Anda di halaman 1dari 64

Elemen Mesin

Kuliah 7:
Roda Gigi
( G E AR S )

Ir. Jamal M. Afiff, M.Eng.


1

Kepustakaan Roda Gigi


1. Deutsh Man, A. D. & Michels,Wilson, MC. (1980), Machine
Design, Milan Co. Inc., New York.
2. Niemann, G. (1980). Machine Elements
Calculation. (Vol II), Springer Verlag Berlin.

Design

and

3. Spott, M. F. (1983). Design of Machine Elements. Prentice


Hall, New York.
4. Suga, K. & Sularso. (1990). Dasar Perencanaan dan Pemilihan
Elemen Mesin. Pradnya Paramita, Jakarta.
5. Kepustakaan lainnya.
2

Elemen Mesin, Roda Gigi


Roda gigi adalah komponen mesin yang berfungsi sebagai
penerus daya dan/atau putaran dari suatu poros ke poros
lainnya. Tidak terdapat slip pada roda gigi yang berpasangan,
sehingga besarnya perbandingan putaran dapat dipertahankan
konstan (tetap).
Pinon merupakan sebutan untuk roda gigi yang ukurannya
lebih kecil pada dua buah roda gigi yang berpasangan.

Elemen Mesin, Klasifikasi Roda Gigi


Roda gigi dapat diklasifikasikan menurut posisi relatif dari sumbu
poros putarnya :
Sejajar / Paralel
Bersilangan / Interseksi
Tidak sejajar atau bersilangan

Elemen Mesin, Macam-macam Roda Gigi


Roda gigi dapat dibedakan menurut bentuk giginya atau bentuk
badannya yang dikenal sebagai macam-macam roda gigi berikut :
Roda gigi lurus (luar, dalam dan Rack & Pinion)
Roda gigi miring (biasa, silang atau ganda)
Roda gigi cacing (silindris atau globoid)
Roda gigi kerucut (lurus atau spiral)
Roda gigi hipoid

Elemen Mesin, Macam-macam Roda Gigi

Roda Gigi Lurus (RG. Luar)

Roda Gigi Lurus (RG. Dalam)


6

Elemen Mesin, Macam-macam Roda Gigi

Roda Gigi Lurus (Rack & Pinion)


7

Elemen Mesin, Macam-macam Roda Gigi

Miring Biasa

Roda Gigi
Miring Silang

Miring Ganda
8

Elemen Mesin, Macam-macam Roda Gigi

Roda Gigi Cacing Silindris

Roda Gigi Cacing Globoid


9

Elemen Mesin, Macam-macam Roda Gigi

Roda Gigi Kerucut Lurus

Roda Gigi Kerucut Spiral


10

Elemen Mesin, Macam-macam Roda Gigi

Roda Gigi Hipoid


11

Elemen Mesin, Tata Nama Roda Gigi

12

Elemen Mesin, Tata Nama Roda Gigi


1. Pitch circle adalah lingkaran imajiner dimana terjadinya
gerak roling murni, yang akan memberikan gerakan yang
sama seperti roda gigi yang sebernarnya.
2. Pitch circle diameter adalah diameter lingkaran pitch.
Disebut juga sebagai diameter pitch. Ukuran roda gigi
biasanya dispesifikasikan dengan diameter pitch-nya.
3. Pitch point adalah titik kontak antara dua lingkaran pitch.
4. Pitch surface adalah permukaan roling tempat terjadinya
kontak gigi-gigi roda gigi yang berpasangan.
13

Elemen Mesin, Tata Nama Roda Gigi

5. Pressure angle adalah sudut tekan () yang dibentuk oleh dua


buah gigi roda gigi pada pitch point, besarnya 14,5 o, 20 atau
25.
6. Addendum adalah jarak radial gigi dari pitch point ke
bagian atas gigi.
7. Dedendum adalah jarak radial gigi dari pitch point ke
bagian bawah gigi.
8. Addendum / dedendum circle adalah lingkaran yang
digambar melalui bagian atas / bawah gigi, konsentrik
terhadap pitch circle.
14

