Anda di halaman 1dari 62

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu faktor yang menentukan tingkat kesehatan dan
kesejahteraan manusia adalah gizi. Gizi merupakan faktor penting yang
memegang peranan dalam siklus kehidupan manusia terutama bayi dan
anak yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa (Depkes, 2002).
Pencapaian tumbuh kembang yang optimal pada bayi, di dalam Global
Strategy

for

Infant

and

Young

Child

Feeding,

WHO/UNICEF

merekomendasikan empat hal penting yang harus diperhatikan yaitu:


pertama memberikan air susu ibu kepada bayi segera dalam waktu 30
menit setelah bayi lahir, kedua memberikan hanya air susu ibu (ASI) saja
atau pemberian ASI secara eksklusif sejak lahir sampai bayi berusia 6
bulan, ketiga memberikan makanan pendamping air susu ibu (MPASI)
sejak bayi berusia 6 bulan sampai 24 bulan, dan keempat meneruskan
pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih (Depkes, 2006).
Meski demikian dalam pelaksanaannya menunjukan banyaknya
pelanggaran. Banyak bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif yaitu dengan
memberi bayi yang baru lahir dengan produk makanan pendamping ASI.
Secara nasional cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia
berfluktuasi dan menunjukkan kecenderungan menurun selama 3 tahun
terakhir. Hal ini menggambarkan meningkatnya pemberian MP-ASI dini
dari 71,4% pada tahun 2007 menjadi 75,7% pada tahun 2008 (Depkes,
2010).
Pemberian makanan tambahan pada usia dini terutama makanan
padat justru menyebabkan banyak infeksi, kenaikan berat badan, alergi
pada salah satu zat gizi yang terdapat dalam makanan. Pemberian cairan
tambahan meningkatkan resiko terkena penyakit karena pemberian cairan
dan makanan padat menjadi sarana masuknya bakteri pathogen (Fika,
2009).
Hasil penelitian sesuai dengan pendapat dari Depkes RI yang
mengatakan bahwa, MP-ASI dini merupakan faktor risiko dan dapat
meningkatkan morbiditas pada bayi (Wiwoho, 2005). Dampak negatif dari

pemberian MP-ASI dini berdasarkan riset yang dilakukan oleh Pusat


Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan selama 21 bulan
diketahui, bayi ASI parsial lebih banyak yang terserang diare, batuk-pilek,
dan panas ketimbang bayi ASI predominan.
Berdasarkan uraian tersebut peneliti merasa tertarik mengetahui
bagaimana pengetahuan dan sikap ibu dengan ketepatan pemberian
MPASI di Posyandu Leci , Desa Tiripan pada Agustus 2015
1.2 Rumusan Masalah
Menilai pengetahuan dan sikap ibu dengan ketepatan pemberian
MPASI di Posyandu Leci , Desa Tiripan pada Agustus 2015
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap ibu dengan ketepatan
pemberian MPASI di Posyandu Leci , Desa Tiripan pada Agustus 2015
1.3.2 Tujuan khusus
Meningkatkan pengetahuan ibu mengenai pentingnya ketepatan

pemberian MPASI pada anak


Meningkatkan kesadaran ibu mengenai pemberian MPASI sesuai

dengan usia dan kebutuhan anak


Meningkatkan pengetahuan ibu mengenai resiko pemberian MPASI

yang tidak tepat


Menurunkan angka kegawatan dan komplikasi dari pemberian MPASI
yang tidak tepat

1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Masyarakat khusus nya para ibu di Dusun Leci, Desa Tiripan
Masyarakat mendapatkan informasi yang benar mengenai ketepatan

pemberian MPASI
Masyarakat mendapatkan informasi mengenai sikap yang benar
mengenai ketepatan pemberian MPASI

Masyarakat mendapatkan informasi yang benar mengenai kegawatan

dan komplikasi dari pemberian MPASI yang tidak tepat.


1.4.2 Bagi Dokter Internship
Dapat mengembangkan kemampuan komunikasi verbal maupun non
verbal dokter internship di bidang promotif dan preventif kesehatan

masyarakat.
Meningkatkan pengetahuan dokter internsip tentang usaha kesehatan
masyaraka

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1 Konsep Pengetahuan
Konsep pengetahuan ini, penulis mengacu pada pendapat dari Soekidjo
Notoatmojo yang dikutip oleh Wahit Iqbal (2007) sebagai berikut :
1.

Pengertian pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan
adalah merupakan hasil mengingat suatu hal, termasuk mengingat kembali
kejadian yang pernah dialami baik secara sengaja maupun tidak sengaja

dan ini terjadi setelah orang melakukan kontak atau pengamatan terhadap
suatu objek tertentu.
2.

Proses Adopsi Perilaku


Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada
perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan, sebab perilaku ini terjadi
akibat adanya paksaan atau aturan yang mengharuskan untuk berbuat.
Penelitian

Rogers,1974

mengungkapkan

bahwa

sebelum

orang

mengadopsi perilaku baru, didalam diri orang tersebut terjadi proses yang
berurutan, yakni:

Kesadaran atau Awarenes, dimana orang tersebut


menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu

terhadap stimulus.
Merasa tertarik atau Interest, terhadap stimulasi atau

objek tersebut.
Evaluasi

atau Evaluation, menimbang-nimbang

terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi


dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik
lagi.

Mencoba atau Trial, dimana subjek mulai mencoba


melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki

oleh Stimulus.
Adopsi
atau Adaption, dimana

subjek

telah

berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran,


dan sikap terhadap stimulus.
3.

Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan
yaitu:

Tahu atau Know diartikan sebagai mengingat suatu materi


yang telah dipelajari sebelumnya, mengingat kembali

atau recall terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan

atau rangsangan yang telah diterima.


Memahami atau Comprehension, diartikan sebagai suatu
kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang
diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut

secara luas.
Aplikasi atau Aplication, diartikan sebagai kemampuan
untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada

situasi atau kondisi nyata.


Analisis atau Analysis, adalah suatu kemampuan untuk
menjabarkan materi atau suatu obyek kedalam komponenkomponen tetapi masih didalam suatu struktur organisasi

tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.


Sintesis atau Synthesis, menunjukkan pada

suatu

kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan


bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang

baru.
Evaluasi atau Evaluation, ini berkaitan dengan kemampuan
untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu
materi atau objek.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang:

Pendidikan, pendidikan berarti bimbingan yang diberikan


seseorang pada orang lain terhadap sesuatu hal agar mereka

dapat memahami.
Pekerjaan, lingkungan

pekerjaan

dapat

menjadikan

seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik

secara langsung maupun secara tidak langsung.


Umur, dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi

perubahan pada aspek fisik dan psikologis (mental).


Minat, sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang
tinggi terhadap sesuatu minat menjadikan seseorang untuk
mencoba dan menekuni suatu hal dan pada akhirnya
diperoleh pengetahuan yang lebih mendalam.

