Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN HASIL OBSERVASI

TENTANG SISTEM PENDIDIKAN


(Studi dilakukan di SMA Negeri 1 Cibinong)

Disusun Oleh:
Indriyani Anjari

(3415152446)

Hilda Shavina

(3415153028)

Arin Sabrina

(3415154040)

Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Jakarta
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga berhasil menyelesaikan laporan hasil
observasi ini tepat pada waktunya. Selesainya penyusunan ini berkat bantuan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, kami ucapkan terima kasih kepada Ibu Suprayekti,
M.Pd selaku dosen mata kuliah Landasa Ilmu Pendidikan.
Kami menyadari bahwa laporan hasil observasi ini masih terdapat kekurangan.
Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kesempurnaan laporan hasil observasi ini.
Akhir kata, kami ucapkan terima kasih, mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam
penulisan laporan hasil observasi ini.

Jakarta, 21 Desember 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
i

Kata

Pengantar

...........................................................................................................................................
i
Daftar
Isi
...........................................................................................................................................
ii
BAB I
PENDAHULUAN ............................................................................................................1
1.1 Latar Belakang.................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................2
1.4 Manfaat Penelitian...........................................................................................2
BAB II
KAJIAN TEORI................................................................................................................3
BAB III
METODOLOGI OBSERVASI........................................................................................14
3.1

Tujuan Penelitian.....................................................................................14

3.2

Waktu dan Tempat Penelitian..................................................................14

3.3

Metode Penelitian ...................................................................................14

3.4

Sumber Data............................................................................................14

BAB IV
DESKRIPSI DATA.........................................................................................................15
BAB V
PEMBAHASAN.............................................................................................................18

BAB VI
ii

PENUTUP.......................................................................................................................24
6.1

Kesimpulan..............................................................................................24

6.2

Saran........................................................................................................24

Daftar Pustaka ................................................................................................................25

BAB I
iii

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Realisasi ketentuan Undang-Undang Dasar 1945 dalam bidang pendidikan
adalah Indonesia menyelenggarakan sistem pendidikan yang khas. Walaupun dalam
model umumnya memiliki kesamaan dengan Negara lainnya. Misalnya dalam
model pendidikan klasikal.
Perbedaan yang menonjol adalah pada tujuan pendidikannya. Indonesia
memiliki cita-ciita tersendiri dalam pencapaian pendidikan sehingga sistem
pendidikan diarahkan pada terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya. Dalam
perubahan social politik sekarang ini kecenderungan desentralisasi, tuntutan
reformasi mendorong pendidikan untuk menformulasi tujuannya dalam format yang
lebih bernuansa bottom up dengan menekankan pemberdayaan kedaerahan.
Dalam format desentralistik, pendidikan nasional Indonesia saat ini
memiliki sistem dan model penyelenggaraan yang berlainan dengan sebelumnya.
Perubahan yang terjadi sebenarnya bukan semata-mata diakibatkan oleh reformasi
external pendidikan, namun beratnya tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia
dalam multidimensi telah menempatkan bidang pendidikan sebagai upaya yang
bernilai amat strategis bagi pengentasan kesulitan bangsa.
Namun pendidikan di Indonesia saat ini masi didominasi oleh corak
sentralistik sehingga sangat dibutuhkan model yang sesuai dengan prinsip otonomi
pendidikan.
Masyarakat sebagai customer sekaligus stake holder harus mendapatkan
wadah penyaluran, sehingga pelaksanaan pendidikan harus berimbang antara peran
serta masyarakat dengan pemerintah.
Dorongan lain juga mengharuskan perubahan sistem pendidikan adalah
aspek efisiensi yang nampak. Manajemen pengawasan sekolah harus dirubah
menjadi manajemen pendidikan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat dirumuskan masalah yang ada di
SMA Negeri 1 Cibinong yaitu, antra lain:
1. Apa visi misi sekolah tersebut?
2. Apa tujuan dari sekolah tersebut?
3. Sistem pendidikan apa yang digunakan di sekolah tersebut?

1.3 Manfaat
Manfaat yang didapatkan setelah melakukan observasi ini diantaranya:
1. Sebagai calon guru kami sudah dapat mengetahui sistem-sistem pendidikan
yang digunakan di sekolah.
2. Dengan melakukan observasi pertama kami ini, dapat menjadi acuan atau
patokan kami dalam membandingkan sistem pembelajaran yang ada di sekolahsekolah menengah atas maupun sekolah menengah pertama.
3. Dengan mengkaji kembali hasil observasi ini, diharapkan kami mampu untuk
mengetahui permasalahan-permasalahan yang ada di sekolah-sekolah dan
mampu untuk memperbaikinya ketika menjadi guru nanti.

BAB II
2

KAJIAN TEORI

Aliran-aliran pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang membawa


pembaharuan dalam dunia pendidikan. Pemikiran tersebut berlangsung seperti suatu
diskusi berkepanjangan, yakni pemikiran-pemikirn terdahulu selalu ditanggapi
dengan pro dan kontra oleh pemikir berikutnya, sehingga timbul pemikiran yang
baru, dan demikian seterusnya. Agar diskusi berkepanjangan itu dapat dipahami,
perlu aspek dari aliran-alira itu yang harus dipahami. Oleh karena itu setiap calon
tenaga kependidikan harus memahami berbagai jenis aturan-aturan pendidikan.
Dalam dunia pendidikan setidaknya terdapat 3 macam aliran pendidikan, yaitu
aliaran klasik, aliran modern dan aliran pendidikan pokok di Indonesia.
Menurut Mudyahardjo (2001:142) macam-macam aliran pendidikan
modern yang ada di Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Progresivisme
Progresivisme adalah gerakan pendidikan

