Anda di halaman 1dari 15

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Lengkap Praktikum Biologi Dasar dengan Judul Pengaruh Suhu


Terhadap Aktivitas Organisme disusun oleh:
Nama

: Maulyda Awwaliyah.P

NIM

: 1414142006

Kelas

:B

Kelompok

:4

telah diperiksakan dan dikonsultasikan kepada Asisten/Koordinator Asisten maka


dinyatakan diterima.

Koordinator Asisten

Makassar, Januari 2015


Asisten

Djumarirmanto, S.Pd

St.Nuhriah
NIM. 1114140013

Mengetahui,
Dosen Penanggung Jawab

Drs.H.Hamka L.Ms
NIP: 19621231 198602 1 005

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Biologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari
mengenai makhluk hidup. Ada berbagai jenis makhluk hidup di dunia ini di
seluruh belahan dunia. Setiap spesies memiliki bentuk dan karakteristik yang
sangat beragam.
Setiap spesies makhluk hidup yang ada di dunia ini harus mempu
menyesuaikan serta mempertahankan diri dari segala perubahan yang terjadi
pada lingkungan hidup mereka. Sebab jika mereka tidak mampu
menyesuaikan serta mempertahankan diri maka mereka akan terkena dampak
dari seleksi alam. Penyesuaian diri dan pertahanan tubuh berbeda-beda pada
setiap makhluk hidup tergantung bagaimana ia mampu menanggapi dan
menerima respon terhadap segala rangsangan.
Ketika terjadi perubahan pada lingkungan suatu makhluk hidup, maka
mereka akan melakukan penyesuaian diri (aklimatisasi) terhadap lingkungan
baru mereka sehingga mereka akan mampu beraktivitas secara normal. Salah
satu perubahan yang akan muncul yaitu perubahan suhu/temperature. Contoh
yang paling mudah kita amati misalnya, pada saat kedinginan tentu manusia
akan berusaha mempertahankan dirinya salah satu bentuk pertahanan diri
manusia pada saat kedinginan yaitu memakai pakaian yang tebal.
Hal ini tentu juga terjadi pada hewan dan tumbuhan, mereka akan
berusaha menyesuaikan serta mempertahankan diri saat terjadi perubahan
dengan lingkungan mereka. Misalnya pada tumbuhan, di sebuah tanah yang
gersang karena kemarau yang panjang, satu per satu pepohonan akan mati
karena suhu yang sangat tinggi. Hal ini merupakan dampak dari seleksi alam.
Akan tetapi, pohon kaktus mampu bertahan pada kondisi yang ekstrim seperti
itu. Hal ini merupakan dampak dari seleksi alam.
Berdasarkan hipotesis diatas maka kami melakukan praktikum ini untuk
membuktikan bahwa suhu akan mempengaruhi aktivitas pada organisme.

Pada percobaan ini kami mengambil ikan sebagai kelinci percobaan sebab,
perubahan ikan akan mudah kita amati pada saat suhu/temperaturnya
diturunkan ataupun dinaikkan. Hasil dari percobaan kami nantinya akan
menjadi bukti apakah suhu/tempertatur benar-benar mempengaruhi aktivitas
suatu organisme.
B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah membandingkan kecepatan
penggunaan oksigen pada suhu yang berbeda.
C. Manfaat Praktikum
Adapun manfaat dari praktikum ini adalah mahasiswa diharapkan dapat
membandingkan kecepatan penggunaan oksigen pada suhu yang berbeda.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Osteiktia akuatik yang secara informal dikenal sebagai ikan. Sebagian
besar ikan bernapas dengan menarik air melewati empat atau lima pasang
insang yang terletak di dalam ruang yang tertutup oleh kelepak pelindung
yang bertulang disebut operkulum (operculum). Air ditarik ke dalam mulut,
melewati faring, dan keluar melalui sela-sela insang melalui pergerakan
operculum dan konsentrasi otot-otot disekitar ruang insang (Campbell, 2008).
Kehadiran dan keberhasilan suatu organisme tergantung kepada
lengkapnya konsep keadaan. Ketiadaan atau kegagalan suatu organisme dapat
dikendalikan oleh kekurangan maupun kelebihan baik secara kualitatif
maupun secara kuantitatif dari salah satu pada beberapa faktor yang mungkin
mendekati batas-batas toleransi organisme tersebut. Faktor-faktor yang
mendekati batas biotik tersebut meliputi komponen biotik dan biotik yang
berpengaruh terhadap kehidupan organisme tersebut. Komponen biotik yang
dimaksud tidak terbatas pada tersedianya unsur-unsur yang dibutuhkan, tetapi
mencakup pula temperatur, sinar matahari, air dan sebagainya. Tiap
organisme mempunyai batas maksimum dan minimum terhadap faktor-faktor
tersebut, dengan kisaran diantaranya batas-batas toleransi (Udom, 1989).
Sebagian besar ikan dapat mengontrol kemampuan mengambangnya
dengan kantong udara yang dikenal sebagai gelembung renang (swim
bladder). Pergerakan gas-gas dari darah ke gelembung renang meningkatkan
kemampuan mengambang, menyebabkan ikan naik. Transfer gas kembali ke
darah menyebabkan ikan tenggelam. Osteiktia pada banyak garis keturunan
yang bercabang sejak dini memiliki paru-paru, yang mereka gunakan untuk
menghirup udara sebagai tambahan bagi pertukaran gas di dalam insangnya.
Sebagian besar bukti mengidentifikasi bahwa paru-paru muncu pada osteiktia
awal. Belakangan, gelembung renang berevolusi dari paru-paru pada
beberapa garis keturunan (Campbell, 2008).
Pada hamper semua ikan, kulit tertutup oleh sisik bertulang yang pipih

