Anda di halaman 1dari 46

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Pandangan Umum

Bagian bidang Teknik Kelautan seperti Offshore Engineering tidak akan lepas
dari masalah transportasi minyak dan gas yang dimulai dari manifold pada suatu
reservoir lalu diolah pada mesin separator di atas platform/FPSO hingga
didistribusikan kembali melalui kapal kilang minyak atau melalui pipa. Pipeline (
jaringan pipa ) biasa digunakan untuk beberapa tujuan dalam pengembangan
sumber sumber hidrokarbon lepas pantai seperti :

Eksport / transportasi minyak/gas

Transfer produksi dari platform hingga export lines

Sistem injeksi air / chemical

Transfer produksi antar platform, manifold dan reservoir.

Pipeline bundles

Gambar 1.1 Jaringan pipa bawah laut


Tahapan desain untuk masing masing tujuan di atas secara umum adalah sama.
Demikian halnya desain riser juga hampir sama walaupun ada beberapa macam
alat (tools) yang berbeda seperti pengaplikasian software / kriteria desain.

I-1

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


1.2 Latar Belakang

Freespan sebagai akibat dari geometri permukaan dasar laut yang tidak rata
menjadi suatu topik tersendiri dalam kaitannya terhadap kriteria desain sistem
pipeline (lihat Gambar 1.2).
Aliran di sekitar silinder bulat pada freespan merupakan topik klasik yang terkait
dengan hidrodinamika. Arus laut secara dinamis pada kondisi tertentu bisa
menimbulkan vortex (fenomena turbulensi partikel fluida dibelakang pipa) dimana
menyebabkan vibrasi dengan kondisi yang dinamis pula atau lebih dikenal dengan
VIV ( Vortex Induced Vibration ). Apabila hal ini berlanjut maka bisa terjadi
kerusakan pipa akibat fatigue (kelelahan struktur).

Gambar 1.2 Span pada sistem pipa bawah laut


1.3 Maksud dan Tujuan

Pemfokusan masalah akan diarahkan pada analisa gaya hidrodinamika (lift


dan drag), analisa respon sistem berderajat kebebasan satu terhadap pembebanan
dinamis, analisa dinamis balok dengan massa terbagi rata meliputi respon pola
pada tengah bentang.
Hasil analisa perhitungan respon ini akan dibandingkan dengan DNV Code
RP-F105 (2002). Validasi akan adanya suatu vorticity di belakang pipa akibat
aliran steady/unsteady juga akan penulis sajikan dengan bantuan program
komputer (Gambit 2.2.30 dan Fluent 6.2.16).

I-2

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


1.4 Ruang Lingkup Pembahasan

Pendekatan awal yang diambil adalah pipa dianggap sebagai sebuah beam
(balok) miring sederhana dengan kedua ujung pada span adalah sistem perletakan
tipe jepit. Sedangkan aliran yang terjadi di sekitar silinder pipa merupakan aliran
steady dan kekasaran permukaan pipa diabaikan.

1.5 Sistematika Pembahasan

Bab I Pendahuluan
Menjelaskan tentang pandangan umum, latar belakang, maksud tujuan,
ruang lingkup dan sistematika penulisan tugas akhir

Bab II Dasar Teori


Menguraikan teori mendasar yang diperlukan dalam analisis perhitungan

Bab III Analisa Dinamis Dengan Sifat Balok Terbagi Rata


Menjelaskan tentang sifat-sifat struktur yang dimodelisasikan dengan sifatsifat yang terbagi rata

Bab IV Analisa dan Perhitungan


Berisi tentang proses pengerjaan masalah mengacu pada rumusan
mendasar yang telah diuraikan sebelumnya tanpa mengabaikan batasanbatasan penting yang diambil

Bab V Kesimpulan dan Saran


Bab terakhir yang memberikan suatu kesimpulan setelah proses
perhitungan selesai dilakukan. Saran-saran juga akan diuraikan dalam bab
ini

I-3

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


BAB II
DASAR TEORI

2.1 Teori Gelombang Linear

Hampir tidak mungkin ditemukan pada suatu perairan dengan kondisi


permukaan yang sangat tenang tanpa adanya gelombang. Perubahan elevasi muka
air secara fluktuatif ini dinamakan gelombang. Penyebabnya bisa bermacam
macam seperti angin, pergerakan kapal, dentuman, pergerakan lempeng bumi, dan
sebagainya. Namun penyebab utama dari sebagian besar gelombang yang terjadi
adalah angin.
Pada umumnya bentuk gelombang alam sangat kompleks dan sulit digambarkan
secara matematis dikarenakan ketidak-linearan, tiga dimensi, sifat dan bentuk
acak, serta unsteady. Teori gelombang linear merupakan salah satu pendekatan
yang sederhana dan praktis.
Pada teori ini, gelombang digambarkan sebagai fungsi sinusoidal. Parameter
parameter yang penting antara lain :

Tinggi gelombang (H), jarak vertikal antara puncak dan lembah


gelombang

Panjang gelombang (L), jarak horisontal antara dua puncak / lembah


gelombang

Perioda gelombang (T), waktu yang diperlukan untuk membentuk satu


gelombang

Kedalaman perairan (h), jarak vertikal antara dasar perairan dengan muka
air tenang

Gelombang diasumsikan bergerak dalam sistem koordinat kartesian dua dimensi,


yaitu pada sumbu x-z. Gelombang berpopragasi pada arah x positif dengan
kedalaman konstan. Selama itu pula gelombang tidak mengalami perubahan
bentuk. Asumsi lain adalah fluida bersifa seragam, incompressible, irrotasional,
inviscous, sehingga massa jenis fluida selalu konstan.

II-1

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


2.1.1 Persamaan Gelombang Linear

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa fluida bersifat incompressible dan


irrotasional, sehingga potensial kecepatan memenuhi hukum kontinuitas.
u = 0

(2.1)

= 0

(2.2)

atau

dimana :
= potensial kecepatan gelombang
u = kecepatan partikel air
Dapat dilihat bahwa kecepatan partikel air adalah turunan potensial kecepatan
gelombang. Teori gelombang Linear dapat pula diturunkan dari persamaan
Laplace, maka pers. (2.2) dapat ditulis dalam bentuk sebagai berikut

2 2 2
=0
+
+
x 2 y 2 z 2

(2.3)

Untuk gelombang dua dimensi x dan z, persamaan Laplacenya ditulis menjadi

2 2
+
=0
x 2 z 2

(2.4)

dengan

u=

2
2
w
=
dan
x 2
x 2

(2.5)

Persamaan Laplace merupakan persamaan pengatur (BVP) boundary value


problem pada gambar berikut :

Gambar 2.1 Sketsa definisi teori gelombang linear

II-2

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


Persamaan dasar :

2 = xx + zz = 0

(2.6)

Bottom boundary condition (BBC):

w = x = 0 pada z = -h

(2.7)

Kinematic free surface boundary condition (KFSBC) :

t

=
z z =0 t

(2.8)

Dynamic free surface boundary condition (DFSBC) :


+ g = C (t )
t
z =0

(2.9)

H
cos(t kx)
2

(2.10)

Elevasi muka air :

=
Potensial kecepatan :

Hc cosh(k ( z + h))
sin(t kx)
2
sinh(kh)

(2.11)

Persamaan dispersi :
2 = gk tanh (kh)

(2.12)

Cepat rambat gelombang :


c = L/T = /k
K = 2/L = bilangan gelombang
= 2/T = 2f = frekuensi angular gelombang
f = 1/T frekuensi gelombang

u = x =
Kecepatan partikel arah x :

H cosh(k (h + z ))

cos(kx t )
T
sinh( kh)
gkH cosh(k (h + z ))
=
cos( kx t )
4f
sinh( kh)

w = z =
Kecepatan partikel arah z :

(2.13)

H sinh( k (h + z ))

sin( kx t )
T
sinh( kh)
gkH sinh( k (h + z ))
=
sin( kx t )
4f
sinh( kh)

II-3

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


2.2 Respon Sistem Berderajat Kebebasan Satu Terhadap Pembebanan Harmonis

Gerak / respon dari struktur dimodelkan sebagai sistem berderajat kebebasan


satu (one degree of freedom ) yang dipengaruhi secara harmonis yaitu, struktur
yang dibebani gaya atau perpindahan yang besarnya dinyatakan oleh fungsi sinus
atau cosinus dari waktu. Bentuk pengaruh ini mengakibatkan suatu gerak yang
paling penting dalam mempelajari mekanika vibrasi, demikian juga dalam
penggunaan pada dinamika struktur. Struktur paling sering dibebani oleh aksi
dinamik dari suatu gaya luar yang menghasilkan pengaruh harmonis akibat adanya
eksentrisitas dari massa yang bervibrasi dan tak terpisahkan dari gaya itu.
Selanjutnya, walaupun pengaruh itu nantinya bukan merupakan fungsi harmonis,
respon dari struktur dapat dicari dengan menggunakan Metoda Fourier yang
merupakan superposisi dari respon diri (individual respon ) dengan komponen
harmonis dari pengaruh gaya luar.

