Anda di halaman 1dari 21

1

MAKALAH KOLOKIUM
Nama Pemrasaran/NIM
Departemen
Pembahas 1/NIM
Dosen Pembimbing/NIP
Judul Rencana Penelitian
Tanggal dan Waktu

: Umi Athiah/I34100136
: Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
: Putri Nurgandini/I34100039
: Ir Hadiyanto, MSi/19621203 198703 1 001
: Hubungan Persepsi Penyuluh Pertanian dengan Pemanfaatan
Cyber extension
: Jumat, 14 Maret 2014, 15.00 16.00 WIB

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kontribusi terbesar dalam kegiatan perekonomian Indonesia terdapat pada sektor
pertanian. Apriyanto (2012) dalam Pratiwi (2013) menyebutkan bahwa kontribusi pertanian dalam
pembangunan ekonomi adalah penyerap tenaga kerja, memberikan kontribusi terhadap
pendapatan negara, kontribusi dalam peyediaan pangan, pertanian sebagai penyedia bahan baku,
kontribusi dalam bentuk kapital, dan pertanian sebagai sumber devisa. Hal ini harus didukung oleh
keberdayaan petani dalam meningkatkan produktivitasnya. Inovasi teknologi pertanian sangat
dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas, namun kemampuan aksesibilitas petani terhadap
teknologi informasi masih sangat lemah dan terbatas. Menurut Sumardjo et al. (2010) rendahnya
tingkat kekosmopolitan atau kemampuan petani untuk membuka diri terhadap suatu pembaharuan
dan atau informasi yang berkaitan dengan unsur pembaharuan juga semakin memperburuk
kondisi petani dalam membuat keputusan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa peran penyuluhan
dianggap sangat penting sebagai tonggak bagi Kementrian Pertanian untuk melakukan
pengembangan sistem informasi yang tepat guna. Dengan demikian, sistem penyuluhan yang
diterapkan ke petani saat ini perlu dibenahi. Penggunaan strategi penyuluhan yang tepat sangat
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan petani terutama informasi pasar dan inovasi teknologi
pertanian. Penyuluh dituntut untuk kompeten dalam menyusun strategi penyuluhan.
Menurut database Cyber extension (2013) rekapitulasi jumlah Penyuluh Pertanian
Pegawai Negeri Sipil (PNS) yaitu 28.494 orang, Penyuluh Swadaya di Indonesia yaitu 8.380
orang, Penyuluh THL-TB 21.249 orang dan tersebar di 33 provinsi. Dapat dikatakan bahwa jumlah
keseluruhan penyuluh kurang lebih sebanyak 58.000 orang, sementara materi penyuluhan yang
disampaikan melalui media cetak seperti koran maupun leaflet akan banyak kendala karena biaya
untuk percetakan dan pendistribusian yang cukup besar. Demikian juga kalau disampaikan melalui
media elektronik seperti televisi dan radio yang mayoritas berisi acara hiburan sehingga
penayangan penyuluhan melalui media elektronik kadangkala tidak tepat waktu dan tempat. Selain
itu pendistribusian materi penyuluhan melalui media elektronik memerlukan biaya yang sangat
besar. Oleh karena itu diperlukan media untuk memudahkan sistem penyuluhan pertanian
sehingga informasi tersampaikan ke petani secara efektif dan efisien.
Pada tahun 2009, Kementrian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan
Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) telah memfasilitasi media on-line yang dinamakan
cyber extension. Cyber extension merupakan sistem informasi penyuluhan pertanian melalui
media internet yang dibangun untuk mendukung penyediaan materi penyuluhan dalam
memfasilitasi proses pembelajaran agribisnis pelaku utama dan pelaku usaha. Cyber extension
tidak lagi hanya sebagai nama sebuah website, tapi lebih dimaknai sebagai suatu program
terobosan dalam penyediaan informasi pertanian melalui media on-line. Pengembangan cyber
extension secara umum bertujuan untuk mengembangkan sistem informasi pertanian berbasis
web terpadu, terintegrasi, tepat guna dan bermanfaat bagi penyuluh, kelembagaan penyuluhan
serta para pelaku agribisnis ataupun masyarakat pada umumnya.
Menurut Sumardjo et al. (2010) cyber extension dianggap perlu diimplementasikan untuk
mempertemukan lembaga penelitian, pengembangan, dan pengkajian dengan diseminator inovasi
(penyuluh), pendidik, petani, dan kelompok stakeholders lainnya yang masing-masing memiliki
kebutuhan dengan jenis dan bentuk informasi yang berbeda sehingga dapat berperan secara

2
sinergis dan saling melengkapi. Cyber extension merupakan bentuk media pertukaran informasi
yang dianggap memiliki kelebihan karena bersifat interaktif dan dapat mengatasi hambatan ruang
dan waktu.
Berdasarkan Undang-undang No. 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan pasal 31 ayat
1 diamanatkan bahwa untuk meningkatkan kapasitas lembaga penyuluhan dan kinerja
penyuluhan, diperlukan sarana dan prasarana yang memadai agar penyuluhan dan kinerja
penyuluhan dapat diselenggarakan secara efektif dan efisien. Selain itu terdapat Peraturan Menteri
Pertanian No. 2 tahun 2008 pasal 8 bahwa penyuluhan pertanian melalui website merupakan
salah satu tugas penyuluh pertanian terutama bagi penyuluh pertanian yang telah menyandang
jabatan fungsional sebagai Penyuluh Pertanian Ahli. Penyuluh dituntut untuk mampu
menggunakan fasilitas media on-line yang disediakan sehingga sistem kerja cyber extension
sampai ke petani.
Cyber extension dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pelayanan data dan informasi
penyuluhan yang memadai sehingga dapat memfasilitasi proses pembelajaran penyuluh. Selain
itu, melalui cyber extension penyuluh dapat berinteraksi dengan penyuluh lain, pelaku utama, dan
pelaku usaha lainnya sehingga komunikasi lebih praktis. Cyber extension juga dapat dimanfaatkan
oleh petani untuk memperoleh informasi pertanian yang antara lain meliputi teknologi budidaya,
pola tanam, jadwal tanam varietas baru dan produksi tinggi, komoditas yang sedang dibutuhkan
konsumen, harga pasar dan lain-lain. Hal ini dapat mendukung petani untuk mendapatkan
informasi sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan teknologi. Pemanfaatan cyber extension
diharapkan dapat mengatasi kesenjangan informasi antara petani pemasok dengan petani
pemasar serta dengan pihak yang terlibat dalam kegiatan pengembangan pertanian.
Hasil penelitian Permatasari (2013) menyatakan bahwa pemanfaatan cyber extension di
kalangan petani masih belum optimal. Hal ini dikarenakan mayoritas petani masih menggunakan
media konvensional dan komunikasi secara interpersonal. Selain itu petani masih sulit
membangun networking melalui cyber extension karena ketidakmampuan petani dalam
menggunakan cyber extension. Disisi lain juga harus diketahui pemanfaatan cyber extension di
kalangan penyuluh, sehingga dapat diketahui keefektivan implementasi cyber extension. Hasil
penelitian yang berkaitan dengan pemanfaatan media oleh penyuluh yaitu dalam penelitian Anwas
(2009) terdapat faktor-faktor yang memengaruhi pemanfaatan media oleh penyuluh secara intensif
yaitu tingkat pendidikan formal, dukungan keluarga, dan tingkat kepemilikan media komunikasi dan
informasi. Hal ini mengindikasikan bahwa ketersediaan media komunikasi memengaruhi
pemanfaatan media.
Balai Penyuluh Pertanian Peternakan Perikanan dan Kehutanan (BP3K) merupakan balai
penyuluhan ditingkat kecamatan yang dijadikan sebagai percontohan kelembagaan penyuluhan
yang ideal di tingkat kecamatan. Balai Penyuluh ini memiliki tugas untuk menyediakan informasi
mengenai teknologi pertanian, pasar dan permodalan kepada petani melalui penyuluh. Informasi
tersebut disalurkan melalui kegiatan penyuluhan. Balai Penyuluh Pertanian Peternakan Perikanan
dan Kehutanan (BP3K) di wilayah IV Cibinong ini merupakan salah satu balai yang mengikuti
program kegiatan yang dilaksanakan oleh Kementrian Pertanian, salah satunya yaitu program
implementasi cyber extension. Namun seberapa jauh cyber extension dimanfaatkan oleh penyuluh
pertanian di Balai Penyuluhan Pertanian tergantung dari anggapan penyuluh mengenai media
cyber extension dan karakteristik masing-masing penyuluh. Oleh karena itu untuk mengetahui
sejauh mana pemanfaatan cyber extension di kalangan penyuluh, maka penting untuk dianalisis
dianalisis hubungan persepsi penyuluh pertanian dengan pemanfaatan media cyber
extension.
Rumusan Masalah
Karakteristik yang ada pada suatu media inovasi dapat memengaruhi penilaian seseorang
terhadap media tersebut. Cyber extension merupakan suatu inovasi dimana inovasi tersebut
memiliki lima karakteristik menurut (Rogers 2003 diacu Mulyandari 2011) yaitu keuntungan relatif,
kerumitan penggunaan, kesesuaian atau tidaknya dengan kebutuhan, kemudahan untuk
diaplikasikan, kemudahan untuk dilihat hasilnya. Karakteristik atau ciri yang melekat pada sesuatu
menimbulkan persepsi di kalangan penyuluh saat memanfaatkan cyber extension. Untuk itu perlu
dianalisis Bagaimana persepsi penyuluh mengenai karakteristik cyber extension?

