Anda di halaman 1dari 18

Rekayasa Lalu Lintas

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI....................................................................................................1
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................2
KATA PENGANTAR......................................................................................3
BAB I. PENDAHULUAN
1
2
3
4
5

Latar Belakang...............................................................................4
Tujuan dan Manfaat Pengamatan...................................................4
Lokasi Pengamatan........................................................................5
Waktu Pengamatan.........................................................................5
Metode Pengamatan.......................................................................5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Pengertian Pejalan Kaki.................................................................6
2.2 Fasilitas Pejalan Kaki.....................................................................6
2.3 Aturan bagi Pejalan Kaki...............................................................10
BAB III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
3.1 Aktivitas Pejalan Kaki...................................................................12
3.2 Fasilitas Pejalan Kaki.....................................................................13
3.3 Pelanggaran Fasilitas Pejalan Kaki................................................13
BAB IV. PENUTUP
3.1 Kesimpulan....................................................................................17
3.2 Saran..............................................................................................17
Daftar Pustaka................................................................................................19

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1......................................................................................................9
Gambar 2.2......................................................................................................10
1

Rekayasa Lalu Lintas

Gambar 3.1......................................................................................................12
Gambar 3.2......................................................................................................14
Gambar 3.3......................................................................................................14
Gambar 3.4......................................................................................................15
Gambar 3.5......................................................................................................16

Kata Pengantar

Rekayasa Lalu Lintas

Segala puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas berkat dan limpahan rahmat-Nya lah maka Penulis dapat
menyelesaikan Laporan ini dengan baik dan tepat waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul
Pejalan Kaki dan Fasilitasnya, yang menurut Penulis dapat memberikan
manfaat yang besar bagi kita meskipun kebanyakan orang mengatakan masalah
ini merupakan hal yang sepele.
Melalui kata pengantar ini Penulis lebih dahulu meminta maaf dan
memohon permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan
yang Penulis buat kurang tepat atau menyinggu perasaan pembaca.
Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya dan Penulis pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam
pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu penulis menerima
saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan.
Akhir kata penulis sampaikan terimakasih.

Pekanbaru, 5 April 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

Rekayasa Lalu Lintas

1.1 Latar Belakang


Dewasa ini, istilah lalu lintas sudah tidak asing lagi bagi kita. Lalu lintas
(traffic) merupakan suatu kegiatan lalu lalang atau gerak kendaraan, orang atau
hewan di jalanan. Elemen utama lalu lintas itu sendiri adalah kendaraan, orang,
hewan dan jaringan jalan (Suwardjoko P. Warpani, 2002). Di dalam kehidupan
berlalu lintas, orang atau manusia merupakan salah satu elemen utama lalu lintas
itu sendiri atau lebih dikenal dengan nama Pejalan Kaki. Setidaknya pejalan
kaki akan lekat dengan istilah marka, zebra cross, trotoar, dan jembatan
penyeberangan orang (JPO) yang merupakan fasilitas bagi pejalan kaki.
Seringkali muncul anggapan bahwa berjalan kaki bukanlah salah satu moda
transportasi yang patut dipertimbangkan. Berjalan kaki juga dianggap tidak lebih
penting dari moda transportasi, seperti kendaraan penumpang, sepeda motor,
maupun kendaraan bermotor lainnya. Anggapan anggapan tersebut mendorong
minimnya infrastruktur yang disediakan secara layak bagi pejalan kaki. Tidak
heran bahwa, di banyak kota, trotoar yang tidak terawat dan didesain secara
buruk, tempat penyeberangan yang tidak tersedia untuk lokasi lokasi yang
sepantasnya diberikan hak kepada pejalan kaki (contohnya: sekolah). Sehingga
kebanyakan pejalan kaki mau tidak mau harus memakai jalan khusus kendaraan
sebagai jalur mereka dan tidak jarang pejalan kaki ini menyeberang disembarang
tempat karena minimnya fasilitas yang diberikan bagi mereka.
1.2 Tujuan dan Manfaat Pengamatan
Adapun tujuan pengamatan ini adalah sebagai berikut:
1. untuk mengetahui tingkat kebutuhan dan kelengkapan fasilitas bagi
pejalan

kaki

seperti

trotoar,

zebra

cross,

maupun

jembatan

penyeberangan.
2. mengetahui pengaruh fasilitas tersebut bagi pejalan kaki sebagai alat
pengendali lalu lintas.
3. Mengetahui penyebab pelanggaraan dan penyalahgunaan fasilitas bagi
pejalan kaki tersebut.
Pengamatan ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu sebagai
bahan masukan kepada pemerintah terkait dalam pengaturan sistem rekayasa lalu
4

