Anda di halaman 1dari 7

Trauma amputasi adalah hilangnya bagian tubuh, biasanya jari, kaki,lengan, atau kaki-yang

terjadi sebagai akibat dari kecelakaan atau cedera.(1)


Traumatik amputasi merupakan bentuk terberat dari fraktur terbuka yang menimbulkan
kehilangan ekstremitas dan memerlukan konsultasi dan intervensi bedah. Amputasi pada trauma
ekstremitas dapat menyelamatkan nyaawa pasien, yang mengalami gangguan heodinamik dan
sulit dilakukan resusitasi. (2)
Amputasi adalah perlakuan yang menyebabkan cacat menetap. Tindakan ini merupakan
tindakan yang dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi
pada ekstremitas sudah tidak mungki dapat diperbaiki dengan menggunakan teknik lain. (3,4)
Pada kasus ini terjadi hilangnya ibu jari yang menyebabkan keharusan untuk
dilakukan amputasi guna mengurangi perdarahan dan menutup luka.
Patofisiologi
Amputasi merupakan hasil dari atau akibat oleh gangguan aliran darah baik akut maupun
kronik. Pada keadaan akut organ sebagian atau keseluruhan dipotong dan jaringan mati diangkat.
Terkadang ada anjuran baru pada penyamung kembali dari jari atau bagian tubuh yang kecil
tetapi tidak bagian otot. Tubuh mungkin merasa sebuah amputasi parsial sebagai ancaman dan
sepsis mungkin berkembang pada kasus bagian tubuh yang dipindahkan digunakanintuk
mencegah kematian klien. Klien mengalami situasi seperti ini memerlukan konseling. Mereka
mungkin tidak akan mengorbankan sebuah anggota tubuhnya, meskipun tidak berfungsi lagi
untuk lebih memastikan hidupnya. Pada proses penyait yang kronik sirkulasi terputus, aliran
vena sedikit, protein bocor kedalam ruang intestinum, odem berkembang, edema meningkatkan
resiko injury dan lebih jauh menurunkan sirkulasi, berkembangnya ulkus yang statis danmenjadi
tempat infeksi karena sirkulasi terputus dan penurunan proses imun sehingga bakteri mudah
berproliferasi,adanya proses infeksi yang progresif lebih jauh akan mengakibatkan sirkulasi
terhambat dan kemungkinan besar menjadi ganggren yang mana merupakan hal yang
mengharuskan amputasi.(4)
Indikasi

(3)

Indikasi amputasi adalah kelainan ekstremitas yang disebabkan oleh penyakit pembuluh
darah, cedera dan tumor ganas.

Amputasi atas indikasi tumor ganas jaringan lunak atau tulang merupakan salah satu langkah
penanggulangan yang biasanya terdiri atas pembedahan, radiasi, dan kemoterapi. Amputasi
tangan atau lengan hanya dilakukan setelah trauma berat dengan cedera saraf.
Indikasi amputasi juga pada trauma amputasi, bisa diakibatkan karena perang, kecelakaan,
thermal injury seperti terbakar.
Batas Amputasi (3)
Batas amputasi ditentukan oleh luas dan jenis penyakit. Batas amputasi pada cedera
ditentukan oleh peredaran darah yang aadekuat. Batas amputasi pada tunor maligna ditentukan
oleh daerah bebas risiko kekambuhan local, sedangankan pada penyakit pembuluh darah
ditentukan oleh vaskularisasi sisa ekstremitas dan daya sembuh luka puntung. Umumnya dapat
dikatakan bahwa aputasi akan dilakukan sedistal mungkin.
Amputasi lengan bawah menghasilkan sisa ekstremitas yang pendek karena pertumbuhan
epifisis distal humerus dan lempeng epifisis proximal redius dan ulna kurang sekali. Pada
amputasi lengan bawah, gerakan supinasi dan pronasi juga hilang.
Penilaian Batas Amputasi (3)
Jari dan Kaki. Pada amputasi jari tangan dan kaki, penting untuk mempertahankan falang dasar.
Amputasi trans metatarsal memberi puntung yang baik. Amputasi di sendi tarso-metatarsus
lisfranc mengakibatkan pesekuinus dengan pembebanan berlebih pada kulit ujung puntung yang
sukar di tanggulangi.
Proximal Sendi Pergelangan Kaki. Amputasi trans-maleolar baik sekali bila kulit tumit utuh dan
sehat sehingga dapat menutup ujung puntung.
TungkaiBawah. Panjang puntung tungkai bawah paling baikantara 12 sampai 18 cm dari sendi
lutut, bergantung pada keadaan setempat. Usia penderita, dan tinggi badan. Bila jarak dari sendi
lutut kurang dari 5 cm, protesis mustahil dapat dikendalikan.
Tungkai Atas. Puntung tungkai atas sebaiknya tidak kurang dari 10 cm di bawah sendi panggul.
Puntung yang kurang dari itu menyebabkan kontraktur fleksi abduksi-eksorotasi. Puntung juga
tidak boleh kurang dari 10 cm diatas sendi lutut karena ujung puntung sepanjang ini sukar
dibebani.