3
Persepsi cyber extension selain dipengaruhi oleh karakteristik inovasi itu sendiri juga dapat
berhubungan dengan karakteristik yang melekat pada individu. Karakteristik setiap penyuluh yang
berada di Balai Penyuluhan Pertanian Peternakan Perikanan dan Kehutanan (BP3K) masingmasing berbeda. Umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, kepemilikan media ,
dan lama menjadi penyuluh dapat berhubungan dengan persepsi setiap penyuluh mengenai cyber
extension. Oleh karena itu, penting untuk dianalisis lebih jauh Bagaimana hubungan
karakteristik penyuluh pertanian dengan persepsi penyuluh mengenai karakteristik cyber
extension?
Pemanfaatan cyber extension di kalangan penyuluh dapat dilihat dari tingkat manfaat yang
dirasakan dan intensitas pemanfaatan cyber extension. Untuk melihat pengaplikasian cyber
extension yang disediakan Kementrian Pertanian dari dikalangan penyuluh, Sejauh mana
pemanfaatan cyber extension di kalangan penyuluh pertanian?
Tujuan Penelitian
Tujuan Penulisan Penelitian secara umum adalah untuk menganalisis Pengaruh Persepsi
Penyuluh mengenai Cyber extension terhadap Pemanfaatan Media Cyber extension dan secara
khusus bertujuan untuk:
1. Menganalisis persepsi penyuluh mengenai karakteristik cyber extension
2. Menganalisis hubungan karakteristik penyuluh pertanian dengan persepsi penyuluh
mengenai karakteristik cyber extension
3. Menganalisis pemanfaatan cyber extension di kalangan penyuluh pertanian
Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi para pihak yang terlibat,
khususnya kepada :
1. Peneliti untuk menambah pengetahuan mengenai situs cyber extension serta bagaimana
persepsi tiap penyuluh terhadap ciri cyber extension memengaruhi pemanfaatan media
tersebut. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan
referensi dan kajian bagi penelitian selanjutnya mengenai pengaruh persepsi mengenai
cyber extension terhadap pemanfaatan media cyber extension.
2. Kalangan non akademisi, seperti Departemen Pertanian diharapkan dapat bermanfaat
untuk menjalankan program kerja departemen pertanian dan menjadi bahan evaluasi bagi
setiap balai yang bertanggung jawab dibidang penyuluhan sehingga sistem cyber
extension ini dapat terus diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya agar lebih efektif.
3. Bagi penyuluh, khususnya penyuluh pertanian diharapkan dapat menambah pengetahuan
mengenai sejauh mana pemanfaatan cyber extension di kalangan penyuluh dan
mengetahui persepsi tiap penyuluh yang menjadi pengguna cyber.

PENDEKATAN TEORITIS
Tinjauan Pustaka
Cyber extension
1.

Cyber extension sebagai Media dalam Penyuluhan


Menurut Van den Ban dan Hawkins (1999) kemampuan agen penyuluhan untuk
memengaruhi petani mengalami peningkatan, sebagian disebabkan oleh pembangunan dibidang
teknologi komunikasi dan informasi, dan sebagian lagi penggunaan ilmu-ilmu sosial dalam
penyuluhan. Model konvergensi komunikasi yang dirumuskan Rogers dan Kincaid (1981) dalam
Sumardjo et al. (2010) dianggap layak ditempatkan sebagai paradigma dominan dalam
komunikasi inovasi penyuluhan pertanian sesuai dengan hasil uji yang dilakukan Sumardjo dalam
disertasinya pada tahun 1999 yang menunjukkan bahwa model tersebut lebih efisien dan efektif
dalam sistem penyuluhan pertanian. Model komunikasi secara konvergen dianggap sebagai
bentuk komunikasi inovasi dalam penyuluhan pertanian. Hal ini diduga dapat dipercepat prosesnya
apabila didukung oleh aplikasi sistem jaringan teknologi informasi yang handal sehingga terjadi
keterpaduan antara kebutuhan petani dengan kebutuhan pihak-pihak terkait.
Cyber extension adalah adalah mekanisme pertukaran informasi pertanian melalui area
cyber, suatu ruang imajiner-maya di balik interkoneksi jaringan komputer melalui peralatan
komunikasi. Cyber extension ini memanfaatkan kekuatan jaringan, komunikasi komputer dan
multimedia interaktif untuk memfasilitasi mekanisme berbagi informasi atau pengetahuan
(Wijekoon et al. 2009). Jaringan yang digunakan merupakan jaringan internet yang merupakan
salah satu jenis media hibrida. Menurut Vivian (2008) internet merupakan sebuah jaringan dasar
yang membawa pesan. Internet berasal dari sistem komunikasi militer AS yang dibuat pada tahun
1969 yang disebut ARPAnet (Advanced Research Project Agency Network). Lain halnya dengan
istilah web. Web merupakan struktur kode-kode yang mengizinkan pertukaran bukan hanya
antarteks, tetapi juga grafis, video dan audio. Selanjutnya kode-kode tersebut mudah untuk
dipahami orang awam sehingga mereka tidak perlu tau kode tersebut untuk masuk ke isi web.
Selain itu, dasar-dasar kode web diterima secara universal sehingga memungkinkan semua orang
yang memiliki komputer, modem, dan koneksi internet masuk ke dalam web global.
Model komunikasi cyber extension mengumpulkan atau memusatkan informasi yang
diterima oleh petani dari berbagai sumber yang berbeda maupun yang sama dan disederhanakan
dalam bahasa lokal disertai dengan teks dan ilustrasi audio visual yang dapat disajikan atau
diperlihatkan kepada seluruh masyarakat desa terutama petani (Sumardjo et al. 2010). Lebih lanjut
dikatakan bahwa knowledge sharing model (model berbagi pengetahuan) merupakan salah satu
cara yang digunakan untuk memberikan kesempatan kepada anggota suatu kelompok, organisasi,
instansi atau perusahaan untuk berbagi ilmu pengetahuan, teknik, pengalaman, dan ide yang
dimiliki kepada anggota lainnya. Cyber extension diharapkan dapat membantu mewujudkan
jaringan informasi bidang pertanian sampai ditingkat petani dapat diwujudkan.
2.

