Anda di halaman 1dari 6

Abdul Qadir Hassan, Ulama Ahli Hadits

dari Bangil
Samir Musa Selasa, 9 Ramadhan 1434 H / 16 Juli 2013 23:50

Ilustrasi - Abdul Qadir Hassan, Ulama Ahli Hadits dari Bangil


Oleh: Artawijaya
(Arrahmah.com) - Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Demikianlah gambaran tentang
sosok Abdul Qadir bin Hassan bin Ahmad, anak dari tokoh terkemuka organisasi
Persatuan Islam (Persis), Ustadz A. Hassan. Mengikuti jejak sang ayah, Abdul Qadir
Hassan juga dikenal sebagai salah seorang tokoh di Indonesia yang menggeluti ilmu
hadits dan fikih. Ulama yang memimpin Pesantren Persatuan Islam Bangil, Jawa Timur,
pasca wafatnya A. Hassan ini, dikenal dengan karya-karya tulisnya yang cemerlang
dalam dua bidang studi tersebut. Buku Ilmu Musthalah Hadits, Ushul Fiqih, Kata
Berjawab (berisi soal jawab tentang hukum-hukum Islam), dan Qamus Al-Quran adalah
di antara karya-karya besarnya yang cukup dikenal dan dijadikan rujukan.
Abdul Qadir Hassan lahir di Singapura, tahun 1914. Anak pertama dari Ustadz A. Hassan
mengenyam pendidikan agama di bawah asuhan sang ayah langsung. Sementara
pendidikan umumnya pernah ia tempuh di Hollands Inlandsche School (HIS) di
Bandung, Jawa Barat. Karena ketekunannya dalam belajar, pada usia 22 tahun, Abdul
Qadir Hassan sudah mampu menyusun buku Qamus Al-Quran, yang berisi penjelasan
dari kata-kata dalam Al-Quran. Buku ini ditulis selama kurun waktu 1934-1943, dan
dicetak pertama kali pada 1964 oleh penerbit Al-Muslimun Bangil dan Tintamas Jakarta.
Selama beberapa tahun, buku ini terus dicetak ulang, bahkan sampai hari ini terus
diminati oleh pembaca.
Karya monumental lainnya adalah Ilmu Musthalah Hadits, yang berisi uraian tidak
kurang dari 114 macam pembahasan yang berhubungan dengan ilmu hadits. Buku ini
menjadi rujukan di berbagai pesantren dan perguruan tinggi di Indonesia, disamping
karena gaya penulisannya yang mudah dipahami, juga karena buku ini adalah karya anak
bangsa yang terbilang langka pada masa itu. Sampai hari ini, buku Ilmu Musthalah
Hadits juga terus dicetak ulang dan mendapat sambutan yang baik dari para pembaca.
Selain buku Ilmu Musthalah Hadits, buah karya Abdul Qadir Hassan dalam bidang studi
hadits adalah Min Al-Wahyi, sebuah buku yang sebagian besar isinya merupakan intisari
dari Kitab Qawaid At-Tahdits min Funun Musthalah Al-Hadits karya Jamaluddin AlQasimi. Selain itu, buku Kata Berjawab yang berisi soal-soal tentang hukum Islam juga
banyak mengkaji tentang studi hadits, baik syarah hadits, studi tentang jarh wat tadil,
maupun studi tentang status sebuah hadits, dengan meneliti para perawi maupun matan
hadits.Kata Berjawab awalnya adalah rubrik konsutasi agama yang diasuh oleh Abdul
Qadir Hassan di Majalah Al-Muslimun. Ia juga menyusun kumpulan hadits-hadits lemah
dan palsu yang diantara rujukan pokoknya diambil dari Kitab Asna Al-Matalib fi Ahadits
Mukhtalifat Al-Maratib karya Abu Abdillah Muhammad Ibn Darwisy Al-Hut Al-Bairuti.
Kitab-kitab hadits lainnya yang telah ditelaah, dijadikan rujukan, dan dikaji oleh Abdul
Qadir Hassan, diantaranya; Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, Subulus
Salam karya Ash-Shanani, Nailul Authar karya Asy-Syaukani, Al-Minhaj Syarh Shahih
Muslim ibn Al-Hajjaj karya An-Nawawi, Fathul Baari karya Al-Asqalani, Aunul

Mabud Syarh Sunan Abi Dawud karya Al-Azimabadi, Faidh Al-Qadir karya Al-Munawi,
Mizan Al-Itidal karya Adz-Dzahabi, Tahzib At-Tahzib karya Al-Asqalani, Al-Jarh wa AtTadil karya Ar-Razi, Al-Kamil fi Adh-Dhuafa Ar-Rijal karya Al-Jurjani, At-Tamhid karya
Al-Qurthubi, dan lain-lain.

