Anda di halaman 1dari 7

Scale-Up Produksi Biomassa dan Lipid Mikroalga dengan Konsep Integrasi Bioreaktor

Kolam Terbuka (Open Pond) dan Fotobioreaktor dalam Sistem Produksi Hybrid
Review
Muhamad Gidry Abdurrazak
Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung
Bandung, Jawa Barat 40132 Indonesia
Email: sith@sith.itb.ac.id
ABSTRAK
Pertumbuhan industri di Indonesia yang pesat meningkatkan kebutuhan bahan bakar
nabati nasional, termasuk biodiesel. Mikroalga sebagai sumber biodiesel generasi ketiga
dapat menjadi ujung tombak pemenuhan kebutuhan ini. Hal ini didukung dengan fakta bahwa
produktivitas minyak mikroalga cukup tinggi. Optimasi produktivitas lipid mikroalga dapat
menjadi faktor kunci bagi industri biodiesel mikroalga dalam rangka pemenuhan kebutuhan
energi nasional. Bioreaktor yang selama ini dianggap paling mendukung scaling-up produksi
biomassa sekaligus lipid mikroalga adalah kolam terbuka (open pond) dan fotobioreaktor.
Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan sistem scale-up produksi mikroalga dengan
konsep integrasi bioreaktor kolam terbuka sebagai bioreaktor sistem terbuka dan
fotobioreaktor sebagai sistem tertutup untuk meningkatkan biomassa dan kandungan lipid
berbagai jenis mikroalga.
Kata Kunci: scaling-up, kontaminasi, raceway pond, fotobioreaktor, mikroalga, hybrid
Pendahuluan
Sumber energi berbasis hayati, terutama
bahan bakar nabati (BBN) mulai memiliki
peran yang cukup besar dalam pemenuhan
kebutuhan energi nasional. Pemerintah
melalui Peraturan Menteri ESDM nomor
20 tahun 2014 menyatakan bahwa pada
tahun 2015 industri komersil dan
pembangkit listrik akan menggunakan
biodiesel (B100) masing-masing 10% dan
25% dari total kebutuhan energi. Hal ini
mendorong perlunya pasokan bahan bakar
nabati
yang
memadai,
khususnya
biodiesel.
Minyak mikroalga sebagai bahan baku
biodiesel generasi ketiga dapat menjadi
opsi terbaik untuk memenuhi kebutuhan

ini. Mikroalga mampu mengkonversi


sampai 5% energi cahaya matahari
menjadi biomassa. Nilai produktivitas
minyak per luas kebutuhan lahan dari
mikroalga juga jauh lebih besar
dibandingkan tumbuhan tingkat tinggi
lainnya, seperti jarak pagar dan kelapa
sawit (Gambar 1). Produktivitas minyak
mikroalga yang tinggi dapat menjadi
faktor kunci bagi industri biodiesel
mikroalga untuk menopang kebutuhan
energi nasional. Namun terdapat berbagai
masalah dalam produksi biodiesel berbasis
mikroalga, diantaranya adalah scaling up
produksi mikroalga ke skala industri yang
masih belum optimal dan berkelanjutan.
Hal ini mendorong kalangan akademisi,

peneliti, dan pelaku industri mikroalga


untuk melakukan penelitian lebih lanjut
dalam produksi mikroalga menuju skala
industri, salah satunya adalah dengan
pengembangan bioreaktor.

Gambar 1. Produktivitas minyak mikroalga dan


beberapa tanaman lain (Hadianto dan Kumoro,
2012)