dengan struktur yang berbeda dari sisik serupa-gigi pada hiu. Kelenjarkelenjar di kulit menyekresikan mucus berlendir ke kulit, suatu adaptasi yang
mengurangi gesekan selama berenang (Campbell, 2008).
Suhu merupakan salah satu faktor pembatas penyebaran hewan, dan
selanjutnya

menentukan aktivitas hewan. Rentangan suhu lingkungan di bumi

jauh lebih besar dibandingkan dengan rentangan penyebaran kativitas hidup. Suhu
udara di bumi terentang dari -70 C - 85C. secara umum aktivitas kehidupan
terjadi antara rentangan sekitar 0C - 40C. Kebanyakan hewan hidup dalam
rentangan suhu yang lebih sempit. Beberapa hewan dapat berthan hidup tetapi
tidak aktif di bawah 0C, dan beberapa tahan terhadap suhu sangat dingin. Tidak
ada hewan yang dapat hidup di atas suhu 50C, dan sedikit bakteria dan alga aktif
dalam sumber air panas dengan suhu 70C. batas-batas untuk reproduksi lebih
sempit daripada suhu hewan dewasa bertahan hidup, tetapi embrio kebanyakan
homoeterm lebih tahan terhadap rentangan suhu yang lebih besar daripada yang
dewasa (Soewolo, 2000).
Dibandingkan dengan kisaran dari ribuan derajat yang diketahui di bumi
ini, kehidupan hanya dapat berkisar pada suhu 300 oC, mulai dari -200oC sampai
-100oC, sebenarnya banyak organisme yang terbatas pada daerah temperatur yang
bahkan lebih sempit lagi. Beberapa organisme terutama pada tahap istirahat, dapat
dijumpai pada temperatur yang sangat rendah, paling tidak untuk periode singkat.
Sedangkan untuk jenis organisme terutama bakteri dan ganggang dapat hidup dan
berkembang biak pada suhu yang mensekati titik didih. Umumnya, batas atau
temperatur bersifat membahayakan dibanding atas bawah. Varibilitas temperatur
sanagt penting secara ekologi. Embusan temperatur antara 10 oC dan 80oC. Telah
ditemukan bahwa organisme yang biasanya menjadi sasaran variabel temperatur
di alam, seperti pada kebanyakan daerah beriklim sedang, cendernung tertekan,
terlambat pada temperatur konstan (Waskito, 1992).
Suhu merupakan salah satu faktor fisik lingkungan yang
paling jelas, mudah diukur, dan sangat beragam. Suhu tersebut mempunyai
peranan yang penting dalam mengatur aktivitas biologis organisme, baik
hewan

maupun

tumbuhan.

