaringan murid
kelas I dijumpai murid dengan gigi tetap ada yang karies atau bila gigi

susu karies lebih dari 8 gigi dilakukan fissure sealant pada gigi molar yang
sedang tumbuh.
4. Rujukan bagi yang memerlukan.
c. UKGS Tahap III (Tiga)/Paket Optimal UKGS
Kegiatan paket optimal UKGS Tahap III meliputi seluruh paket standar
UKGS Tahap II ditambah dengan surface protection pada gigi molar tetap
yang sedang tumbuh pada murid kelas 1 dan 2 atau dilakukan fissure sealant
pada gigi molar yang sedang tumbuh serta pelayanan medik gigi dasar atas
permintaan pada murid kelas I sampai dengan kelas IV (care on demand)
(Kementerian Kesehatan RI, 2012)
E. Sasaran UKGS
Sasaran pelaksanaan dan pembinaan UKGS meliputi:
1. Sasaran primer yaitu peserta didik (murid sekolah) TKSD-SMP-SMA dan
sederajat
2. Sasaran sekunder yaitu guru, petugas kesehatan, pengelola pendidikan, orang
tua murid serta TP UKS disetiap jenjang.
3. Sasaran tersier:
a. Lembaga pendidikan mulai dari tingkat pra sekolah sampai pada sekolah
lanjutan tingkat atas, termasuk perguruan agama serta pondok pesantren
beserta lingkungannya.
b. Sarana dan prasarana pendidikan kesehatan dan pelayanan kesehatan.
c. Lingkungan, yang meliputi lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat
(Kementerian Kesehatan RI, 2012).
Menurut Departemen Kesehatan RI (1996), sasaran UKGS di lingkungan
Sekolah Tingkat Dasar meliputi semua anak sekolah tingkat pendidikan dasar (614 tahun). Sasaran UKGS pada praktikum mahasiswa kepaniteraan bagian Ilmu
Kedokteran Gigi Pencegahan dan Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat FKG UGM
angkatan ke-75 adalah siswa SD Negeri Mustokorejo kelas I sampai dengan kelas
VI.
F. Tujuan UKGS

Tujuan UKGS menurut Kementrian Kesehatan RI tahun 2012 tentang


Pedoman Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) meliputi tujuan umum dan
tujuan khusus.
a. Tujuan umum UKGS:
Tercapainya derajad kesehatan gigi dan mulut peserta didik yang
optimal.

b. Tujuan khusus UKGS:


1. Meningkatnya pengetahuan, sikap dan tindakan peserta didik dalam
memelihara kesehatan gigi dan mulut.
2. Meningkatnya peran serta guru, dokter kecil, orang tua dalam upaya
promotif-preventif.
3. Terpenuhinya kebutuhan pelayanan medis kesehatan gigi dan mulut bagi
peserta didik yang memerlukan.
G. Manfaat UKGS
Manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan UKGS antara lain:
1. Meningkatkan derajad kesehatan gigi dan mulut peserta didik.
2. Peserta didik mendapatkan pengetahuan akan kesehatan gigi dan mulut.
3. Meningkatkan sikap dan tindakan peserta didik dalam memelihara kesehatan
gigi dan mulut.
4. Meningkatkan peran serta guru, dokter kecil dan orang tua dalam upaya
memelihara kesehatan gigi dan mulut.
5. Peserta didik mendapatkan pelayanan medik gigi dasar atas permintaan (care
on demand)
H. Tenaga Pelaksana UKGS
1. Puskesmas, peranannya:
a. Sebagai koordinator
b. Sebagai pembimbing dan motivator
c. Bersama dokter gigi melakukan perencanaan kesehatan gigi dan mulut
2. Dokter Gigi, perananya:

a. Penanggung jawab pelaksanaan operasional


b. Bersama perawat gigi menyusun rencana kegiatan, menentukan target
tahunan serta jadwal kegiatan bulanan, memonitoring program dan
evaluasi. Sarana penunjang yaitu Buku Pedoman UKGS
c. Melaporkan serta mengkoordinasikan ke Kepala Puskesmas dan petugas
UKS. Sarana penunjang yaitu Microplanning/Perencanaan Tingkat
Puskesmas (PTP)
d. Membina integrase dengan unit-unit yang terkait di tingkat Kecamatan,
Lurah, PKK, Cabdin Pendidikan Kecamatan. Sarana penunjang Kebijakan
Provinsi atau Pusat dan Data Penyakit (Epidemiologi)
e. Memberi bimbingan dan pengarahan kepada tenaga perawat gigi, UKS,
guru SD dan dokter kecil. Sarana penunjang yaitu Buku Pedoman UKS
dan UKGS
f. Bila tidak ada perawat gigi, dokter gigi dapat sebagai pelaksana UKGS.
Sarana penunjang yaitu Buku Pedoman UKGS.
g. Melakukan kegiatan analis teknis dan edukatif. Sarana penunjang yaitu
Buku Pedoman UKGS
h. Pengarahan kepada tenaga UKS, guru SD, dokter kecil dan orang tua
murid

3. Perawat Gigi, peranannya:


a. Bersama dokter gigi menyusun rencana UKGS dan pemantauan SD.
Sarana penunjang yaitu Buku Petunjuk Perencanaan Tingkat Puskesmas
(PTP)
b. Melakukan persiapan lokakarya mini untuk menyampaikan rencana
kegiatan
c. Membina kerjasama dengan tenaga UKS, guru SD dan MI

d. Melakukan persiapan lokakarya mini untuk menyampaikan rencana


kegiatan pelaksana terkait. Sarana penunjang yaitu Rencana Program
UKGS
e. Pengumpulan data UKGS. Sarana penunjang yaitu Formula Epidemiologi
f. Melakukan kegiatan teknis meliputi: pembersihan karang gigi, pelayanan
medik dasar (menerima ujukan dari tenaga petugas kesehatan lainnya jika
di tempatnya bekerja tidak ada dokter gigi)
g. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan. Sarana penunjang yaitu Buku
Monitoring, form pencatatan dan pelaporan, form survei
h. Evaluasi cakupan program, pencapaian target untuk menjadi dasar
Rencana Kegiatan Tahunan berikutnya
i. Membuat dasar UKS dan UKGS
4. Petugas UKS, peranannya:
a. Terlibat penuh dalam penentuan SD, pembinaan guru, dokter kecil,
monitoring program dan hubungan dengan Diknas
b. Pemeriksaan murid (screening). Sarana penunjang yaitu form screening
UKS
c. Membuat grafik pencapaian jumlah SD UKGS dengan promotif preventif
setiap tahun
d. Melaksanakan rujukan. Sarana penunjang yaitu form rujukan
e. Menunjang tugas perawat gigi dalam penyuluhan dan pendidikan
kesehatan gigi. Sarana penunjang yaitu Buku Penuntun untuk Guru
5. Guru SD, peranannya:
a. Membantu tenaga kesehatan gigi dalam pengumpulan data/screening.
Sarana penunjang yaitu Flipchart Donut Irene
b. Memberikan pendidikan kesehatan gigi pada murid, jadwal pelajaran
c.
d.
e.
f.

orkes
Pembinaan dokter kecil
Latihan menggosok ggi
Rujukan bila menemukan murid dengan keluhan penyakit gigi
Membina kerjasama dengan petugas kesehatan dalam memelihara

kesehatan lingkungan, jajan, warung sekolah


g. Membantu guru dalam sikat gigi bersama

10

6. Dokter kecil, peranannya:


a. Membantu guru dalam memberi dorongan atau motivasi agar murid berani
untuk periksa gigi
b. Memberi penyuluhan kesehatan gigi (membantu guru) kepada murid lain
c. Mendampingi pada murid yang dirujuk ke tempat berobat gigi (klinik gigi)
(Kementerian Kesehatan RI, 2012).
Tenaga pelaksana yang terlibat dalam kegiatan UKGS di SDN
Mustokorejo, Depok, Sleman, Yogyakarta adalah mahasiswa kepaniteraan di
bagian Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan dan Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta angkatan 75 yang
berjumlah 13 orang. Mahasiswa kepaniteraan terbagi dalam 3 kelompok yang
masing-masing bertanggung jawab terhadap 2 kelas yang diperiksa.