yang

mengutamakan

penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak (child-centered),


sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru
(teacher-centered) atau bahan pelajaran (subject-centered).
Tujuan pendidikan dalam aliran ini adalah melatih anak agar kelak dapat
bekerja, bekerja secara sistematis, mencintai kerja, dan bekerja dengan otak dan
hati. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan harusnya merupakan
pengembangan sepenuhnya bakat dan minat setiap anak.
Kurikulum pendidikan Progresivisme adalah kurikulum yang berisi
pengalaman-pengalaman atau kegiatan-kegiatan belajar yang diminati oleh
setiap peserta didik (experience curriculum).
Metode pendidikan Progresivisme antara lain:
Metode belajar aktif.
Metode memonitor kegiatan belajar.
Metode penelitian ilmiah
Pendidikan berpusat pada anak.
Pendidikan Progresivisme menganut prinsip pendidikan berpusat pada
anak. Anak merupakan pusat adari keseluruhan kegiatan-kegiatan pendidikan.
Pendidikan Progresivisme sangat memuliakan harkat dan martabat anak dalam
3

pendidikan. Anak bukanlah orang dewasa dalam betuk kecil. Anak adalah anak,
yang sangat berbeda dengan orang dewasa. Setiap anak mempunyai
individualitas sendiri-sendiri, anak mempunyai alur pemikiran sendiri, anak
mempunyai keinginan sendiri, mempunyai harapan-harapan dan kecemasan

sendiri, yang berbeda dengan orang dewasa. Dengan demikian, anak harus
diperlakukan berbeda dari orang dewasa.
2. Esensialisme
Esensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang
memprotes gerakan progresivisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam
warisan budaya/sosial. Menurut esensialisme nilai-nilai yang tertanam dalam
nilai budaya/sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara
berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah selama beratus
tahun dan di dalamnya berakar gagasan-gagasan dan cita-cita yang telah teruji
dalam perjalanan waktu. Peranan guru kuat dalam mempengaruhi dan
mengawasi kegiatan-kegiatan di kelas.
Tujuan pendidikan dari aliran ini adalah menyampaikan warisan budaya
dan sejarah melalui suatu inti pengetahuan yang telah terhimpun, yang telah
bertahan sepanjang waktu dan dengan demikian adlah berharga untuk diketahui
oleh semua orang. Pengetahuan ini diikuti oleh ketrampilan. Ketrampilan, sikapsikap dan nilai yang tepat, membentuk unsur-unsur yang inti (esensial) dari
sebuah pendidikan Pendidikan bertujuan untuk mencapai standar akademik yang
tinggi, pengembangan intelek atau kecerdasan.
Metode pendidikan yang diterapkan yakni:
Pendidikan berpusat pada guru (teacher centered).
Peserta didik dipaksa untuk belajar.
Latihan mental
Kurikulum berpusat pada mata pelajaran yang mencakup mata-mata pelajaran
akademik

yang

pengembangan

pokok.

Kurikulum

ketrampilan

dasar

sekolah
dalam

dasar

ditekankan

pada

menulis,

dan

membaca,

matematika.Sedangkan kurikulum pada sekolah menengah menekankan pada


perluasan dalam mata pelajaran matematika, ilmu kealaman, serta bahasa dan
sastra.

3. Rekonstruksionalisme
Rekonstruksionalisme adalah asas yang memandang pendidikan sebagai
rekonstruksi pengalaman-pengalaman yang berlangsung terus dalam hidup.
Sekolah yang menjadi tempat utama berlangsungnya pendidikan haruslah
merupakan gambaran kecil dari kehidupan sosial di masyarakat

Tujuan pendidikan yang diterapkan dalam rekonstruksionalisme yakni


sekolah-sekolah rekonstruksionis berfungsi sebagai lembaga utama untuk
melakukan perubahan sosial, ekonomi dan politik dalam masyarakat dan
membangkitkan kesadaran para peserta didik tentang masalah sosial, ekonomi
dan politik yang dihadapi umat manusia dalam skala global, serta mengajarkan
kepada mereka keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mengatasi
masalah-masalah tersebut.
Kurikulum dalam pendidikan rekonstruksionalisme berisi mata-mata
pelajaran yang berorientasi pada kebutuhan-kebutuhan masyarakat masa depan.
Kurikulum banyak berisi masalah-masalah sosial, ekonomi, dan politik yang
dihadapi umat manusia. Yang termasuk di dalamnya masalah-masalah pribadi
para peserta didik sendiri, dan program-program perbaikan yang ditentukan
secara ilmiah.
4. Perennialisme
Perennialisme adalah gerakan pendidikan yang mempertahankan bahwa
nilai-nilai universal itu ada, dan bahwa pendidikan hendaknya merupakan suatu
pencarian dan penanaman kebenaran-kebenaran dan nilai-nilai tersebut. Guru
mempunyai peranan dominan dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar
di kelas. Menurut perennialisme, ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang
tertinggi, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara
induktif. Jadi dengan berpikir, maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan.
Penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi
seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Dengan pengetahuan,
bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal dan memahami
faktor-faktor dan problema yang perlu diselesaikan dan berusaha mengadakan
5

penyelesaian masalahnya.
Tujuan pendidikan yang diterapkan dalam perennialisme yakni anak
didik diharpakan mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang
menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini merupakan
buah pikiran besar pada masa lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh
zaman telah dicatat menonjol seperti bahasa, sastra, sejarah, filsafat, politik,
ekonomi, matematika, ilmu pengetahuan alam, dan lain-lainnya, telah banyak
memberikan sumbangan kepada perkembangan zaman dulu. Kurikulum berpusat