Ini

terutama

disebabkan

karena

suhu

mempengaruhi kecepatan reaksi kimiawi dalam tubuh dan sekaligus


menentukan kegiatan metabolik, misalnya dalam hal respirasi sebagaimana
halnya dengan faktor lingkungan lainnya, suhu mempunyai bentang yang
dapat di toleransi oleh setiap jenis organisme. Masalah ini dijelaskan dalam
kajian ekologi yaitu Hukum Toleransi Shelford (Tim Penyusun, 2014).
Suhu adalah ukuran energi gerakan molekul. Di samudera, suhu bervariasi
secara horizontal sesuai garis lintang dan juga secara vertikal sesuai dengan
kedalaman. Suhu merupakan salah satu faktor yang penting dalam mengatur
proses kehidupan dan penyebaran organisme. Proses kehidupan yang vital yang
secara kolektif disebut metabolisme, hanya berfungsi didalam kisaran suhu yang
relative sempit biasanya antara 0-40C, meskipun demikian bebarapa beberapa
ganggang hijau biru mampu mentolerir suhu sampai 85C. Selain itu, suhu juga
sangat penting bagi kehidupan organisme di perairan, karena suhu mempengaruhi
baik aktivitas maupun perkembangbiakan dari organisme tersebut. Oleh karena
itu, tidak heran jika banyak dijumpai bermacam-macam jenis ikan yang terdapat
di berbagai tempat di dunia yang mempunyai toleransi tertentu terhadap suhu. Ada
yang mempunyai toleransi yang besar terhadap perubahan suhu, disebut bersifat
euryterm. Sebaliknya ada pula yang toleransinya kecil, disebut bersifat stenoterm.
Sebagai contoh ikan di daerah sub-tropis dan kutub mampu mentolerir suhu yang
rendah, sedangkan ikan di daerah tropis menyukai suhu yang hangat. Suhu
optimum dibutuhkan oleh ikan untuk pertumbuhannya. Ikan yang berada pada
suhu yang cocok, memiliki selera makan yang lebih baik (Ardiyana, 2012).
Bila hewan yang didapatkan pada habitat yang berbeda, mereka hidup
disuatu tempat maka mereka harus menyesuaiokan diri dengan lingkungannya
respirasi sendiri merupakan proses pertukaran gas oleh makhluk hidup terhadap
lingkungan yang terjadi dengan dua cara yaitu ekspirasi (mengeluarkan CO 2) dan
inspirasi (O2 masuk kedalam tubuh). Variasi lingkungan menimbulkan masalah
yang berbeda bagi hewan dan tumbuhan. Respirasi terbagi atas repirasi aerob dan
respirasi anaerob. Respirasi aerob adalah respirasi yang membutuhkan oksigen
sedangkan respirasi anaerob adalah respirasi yang tidak membutuhkan oksigen.
Oksigen di dalam tubuh disimpan dalam darah dalam bentuk oxyhemoglobin

(HbO2) dan disimpan dalam otot dalam bentuk oxymioglobin. Respirasi juga biasa
didefenisikan sebagai proses pembebasan energi yang tersisa sumber zat energi
dalam tubuh organisme melalui proses kimia dengan menggunakan oksigen. Zat
sumber tersebut terdiri atas zat organik seperti protein, lemak, karbohidrat, dan
asam amino (Soesilo, 1986).
Variasi lingkungan menimbulkan masalah yang berbeda bagi hewan dan
tumbuhan. Bila hewan didapatkan pada habitat yang berbeda, tumbuhan dengan
beberapa pengecualian, bila mereka hidup disuatu tempat maka mereka harus
menyesuaiokan diri dengan lingkungannya (Nasir Mochammad, 1993) .

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Hari/tanggal : Rabu / 21 Januari 2015
Waktu
: Pukul 10.00 sd 12.00 WITA
Tempat
: Laboratorium Biologi FMIPA UNM
B. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Termometer batang (1 buah)
b. Stopwatch (1 buah)
c. Topes kaca (3 buah)
2. Bahan
a. 3 ekor ikan mas
b. Es Batu
c. Air kran
d. Air Panas
C. Prosedur Kerja
1. Memasukkan 3 ekor ikan mas yang relative sama beesarnya ke dalam
toples kaca berisi air kran, dan aklimatisasi seam 15 menit.
2. Mengambil 1 ekor ikan mas dan memasukkan ke dalam toples kaca yang
berisi air dingin (16) 800 ml. Menghitung cepat dan frekuensi gerakan
(buka tutup) operculum dalam satu menit selama 5 menit.
3. Mengambil 1 ekor ikan mas dan memasukkan ke dalam toples kaca yang
berisi air kran (27) 800 ml. Menghitung cepat dan frekuensi gerakan
(buka tutup) operculum dalam satu menit selama 5 menit.
4. Mengambil 1 ekor ikan mas dan memasukkan ke dalam toples kaca yang
berisi air panas (38) 800 ml. Menghitung cepat dan frekuensi gerakan
(buka tutup) operculum dalam satu menit selama 5 menit.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan

Suhu

Toples

awal air

Waktu (menit ke)


1

62

84

10

12

4
14

16

2
20

1
26

5
30

(A)