Implementasi Cyber extension dibeberapa Negara


Hasil penelitian Mulyandari (2011) di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur mengenai cyber
extension terhadap keberdayaan petani menyatakan sebagian besar responden merasakan
manfaat cyber extension sudah sesuai dengan kebutuhan. Petani juga merasakan keuntungan
dari pemanfaatan cyber extension dari segi ekonomi dalam mendukung kegiatan usahatani
apabila dibandingkan dengan teknologi informasi sebelumnya. Keuntungan yang dirasakan sangat
nyata oleh petani yaitu dapat menghemat waktu dan biaya transportasi karena dibantu
pemanfaatan cyber extension. Tingkat pemanfaatan cyber extension pada hasil penelitian ini
sudah sangat baik. Petani menggunakan telepon genggam untuk melakukan kegiatan komunikasi
dengan petani lainnya, petani juga mengakses informasi pasar maupun teknologi melalui online,
selain itu petani juga melakukan promosi produk pertaniannya. Faktor dominan yang secara nyata
memberikan pengaruh positif terhadap tingkat pemanfaatan cyber extension adalah karakteristik
individu dan perilaku (sikap dan keterampilan) petani dalam memanfaatkan teknologi informasi.

5
Selanjutnya, tingkat keberdayaan petani dipengaruhi secara dominan oleh perilaku dalam
memanfaatkan teknologi informasi, tingkat pemanfaatan cyber extension, karakteristik individu
(tingkat kekosmopolitan), persepsi terhadap karakteristik cyber extension, dan faktor lingkungan
(ketersediaan sarana teknologi informasi).
Hasil penelitian Permatasari (2013) menyatakan bahwa pemanfaatan cyber extension di
kalangan petani masih belum optimal. Umumnya petani masih dominan menggunakan media
konvensional dan komunikasi secara interpersonal. Petani belum memiliki kemampuan untuk
membangun networking melalui cyber extension. Persepsi petani pengguna mengenai keuntungan
dari cyber extension berhubungan dengan karakteristik petani pada tingkat pendidikan formal.
Hasil penelitian Anon (2006) di India mengenai pemanfaatan internet untuk melakukan
perdagangan hasil pertanian secara online sudah baik. Penerapan perdagangan secara online
atau dikenal E-choupal dianggap membantu petani mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi,
mengurangi praktik perdagangan yang dilakukan oleh tengkulak, adanya perbedaan harga
komoditas antara perdagangan melalui online dan fisik. Karakeristik komoditas memengaruhi
motivasi pembeli untuk membeli melalui online. kegiatan promosi produk kopi melalui website
menguntungkan petani karena konsumen produk pertanian lebih menganggap kegiatan pembelian
melalui website lebih praktis. Harga yang diberikan melalui perdagangan online tidak
memengaruhi pembeli karena mereka memilih untuk mendapatkan produk lebih cepat
dibandingkan dengan menunggu perdagangan fisik yang memerlukan waktu seminggu. Hal ini
dikarenakan persepsi konsumen terhadap ketersediaan fasilitas dan waktu, kemudahan dan
keuntungan yang dirasakan untuk memperoleh produk tersebut dianggap cepat dan tepat karena
dapat memenuhi kebutuhan dengan segera.
3.

Cyber extension sebagai Inovasi Pertanian


Inovasi pertanian adalah segala sesuatu yang dihasilkan melalui kegiatan penelitian dan
pengkajian pertanian untuk membantu perkembangan pertanian secara umum. Secara umum,
inovasi pertanian dapat berupa produk (varietas benih), pengetahuan (knowledge), maupun alat
dan mesin pertanian (Sumardjo et al. 2010).
Perbedaan tingkat adopsi teknologi umumnya dipengaruhi oleh karakteristik inovasi
berdasarkan teori Rogers (2003) dalam Sumardjo et al. (2010) antara lain dalam aspek (a) tingkat
kemudahan dalam mencoba aspek yang ditawarkan (triability), (b) tingkat keuntungan dari biaya
yang dikeluarkan dengan hasil yang akan diperoleh (relative advantage/efisiensi dan efektivitas),
(c) tingkat kemudahan dari pemahaman dan penerapan inovasi (complexity), (d) kesesuaiannya
dengan kebutuhan dan pengalaman petani, norma masyarakat (compatibility), dan (e) tingkat
kemudahannya dalam pengobservasian hasil/dampak dari penerapan inovasi (observability).
Menurut Mulyandari (2011) cyber extension merupakan suatu bentuk inovasi dalam
komunikasi pertanian, sehingga dapat dikatakan bahwa sarana teknologi informasi selain menjadi
inovasi juga merupakan pembawa inovasi. Berikut akan dijelaskan lebih dalam terkait dengan
karakteristik cyber extension sebagai suatu inovasi.
3.1 Tingkat kemudahan dalam mencoba aspek yang ditawarkan (triability)
Kemudahan dalam mencoba aspek yang ditawarkan adalah seberapa besar kemungkinan
sinergi teknologi informasi dalam implementasi cyber extension dapat dicoba dalam lingkungan
yang terbatas. Dalam satu kasus, untuk mempelajari dasar-dasar website memerlukan periode
waktu yang singkat, namun untuk mempelajari dan memanfaatkan perangkat lunak secara penuh
sangat memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan aplikasi biasa.
Menurut Van den Ban dan Hawkins (1999) kemudahan dicoba ada hubungannya dengan
kemudahan memilah. Sebagai contoh pada kasus petani bahwa petani cenderung untuk
mengadopsi inovasi jika telah dicoba dalam skala kecil di lahannya sendiri dan terbukti lebih baik
daripada mengadopsi dalam skala besar. Inovasi cepat tersebut menyangkut banyak risiko.
3.2 Tingkat keuntungan dari biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang akan diperoleh
(relative advantage/efisiensi dan efektivitas)
Keuntungan relatif teknologi informasi dalam implementasi cyber extension adalah derajat
seberapa lebih baiknya sinergi aplikasi teknologi informasi dalam implementasi cyber extension
yang digunakan dibandingkan dengan saluran atau media yang digantikan. Keuntungan relatif
dapat direpresentasikan dengan nilai ekonomi. Adekoya (2007) dalam Sumardjo et al. (2010)

6
menyatakan bahwa keuntungan yang potensial dari komunikasi cyber extension adalah
ketersediaan yang secara terus menerus, kekayaan informasi (informasi nyaris tanpa batas),
jangkauan wilayah internasional secara instan, pendekatan yang berorientasi kepada penerima,
bersifat pribadi (individual), dan menghemat biaya, waktu, dan tenaga.
Van den Ban dan Hawkins (1999) mengatakan keuntungan relatif dilihat dari kemungkinan
inovasi membuat petani mencapai tujuannya dengan lebih baik, atau dengan biaya yang lebih
rendah daripada yang telah dilakukan sebelumnya. Keuntungan relatif dapat dipengaruhi oleh
pemberian insentif pada petani, misalnya menyediakan benih dengan harga subsidi.
Menurut hasil penelitian Mulyandari (2011) keuntungan nyata yang sangat dirasakan oleh
petani dari adanya cyber extension adalah dalam menghemat waktu dan biaya transportasi karena
dibantu dengan pemanfaatan teknologi informasi khususnya dengan adanya telepon genggam.
Dengan adanya media konvergen, jangkauan pemasaran hasil pertanian juga lebih luas hingga
mencapai luar kota bahkan sudah menjangkau luar pulau dan uar negeri. Keuntungan yang juga
dirasakan petani dengan pemanfaatan teknologi informasi adalah dapat mengakses informasi
sesuai dengan kebutuhan melalui internet.
3.3

Tingkat kemudahan dari pemahaman dan penerapan inovasi (complexity)


