Anda di halaman 1dari 4

STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 7

ABID SUHENDRA

Perencanaan kawasan bantaran Sungai Ciliwung, Bukit Duri, Jakarta


Selatan, dan Kampung Melayu, Jakarta Timur, sebagai daerah inltrasi dan
penanggulangan banjir dengan pendekatan kota berbasis air

FLOOD ARCHITECTURE

URGENT . ISSUES . GOALS

preliminary
location

okasi perencanaan
kawasan berada di
area bantaran sungai
Ciliwung, yang menjadi
wilayah Kelurahan Bukit Duri,
Tebet, Jakarta Selatan dan
Kelurahan Kampung
Melayu, Jatinegara, Jakarta
Timur, DKI Jakarta.
Lokasi perencanaan
akan terkonsentrasi pada
area bantaran sungai
Ciliwung, Jakarta. Sungai
Ciliwung merupakan salah
satu dari 13 sungai yang
mengaliri kota Jakarta dan
menjadi salah satu sungai
terbesar yang membelah
Jakarta. Sungai Ciliwung
memiliki panjang aliran
21.660 m dan luas area
515.600 m2.
Area bantaran sungai
yang menjadi penting
untung direncanakan
adalah pemukiman kumuh
dan ilegal (slums dan
squatters) yang ada di
Sungai Ciliwung, yaitu area
Kampung Melayu, Jakarta
Timur. Area pemukiman
kumuh ini medominasi
hampir seluruh area
bantaran sungai Ciliwung,
sehingga mengganggu
kinerja dan fungsi sungai.

CILIWUNG RIVER

Indonesia

Sungai Ciliwung Jakarta

Proyek Flood Architcecture merupakan perencanaan kawasan


bantaran sungai yang bertujuan mencari keseimbangan dari sungai
Ciliwung, Jakarta. Keseimbangan ini antara lain mencakup potensipotensi alam seperti, debit air, ekosistem melimpah, aliran air, dan
area terbuka dengan bencana yang kemungkinan dapat
terjadi, yaitu banjir. Perencanaan kawasan ini nantinya akan
dapat menanggulangi bencana banjir itu sekaligus
memanfaatkan setiap potensi dari sungai Ciliwung.
Solusi desain yang digunakan adalah dengan
membangun kembali area bantaran sungai
dengan prinsip-prinsip penanggulangan banjir
dan kota berbasis air, serta menggunakan
konsep-konsep perencanaan sustainable
untuk dapat mengambil potensipotensi alam yang ada di lokasi site.