16 C

18

41

(B)

27 C

34

64

(C)

38 C

71

B. Analisis Data
x = waktu
y = banyaknya buka tutup operculum
y

V
x
1. Untuk suhu 160C
y

V
x
=

104
5

= 20 x per menit
2. Untuk suhu 270C
y

V
x
145
5

= 29 x per menit
3. Untuk suhu 380C
y

V
x
=

303
5

= 60 x per menit

Rata-Rata

5
10

20,8
29
60,6

Grafik Hubungan Suhu, Waktu terhadap Aktivitas Buka Tutup Operculum Ikan Mas
350
300
250
200
Banyaknya buka tutup operculum

150

Suhu 16 derajat Celcius


Suhu 27 derajat Celcius
Suhu 38 derajat Celcius

100
50
0
Waktu (menit)

C. Pembahasan
Suhu merupakan salah satu faktor fisik lingkungan yang paling jelas,
mudah diukur dan sangat beragam. Suhu tersebut mempunyai peranan yang
penting dalam mengatur aktivitas biologis organisme, baik hewan maupun
tumbuhan. Ini terutama disebabkan karena suhu mempengaruhi kecepatan
reaksi kimiawi dalam tubuh dan sekaligus menentukan kegiatan metaboli,
misalnya dalam hal respirasi. Sebagaimana halnya dengan faktor lingkungan
lainnya, suhu mempunyai rentang yang dapat ditolerir oleh setiap jenis
organisme. Masalah ini dijelaskan dalam kajian ekologi yaitu, Hukum
Toleransi Shelford (Tim Penyusun, 2014).
Suhu merupakan kondisi yang paling penting dan berpengaruh terhadap
suatu organisme. Secara garis suhu mempengaruhi proses metabolisme,
penyebaran, dan kelimpahan organisme. Perbedaan suhu lingkungan
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya sifat siklusnya, garis lintang,
ketinggian tempat dan kedalaman. Hubungan antara organisme dengan suhu
lingkungan, organisme digolongkan menjadi dua golongan yaitu hewan

berdarah panas dan hewan berdarah dingin, tetapi penggunaan ini adalah tidak
tepat dan subjektif sehingga tidak akan digunakan ( Sutarno, 2001).
Insang dalam, lazim disebut insang saja terletak didalam tubuh didaerah
pangkal kepaladekat jantung. Insang pada ikan tersusun dari lamella yang
berdinding tipis mengandung banyak kapiler darah, berjumlah sepasang,
masing-masing terdiri terdiri atas 5 lembar lamella branchialis. Beberapa jenis
ikan tertentu, pada insangnya terbentuk bangunan yang merupakan modifikasi
arcus branchialis dan disebut labirin. Labirin berbentuk seperti pohon dan
banyak pembuluh darah (Suntoro, 2001).
Sesuai dengan hasil pengamatan serta perhitungan analisis data dalam
praktikum Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas Organisme, perhitungan
gerakan (buka tutup) operculum digunakan perhitungan berlanjut, jadi setelah
diketahui berapa banyak gerakan pada menit pertama, perhitungan tetap
dilanjutkan, tidak diulangi dari awal. Dari hasil pengamatan, dapat diketahui :
1. Pada becker glass/toples dengan suhu 16

Pada waktu ikan mas dimasukkan ke dalam becker glass atau


toples yang berisi air dingin ( 16

C), Ikan mas tersebut beraktivitas

dengan lambat. Pada menit pertama, gerakan operculum dari ikan mas
tersebut mengalami gerakan (buka tutup) sebanyak 18 kali, kemudian pada
menit kedua sampai kelima mengalami gerakan hingga 104 kali dengan
rata-rata 20,8 x per menit. Hal ini disebabkan karena pengaruh suhu
yang dingin sehingga kadar oksigen dalam air semakin
sedikit sehingga ikan pun beradaptasi dengan menurunkan
kecepatan respirasinya hal ini ditunjukan pada aktivitas
ikan yang ikut menurun.
2. Pada becker glass/ topless dengan suhu 27oC
Pada waktu ikan mas koki dimasukkan ke dalam becker glass C
yang berisi air krandengansuhu normal (27oC), Ikan mas tersebut
beraktivitas dengan lambat. Pada menit pertama, gerakan operculum dari
ikan mas tersebut mengalami gerakan (buka tutup) sebanyak 34 kali,
kemudian pada menit kedua sampai kelima mengalami gerakan hingga