Pengalaman, adalah suatu kejadian yang pernah dialami

seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya.


Kebudayaan lingkungan sekitar, kebudayaan dimana kita
hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap

pembentukan sikap kita.


Informasi, kemudahan untuk memperoleh suatu informasi
dapat

membantu

mempercepat

seseorang

untuk

memperoleh pengetahuan yang baru

2.2 Konsep Ibu Dalam Keluarga


Menurut Kartini Kartono (1999) keluarga merupakan organisasi terpenting
dalam kelompok social keluarga merupakan lembaga paling utama dan paling
pertama yang bertanggung jawab ditengah masyarakat dalam menjamin
kesejahteraan social dan kelestarian biologis manusia
Sebagian besar anak manusia tumbuh dan berkembang serta didewasakan
dalam lingkungan keluarga. Dan sejak masa bayi anak akan menghirup iklim
kasih sayang dan loyalitas terhadap ideologi keluarga. Ideologi ini dimulai dengan
nama/adat istiadat, tradisi, emosi nilai dan lain sebagainya yang berfungsi sebagai
pengikat persatuan dalam keluarga. Hal ini tidak terlepas dari peran ibu sebagai
penopang utama kasih sayang dalam keluarga. Sedangkan fungsi utama dari ibu
bagi keluarga adalah:
2.2.1 Peran ibu sebagai istri dan teman hidup
Hal ini mencakup sikap hidup yang mantap, bisa mendampingi suami
dalam situasi yang bagaimanapun juga. Disertai rasa kasih sayang, kecintaan,
loyalitas dan kesetiaan pada pasangan hidupnya, juga mendorong suaminya untuk
berkarir dengan cara yang sehat.
2.2.2 Peran ibu sebagai partner seks
Yang mengimplikasikan berbagai hal, sebagai berikut:

Terdapatnya hubungan netero-seksual yang memuaskan


Tanda adanya disfungsi/gergetan seksual

Ada relasi seksual yang berlebih

Tidak hiperseksual, juga tidak kurang

Maka kehidupan seksual yang mapan diakibatkan karena kehidupan


psikologi yang sehat, seimbang tanpa adanya konflik batin yang serius dan adanya
kesediaan memahami partner serta rela berkorban

2.2.3 Peran sebagai ibu dan mendidik


Sebagai pendidik bagi anak-anaknya bisa terpenuhi dengan baik, bila ibu
mampu menciptakan iklim praktis yang sehat, menggembirakan dan bebas,
sehingga suasana rumah menjadi semarak dan bisa memberikan rasa aman, bebas,
hangat dan menyenangkan yang disertai dengan kasih sayang. Dengan begitu anak
dan suami akan betah tinggal di rumah, iklim psikologis yang penuh kasih sayang,
kesabaran dan ketenangan akan memberikan semangat pada keluarga terutama
anak untuk merangsang tumbuh dewasa secara wajar dan bahagia.
2.2.4 Peran sebagai pengatur rumah tangga
Dalam hal ini terdapat reaksi-reaksi formal dan semacam pembagian kerja,
dimana suami bertindak sebagai pencari nafkah. Tetapi yang paling penting adalah
pembagian peran dan saling pengertian antara kedua belah pihak.
2.2.5 Peran sebagai partner hidup
Suami pasti akan memerlukan orang yang bisa diajak hidup untuk
selamanya, sebagai pendukung karir dan labuhan kebijaksanaan. Dengan begitu
akan terlihat kesamaan pandangan, perasaan yang seimbang rupa ada yang
disalahkan dan diresahkan.

2.3 Konsep MP-ASI


2.3.1 Pengertian
MP-ASI merupakan makanan lain selain ASI. Makanan ini dapat berupa
makanan yang disiapkan secara khusus atau makanan yang dimodifikasi.(Lilian
Juwono, 2003). Sedangkan menurut Dep.Kes RI(2007), MP-ASI merupakan
makanan peralihan dan dari ASI ke makanan keluarga.
Bertambahnya umur bayi, bartambah pula kebutuhan gizinya, sebab itu
sejak umur 6 bulan bayi mulai diberi makanan pendamping ASI (MP-ASI). Selain
ASI untuk memenuhi kebutuhan gizi perlu diperhatikan waktu pemberian,
frekwensi, porsi, pemilihan bahan makanan, cara pembuatan dan cara pemberian
MP-ASI.
2.3.2 Tujuan Pemberian MP-ASI

Memenuhi kebutuhan zat gizinya yang meningkat untuk

pertumbuhan dan aktivitasnya.


Mendidik anak untuk membina selera dan kebiasaan makan

yang sehat.
Melatih pencernaan bayi agar mampu mencerna makanan
yang lebih padat daripada susu. Membiasakan bayi
mengkonsumsi makanan sehari-hari menggunakan sendok.

2.3.3 Manfaat MP-ASI


Menurut Diah K dan Rina Y(2000) Manfaat MP-ASI adalah untuk
menambah energi dan zat gizi yang diperlukan bayi karena ASI tidak dapat
mencukupi

kebutuhan

bayi

secara

terus-menerus.

Pertumbuhan

dan

perkembangan anak yang normal dapat diketahui dengan cara melihat kondisi
pertambahan berat badan seorang anak tidak mengalami peningkatan,
menunjukkan bahwa kebutuhan energi bayi tidak terpenuhi.

2.3.4 Jenis MP-ASI


Menurut Dep.Kes.RI(2007), MP-ASI yang baik adalah terbuat dari bahan
makanan segar, seperti tempe, kacang-kacangan, telur ayam, hati ayam, ikan,
sayur mayur, dan buah-buahan. Jenis MP-ASI yang dapat diberikan adalah:

Makanan Lumat adalah makanan yang dihancurkan atau disaring tampak


kurang merata dan bentuknya lebih kasar dari makanan lumat halus,
contoh: bubur susu, bubur sumsum, pisang saring/kerok, pepaya saring,
tomat saring dan nasi tim saring.

Makanan Lunak adalah makanan yang dimasak dengan banyak air dan
tampak berair, contoh: bubur nasi, bubur ayam, nasi tim dan kentang puri.