2.2.1 Pengaruh Harmonis Teredam (damped harmonic excitation)

Pada gambar 2.2 (a) menggambarkan sistem berderajat kebebasan satu yang
bergetar dibawah redaman liat (viscous damping).

Persamaan differensial gerak didapatkan dengan menyamakan jumlah gaya-gaya


dari

diagram

free

body

gambar

2.2

(b)

menjadi

persamaan

II-4

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

my + cy + ky = Fo sin o t

(2.14)

Maka solusi persamaan terdiri dari solusi komplementer yc(t) dan solusi partikulir
yp(t). Solusi komplemeter yang diberikan untuk keadaan redaman subkritis
(underdamped c<ccr) sebagai

y c (t ) = e t ( A cos D t + B sin D t )

(2.15)

y p (t ) = (C1 sin o t + C 2 cos o t )

(2.16)

dan solusi partikulir

Substitusi (2.15) dan (2.16) ke dalam (2.14) dan menyamakan koefisien dari
fungsi sinus dan cosinus dengan

e i0t = cos 0 t + i sin 0 t

(2.17)

Persamaan (2.14) dapat ditulis

my + cy + ky = Foe i0t

(2.18)

Dengan penjelasan bahwa hanya komponen imajiner dari Foe i0t yaitu komponen
gaya Fo sin o t yang bekerja dan tentu saja respon hanya akan terdiri dari bagian
imajiner dari seluruh jawaban persamaan (2.18). Dengan kata lain kita
mendapatkan solusi persamaan ini yang mempunyai komponen riel dan
komponen imajiner, dan mengabaikan komponen riel.
Apabila solusi partikulir pers.(2.18) berbentuk

y p = Ce i0t

(2.19)

Substitusi persamaan ini ke (2.18) diperoleh


m 0 C + ic 0 C + kC = F0
2

C=

F0
k m 0 + ic 0

yp =

(2.20)

F0 e i0t
k m 0 + ic 0
2

Dengan bentuk koordinat polar, bilangan kompleks penyebut dari pers.(2.20)


dapat ditulis sebagai

II-5

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


F0 e i0t

yp =

(k m 0 ) 2 + (c 0 ) 2 e i
2

F0 e i (0t )

yp =

(k m 0 ) + (c 0 )
2

tan =

Respon untuk gaya

(2.21)

;
2

c 0
k m 0

Fo sin o t (komponen imajiner dari

Foe i0t ) adalah

komponen imajiner dari pers.(2.21) yaitu

yp =

F0 sin( 0 )
(k m 0 ) 2 + (c 0 ) 2
2

(2.22)

y p = Y sin( 0 )
dimana
F0

Y=

(k m 0 ) 2 + (c 0 ) 2
2

(2.23)

Y adalah amplitudo dari gerak keadaan tetap (steady state respon). Pers (2.22) dan
(2.21) dapat ditulis dalam bentuk rasio tanpa dimensi seperti
yp =
tan =

y st sin( 0 )
(1 r 2 ) 2 + (2r ) 2
2r
1 r2

(2.24)

(2.25)

Dimana yst = F0/k sebagai lendutan statis dari pegas di atas dimana bekerja gaya
F0; rasio redaman =

c
, dan rasio frekuensi r = 0/n.
c cr

Respon total didapat dari penjumlahan solusi komplementer (2.15) dengan solusi
partikulir (2.24) menjadi :
y (t ) = e t ( A cos D t + B sin D t ) +

y st sin( 0 )
(1 r 2 ) 2 + (2r ) 2

(2.26)

Konstanta A dan B bergantung dari syarat batas awal dengan menggunakan


respon total yang diberikan pada persamaan (2.26) dan tidak hanya dari komponen
transien yang diberikan pers. (2.15).
Dengan mempelajari komponen transien dari respon, terlihat bahwa munculnya
faktor eksponensial e-t menyebabkan komponen ini hilang dan hanya tertinggal
gerak keadaan tetap (steady state motion) yang diberikan oleh pers.(2.24)

II-6

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

Rasio antara respon steady state yp(t) dengan respon statis yst disebut dengan DAF
(dynamic amplification factor) yaitu
DAF =

Y
=
y st

1
(1 r ) 2 + ( 2r ) 2
2

(2.27)

2.3 Model Respon Pada Struktur Silinder Diam

Model respon amplitudo adalah model empiris yang menyediakan respon


maksimum amplitudo steady state akibat VIV sebagai fungsi dasar dari
hidrodinamika dan parameter struktur. Respon model didasarkan pada hasil tes
data eksperimen laboratorium dan terbatas untuk beberapa kasus dengan kondisi
aliran :

VIV in-line pada arus steady dan kondisi dominasi akibat arus laut

VIV cross-flow akibat respon in-line

VIV cross-flow pada arus steady dengan kondisi kombinasi arus laut dan
gelombang

Pada model respon, vibrasi antara in-line dengan cross-flow adalah dipisahkan.
Kontribusi baik dari region pertama dan kedua pada kasus arus dominan adalah
implisit dalam model in-line. Pengaruh cross-flow ditambah dengan in-line akibat
VIV akan meningkatkan kemungkinan bahaya fatigue.
Respon amplitudo bergantung pada banyak parameter hidrodinamika yang
berhubungan dengan data lingkungan dan model respon. Parameter-parameter
tersebut adalah :

Reduced velocity, VR

Keulegan-Carpenter number, KC

Reynolds number, Re

Current flow velocity ratio,

Stability parameter, KS

Turbulence intensity

Parameter VR adalah parameter umum yang menggambarkan kombinasi antara


arus laut dan arus akibat gelombang, yaitu

II-7

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

VR =

U C + UW
fn D

(2.28)

Persamaan ini dapat disederhanakan kembali melalui hubungan


f0
U
= St m ; (St = 0,2 sebagai fungsi Bilangan Reynolds)
fn
fn D
f0
= 0,2 VR
fn

fn

Frekuensi natural

f0

Frekuensi eksitasi

UC

Kecepatan rata-rata arus laut normal terhadap pipa

UW

Kecepatan arus akibat gelombang signifikan

Do

Diameter luar pipa

Lebar lintasan partikel (Um/o)

Parameter KC untuk kasus sinusoidal ditentukan


2a
KC =
D
Parameter ditentukan
UC
=
U C + UW
Parameter KS ditentukan

KS =

4me T
D 2

kerapatan massa air

total dari modal damping, bergantung pada

(2.29)

(2.30)

(2.31)

damping struktur str. Nilai sebesar 0,005 bisa digunakan bila tidak
ada informasi yang mendetail yang berarti sangat konservatif.
damping tanah soil. Untuk tujuan screening diasumsikan sebesar 0,01
damping hidrodinamik h
me

massa efektif

2.3.1 Aliran di Sekitar Silinder Pada Arus Steady


Salah satu besaran non-dimensional yang menggambarkan aliran fluida adalah
Bilangan Reynolds
Re =

DU

(2.32)

dimana D adalah diameter silinder pipa, U kecepatan arus, kinematik viskositas.


II-8

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


Dapat dijelaskan bahwa tidak ada pemisahan atau turbulensi arus untuk Bilangan
Reynolds lebih kecil 5 (gambar 2.3 (a)). Pemisahan aliran pertama terjadi saat Re
sama dengan 5 dimana akan terbentuk 2 pola aliran yang berbeda yaitu wake dan
boundary layer (gambar 2.3 (b)).

Gambar 2.3 (a) dan (b) Klasifikasi aliran berdasar bilangan Reynolds
Bila Re terus bertambah maka wake cenderung tidak stabil dimana akan berlanjut
terjadinya fenomena vortex shedding. Vortex akan dilepaskan pada sisi lain
silinder dengan frekuensi tertentu.
2.3.2 Pengaruh Parameter L/D Terhadap Respon Dinamik
Apabila rasio panjang terhadap diameter pipa (L/D) lebih kecil dari 30 maka
dapat dikategorikan sebagai respon dengan pembesaran dinamis yang sangat kecil
dan sulit untuk menggambarkan VIV yang terjadi. Harga L/D dapat
menggambarkan VIV pada nilai L/D > 30 dan dapat diasumsikan sebagai
balok/beam bila 30<L/D<100. Pada interval ini frekuensi natural pipa akan
sensitif pada kondisi batas.