Kampung Melayu

Bukit Duri

Kawasan Kampung Melayu, Ciliwung, Jakarta

problem

erkembangan kawasan perkotaan dalam pembangunan berkelanjutan, selain memberikan dampak positif
dalam bidang perekonomian, namun juga di sisi lain berdampak sebaliknya bagi keselamatan ngkungan
jika tidak mempetimbangkan faktor daya dukung lahan. Salah satu dampak buruk yang berujung
bencana dari kegiatan pembangunan ini adalah banjir (flood). Banjir menjadi masalah yang berkaitan erat
dengan kegiatan pembangunan di perkotaan. Pembangunan perkotaan menjadi pemicu pertambahan
jumlah penduduk,aktifitas, dan penggunaan lahan, baik untuk pemukiman maupun komersial. Akibat
terbatasnya lahan di daerah perkotaan, terjadilah intervensi kegiatan perkotaan pada lahan-lahan
konservasi dan ruang terbuka hijau, salah satunya adalah sungai. Sungai sebagai daerah aliran air
mengalami penyempitan dan pendangkalan akibat dari kurangnya area resapan air yang berimbas
pada peningkatan aliran permukaan dan erosi. Hal ini kemudian yang mengakibatkan meluapnya air
sungai terutama di bagian hilir.
Fenomena inilah yang saat ini terjadi di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Pengembangan
kawasan dan pembangunan di daerah DKI Jakarta mengalami penyimpangan-penyimpangan
atau ketidaksesuaian fungsi yang tidak seperti seharusnya.
Penyimpangan di daerah hulu terutama menjadi kondisi vital dalam masalah banjir.
Penyimpangan fungsi kawasan hulu seperti daerah Bogor, Puncak, dan Cianjur yang
merupakan kawasan konservasi air dan tanah yang memberikan perlindungan bagi daerah
di bawahnya untuk menjamin ketersediaan air tanah, air permukaan , dan
penanggulangan banjir (Kepres No. 114 Tahun 1999) berubah menjadi kawasan
pembangunan. Sementara di bagian hilir, penyimpangan fungsi lahan terjadi pada
area-area hijau, daerah resapan, serta daerah konservasi menjadi area-area
terbangun dengan jumlah yang terus meningkat.
Terjadinya penyimpangan-penyimpangan ini tidak terlepas dari tuntutan dari
kepentingan sektor ekonomi yang tidak mempertimbangkan faktor kerusakan yang
akan terjadi. Selain itu, muncul-munculnya pemukiman kumuh liar di sepanjang
bantaran sungai, dan kebiasaan serta budaya masyarakat yang menganggap
sungai sebagai tempat pembuangan sampah menyebabkan kondisi ini
semakin parah dan kompleks.
Banjir di DKI Jakarta mengakibatkan banyak kerugian dari sektor
ekonomi bahkan hingga korban jiwa. Banjir di Jakarta tidak hanya
menimbulkan kerugian harta, ribuan rumah terendam banjir, korban jiwa,
tetapi juga kemacetan lalu lintas, munculnya wabah penyakit-penyakit
menular, dan sebagainya.

DR IR SUGINI MT IAI

FLOOD ARCHITECTURE

Kawasan Kampung Melayu, Ciliwung, Jakarta

STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 7


ABID SUHENDRA 12512139

THEORY . PRECEDENT . SCHEME

NATURAL CAUSES

thematic review

HUMAN CAUSES
LAND CHANGE

RAINFALL

Pada musim penghujan curah hujan yang tinggi


akan mengakibatkan banjir di sungai dan
bilamana melebihi tebing sungai makan akan
timbul banjir atau genangan.

RIVER

Area rawan banjir DKI


Jakarta

Fisiografi atau geografi fisik sungai seperti


bentuk dan kemiringan Daerah Pengaliran
Sungai (DPS), kemiringan sungai, geometri
hidrolik (bentuk penampang seperti lebar,
kedalaman, potongan memanjang, material
dasar sungai), dan lokasi sungai

ATTRITION
Fisiografi atau geografi fisik sungai seperti
bentuk dan kemiringan Daerah Pengaliran
Sungai (DPS), kemiringan sungai, geometri
hidrolik (bentuk penampang seperti lebar,
kedalaman, potongan memanjang, material
dasar sungai), dan lokasi sungai

Perubahan DPS sperti penggundulan hutan, usaha


pertanian yang kurang tepat, perluasan kota dan
perubahan tata guna lainnya dapat memperburuk
masalah banjir karena berkurangnya derah resapan
air dan sedimen yang terbawa ke sungai akan
memperkecil kapasitas sungai yang mengakibatkan
meningkatnya aliran banjir

SLUMS

Perumahan kumuh yang terdapat di bantaran sungai


merupakan penghambat aliran sungai.