pada mata pelajaran dan cenderung menitikberatkan pada sastra, matematika,


bahasa dan sejarah.
5. Idealisme
Idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa.
Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan
jiwa terletak di antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang
ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu
angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta menganggap bahwa
yang nyata hanyalah idea. Tugas ide adalah memimpin budi manusia dalam
menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah menguasai ide, ia akan
mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakan sebagai alat untuk
mengukur, mengklasifikasikan dan menilai segala sesuatu yang dialami seharihari.
Para murid yang menikmati pendidikan di masa aliran idealisme sedang
gencar-gencarnya diajarkan, memperoleh pendidikan dengan mendapatkan
pendekatan (approach) secara khusus. Sebab, pendekatan dipandang sebagai
cara yang sangat penting. Para guru tidak boleh berhenti hanya di tengah
pengkelasan murid, atau tidak mengawasi satu persatu muridnya atau tingkah
lakunya. Seorang guru mesti masuk ke dalam pemikiran terdalam dari anak
didik, sehingga kalau perlu ia berkumpul hidup bersama para anak didik. Guru
jangan hanya membaca beberapa kali spontanitas anak yang muncul atau
sekadar ledakan kecil yang tidak banyak bermakna.
Pola pendidikan yang diajarkan filsafat
idealisme berpusat dari idealisme.
6
Pengajaran tidak sepenuhnya berpusat dari anak, atau materi pelajaran, juga
bukan masyarakat, melainkan berpusat pada idealisme. Maka, tujuan pendidikan
menurut paham idealisme terbagai atas tiga hal, tujuan untuk individual, tujuan
untuk masyarakat, dan campuran antara keduanya.
Tujuan pendidikan idealisme ini agar anak didik bisa menjadi kaya dan
memiliki kehidupan yang bermakna, memiliki kepribadian yang harmonis dan
penuh warna, hidup bahagia, mampu menahan berbagai tekanan hidup, dan pada
akhirnya diharapkan mampu membantu individu lainnya untuk hidup lebih baik.
Sedangkan tujuan pendidikan idealisme bagi kehidupan sosial adalah perlunya
persaudaraan sesama manusia. Karena dalam spirit persaudaraan terkandung

suatu pendekatan seseorang kepada yang lain. Seseorang tidak sekadar


menuntuk hak pribadinya, namun hubungan manusia yang satu dengan yang
lainnya terbingkai dalam hubungan kemanusiaan yang saling penuh pengertian
dan rasa saling menyayangi.
Selain terdapat asas-asas di dalam pendidikan, terdapat juga beberapa
aliran-aliran yang diterapkan di dalam pendidikan. Menurut Tim dosen 2006,
aliran-aliran klasik dalam pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Aliran Empirisme
Aliran ini menganut paham yang berpendapat bahwa segala pengetahuan,
keterampilan dan sikap manusia dalam perkembanganya ditentukan oleh
pengalaman (empiris) nyata melalui alat inderanya baik secara langsung
berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui proses pengolahan dalam diri
dari apa yang didapatkan secara langsung (Joseph:2006).
Jadi segala kecakapan dan pengetahuanya tergantung, terbentuk dan
ditentukan oleh pengalaman. Sedangkan pengalaman didapatkan dari lingkungan
atau dunia luar melalui indra, sehingga dapat dikatakan lingkunganlah yang
membentuk

perkembangan

manusia

atau

anak

didik.

Bahwa

hanya

lingkunganlah yang mempengaruhi perkembangan anak.


John Locke (Joseph:2006) mengatakan bahwa tak ada sesuatu dalam jiwa
yang sebelumnya tak ada dalam indera. Hal ini berarti apa yang terjadi, apa yang
memengaruhi apa yang membentuk perkembangan jiwa anak didik adalah
7
lingkungan melalui pintu gerbang inderanya
yang berarti tidak ada yang terjadi

dengan tiba-tiba tanpa melalui proses penginderaan.


2. Aliran Nativisme
Teori ini merupakan kebalikan dari teori empirisme, yang mengajarkan
bahwa anak lahir sudah memiliki pembawaan baik dan buruk. Perkembangan
anak hanya ditentukan oleh pembawaanya sendiri-sendiri. Lingkungan sama
sekali tidak mempengaruhi apalagi membentuk kepribadian anak. Jika
pembawaan jahat akan menjadi jahat, jika pembawaanyan baik akan menjadi
baik. Jadi lingkungan yang diinginkan dalam perkembangan anak adalah
lingkungan yang tidak dibuat-buat, yakni lingkungan yang alami.
3. Aliran Konvergensi
Faktor pembawaan dan faktor lingkungan sama-sama mempunyai
peranan yang sangat penting, keduanya tidak dapat dipisahkan sebagaiman teori

nativisme teori ini juga mengakui bahwa pembawaan yang dibawa anak sejak
lahir juga meliputi pembaeaan baik dan pembawaan buruk. Pembawaan yang
dibawa anak pada waktu lahir tidak akan bisa berkembang dengan baik tanpa
adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan pembawaan tersebut.
William Stern (Tim Dosen 2006: 79) mengatakan bahwa perkembangan
anak tergantung dari pembawaan dari lingkugan yang keduanya merupakan
sebagaiman dua garis yang bertemu atau menuju pada satu titik yang disebut
konvergensi.
Dari beberapa uraian diatas, teori yang cocok dapat diterima sesuai
dengan kenyataan adalah teori konvergensi, yang tidak mengekstrimkan faktor
pembawaan, faktor lingkungann atau alamiah yang mempengaruhi terhadap
perkembangan

anak,

melainkan

semuanya

dari

faktor-faktor

tersebut

mempengaruhi terhadap perkembangan anak.