II-9

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


Respon diasumsikan sebagai kombinasi antara balok dan kabel bila interval sama
dengan 100<L/D<200, sangat relefan untuk freespan pada kondisi sementara
seperti saat instalasi pipa. Pada interval ini frekuensi natural pipa juga akan
sensitif pada kondisi batas seperti kedalaman perairan.
Bila nilai L/D>200 maka akan sangat relefan untuk diameter pipa kecil pada
kondisi sementara dan dapat diasumsikan sebagai kabel.

2.3.3 Model Respon In-Line Vibration

Respon model arah horisontal atau in-line pada kondisi dominasi arus dapat
diakibatkan oleh vorteks simetris. Kontribusi pada instability region pertama dan
kedua juga tercakup pada model.
Pada perhitungan respon A/D, nilai VR dan Ksd ditentukan
VRd = VR f
K sd =

Ks

(2.33)

Dimana f dan k adalah safety factors berkaitan dengan frekuensi natural dan
redaman. Sebagai tambahan safety factor onset juga diperlukan.Pada perhitungan
kedepan nilai safety factor akan dinggap sama dengan satu untuk mendapatkan
harga sebenarnya dari respon struktur.
Gambar 2.4 menunjukkan model respon in-line vibration yang dapat dibuat
melalui hubungan sebagai berikut

II-10

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

V RIL,onset

1.0

for Ksd < 0.4

onset

0.6 + K sd
for 0.4 < Ksd < 1.6
=
onset

2.2

for Ksd > 1.6

onset

AY ,1
+ V RIL,onset
V RIL,1 = 10.
D
AY , 2

V RIL, 2 = V RIL,onset 2
D
4.5 0.8 K sd for Ksd < 1.0
V RIL,end =
3.7 for Ksd > 1.0

AY ,1
A
K

= max 0.181 sd .R I ,1 ; Y , 2

1.2

D
D

AY , 2

= 0.131 sd .R I , 2
1.8

DNV-F105

Gambar 2.4 Model respon in-line vibration


2.3.4 Gaya Gelombang Air

Gaya-gaya hidrodinamik yang bekerja pada suatu silinder diam di dasar laut
terdiri dari

Berat

submerged

pipa

termasuk

selimut

beton

dan

content

pipa

II-11

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

Gaya drag/seret

Gaya inersia

Gaya lift/angkat

Gaya akibat friksi


Persamaan yang umum digunakan dalam menghitung gaya gelombang adalah

persamaan Morrison (empiris) dimana mengasumsikan bahwa gaya gelombang


adalah penjumlahan dari gaya seret (drag) dan gaya inersia. Persamaan ini berlaku
untuk diameter struktur lebih kecil dari 15% dari panjang gelombang. Persamaan
tersebut dapat ditulis

dF =

1
Cd D ds U U + CI AUds
2
inersia

(2.34)

drag

1
F = Cd DU U ds + C I AUds
2
0
0

Fdrag =

1
Cd DU U
2

(2.35)

(2.36)

drag

FInersia = CI AU

(2.37)

Ketika arus bolak-balik melewati silinder maka timbul gaya lift/angkat dengan
frekuensi getarnya tidak sama dengan gaya yang ditimbulkan. Persamaan tersebut
adalah
Flift =

1
CL DU m 2
2

(2.38)

dengan Cl koefisien gaya angkat, Um kecepatan arus maksimum arah horisontal.

II-12

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


2.4 Validasi Vortex Shedding dengan Computational Fluid Dynamics ( CFD )

Simulasi vortex shedding dengan program komputer telah banyak dipakai di


bidang perindustrian karana mempunyai banyak keuntungan. Pemodelan di
laboratorium ada kalanya lebih mahal bila dibandingkan dengan model program
komputer sehingga tidak perlu dibuat prototype yang baru setiap kali dibutuhkan
model atau rancangan yang baru. 3 tahap utama pemrograman ini antara lain
1. pre-processor :

(melalui GAMBIT 2.2.30)


pendefinisian geometri
mesh generation
pendefinisian boundary conditions dan continuum

2. solver :

(melalui FLUENT 6.2.16)


penaksiran variabel aliran yang tidak diketahui
melakukan proses diskritisasi perhitungan

3. post-processor

(melalui FLUENT 6.2.16)


menampilkan output dari iterasi perhitungan solver baik
berupa visualisasi maupun angka eksak.

Kemampuan pemodelan dengan program fluent ini antara lain

aliran

geometri

2D/3D

untuk

berbagai

variasi

bentuk

mesh

dari

triangular/tetrahedral, quadilateral/hexahedral, dll

aliran kompressibel/inkompressibel

aliran steady/unsteady

aliran laminar/turbulen

perpindahan kalor konveksi (bebas/paksa)/ kalor radiasi

aliran model multi fasa dengan injeksi tambahan

campuran dan reaksi kimia, termasuk reaksi pembakaran

Kemampuan yang akan digunakan adalah uji terhadap aliran turbulen dengan
model viscous RSM (Reynold Stres Model).

II-13

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

GAMBIT
- geometry setup

Geometry

Other
CAD/CAE

Boundary and/or
2D/3D

Boundary

prePDF
-calculation of PDF
FLUENT
- mesh import and adaption

Tgrid

- physical models
PDF files

- boundary conditions
- material properties

- 2D triangular mesh

Mesh

3D tetrahedral mesh

- calculation
- post processing

Mesh

Gambar 2.5 Dasar struktur program

2.4.1 Meshing dan Penentuan Bentuk Kondisi Batas dari Model

Langkah awal untuk pembuatan model mesh adalah dengan membuat model
geometri sesuai dengan spesifikasi input data (BAB IV). Geometri yang dibuat
adalah 2 dimensi.
Untuk melakukan meshing pada GAMBIT pilih tombol mesh command, lalu
tombol faces command, dan kemudian tombol mesh faces. Akan muncul window
mesh faces seperti pada gambar 2.6.

Gambar 2.6 Geometri dan mesh model

II-14

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


2.4.2 Pendefinisian Material dan Kondisi Batas

Selanjutnya setelah proses mesh berhasil maka tipe spesifikasi boundary


seperti dinding atau outflow dapat ditentukan bersama dengan tipe continuumnya.
Model output dari Gambit dapat kita export berupa mesh untuk kemudian diproses
dengan program Fluent.
Pada Fluent pendefinisian awal model adalah dengan RSM (Reynolds Stress
Model) sedangkan definisi material dari continuum adalah air fasa cair (H2O (l)).
Kondisi batas aliran masuk berada di sebelah kiri dengan asumsi tipe velocity inlet
dan kemudian mengalir pada sebelah kanan model dikategorikan sebagai outflow.
Kondisi batas dinding didefinisikan sebagai stationery wall yaitu berada di atas
dan bawah model serta pipa itu sendiri.

2.4.3 Penyelesaian Simulasi program Fluent

Setelah dilakukan pengecekan terhadap grid maka harga awal dapat ditentukan
melalui proses initialize. Setelah itu penyelesaian dihitung dari semua zona untuk
kemudian dilakukan proses iterasi. Proses ini akan berhenti bila telah mencapai
nilai konvergen. Output program dapat dilihat pada gambar berikut

Gambar 2.7 Bentuk kontur stream function

II-15

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

Gambar 2.8 Kontur kekuatan vortisitas

Gambar 2.9 Kontur tekanan total

Gambar 2.9 Kontur intensitasturbulensi

II-16

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


BAB III
ANALISA DINAMIS DENGAN SIFAT TERBAGI RATA

Membuat model struktur dengan koordinat diskrit, memungkinkan adanya


suatu pendekatan praktis dalam menganalisa struktur yang dipengaruhi oleh beban
dinamis. Namun hasil yang didapat dari model diskrit ini hanya memberikan
solusi pendekatan terhadap sifat sebenarnya dari sistem dinamis yang mempunyai
sifat-sifat yang terdistribusi dan kontinu, dan tentu saja mempunyai derajat
kebebasan tak hingga.
Pembahasan kedepan akan difokuskan pada teori dinamis dari balok-balok dan
batang yang mempunyai massa terdistribusi dan bersifat elastis dimana
persamaan-persamaan gerak adalah persamaan-persamaan diferensial parsial.
Pada umumnya integrasi persamaan ini lebih rumit daripada mendapatkan solusi
untuk persamaan diferensial biasa dari sistem dinamis yang diskrit. Karena
kerumitan inilah analisa dianmis untuk struktur sebagai sistem kontinu sangat
terbatas dalam penggunaan praktis. Namun tanpa banyak kesulitan, analisa sistem
kontinu dari beberapa struktur sederhana memberikan hasil yang sangat penting
dalam menilai metoda pendekatan yang berdasar pada model diskrit.