GARBAGE
Pembuangan sampah di alur sungai dapat
meninggikan muka air banjir karena menghalangi
aliran

CAPACITY
Pengurangan kapasitas aliran banjir pada
sungai disebabkan oleh pengendapan yang
berasal dari erosi dasar sungai dan tebing
sungai yang berlebihan, karena tidak adanya
vegetasi penutup.
Sumber: RTRW DKI Jakarta 2030

ROB
Air laut memperlambat aliran sungai ke laut.
Pada waktu banjir bersamaan dengan air
pasang yang tinggi, maka tinggi
genangan/banjir menjadi lebih tinggi karena
terjadi aliran balik (back water).

oods problem
Banjir merupakan suatu keadaan sungai dimana aliran airnya
tidak tertampung oleh palung sungai, karena debit banjir lebih
besar dari kapasitas sungai yang ada (Dewi, 2007).
Dari segi penyebabnya, Dewi (2007) juga menjelaskan banjir
terjadi karena 2 faktor utama, antara lain:

STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 7


ABID SUHENDRA

Perencanaan kawasan bantaran Sungai Ciliwung, Bukit Duri, Jakarta


Selatan, dan Kampung Melayu, Jakarta Timur, sebagai daerah inltrasi dan
penanggulangan banjir dengan pendekatan kota berbasis air

porblems map
ISSUES AND VARIABEL

PERFORMANCE
FLOOD AREA

ISU NON ARSITEKTURAL


LAND SUBSIDENCE

LAND CONTROL
MENGURANGI AREA GENANGAN
BANJIR DI KAWASAN

ABNORMAL RIVER

FLOOD
SLUMS
PERKARA
KAWASAN

PARAMETER

KUALITAS LINGKUNGAN
YANG NYAMAN UNTUK
PEMUKIMAN

VARIABEL

KAWASAN BANTARAN SUNGAI


YANG MAMPU MERESPON BANJIR

KUALITAS PEMUKIMAN & LINGKUNGAN


DAERAH BANTARAN SUNGAI YANG
SADAR LINGKUNGAN

PEMUKIMAN DAERAH
BANTARAN SUNGAI

KELAYAKAN PEMUKIMAN DI
DAERAH BANTARAN SUNGAI

PENGELOLAAN SAMPAH
KAWASAN SECARA TERPADU

PENGELOLAAN DAN PENGENDALIAN


SAMPAH
YANG TERPADU DAN TERINTEGRASI

PENGONTROLAN KETINGGIAN
MUKA TANAH
SECARA INDIVIDU (BANGUNAN)