4. Aliran Naturalisme
Aliran ini mempunyai kesamaan dengan teori nativisme bahkan kadangkadang disamakan. Padahal mempunyai perbedaan-perbedaan tertentu. Ajaran
dalam teori ini mengatakan bahwa anak sejak lahir sudah memiliki pembawaan
8
sendiri-sendiri baik bakat minat, kemampuan,
sifat, watak dan pembawaan-

pembawaan lainya. Pembawaan akan berkembang sesuai dengan lingkungan


alami, bukan lingkungna yang dibuat-buat. Dengan kata lain jika pendidikan
diartikan sebagai usahan sadar untuk mempengaruhi perkembangan anak seperti
mengarahkan, mempengaruhi, menyiapkan, menghasilkan apalagi menjadikan
anak kea rah tertentu, maka usaha tersebut hanyalah berpengaruh jelek
terhadapperkembangan anak. Tetapi jika pendidikan diartikan membiarkan anak
berkembang sesuai dengan pembawaan dengan lingkungan yang tidak dibuatbuat (alami) makan pendidikan yang dimaksud terakhir ini berpengaruh positif
terhadap perkembangan anak.
Sistem pendidikan Indonesia adalah suatu sistem pendidikan yang
diselenggarakan serentak di Indonesia. Pendidikan di Indonesia menjadi
tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
(Kemdikbud), dahulu bernama Departemen Pendidikan Nasional Republik
Indonesia (Depdiknas). Di Indonesia, semua penduduk wajib mengikuti
program wajib belajar pendidikan dasar selama sembilan tahun, enam tahun

di sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah dan tiga tahun di sekolah menengah


pertama/madrasah tsanawiyah. Saat ini, pendidikan di Indonesia diatur melalui
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Pendidikan di Indonesia terbagi ke dalam tiga jalur utama, yaitu formal,
nonformal, dan informal. Pendidikan juga dibagi ke dalam empat jenjang, yaitu
anak usia dini, dasar, menengah, dan tinggi.
Di dalam sistem pendidikan terdapat pula kurikulum. Kurikulum
merupakan perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan
oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran
yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang
pendidikan.
Berikut kurikulum yang pernah diterapkan di Indonesia:
1. Kurikulum 1947
2. Kurikulum 1952
3. Rencana Kurikulum 1964 dan Kurikulum 1964
4. Kurikulum 1968
9
5. Kurikulum 1975
6. Kurikulum 1984
7. Kurikulum 1994
8. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004
9. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006
10. Kurikulum 2013
Asas pendidikan memiliki arti hukum atau kaidah yang menjadi acuan kita
dalam melaksanakan kegiatan pendidikan. Dalam masalah ini, berturut-turut akan
dibicarakan dua asas pendidikan yang berlaku di Indonesia:
1. Asas Tut Wuri Handayani
2. Asas belajar sepanjang hayat
1. Asas Tut Wuri Handayani
Asas Tut Wuri Handayani merupakan gagasan yang mula-mula dikemukakan
oleh Ki Hajar Dewantara seorang perintis kemerdekaan dan pendidikan nasional. Tut
Wuri Handayani mengandung arti pendidik dengan kewibawaan yang dimiliki
mengikuti dari belakang dan memberi pengaruh, tidak menarik-narik dari depan,
membiarkan anak mencari jalan sendiri, dan bila anak melakukan kesalahan baru
pendidik membantunya (Hamzah, 1991:90). Gagasan tersebut dikembangkan Ki
Hajar Dewantara pada masa penjajahan dan masa perjuangan kemerdekaan. Dalam

era kemerdekaan gagasan tersebut serta merta diterima sebagai salah satu asas
pendidikan

nasional

Indonesia

(Jurnal

Pendidikan,

No.

2:24).

Asas Tut Wuri Handayani memberi kesempatan anak didik untuk melakukan usaha
sendiri, dan ada kemungkinan mengalami berbuat kesalahan, tanpa ada tindakan
(hukuman) pendidik (Karya Ki Hajar Dewantara, 1962:59). Hal itu tidak menjadikan
masalah, karena menurut Ki Hajar Dewantara, setiap kesalahan yang dilakukan anak
didik akan membawa pidananya sendiri, kalau tidak ada pendidik sebagai pemimpin
yang mendorong datangnya hukuman tersebut. Dengan demikian, setiap kesalahan
yang dialami anak tersebut bersifat mendidik.
Menurut asas tut wuri handayani, yakni:
1. Pendidikan dilaksanakan tidak menggunakan syarat paksaan.
2. Pendidikan adalah penggulowenthah yang mengandung makna: momong,
among, ngemong (Karya Ki Hajar Dewantara, hal. 13). Among mengandung arti
mengembangkan kodrat alam anak dengan tuntutan agar anak didik dapat
mengembangkan hidup batin menjadi subur dan selamat. Momong mempunyai
arti mengamat-amati anak agar dapat tumbuh menurut kodratnya. Ngemong
berarti kita harus mengikuti apa yang
10 ingin diusahakan anak sendiri dan
memberi bantuan pada saat anak membutuhkan.
3. Pendidikan menciptakan tertib dan damai (orde en vrede).
4. Pendidikan tidak ngujo (memanjakan anak).
5. Pendidikan menciptakan iklim, tidak terperintah, memerintah diri sendiri dan
berdiri

di

atas

kaki

sendiri

(mandiri

dalam

diri

anak

didik.