3.1 Getaran Lentur Dari Balok Seragam

Teori Bernoulli-Euler yang menganggap bahwa sebuah penampang melintang


datar dari sebuah balok akan tetap datar selama terjadi lenturan.

Bila kita tinjau diagram freebody pada gambar (3.1) maka persamaan gerak yang
tegak lurus sumbu x dari balok terlentur didapat dengan menyamakan jumlah
gaya-gaya

pada

diagram

freebody

menjadi

sama

dengan

nol.

III-1

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


2 y
V

x + p ( x, t )x m dx 2 = 0
V V +
x
t

(3.1)
2
y
V
+ m 2 = p ( x, t )
x
t

Dari teori lendutan sederhana maka

2 y
x 2

M = EI

(3.2)

M
V=
x

Dimana E adalah modulus elastisitas Young dan I adalah momen inersia


penampang melintang terhadap sumbu netral yang melalui titik berat penampang.
Untuk sebuah balok seragam maka kombinasi persamaan diatas menghasilkan

V = EI

EI

3 y
x 3

(3.3)

4 y
2 y
m
+
= p ( x, t )
x 4
t 2

(3.4)

Dapat dilihat bahwa persamaan (3.4) ini adalah sebuah persamaan differensial
parsial berderajat empat dan merupakan persamaan pendekatan. Hanya lendutan
lateral dari lenturan yang ditinjau, sedangkan lendutan sebagai akibat gaya-gaya
geser dan gaya-gaya inersia yang disebabkan oleh rotasi dari penampang
melintang (inersia rotasi) diabaikan. Masuknya deformasi geser dan inersia rotasi
ke dalam persamaan gerak, akan menambah kerumitan. Persamaan yang meninjau
deformasi geser dan inersia rotasi dikenal sebagai persamaan Timoshenko.
Persamaan differensial (3.4) juga tidak memasukkan pengaruh lentur akibat
adanya gaya-gaya yang bekerja menurut sumbu balok.

3.2 Solusi Dari Persamaan Gerak Dalam Getaran Bebas


Untuk getaran bebas (p(x,t)=0), persamaan (3.4) tereduksi menjadi persamaan
differensial homogen

d4y
d2y
EI 4 + m 2 = 0
dx
dt

(3.5)

Solusi dari persamaan (3.5) didapat dengan cara metoda pemisahan variabelvariabel. Pada metoda ini kita anggap bahwa solusi dinyatakan sebagai hasil
perkalian

dari

sebuah

fungsi

posisi

dan

sebuah

fungsi

waktu

yaitu

III-2

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


y ( x, t ) = ( x) f (t )

(3.6)

Dengan mensubtitusi persamaan (3.6) kedalam persamaan differensial (3.5)


didapat
EIf (t )

d 4 ( x)
d 2 f (t )
+
m

(
x
)
=0
dx 4
dt 2

(3.7)

Persamaan terakhir ini dapat ditulis sebagai

f(t )
EI IV ( x)
=
m ( x)
f (t )

(3.8)

Dengan notasi indeks angka Romawi, dinyatakan penurunan terhadap x dan


indeks titik menyatakan penurunan terhadap waktu. Karena bagian kiri dari
persamaan (3.8) adalah hanya fungsi x dan bagian kanan adalah fungsi t maka
setiap sisi persamaan harus mempunyai konstanta yang sama. Kita ambil 2
sebagai konstanta yang secara terpisah menyamakan tiap sisi dari persamaan (3.8)
serta menghasilkan persamaan differensial berikut

IV ( x) a 4( x) = 0

(3.9)

f(t ) + 2 f (t ) = 0

(3.10)

dimana

a4 =

m2
EI

(3.11)

Untuk mendapatkan harga maka digunakan notasi sebagai berikut

=C

EI
; C = (aL) 2
4
mL

(3.12)

Persamaan (3.10) adalah persamaan getaran bebas untuk sistem berderajat


kebebasan tunggal tak teredam yang solusinya adalah sebagai berikut
f (t ) = A cos t + B sin t

(3.13)

dimana A dan B adalah konstanta integrasi. Persamaan (3.9) dapat diselesaikan


dengan mengambil

( x) = Cesx

(3.14)

Dengan mensubtitusi persamaan (3.14) ke dalam (3.9) diperoleh

( s 4 a 4 )Cesx = 0

(3.15)

dimana untuk mendapatkan solusi non trivial diperlukan


s 4 - a4 = 0

(3.16)

III-3

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


Akar-akar dari persamaan (3.16) adalah sebagai berikut
s1=a,

s3=ai,

s2=-a,

s4=-ai

(3.17)

Dengan mensubtitusi setiap harga-harga akar ini ke dalam persamaan (3.14)


didapatkan sebuah solusi dari persamaan (3.9). Solusi umum didapat dengan
mensuperposisikan keempat solusi yang mungkin ini, yaitu

( x) = C1e ax + C2e ax + C3eiax + C4e iax

(3.18)

dimana C1, C2, C3, dan C4 adalah konstanta integrasi. Fungsi-fungsi eksponensial
dalam persamaan (3.18) dapat dinyatakan dalam besaran-besaran fungsi
trigonometris dan hiperbolis yaitu dalam bentuk hubungan berikut

e ax = cosh ax sinh ax
e iax = cos ax i sin ax

(3.19)

Dengan mensubtitusi hubungan-hubungan ini ke dalam persamaan (3.18)


diperoleh

( x) = A sin ax + B cos ax + C sinh ax + D cosh ax

(3.20)

Dimana A, B, C, dan D adalah konstanta-konstanta integrasi baru. Keempat


konstanta integrasi ini menentukan bentuk dan amplitudo dari balok dalam getaran
bebas, dimana mereka dievaluasi dengan meninjau syarat-syara batas pada ujungujung balok seperti yang diilustrasikan pada contoh-contoh berikut
3.3 Frekuensi Natural dan Bentuk-Bentuk Pola (mode) Pada Balok Dengan Tipe
Kedua Ujung Jepit Dan Sendi
Syarat-syarat batas untuk sebuah balok dengan kedua ujungnya terjepit adalah
Pada x = 0

y (0,t) = 0 atau (0) = 0


y(0,t)= 0 atau ' (0) = 0

Pada x = L

(3.21)

y (L,t) = 0 atau ( L) = 0
y(L,t)= 0 atau ' ( L) = 0

(3.22)

Penggunaan syarat-syarat batas dari persamaan (3.21) ke dalam persamaan (3.20)


memberikan
B + D = 0 dan A + C = 0

dimana syarat-syarat dari pers.(3.22) menghasilkan sistem homogen

III-4

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

(cos aL cosh aL) B + (sin aL sinh aL) A = 0,


(sin aL sinh aL) B + (cos aL cosh aL) A = 0

(3.23)

III-4

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


Dengan menyamakan koefisien-koefisien sistem homogen menjadi sama dengan
nol maka didapatkan pesamaan frekuensi

cos a n L cosh a n L 1 = 0

(3.24)

dari bagian pertama pers.(3.23) didapat


A=

cos aL cosh aL
B
sin aL sinh aL

(3.25)

untuk setiap harga frekuensi natural

n = ( an L ) 2

EI
m L4

(3.26)

Dengan mensubtitusi akar-akar dari persamaan (3.24) ke dalam persamaan (3.12)


diperoleh sebuah pola normal berikut

n ( x) = cosh a n x cos a n x n (sinh a n x sin a n x)

(3.27)

cos a n L cosh a n L
sin a n L sinh a n L

(3.28)

n =

Lima frekuensi natural pertama dihitung dari pers.(3.24) dan (3.27) dan pola-pola
normalnya diperoleh dari pers.(3.27) dan ditunjukkan pada tabel (3.1)
Tabel 3.1 Frekuensi-frekuensi Natural dan Pola-pola Normal untuk Balok-balok
Terjepit

Cn = (anL)2

22.3733

0.8308

61.6728

120.9034

0.364

199.8594

298.5555

0.2323

Untuk balok dengan kedua ujung sendi dihitung dengan cara yang hampir sama
pula sehingga diperoleh tabel (3.2)

III-5

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


Tabel 3.2 Frekuensi-frekuensi Natural dan Pola-pola Normal untuk Balok dengan
Perletakan Sederhana
n

Cn

4/

42

92

4/3

162

252

4/5

In menyatakan konstanta pengali dan diperoleh melalui hubungan berikut


L

In =

( x)dx

0
L

(3.29)

( x)dx

Sedangkan zn menyatakan respon pola dalam keadaan tetap (modal steady state
respon) dan r adalah rasio antara frekuensi eksitasi dengan frekuensi natural.