Bioreaktor
open
pond
dan
fotobioreaktor merupakan dua bioreaktor
kultivasi mikroalga yang telah banyak
dijadikan basis penelitian untuk scaling up
produksi mikroalga untuk skala industri.
Kolam terbuka sendiri merupakan sistem
terbuka,
sedangkan
fotobioreaktor
merupakan sistem tertutup. Penelitianpenelitian sebelumnya seperti yang
disponsori oleh pemerintah Jepang dan
Amerika Serikat pada tahun 1990-an
umumnya hanya fokus terhadap optimasi
kedua bioreaktor secara terpisah untuk
mencapai skala industri, dan sejauh ini
belum dapat menghasilkan sistem produksi
skala industri yang berkelanjutan (Huntley
dan Redalje, 2008). Selain itu dalam
semua sistem reaktor umumnya kandungan
lipid berbanding terbalik
terhadap
pertumbuhan biomassa sel, terutama
dengan menggunakan induksi cekaman
nitrogen yang umumnya digunakan dalam
induksi produksi lipid mikroalga (Widjaja

et al., 2009; Sharma et al., 2012). Hal ini


mendorong perlunya dua sistem reaktor
terpisah yang berfungsi masing-masing
untuk memperbanyak biomassa dan
meningkatkan kandungan lipid dengan
spesifikasi yang sesuai.
Konsep Integrasi
Penggunaan kedua bioreaktor dalam
satu aliran produksi dapat menjadi
alternatif penyelesaian masalah scaling up
produksi biomassa mikroalga skala
industri. Konsep integrasi bioreaktor
kolam
terbuka
dan
fotobioreaktor
merupakan rancangan sistem produksi
yang menggunakan kedua reaktor dalam
satu aliran produksi biomassa mikroalga.
Konsep yang dikenal juga sebagai sistem
produksi hybrid atau split ini memiliki 2
tahap kultivasi, yakni tahap pertama di
dalam fotobioreaktor yang bertujuan untuk
perbanyakan biomassa dan tahap kedua di
kolam terbuka untuk meningkatkan
kandungan lipid. Keduanya dihubungkan
dengan suatu sistem transfer biomassa
mikroalga dari fotobioreaktor menuju
kolam terbuka (Gambar 2). Fotobioreaktor
digunakan pada tahap pertama karena
kemampuannya dalam memproduksi dan
memelihara kultur mikroalga yang axenic
meskipun memiliki biaya investasi dan
operasi yang tinggi (Tabel 1), sedangkan
kolam terbuka digunakan pada tahap
kedua karena cost effective meskipun
memiliki resiko kontaminasi yang tinggi
(Schenk et al., 2008).
Penggunaan Fotobioreaktor dalam
Sistem Produksi Hybrid
Fotobioreaktor atau biasa disebut PBR
sendiri merupakan sistem tertutup yang
dapat membatasi pertukaran materi
langsung antara sistem dengan lingkungan.
Fotobioreaktor dapat menghalangi

Gambar 2. Diagram alir sederhana sistem produksi lipid mikroalga hybrid (Huntley dan Redalje, 2008)

pertukaran gas dan kontaminan secara


langsung melalui dindingnya, sehingga
dapat mengurangi resiko kontaminasi.
Selain itu fotobioreaktor juga memiliki
berbagai keuntungan lain, seperti kontrol
yang lebih baik terhadap kondisi kultur
dan parameter tumbuh (pH, temperatur,
mixing, kadar CO2 dan O2), mencegah
evaporasi,
pertumbuhan
sel
yang
konsisten,
serta
dapat
memiliki
produktivitas volumetrik dan densitas
mikroalga yang lebih baik dari kolam
terbuka
(Mata
et
al.,
2009).
Fotobioreaktor telah banyak banyak
dikembangkan oleh kalangan industri dan
akademisi dan memiliki berbagai macam
desain seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 3.
Kelebihan
yang
dimiliki
oleh
fotobioreaktor
menjadi
dasar
penggunaannya dalam sistem produksi
hybrid tahap pertama untuk memproduksi
jenis biomassa mikroalga yang diinginkan
dan tidak terkontaminasi dalam skala besar
secara kontinu. Biomassa mikroalga dalam
jumlah besar diperlukan untuk tahap kedua
di kolam terbuka, karena mikroalga yang
diinginkan harus diinokulasikan dengan
jumlah yang cukup besar di sistem terbuka
agar jumlah sel yang dapat dioptimasi
lebih banyak. Hal ini disebabkan spesies
kontaminan di sistem terbuka cepat atau
lambat akan muncul dan bahkan
mendominasi, sehingga pertumbuhan
biomassa pada sistem terbuka tidak akan