OPEN SPACE
KONVERSI AIR TANAH KE
AIR SUNGAI

KETINGGIAN
MUKA TANAH

KUALITAS
PENGELOLAAN SAMPAH

TERKONTROLNYA KETINGGIAN
MUKA TANAH AREA BANTARAN
SUNGAI

PENGELOLAAN SAMPAH YANG


TEPAT DI AREA BANTARAN SUNGAI

TINGKAT PEMBUANGAN
DAN PENIMBUNAN
SAMPAH ILEGAL DITURUNKAN

KUALITAS KINERJA
SUNGAI

PENGOPTIMALAN KUALITAS
KINERJA SUNGAI

TINGKAT KESEJAHTERAAN
PENDUDUK AREA BANTARAN
SUNGAI MENINGKAT

PENURUNAN TINGGI
MUKA TANAH DAPAT
DITURUNKAN

JUMLAH PENDUDUK AREA


BANTARAN SUNGAI

DATA KETINGGIAN MUKA TANAH


AREA BANTARAN SUNGAI

DATA JUMLAH SAMPAH


AREA BANTARAN SUNGAI

DATA LEBAR JALUR


DISTRIBUSI AIR SUNGAI

JUMLAH PENDUDUK MISKIN


AREA BANTARAN SUNGAI

DATA KETINGGIAN MUKA


AIR SUNGAI

DATA AREA PEMBUANGAN


SAMPAH AKHIR

DATA KETINGGIAN AIR


SUNGAI

DATA MATA PENCAHARIAN


PENDUDUK AREA BANTARAN SUNGAI

JUMLAH KONSUMSI
AIR TANAH

DATA JENIS SAMPAH


AREA BANTARAN SUNGAI

DATA KEDALAMAN SUNGAI

DATA KESEHATAN PENDUDUK


AREA BANTARAN SUNGAI

JUMLAH KONSUMSI
AIR SUNGAI

KUALITAS KINERJA
SUNGAI MENINGKAT

JUMLAH DEBIT
AIR SUNGAI

AREA TERBUKA HIJAU


DAN BIRU
PENINGKATAN KINERJA
SUNGAI
EFISIENSI DAN EFEKTIFITAS
TRANSPORTASI AIR

DR IR SUGINI MT IAI

80%

PARAMETER

KONVERSI AIR TANAH KE


AIR HUJAN

PRESERVASI
& KONSERVASI

50%

M E N A M B A H A R E A
PEMELIHARAAN SUNGAI

GARBAGE

PENGELOLAAN SAMPAH
INDIVIDU SECARA TERPADU

SIRKULASI

MENGURANGI DEGRADASI
TANAH

90%

KUALITAS PEMUKIMAN
YANG SADAR LINGKUNGAN

TATA GUNA
LAHAN

PRESERVATION

PERFORMANCE
BASED
DESIGN

MENGURANGI AREA GENANGAN


BANJIR HINGGA
90%

FLOOD ARCHITECTURE

Performa kawasan utama yang ingin dicapai oleh


perencanaan kawasan ini adalah mengurangi area geanngan
banjir hingga 90% dari total keseluruhan wilayah perencanaan.
Untuk mencapai performa tersebut perlu dicapainya subperforma lain, yaitu mengurangi degradasi tanah sebesar 50%
dan menambah area pemerliharan sungai hingga 80%.
Sasaran performa ini didapatkan dengan dari beberapa
variabel permasalahan yang ada di kawasan antara lain,
kualitas pemukiman bantaran sungai, ketinggian muka tanah,
kualitas peneglolaan sampah, dan kualitas kinerja sungai.
Setiap variabel desain akan dihubungkan dengan
perkara-perkara kawasan yang penting untuk diselesaikan
berkaitan dengan problem utama yaitu banjir. Perkara kawasan
tersebut antara lain, tata guna lahan yang menyangkut
penataan kawasan pemukiman, area terbuka, dan infiltrasi;
sirkulasi yang menyangkut penataan jalan inspeksi dan jalan
service kawasan; open space yang menyangkut area terbuka
hijau dan biru; serta preservasi dan konservasi yang berkaitan
dengan keberlanjutan air.

STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 7


ABID SUHENDRA 12512139

ANALYSIS SITE . SYNTESIS CONCEPT

analysis & syntesis

ooding maps
Area Penahan, merupakan
area yang berkaitan
langsung dengan sungai
yang berfungsi sebagai
perlindungan pertama
dalam penanggulangan
banjir. Beberapa cara yang
digunakan di area ini antara
lain: pembuatan tanggul,
konstruksi di daerah
cekungan, pembuatan
saluran di dinding sungai
sebagai penyalur air banjir,
serta tempat mesin penyedot
air.

CILIWUNG RIVER

Area Pemeliharaan,
merupakan area yang
membatasi antara area
sungai dan area pemukiman.
Menjadi area yang berfungsi
sebagai pemelihara kondisi
lingkungan sekitar bantaran
sungai sepert pembuatan
area hijau, area pengawasan
sungai, konservasi alam, dan
pembuatan trotoar penyerap
air.

PRONE AREA

RETENTION

2007

responses

DETENTION

Average

Area banjir di lokasi


perencanaan
kawasan mencakup
90% luas seluruhnya.
Banjir di kawasan ini
terjadi setiap
tahunnya dengan
intensitas yang
berbeda. Bencana
banjir terbesar
menurut data Badan
Penanggulangan
Bencana Daerah
(BPBD) DKI Jakarta
yaitu hampir 45%
daerah Jakarta
tergenang air.
Kedaaan ini dapat
dibandingkan
dengan luas area
banjir tahunan yang
berkisar hanya 5%
luas daerah Jakarta.
A
r
e
a
genangan banjir di
kawasan Kampung
Melayu, Jakarta
Timur ini didominasi
pada area bantaran
sungai Ciliwung.
Kondisi ini terlihat dari
p e m e t a a n
genangan banjir
antara keadaan
biasa dan keadaan
ekstrem di tahun
2007.