Sebuah tesis berjudul Pemikiran Abdul Qadir Hassan (1914-1984) Tentang Hadits
yang ditulis Al-Hafid Ibnu Qayyim pada 2011, bisa disebut sebagai penelitian yang cukup
mendalam tentang pemikiran Abdul Qadir Hassan terkait ilmu hadits. Tesis terbaik pada
program Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar ini mengupas secara detil pemikiran
tokoh Persis dalam bidang Ilmu Musthalah Hadits, kritik sanad hadits, kritik matan
hadits, studi syarah hadits, interpretasi hadits, dan metode pendekatan dalam memahami
hadits. Kemampuan Abdul Qadir Hassan dalam bidang ini juga berkaitan dengan
istinbath hukum yang diambilnya dalam bidang fikih.
Selain memimpin Pesantren Persatuan Islam (Persis) Bangil, Abdul Qadir Hassan juga
pernah menjabat sebagai pimpinan Dewan Hisbah Persis, yang bertugas meneliti dan
menetapkan hukum-hukum Islam berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Diantara
tokoh-tokoh yang pernah menjadi anggota Dewan Hisbah Persis adalah; KH. Moenawar

Cholil (penulis buku Kelengkapan Tarikh Islam), E. Abdurrahman (tokoh senior Persis),
Tgk. M Hasbi Ash-Shiddieqy (penulis buku dan ahli hukum Islam), dan lain-lain.
Akivitas lain Abdul Qadir Hassan adalah menjadi anggota Al-Majma Al-Fiqh Al-Islami
yang didirikan oleh Rabithah Al-Alam Al-Islami (Liga Muslim Sedunia) yang berpusat di
Makkah Al-Mukarramah. Lembaga fikih ini berisikan para ulama dari berbagai belahan
dunia yang dinilai cakap dan ahli dalam bidang fikih, sehingga bisa melakukan penelitian
tentang hukum-hukum Islam dan mengeluarkan fatwa terkait umat Islam berdasarkan AlQuran dan As-Sunnah.
Di bawah kepemipinan Abdul Qadir Hassan, Pesantren Persis Bangil dikenal di seluruh
Indonesia sebagai rujukan dalam mempelajari studi ilmu hadits dan fikih. Beberapa
syaikh dari Mesir, Saudi Arabia, dan negara Timur Tengah lainnya pun seringkali
berkunjung ke pesantrennya. Di kalangan ulama Rabithah Al-Alam Al-Islami nama Abdul
Qadir Hassan cukup dikenal. Apalagi, sahabat dekatnya yang juga murid ayahnya, Dr.
Mohammad Natsir, juga tokoh penting di lembag Liga Dunia Islam tersebut.
Pada masanya, para pemuda dari berbagai pelosok di Nusantara datang ke kota Bangil
untuk menempuh studi di pesantren tersebut. Berbagai tokoh dari beragam organisasi saat
ini, sempat belajar menimba ilmu dari ulama yang satu ini, diantaranya; Ustadz Abdul
Wahid Alwi, MA (tokoh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia), Ustadz Yazid bin Abdul
Qadir Jawwas (tokoh salafi di Indonesia), Ustadz Muhammad Thalib (Amir Majelis
Mujahidin Indonesia), Ustadz Jafar Umar Thalib (mantan panglima Laskar Jihad),
Ustadz Yusuf Utsman Baisa (mantan mudir Pesantren Al-Irsyad Tengaran, Salatiga),
Ustadz Ahmad Husnan, Lc (tokoh senior Pesantren Al-Mukmin, Ngruki), (alm) KH.
Abdurrahim Nur, Lc (Tokoh Muhammadiyah), KH. Muammal Hamidy (Tokoh PPP),
(alm) KH. Abdullah Said (Pendiri Organisasi Hidayatullah), (alm) Ustadz Muhammad
Haqqi (pengajar studi fikih dan hadits di Jakarta), dan lain-lain.
Demikian sosok Abdul Qadir Hassan, ulama Indonesia yang dikenal mumpuni dalam
bidang studi hadits dan fikih. Pria berdarah Tamil, India, ini wafat di Bangil, Jawa Timur,
pada 25 Agustus 1984. Ribuan umat Islam turut menshalatkan dan mengantarkannya
sampai ke pemakaman. Abdul Qadir Hassan meninggalkan beberapa orang putra dan
putri, di antaranya Prof. Ir. Zuhan Abdul Qadir Hassan (mantan Menteri Riset dan
Teknologi era Presiden Habibie dan Pendiri Universitas Islam Al-Azhar Jakarta), dan
(alm) Ustadz Ghazie Abdul Qadir Hassan (pimpinan Pesantren Persis Bangil).
Ahli hadits Dr. Daud Rasyid MA, dalam bukunya As-Sunnah fi Indonesia Baina
Anshariha wa Khusumiha (As-Sunnah di Indonesia Antara Pembela dan Penentangnya),
mengatakan bahwa Majalah Al-Muslimun yang diantaranya diasuh oleh Abdul Qadir
Hassan, adalah majalah yang berusaha keras menjawab semua keragu-raguan terhadap
Islam. Semoga Allah membalas segala jasa Allahyarham Ustadz Abdul Qadir Hassan atas
kiprahnya dalam membela As-Sunnah dan memberikan pemahaman yang benar terhadap
nilai-nilai ajaran Islam.
*Editor Pustaka Al-Kautsar dan Dosen STID Mohammad Natsir Jakarta

(samirmusa/arrahmah.com)
- See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/07/16/abdul-qadir-hassan-ulamaahli-hadits-dari-bangil.html#sthash.6uSA0EnI.dpuf