2. Asas Belajar Sepanjang Hayat


Pendidikan Indonesia bertujuan meningkatkan kecerdasan, harkat, dan
martabat bangsa, mewujudkan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas, mandiri hingga mampu membangun diri
sendiri dan masyarakat sekelilingnya, memenuhi kebutuhan pembangunan dan
bertanggung jawab atas pembangunan bangsa (GBHN, 1993:94). Gambaran tentang
manusia Indonesia itu dilandasi pandangan yang menganggap manusia sebagai suatu
keseluruhan yang utuh, atau manusia Indonesia seutuhnya, keseluruhan segi-segi
kepribadiannya merupakan bagian-bagian yang tak terpisahkan satu dengan yang lain
atau merupakan suatu kebulatan. Oleh karena itu, pengembangan segi-segi
kepribadian melalui pendidikan dilaksanakan secara selaras, serasi, dan seimbang.

Untuk mencapai integritas pribadi yang utuh harus ada keseimbangan dan
keterpaduan dalam pengembangannya.
Keseimbangan dan keterpaduan dapat dilihat dari segi:
1. Jasmani dan rohani; jasmani meliputi: badan, indera, dan organ tubuh yang
lain; sedangkan rohani meliputi: potensi pikiran, perasaan, daya cipta, karya,
dan budi nurani.
2. Material dan spiritual; material berkaitan dengan kebutuhan sandang,
pangan, dan papan yang memadai; sedangkan spiritual berkaitan dengan
11
kebutuhan kesejahteraan dan kebahagiaan
yang sedalam-dalamnya dalam

kehidupan batiniah.
3. Individual dan sosial; manusia mempunyai kebutuhan untuk memenuhi
keinginan pribadi dan memenuhi tuntutan masyarakatnya.
4. Dunia dan akhirat; manusia selalu mendambakan kebahagiaan hidup di
dunia dan akhirat sesuai dengan keyakinan agam masing-masing.
5. Spesialisasi dan generalisasi; manusia selalu mendambakan untuk memiliki
kemampuan-kemampuan yang umumnya dimiliki orang lain, tetapi juga
menginginkan

kemampuan

khusus

bagi

dirinya

sendiri.

Untuk mencapai integritas pribadi yang utuh sebagaimana gambaran


manusia Indonesia seutuhnya sesuai dengan nilai-niai Pancasila, Indonesia
menganut asas pendidikan sepanjang hayat.
Dengan menerapkan pendidikan sepanjangang hayat, pendidikan
sepanjang hayat ini dapat memungkinkan tiap warga negara Indonesia:
1. Mendapat kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri dan
kemandirian sepanjang hidupnya.
2. Mendapat kesempatan untuk memanfaatkan layanan lembagalembaga pendidikan yang ada di masyarakat. Lembaga pendidikan
yang ditawarkan dapat bersifat formal, informal, non formal.
3. Mendapat kesempatan mengikuti program-program pendidikan
sesuai bakat, minat, dan kemampuan dalam rangka pengembasngan
pribadi secara utuh menuju profil Manusia Indonesia Seutuhnya
(MIS) berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
4. Mendpaat kesempatan mengembangkan diri melalui proses
pendidikan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu sebagaimana
tersurat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun
1989.
12

BAB III
METODOLOGI OBSERVASI
13

3.1. Tujuan Observasi


Berikut tujuan dari obeservasi ini:
1. Untuk mengetahui visi, misi dan tujuan dari SMA Negeri 1 Cibinong.
2. Untuk mengetahui sistem pendidikan yang digunakan di SMA Negeri 1
Cibinong.
3. Dapat mengetahui aliran serta asas pendidikan yang digunakan oleh SMA
Negeri 1 Cibinong.
3.2. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2015 dan
diadakan di SMA Negeri 1 Cibinong.
3.3. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam Penelitian ini adalah metode kualitatif.
3.4. Sumber Data
Observasi ini dilakukan dengan mewawancarai salah satu guru yang
menjabat sebagai kesiswaan bidang kurikulum di SMA Negeri 1 Cibinong yaitu
Dra. Dian T. Amperwati.

BAB IV
DESKRIPSI DATA
Berdasarkan wawancara yang telah kami lakukan bersama Dra. Dian T.
Amperawati, berikut pemaparan hasil wawancara kami.
A. Visi dan Misi SMA Negeri 1 Cibinong
Visi
Menjadikan SMA Negeri 1 Cibinong unggul dalam prestasi yang berlandaskan
keimanan dan ketakwaan, berkarakter kebangsaan dan berwawasan global.
MISI
1. Meningkatkan pembinaan akhlak atau budi pekerti luhur.
2. Melaksanakan pembelajaran yang efektif bagi semua guru dan siswa.
3. Mengembangkan minat bakat dan kreatifitas peserta didik agar tumbuh dan
berkembang sesuai dengan potensi yang dimiliki.
4. Meningkatkan kompetensi pendidik 14
dan tenaga kependidikan yang bertaraf
internasional.
5. Menciptakan sekolah yang nyaman, aman, disiplin, kreatif dan menyenangkan.

6. Meningkatkan kualitas prestasi siswa yang cerdas dan kompetitif bertaraf


nasional dan internasional.
7. Menghasilkan kualitas lulusan yang mampu berkompetensi baik tingkat regional
maupun global.
8. Menumbuhkembangkan hubungan kerjasama dalam manajemen sekolah.
9. Meningkatkan sarana prasarana sekolah dalam meningkatkan keunggulan
sekolah.
10. Menumbuhkembangkan jaringan informasi baik intranet, internet, maupun
perpustakaan.