Area Rendah, merupakan


area yang menjadi kawasan
rawan banjir dalam kondisi
site merupakan lahan
pemukiman warga. Dalam
perencanaan kawasan, area
ini didesain dengan
beberapa metode antara
lain pembuatan fasilitas
drainase terpadu,
pembuatan konstruksi
oodproof, dan pembuatan
area-area intrasi air hujan di
sekitar bangunan.

Konsep Pembagian Area

Annual

rainfall

responses
Jakarta termasuk
dalam golongan curah
hujan menengah di
Indonesia. Sekitar 100-300
mm tingakt intensitas curah
huajn di Jakarta tiap
tahunnya. Kondisi ini
menjadikan Jakarta daerah
rawan digenangi air banjir
tiap tahunnya.
Di lokasi perencanaan
kawasan, Kampung
Melayu, Jakarta Timur,
curah hujan tahunan
berkisar pada angka 100120 mm. Angka ini termasuk
golongan menengah yang
artinya curah hujan pada
musim penghujan memiliki
intensitas yang cukup tinggi.
K o n d i s i i n i y a n g
menyebabkan debit sungai
Ciliwung meningkat di saat
musim penghujan dan
kering di musin kemarau.
Perbedaan debit yang
b e g i t u b e s a r i n i
dimanfaatkan sebagai
salah satu solusi desain yang
akan diterapkan pada
perancangan kawasan
bantaran sungai Ciliwung
ini.

open space

Area terbuka
hijau eksisting
bantaran sungai
Ciliwung

Peta rencana
k a w a s a n
l i n d u n g
bantaran sungai
Ciliwung

DR IR SUGINI MT IAI

housing area

Area terbuka hijau di lokasi


perencanaan Kampung
Melayu, Jakarta Timur,
bantaran sungai Ciliwung
yang ada saat ini hanya
sekitar 10%. Area terbuka
hijau tersebut hanya
didominasi oleh fungsi
pemerintahan dan fasilitas
publik. Sementara untuk
a rea p em uk i m a n, a rea
terbuka hijau hampir tidak
ada.
Kondisi ini yang membuat
pemerintah kota Jakarta
berencan membuat
kawasan lindung di
sepanjang bantaran sungai
Ciliwung. Ini disebabkan
banyaknya intervensi lahan
sungai sebagai pemukiman
ilegal dan kumuh. Dampak
yang terjadi adalah sungai
menjadi kotor dan
tersumbat akibat sampah
pemukiman yang tertimbun
di sungai.
Selain itu area hijau juga
berfungsi sebagai areea
penyerap air hujan dan
penyaring air sungai
s e h i n g g a d a p a t
meningkatkan kualitas air
sungai Ciliwung.

Persebaran
pemukiman
k u m u h
bantaran sungai
Ciliwung

Perumahan
biasa bantaran
sungai Ciliwung

Konsep pemanfaatan air hujan

Konsep dalam menganalisis curah hujan di Jakarta


adalah dengan menggunakan metode rain harvesting. Ide
awalnya ialah dengan membuat kolam-kolam penampungan
di bawah tanah sebagai area resapan sekaligus sebagai
penampung air hujan untuk persediaan di saat kemarau.
Diharapkan nantinya air hujan yang jatuh ke lokasi
perencanaan dapat diserap ke tanah sebanyak kurang lebih
40% dan sisan 60% dialirkan menuju sungai.
Konsep ini nantinya akan berlaku sebagai sebuah lahan
inltrasi yang mampu menyerap air hujan dan dimanfaatkan
baik secara langsung maupun tidak langsung oleh masyarakat.
Secara langsung dapat berupa kegiatan mencuci, menyiram,
dan sebagainya, sedangkan secara tidak langsung dapat
berupa penyerapan tanah, peningkatan kapasitas air muka
tanah, dan penyedia zat hara.