optimal (Schenk et al., 2008). Dengan


demikian
pertumbuhan
biomassa
mikroalga difokuskan pada fotobioreaktor
dan kolam terbuka digunakan untuk tujuan
optimasi kandungan lipid.
Sistem produksi hybrid juga mampu
mengurangi
dampak
kekurangan
fotobioreaktor pada industri. Kekurangan
fotobioreaktor yang sering menjadi
permasalahan dalam industri adalah biaya
yang mahal dari segi produksi maupun
operasionalnya (Mata et al., 2009). Hal ini
sangat menghambat scaling up sistem
produksi yang hanya menggunakan
fotobioreaktor saja. Sistem produksi ini
dapat
mengurangi
penggunaan
fotobioreaktor yang berbiaya mahal karena
optimasi kandungan lipid secara massal
tidak dilakukan di fotobioreaktor, namun
dilakukan di kolam terbuka. Sistem
fotobioreaktor dengan volume media
maksimal hanya perlu mengalirkan hasil
produksinya ke kolam terbuka saat sudah
mencapai densitas tertentu, kemudian
fotobioreaktor dapat digunakan lagi untuk
kutivasi biomassa. Selain mengurangi efek
buruk shear stress jangka panjang terhadap
mikroalga, laju alir produksi dapat
ditingkatkan dengan fotobioreaktor yang
lebih sedikit dibandingkan dengan
menggunakan fotobioreaktor saja. Rodolfi
et al. (2009) dalam Brennan dan Owende
(2009)
mengatakan bahwa dengan
penggunaan 22% lahan produksi pabrik
untuk memproduksi biomassa dalam

Gambar 3. Beberapa contoh bentuk desain sederhana fotobioreaktor (Schenk et al., 2008)

kondisi cukup nitrogen dan sisanya untuk


induksi kandungan lipid dalam kondisi
defisiensi
nitrogen,
dihasilkan
produktivitas lahan sebesar 90 kg
lipid/ha/hari. Hasil ini menunjukkan
bahwa dengan kapasitas fotobioreaktor
yang relatif sedikit pun produktivitas lipid
mikroalga pabrik dapat mencapai tingkat
yang cukup baik.
Penggunaan Kolam Terbuka dalam
Sistem Produksi Hybrid
Kolam terbuka merupakan sistem
reaktor yang sudah cukup banyak
digunakan dalam produksi mikroalga.
Kolam terbuka dapat berupa badan air
alami seperti danau dan laguna maupun
buatan seperti raceway pond (Gambar 4)
yang umum digunakan dalam produksi
berbagai industri mikroalga (Jimenez et
al., 2003; Brennan dan Owende, 2009).
Reaktor ini merupakan sistem produksi
skala besar yang tergolong murah untuk
produksi skala industri dan tergolong
mudah dalam perawatan dan konstruksinya
(Weissman et al., 1989; Umar, 2014).
Selain itu kapasitas yang ditawarkan jauh
lebih
besar
dibandingkan
dengan
fotobioreaktor dengan biaya pembangunan
yang sama.

Kolam terbuka dimanfaatkan dalam


sistem produksi yang terintegrasi ini
dengan cara memberikan cekamancekaman lingkungan tertentu seperti
defisiensi
N
untuk
menginduksi
kandungan lipid yang tinggi dalam
biomassa
mikroalga.
Perpindahan
biomassa mikroalga dari tahap pertama ke
tahap kedua umumnya dapat menciptakan
kondisi ini, karena secara umum kondisi