Elemen Mesin, Tata Nama Roda Gigi

9. Circular pitch adalah jarak bagi lingkaran pitch (), yaitu


jarak yang diukur dari titik suatu gigi pada lingkaran pitch ke
gigi berikutnya. Bila D = diameter pitch circle dan Z = Jumlah
gigi pada roda gigi, maka:
Perlu diperhatikan bahwa dua buah roda gigi akan
berpasangan dengan benar, jika kedua roda gigi tersebut
mempunyai jarak bagi lingkaran pitch yang sama, atau , maka:
atau
15

Elemen Mesin, Tata Nama Roda Gigi

10.Diametral pitch adalah rasio jumlah gigi terhadap diameter


pitch (dalam millimeter). Disimbolkan dengan . Secara
matematika:
atau
11.Modul adalah ratio diameter pitch (dalam millimeter) ke
jumlah gigi. Disimbolkan dengan m. Secara matematika:

16

Elemen Mesin, Tata Nama Roda Gigi


Modul yang direkomendasikan menurut standar India
(mm)
Pilihan pertama:
1; 1,25; 1,5; 2; 2.5; 3; 4; 5; 6; 8; 10; 12; 16; 20; 25; 32; 40 and 50.
Pilihan kedua:
1,125; 1,375; 1,75; 2,25; 2,75; 3,5; 4,5; 5,5; 7; 9; 11; 14; 18; 22;
28; 36 and 45.

Catatan: Modul diperioritaskan pada pilihan pertama terlebih dulu.

17

Elemen Mesin, Tata Nama Roda Gigi


Modul menurut standar Jepang JIS B 1701-1973 (mm)
Serie I:
0,1; 0,2; 0,3; 0,4; 0,5; 0,6; 0,8; 1; 1,25; 1,5; 2; 2,5; 3; 4; 5; 6; 8; 10; 12; 16;
20; 25; 32; 40; 50.

Serie II:
0,15; 0,25; 0,35; 0,45; 0,55; 0,7; 0,75; 0,9; 1,75; 2,25; 2,75; 3,5; 4,5; 5,5;
7; 9; 11; 14; 18; 22; 28; 36; 45.

Serie III:
0,65; 3,25; 3,75; 6,5.

Catatan: Pemilihan modul diperioritaskan pada serie I terlebih dulu.


18

Elemen Mesin, Tata Nama Roda Gigi


12.Clearance adalah jarak radial dari bagian atas gigi ke bagian
bawah gigi dari sebuah roda gigi pasangannya. Sebuah
lingkaran yang melalui bagian atas dari roda gigi pasangannya
dikenal sebagai lingkaran clearance.
13.Total depth adalah jarak radial antara lingkaran adendum
dan lingkaran dedendum dari roda gigi. Besarnya akan sama
dengan penjumlahan addendum dan dedendum.
14.Working depth adalah jarak radial dari lingkaran adendum
ke lingkaran clearance. Besarnya sama dengan penjumlahan
adendum dari dua roda gigi yang berpasangan.
19

Elemen Mesin, Tata Nama Roda Gigi


15.Tooth thickness adalah lebar gigi yang diukur sepanjang
lingkaran pitch.
16.Tooth space adalah lebar ruang antara dua buah gigi yang
bersebelahan yang diukur sepanjang lingkaran pitch.
17.Backlash adalah perbedaan antara ruang gigi dan tebal gigi,
yang diukur pada lingkaran pitch.
18.Face of the tooth adalah permukaan gigi di atas permukaan
pitch.
19.Top land adalah permukaan bagian atas dari gigi.
20

Elemen Mesin, Tata Nama Roda Gigi


20.Flank of the tooth adalah permukaan gigi di bawah
permukaan pitch.
21.Face width adalah lebar gigi roda gigi yang diukur sejajar
sumbunya.
22.Profile adalah kurva yang dibentuk oleh permukaan dan sisi
gigi.
23.Fillet radius adalah radius yang menghubungkan lingkaran
akar (kaki) ke profil roda gigi.
21

Elemen Mesin, Kondisi Kecepatan Konstan pada Roda Gigi


Gambar berikut menunjukan bagian dari roda gigi 1 dan roda gigi
2 yang mempunyai titik kontak di Q.
Garis TT adalah garis tangen dan
garis MN adalah garis normal yang
melalui titik kontak Q.
Titik Q pada roda gigi 1 bergerak dalam
arah QC dengan kecepatan v1 dan titik Q
pada roda gigi 2 bergerak dalam arah QD
dengan kecepatan v2. Jika kedua gigi tetap
dalam keadaan kontak, maka komponen
kecepatan dalam arah MN harus sama besar,
22