Kompleksitas cyber extension adalah sejauh mana sinergi aplikasi teknologi informasi
dalam implementasi cyber extension dianggap sulit dipahami, diterapkan, dan digunakan.
Teknologi informasi cenderung akan diadopsi dalam lingkungan proses pembelajaran apabila
mudah beradaptasi (kompleksitasnya rendah).
Menurut Van den Ban dan Hawkins ( 1999) inovasi sering gagal karena tidak diterapkan
secara benar. Beberapa diantara memerlukan pengetahuan dan keterampilan khusus. Sebagai
contoh adakalanya lebih penting memperkenalkan sekumpulan paket inovasi yang relatif
sederhana tetapi saling berkaitan, walaupun kaitan-kaitan tersebut mungkin sulit dipahami.
3.4

Tingkat Kesesuaiannya dengan kebutuhan dan pengalaman petani, norma masyarakat


(compatibility)
Kompatibilitas dari sinergi aplikasi teknologi informasi dalam implementasi cyber extension
merupakan derajat dimana suatu inovasi dapat konsisten dengan praktik, nilai, dan pengalaman
masa lalu dari pengadopsi potensial. Dalam kasus tertentu, alat web yang lebih memungkinkan
pengguna untuk meng-upload dokumen yang sebelumnya telah dibuat dalam pengolah kata akan
lebih cenderung mudah diadopsi dibandingkan dengan alat web yang masih membutuhkan
instruktur untuk materi kursus yang perlu diketik ulang.
Menurut Van den Ban dan Hawkins (1999) kompatibilitas berkaitan dengan nilai sosial
budaya dan kepercayaan, dengan gagasan yang diperkenalkan sebelumnya, atau dengan
keperluan yang dirasakan oleh petani. Sebagai contoh, petani yang memperoleh tambahan panen
dengan menanam varietas gandum unggul, besar kemungkinan akan menerima varietas padi
unggul yang dianjurkan.
3.5

Tingkat kemudahannya dalam pengobservasian hasil/dampak dari penerapan inovasi


(observability)
Kemudahan sinergi aplikasi teknologi informasi dalam implementasi cyber extension untuk
dilihat hasilnya yaitu seberapa besar sinergi aplikasi teknologi informasi dalam implementasi cyber
extension mampu memberikan hasil yang dapat dilihat. Hasil dari beberapa ide mudah diamati dan
dikomunikasikan kepada orang lain, sedangkan beberapa inovasi sulit untuk diamati dan
dideskripsikan. Kursus secara online dengan mensinergikan aplikasi teknologi informasi
tampaknya sangat mudah dilihat hasilnya dan lebih menguntungkan sehingga lebih cenderung
untuk diadopsi.
Persepsi terhadap Objek
Menurut Desiderato dalam Rakhmat (2004) persepsi adalah pengalaman tentang objek,
peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan
menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensori stimuli).
Hubungan sensai dengan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi. Walaupun

7
begitu, menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi,
ekspektasi, movitasi, dan memori.
Persepsi menurut Van den Ban dan Hawkins (1999) adalah proses menerima informasi
atau stimuli dari lingkungan dan mengubahnya ke dalam kesadaran psikologis. Agen penyuluhan
hanya dapat merencanakan dan menggunakan alat-alat bantu penyuluhan seperti media audio
visual (slide, film, demostrasi lapang, dan lain-lain) dengan baik jika mereka memahami prinsip
dasar penyuluhan.
Menurut DeVito (1997) yang diacu Riyanto (2008) persepsi adalah proses dengan mana
seseorang menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang memengaruhi inderanya. Persepsi
memengaruhi rangsangan (stimuli) atau pesan apa yang diserap dan makna apa yang diberikan
ketika orang mencapai kesadaran. Menurut Riyanto (2008) persepsi dipengaruhi oleh faktor situasi
atau konteks dimana proses persepsi itu berlangsung, baik situasi fisik-alam maupun non-fisik atau
suasana. Beberapa faktor yang termasuk faktor situasi ini antara lain: faktor ekologis, waktu,
suasana (setting), teknologi, dan lingkungan sosial. Menurut Mulyandari (2011) variabel yang dari
persepsi mengenai karakteristik cyber extension yaitu tingkat keuntungan relatif (relative
advantage), tingkat kesesuaian terhadap kebutuhan (compatibility), tingkat kerumitan (complexity),
tingkat kemungkinan dicoba (trialability), dan tingkat kemungkinan diamati hasilnya (observability).
Hasil penelitian Amijaya (2010) menyatakan bahwa persepsi terhadap teknologi informasi
dan kemudahan dalam penggunaannya memengaruhi minat ulang nasabah untuk menggunakan
internet banking. Risiko penggunaan teknologi informasi juga memengaruhi penggunaan internet
banking. Hasil penelitian Permatasari (2013) menyatakan bahwa karakteristik petani dalam tingkat
pendidikan formal menilai tingkat keuntungan relatif lebih tinggi pada cyber extension
dibandingkan dengan media komunikasi interpersonal. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat
hubungan antara karakteristik individu dengan persepsi individu terhadap karakteristik cyber
extension.
Karakteristik Penyuluh
Menurut Anwas (2009) penyuluh adalah individu yang sudah dewasa, oleh karena itu
proses belajar dalam meningkatkan kompetensi penyuluh perlu mengacu pada prinsip-prinsip
pendidikan orang dewasa. Dalam pandangan humanistik ditegaskan bahwa setiap orang dewasa
cenderung telah memiliki pengalaman hidup dan memiliki kebutuhan yang beragam. Orang
dewasa sebagai peserta didik akan belajar apabila sesuai dengan potensi dan kebutuhannya
untuk mempertahankan, meningkatkan, dan mengaktualisasikan dirinya. Penyuluh juga perlu
belajar untuk mempertahankan, meningkatkan, dan mengaktualisasikan dirinya sebagai penyuluh.
Penyuluh pertanian adalah orang yang mengemban tugas untuk memberi dorongan kepada petani
agar mereka dapat mengubah pengetahuan, sikap, dan keterampilannya yang lama menuju ke
cara-cara baru yang lebih baik sesuai dengan kebutuhan dan potensinya serta perkembangan
zaman (Anwas 2009).
Undang-Undang No. 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan
Kehutanan menyebutkan bahwa istilah penyuluh terbagi menjadi tiga yaitu penyuluh Pegawai
Negeri Sipil (PNS), penyuluh swasta, dan penyuluh swadaya. Penyuluh PNS adalah pegawai
negeri sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat
yang berwenang pada satuan organisasi lingkup pertanian, perikanan, atau kehutanan untuk
melakukan kegiatan penyuluhan. Penyuluh swasta adalah penyuluh yang berasal dari dunia usaha
dan/atau lembaga yang mempunyai kompetensi dalam bidang penyuluhan. Penyuluh swadaya
adalah pelaku utama yang berhasil dalam usahanya dan warga masyarakat lainnya yang dengan
kesadarannya sendiri mau dan mampu menjadi penyuluh.
Menurut Sumarjdo (2008a) dalam Anwas (2009) penyuluh harus memiliki kompetensi yang
cukup sesuai tuntutan tersebut. Penyuluh yang kompeten apabila seseorang mampu:
(1) mengerjakan suatu tugas atau pekerjaan penyuluhan dengan terampil untuk memberdayaan
orang-orang dalam upaya meraih kesejahteraan diri, keluarga dan masyarakatnya
(2) mengorganisasikan sistem penyuluhan sehingga efektif memfasilitasi masyarakat dengan
cermat agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya secara mandiri
(3) melakukan tindakan yang tepat bilamana terjadi sesuatu yang berbeda dengan rencana
penyuluhan semula