responses

Konsep ruang terbuka hijau

Konsep area terbuka


pada kawasan ini
dikonsentrasikan pada
peningkatan persentase
area resapan air yang
menjadi fokus dalam
penanggulangan banjir.
Selain itu area terbuka
dimanfaatkan sebagai
penangkal polusi dan suhu
tinggi di kawasan bantaran
sungai serta dapat
dimanfaatkan sebagai area
rekreasi dan sarana publik
bagi masyarakat.
Area-area yang
difungsikan sebagai area
terbuka hijau adalah areaarea sepanjang tepi aliran
sungai yang berperan
sebagai area pemeliharaan
kondisi tanah dan konservasi
air yang rawan akan
kerusakan. Selain itu
beberapa titik yang menjadi
fokus juga adalah areaarea yang rekreatif seperti
b a h u j a l a n y a n g
menghadap sungai yang
dapat berpotensi menjadi
area publik.

FLOOD ARCHITECTURE

Pemukiman
ilegal bantaran
sungai Ciliwung

Kondisi pemukiman di area


bantaran sungai Ciliwung,
Kampung Melayu Jakarta
Selatan, didominasi oleh
pemukiman kumuh.
Pemukiman kumuh tersebut
sebagian besar berada di
sepanjang bantaran sungai
dan di area timur sungai
Ciliwung.
Sementara di barat
sungai kondisi pemukiman
sudah tidak terlihat kumuh.
Beberapa fasilitas publik
juga berlokasi di area ini.
K o n d i s i i n i y a n g
membedakan antara
pemukiman di area barat
dan timur sungai Ciliwung.
Pemukiman ilegal juga
terdapat di area
perencanaan. Pemukiman
ilegal ini berada di
sepanjang bantaran sungai
Ciliwung terutama di area
yang termasuk sempadan
sungai. Area sempadan
sungai oleh pemerintah
kota Jakarta akan
dialihfungsikan menjadi
pelebaran sungai dan jalan
inspeksi.

10

50

100

STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 7


ABID SUHENDRA 12512139

ELABORATION . DESIGN . SCHEMATIC

design concept
LAND-USE

GARBAGE AREA

HOUSING AREA

ONE-WAY STREET

CONSERVATION

CIRCULATION

CONVERSION

GREEN SPACE

OPEN AREA

BLUE SPACE

OPEN SPACE

ECONOMY

FLOOD AREA

OPEN AREA

DISTRIBUTION

RECREATIONAL ROAD

FLOODING CONCEPT

LAND CONTROL

PRESERVATION

master plan
INFORMATION

Area pemukiman pada konsep perancangan ini akan diubah 100%.


Pemukiman awal yang hanya berupa pemukiman landed dan kumuh
akan diubah menjadi pemukiman vertikal atau rusun. Ini dimaksudkan
untuk memberikan tambahan area resapan bagi kondisi tanah yang
mengkhawatirkan. Area pemukiman yang awalnya mencakup 95%
wilayah, akan direduksi menjadi sekitar 50% dari jumlah awal.
Kawasan Pemukiman akan dikonsentrasikan di area yang dekat
dengan akses utama dan berada pada ketinggian yang lebih tinggi
dari sekitarnya. Kondisi ini akan terlihat seperti terasering yang
berfungsi untuk menyalurkan air ke sungai agar tidak terjadi
genangan di pemukiman.

APARTMENT
RETAIL & SHOPS
MICRO-FACTORY
MAIN ROAD
WET LAND
LIVING DIKES
DOCKING
RIVER

Kawasan akan dibagi menjadi


beberapa tipologi antara lain
Kawasan Housing, Retail & Shop,
Industrial (micro-factory),
Infiltration Area, Urban Farming
Area, Creek, dan Wet Land.
Pembagian ini didasarkan pada
penggunaan fungsi lahan yang
disesuaikan dengan kondisi dan
karakteristik kawasan.