Elemen Mesin, Kondisi Kecepatan Konstan pada Roda Gigi

Dari segi tiga dan


Kombinasi persamaan (i) dan (ii) memberikan

23

Elemen Mesin, Bentuk Gigi Roda Gigi


Bentuk atau profil roda gigi dikenal ada dua macam, yaitu :
1. Cycloidal gear (roda gigi sikloidal)
2. Involute gear (roda gigi involute)

24

Elemen Mesin, Sistem Gigi Roda Gigi


Berikut adalah sistem gigi roda gigi yang umum digunakan dalam
pemakaian praktis.
1.
2.
3.
4.

14o sistem komposit (composite system),


14o sistem involut kedalaman penuh (full depth involute system),
20o sistem komposit kedalaman penuh (full depth composite system),
20o sistem involut stub (stub involute system).

14o sistem komposit digunakan untuk roda gigi serba guna. Roda gigi ini
lebih kuat tetapi tidak dapat dipertukarkan. Profil gigi dari sistem ini
mempunyai kurva sikloidal pada bagian atas dan bawah dan kurva involut
pada bagian tengah. Profil 14o sistem involut kedalaman penuh
dikembangkan untuk digunakan dengan roda gigi hob untuk roda gigi lurus
dan roda gigi miring.
25

Elemen Mesin, Perbandingan Standar Sistem Roda Gigi


Berikut adalah tabel yang menunjukan perbandingan standar
dalam modul (m) untuk keempat sistem roda gigi.

26

Elemen Mesin, Jumlah Gigi Minimum pada Pinion

Jumlah gigi minimum pada pinion untuk menghindari terjadinya


interferensi diberikan pada tabel berikut :

27

Elemen Mesin, Jumlah Gigi Minimum pada Pinion

Jumlah gigi minimum pada pinion untuk menghindari terjadinya


interferensi dapat juga dihitung dengan persamaan :

Dimana:
= Fraksi standar adendum untuk roda
= Perbandingan transmisi
(RG=Roda gigi, P=Pinion)
= Sudut tekan.
28

Elemen Mesin, Material Roda Gigi


Material yang digunakan untuk roda gigi tergantung pada
kekuatan dan kondisi pemakaian seperti keausan, kebisingan dll.
Roda gigi dapat dibuat dari material logam atau non logam.
Roda gigi logam berasal dari besi cor, baja dan perunggu.
Roda gigi non logam dibuat dari kayu, kulit, kertas yang di-press
dan resin sintetis.
Besi cor banyak digunakan untuk membuat roda gigi karena sifat
tahan aus yang baik, mampu dimesin dan mudah dibentuk dengan
metode pengecoran.
29

Elemen Mesin, Material Roda Gigi


Baja digunakan untuk roda gigi kekuatan tinggi dan baja dapat
dibuat dari baja karbon atau baja paduan.
Roda gigi baja biasanya diperlakukan panas agar menghasilkan
kombinasi sifat ketangguhan dan kekerasan gigi.
Perunggu digunakan secara luas untuk roda gigi cacing (worm
gears) untuk menurunkan keausan.
Tabel pada halaman berikut ini menunjukkan sifat material yang
biasa digunakan pada roda gigi.
30

Elemen Mesin, Material Roda Gigi

31

Elemen Mesin, Material Roda Gigi

32

Elemen Mesin, Material Roda Gigi

33

Elemen Mesin, Material Roda Gigi

34

Elemen Mesin, Material Roda Gigi

35

Elemen Mesin, Perancangan Roda Gigi


Dalam perancangan roda gigi, data berikut ini biasanya menjadi
bahan pertimbangan:
1. Daya yang ditransmisikan,
2. Kecepatan roda gigi penggerak,
3. Kecepatan roda gigi yang digerakkan atau rasio putaran, dan
4. Jarak pusat poros.