8
(4) bagaimana menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk memecahkan masalah atau
melaksanakan tugasnya sebagai penyuluh meski dengan kondisi yang berbeda (lokal spesifik)
(5) Mampu mensinergikan kepentingan lokal dengan kepentingan yang lebih luas.
Karakteristik penyuluh menurut Anwas (2009) yaitu umur, pendidikan formal, pengalaman
kerja sebagai penyuluh, motivasi, dan kepemilikan media komunikasi. Menurut Schemerhorn
(1997) dalam Anwas (2009) umur atau usia seseorang berhubungan dengan kemampuan,
kemauan belajar, dan fleksibilitas. Umur juga berhubungan dengan pengalaman, artinya umur
yang tua relatif memiliki pengalaman yang lebih dibandingkan dengan yang muda. Oleh karena itu
umur diduga dapat mempengaruhi terhadap intensitas pemanfaatan media dan tingkat kompetensi
penyuluh. Pendidikan adalah adanya proses belajar yang ditandai dengan adanya perubahan
perilaku baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu
dalam berpikir dan berperilaku. Menurut Mardikanto (1993) dalam Anwas (2009) makin tinggi
tingkat pendidikan seseorang berpengaruh terhadap efisien bekerja dan semakin banyak tahu
cara-cara dan teknik bekerja yang lebih baik dan lebih menguntungkan.
Kepemilikan media komunikasi adalah adalah sejumlah alat komunikasi dan informasi
publik yang dimiliki penyuluh saat penelitian dilakukan. Kemajuan teknologi komunikasi dan
informasi juga telah melahirkan perubahan dan demokratisasi dalam penyuluhan. Kondisi ini
ditandai dengan adanya perubahan dalam berkomunikasi dengan cepat dan mudah baik dengan
sesama penyuluh, pimpinan lembaga penyuluhan, klien (petani), peneliti/pakar, dan pihak-pihak
terkait dalam penyuluhan. Kemudahan akses informasi dan komunikasi dengan pihak terkait ini
diduga akan berpengaruh terhadap intensitas pemanfaatan media dan tingkat kompetensi
penyuluh.Teknologi informasi yang dimiliki pada dasarnya memungkinkan dan memudahkan
penyuluh mengakses informasi yang diperlukan untuk mendukung kesuksesan penyuluhan.
Pengalaman bekerja berarti serangkaian pengetahuan yang dialami individu selama yang
bersangkutan bekerja. Begitu pula pengalaman kerja penyuluh adalah serangkaian pengetahuan,
sikap, dan keterampilan individu yang dialaminya selama yang bersangkutan menjadi penyuluh
(Anwas 2009).
Hasil penelitian Murfiani dan Jahi (2006) menyatakan bahwa rata-rata penyuluh pertanian
berusia dewasa menengah, berpendapatan yang cukup tinggi, memiliki tingkat kekosmopolitan
dan motivasi tinggi banyak mengkonsumsi media, mementingkan kompetensi teknis pertanian dan
kurang menguasai aspek pengembangan modal agribisnis kecil. Hal ini berarti karakteristik
penyuluh berhubungan dengan pemanfaatan media. Dalam penelitian kali ini karakteristik individu
yang memenuhi kriteria penyuluh yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan,
kepemilikan media hibrida, lama menjadi penyuluh.
Pemanfaatan Teknologi Informasi
Pemanfaatan teknologi informasi merupakan manfaat yang diharapkan oleh pengguna
sistem informasi dalam melaksanakan tugasnya, pengukurannya berdasarkan intensitas
pemanfaatan, frekuensi pemanfaataan, dan jumlah aplikasi atau perangkat lunak yang digunakan
(Amijaya 2010).
Hasil penelitian Mulyandari (2013) peubah dominan dari faktor tingkat pemanfaatan cyber
extension yaitu tingkat manfaat yang dirasakan, tingkat pengelolaan informasi berbasis teknologi
informasi, dan kualitas berbagi informasi secara interaktif. Tingkat manfaat yang dirasakan oleh
petani merupakan derajad manfaat cyber extension yang dapat dirasakan oleh petani baik untuk
komunikasi, promosi usahatani, dan akses informasi yang dibutuhkan. Indokator pemanfaatan
cyber extension dalam penelitian ini mengacu kepada penelitian-penelitian sebelumnya. Indikator
yang digunakan yaitu tingkat manfaat yang dirasakan, dan intensitas pemanfaatan cyber
extension. Indikator pemanfaatan cyber extension dijelaskan menurut Mulyandari (2011) yaitu
tingkat manfaat yang dirasakan yaitu ragam atau variasi jenis manfaat cyber extension yang dapat
dirasakan oleh petani dengan menggunakan peralatan berbasis teknologi informasi untuk
mendukung kegiatan usahatani. Intensitas pemanfaatan cyber extension adalah curahan waktu
yang dikeluarkan untuk menggunakan sarana teknologi informasi mendukung kegiatan usahatani.
Menurut Batte et al. (1990) dan Warren et al. (2000) yang diacu Mulyandari (2011)
menyatakan bahwa penerapan teknologi informasi dan komunikasi sangat terkait dengan tingkat
pendidikan, ukuran (skala) usaha pertanian dan efek negatif dari umur petani. Berkaitan dengan
hal tersebut maka Muyandari (2011) menyatakan faktor-faktor yang diduga dominan

9
mempengaruhi tingkat pemanfaatan cyber extension adalah karakteristik individu petani, faktor
lingkungan, persepsi petani terhadap karakteristik cyber extension, dan perilaku dalam
menggunakan sarana teknologi informasi dan komunikasi.
Kerangka Pemikiran
Pemanfaatan media massa untuk komunikasi pertanian terbagi menjadi dua yaitu media
massa modern dan media massa tradisional. Media massa modern terdiri dari 9komputer, jaringan
internet, dan telepon genggam. Karakteristik penyuluh seperti usia, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, kepemilikan media, dan lama menjadi penyuluh dapat berhubungan persepsi
penyuluh terhadap media cyber extension. Persepsi penyuluh mengenai karakteristik cyber
extension yang disebut sebagai inovasi teknologi menurut (Rogers 2003) seperti keuntungan relatif
(relative advantage), kesesuaian (compatibility), kerumitan (complexity ), kemungkinan dicoba
(trialability), dan kemungkinan diamati (observability). Persepsi penyuluh mengenai karakteristik
cyber extension dapat berhubungan dengan tingkat pemanfaatan media cyber extension yang
terdiri dari tingkat pengelolaan informasi, tingkat manfaatan yang dirasakan, dan intensitas
menggunakan media.

Karakteristik
penyuluh (X1)
Usia
Jenis kelamin
Tingkat pendidikan
formal
Tingkat
Pendapatan
Kepemilikan media
Lama menjadi
penyuluh

Persepsi penyuluh
mengenai
karakteristik cyber
extension (X2)
Tingkat keuntungan
relatif
(relative
advantage)
Tingkat kesesuaian
(compatibility)
Tingkat
kerumitan
(complexity)
Tingkat
kemungkinan
dicoba (trialability)
Tingkat
kemungkinan
diamati
(observability)

Pemanfaatan
media cyber
extension (Y)
Tingkat manfaat
yang
dirasakan
Intensitas
menggunakan
media

Keterangan:
berhubungan
Gambar 2 Kerangka Pemikiran
Hipotesis
1. Terdapat hubungan nyata antara karakteristik penyuluh dengan persepsi penyuluh mengenai
karakteristik cyber extension
2. Terdapat hubungan nyata antara persepsi penyuluh mengenai karakteristik cyber extension
dengan tingkat pemanfaatan media cyber extension