INFILTRATION AREA
COMMERCIAL AREA
HOUSING AREA
FACTORY AREA
Area Retail & Shops akan berfungsi sebagai
penunjang ekonomi warga. Sebagian besar mata
pencaharian warga Kampung Melayu yang bekerja
di bidang peredagangan dan industri rumahan akan
terbantu dengan adanya area-area komersial dan
industrial di kawasan perencanaan

HOUSING AREA

URBAN AGRICULTURE
CREEK

WET LAND

BALI MESTER

RETAIL & SHOPS

Area infiltrasi akan menjadi fokus utama kawasan ini.


Area ini akan berperan dalam peresapan air hujan
yang jatuh ke tanah untuk dapat dimanfaatkan oleh
warga. Beberapa titik area infiltrasi akan berada di area
muka pemukiman, area urban farming, area wet land,
serta beberapa titik di sekitar jalan inspeksi. Area infiltrasi
ini tidak hanya berupa plotiingan kawasan saja,
melainkan juga ditunjang dengan sistem terasering dan
kanal mini untuk dapat menahan air agar tidak
langsung masuk ke sungai.

URBAN FARMING

INFILTRATION

BUKIT DURI

JATINEGARA

SECTION
Sungai

Jalan Inspeksi

Kawasan
Inltrasi

Pemukiman

Urban Agriculture

Area Terbuka

Sungai

Sumber: Dokumentasi pribadi

circulation

guidelines design

land-uses
Area Terbangun maksimal kawasan 50% dari keseluruhan kawasan
Area bantaran sungai yang menjadi sempadan sungai
yaitu 30 m dari palung sungai tidak diperbolehkan untuk dibangun
Pembangunan bangunan hanya diperbolehkan di area pemukiman,
area industri, dan area komersial dengan ketentuan tertentu
Area terbuka hijau kawasan minimal 40% dari keseluruhan kawasan
Area terbuka hijau tidak diperbolehkan
untuk dialihfungsikan menjadi fungsi lain

DR IR SUGINI MT IAI

Tipe jalan kawasan antara lain, Jalan Inspeksi, Jalan Utama,


Jalan Penghubung, dan Jalan Service
Pada jalan inspeksi diberlakukan sistem one-way

preservation &
conservation
Setiap unit rumah harus mengkonversi
minimal 15% penggunaan air tanah ke air hujan ataupun air sungai
Setiap unit rumah harus menerapkan metode rain hervesting
Dilarang melakukan penambahan jumlah
sumur bor dengan kedalaman di atas 10 m
Dilarang menambah perkerasan yang dapat menuutup area resapan hujan

Lebar jalan inspeksi tidak kurang dan tidak lebih dari 10 m

open spaces

Lebar jalan penghubung tidak kurang dan tidak lebih dari 5 m


Lebar jalan service tidak kurang dan tidak lebih dari 7 m

Area open space tidak diperbolehkan untuk dibangun

Setiap jalan inspeksi di beri pedestrian di kedua atau salah satu sisinya

Area open space berupa area terbuka hijau dan area terbuka biru

Lebar pedestrian tidak lebih dan tidak kurang dari 3 m

Area terbuka hijau kawasan berupa area inltrasi,


pedestrian, wet land, dan plaza

Pedestrian harus menggunakan permeable pavement atau


sejenisnya yang dapat menyerap air

Area terbuka biru berupa sungai, cekungan, wet land, dan area tanggul

Setiap pedestrian harus ditambah dengan komponen hijau berupa


pohon atau tanaman peneduh

Setiap area open space harus menggunakan


50% tanaman penyerap dan penyaring air

FLOOD ARCHITECTURE

STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 7


ABID SUHENDRA 12512139