Makanan Padat adalah makanan lunak yang tidak nampak berair dan
biasanya disebut makanan keluarga, contoh: lontong, nasi tim, kentang
rebus dan biscuit.
Saat mendiskusikan makanan yang baik, akan bermanfaat jika kita mulai

dengan makanan pokok kemudian memutuskan makanan lain yang akan


ditambahkan.
Makanan Pokok adalah dimana semua masyarakat mempunyai makanan
pokok. Makanan pokok merupakan makanan utama yang dikonsumsi. Contohnya
adalah serealia (misalnya beras, gandum, jagung, padi-padian), umbi-umbian
2.3.5 Syarat-syarat MP-ASI
Menurut Diah K dan Rina Y(2000) syarat-syarat MP-ASI adalah makanan
Pendamping ASI harus memenuhi persyaratan khusus tentang jumlah zat-zat gizi
yang diperlukan bayi, seperti protein, energi, lemak, vitamin, mineral, dan zat-zat
tambahan lainnya. Makanan Pendamping ASI hendaknya mengandung protein
bermutu tinggi dengan jumlah yang mencukupi. Sedangkan menurut Lilian
Juwono(2004) makanan pendamping ASI yang memenuhi syarat adalah: a) Kaya
energi,protein, dan mikronutrien (terutama zat besi,zink, kalsium, vitamin A,
vitamin C, dan folat). b) Bersih dan aman, yaitu tidak ada pathogen (tidak ada

10

bakteri penyebab penyakit atau organisme yang berbahaya lainnya), tidak ada
bahan kimia yang berbahayaatau toksin, tidak ada potongan tulang atau bagian
yang keras atau yang membuat anak tersedak, tidak terlalu panas. c) Tidak terlalu
pedas atau asin. d) Mudah dimakan oleh anak. e) Disukai anak. f) Tersedia di
daerah anda dan harganya terjangkau. g) Mudah disiapkan.
2.3.6 Waktu Pemberian MP-ASI
Makanan tambahan diberikan setelah masa ASI eksklusif untuk memenuhi
kebutuhan nutrisi dan energi, yang tidak lagi terpenuhi dari ASI saja. Di masa
penyapihan ini bayi akan mendapatkan ASI, buah, biscuit bayi, bubur bayi dan
lebih lanjut akan mendapat nasi tim. Prinsip pemberian makanan pada bayi usia 0
sampai 6 bulan hingga 1 tahun adalah peralihan bertahap dari hanya ASI hingga
mencapai pola makan dewasa. Perubahan terjadi di dalam hal tekstur (halus
hingga kasar), konsistensi (lunak hingga padat), porsi dan frekwensinya sesuai
dengan kemampuan dan perkembangan bayi. Tahapan pemberian makanan
pendamping ASI yang ideal adalah mulai usia 6 bulan.
Makanan tambahan harus mulai diberikan ketika bayi tidak lagi mendapat
cukup energi dan nutrisi dari ASI saja. Untuk kebanyakan bayi, makanan
tambahan mulai diberikan pada usia 6 bulan keatas. Pada usia ini otot dan syaraf
didalam mulut bayi cukup berkembang untuk mengunyah, menggigit dan
memamah. Sebelum usia 6 bulan, bayi akan mendorong makanan keluar dari
mulutnya karena mereka tidak dapat mengendalikan gerakan lidahnya secara
penuh. pada usia 6 bulan lebih mudah untuk memberikan bubur kental, sup kental
dan makanan yang dilumatkan, karena anak:

dapat mengendalikan lidahnya lebih baik

Mulai melakukan gerak mengunyah keatas dan kebawah.

Mulai tumbuh gigi.

Suka memasukkan sesuatu kedalam mulutnya.

Berminat terhadap rasa yabg baru.

11

Ada beberapa tanda kesiapan yang menunjukkan seorang bayi telah mampu
menerima makanan pendamping pertamanya:
1) Kesiapan Fisik

Telah berkurang / hilangnya refleks menjulurkan lidah.

Kemampuan motorik mulut tidak hanya mampu menghisap, namun


juga mampu menelan makanan setengah padat.

Dapat memindahkan makanan dalam mulut menggunakan lidah.

Dapat mempertahankan posisi kepala secara stabil, tanpa bantuan.

Dapat

diposisikan

duduk

dan

mampu

mempertahankan

keseimbangan badan.
2) Kesiapan psikologis

Perilaku yang semula hanya bersifat refleks dan imitative


menjadi lebih independent dan mampu bereksplorasi.

Menunjukkan Keinginan makan dengan membuka mulut,


dan menunjukkan rasa lapar dengan mencondongkan badan ketika
disodori makanan.

Sebaliknya, mampu menjauhkan badan ketika telah merasa


kenyang

Pada usia ini juga system pencernaan sudah cukup matang untuk mencerna
berbagai makanan.
Memulai pemberian makanan tambahan terlalu dini atau terlalu lambat,
keduanya tidak diinginkan. Tanda bahwa seorang anak sudah siap untuk
menerima makanan tambahan adalah bahwa anak tersebut: 1) Sekurangnya usia 6
bulan, 2) Sering mendapat ASI tapi tampak lapar segera sesudahnya, 3)Tidak
mengalami penambahan berat badan yang adekuat.

12

Seorang anak harus diberi ASI saja sekurang-kurangnya sampai usia 6


bulan (Lilian Juwono,2004)
2.3.7 Pemberian MP-ASI pada bayi diberikan secara bertahap. Adapun jenis
makanan dan frekwensi MP-ASI menurut umur bayi.

2.3.8 Cara Pemberian MP-ASI


Setelah bayi berusia 6 bulan perkenalkan ke makanan yang padat atau
dicincang halus (Annie Yelland, 2005) seperti:
1.

Daging ayam yang dihaluskan

2.

Kacang-kacangan yang dihaluskan

3.

Yogurt:Tanpa pemanis yang biasanya disukai bayi atau tambahkan buah

segar cincang
4.

Kembang kol denagn keju

13

5.

Nasi

6.

Ikan, buang tulang lalu cincang atau haluskan.


Pemberian MP-ASI pada bayi usia 6 sampai 9

1.

Penyerapan vitamin A dab zat gizi lain pemberian ASI diteruskan

2.

Pada umur 6 bulan alat cerna sudah lebih berfungsi, oleh karena itu bayi

mulai diperkenalkan dengan MP-ASI lumat 2 kali sehari.


3.

Untuk mempertinggi nilai gizi makanan, nasi tim bayi ditambah sedikit

demi sedikit dengan sumber lemak, yaitu santan atau minyak


kelapa/margarin. Bahan makanan ini dapat menambah kalori makanan bayi,
memberikan rasa enak juga mempertinggi yang larut dalam lemak.
Pemberian makanan bayi umur 9 sampai 12 bulan
1.

Pada umur 10 bulan bayi mulai diperkenalkan dengan makanan keluarga

secara bertahap. Bentuk dan kepadatan nasi tim bayi harus diatur secara berangsur
mendekati makanan keluarga.
2.

Berikan makanan selingan satu kali sehari. Pilihlah makanan selingan

yang bernilai gizi tinggi, seperti bubur kacang hijau dan buah. Usahakan makanan
selingan dibuat sendiri agar kebersihannya terjamin.
3.

Bayi perlu diperkenalkan dengan beraneka ragam makanan.

Campurkanlah kedalam makanan lembek sebagai lauk pauk dan sayuran secara
bergantian. Pengenalan berbagai bahan makanan sejak dini akan berpengaruh baik
terhadap kebiasaan makan yang sehat di kemudian hari.
Pemberian makanan bayi umur 12 sampai 24 bulan
1.

