Anda di halaman 1dari 1

Sindrom metabolik menandakan seseorang lebih berisiko mengidap penyakit Diabetes

Mellitus (DM) dan penyakit cardiovaskular. Sindroma metabolik banyak disebabkan oleh
berbagai faktor seperti genetik, pola hidup, serta asupan nutrisi yang kurang baik. Prevalensi
sindrom metabolik di Indonesia jumlahnya terus meningkat seiring dengan meningkatnya
prevalensi obesitas, diabetes, maupunmcardiovaskular. sindrom metabolik akan muncul
apabila tidak diimbangi dengan aktivitas fisik atau olahraga.
Pola konsumsi makanan tinggi karbohidrat, produk tinggi lemak, dan rendah sayuran
berkaitan dengan bertambahnya risiko sindrom metabolik. Aktivitas fisik yang kurang dan
kombinasi asupan makanan tinggi kalori akan menurunkan tingkat asam lemak jenuh bebas
dan oksidasi glukosa pada jaringan otot skeletal dan otot jantung, yang berpotensi
meningkatkan penumpukan lemak tubuh dan meningkatkan resistensi insulin karena banyak
sitokin pro inflamasi yang dihasilkan seperti IL-6 dan tumor nekrosis faktor. TNF alfa akan
meningkatkan asam lemak, dan sintesis kolesterol, meningkatkan VLDL, dan lipolisis
adiposa.
Kurangnya aktivitas fisik berpengaruh besar terjadinya obesitas. Penimbunan lemak
berlebih sejak dini berpontensi menimbulkan penyakit seperti DM, hipertensi, dan
kardiovaskular. Penumpukan lema di daerah viseral yang berlebih akan bisa memicu adanya
hiperglikemi. Pada awalnya, akan dijumpai adanya intoleransi glukosa akibat tingginya kadar
asam lemak bebas dan peningkatan oksidasi lipid yang menghambat kerja insulin.