36

Elemen Mesin, Perancangan Roda Gigi


Syarat berikut harus dijumpai dalam perancangan sebuah
penggerak roda gigi:
1. Gigi roda gigi harus mempunyai kekuatan yang cukup
sehingga tidak akan gagal di bawah beban statis atau beban
dinamis selama operasi berjalan normal,
2. Gigi roda gigi harus mempunyai cirri-ciri tahan aus sehingga
umurnya aman,
3. Pemakaian material harus ekonomis,
4. Penjajaran roda gigi dan defleksi poros harus dipertimbangkan
karena mempengaruhi unjuk kerja roda gigi,
5. Pelumasan roda gigi harus memenuhi syarat.
37

Elemen Mesin, Kekuatan Batang Roda Gigi


Kekuatan batang gigi roda gigi ditentukan dari persamaan Lewis
dan kemampuan gigi roda gigi memikul beban ditentukan oleh
persamaan ini yang dapat memberikan hasil yang memuaskan.
Dalam penyelidikan, Lewis mengasumsikan bahwa beban
ditransmisikan dari satu gigi ke gigi yang lain, seluruhnya
diberikan dan diambil oleh satu gigi, karena itu tidak selalu aman
untuk menahan bahwa beban didistribusikan diantara beberapa
gigi.
Ketika gigi mulai kontak, beban diasumsikan berada pada ujung
dari gigi penggerak dan ujung gigi yang digerakkan.
38

Elemen Mesin, Kekuatan Batang Roda Gigi


Perhatikan setiap gigi seperti
sebuah batang kantilever yang
dibebani oleh beban normal
(FN) seperti ditunjukkan
pada gambar di samping.
Beban normal diuraikan ke dalam
dua komponen yaitu komponen
tangensial (FT) dan komponen radial (FR) yang tegak lurus dan
sejajar terhadap garis pusat gigi.
Komponen tangensial (FT) menimbulkan tegangan bending
(lentur) yang cenderung mematahkan gigi.
39

Elemen Mesin, Kekuatan Batang Roda Gigi

Komponen radial (FR) menimbulkan tegangan tekan, besarnya


relatif kecil, sehingga pengaruhnya pada gigi dapat diabaikan.
Disini tegangan lentur digunakan sebagai dasar untuk
perhitungan rancangan. Bagian kritis dari tegangan bending
maksimum dapat diperoleh dengan menggambar sebuah parabola
melalui A dan tangensial terhadap kurva gigi pada B dan C.
Bentuk parabola dapat dilihat pada gambar tersebut.
Nilai maksimum dari tegangan lentur atau tegangan kerja yang
diizinkan, pada bagian BC diberikan oleh:
...(i)
40

Elemen Mesin, Kekuatan Batang Roda Gigi

Dimana :
M = Momen lentur maksimum pada bagian kritis BC = FT.h,
FT = Beban tangensial pada gigi,
h
y
I
b

= Panjang gigi,
= Setengah tebal gigi (t) pada bagian kritis BC = t/2
= Momen inersia terhadap garis pusat gigi = b.t3/12,
= Lebar permukaan gigi.

Dengan mensubtitusikan M, y dan I kedalam persamaan (i) diperoleh:


Atau
41

Elemen Mesin, Tegangan Kerja Izin untuk Gigi Roda Gigi

Tegangan kerja yang diizinkan (w) dalam persamaan Lewis tergantung


pada material yang mana tegangan statis yang diizinkan (o) dapat
ditentukan. Tegangan statis yang diizinkan (o) adalah tegangan pada batas
elastis material yang dinamakan tegangan dasar (basic stress). Menurut
rumus Barth, tegangan kerja yang diizinkan adalah:
Dimana:
Tegangan statis yang diizinkan, dan
Faktor kecepatan
Besar faktor kecepatan () diberikan sebagai berikut:
42

Elemen Mesin, Tegangan Kerja Izin untuk Gigi Roda Gigi

: Untuk RG yang dipotong secara biasa dengan kecepatan


operasi s/d 12,5 m/s.
: Untuk RG yang dipotong secara halus dengan kecepatan
operasi s/d 12,5 m/s.
: Untuk RG yang dipotong secara presisi dan ground
metallic dengan kecepatan operasi s/d 20 m/s.
:
5

Untuk RG yang dipotong dengan kepresisian yang tinggi


dan dengan kecepatan operasi s/d 20 m/s.
:

Untuk RG non-metallic.