Pemberian ASI diteruskan.

14

2.

Pemberian MP-ASI atau makanan keluarga sekurang-kurangnya tiga kali

sehari dengan porsi separuh makanan orang dewasa setiap kali makan. Selain itu
tetap berikan makanan selingan dua kali sehari.
3.

Fariasi makanan diperhatikan dengan menggunakan padanan bahan

makanan, misalnya nasi diganti tahu, tempe, kacang hijau, telur atau ikan. Bayam
dapat diganti dengan daun kangkung, wortel dan tomat. Bubur susu dapat diganti
dengan bubur kacang hijau, bubur sumsum dan biscuit.
4.

Menyapih anak harus bertahap, jangan dilakukan secara tiba-tiba. Kurangi

frekwensi pemberian ASI sedikit demi sedikit.


2.3.8 Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian MP-ASI terlalu dini.
Menurut WHO (2003) Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian MP-ASI
terlalu dini adalah:
1) Faktor internal meliputi : Pengetahuan ibu tentang MP-ASI dan Pengalaman.
2) Faktor eksternal meliputi : Sosial budaya, Perawat atau petugas kesehatan
lainnya, Informasi tentang pemberian MP-ASI.

15

BAB III
METODE MINI PROJECT
3.1 Rancangan Mini Project
Kuesioner dibagikan sebelum penyuluhan dimulai sebagai pretest kepada
peserta penyuluhan yang bersedia menjadi responden dalam mini project. Selain
itu, pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyuluhan ketepatan pemberian
MPASI serta diskusi terbuka.
3.2 Lokasi dan Waktu Mini Project
Mini project ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2015 di posyandu balita
Dusun Leci, Desa Tiripan, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk.
3.3 Populasi Mini Project
Populasi mini project adalah semua ibu yang bertempat tinggal di sekitar
posyandu, serta ibu peserta posyandu balita di dusun Leci, Desa Tiripan.
3.4 Subyek Mini Project
Subjek mini project diambil ibu di Dusun Leci, Desa Tiripan yang datang ke
penyuluhan yang diadakan di posyandu saat pelaksanaan posyandu balita, yaitu
sebanyak 48 orang.

BAB IV
HASIL MINI PROJECT
1

Profil Komunitas Umum


Profil komunitas wilayah Dusun Tiripan Desa Tiripan secara umum adalah

masyarakat pedesaan.
2

Data Geografi

16

Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Sonopatik, sebelah selatan


berbatasan dengan Desa Patranrejo, sebelah barat berbatasan dengan Desa
Sumberurip, sedangkan sebelah timr berbatasan dengan Desa Balongrejo.
4.3 Data Demografi
4.3.1 Jumlah Penduduk
Di Dusun Tiripan terdapat 933 KK dengan jumlah penduduk 3019 jiwa.
4.3.2 Mata Pencaharian
Sebagian besar warga Desa Tiripan bekerja sebagai buruh tani.
4
5

Sumber Daya Kesehatan yang Ada


Di Desa Tiripan terdapat 1 orang Bidan
Sarana Pelayanan Kesehatan yang Ada
Di Desa Tiripan terdapat 4 Posyandu balita, 1 Posyandu lansia dan 1
Puskesmas pembantu ( Pustu ).

4.6 Penyuluhan Ketepatan Pemberian MPASI


Penyuluhan mengenai ketepatan dalam pemberian makanan pendamping ASI
pada kelompok ibu usia produktif yang dilakukan di Posyandu Balita di Dusun
Leci, Desa Tiripan. Kegiatan ini dilakukan untuk memberi pengetahuan para ibu
mengenai ketepatan pemberian makanan pendamping ASI yang mencakup jenis
makanan, frekuensi pemberian hingga komplikasi yang terjadi jika anak tidak
diberikan makanan pendamping diusia yang tepat. .
4.7 Hasil Mini Project
Hasil kegiatan ini adalah sebagai berikut
Tempat : Posyandu balita Dusun Leci, Desa Tiripan, Kecamatan Berbek
Tanggal :13 Agustus 2015
Peserta : 48 orang
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Usia (Tahun)
15 - 20 tahun
21 - 25 tahun
26 - 30 tahun
31 - 35 tahun
36 - 40 tahun
41- 45 tahun
46 - 50 tahun

Responden
Jumlah
1
6
15
13
7
4
0

Persentase
2,08 %
12,5%
31,25 %
27,08 %
14,58 %
8,33 %
0%

17

51- 55 tahun
Total

2
48

4,17%
100 %

Karakteristik Responden Berdasarkan Usia


15 - 20 tahun
8%

4% 2%

21 - 25 tahun
26 - 30 tahun

13%

31 - 35 tahun
15%

36 - 40 tahun
41- 45 tahun
31%

46 - 50 tahun
51- 55 tahun

27%

Dari data diatas, diketahui bahwa responden terbanyak pada urutan


pertama yaitu pada rentang usia 26-30 tahun sebanyak 15 responden (31,25 %).
Pada urutan kedua yaitu rentang usia 31-35 tahun sebanyak 13 responden (27,08
%). Selanjutnya pada urutan ketiga yaitu usia 36- 40 tahun sebanyak 7 responden
(14,58 %). Disusul urutan keempat yaitu usia 21 -25 tahun sebanyak 6 responden
(12,5%). Urutan kelima yaitu usia 41-45 tahun sebanyak 4 responden (8,33%).
Urutan keenam dan ketujuh yaitu usia 51-55 tahun dan usia 15-20 tahun sebanyak
masing masing 2 responden (4,17%) dan 1 responden (2,08)
Karateristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan
SD
SMP
SMA
D1-D3/Sarjana
Total

Jumlah
20
14
11
3
48

Responden
Persentase
41,67%
29,17%
22,92%
6,25%
100 %

18

Karateristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

6%

SD
SMP

23%

42%

SMA
D1-D3/Sarjana

29%

Dari data diatas, diketahui bahwa tingkat pendidikan responden terbanyak


pada urutan pertama yaitu tingkat SD sebanyak 20 responden (41,67%). Pada
urutan kedua yaitu tingkat SMP sebanyak 14 responden (29,17%). Pada urutan
ketiga yaitu tingkat SMA sebanyak 11 responden (22,92%). Dan urutan terakhir
tingkat pendidikan tingkat sarjana sebanyak 3 responden (6,25%).
Karateristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan
Ibu rumah tangga
PNS
Swasta
Tani
Total