145 kali dengan rata-rata 29 x per menit. Hal ini disebabkan karena
pengaruh

suhu

yang

normal

sehingga

kecepatan

respirasinya juga berlangsung dengan normal hal ini


ditunjukan pada aktivitas ikan yang normal.
3. Pada becker glass/ toples dengan suhu 38oC
Pada waktu ikan mas koki dimasukkan ke dalam becker glass B
yang berisi air panas dengansuhu 38oC, gerakan operculum pada ikan mas
tersebut semakin lama semakin cepat bergerak. Pada menit pertama
operculum tersebut bergerak sebanyak 71 kali dan menit kedua sampai
menit kelima bergerak sebanyak hingga 303 dengan rata-rata 60,6 x per
menit. Hal ini disebabkan karena pengaruh suhu yang panas
sehingga

kadar

oksigen

pun

bertambah

dan

terjadi

peningkatan laju reaksi kimia yang sangat besar di dalam


tubuh ikan.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum dan analisis data yang telah dilakukan, maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa suhu sangat mempengaruhi aktivitas
organisme. Adapun pengaruh suhu terhadap aktivitas organism dalam hal ini
ikan yaitu :
1. Pada suhu normal (29C), frekuensi gerakan buka tutup operculum ikan
juga normal.
2. Pada suhu dingin (16C), frekuensi gerakan buka tutup operculum ikan
sedikit membuktikan bahwa pada suhu dingin, ikan melakukan sedikit
aktivitas.
3. Pada suhu panas (30C), frekuensi gerakan buka tutup operculum ikan
lebih banyak dibandingkan pada suhu dingin dan suhu normal,
menandakan pada suhu panas, ikan melakukan banyak aktivitas.
B. Saran
1. Diharapkan untuk praktikan agar berhati-hati selama memegang dan
menggunakan peralatan agar tidak terjadi kerusakan.
2. Diharapkan untuk asisten agar kiranya memberikan arahan dan batasan
yang jelas dalam setiap kegiatan praktikum demi meminimalisir
kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh praktikan selama praktikum
berlangsung.
3. Diharapkan untuk laboratorium agar memeriksa kelengkapan alat sebelum
digunakan oleh praktikan, apakah alat yang digunakan baik atau tidak,
sehingga praktikan dapat menjalankan praktikum dengan baik

DAFTAR PUSTAKA
Ardiyana, Andi. 2012. Pengaruh suhu dan salinitas terhadap keberadaan
ikan. http://aryansfirdaus.wordpress.com//.
Diakses pada 22 Januari 2015.
Campbell,A.Nail. 2008.Biologi Edisi Kedelapan Jilid Dua.

Jakarta : Erlangga.
Nasir, Mochammad. 1993. Penuntun Praktikum Biologi Umum.
Yogyakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Susanto, Pudyo. 2000. Pengantar Ekologi Hewan. Jakarta:
Proyek Pengembangan Guru Sekolah
Sutarno, Nono. 2001. Biologi Lanjutan II. Jakarta : Universitas Terbuka.
Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta :
Departemen Pendidikan Nasional.
Suntoro, Susilo Handari. 2001. Anatomi dan Fisiologi Hewan. Jakarta :
Universitas Terbuka.
Sutarno, Nono. 2001. Biologi Lanjutan II. Jakarta : Universitas Terbuka.
Tim Penyusun Biologi Umum. 2014. Penuntun Praktikum Biologi Umum.
Makassar: Universitas Negeri Makassar.
Waskito, dkk. 1992. Biologi. Jakarta: Bumi Aksara.

LAMPIRAN
JAWABAN PERTANYAAN
1. Mengapa terjadi perbedaan frekuensi gerakan operculum ikan pada suhu air
yang berbeda-beda?
Jawab:

Terjadinya perbedaan frekuensi gerakan operkulum ikan pada suhu air yang
berbeda-beda karena suhu mempengaruhi aktivitas ikan mas koki seperti
kecepatan reaksi kimiawi dan sekaligus menentukan kegiatan metabolik
organisme, misalnya dalam hal respirasi.
2. Pada suhu berapa frekuensi (buka tutup ) operculum tertinggi ?
Jawab : Pada suhu 380C (air panas )
3. Pada suhu berapa frekuensi (buka tutup ) operculum terendah ?
Jawab : Pada suhu 160C (air dingin )
4. Mengapa terjadi perbedaan frekuensi gerakan (buka tutup) operculum ikan
berdasarkan suhu air ?
Jawab : Karena suhu mempengaruhi kecepatan reaksi kimiawi dan sekaligus
menetukan kegiatan metabolik organisme, misalnya dalam hal respirasi.