B. Tujuan Sekolah SMA Negeri 1 Cibinong


Tujuan sekolah sebagai bagian dari tujuan pendidikan nasional adalah
meningkatkan kecerdasan, pengetahuan,
kepribadian, akhlak mulia, serta
15
keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
Mengacu pada Tujuan Pendidikan Nasional, SMA Negeri 1 Cibinong memiliki:
1. 80% Siswa mampu melaksanakan ibadah yang benar sesuai dengan agama yang
dianut.
2. Peserta didik dapat mengembangkan potensi diri melalui kegiatan ekskul dan
mendapat juara tingkat kabupaten atau propinsi atau nasional.
3. 90% guru dapat menyelesaikan tugas mengajarnya dengan baik meliputi tugas
administrasi persiapan, kehadiran dalam pelaksanaan maupun evaluasi PBM.
4. 80% siswa peserta lomba bidang non akademik mendapatkan nomor kejuaraan
tingkat Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.
5. 20% siswa peserta Olimpiade Sains tingkat Propinsi menjadi kelompok 10 besar
terbaik.
6. Penurunan 20% pelanggaran tata tertib siswa per tahun.
7. Team Work yang kompak dan cerdas dalam setiap pelaksanaan kegiatan
program sekolah tercapai 100%.
8. Peningkatan 10% hubungan kerja sama dengan stakeholders dalam kegiatan
sekolah dari tahun ke tahun.
9. Memiliki fasilitas multimedia yang memadai untuk proses belajar mengajar.
10. Pelayanan administrasi berbasis ICT.
11. Meningkatkan kemampuan berbahasa asing 10% setiap tahun melalui Toeic &
Toefl
12. Penambahan Ruang Belajar untuk fasilitas pendidikan
13. 80% siswa di terima di Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta melalui jalur
undangan maupun ujian tulis.

16

C. Sistem Pendidikan yang digunakan di SMA Negeri 1 Cibinong


Berdasarkan hasil wawancara yang kami lakukan bersama Dra. Dian T.
Amperawati, sistem pendidikan yang digunakan di lingkungan SMA Negeri 1 Cibinong
yakni:
a. SMA Negeri 1 Cibinong menggunakan jalur pendidikan formal.
b. SMA Negeri 1 Cibinong menggunakan sistem student center.
c. SMA Negeri 1 Cibinong menggunakan kurikulum 2013.

BAB V
17
PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil observasi yang kami lakukan dengan cara mewawancarai


salah satu staf kurikulum SMA Negeri 1 Cibinong, yaitu Dra. Dian T. Amperawati dapat
dikatakan bahwa sekolah ini menggunakan kurikulum 2013. Penggunaan kurikulum 2013
pada sekolah ini memberi dampak kepada sistem pengajaran yang berpusat pada siswa
atau yang biasa disebut student center. Seperti yang kita ketahui bahwa pembelajaran
dalam kurikulum 2013 menuntut banyak peran dari para siswa dalam sistem

pembelajaran. Oleh karena itu, Kurikulum 2013 membuat para siswa harus bersikap lebih
kreatif dalam mengembangkan diri agar tidak tertinggal karena selain dituntut kreatif,
para siswa tentu saja harus mandiri dalam proses pembelajaran karena para guru hanya
bertugas sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran.
Kurikulum 2013 menurut kami sudah mengarah pada aliran pendidikan
konvergensi. Aliran konvergensi merupakan gabungan dari aliran-aliran
nativisme dengan empirisme, aliran ini menggabungkan pentingnya hereditas
dengan

lingkungan

sebagai

faktor-faktor

yang

berpengaruh

dalam

perkembangan manusia, tidak hanya berpegang pada pembawaan, tetapi juga


kepada faktor yang sama pentingnya yang mempunyai andil lebih besar dalam
menentukan masa depan seseorang.
Karakteristik aliran pendidikan konvergensi berpendapat bahwa di
dalam perkembangan individu itu baik dasar atau pembawaan maupun
lingkungan memainkan peranan penting. Bakat sebagai kemungkinan telah ada
pada masing-masing individu,akan tetapi bakat yang sudah tersedia itu perlu
menemukan lingkungan yang sesuai supaya dapat berkembang.
Karena itu teori W. Stern disebut teori konvergensi (konvergen artinya
memusat kesatu titik). Jadi menurut teori konvergensi:
1. Pendidikan mungkin dilaksanakan.
2. Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada
anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah
18 baik.
berkembangnya potensi yang kurang
3. Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.

Konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan


yang tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia. Meskipun demikian
terdapat variasi mengenai faktor-faktor mana yang paling penting dalam
menentukan tumbuh kembang itu. Seperti telah dikemukakan bahwa variasivariasi itu tersecrmin antara lain dalam perbedaan pandangan tentang strategi
yang tepat untuk memahami perilaku manusia. Demikian pula halnya dalam
belajar mengajar; variasi pendapat itu telah menyebabkan munculnya berbagai