Responden
Jumlah
35
3
7
3
48

Persentase
72,92 %
6,25%
14,58 %
6,25 %
100 %

19

Karateristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

6%

Ibu rumah tangga

15%

PNS
Swasta

6%

Tani
73%

Dari data diatas, diketahui bahwa responden terbanyak pada urutan pertama
yaitu ibu rumah tangga sebanyak 35 responden (72,92%). Pada urutan kedua yaitu
swasta seperti pedagang, pembantu rujmah tangga sebanyak 7 responden (14,58
%). Selanjutnya pada urutan ketiga yaitu PNS dan tani masing-masing sebanyak 3
responden (6,25 %).
Karateristik Responden Berdasarkan Agama
Responden

Agama

Jumlah
48
48

Islam
Total

Persentase
100%
100 %

Karateristik Responden Berdasarkan Agama


Islam

20

Dari data diatas, diketahui bahwa seluruh responden menganut agama


Islam.
Karateristik Responden Berdasarkan Suku
Responden

Suku

Jumlah
48
48

Jawa
Total

Persentase
100%
100 %

Karateristik Responden Berdasarkan Suku


Jawa

Dari data diatas, diketahui bahwa seluruh responden merupakan penduduk


lokal yang berasal dari suku Jawa.
Karateristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Suami
Pekerjaan
PNS
Swasta
Tani
Total

Responden
Jumlah
4
25
19
48

Persentase
8,33%
52,08 %
39,58 %
100 %

21

Karateristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Suami

8%
PNS
Swasta

40%

Tani
52%

Dari data diatas, diketahui bahwa responden terbanyak pada urutan pertama
yaitu swasta meliputi pedagang, supir dan buruh sebanyak 25 responden
(51,08%). Pada urutan kedua yaitu tani sebanyak 19 responden (39,58%).
Selanjutnya pada urutan ketiga yaitu PNS sebanyak 4 responden (8,33%).
Karateristik Responden Berdasarkan Jumlah Anak
Jumlah Anak
1
2
3
Total

Responden
Jumlah
18
18
12
48

Persentase
37,5%
37,5 %
25 %
100 %

22

Karateristik Responden Berdasarkan Jumlah Anak

25%

38%

38%

Dari data diatas, diketahui bahwa responden terbanyak pada urutan pertama
yaitu jumlah anak 1 dan jumlah anak 2 masing- masing sebanyak 18responden
(37,5%). Pada urutan kedua yaitu jumlah anak 3 sebanyak 12 responden (25%)

Karateristik Responden Berdasarkan Jumlah Pendapatan tiap Bulan


Jumlah Pendapatan
< Rp. 750.000,Rp. 750.000,- s/d
Rp. 1.500.000,> Rp. 1.500.000,Total

Responden
Jumlah
21

Persentase
43,75%

17

35,42%

10
48

20,83 %
100 %

23

arateristik Responden Berdasarkan Jumlah Pendapatan tiap

21%
< Rp. 750.000,-

Rp. 750.000,- s/d


44%

Rp. 1.500.000,-

35%

Dari data diatas, diketahui bahwa responden terbanyak pada urutan pertama
yaitu jumlah pendapatan < Rp. 750.000,- sebanyak 18 responden (43,75%). Pada
urutan kedua yaitu jumlah pandapatan Rp. 750.000,- s/d

Rp. 1.500.000,-

sebanyak 17 responden (35,42%). Pada urutan ketiga yaitu jumlah pendapatan >
Rp. 1.500.000,- sebanyak 10 responden (20,83%).
Karateristik Responden Berdasarkan Usia Anak
Jumlah Pendapatan
0-6 bulan
7-12 bulan
13-18 bulan
19-24 bulan
25-30 bulan
31-36 bulan
37-42 bulan
43-48 bulan
49-54 bulan
55-60 bulan
Total

Responden
Jumlah
8
7
5
6
4
5
3
2
4
4
48

Persentase
16,67%
14,58%
10,42 %
12,5%
8,33%
10,42 %
6,25%
4,17%
8,33%
8,33%
100 %

24

Karateristik Responden Berdasarkan Usia Anak


0-6 bulan
7-12 bulan
5%
7%

9%

13-18 bulan

18%

19-24 bulan
25-30 bulan

11%

31-36 bulan

16%

37-42 bulan
43-48 bulan

9%
14%

11%

49-54 bulan

Dari data diatas, diketahui bahwa responden terbanyak pada urutan pertama
yaitu usia anak 0-6 bulan sebanyak 8 responden (16,67%). Pada urutan kedua
yaitu usia anak 7-12 bulan sebanyak 7 responden (14,58%). Pada urutan ketiga
yaitu usia anak 19-24 bulan sebanyak 6 responden (12,5%). Pada urutan keempat
yaitu usia 13-18 bulan dan usia 31-36 bulan masing-masing sebanyak 5 responden
(10,42%). Pada urutan kelima yaitu usia 25-30 bulan, 49-54 bulan, 55-60 bulang
masing-masing sebanyak 4 responden (8,33%). Pada urutan keenam yaitu usia 3742 bulan yaitu sebanyak 3 responden (6,25%). Pada urutan ketujuh yaitu usia anak
43-48 bulan yaitu sebanyak 2 responden (4,17%).
Data Pretest
1. Apakah Ibu mengetahui tentang makanan pendamping ASI
Jawaban
Tahu
Tidak tahu
Total

Responden
Jumlah
46
2
48

Persentase
95,83%
4,17 %
100 %

25

Apakah Ibu mengetahui tentang makanan pendamping AS


4%

Tahu
Tidak tahu

96%

2. Menurut Ibu, apakah pengertian makanan pendamping ASI itu


Responden

Jawaban

Jumlah

Persentase

23

47,92%

12,5%

18

37,5%

usia < 6 bulan


Tidak tahu

Total

48

2,08%
100

Makanan peralihan dari


ASI

ke

makanan

keluarga
Makanan pengganti
ASI
Makanan
diberikan

yang
pada

bayi

26

3. Menurut ibu, pada umur berapa sebaiknya diberikan makanan tambahan?


Responden

Jawaban

Jumlah
36
10
2
48

> 6 bulan
< 6 bulan
Tidak tahu
Total

Persentase
75%
20,83 %
4,17 %
100 %

pada umur berapa sebaiknya diberikan makanan tambahan


4%

> 6 bulan

21%

< 6 bulan
Tidak tahu
75%

27

4. Sebutkan jenis makanan yang pertama kali diberikan kepada bayi usia > 6
bulan
Responden

Jawaban
Makanan lunak
Makanan padat
Mie
Total

Jumlah
48
0
0
48

Persentase
100%
0%
0%
100 %

makanan yang pertama kali diberikan kepada bayi usia > 6 b

Makanan lunak
Makanan padat
Mie

100%

28

5. Menurut ibu manakah yang merupakan makanan pendamping ASI yang


pertama kali diberikan
Responden

Jawaban

Jumlah
1
1
42
4
48

Gula
Makanan halus
Bubur susu
Nasi
Total

Persentase
2,08%
2,08%
82,51 %
8,33%
100 %

makanan pendamping ASI yang pertama kali diberikan

Gula

9% 2% 2%

Makanan halus
Bubur susu
Nasi

87%

6. Menurut Ibu, berapa kalikah makanan tambahan itu diberikan dalam sehari
kepada bayi yang berusia 6-8 bulan
Jawaban
1-3 kali
4-6 kali
7-10 kali
Tergantung bayi
menangis
Total