Rekayasa Lalu Lintas

lintas dan manajemen lalu lintas serta memberikan pengetahuan bagaimana


seharusnya menjadi pejalan kaki yang taat lalu lintas.
1.3 Lokasi Pengamatan
Pengamatan dilakukan di ruas-ruas Jalan Durian, Pekanbaru.
1.4 Waktu Pengamatan
Pengamatan di lakukan pada tanggal 26 April 2013 disaat jam efektif kampus
UR, untuk mengamati aktivitas lalu lintas dan perilaku warga kampus terhadap
rambu lalu lintas yang ada di kampus UR.
1.5 Metode Pengamatan
Pengamatan dilakukan secara langsung di ruas-ruas Jalan Durian Pekanbaru
dengan mengumpulkan dokumentasi pengamatan berupa gambar fasilitas pejalan
kaki berupa trotoar, zebra cross, dan jembatan penyeberangan yang ada di Jalan
Durian Pekanbaru, dan gambar penyalahgunaan fungsi dari fasilitas tersebut serta
video pelanggaran terhadap fungsi trotoar dan zebra cross tanggapan masyarakat
mengenai fasilitas bagi pejalan kaki tersebut. Hasil pengamatan akan dilaporkan
dalam sebuah laporan kelompok.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Pejalan Kaki

Rekayasa Lalu Lintas

Pejalan kaki adalah istilah dalam transportasi yang digunakan untuk


menjelaskan setiap orang yang berjalan di ruang lalu lintas jalan bagi pejalan kaki
baik dipinggir jalan, trotoar, lintasan khusus bagi pejalan kaki ataupun fasilitas
penyeberangan jalan. Untuk melindungi pejalan kaki dalam ber lalu lintas, pejalan
kaki wajib berjalan pada bagian jalan dan menyeberang pada tempat
penyeberangan yang telah disediakan bagi pejalan kaki.
2.2 Fasilitas Pejalan Kaki
Walaupun kita pada umumnya beranggapan bahwa pengemudi atau
pengendara kendaraan adalah pengguna jalan yang utama di Indonesia, kelompok
terbesar justru sebenarnya adalah Pejalan kaki. Korban jiwa dalam kecelakaan
didunia 65 % (persen) adalah Pejalan kaki, Ahli jalan raya /perekayasa wajib
memperhitungkan keselamatan pejalan kaki dijalan mereka. Meskipun setiap
pejalan kaki pasti menghadapi resiko saat berada di jalan raya dan bertemu
kendaraan, namun ada beberapa kelompok yang memerlukan perhatian khusus,
seperti orang lanjut usia, anak-anak, anak sekolah dan para penyandang cacat
dengan menyiapkan fasilitas pejalan kaki. Fasilitas pejalan kaki seperti trotoar,
jembatan penyeberang, marka penyeberang/zebra cross merupakan hak sesorang
untuk mendapatkan prasarana yang memadai dalam bermobilitas secara alami.
Berikut ini beberapa fasilitas bagi pejalan kaki:
a. Trotoar
Trotoar adalah jalur pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan jalan dan
lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan yang berfungsi untuk
meningkatkan keamanan pejalan kaki yang bersangkutan.Para pejalan kaki
berada pada posisi yang lemah jika mereka bercampur dengan kendaraan,
maka mereka akan memperlambat arus lalu lintas. Oleh karena itu, salah satu
tujuan utama dari manajemen lalu lintas adalah berusaha untuk memisahkan
pejalan kaki dari arus kendaraan bermotor, tanpa menimbulkan gangguangangguan yang besar terhadap aksesibilitas dengan pembangunan trotoar.
Untuk keamanan pejalan kaki maka trotoar ini harus dibuat terpisah dari jalur
lalu lintas kendaraan, oleh struktur fisik berupa kereb.Perlu tidaknya trotoar

Rekayasa Lalu Lintas

dapat diidentifikasikan oleh volume para pejalan kaki yang berjalan dijalan,
tingkat

kecelakaan

antara

kendaraan

dengan

pejalan

kaki

dan

pengaduan/permintaan masyarakat.