Zn =

F0
DAF
k

r= 0
n

(3.30)

Secara umum permasalahan tentang aliran arus, pengaruh vibrasi banyak


dibahas pada berbagai bidang disiplin teknik seperti teknik penerbangan,
pembangkit listrik dan transmisi, teknik sipil, kelautan, dan industri lepas pantai.
Jembatan, gedung-gedung tinggi, cerobong asap pada pabrik juga bisa terosilasi
oleh angin kencang. Pada negara 4 musim, es pada jaringan kabel transmisi listrik
bisa bervibrasi dengan amplitudo besar hanya dengan adanya angin yang steady.
Freespan yang biasa terjadi pada sistem pipa bawah laut akan bervibrasi pula bila
terekspos oleh arus kuat.
Pada bab ini akan dibahas pula tentang aliran yang membangkitkan getaran pada
bangunan laut khususnya pipa.

III-6

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


Bagaimanapun juga ada beberapa prinsip dasar yang sama dan bisa diterapkan
pada bidang lain seperti cerobong asap, gedung tinggi, jaringan listrik, dsb.

3.4 Vibrasi Akibat Gaya Luar

Bila diperhatikan kembali pada sub bab 2.2.1 maka parameter c/(m) akan
bernilai sangat kecil (untuk kasus dimana terjadi simpangan maksimum (A)
hampir beresonansi), kita bisa mengambil nilai simpangan A saat resonansi
maksimum. Seperti telah dijelaskan pada bab 2 dari persamaan (2.23) dapat
diuraikan menjadi

Amax ~
=

F0
; (v : frekuensi gerak angular)
c
k(
)
mv

Gambar 3.2 Respon steady akibat gaya luar dengan viscous damping
Gambar 3.2 (a) mengilustrasikan DAF sebagai fungsi dari /v. Nilai maksimum
A ditunjukkan dengan garis putus-putus. Gambar 3.2.(b) menunjukkan variasi
terhadap /v dan parameter c/(m). Vibrasi mulai terjadi ketika /v 0 dan
fasa menejadi 1800 untuk nilai /v yang sangat besar.

III-7

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


BAB IV
ANALISA DAN PERHITUNGAN

Analisa dimulai dengan mengambil beberapa sampel data mulai dari


perhitungan awal yaitu mencari nilai awal dari panjang gelombang hingga kecepatan
partikel dan percepatannya. Dari gambar (4.1) bisa dilihat bahwa lokasi pipa berada di
koordinat (x=0 dan z=-h). Asumsi awal perhitungan adalah sebagai berikut
1. Pipa tidak mempunyai kekasaran yang berpengaruh dan impermeable
2. Fluida yang mengalir adalah ideal yaitu inviscous, impermeabel dan
irrotasional
3. Aliran bersifat steady dan berkarakter sinusoidal
4. Tipe perletakan adalah jepit pada kedua ujung freespan pipa

Gambar 4.1 Detail lokasi pipa

IV-1

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


4.1 Karakteristik Pipa
Diameter Luar

Tebal
Inersia
Elastisitas
Modulus
Densitas
Massa
Lebar Span

E
EI

m
L
n
fn

K.redaman

0.25
10
0.5
160.6
3E+07
4.8E+09
0.284
4.2
240
13.215
2.103
0.125

m
in
in
in^4
psi
lb-in^2
lb/in^3
lb/in
in
rad/s
Hz
-

4.2 Karakteristik Lingkungan


Kerapatan massa fluida

1025

kg/m3

Tinggi gelombang

Perioda gelombang

Kecepatan arus

UC

1.44

m/s

Kedalaman

50

Percepatan gravitasi

9.807

m/s2

Kinematik viskositas

(200C)

1E-06

m/s2

4.3 Perhitungan Awal


Inersia penampang pipa

I=

(D
64

(D 2t )

= 160,6 in 4
Panjang gelombang dapat diketahui yaitu

gT 2 9,81 8 2
L0 =
=
= 99,89
2
2
h
50
=
= 0,501
L0 99,89

h
> 0,5 perairan _ dalam
L0
L = L0 = 99,89

c = 12,49 (m / s )
k = 0,063

Dari persamaan (2.11) diperoleh

IV-2

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

cosh( k ( h + z ))
H

cos( kx t ); ( x = o , z = h , t = 0 )
2
sinh( kh )
1,571
UW =
m/s
sinh( kh )
= 0 ,13 m / s
U = UW +U C

UW =

= 1,571 m / s

aW

H 2 cosh(k (h + z ))
sin(kx t ); ( x = o, z = h, t = 0)

2
sinh(kh)

= 0,11 m / s 2
Tabel 4.1 Hubungan Sebab Akibat Antara Gaya dengan Vibrasi
Gaya
Gaya lift

Frekuensi gaya pada silinder


tetap

Vibrasi

frekuensi lift

Vibrasi arah melintang

frekuensi aliran bolak-balik

Vibrasi arah mendatar

Komponen vortex

frekuensi signifikan lebih besar

Arah mendatar bertumpuk dengan

pada gaya horison

dari aliran bolak-balik

gerak aliran bolak-balik

Gaya in-line
(Morrison)

Hampir tidak mungkin untuk menemukan suatu harga koefisien eksak untuk
masing-masing gaya mengingat, hal ini disebabkan karena adanya variasi terhadap
fungsi Bilangan Reynolds, e/D (Gap Ratio), KC, dan k/D (Parameter kekasaran
permukaan pipa). Namun bila kita teliti lebih jauh pada gambar 4.2 (b) nilai
R.m.s (root mean square) dari koefisien lift pada kasus freespan untuk harga e/D
bisa diperoleh harga CL mendekati 0,3. Hal serupa berlaku untuk nilai CD

dan CI pada gambar 4.2 (a) dan 4.3.

Sumer, B.Mutlu and Fredsoe, Jorgen

IV-3

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

Sumer, B.Mutlu and Fredsoe, Jorgen

Gambar 4.2 (a) dan (b) Nilai koefisien drag dan lift

Sumer, B.Mutlu and Fredsoe, Jorgen

Gambar 4.3 Nilai koefisien inersia


Sehingga dari pers.(2.31) dan (2.30) maka komponen gaya lift dan gaya
Morrisonnya adalah

1
CD DU U
2
= 2,56lb = 11,38 N
= C AU

Fdrag =

1
C L DU m 2
2
= 21,32 lb
= 94,84 N

Flift =

FInersia
Fmorrison

= 74,78lb = 332,62 N
= Fdrag + Finersia
= 77,33 lb

IV-4

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


4.4 Respon Vertikal (cross flow vibration) Pada Tengah Bentang Tipe Jepit-Jepit dan
Sendi-Sendi

Apabila rasio frekuensi sama dengan satu maka harga Zn pada tipe perletakan
kedua ujung balok terjepit dapat ditentukan dan nilai DAF akan mencapai
maksimum sesuai dengan persamaan (2.27).
F0
DAF
k
21,31
=
4
727
= 0,117 in = 0,3 cm

Zn =

Dari persamaan (2.23) respon steady state dapat diperoleh dengan mengikuti
tabel (3.1) dan (3.2) dengan anggapan frekuensi eksitasi tetap (13,2 rad/s)

Tabel 4.2 Tabel Respon Pada Tengah Bentang Tipe Jepit-jepit


Pola

Cn

fn

DAF

Zn(in)

22.3733

13.2155

2.103305

0.838

727

9.83E-02

61.6728

36.4289

5.797835

5522

0.36

1.07

120.903

71.4152

11.36608

0.364

21224

0.19

1.02

3.72E-04

199.859

118.053

18.7887

57995

0.11

1.01

298.556

176.351

28.06708

0.2323

129417

0.07

1.00

3.84E-05

Tabel 4.3 Tabel Respon Pada Tengah Bentang Tipe Sendi-sendi


Pola

Cn

fn

DAF

Zn(in)

5.830

0.928

4/

141

7.675E-01

42

23.319

3.711

2263

0.25

1.031

92

52.468

8.351

4/3

11456

0.111

1.006

7.943E-04

162

93.276

14.845

36206

0.063

1.002

145.744

23.196

4/5

88393

0.04

1.001

6.145E-05

25

Sedangkan untuk berbagai nilai dari frekuensi eksitasi dari 0 sampai dengan 40
radian/sekon maka respon vertikal diberikan pada tabel 4.4 dan 4.5.