Responden
Jumlah
46
1
0

Persentase
95,84%
2,08 %
0%

2,08%

48

100 %

29

7. Menurut Ibu, mengapa bayi perlu diberi makanan tambahan


Responden

Jawaban

Jumlah

Agar anak tidak rewel


dan canggung
Agar anak terhindar
dari penyakit
Agar kebutuhan bayi
atas zat gizi bertambah
sesuai

dengan

pertambahan usia
Tidak tahu
Total

Persentase

6,25%

2,08%

45

93,75 %

0
48

0%
100 %

mengapa bayi perlu diberi makanan tambahan

6% 2%

92%

Agar anak tidak rewel


dan canggung

Agar anak terhindar


dari penyakit

Agar kebutuhan bayi


atas zat gizi
bertambah sesuai
dengan pertambahan
usia

Tidak tahu

30

8. Menurut ibu, apa pengaruhnya terhadap pemberian makan bayi sebelum


usia 6 bulan terhadap kesehatan bayi
Responden

Jawaban
Tidak ada pengaruhnya
Anak menjadi sering
mencret

karena

pencernaannya
terganggu
Anak menjadi sering
menangis
Tidak tahu
Total

Jumlah
11

Persentase
22,92%

31

64,58 %

0%

6
48

12,5%
100 %

erhadap pemberian makan bayi sebelum usia 6 bulan terhad

Tidak ada pengaruhnya

Anak menjadi sering


mencret karena
pencernaannya
terganggu

Anak menjadi sering


menangis

Tidak tahu

13% 23%

65%

31

9. Menurut ibu, apakah dengan menunda makanan tambahan dapat


mengurangi resiko alergi makanan
Responden

Jawaban

Jumlah
18
13
14
3
48

Ya
Tidak
Mungkin
Tidak tahu
Total

Persentase
37,5%
27,08%
29,17 %
6,25%
100 %

unda makanan tambahan dapat mengurangi resiko alergi m


Ya

6%

Tidak
38%

29%

Mungkin
Tidak tahu

27%

32

10. Menurut ibu pada usia berapakah sebaiknya bayi diberi makan
Responden

Jawaban

Jumlah
22
22
1
3
48

<24 bulan
>24 bulan
<12 bulan
>12 bulan
Total

Persentase
45,83%
45,83%
2,08 %
6,25%
100 %

pada usia berapakah sebaiknya bayi diberi makan


<24 bulan

2% 6%

>24 bulan
<12 bulan

46%

>12 bulan

46%

11. Bayi berusia 4 bulan memerlukan makanan khusus


Jawaban
Setuju
Netral
Tidak setuju
Total

Responden
Jumlah
21
6
21
48

Persentase
44,67%
12,5%
44,67%
100 %

33

12. Pada bayi berusia 6 bulan baru boleh diberikan makanan tambahan
Responden

Jawaban

Jumlah
43
5
0
48

Setuju
Netral
Tidak setuju
Total

Persentase
89,58%
10,42 %
0%
100 %

da bayi berusia 6 bulan baru boleh diberikan makanan tamb

10%

Setuju
Netral
Tidak setuju

90%

34

13. Supaya bayi berusia 0-6 bulan lebih gemuk makanannya harus ditambah
dengan susu formula
Jawaban
Setuju
Netral
Tidak setuju
Total

Responden
Jumlah
12
12
24
48

Persentase
25%
25 %
50 %
100 %

usia 0-6 bulan lebih gemuk makanannya harus ditambah de

25%

Setuju
Netral
Tidak setuju

50%
25%

35

14. Pemberian makanan pada bayi sebelum usia 6 bulan dapat berpengaruh
pada pencernaanya
Responden

Jawaban

Jumlah
37
1
10
48

Setuju
Netral
Tidak setuju
Total

Persentase
77,09%
2,08%
20,83 %
100 %

kanan pada bayi sebelum usia 6 bulan dapat berpengaruh pa

Setuju

21%

Netral
2%

Tidak setuju

77%

36

15. Pemberiaan makanan selain ASI kepada bayi sebelum bayi berusia 6
bulan
Responden

Jawaban
Setuju
Netral
Tidak setuju
Total

Jumlah
10
8
30
48

Persentase
20,83%
16,67%
60,42 %
100 %

eriaan makanan selain ASI kepada bayi sebelum bayi berusi

21%

Setuju
Netral
Tidak setuju

62%

17%

37

16. Menunda pemberian makanan padat dapat mengurangi resiko alergi


makanan pada bayi
Responden

Jawaban

Jumlah
23
9
16
48

Setuju
Netral
Tidak setuju
Total

Persentase
47,92%
18,75%
33,33 %
100 %

mberian makanan padat dapat mengurangi resiko alergi mak

Setuju
33%

Netral
48%

Tidak setuju

19%

38

17. Pemberian makanan pada bayi sebelum usia 6 bulan dapat membantu bayi
mengatasi rasa lapar dan tidak akan menangis
Responden