Gambar 4. Skema rancangan bioreaktor kolam


terbuka jenis raceway pond (Kunjapur dan
Eldridge, 2010)

lingkungan di kolam terbuka akan jauh


lebih tidak ideal untuk pertumbuhan
mikroalga
dibandingkan
dengan
fotobioreaktor yang kondisi lingkungannya
mampu dikontrol. Dengan pemberian
kondisi optimal pada pertumbuhan
biomassa
dalam
fotobioreaktor,

perpindahan mikroalga ke kolam terbuka


yang kondisinya tidak terkontrol akan
menciptakan kondisi cekaman yang
mampu menginduksi kandungan lipid
(Rodolfi et al., 2009; Huntley dan Redalje,
2008; Garg, 2014). Kapasitasnya yang
besar dengan biaya konstruksinya yang
murah
dapat
dimanfaatkan
untuk
menampung suplai biomassa mikroalga
dari beberapa fotobioreaktor sekaligus
pada tahap pertama secara berkala. Adapun
menurut hasil penelitian dari Huntley dan
Redalje (2008) yang menggunakan sistem
produksi hybrid dengan mikroalga H.
pluvialis, kolam terbuka juga dapat
memberikan laju pertumbuhan mikroalga
lebih tinggi daripada saat dikultivasi di
bioreaktor (Tabel 2). Hal ini menunjukkan
bahwa bioreaktor kolam terbuka juga tetap
dapat
meningkatkan
produktivitas
biomassa mikroalga, meskipun waktu
tinggalnya di kolam terbuka relatif singkat
karena harus segera dipanen sebelum
terjadi kontaminasi.
Upaya-upaya untuk meminimalisir
dampak kekurangan kolam terbuka dapat
dilakukan dengan berbagai macam
metode.
Permasalahan
utama
dari
bioreaktor kolam terbuka adalah sistemnya
yang terbuka memiliki tingkat kontaminasi
tinggi (Tabel 1). Hal ini dapat
diminimalisir dengan dua cara, yakni
memperbesar jumlah inokulan (Schenk et
al., 2008) dan mempersingkat waktu
tinggal mikroalga di kolam terbuka
(Huntley dan Redalje, 2008). Cara pertama
ini dapat dilakukan dalam sistem hybrid
ini berkat kemampuan fotobioreaktor
dalam memproduksi biomassa mikroalga
yang sangat banyak pada tahap pertama
seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Cara kedua dapat dilakukan karena
pengondisian cekaman lingkungan di
kolam terbuka menjadi lebih mudah dan

cepat
akibat
transfer
mikroalga
antarreaktor yang jauh berbeda kondisi
lingkungannya. Waktu tinggal yang
singkat ini juga merupakan kelebihan
sistem ini karena dapat mempercepat laju
alir produksi.
Kekurangan Sistem Hybrid
Meskipun demikian, terdapat beberapa
kekurangan dari sistem hybrid ini. Sistem
baru ini memiliki informasi ekonomi yang
tergolong
sedikit,
sehingga
sulit
membandingkan keuntungan ekonomi
yang didapat dari investasi pembangunan
pabrik dengan sistem produksi ini dengan
Tabel 1. Perbandingan fotobioreaktor dengan
kolam terbuka (Mata et al., 2009)

Parameter

Fotobioreaktor

Kontaminasi
Kontrol
proses
Produktivita
s

Rendah
Mudah

Hydrodyna
mic stress
Operation
regime

Investasi
Biaya
operasi

Kolam
terbuka
Tinggi
Sulit

3-5 kali lipat Lebih


dari
kolam rendah
terbuka
dari
fotobiore
aktor
Rendah-tinggi
Rendah
Semi-kontinu
atau kontinu

Tinggi
Tinggi

Batch
atau
semikontinu
Rendah
Rendah

yang ada sebelumnya. Kekurangan


informasi ini juga mempersulit analisis
feasibility produktivitas tinggi dari sistem
hybrid untuk menutupi modal ekstra yang
harus dikeluarkan untuk dua jenis reaktor
yang berbeda pada sistem ini dibanding
sistem yang memakai reaktor yang sejenis

(Kunjapur dan Eldridge, 2010). Meskipun


demikian dari segi produktivitas, sistem
hybrid ini sangat menjanjikan untuk
produksi skala industri.
Tabel 2. Hasil Produksi Lipid Mikroalga Sistem
Hybrid dengan Mikroalga Haematococcus
pluvialis (Huntley dan Redalje, 2008)
Sistem kultivasi dan
set data

kekurangan masing-masing dan kelebihan


masing-masing reaktor memiliki andil
dalam produktivitas sistem yang tinggi.
Meskipun terdapat banyak kekurangan
informasi mengenai analisis ekonomi dari
sistem ini, sistem ini sangat menjanjikan
dari segi produktivitas.