IV-5

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


Tabel 4.4 Tabel Respon Tipe Jepit-jepit untuk Berbagai Nilai Frekuensi Eksitasi
o
(rad/s)

fo

DAF

Zn(in)

A/D

KC

VR

0.95493

0.45

1.25

0.0366

0.00372

6.579

2.270

10

1.59

0.76

2.14

0.0627

0.00637

3.947

3.783

13.215

2.10

0.1173

0.01192

2.987

20

3.18

1.51

0.74

0.0218

0.00222

1.974

7.567

30

4.77

2.27

0.24

0.0070

0.00071

1.316

11.350

40

6.37

3.03

0.12

0.0036

0.00036

0.987

15.134

Rasio antara respon steady state yp(t) dengan respon statis yst disebut dengan DAF
(dynamic amplification factor) seperti yang telah diberikan sebelumnya pada
persamaan (2.27) dan diberikan pada gambar 4.4

Tabel 4.5 Tabel Respon Tipe Sendi-sendi untuk Berbagai Nilai Frekuensi Eksitasi
(rad/s)

fo

DAF

Zn (in)

A/D

KC

VR
0

3.5

0.557

0.60

1.52

0.22941

0.023

11.28

4.5

0.716

0.77

2.23

0.33649

0.034

8.77

3.86

5.83

0.928

0.60283

0.061

6.77

10

1.592

1.715

0.5027

0.07577

0.008

3.95

8.577

20

3.183

3.431

0.0926

0.01395

0.001

1.97

17.153

4.5
4
3.5
3

DAF

2.5
2
1.5
1
0.5
0
0

0.5

1.5

2.5

3.5

r (o/ n)

Gambar 4.4 Dynamic amplification factor

IV-6

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


Model yang diperoleh diplotkan pada gambar 4.5 dan 4.6. Standar DNV
memberikan harga batas A/D lebih besar dari data model karena standar dibuat
dengan tujuan memberikan safety factor pada struktur yang akan diaplikasikan di
lapangan.
Secara umum hampir semua nilai data analisa berada di bawah code, tetapi pada
awalnya nilai data berada diatas code sampai pada Vr = 2. Cukup beralasan karena
respon yang diberikan pada range tersebut sangat kecil (max = 0,006 in =0,2 mm
). Hal serupa juga terjadi untuk kasus respon tipe sendi-sendi.
Pada kenyataannya respon yang diberikan pada suatu model struktur akan
memberikan harga dibawah standar DNV.
Tidak ada rumusan yang eksak untuk memberikan berapa harga safety factor yang
dibutuhkan. Nilai SF ini murni empiris dan mengacu pada pengalaman para
engineer.
Perbandingan Model Respon Amplitudo X-flow
Vibration (=0.125) dengan DnV F105 (2002)
A/D
DnV (all KC,
alpha>0.8)

1.4
1.2

Data (alpha>0.8)

1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
0

10

12

14

16

18

Vr (Reduced Ve locity)

Gambar 4.8 Perbandingan model respon data tipe jepit-jepit dengan DNV code
RP-F105 (2002)

IV-7

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

Perbandingan Model Respon


Amplitudo X-flow Vibration (=0.125)
dengan DnV F105 (2002)
A/D
1.4
1.2

DnV (all KC,


alpha>0.8)

Data
(alpha>0.8)

0.8
0.6
0.4
0.2
0
0

10

12

14

16

18

20

Vr (Reduced Velocity)

Gambar 4.9 Perbandingan model respon data tipe sendi-sendi dengan DNV code
RP-F105 (2002)

4.5 Model Respon Horisontal (in-line vibration) Pada Tengah Bentang Tipe JepitJepit dan Sendi-Sendi

Gaya luar atau disebut juga sebagai gaya eksitasi dinotasikan F0 dan identik
dengan gaya horisontal atau gaya Morisson seperti dijelaskan pada Tabel 4.1.
Apabila rasio frekuensi sama dengan satu maka harga Zn pada tipe perletakan
kedua ujung balok terjepit dapat ditentukan dan nilai DAF akan mencapai
maksimum sesuai dengan persamaan (2.27).
F0
DAF
k
77,78
=
4
727
= 0,43 in = 1,08 cm

Zn =

Berdasarkan banyak penelitian seperti King (1974), Wootton (1969), Walker


(1987) apabila f0 = fn maka Bilangan Strouhal akan berkisar 0.2 dan nilai
kecepatan tereduksi dan respon in-line saat f0 = fn (r=1) akan menjadi

IV-8

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


1
3St
1
=
1.7
3 0.2

VR =

A 0.0108
=
0.25
D
= 0.043

Dari output model Fluent pada Gambar 2.9 kita tahu bahwa nilai intensitas
turbulen Ic akan berkisar 15% sehingga melalui Gambar 4.10 diperoleh harga rel
sebesar 300. Respon in-line vibration dapat dihitung dan disajikan pada Tabel 4.6

DNV-F105

Gambar 4.10 Intensitas turbulen


Tabel 4.6 Respon in-line vibration
c

0.15

rel

30

R,1
R,2

VR

A/D

Keterangan

VR,onset

Ksd < 0,4

0.35

VR,1

1.67

0.0432

f0 = fn ; St=0,2

0.29

VR,2

4.42

0.032

VR,end

4.27

Ksd < 1.0

Gambar 4.11 menunjukkan perbandingan respon data dengan standar DNV


dengan nilai Ks ditentukan

4me T
D 2
= 0.292

KS =

IV-9

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

Perbandingan Model Respon Amplitudo in-line Vibration


dengan DnV F105 (2002)
A/D

Data (Ksd = 0.3)


0.2
0.18

DnV Ksd = 0

0.16
0.14

DnV Ksd=0.5

0.12
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02

Vr (reduced velocity)

0
0

Gambar 4.11 Perbandingan model respon tipe jepit dengan DNV code RP-F105

Dengan cara yang sama pula dapat diperoleh model respon tipe sendi (Gambar
4.12)
Perbandingan Model Respon Am plitudo inline Vibration de ngan DnV F105 (2002)

A/D
0.2
0 .1 8
0.16
0.14
0.12
0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0
0

Data (Ksd = 0.3)


DnV Ksd = 0
DnV Ksd=0.5

Vr (reduced velocity)

Gambar 4.11 Perbandingan model respon tipe sendi dengan DNV code RP-F105

IV-10

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


4.6 Respon Vertikal (cross flow vibration) Berdasarkan Pada Nilai Redaman dan
Kecepatan Partikel

Harga dari koefisien redaman untuk suatu struktur adalah jauh lebih kecil dari
koefisien redaman kritis dan berkisar dari 2 sampai dengan 20% dari harga
redaman kritis atau 0,02 < < 0,2. Redaman ini disebut juga sebagai redaman
subkritis (C<Ccr).
Apabila kita tinjau respon pipa pada VR sama dengan 5 dimana nilai simpangan
mencapai maksimum maka dapat diambil nilai redaman seperti diatas dan
diperoleh respon statik pipa mulai dari kecepatan partikel total sama dengan nol
sampai dengan nilai ekstrim maksimum 1,571 m/s.
Tabel 4.7 (a) Respon Vertikal Pada VR=5 ( = 0,02 0,2 )

0.02

Um Fo (lift) (lb)
0
0
0.2
0.35
DAF 0.4
1.38
25
0.6
3.11
0.8
5.53
1
8.64
1.2
12.44
1.4
16.94
1.571
21.31

Zn(in)
A/D
0
0
0.01189 0.001208
0.04756 0.004832
0.10701 0.010872
0.19023 0.019328
0.29724 0.0302
0.42803 0.043487
0.58259 0.059191
0.73319 0.074492

Um Fo (lift) (lb)