10

Definisi Operasional
1. Karakteristik penyuluh yaitu ciri-ciri yang mengambarkan penyuluh yang dapat dilihat dari usia,
jenis kelamin, tingkat pendidikan formal, kepemilikan media, pengalaman menjadi penyuluh.
a. Usia adalah lama hidup penyuluh yang dihitung berdasarkan tanggal lahir sampai dengan
penelitian dilakukan, diukur dalam satuan tahun. Usia diukur berdasarkan rataan usia
penyuluh dari data yang didapat di lapangan. Pengelompokkan usia dibedakan menjadi tua
dan muda. Usia dikelompokkan dan dibedakan dalam skala ordinal.
b. Jenis kelamin adalah identitas seksual yang melekat pada diri seseorang, digolongkan
dengan skala nominal, dikategorikan dalam dua kategori, yaitu laki-laki dan perempuan.
Jenis kelamin dibedakan dengan skala nominal.
Laki-laki
Perempuan
c. Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal terakhir yang pernah atau sedang
dijalani. Tingkat pendidikan diukur berdasarkan rataan penyuluh dari data yang didapat di
lapangan Tingkat pendidikan tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori dan
dikelompokkan dan dibedakan dalam skala ordinal.
lulusan SMA
lulusan D3
lulusan S1, S2,S3
d. Tingkat pendapatan adalah jumlah rupiah pemasukan atau pendapatan yang diperoleh
konsumen dalam sebulan.tingkat pendapatan diukur dalam skala ordinal. Tingkat
pendapatan diukur berdasarkan rataan pendapatan penyuluh dari data yang didapat di
lapangan
e. Kepemilikan media komunikasi modern adalah jenis teknologi informasi dan komunikasi
modern yang dimiliki penyuluh untuk mendukung pemanfaatan cyber extension.
Kepemilikan tersebut dapat dikelompokkan dan dibedakan dalam skala ordinal.
Kepemilikan media dapat diukur dari kepemilikan komputer, telepon genggam berinternet,
dan laptop/tablet.
f.

Lama menjadi penyuluh yaitu jumlah waktu dalam melaksanakan tugas penyuluh hingga
saat wawancara dilakukan yang diukur berdasarkan jumlah tahun lamanya menjadi
penyuluh. Lama menjadi penyuluh diukur berdasarkan rataan lama menjadi penyuluh dari
data yang didapat di lapangan.Pengalaman menjadi penyuluh tersebut digolongkan dan
dibedakan dalam skala ordinal. Pengalaman menjadi penyuluh digolongkan kedalam dua
kategori yaitu lama dan baru.

2. Persepsi terhadap karakteristik cyber extension adalah pandangan terhadap ciri-ciri dari
aplikasi teknologi informasi dalam pemanfaatan cyber extension untuk akses dan pengelolaan
informasi berdasarkan karakteristik inovasi media komunikasi cyber extension meliputi: tingkat
keuntungan relatif, tingkat kesesuaian, tingkat kerumitan, dan tingkat kemungkinan dicoba,
tingkat kemungkinan diamati hasilnya.
a. Tingkat keuntungan relatif cyber extension adalah derajat seberapa lebih baiknya aplikasi
teknologi informasi dalam implementasi cyber extension yang digunakan dari segi
kecepatan dan ekonomis dibandingkan dengan saluran atau media yang digantikan.
Keuntungan relatif teknologi informasi dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori
(Sangat setuju(skor 4), setuju (skor 3), tidak setuju (skor 2), sangat tidak setuju (skor 1)).
Tingkat keuntungan ini dapat diukur menggunakan skala likert.

11
b. Tingkat kesesuaian dengan kebutuhan penyuluh adalah penilaian penyuluh terhadap
ketepatan cyber extension sebagai media untuk mendukung kegiatan penyuluhan.
Kesesuaian teknologi informasi dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori (Sangat
setuju(skor 4), setuju (skor 3), tidak setuju (skor 2), sangat tidak setuju (skor 1)). Tingkat
kesesuaian ini dapat diukur menggunakan skala likert.
c. Tingkat kerumitan cyber extension adalah sejauh mana aplikasi teknologi informasi dalam
implementasi cyber extension dianggap sulit dipahami, diterapkan, dan digunakan.
Kerumitan aplikasi cyber extension dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori (Sangat
setuju(skor 4), setuju (skor 3), tidak setuju (skor 2), sangat tidak setuju (skor 1)). Tingkat
kerumitan ini dapat diukur menggunakan skala likert.
d. Tingkat kemudahan cyber extension untuk dapat dicoba yaitu seberapa besar
kemungkinan sinergi teknologi informasi dalam implementasi cyber extension informasi
dapat dicoba dalam lingkungan yang terbatas. Kemudahan cyber extension untuk dicoba
dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori (Sangat setuju(skor 4), setuju (skor 3), tidak
setuju (skor 2), sangat tidak setuju (skor 1)). Tingkat kemudahan ini dapat diukur
menggunakan skala likert.
e. Tingkat kemudahan sinergi aplikasi teknologi informasi dalam implementasi cyber
extension untuk dilihat hasilnya yaitu seberapa besar sinergi aplikasi teknologi informasi
dalam implementasi cyber extension mampu memberikan hasil yang dapat dilihat.
Keuntungan relatif teknologi informasi dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori
(Sangat setuju(skor 4), setuju (skor 3), tidak setuju (skor 2), sangat tidak setuju (skor 1)).
Tingkat kemudahan ini dapat diukur menggunakan skala likert.
3. Pemanfaatan media cyber extension adalah tingkat kecenderungan penyuluh dalam
menggunakan media cyber extension. Parameter ysng digunakan yaitu:
a. Tingkat manfaat yang dirasakan adalah ragam manfaat cyber extension yang dapat
dirasakan oleh penyuluh dengan menggunakan peralatan berbasis teknologi informasi
untuk mendukung kegiatan penyuluhan. Intensitas pemanfaatan diukur dengan skala
ordinal. Manfaat yang dirasakan terbagi menjadi tiga kategori yaitu dapat mengakses
informasi, dapat berkomunikasi dan dapat melakukan promosi.
b. Intensitas pemanfaatan media cyber extension adalah curahan waktu yang dikeluarkan
untuk menggunakan sarana teknologi informasi mendukung kegiatan usahatani yang
dihitung per minggu. Intensitas pemanfaatan diukur dengan skala ordinal.

12

PENDEKATAN LAPANG
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif yang
akan dilakukan merupakan penelitian survei. Metode kuantitatif dilakukan melalui pengisian
kuesioner. Pendekatan kuantitatif ini diharapkan dapat menjawab bagaimana hubungan persepsi
penyuluh pertanian terhadap pemanfaatan cyber. Pendekatan kualitatif bersifat explanatory
research dengan menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap informan yang pada
penelitian ini yang menyoroti aktivitas pemanfaatan cyber extension di kalangan penyuluh. Hasil
uraian dijelaskan secara deskripsi namun fokus pada hubungan antar variabel untuk menguji
hipotesa.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan Peternakan dan
Kehutanan (BP3K) Wilayah IV Cibinong. Balai Penyuluhan Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan
Peternakan dan Kehutanan (BP3K) adalah Bogor Balai Penyuluhan Pertanian ditingkat kecamatan
yang dijadikan sebagai percontohan kelembagaan penyuluhan yang ideal di tingkat kecamatan.
Alasan peneliti memilih lokasi tersebut karena berdasarkan rujukan data dan informasi dari Admin
Pusat cyber extension di Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Pertanian
(BPPSDMP) menyatakan bahwa penyuluh yang menggunakan cyber extension terdapat di lokasi
tersebut. Penelitian ini dilakukan selama periode bulan Februari-Juni 2014.
Tabel 1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian Periode Tahun 2014
Kegiatan
Februari
Maret
April
Penyusunan proposal
skripsi
Kolokium
Perbaikan
proposal
penelitian
Pengambilan
data
lapangan
Pengolahan data dan
analisis data
Penulisan draft skripsi
Sidang skripsi
Perbaikan skripsi

Mei

Juni

Teknik Penentuan Informan dan Responden


Informan adalah orang yang termasuk dalam kegiatan ini yang memberikan keterangan
mengenai informasi ataupun data disekitar lingkungannya yang berhubungan dengan penelitian
ini. Informan juga dikatakan sebagai pihak yang dapat mendukung keberlangsungan informasi
penelitian secara lancar. Informan kunci dalam penelitian ini adalah penanggung jawab situs cyber
extension yang bekerja langsung di Kementrian Pertanian, dan masing-masing kepala BP3K yang
dituju. Populasi dalam penelitian ini adalah penyuluh pertanian yang tergabung di Balai
Penyuluhan Pertanian Perikanan Peternakan dan Kehutanan (BP3K) wilayah IV Cibinong. Sampel
penelitian ini menggunakan teknik sensus yaitu jumlah responden sama dengan jumlah populasi
sebanyak 40 responden. Populasi penelitian bersifat homogen menurut tingkat pekerjaannya.
Pemilihan responden pada penelitian ini dilakukan secara purposive (sengaja) yaitu penyuluh
pertanian yang memanfaatkan cyber extension.