Fotobioreakt
or

Kolam
Terbuka

g/m3

300

38

g/m2

40

46

Biomassa awal (kg)

7,5

1,9

Laju
pertumbuhan/hari

0,25

1,29

Periode
(hari)

(beroperasi
kontinu)

1,3

Referensi

g/m3

202

g/m2

24

Brennan, Liam, and Philip Owende. "Biofuels from


microalgaea review of technologies for
production, processing, and extractions of
biofuels and co-products." Renewable and
sustainable energy reviews 14.2 (2010): 557577.

Konsentras
i awal

Konsentras
i akhir
Biomassa
dipanen (kg)

Produksi
minyak

tumbuh

yang

1,9
(yang
ditransfer ke
kolam
terbuka)

10,1

25

(g/m2
)/hari

3,78

Produksi biomassa
(g/m2)/hari

10,2

15,1

Kesimpulan
Fotobioreaktor sebagai reaktor sistem
terbuka dan kolam terbuka sebagai reaktor
sistem tertutup dapat diintegrasikan dalam
sistem hybrid untuk meningkatkan
produksi biomassa dan kandungan lipid
mikroalga dalam skala industri. Sistem
hybrid menggunakan fotobioreaktor pada
tahap pertama produksi dan kolam terbuka
pada tahap kedua. Fotobioreaktor sendiri
memiliki fungsi utama untuk perbanyakan
biomassa mikroalga, sedangkan kolam
terbuka ditujukan untuk menginduksi
kandungan lipid yang tinggi. Kedua
reaktor berbeda ini dapat saling menutupi

Ucapan Terima Kasih


Penulis mengucapkan terima kasih
kepada bapak Dr. Taufikkurahman sebagai
dosen mata kuliah Teknik Komunikasi
Ilmiah.

Garg, S. (2015). Bioprocess engineering and downstream


process optimisation of microalgae for biomass
production.
Hadiyanto, Widayat dan A. C. Kumoro (2012). Potency
of Microalgae as Biodiesel Source in
Indonesia.International Journal of Renewable
Energy Development, 1(1).
Huntley, M. E., & Redalje, D. G. (2007). CO2 mitigation
and renewable oil from photosynthetic
microbes: a new appraisal. Mitigation and
adaptation strategies for global change, 12(4),
573-608.
Sharma, K. K., Schuhmann, H., & Schenk, P. M. (2012).
High lipid induction in microalgae for
biodiesel production. Energies, 5(5), 15321553.
Kunjapur, A. M., & Eldridge, R. B. (2010).
Photobioreactor design for commercial biofuel
production from microalgae. Industrial &
engineering chemistry research, 49(8), 35163526.
Mata, T. M., Martins, A. A., & Caetano, N. S. (2010).
Microalgae for biodiesel production and other
applications: a review. Renewable and
sustainable energy reviews, 14(1), 217-232.

Rodolfi, L., Chini Zittelli, G., Bassi, N., Padovani, G.,


Biondi, N., Bonini, G., & Tredici, M. R.
(2009). Microalgae for oil: Strain selection,
induction of lipid synthesis and outdoor mass
cultivation in a lowcost photobioreactor.
Biotechnology and bioengineering, 102(1),
100-112.
Schenk, P. M., Thomas-Hall, S. R., Stephens, E., Marx,
U. C., Mussgnug, J. H., Posten, C., ... &

Hankamer, B. (2008). Second generation


biofuels: high-efficiency microalgae for
biodiesel production. Bioenergy research, 1(1),
20-43.
Umar, A. A. (2014) Feasibility Study of Algae Biodiesel
Production in the Cambois Peninsular (UK).