Tangan. Amputasi parsial jari atau tangan harus sehemat mungkin. Setiap jari dengan sensibilitas
kulit dan lingkup gerak utuh berguna sekali kerena dapat digunakan untuk fungsi menggenggam
atau fungsi oposisi ibu jari.
Pergelangan Tangan. Pada amputasi mealui pergelangan tangan, fungsional pronasi dan supinasi
dipertahankan. Tangan mioelektrik maupun tangan kosmetik dapat dipakai tanpa kesulitan.
Lengan Bawah. Batas amputasi di pertengahan legan bawah paling baik untuk memasang
protesis. Puntung harus sekurang-kurangnya distal insersi m.biseps dan m.brakialis untuk fleksi
siku.

Pemeriksaan Penunjang (1,4,5)


Pre operasi:
a. Menukur WBC, hemoglobin, hematocrit
b. Kadar asam serum untuk mengkaji pasien yang mengalami gangguan keseimbangan cairan
c. Waktu pembekuan
d. Elektrokardiogram, untuk mengkaji jantung terhadap tanda-tanda luka atau iskemik
Post operasi:
a. CBC penurunan darah yang tiba-tiba menandakan hemorargi danpeningkatan sel darah putih
tiba-tiba menidentifikasi infeksi.
b. Kimia darah: ukuran elektrolit dan pengisian seimbang.
Pembedahan
Pembedahan dilakukan dalam lingkungan bebas darah dengan menggunakan turniket,
kecuali apabila dilakukan atas indikasi obstruksi pembuluh nadi. Pembedahan dilakukan secara
terbuka dan tertutup.(3)
Amputasi terbuka dikerjakan pada luka kotor seperti luka perang atau infeksi berat, antara
lain gangren gas. Pada cara ini sayatan kulit dibuat secara sirkuler, sedangkan otot dipotong

sedikit proximal dari sayatan kulit dan tulang digergaji sedikit proximal dari otot. Luka dibiarkan
terbuka samapi infeksi teratasi, kemudian baru dikerjakan reamputasi.(3)
Pada amputasi tertutup dibuat flap kulit yang direncakan luas dan bentuknya secara teliti
untuk memperoleh kulit penutup ujung puntung yang baik dengan lokasi bekas pembedahan di
luar tempat pembebanan protesis dan sesuai dengan jenis protesis yang akan dipasang. Otot,
pembuluh darah, dan saraf dipotong pada batas tersendiri. Biasanya otot difiksasi pada ujung
tulang dengan teknik miodesis atau dijahit di sekitar ujung tulang secara mioplastik. Dengan
demikian, otot mendapat insersi kembali dan dapat berkontraksi sehingga tidak menjadi
hipotrofi.(3)
Saraf akan dipotong cukup tinggi agar ujungnya menarik diri ke dalam jaringan supaya
neuroma yang akan terbentuk pada ujungnya terletak cukup terlindung dari tekanan sehingga
tidak mengganggu.(3)
Skin grafting dan flep dapat dilakukan pada ksus dimana sebagian kulit tidak dapat ditutup
dengan jahitan pada umumnya.
Skin grafting adalah pemindahan kulit secara bebas. Pengambilan sebagian kulit dari daerah
donor dapat dilakukan dengan dermatom, tetapi dapat juga dengan pisau lebar yang tipis untuk
cangkok Thiersch. Cangkok seluruh tebal kulit adalah cangkok yang terdiri atas lapisan
epidermis dan dermis. Dengan alat dermatom. Ketebalan kulit dapat diatur. Vaskularisasi yang
baik di daerah resipisen, tidak adanya infeksi, dan keadaan umum penderita memadai dan fiksasi
mepuakan syarat keberhasilan transplantasi.
Flep adalah cangkok jaringan kulit beserta jaringan unak dibawahnya yang diangkat di
tempat asalnya, tetapi tetap memiliki hubungan vaskularisasi dengan tempat asal. Flep yang
dipindahkan akan membentuk vaskularisasi baru di tempat resipien.
Pada kasus ini dilakukan amputasi tertutup, sisa tulang pada ibu jari yang putus di amputasi
setinggi artic metacarpalphalangeal. Dan sisa kulit yang tersobek di jahit sedapatnya kemudian
sisa kulit yang tidak bisa tertutup di rawat terbuka.
Komplikasi (5)
Komplikasi pasca pembedahan atau operasi utama adalah infeksi, hemorari, kontraktur,
sensai phantom limb.