Penempatan Trotoar
Fasilitas pejalan kaki dapat ditempatkan disepanjang jalan atau pada

suatu kawasan yang akan mengakibatkan pertumbuhan pejalan kaki dan


biasanya diikuti oleh peningkatan arus lalu lintas serta memenuhi syaratsyarat atau ketentuan-ketentuan untuk pembuatan fasilitas tersebut.
Tempat-tempat tersebut antara lain :
a. Daerah

perkotaan

secara

umum

yang

tingkat

kepadatan

penduduknya tinggi.
b. Jalan yang memiliki rute angkutan umum yang tetap.
c. Daerah yang memiliki aktivitas kontinyu yang tinggi, seperti
misalnya jalan-jalan dipasar, pusat perkotaaan, daerah industri.
d. Lokasi yang memiliki kebutuhan/permintaan yang tinggi dengan
periode yang pendek, seperti misalnya stasiun-stasiun bis dan kereta
api, sekolah, rumah sakit, lapangan olah raga.
e. Lokasi yang mempunyai permintaan yang tinggi untuk hari-hari

tertentu, misalnya lapangan/gelanggang olah raga, masjid


Aspek Desain Trotoar

Kelandaian pada akses yang dilengkapi dengan bolard untuk menghalangi


mobil

naik

ke

trotoar.

Aspek

yang

perlu

diperhatikan

dalam

perencanaan/desain trotoar adalah:


a. Perbedaan tinggi trotoar dari muka jalan yang tidak terlalu rendah
tetapi juga tidak terlalu tinggi karena akan mengurangi kapasitas
jalan. Ketinggian dari perkerasan jalan yang disarankan adalah 150
mm.
b. Kelandaian pada akses jalan untuk memungkinkan penderita cacat
yang menggunakan kursi roda untuk bisa menggunakan trotoar
dengan gampang dan mudah.
c. Lintasan yang bisa dilewati oleh penderita cacat yang buta.
d. Lebar yang sesuai dengan jumlah pejalan kaki yang menggunakan

trotoar.
Lebar Fasilitas Pejalan Kaki
7

Rekayasa Lalu Lintas

Lebar fasilitas pejalan kaki yang ideal bisa dihitung dengan


menggunakan pendekatan sebagai berikut:

Dimana:
P

= Volume pejalan kaki (Orang/menit/meter)

= Lebar fasilitas pejalan kaki (meter)


Bila pada fasilitas pejalan kaki masih ditambah dengan perabot jalan

atau fasilitas lainnya maka perlu ada pelebaran untuk fasilitas tersebut dari
hasil

perhitungan

Pada

daftar

berikut

sebagaimana rumus diatas.


ditunjukkan tambahan lebar

yang dibutuhkan:
No
1
2
3
4
5
6
7
8

Jenis Fasilitas
Tambahan lebar (cm)
Kursi roda
100 - 120
Tiang lampu penerang 75 - 100
Tiang lampu lalu lintas 100 - 120
Rambu lalu lintas
75 - 100
Kotak Surat/Pos
100 - 120
Keranjang sampah
75 - 100
Pohon/Tanaman
60 - 120
peneduh
Pot Bunga
150

Rekayasa Lalu Lintas

Gambar 2.1 Trotoar


(Sumber : Dokumentasi Pengamatan)
b. Zebra Cross
Zebra cross adalah tempat penyeberangan di jalan yang diperuntukkan bagi
pejalan kaki yang akan menyeberang jalan, dinyatakan dengan marka jalan
berbentuk garis membujur berwarna putih dan hitam yang tebal garisnya 300 mm
dan dengan celah yang sama dan panjang sekurang-kurangnya 2500 mm,
menjelang zebra cross masih ditambah lagi dengan larangan parkir agar pejalan
kaki yang akan menyeberang dapat terlihat oleh pengemudi kendaraan di jalan.
Pejalan kaki yang berjalan di atas zebra cross mendapatkan perioritas terlebih
dahulu.
Disebut sebagai zebra cross karena menggunakan warna hitam dan putih
seperti warna pada hewan zebra dari kelompok hewan kuda yang hidup di Afrika.
Zebra Cross dipasang dengan ketentuan sebagai berikut;

Zebra Cross harus dipasang pada jalan dengan arus lalu lintas, kecepatan

lalu lintas dan arus pejalan kaki yang relatif tinggi.