0.125 0
0
0.2
0.35
DAF 0.4
1.38
4
0.6
3.11
0.8
5.53
1
8.64
1.2
12.44
1.4
16.94
1.571
21.31

Zn(in)
A/D
0
0
0.00190 0.000193
0.00761 0.000773
0.01712 0.001739
0.03044 0.003092
0.04756 0.004832
0.06848 0.006958
0.09321 0.009471
0.11731 0.011919

0.16
DAF
3.125

0.2
DAF
2.5

Um
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
1.571

Fo (lift) (lb)
0
0.35
1.38
3.11
5.53
8.64
12.44
16.94
21.31

Zn(in)
0
0.001
0.006
0.013
0.024
0.037
0.054
0.073
0.092

A/D
0
0.000
0.001
0.001
0.002
0.004
0.005
0.007
0.009

Um
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
1.571

Fo (lift) (lb)
0
0.35
1.38
3.11
5.53
8.64
12.44
16.94
21.31

Zn(in)
0
0.001
0.005
0.011
0.019
0.030
0.043
0.058
0.073

A/D
0
0.000
0.000
0.001
0.002
0.003
0.004
0.006
0.007

Jelas ditunjukkan bahwa nilai simpangan lebih besar bila redaman kecil, demikian
halnya dengan nilai kecepatan total partikel. Hal tersebut juga berlaku pada nilai
VR selain dari 5. Tabel 4.7 (b) adalah respon vertikal saat VR sama dengan 8.

IV-11

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


Tabel 4.7 (b) Respon Vertikal Pada VR=8 ( = 0,02 0,2 )

0.02
DAF
0.64

0.125

o (lift) (lb)
0
0.35
1.38
3.11
5.53
8.64
12.44
16.94
21.31

Zn(in)
0
.00030
.00122
.00274
.00487
.00762
.01097
.01493
.01878

A/D
0
.1E-05
.2E-04
.8E-04
.0E-04
.7E-04
.1E-03
.5E-03
.9E-03

Um
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
1.571

o (lift) (lb)
0
0.35
1.38
3.11
5.53
8.64
12.44
16.94
21.31

Zn(in)
0
.00030
.00118
.00266
.00472
.00738
.01063
.01447
.01821

A/D
0
.0E-05
.2E-04
.7E-04
.8E-04
.5E-04
.1E-03
.5E-03
.9E-03

0.16
DAF
0.61

0.2
DAF
0.59

Um
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
1.571

Fo (lift) (lb)
0
0.35
1.38
3.11
5.53
8.64
12.44
16.94
21.31

Zn(in)
0
0.00029
0.00116
0.00261
0.00463
0.00724
0.01043
0.01419
0.01786

A/D
0
2.9E-05
1.2E-04
2.6E-04
4.7E-04
7.4E-04
1.1E-03
1.4E-03
1.8E-03

Um
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
1.571

Fo (lift) (lb)
0
0.35
1.38
3.11
5.53
8.64
12.44
16.94
21.31

Zn(in)
0
0.00028
0.00113
0.00254
0.00451
0.00705
0.01015
0.01382
0.01739

A/D
0
2.9E-05
1.1E-04
2.6E-04
4.6E-04
7.2E-04
1.0E-03
1.4E-03
1.8E-03

Gambar 4.12 merupakan hasil plot dari Tabel 4.7 dan menegaskan bahwa nilai Um
berbanding lurus dengan simpangan.

Perbandingan A/D versus Um (Vr=5)


0.14
0.12

A/D

DAF
0.62

Um
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
1.4
1.571

0.1

=0.02

=0.125

=0.16

=0.2

0.08
0.06
0.04
0.02
0
0

0.5

1.5

Um (m/s)

Gambar 4.12 (a) Perbandingan A/D versus Um pada VR = 5

IV-12

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

Perbandingan A/D versus Um (Vr = 8)


0.0025

A/D

0.002

0.0015

0.001

=0.02

=0.125

0.0005

=0.16

=0.2

Um (m/s)

0
0

0.2

0.4

0.6

0.8

1.2

1.4

1.6

1.8

Gambar 4.12 (b) Perbandingan A/D versus Um pada VR = 8


Tabel 4.8 dan Gambar 4.13 menunjukkan respon pipa pada semua nilai VR dengan
interval koefisien redaman sama dengan 0,02 < < 0,2.
Tabel 4.8 Respon Vertikal Berdasarkan Pada Nilai Koefisien Redaman
=0.02
DAF
A/D
1
0
2.334 0.0070
25
0.0745
0.774 0.0023
0.241 0.0007
0.123 0.0004
0.075 0.0002

=0.125
DAF
1
2.139
4
0.744
0.239
0.122
0.075

=0.16
DAF
A/D
1
0
2.0356 0.0061
3.125
0.0093
0.7256 0.0022
0.2372 0.0007
0.1217 0.0004
0.0748 0.0002

A/D
0
0.0064
0.0119
0.0022
0.0007
0.0004
0.0002

=0.2
DAF
A/D
1
0
1.909353 0.0057
2.5
0.0074
0.701626 0.0021
0.235221 0.0007
0.121204 0.0004
0.074626 0.0002

Model Respon Amplitudo X-flow Vibration


A/ D
0.08

0.07

0.06

=0.16
=0.2
=0.02
=0.125

0.05

0.04

0.03

0.02

0.01

Vr (Re duce d Ve locity)


0.00
0

10

12

14

16

18

20

Gambar 4.13 Respon vertikal berdasarkan pada nilai koefisien redaman


IV-13

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

Perbandingan Model Respon Amplitudo X-flow


Vibration (L/D=24,4) dengan DnV F105 (2002)
A/D
1.4

DnV (all KC,


alpha>0.8)

1.2

Data x=0.16
1

Data x=0.2
0.8

Data x=0.02
0.6

Data (alpha>0.8)
0.4

0.2

V r (Reduce d Velocity)

0
0

10

12

14

16

18

Gambar 4.14 Perbandingan model respon data dengan DNV code RP-F105 (2002)

4.7 Respon Vertikal (cross flow vibration) Berdasarkan Pada Rasio Panjang Freespan
Dengan Diameter Pipa

Respon pada Gambar 4.12 terjadi saat Um sama dengan 1.571 m/s dan koefisien
redaman sama dengan 0,02. Asumsi ini digunakan untuk mendapatkan gambaran
respon pada nilai L/D = 24,4 dimana dikategorikan sebagai respon dengan
pembesaran dinamis yang sangat kecil dan sulit untuk menggambarkan VIV yang
terjadi. Harga L/D dapat menggambarkan VIV pada nilai L/D > 30 dan dapat
diasumsikan sebagai balok bila 30<L/D<100. Pada interval ini frekuensi natural
pipa akan sensitif pada kondisi batas.
Respon diasumsikan sebagai kombinasi antara balok dan kabel bila interval sama
dengan 100<L/D<200, sangat relefan untuk freespan pada kondisi sementara
seperti saat instalasi pipa. Pada interval ini frekuensi natural pipa juga akan
sensitif pada kondisi batas seperti kedalaman perairan.
Bila nilai L/D>200 maka akan sangat relefan untuk diameter pipa kecil pada
kondisi sementara dan dapat diasumsikan sebagai kabel.
Harga masing-masing rasio L/D, kekauan dan frekuensi natural pipa diperlihatkan
pada Tabel 4.9.

IV-14

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


Tabel 4.10 (a dan b) dan menunjukkan respon vertikal pada koefisien redaman
sama dengan 0,02 dengan asumsi diameter pipa adalah tetap.
Tabel 4.9 Nilai Kekakuan dan Frekuensi Natural Pada Rasio L/D
L (in)
240
472
1417
2008
295
591
984

L (m)
6.096
12
36
51
7.5
15
25

n
13.22
3.41
0.38
0.19
8.73
2.18
0.79

L/D
24.384
48
144
204
30
60
100

k
726.7846
48.4017
0.597552
0.148356
317.2054
19.82533
2.569363

Tabel 4.10 (a) Respon Vertikal Berdasarkan Pada Rasio L/D


o (rad/s)
0
10
13.22
20
30
40
50
60
70

L/D = 24.4
r
DAF
A/D
0
1
0
0.76 2.334 0.0070
1
25
0.0745
1.60 0.640 0.0019
2.28 0.238 0.0007
3.04 0.122 0.0004
3.79 0.075 0.0002
4.55 0.051 0.0002
5.31 0.037 0.0001