Masalh nyeri phantom kadang sukar diatasi. Setelah amputasi selalu terdapat perasaan
bagian ekstremitas yang hilang masih ada,dan setiap penderita akan mengalaminya. Sebagian
penderita merasaterganggu sedangkn sebagian lagi merasakan sebagai nyeri.
Rasional untuk fenomenal ini tidak jelas, tetapi diyakini berhubungan dengan inflamasi
potongan ujung saraf.meskipun jarang, sensasi phantom limb dapat menjadi kronis, masalah
berat yangmemerlukan intervensi lebih agresif seperti blok saraf, psokoterapi, terapi obat,
stimulasi saraf listrik, atau eksisi neuroma.
Prostesis
Protesis sementara kadang diberikan pada hari pertama pascabedah sehingga latihan segera
dapat dimulai. Kadang prosthesis darurat baru diberikan setelah satu minggu luka menyembuh
tanpa penyulit. Khususnya setelah amputasi karena penyakit pembuluh darah, prosthesis
sementara baru dipasang setelah empat minggu. Keuntungan pemakaian prosthesis sementara
ialah penderita dibiasakan menggunaka prosthesis secara dini.(3)
Prosthesis dimaksud untuk mengganti bagian ekstremitas yang hilang. Ini berarti defek
system musculoskeletal harus diatasi, termasuk defek faali. Tujuan ini sebagian besar dapat
dicapai pada ekstremitas bawah. Untuk faal tangan yang sangat bergantunng pada umpan balik
sensibilitas kulit maupun persediaan jari, tujuan ini sukar dicapai. Dengan protesis tangan,
bahkan dengan tangan mioelektrik canggih yang bekerja atas signa mioelektrik dari otot biseps
dan triseps tidak dapat diperoleh hasil yang meyakinkan karena penderita umunya akan
menggunakan tangan yang masih ada dan dengan puntung sebagai pembantu.(3)
Pada kasus ini tidak digunakan prothesis. Karena hanya mengamputasi bagian ibu jari saja.
Masalah Puntung (3)
Puntung memerluka perawatan khusus karena pembebeanan tinggi dan kulit sukar
menyesuaikan diri untuk faal baru itu.
Kulit dirawat dengan mandi ssetiap hati dan menggunakan kasus kaki yang harus diganti
setiap hari.
Biasanya kulit puntung menunjukan pigmentasi dan udem. Pada udem lama sering terdapat
hyperplasia varikosa dengan hyperkeratosis. Kadang prosthesis isap harus diganti dengan
prosthesis kontak total untuk mengatasi kelainan ini.

Nyeri dipuntung mungkin bersal dari neuroma ujung saraf yang terletak terlalu dekat
permukaan. Neuroma dapat ditentukan dengan palpasi karena dapat menimbulkan nyeri tekan
local yang khas. Terapinya adalah pembedahan untuk memindahkan neuroma ke tempat yang
lebih dalam dan lebih terlindung dari tekanan.
Perawatan pasca amputasi
Perawatan luka pada umumnya dan pengunaan balutan yang halus akan mengontrol udem,
mencegah trauma, menurunkan nyeri, dan membuat mobilisasi lebih awal demikian juga
rehabilitasinya.(5)
Pada kasus ini dibutuhkan juga antibiotic untuk mengurangi terjadinya infeksi karena luka
yang dirawat terbuka.
DAFTAR PUSTAKA
1. Joseph.K. Traumatik amputasi. [serial online] [cited at 2013 June], [3 screens].Available
from:
URL: http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000006.htm
2. Fildes J, Meredith JW. Advanced trauma life support for doctors. 8thed. Chicago: American
college of surgeons committee on trauma; 2008.
3. Sjamsuhidajat R dan Wim de Jong. 2005. Amputasi. Buku ajar . Edisi 2. EGC; Jakarta. Hal
946-49
4. Guton Hall. 2002. Fisiologi Kedokteran. EGC; Jakarta
5. Rekso prodjo Soelarto. 2010. Amputasi. Kumpulan kuliah ilmu bedah. Staf pengajar bagian
ilmu bedah FKUI; Jakarta.