Jawaban

Jumlah
14
11
23
48

Setuju
Netral
Tidak setuju
Total

Persentase
29,17%
22,92%
47,91 %
100 %

sebelum usia 6 bulan dapat membantu bayi mengatasi rasa

29%

Setuju
Netral
Tidak setuju

48%
23%

39

18. Memberikan makanan lumat seperti bubur susu sebagai makanan pertama
pada bayi berusia 6 bulan
Responden

Jawaban

Jumlah
43
3
2
48

Setuju
Netral
Tidak setuju
Total

Persentase
89,63%
6,25%
4,12%
100 %

nan lumat seperti bubur susu sebagai makanan pertama pad

6% 4%

Setuju
Netral
Tidak setuju

90%

40

19. Pada bayi berusia 7-9 bulan lebih dari 6 kali makanan tambahan setiap
hari
Responden

Jawaban

Jumlah
4
5
39
48

Setuju
Netral
Tidak setuju
Total

Persentase
8,30%
10,42%
81,28 %
100 %

ayi berusia 7-9 bulan lebih dari 6 kali makanan tambahan s

8%
10%

Setuju
Netral
Tidak setuju

81%

41

20. Ibu memberikan ASI saja sampai usia 6 bulan saja


Responden

Jawaban

Jumlah
35
13
48

Ya
Tidak
Total

Persentase
72,98%
27,02%
100 %

Ibu memberikan ASI saja sampai usia 6 bulan saja

27%

Ya
Tidak

73%

42

21. Ibu memberikan makanan tambahan pada bayi saat berumur 4 bulan
Responden

Jawaban

Jumlah
10
38
48

Ya
Tidak
Total

Persentase
20,8%
79,2 %
100 %

memberikan makanan tambahan pada bayi saat berumur 4

21%

Ya
Tidak

79%

43

22. Makanan tambahan diberikan pada bayi ketika usia < 6 bulan
Responden

Jawaban

Jumlah
23
25
48

Ya
Tidak
Total

Persentase
47,92%
52,08%
100 %

Makanan tambahan diberikan pada bayi ketika usia < 6 bul

Ya
52%

48%

Tidak

44

23. Ibu memberikan makan bayi berusia < 6 bulan jika bayi rewel atau menangis
Responden

Jawaban

Jumlah
20
28
48

Ya
Tidak
Total

Persentase
41,7%
58,3%
100 %

Ibu memberikan makan bayi berusia


< 6 bulan jika bayi rewel atau menangis

Ya
Tidak

42%
58%

24. Ibu memberikan susu formula pada anak usia < 6 bulan
Jawaban
Ya
Tidak
Total

Responden
Jumlah
22
26
48

Persentase
45,8%
52,2 %
100 %

45

Ibu memberikan susu formula pada anak usia < 6 bulan

Ya
53%

47%

Tidak

25. Ibu memberi makan bayi berusia < 6 bulan agar anak lebih gemuk
Jawaban
Ya
Tidak
Total

Responden
Jumlah
17
31
48

Persentase
35,4%
64,6%
100 %

46

26. Ibu memberi makanan lumat seperti bubur susu sebagai makanan pertama
bayi berusia diatas 6 bulan
Responden

Jawaban

Jumlah
45
3
48

Ya
Tidak
Total

Persentase
93,75%
6,25 %
100 %

an lumat seperti bubur susu sebagai makanan pertama bayi

6%
Ya
Tidak

94%

47

27. Ibu memberikan susu formula sebagai makanan tambahan ketika masih
memberikan ASI
Responden

Jawaban

Jumlah
31
17
48

Ya
Tidak
Total

Persentase
64,4%
35,6%
100 %

kan susu formula sebagai makanan tambahan ketika masih m

Ya

36%

Tidak
64%

48

28. Ibu memberikan makanan tambahan 1-3 kali sehari pada bayi usia > 6
bulan
Responden

Jawaban

Jumlah
39
9
48

Ya
Tidak
Total

Persentase
81,25%
18,75 %
100 %

mberikan makanan tambahan 1-3 kali sehari pada bayi usia

19%
Ya
Tidak

81%

49

29. Ibu memberi makan bayi dengan kopi sesaat setelah bayi lahir
Responden

Jawaban

Jumlah
5
43
48

Ya
Tidak
Total

Persentase
10,4%
89,6%
100 %

Ibu memberi makan bayi dengan kopi sesaat setelah bayi la

10%
Ya
Tidak

90%

50

BAB V
DISKUSI
Sesuai dengan judul dari mini proyek yaitu Penilaian Pengetahuan dan
Sikap Ibu dengan Ketepatan Pemberian MPASI yang saya laksakan di Posyandu
Leci, Desa Triripan, Kabupaten Nganjuk maka didapatkan data bahwa 95,83%
responden sudah mengetahui tentang makanan pendamping ASI namun belum
banyak responden yang mengetahui pengertian makanan pendamping ASI yeng
tepat. Hal ini ditunjukan dengan 47,92% responden yang mampu menjawab
dengan benar bahwa makanan pendamping ASI adalah makanan peralihan dari
ASI kemakanan keluarga, sedangkan 37,5% masih beranggapan bahwa makanan
pendamping ASI adalah makanan yang bisa diberikan pada bayi usia <6 bulan dan
sebanyak 12,5%

responden menyatakan makanan pendamping ASI adalah

makanan yang diberikan sebagai pengganti ASI.


Jumlah responden yang mengetahui bahwa makanan tambahan diberikan
pada bayi dengan umur >6 bulan sebanyak 75% dan 100% responden mengetahui
bahwa makanan lunak lah pilihan yang paling tepat diperkenalkan sebagai
makanan pendamping ASI. Sebanyak 45 responden atau 93,75% telah mengetahui
pentingnya pemberian makanan pendamping ASI agar kebutuhan bayi akan zat
gizi bertambah sesuai dengan pertambahan umurnya dan 64,58% responden juga
mengetahui dampak pemberian makanan pendamping ASI yang terlalu dini dapat
menyebabkan masalah pencernaan pada anak.
Tingkat pengetahuan ibu seperti yang saya sudah saya jelaskan diatas
sangat bertolak belakang dengan sikap yang telah diambil ibu mengenai
pemberian makanan pendamping ASI. Terdapat 47,92% responden yang
memberikan makanan tambahan pada bayi saat berusia < 6 bulan, 41,7 %
responden memberikan makanan bayi diusia < 6 bulan jika bayi rewel atau
menangis. Sangat disayangkan sebanyak 45,8% responden memberikan susu
formula pada usia < 6 bulan. Ada responden yang masih memberikan kopi kepada
bayi nya sebanyak 10,4 %.
Setelah dilakukan diskusi terbuka dengan responden, saya mendapatkan
beberapa alasan sikap ibu yang memberikan makanan pendamping ASI < 6 bulan
adalah alasan tradisi dan kebiasaan yang diturunkan dari orangtua terdahulu.
Pemberian susu formula sebagai tambahan ASI karena dirasa anak masih lapar
51

dan tidak tercukupi kebutuhannya dengan hanya pemberian ASI saja. Faktor dari
ibu yang bekerja juga menjadi salah satu alasan pemberian susu formula.
Pemberian kopi pada bayi adalah salah satu mitos yang berkembang dimasyarakat
yang beranggapan kopi dapat mencegah kejang.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Secara umum tingkat pengetahuan mengenai pemberian makanan pendamping
ASI hanya bersifat dipermukaan saja. Namun ada beberapa hal yang mendetail
mengenai pemberian makanan pendamping ASI yang penting mereka ketahui
tetapi belum mereka ketahui dan pahami secara baik.
2. Secara umum masih banyak kebiasaan, paham-paham dan mitos yang salah
yang masih melekat kuat di masyarakat yang akhirnya mempengaruhi sikap
dan perilaku para responden dalam pemberian makanan pendamping ASI.
Saran
1. Sebaiknya perlu diadakan penyuluhan dan promosi kesehatan secara rutin
mengenai makanan pendamping ASI agar dapat mengubah kebiasaan, paham52

paham dan mitos yang salah mengenai penyakit hipertensi yang beredar kuat di
masyarakat.
2. Sasaran yang paling awal untuk mengubah kebiasaan, paham-paham, dan
mitos yang salah tersebut harus dimulai dari kader-kader yang dekat dan
berhubungan langsung dengan warga masyarakat.