VR
0
3.783
5
8.000
11.405
15.188
18.972
22.755
26.54

o (rad/s)
0
2
3.41
10
20
30
40
50
60

r
0
0.586
1
2.932
5.864
8.796
11.729
14.661
17.593

L/D = 48
DAF
A/D
1
0
1.523
0.068
25
1.118534
0.132
0.006
0.0299
0.0013
0.0131
0.0006
0.0073
0.0003
0.0047
0.0002
0.0032
0.0001

VR
0
2.932
5
14.661
29.322
43.982
58.643
73.304
87.965

Tabel 4.10 (b) Respon Vertikal Berdasarkan Pada Rasio L/D


L/D = 144
o
(rad/s)
0
0.2
0.38
0.6
0.8
1
1.2
1.4

L/D = 400

DAF

A/D

VR

o (rad/s)

DAF

A/D

VR

0
0.53
1
1.58
2.11
2.64
3.17
3.69

1
1.39
25
0.66
0.29
0.17
0.11
0.08

0
5.02
90.6
2.40
1.05
0.61
0.40
0.29

0
2.64
5
7.92
10.56
13.19
15.83
18.47

0
0.05
0.19
0.4
0.6

0
0.264
1
2.11
3.17

1
1.075
25
0.286
0.109

0
15.69
364.9
4.183
1.604

0
1.324
5
10.592
15.888

Tabel 4.11 (a dan b) dan Gambar 4.15 menunjukkan respon vertikal pada
koefisien redaman sama dengan 0,125 dengan asumsi diameter pipa adalah tetap.

IV-15

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut


Tabel 4.11 (a) Respon Vertikal Berdasarkan Pada Rasio L/D
o (rad/s)
0
10
13.22
20
30
40
50
60

r
0
0.757
1
1.513
2.270
3.027
3.783
4.540

L/D = 24.4
DAF
1
2.13941
4
0.743707
0.238564
0.122008
0.074918
0.050902

A/D
0
0.0064
0.0119
0.0022
0.0007
0.0004
0.0002
0.0002

VR
0
3.783
5
7.567
11.350
15.134
18.917
22.701

o (rad/s)
0
2
2.18
4
6
8
10
12

L/D = 60
r
DAF
0
1
0.59 1.49
1
4
1.17 2.099
1.76 0.467
2.35 0.220
2.93 0.131
3.52 0.088

A/D
0
0.0666
0.1790
0.0939
0.0209
0.0099
0.0059
0.0039

VR
0
2.93
5
5.9
8.8
11.7
14.7
17.6

Tabel 4.11 (b) Respon Vertikal Berdasarkan Pada Rasio L/D


o (rad/s)
0
5
8.73
10
15
20
25
30

L/D = 30
r
DAF
0
1
0.573 1.46
1
4
1.145 2.36
1.718 0.50
2.291 0.23
2.863 0.14
3.436 0.09

A/D
0
0.0099
0.0273
0.0161
0.0034
0.0016
0.0009
0.0006

L/D = 100
r
DAF
0
1
0.509 1.33
0.764 2.18
1
4
1.273 1.44
1.909 0.37
2.545 0.18
3.182 0.11

o (rad/s)
0
0.4
0.6
0.79
1
1.5
2
2.5

VR
0
2.86
5
5.73
8.59
11.45
14.32
17.18

A/D
0
1.12
1.84
3.37
1.21
0.31
0.15
0.09

VR
0
2.55
3.82
5
6.36
9.54
12.73
15.91

Respon Vertikal Berdasarkan Pada Rasio L/D


A/D
4.0
3.5
L/D = 30

3.0
2.5

L/D = 60

2.0
L/D = 100

1.5
1.0
0.5

Vr ( Reduced Ve locity)

0.0
0

10

12

14

16

18

Gambar 4.15 Respon Vertikal Berdasarkan Pada Rasio L/D

Gambar 4.16 membandingkan hasil respon vertikal terhadap Standar DnV

IV-16

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

Respon Vertikal Berdasarkan Pada Rasio L/D


A/D
4.0
3.5
L/D = 30
3.0
L/D = 60
2.5
L/D = 100
2.0
DnV (alpha>0.8)
1.5
1.0
0.5
Vr (Reduced Velocity)

0.0
0

10

12

14

16

18

Gambar 4.16 Perbandingan model respon data dengan DNV code RP-F105 (2002)

4.8 Respon Vertikal (cross flow vibration) Berdasarkan Pada Besar Arus Total (Um)
Arus total sebesar 1,571 m/s merupakan kondisi ekstrim seperti yang telah
diuraikan pada subbab diatas. Perhitungan berikut adalah respon vertikal pipa bila
parameter kecepatan partikel total (Um) diubah.
Standar DnV menjelaskan bahwa pa da interval 1<Um<2 (m/s) adalah kondisi
arus ekstrim. Sedangkan kondisi operasional tentu akan berada di bawah nilai
tersebut (Um<1 m/s).
Perhitungan diuraikan pada Tabel 4.12 dan diplotkan pada Gambar 4.17 dengan
nilai koefisien redaman dan rasio L/D adalah tetap.

Tabel 4.12 Respon Vertikal Berdasarkan Besar Arus


Um (m/s)
DAF
1
2.139
4
0.744
0.239
0.122
0.075
Fo (lb)

Um = 0,5 (m/s)
A/D
0
0.0006
0.0012
0.0002
0.0001
0.0000
0.0000
2.160273

Um = 1 (m/s)
A/D
0
0.0026
0.0048
0.0009
0.0003
0.0001
0.0001
8.641093

Um = 1,571 (m/s)
A/D
0
0.0064
0.0119
0.0022
0.0007
0.0004
0.0002
21.31455

Um = 2 (m/s)
A/D
0
0.0103
0.0193
0.0036
0.0012
0.0006
0.0004
34.56437

IV-17

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

Model Respon Amplitudo X-flow Vibration

(Variasi Kecepatan)

A/D
0.025

0.020

Um = 0,5 (m/s)
Um = 1 (m/s)

0.015

Um = 2 (m/s)
Um = 1,571 (m/s)
0.010

0.005

Vr (Reduced Velocity)

0.000
0

10

12

14

16

18

Gambar 4.17 Model respon vertikal berdasarkan besar arus


4.9 Respon Horisontal (in-line vibration) Akibat Gaya Morisson

Hampir sama dengan respon vertikal, amplitudo pada respon horisontal juga
mencapai maksimum saat f0=fn atau rasio frekuensi sama dengan satu. Namun ada
beberapa hal yang membedakan seperti gaya yang dipakai yaitu gaya Morisson
dan tentunya akan memberikan besar amplitudo getaran yang berbeda pula.
Tabel 4.13 menguraikan respon ini dengan frekuensi eksitasi yang berbeda-beda.

Tabel 4.13 Respon Horisontal (in-line vibration) untuk Berbagai Nilai Frekuensi
Eksitasi
o (rad/s)
0
10
13.215
20
30
40

fo
0
1.59
2.10
3.18
4.77
6.37

r
0
0.76
1
1.51
2.27
3.03

DAF
1
2.14
4
0.74
0.24
0.12

Zn(in)
0
0.2277
0.4256
0.0791
0.0254
0.0130

A/D
0
0.023129
0.043244
0.00804
0.002579
0.001319

VR
0
1.2611496
1.6666667
2.5222992
3.7834489
5.0445985

Gambar 4.18 adalah perbandingan hasil plot dari Tabel 4.13 dengan standar DNVF105, tentu saja nilai KS tetap mengacu pada perhitungan sebelumnya sebesar 0,3.

IV-18

Analisa Dinamik Freespan Pada Pipa Akibat Beban Arus Laut

Perbandingan Model Respon Am plitudo in-line Vibration


( =0.125) dengan DnV F105 (2002)

A/D

0.2
0.18

Data (Ksd = 0.3)

0.16
0.14
0.12

DnV Ksd = 0

0.1
0.08
0.06
0.04

DnV Ksd=0.5

0.02
0

Vr (reduced velocity)
0

Gambar 4.18 Respon Horisontal (in-line vibration) untuk Berbagai Nilai


Frekuensi Eksitasi

Dari gambar dapat diketahui bahwa dengan rasio L/D sama dengan 60 maka nilai
respon masih berada di bawah standar DNV yang juga dimodelkan dengan rasio
L/D = 60. Hasil ini tetap mengacu pada asumsi awal perhitungan dengan harga
sama dengan 0,125 dan nilai DAF adalah 4 saat VR sama dengan 5.
Hal di atas menegaskan kembali bahwa selisih antara keduanya adalah safety
factor yang diberikan oleh standar agr tidak terjadi failure pada pipa akibat beban
lingkungan.

IV-19