Lokasi Zebra Cross harus mempunyai jarak pandang yang cukup, agar
tundaan kendaraan yang diakibatkan oleh penggunaan fasilitas
penyeberangan masih dalam batas yang aman.

Rekayasa Lalu Lintas

Di negeri maju dimana fungsi zebra cross betul-betul efektif guna membantu
pejalan kaki menyeberang dengan aman. Mereka yang melanggar bahkan
menabrak orang bahkan binatang di zebra cross akan dikenakan sanksi tegas dan
berat.

Gambar 2.2 Zebra Cross


(Sumber : Dokumentasi Pengamatan)
c. Jembatan Penyeberangan
Jembatan penyebrangan merupakan salah satu fasilitas pejalan kaki yang
digunakan untuk memudahkan para pejalan kaki untuk menyebrangi jalan yang
memiliki arus kendaraan yang padat. Jembatan penyebrangan biasanya dibuat di
ruas jalan yang memiliki lebar jalan yang besar dan pada pusat keramaian.
2.3 Aturan bagi Pejalan Kaki
Beberapa aturan wajib untuk pejalan kaki adalah sebagai berikut:
a. Jika tidak ada trotoar, berjalanlah di sisi yang menghadap langsung
dengan kendaraan lalu lalang. Sehingga arah jalan Anda berlawanan
dengan kendaraan yang datang. Hal ini untuk mempersiapkan diri jika
terjadi sesuatu pada lalu lintas di depan Anda.
b. Saat menyebrang di jalan yang tidak terlalu lebar dan tidak memiliki
zebra cross, pastikan Anda memperhatikan sisi kanan dan kiri. Hal ini
untuk memprediksi kapan kendaraan di ujung kanan dan kiri Anda sampai
ke titik tempat Anda melintas. Sementara saat menyeberang di malam

10

Rekayasa Lalu Lintas

hari, melintaslah di bawah daerah dengan lampu jalan yang cukup terang
sehingga pengemudi kendaaran bisa melihar Anda.
c. Sebagai pejalan kaki, cobalah menggunakan pakaian yang mudah terlihat.
Pada siang hari, hampir semua jenis pakaian aman digunakan. Tetapi
untuk malam hari, hindari pakaian yang berwarna gelap. Hal ini untuk
membantu para pengendara melihat keberadaan Anda di tengah gelapnya
jalanan.
d. Saat sedang berjalan, kecilkan suara iPod sehingga Anda masih bisa
mendengar langkah orang berlari, berkendara, atau mungkin bersepeda.
Ini untuk membantu Anda memprediksi keadaan sekitar sehingga jika ada
orang yang memencet klakson, Anda masih bisa menghindar dengan
cepat.
e. Biasakan diri untuk selalu waspada jika berada di jalan. Jika ada orang
yang tidak dikenal seperti mengikuti Anda, segera masuk ke toko terdekat
atau mencari alternatif kendaraan umum lainnya. Pada malam hari,
pilihlah jalan yang ramai dilalui pejalan kaki.
f. Jangan jalan sambil membaca sms atau memainkan smartphone Anda.
Beberapa kecelakaan kecil dan besar -seperti menabrak sesuatu atau
ditabrak kendaraan lain- terjadi akibat pejalan kaki yang tidak konsentrasi
saat berjalan di jalurnya