teori belajar mengajar dan atau teori/model mengajar. Sebagai contoh dikenal
berbagai pendapat tentang model-model mengajar seperti rumpun model
umpan model belajar tuntas, model belajar control diri sendiri, model belajar
simulasi. Model belajar pemrosesan informasi dan lain-lain. Dari sisi-sisi lain,
variasi pendapat itu juga melahirkan berbagai pendapat gagasan tentang
belajar mengajar, seperti peran guru sebagai fasilitator atau informasi, teknik
penilaian pencapaian siswa dengan tugas objektif atau tes esai, perumusan
tujuan pengajaran yang sangat behavior, penekanan pada peran teknologi
pengajaran. Dengan adanya variasi mengajar tersebut akan lebih mudah untuk
lebih ke depan proses belajar mengajar akan semakin lancar dan berkualitas.
Pengaruh aliran pendidikan konvergensi terhadap pendidikan di
Indonesia dimulai pada masa revolusi kemerdekaan Konvergensi bukanlah hal
yang baru dalam sistem pendidikan formal di Indonesia. Pengaruh paham ini
sudah terlihat sejak pertama kali dirumuskannya sistem pendidikan nasional di
Indonesia oleh Ki Hajar Dewantara. Secara eksplisit Ki Hajar Dewantoro pernah
menyatakan dalam tulisannya bahwa segala alat, usaha, dan cara pendidikan
harus sesuai dengan kodratnya keadaan. Selain itu Ki Hajar Dewantara juga
mengatakan, Pendidikan itu hanya suatu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya
anak-anak kita. Dari pernyataan-pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa
selain menyadari sangat pentingnya pendidikan bagi proses tumbuhkembangnya
karakter dan kemampuan seseorang, beliau juga mengakui adanya peran yang
cukup penting dari faktor dasar/pembawaan.
19

Menurut hasil observasi kami, SMA Negeri 1 Cibinong juga menerapkan


aliran pendidikan modern yakni aliran rekonstruksionalisme. Aliran ini berasal
dari bahasa inggris Rekonstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam
konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionisme merupakan suatu aliran
yang berusaha merombak tata susunan lama dengan membangun tata susunan
hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme pada
prinsipnya sepaham dengan aliran parennialisme yaitu berawal dari krisis
kebudayaan modern. Kedua aliran tersebut memandang bahwa keadaan
sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh
kehancuran,kebingungan,dan kesimpang siuran. Meskipun demikian,prinsip

yang dimiliki aliran ini tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran
perennialisme. Aliran perennialisme memiliki cara tersendiri, yakni dengan
kembali ke alam kebudayaan lama (regressive road culture) yang mereka
anggap paling ideal .Sementara itu, aliran rekonstruksionisme menempuhnya
dengan jalan berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai
tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umat manusia.
Untuk mencapai tujuan tersebut, rekontruksionisme berupaya mencapai
kesepakatan antar sesama manusia agar dapat mengatur tata kehidupan manusia
dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. Maka ,proses dan lembaga
pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme. Perlu merombak tata susunan
lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru.Untuk tujuan
tersebut, diperlukan kerja sama antar umat manusia.
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan
dunia merupakan tugas semua umat manusia. Karenanya, pembinaan kembali
daya intelektual dan spiritual yang sehat melalui pendidikan yang tepat akan
membina kembali manusia dengan nilai dan nirma yang benar pula demi
generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru
dalam pengawasan umat manusia. Disamping itu, aliran ini memiliki persepsi
bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur dan
20

diperintahkan oleh rakyat cara demokratis, bukan dunia yang dikuasai oleh
golongan tertentu, cita-cita demokrasi yang sesumgguhnya tidak hanya teori,
tetapi mesti diwujudkan menjadi kenyataan, sehingga mampu meningkatkan
kualitas kesehatan, kesejahteraan, dan kemakmuran serta keamanan masyarakat
tampak

membedakan

warna

kulit,

keturunan,

nasionalisme,

agama

(kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.


Asas pendidikan yang digunakan dalam sistem pembelajaran di SMA
Negeri 1 Cibinong yakni menggunakan Asas Tut Wuri Handayani. Asas tut wuri
handayani merupakan asas yang dipelopori oleh bapak pendidikan yakni Ki
Hajar Dewantara.

Asas Tut Wuri Handayani mengandung arti pendidik dengan kewibawaan yang
dimiliki mengikuti dari belakang dan memberi pengaruh, tidak menarik-narik dari
depan, membiarkan anak mencari jalan sendiri, dan bila anak melakukan kesalahan baru
pendidik membantunya (Hamzah, 1991:90). Gagasan tersebut dikembangkan Ki Hajar
Dewantara pada masa penjajahan dan masa perjuangan kemerdekaan. Dalam era
kemerdekaan gagasan tersebut serta merta diterima sebagai salah satu asas pendidikan
nasional Indonesia (Jurnal Pendidikan,No.2:24).
Asas Tut Wuri Handayani memberi kesempatan anak didik untuk melakukan usaha
sendiri, dan ada kemungkinan mengalami berbuat kesalahan, tanpa ada tindakan
(hukuman) pendidik (Karya Ki Hajar Dewantara, 1962:59). Hal itu tidak menjadikan
masalah, karena menurut Ki Hajar Dewantara, setiap kesalahan yang dilakukan anak
didik akan membawa pidananya sendiri, kalau tidak ada pendidik sebagai pemimpin
yang mendorong datangnya hukuman tersebut. Dengan demikian, setiap kesalahan yang
dialami anak tersebut bersifat mendidik.
Menurut asas tut wuri handayani, yakni:
1. Pendidikan dilaksanakan tidak menggunakan syarat paksaan.
2. Pendidikan adalah penggulowenthah yang mengandung makna: momong,
among, ngemong (Karya Ki Hajar Dewantara, hal. 13). Among mengandung arti
mengembangkan kodrat alam anak dengan tuntutan agar anak didik dapat
21