13

Teknik Pengumpulan Data


Alat ukur yang digunakan dalam mengumpulkan data kuantitatif adalah kuesioner. Data
kualitatif dari informan diperoleh melalui pengamatan berperan serta dan wawancara mendalam.
Hasil dari pengamatan dan wawancara di lapangan dituangkan dalam catatan harian dengan
bentuk uraian rinci, sedangkan data sekunder diperoleh melalui informasi tertulis, data-data dan
literatur-literatur yang mendukung kebutuhan data mengenai fokus penelitian seperti profil Balai
Penyuluhan Pertanian (BPP) Model Kabupaten Bogor, penyuluh, dan berupa kegiatan yang sudah
diimplementasikan melalui cyber extension. Selain itu, data sekunder juga berupa literatur-literatur
yang berkaitan dengan penelitian.
Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data kuantitatif yang diperoleh melalui tabulasi silang. Analisis data kuantitatif
dengan menggunakan analisis Rank Spearman dan Chi Square untuk mengetahui hubungan
antara variabel bebas dengan variabel terikat. Pengolahan data ini menggunakan program
komputer SPSS 18.0 for Windows dan Microsoft Excel 2010 untuk mempermudah proses
pengolahan data. Teknik pengolahan dan analisis data dilakukan dengan perlakuan yang berbeda
sesuai dengan masing-masing data yang diperoleh. Data kualitatif akan diolah melalui tiga tahap
analisis data kualitatif, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

14

DAFTAR PUSTAKA
Amijaya GR. 2010. Pengaruh persepsi teknologi informasi, kemudahan, risiko dan fitur layanan
terhadap minat ulang nasabah bank dalam menggunakan internet banking. [skripsi].
[internet].[dikutip tanggal 1 Maret 2014]. Semarang (ID): Universitas Diponegoro. Dapat
diunduh dari: eprints.undip.ac.id/22558/1/GILANG_RIZKY_AMIJAYA.pdf
Anon. 2006. Impact of information technology on agricultural commodity auctions in India.
[Internet].
[dikutip
09
November
2013].
Dapat
diunduh
dari:
http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.88.6480&rep=rep1&type=pdf
Anwas EOM. 2009. Pemanfaatan media dalam pengembangan kompetensi penyuluh pertanian.
[disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. 230 hal.
Anwas EOM, Sumardjo, Asngari PS, Tjitropranoto. 2009. Faktor-faktor yang memengaruhi
penyuluh dalam pemanfaatan media. J Komunikasi Pembangunan. 07(02): 68-81.
[Cybext]. Cyber extension. Rekapitulasi data penyuluh pertanian tahun 2013. [internet]. [dikutip
tanggal 08 Februari 2014]. Dapat diunduh dari: http://cybex.deptan.go.id/
Kementrian Pertanian Republik Indonesia. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara Nomor PER/02/MENPAN/2/2008 tentang Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian
Dan Angka Kreditnya. [intenet]. [dikutip tanggal 6 Maret 2014]. Dapat diunduh dari:
http://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&ved=0CD0QFjAC&url=http
%3A%2F%2Fwww.deptan.go.id%2Fpengumuman%2Fberita%2F03-2008%2Fpermenpan
%2520penyuluh%2520pertanian%25202008%2Fpermenpan-PP2008.doc&ei=_roeU572NYmQrQf7_IGwBw&usg=AFQjCNG9h6BM7MW0bJqqhXySTohdKj
ZIUw&sig2=mHCU79gOg2Ey_zKC-_-cAg&bvm=bv.62788935,d.bmk
Mugniesyah SS. 2010. Media komunikasi dan komunikasi massa. Di dalam: Hubeis AVS, editor.
Dasar-dasar komunikasi. 2010. Bogor (ID): Sains KPM IPB Pr. Hal 305-346.
Mulyandari RSH. 2011. Cyber extension sebagai media komunikasi dalam pemberdayaan petani
sayuran. [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. 306 hal.
Murfiani F, Jahi A. Kompetensi penyuluh dalam pengembangan modal agribisnis kecil di
Kabupaten Bogor Jawa Barat. J Penyuluhan. 04(02): 8-15.
Pemerintah Republik Indonesia. 2006. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2006
tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan. Jakarta (ID): Sekretariat
Negara.
Permatasari I. 2013. Efektivitas cyber extension sebagai media komunikasi dalam diseminasi
teknologi pertanian. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. 117 hal.
Kementrian Pekerjaan Umum. 2012. Peta infrastruktur Kabupaten Bogor. [internet]. [dikutip tanggal
11 Maret 2014]. Dapat diunduh dari: http://loketpeta.pu.go.id/peta/peta-infrastrukturkabupaten-bogor-2012/
Pratiwi ND. 2013. Hubungan keterdedahan media komunikasi dengan perilaku komunikasi
anggota gabungan kelompok tani. [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. 99 hal.

15
Rakhmat J. 2004. Psikologi Komunikasi. Surjaman T, editor. Bandung (ID): PT Remaja
Rosdakarya.
Riyanto S. 2010. Persepsi dan komunikasi. Di dalam: Hubeis AVS, editor. Dasar-dasar komunikasi.
2010. Bogor (ID): Sains KPM IPB Pr.
Singarimbun M, Effendi S. 1995. Metode Penelitian Survai. Jakarta : PT Pustaka LP3ES
Indonesia.
Sumardjo, Baga LM, Mulyandari RSH. 2010. Cyber extension peluang dan tantangan dalam
revitalisasi penyuluhan pertanian. Bogor (ID): IPB Pr.131 hal.
Van den Ban AW, Hawkins HS. 1999. Penyuluhan Pertanian. Edisi ke-3. Herdiasti AD, penerjemah.
Yogyakarta (ID):Penerbit Kanisius. Terjemahan dari: Agricultural extension.
Vivian J.2008. Teori Komunikasi Massa. Edisi ke-1. BS Wibowo T, penerjemah. Jakarta (ID):
Kencana. Terjemahan dari: The media of mass communication.
Wijekoon R, Samantha-Emitiyagoda, Rizwan MFM, Sakunthalaratha-nayaka RMM,
HG
Anurarajapa. 2009. Cyber extension: an information and communication technology
initiative for agriculture and rural development in Sri Lanka. [Internet]. [dikutip 10 Oktober
2013].
Dapat
diunduh
dari:
http://www.fao.org/fileadmin/user_upload/kce/Doc_for_Technical_Consult/SRI_LANKA_CY
BER_EXTENSION.pdf

16

LAMPIRAN
Peta lokasi penelitian

17

No. Responden:
KUESIONER SURVEI
Hubungan Persepsi Penyuluh Pertanian dengan Pemanfaatan Cyber extension

KARAKTERISTIK RESPONDEN
1.
2.

Nama
Jenis kelamin

:
:

L/P

3.

Usia

.... tahun

4.

Pendidikan formal terakhir penyuluh


:

....

5.

Berapa pendapatan Saudara/i perbulan


:
Media yang dimiliki untuk mengakses
website cyber extension
:

...