BAB III

11

Rekayasa Lalu Lintas

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


3.1 Aktivitas Pejalan Kaki
Pejalan kaki merupakan salah satu elemen utama lalu lintas, kebutuhan akan
fasilitas bagi pejalan kaki sangat penting agar terciptanya kenyamanan dan
ketertiban dalam berlau lintas serta mempermudah mereka dalam menjalankan
aktivitasnya. Melalui pengamatan yang telah kami lakukan di Jalan Durian,
aktivitas pejalan kaki terlihat sepi dan lengang, walaupun ada beberapa pejalan
kaki, tapi tidak terlihat aktivitas yang berarti, karena kebanyakan orang lebih
mengutamakan

menggunakan

kendaraan

dalam

menunjang

aktivitasnya

dibandingkan berjalan kaki. Berikut ini beberapa gambar yang di dokumentasikan


oleh kelompok kami.

Gambar

3.1 Suasana

Pejalan kaki yang terlihat lengang


(Sumber : Dokumentasi Pengamatan)
3.2 Fasilitas Pejalan Kaki
Untuk memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki, berbagai fasilitas
disediakan bagi pejalan kaki seperti trotoar dan zebra cross, agar pejalan kaki
merasa aman dan nyaman. Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan,
tidak banyak fasilitas pejalan kaki yang terdapat pada jalan durian. Kami hanya
menemukan zebra cross dan trotoar di sepanjang jalan durian.

12

Rekayasa Lalu Lintas

a. Trrotoar
Kondisi trotoar jalan durian sangatlah tidak baik, karena trotoar di sana tidak
terdapat di sepanjang jalan. Trotoar di jalan durian hanya ada di ujung-ujung
jalannya saja. Hal ini sangat membahayakan para pejalan kaki, mengingat arus
kendaraan di jalan durian yang sangat padat dan tidak teratur. Sedangkan jalan
yang tidak memiliki trotoar, pinggiran jalannya sudah banyak berlubang dan
terdapat banyak sampah di pinggirnya. Selain lubang dan sampah yang terdapat di
jalan durian, pinggiran jalan durian juga di gunakan sebagai tempat bagi pedagang
kaki lima untuk berjualan. Hal ini mengakibatkan sedikitnya pejalan kaki yang
berjalan di sepanjang jalan durian dikarenakan fasilitas trotoar yang sangat tidak
aman dan nyaman bagi pejalan kaki.
b. Zebra Cross
Kondisi zebra cross di jalan durian sangat buruk, karena tidak terdapat di
semua simpang yang ada di jalan duian. Selain itu, marka zebra cross yang mulai
memudar membuat pejalan kaki enggan untuk menyebrang di sana. Kondisi arus
kendaraan di jalan durian sangat padat, namun tidak di dukung oleh fasilitas zebra
cross yang memadai dan layak bagi pejalan kaki. Di zebra cross juba banyak
terdapat pelanggaran lalu lintas yang di lakukan pengguna jalan yang berhenti di
area zebra cross yang mengganggu pejalan kaki untuk menyebrang di zebra cross.
3.3 Pelanggaran Fasilitas Pejalan kaki
Banyak fasilitas pejalan kaki yang tidak terstandarisasi dengan baik, bahkan
jauh dari kelayakan. Sehingga dapat membahayakan keselamatan bagi pejalan
kaki. Selain itu, banyak terlihat alih fungsi dari fasilitas itu sendiri, dimana
fasilitas-fasilitas ini telah disalahgunakan.
a. Trotoar
Setelah kami melakukan pengamatan, di jalan durian tidak terdapat trotoar
sehingga keselamatan pejalan kaki terancam. Pejalan kaki bisa saja mengalami
kecelakaan, karena berjalan di badan jalan yang di gunakan para pengendara.
Selain itu, pinggiran jalan yang digunakan pejalan kaki juga bisa dikatakan tidak

13

Rekayasa Lalu Lintas

baik. Karena banyak pinggiran jalan yang berlubang sehingga dapat


membahayakan pejalan kaki.

Gambar 3.2 Pinggiran jalan yang berlubang


(Sumber : Dokumentasi Pengamatan)
Selain lubang yang terdapat pada pinggiran jalan, kami juga menemukan
tumpukan sampah di pinggir jalan yang membuat pejalan kaki merasa tidak
nyaman.