mengembangkan hidup batin menjadi subur dan selamat. Momong mempunyai


arti mengamat-amati anak agar dapat tumbuh menurut kodratnya. Ngemong
berarti kita harus mengikuti apa yang ingin diusahakan anak sendiri dan
memberi bantuan pada saat anak membutuhkan.
3. Pendidikan menciptakan tertib dan damai (orde en vrede).
4. Pendidikan tidak ngujo (memanjakan anak).
Kami beranggapan Asas Tut Wuri lah yang dilaksanakan oleh SMA Negeri 1
Cibinong karena dari sistemnya pembelajarannya sendiri, guru sebagai fasilitator yang
terus mendukung daya kembang anak, serta menciptakan insan-insan yang berkarakter.
Namun menurut kami, asas pendidikan sepanjang hayat juga berpengaruh di kehidupan
siswa sehari-hari, asas pendidikan sepanjang hayat menurut kami sangat dikembangkan
di lingkungan keluarga. Dengan adanya asas pendidikan sepanjang hayat mampu
mendorong para siswa untuk bersemangat dalam menempuh pendidikan di sekolah.
Sehingga, proses belajar mengajar di sekolah yang menerapkan asas tut wuri handayani
pun dapat berjalan dengan baik.

Menurut narasumber kami, Kurikulum 2013 yang diterapkan di SMA Negeri 1


Cibinong sudah berjalan dengan cukup baik. Hal ini dapat dilihat dari antusias para
siswanya yang tetap mencari materi-materi pembelajaran dengan menghubungi guru
mata pelajaran dan meminta jam tambahan untuk membahas materi-materi yang
menurut para siswanya sulit. Beliau juga mengatakan dengan adanya antusias dari para
siswa, sekolah akan memfasilitasi dengan menyediakan kelas tambahan di hari Sabtu
yang materi pembelajarannya bukan hanya tentang materi-materi yang mereka pelajari.
Namun, kelas tambahan tersebut akan dipergunakan para guru di SMA Negeri 1
Cibinong untuk menciptakan siswa menjadi lebih siap menghadapi dunia perkuliahan
dan agar lebih terbiasa saat kuliah nanti.

Hal ini mencerminkan bahwa Kurikulum

2013 sistem pembelajrannya lebih mengarah kepada student center yakni para siswa
diajarkan untuk berpikir kreatif dan kritis terhadap materi pembelajaran yang dilakukan.
Visi, misi dan tujuan dari SMA Negeri 1 Cibinong menurut kami sudah
memenuhi akan kebutuhan pendidikan
di masyarakat dalam era globalisasi ini.
22
Hal ini dapat kita bandingkan dengan misi pendidikan nasional yakni:
Misi Pendidikan Nasional
1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan
yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia
2. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh
sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar
3. Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk
mengoptimalkan pembentukkan kepribadian yang bermoral.
4. Meningkatkan keprofesional dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat
pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai
berdasarkan standar nasional dan global
5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan
berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik
Indonesia

BAB VI
23

PENUTUP
6.1Kesimpulan
1. Setiap sekolah menggunakna sistem dan aliran yang berbeda-beda.
2. SMA Negeri 1 Cibinong menggunakan asas tut wuri handayani.
3. SMA Negeri 1 Cibinong mengikuti aliran konvergensi dan juga aliran
rekonstruksionalisme karena kurikulum yang digunakan adalah kurikulum 2013.
4. Penggunaan kurikulum 2013 pada sekolah ini memberi dampak kepada sistem
pengajaran yang berpusat pada siswa atau yang biasa disebut student center.
Seperti yang kita ketahui bahwa pembelajaran dalam kurikulum 2013 menuntut
banyak peran dari para siswa dalam sistem pembelajaran.

6.2Saran
1. Dalam melaksanakan pembelajaran sebaiknya SMA Negeri 1 Cibinong juga
lebih terpusat terhadap siswa-siwa yang memang secara akademis kurang dan
sosialisasinya kurang. Hal ini dapat terjadi karena tidak semua anak yang
memiliki akademis yang kurang yang mampu bersosialisasi dengan baik bahkan
dengan gurunya sekalipun.
2. Dalam melaksanakan Kurikulum 2013 sebaiknya SMA Negeri 1 Cibinong
memerhatikan beberapa aspek yakni Kurikulum 2013 memang kurikulum yang
lebih mengedepankan kemandirian serta kreativitas dari para siswanya. Namun,
perlu

diperhatikan

juga

terhadap

guru-guru

yang

mungkin

menyalahgunakan kebijakan tersebut dan malah sering tidak masuk kelas.

DAFTAR PUSTAKA
24

saja

Amich, Alhumami. 2010. Pendidikan Sebagai Medium Enkulturasi (online). http://


Amich Alhumami.blogspot.com/2010/ wahana sekolah.html diakses pada Senin, 21
Desember 2015. 17.00 WIB.
Arifin, M.. 2003. Pendidikan sebagai suatu sistem. (online). Jakarta: Golden Terayon
Press _ riski amalia putri _ Komunitas Blogger Unsri.htm /diakses pada Senin, 21
Desember 2015. 16.30 WIB.
Joseph, Mbulu, dkk.. 2005. Pengantar Pendidikan. Malang: Laboratorium Teknologi
Pendidikan.
Redja Mudyaharjo. 2008. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Tamalene. 2010. Pengantar Pendidikan .bahan ajar FKIP Universitas Khairun : tidak di
publikasikan
Tirtarahardja, Umar dan La Sula. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
https://www.academia.edu/4422523/BAB_III_METODE_PENELITIAN_3.1._Lokasi_
Penelitian diakses pada Senin, 21 Desember 2015. 15.00 WIB.

25