6.

7.

Pengalaman menjadi penyuluh

Smartphone
Laptop/tablet
Lainnya, sebutkan.....

:
........ tahun

*coret yang tidak perlu

PERSEPSI PENYULUH MENGENAI KARAKTERISTIK CYBER EXTENSION


Keterangan:
1. skor 4 : Sangat Setuju
2. skor 3 : Setuju
3. skor 2 : Tidak Setuju
4. skor 1 : Sangat Tidak Setuju
Tingkat Keuntungan Relatif
No.
Pertanyaan
8.
Cyber extension dapat diakses kapan saja
9.
Informasi pertanian yang didapatkan melalui cyber
extension nyaris tanpa batas
10. Cyber extension membuat proses komunikasi lebih
interaktif
11. Cyber extension dapat menjangkau wilayah
internasional secara cepat
12. Cyber
extension
dapat
mengefisiensi
biaya
transportasi untuk mengakses informasi
Tingkat kesesuaian dengan kebutuhan
No.
Pertanyaan
13. Setiap penyuluh mampu menggunakan cyber
extension
14. Penggunaan cyber extension tidak memerlukan

SS

TS

STS

SS

TS

STS

18
15.
16.
17.

tahap-tahap yang sulit


Cyber extension membantu penyuluh dalam
menyediakan materi penyuluhan
Cyber extension selalu menyediakan materi dan
informasi penyuluhan yang terprogram
Cyber extension menyediakan beragam menu pilihan
yang dibutuhkan

Tingkat Kemudahan untuk dicoba


No.
Pertanyaan
18. Konten yang terdapat dalam website cyber extension
dapat dipahami semua kalangan penyuluh
19. Melalui smartphone saya dapat mengakses cyber
extension
20. Pemanfaatan cyber extension tidak memerlukan
pelatihan secara khusus
21 Cyber extension dapat digunakan sebagai acuan
pembuatan materi penyuluhan
22 Penyuluh dapat mempraktikkan langsung kepada
petani tanpa menggunakan alat bantu selain media
hibrida
Tingkat Kemudahan untuk dilihat Hasilnya
No.
Pertanyaan
23. Informasi yang diunggah penyuluh dapat langsung
lihat di beranda cyber extension
24. Komunikasi antarpersonal melalui website dapat
memperoleh tanggapan secara langsung
25. Informasi yang diunduh penyuluh dapat langsung
diperlihatkan ke petani melalui tayangan audio visual
26. Komunikasi
melalui
cyber
extension
dapat
membentuk jaringan komunikasi antar stakeholders
dengan baik
27. Berbagai pengetahuan baru dimiliki setiap penyuluh
untuk dijadikan bahan penyuluhan

SS

TS

STS

SS

TS

STS

TS

STS

TS

STS

Tingkat Kerumitan untuk mengaplikasikan cyber extension


No.
Pertanyaan
SS
28. Penggunaan cyber extension oleh penyuluh
memerlukan keterampilan
29. Penggunaan
cyber
extension
memerlukan
pengetahuan yang sangat luas
30. Kepemilikan media untuk mengakses informasi
menjadi hal yang sangat penting
31. Informasi yang disebarkan melalui cyber extension
harus beragam
32. Hanya pihak tertentu yang memahami komposisi yang
ada di beranda website cyber extension
PEMANFAATAN MEDIA CYBER EXTENSION
Tingkat Manfaat yang dirasakan
Pertanyaan
33. Saya mengunduh informasi dari cyber extension
34. Saya mengunggah informasi ke cyber extension

SS

19
35.
36.
37
38

Saya berkomunikasi dengan penyuluh lain secara


interaktif melalui cyber extension
Saya berkomunikasi dengan petani secara interaktif
melalui cyber extension
Saya dapat melakukan komunikasi dengan penyuluh
di luar kota dengan mudah
Saya dapat berdiskusi dengan penyuluh lain tentang
materi penyuluhan

Intensitas Pemanfaatan
39. Saya mengakses cyber extension ....... hari dalam seminggu
40. Saya melakukan komunikasi melalui cyber extension .... hari dalam seminggu

20

Pertanyaan wawancara mendalam


1. Apakah visi misi Balai Penyuluhan Pertanian sudah dicapai?
2. Apakah Balai Penyuluhan Pertanian pernah mengikuti kegiatan pelatihan antar penyuluh?
3. Fasilitas apa yang disediakan Balai Penyuluhan Pertanian untuk memenuhi kebutuhan
penyuluhan?
4. Kapan awal permulaan Saudara/i mengetahui cyber extension?
5. Apakah sistem penyuluhan berbasis website sudah dapat dikatakan efektif? Berikan
alasannya
6. Bagaimana Saudara menyampaikan materi penyuluhan yang didapatkan melalui cyber
extension?
7. Bagaimana hubungan antar penyuluh ditiap-tiap Balai Penyuluhan Pertanian? Apakah
terjalin kerjasama atau tidak?
8. Bagaimana Saudara mengaplikasikan situs untuk kegiatan komunikasi secara interaktif?
9. Mengapa hanya sebagian kecil yang sudah memanfaatkan cyber extension secara aktif?
10. Kapan terakhir diadakan pertemuan antar penyuluh ditingkat provinsi?
11. Bagaimana pembagian tugas untuk pengelolaan cyber extension? Apakah penyuluh turut
serta?

21

Lampiran 3 Rancangan skripsi


1

7
8
9

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Masalah Penelitian
1.3 Tujuan Penelitian
1.3 Kegunaan Penelitian
PENDEKATAN TEORITIS
2.1 Tinjauan Pustaka
2.2 Kerangka Pemikiran
2.3 Hipotesis
2.4 Definisi Operasional
PENDEKATAN LAPANGAN
3.1 Lokasi dan Waktu
3.3 Teknik Pengumpulan Data
3.3 Teknik Pengolahan dan Analisis Data
GAMBARAN UMUM
4.1 Sejarah terbentuknya Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Model
4.2 Visi dan Misi Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Model
4.3 Program yang dilakukan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Model
4.4 Model Pengaplikasian Media Cyber extension di Balai Penyuluhan Pertanian
KARAKTERISTIK PENYULUH PERTANIAN
5.1 Usia
5.2 Jenis Kelamin
5.3 Tingkat Pendidikan Formal
5.4 Tingkat Pendapatan
5.5 Kepemilikan Media
5.6 Lama menjadi Penyuluh
PERSEPSI PENYULUH MENGENAI KARAKTERISTIK CYBER EXTENSION
6.1 Penilaian tentang Tingkat Keuntungan Relatif Menggunakan Cyber extension
6.2 Penilaian tentang Tingkat Kesesuaian Ketersediaan Media dengan Kebutuhan Informasi
Penyuluh
6.3 Penilaian tentang Tingkat Kerumitan Aplikasi, teori, teknik dari Cyber extension
6.4 Penilaian tentang Tingkat Kemudahan Pemanfaatan Cyber extension untuk dicoba oleh
Penyuluh Pertanian
6.5 Penilaian tentang Tingkat Kemudahan untuk diamati Hasil Penggunaan Cyber extension
oleh Penyuluh Pertanian
TINGKAT PEMANFAATAN MEDIA CYBER EXTENSION
7.1 Tingkat Manfaat yang dirasakan Penyuluh dalam Pemanfaatan Cyber extension
7.2 Intensitas Pemanfaatan Cyber extension
HUBUNGAN KARAKTERISTIK INDIVIDU DENGAN PERSEPSI PENYULUH PERTANIAN
TERHADAP KARAKTERISTIK CYBER EXTENSION
HUBUNGAN PERSEPSI PENYULUH PERTANIAN TERHADAP KARAKTERISTIK CYBER
EXTENSION DENGAN TINGKAT PEMANFAATAN CYBER EXTENSION

10 PENUTUP
10.1 Kesimpulan
10.2 Saran