Gambar 3.3 Tumpukan sampah di pinggir jalan


(Sumber : Dokumentasi Pengamatan)
14

Rekayasa Lalu Lintas

Kondisi seperti ini di perparah dengan para pedagang kaki lima yang
menggunakan sepanjang pinggiran jalan untuk berdagang. Hal ini dapat
mengurangi lebar dari pinggiran jalan yang digunakan pejalan kaki. Sehingga
pejalan kaki mencari alternatif lain yaitu menggunakan badan jalan, yang dapat
membahayakna keselamatannya.

Gambar 3.4 Pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan


(Sumber : Dokumentasi Pengamatan)
b. Zebra Cross
Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan banyak zebra cross di jalan
durian yang tidak di gunakan bagi pejalan kaki. Hal ini dikarenakan fasilitas
pejalan kaki yang satu ini digunakan para pengguna jalan yang berhenti
sembarangan di area zebra cross pada saat lampu merah.

15

Rekayasa Lalu Lintas

Gambar 3.5 Pengguna jalan yang berhenti di zebra cross


(Sumber : Dokumentasi Pengamatan)
Sehingga pejalan kaki lebih memilih menyebrang bukan pada zebra cross,
yang menurutnya lebih aman dari pada menyebrang pada zebra cross.

16

Rekayasa Lalu Lintas

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil survei/pengamatan yang telah dilakukan di Jalan Durian
Pekanbaru, terdapat beberapa permasalahan yang ditemukan, yaitu:

Fasilitas pejalan kaki yang kurang memadai, seperti trotoar yang banyak
mengalami kerusakan hampir di semua ruas jalan dan hal itu dapat
membahayakan para pejalan kaki.

Terjadi alih fungsi trotoar yang seharusnya diperuntukkan bagi pejalan


kaki disalahgunakan menjadi tempat berjualan bagi pedagang kaki lima.

Trotoar digunakan sebagai tempat parkir kendaraan dan tempat


meletakkan barang dagangan bagi toko-toko disekitar trotoar tersebut.
Zebra Cross
Banyak pejalan kaki yang menyeberang tidak pada tempatnya(zebra
cross).
Banyak pengendara sepeda motor dan mobil yang melaju cepat disaat
mendekati zebra cross yang dapat membahayakan keselamatan pejalan
kaki.
4.2 Saran
Untuk menciptakan suasana berlalu lintas yang baik dan penuh kenyamanan,
maka hendaklah setiap pengguna jalan mentaati peraturan berlalu lintas, baik itu
pengendara, pejalan kaki dan sebagainya sehingga tidak terdapat lagi pelanggaran
dalam berlalu lintas. Untuk itu, pemerintah harus menyokongnya dengan
mengambil tindakan membuat dan memperbaiki fasilitas yang ada, terutama
fasilitas bagi pejalan kaki.

a. Saran untuk pemerintah


17

Rekayasa Lalu Lintas

memperbaiki trotoar yang mengalami kerusakan, memperbanyak zebra


cross, membuat jembatan penyeberangan, dan lain-lain. Selain itu
pemerintah juga harus sering mengadakan penyuluhan bagaimana cara
berlalu lintas yang baik dan memberi tindakan tegas bagi setiap pengguna
jalan yang melanggar peraturan.
b. Saran untuk pengguna jalan
Pejalan kaki hendaklah menumbuhkan sikap displin dan mentaati
peraturan yang ada, seperti berjalan ditempat yang telah diperuntukkan
bagi pejalan kaki, menyeberang pada tempatnya. Untuk pengendara
sepeda motor dan mobil hendaklah tidak memarkir kendaraannya diatas
trotoar.
c. Saran bagi masyarakat dan pedagang sekitar jalan
Bagi pedagang kaki lima sebaiknya tidak memakai trotoar sebagai tempat
untuk berdagang, karena dapat mengganggu pejalan kaki. Bagi pemilik
toko disekitar jalan sebaiknya tidak memajang dan meletakkan barang
dagangannya diatas trotoar karena dapat mengurangi kapasitas trotoar.

Daftar Pustaka

Alwinda, Yosi (2007), Buku Ajar Rekayasa Lalu Lintas , Pekanbaru: Pusat
Pengembangan Pendidikan Universitas Riau

18