53

DAFTAR PUSTAKA

A. Aziz Alimul H, (2007), Metodologi Penelitian dan Teknik Analisis Data,


Jakarta : Salemba Medika

Dep Kes RI, (2009), Buku Kesehatan Ibu dan Anak, Jakarta : Departemen
Kesehatan

Donna L. Wong, (2008), Buku Ajar Keperawatan Pediatrik, Volume 1, Edisi 6,


Jakarta : EGC

Herawani, (2001), Pendidikan Perawatan Dalam Kesehatan, Jakarta : ECG

Nursalam, (2005), Asuhan Keperawatan Bayi Dan Anak, Edisi Pertama, Jakarta :
Salemba Medika

Nursalam, (2009), Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan, Edisi Kedua, Jakarta : Salemba Medika

Soegeng Soegijanto, (2002), Ilmu Penyakit Anak, Diagnosa Dan


Penatalaksanaan, Edisi Pertama, Jakarta : Salemba Medika

Soekidjo Notoatmojo, (2007), Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Jakarta :


Rineka Cipta

Suharsimi Arikunto (1998), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,


Jakarta : Rineka Cipta

54

Suprajitno, (2004), Asuhan Keperawatan Keluarga, Jakarta : EGC

Suriadi Dan Rita Yulianni, (2006), Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi 2,
Jakarta : Sagung Seto

Thomas C. Timmreck, (2008), Epidemiologi,Suatu Pengantar, Edisi 3,Jakarta :


EGC

Wasis, (2007), Pedoman Riset Praktis, Jakarta : EGC

Yupi Supartini, (2004), Konsep Dasar Keperawatan Anak, Jakarta : EGC

Wahid Iqbal, (2007), Pengantar Riset Keperawatan Komunitas, Jakarta: CV


Sagung Seto

LAMPIRAN
LAMPIRAN 1

LEMBAR PESETUJUAN MENJADI RESPONDEN


Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

55

Nama

Alamat

Setelah mendapatkan penjelasan dan mengerti tentang tujuan mini project


Judul
Ketepatan

: Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu dengan


Pemberian MPASI di Posyandu Leci , Desa Tiripan
pada
Agustus 2015

Pemateri

: dr. Eka Selvia

Bahwa saya diminta untuk berperan serta dalam mini project yang
nantinya akan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pemateri.
Sebelumnnya saya sudah diberikan penjelasan mengenai maksut dan
tujuan kegiatan ini dan saya mengerti bahwa kerahasiaan saya dijaga. Bila
saya merasa tidak nyaman maka saya berhak untuk mengundurkan diri.
Demikian secara sadar, sukarela dan tidak ada unsur paksaan dari
siapapun, saya berperan serta dalam kegiatan ini.

Berbek , 13 Agustus 2015


Responden
(........................................)

LAMPIRAN 2
Kuesioner

Pengetahuan dan Sikap Ibu mengenai Ketepatan


Pemberian MPASI di Posyandu Leci , Desa Tiripan pada Agustus 2015

Identitas Responden
1. Nama

56

2. Umur

Tahun

3. Pendidikan terakhir :
4. Pekerjaan

5. Agama

6. Suku

7. Pekerjaan suami

8. Jumlah anak

9. Jumlah pendapatan keluarga per bulan, sebutkan


a. lebih kecil dari Rp.750.000/bulan
b. antara Rp. 750.000 Rp. 1.500.000/bulan
c. lebih besar dari Rp. 1.500.000/bulan
10. Umur bayi :

bulan

11. Apakah Ibu mengetahui tentang makanan pendamping ASI?


a. Tahu
b. Tidak tahu
12. Menurut Ibu, apakah pengertian makanan pendamping ASI itu?
a. Makanan peralihan dari ASI ke makanan keluarga
b. Makanan pengganti ASI
c. Makanan yang diberikan pada bayi usia < 6 bulan
d. Tidak tahu
13. Menurut ibu, pada umur berapa sebaiknya diberikan makanan tambahan?
a. > 6 bulan
b. < 6 bulan
c. Tidak tahu
14. Sebutkan jenis makanan yang pertama kali diberikan kepada bayi usia > 6
bulan
a. Makanan unak
b. Makanan padat
c. Mie

57

d. Kemiri
15. Menurut ibu manakah yang merupakan makanan pendamping ASI
a. Gula
b. Makanan yang dilepeh
c. Bubur susu
d. Nasi
16. Menurut Ibu, berapa kalikah makanan tambahan itu diberikan dalam sehari
kepada bayi yang berusia 6-8 bulan?
a. 1-3 kali
b. 4-6 kali
c. 7-10 kali
d. Tidak tentu, tergantung bayi menangis
17. Menurut Ibu, mengapa bayi perlu diberi makanan tambahan?
a. Agar anak tidak rewel dan canggung
b. Agar anak terhindar dari penyakit
c. Agar kebutuhan bayi akan zat gizi bertambah sesuai dengan pertambahan
umurnya
d. Tidak tahu
18. Menurut ibu, apa pengaruhnya terhadap pemberian makan bayi sebelum usia
6 bulan terhadap kesehatan bayi?
a. Tidak ada pengaruhnya
b. Anak jadi sering mencret karena pencernaannya terganggu
c. Anak jadi sering nangis
d. Tidak tahu

19. Menurut ibu, apakah dengan menunda makanan tambahan dapat mengurangi
resiko alergi makanan?
a. Ya
b. Tidak
c. Mungkin

58

d. Tidak tahu
20. Menurut ibu pada usia berapakah sebaiknya bayi disapih?
a. < 24 bulan
b. > 24 bulan
c. < 12 bulan
d. >12 bulan

30. Ibu memberikan ASI saja sampai usia 6 bulan?


a. Ya
b. Tidak
31. Ibu memberikan makanan tambahan pada bayi saat berumur 4 bulan?

59

a. Ya
b. Tidak
32. Makanan tambahan diberikan pada bayi ketika usia < 6 bulan?
a. Ya
b. Tidak
33. Ibu memberikan makan bayi berusia < 6 bulan jika bayi rewel atau menangis?
a. Ya
b. Tidak
34. Ibu memberikan susu formula pada anak usia < 6 bulan?
a. Ya
b. Tidak
35. Ibu memberi makan bayi berusia < 6 bulan agar anak lebih gemuk?
a. Ya
b. Tidak
36. Ibu memberi makanan lumat seperti bubur susu sebagai makanan pertama
bayi berusia diatas 6 bulan
a. Ya
b. Tidak
37. Ibu memberikan susu formula sebagai makanan tambahan ketika masih
memberikan ASI?
a. Ya
b. Tidak
38. Ibu memberikan makanan tambahan 1-3 kali sehari pada bayi usia > 6 bulan?
a. Ya
b. Tidak
39. Ibu memberi makan bayi dengan kopi sesaat setelah bayi lahir?
a. Ya
b. Tidak

60

LAMPIRAN 3
Foto Kegiatan

61

62