43

Elemen Mesin, Tegangan Kerja Izin untuk Gigi Roda Gigi

44

Elemen Mesin, Beban Dinamik Gigi

Beban dinamik gigi terjadi karena beberapa sebab:


Ketidak-akuratan jarak gigi,
Ketidak-teraturan profil gigi, dan
Defleksi gigi karena dibawah pengaruh beban.
Besarnya beban dinamik adalah:
Dimana:
Beban stedi disebabkan ditransmisikan torsi,
Beban inkemen (kenaikan beban) karena aksi dinamik.
Untuk kondisi rata-rata, beban dinamik ditentukan dengan menggunakan
persamaan Buckingham:
45

Elemen Mesin, Beban Dinamik Gigi

(ii)

Dimana:
Total beban dinamik (dalam Newton),
beban stedi yang ditransmisikan (dalam Newton),
Kecepatan garis pitch (dalam m/s),
Lebar permukaan gigi (dalam millimeter), dan
Suatu deformasi atau faktor dinamik (dalam N/mm).
Suatu faktor deformasi (C) tergantung pada aksi kesalahan diantara gigi
roda gigi, kondisi pemotongan roda gigi, bentuk gigi dan material roda
gigi. Tabel berikut menunjukan besar faktor (C) untuk mengecek beban
dinamik roda gigi.
46

Elemen Mesin, Beban Dinamik Gigi

47

Elemen Mesin, Beban Dinamik Gigi

Harga C dalam N/mm dapat ditentukan dengan hubungan sebagai berikut:


(iii)
Dimana:
= Suatu faktor yang besarnya tergantung dari bentuk gigi,
= 0,107 untuk sistem full depth involute 14 o,
= 0,111 untuk sistem full depth involute 20o,
= 0,115 untuk sistem stub 20o,
= Modulus Young untuk material pinion dalam N/mm2,
= Modulus Young untuk material roda gigi dalam N/mm2, dan
= Aksi kesalahan gigi (tooth error action) dalam mm.
48

Elemen Mesin, Beban Dinamik Gigi

49

Elemen Mesin, Beban Dinamik Gigi

50

Elemen Mesin, Beban Statik Gigi

Beban statik gigi (static tooth load) dinamakan juga kekuatan batang atau
kekuatan ketahanan (endurance strength) diperoleh melalui rumus Lewis
dengan cara mensubstitusikan batas ketahanan bending (flexural endurance
limit) atau tegangan batas elastis (e elastic limit stress) dari tegangan
kerja yang diizinkan (w). Beban statik dari gigi adalah:
Catatan: Batas ketahan bending baja (e) dapat diperoleh dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut:
(dalam MPa)
Tabel berikut menunjukkan nilai batas ketahanan bending (e) untuk
material yang berbeda.
51

Elemen Mesin, Beban Statik Gigi

Untuk alasan keamanan terhadap kerusakan gigi, beban statik gigi (Fs)
harus lebih besar dari beban dinamik (FD). Buckingham meyarankan
hubungan antara Fs dan FD sebagai berikut:
52

Elemen Mesin, Beban Statik Gigi

Untuk beban stedi (steady load)

Untuk beban berubah-ubah (pulsating load)

Untuk beban kejut (shock load)

53

Elemen Mesin, Beban Keausan Gigi

Beban maksimum yang dapat ditanggung oleh gigi tanpa terjadi keausan
prematur, tergantung dari jari-jari kelengkungan dari profil gigi, pada
elastisitas dan batas kelelahan material. Beban maksimum atau batasan
beban untuk memenuhi kriteria keausan gigi, diperoleh dengan persamaan
Buckingham sebagai berikut:
Dimana:
= Beban maksimum atau batasan beban (dalam Newton),
= Diameter lingkaran pitch pinion (dalam mm),
= Lebar permukaan pinion (dalam mm),
= Faktor rasio, = (untuk RG luar), = (untuk RG dalam),
= Faktor tegangan beban (dalam N/mm2).
54

Elemen Mesin, Beban Keausan Gigi

Menurut Buckingham, faktor tegangan beban (K) adalah sebagai berikut:


Dimana:
= Limit ketahanan permukaan (dalam N/mm2),
= Sudut tekan roda gigi,
= Modulus Young untuk material pinion dalam N/mm2, dan
= Modulus Young untuk material roda gigi dalam N/mm2.
Catatan: 1. Limit ketahanan permukaan untuk baja dapat diperoleh dari pers. berikut:
N/mm2.
2. Limit beban keausan maksimum (FW) harus lebih besar daripada beban
dinamik (FD).
55

Elemen Mesin, Beban Keausan Gigi

Faktor ketahanan permukaan ) dalam tabel berikut:

56

Elemen Mesin, Penyebab Kegagalan Roda Gigi


Diantara penyebab kegagalan gigi roda gigi adalah sebagai berikut:
1. Kegagalan bending. Setiap gigi roda gigi berperan seperti sebuah
kantilever. Jika beban dinamik total terjadi pada gigi roda gigi lebih
besar dari pada kekuatan batang gigi roda gigi, maka gigi roda gigi akan
gagal karena bending yaitu gigi roda gigi bisa patah.
2. Pitting (bintik-bintik/lubang kecil). Adalah kegagalan fatik
permukaan yang mana terjadi akibat beberapa tegangan kontak Hertz.
Kegagalan terjadi ketika tegangan kontak permukaan lebih besar dari
pada batas ketahanan material.
3. Scoring. Panas yang luar biasa besarnya dihasilkan ketika adanya
tekanan permukaan yang sangat besar, kecepatan yang tinggi atau
suplai pelumasan yang gagal.
57

Elemen Mesin, Penyebab Kegagalan Roda Gigi


4. Keausan abrasif. Partikel asing dalam pelumasan seperti kotoran,
debu, yang masuk antara gigi dan kerusakan susunan gigi. Jenis
kegagalan ini dapat dihindari dengan cara memberikan filter/saringan
untuk pelumasan oli atau dengan penggunaan pelumas viskositas tinggi.
5. Keausan korosif. Korosi pada permukaan gigi terutama diakibatkan
adanya elemen korosif. Untuk menghindari keausan jenis ini, perlu
ditambahkan bahan anti korosif.

58

Elemen Mesin, Prosedur perancangan Roda Gigi Lurus

Berikut ini prosedur desain/perancangan roda gigi lurus:


1. Beban tangensial gigi (FT), diperoleh dari daya yang ditransmisikan dan
kecepatan garis pitch dengan menggunakan hubungan berikut:
(i)
Dimana:
= Daya yang ditransmisikan (dalam Watt),
= Kecepatan garis pitch (dalam m/s) ,
= Diameter pitch (dalam mm),
= Kecepatan putaran (dalam rpm).
= Service faktor.
59

Elemen Mesin, Prosedur perancangan Roda Gigi Lurus

Catatan:
Nilai service factor di atas untuk roda gigi yang dilumasi secara tertutup
rapat. Dalam kasus pelumasan secara terbuka dengan menggunakan
grease, nilai service factor di atas harus dibagi dengan 0,65.
60

Elemen Mesin, Prosedur perancangan Roda Gigi Lurus

2. Terapkan persamaan Lewis berikut:


Catatan:
. Persamaan Lewis diterapkan hanya pada roga gigi terlemah (pinion
atau roda gigi pasangannya).
. Bilamana keduanya pinion dan roda gigi terbuat dari material yang
sama, maka pinion adalah yang terlemah.
. Bilamana pinion dan roda gigi dibuat dari material yang berbeda,
maka perkalian (w y) atau (o y) merupakan faktor yang
menentukan. Persamaan Lewis digunakan pada roda yang
mempunyai (w y) atau (o y) terkecil.
61

Elemen Mesin, Prosedur perancangan Roda Gigi Lurus

3. Hitung beban dinamik (FD):


Catatan:
. Dalam perhitungan beban dinamik, besar beban tangensialnya
dihitung tanpa mengikut-sertakan service faktor (Cs).
4. Hitung beban statik (FS)
Untuk keamanan operasi (tak gagal), FS harus lebih besar dari FD.

62

Elemen Mesin, Prosedur perancangan Roda Gigi Lurus

5. Terakhir, hitung beban maksimum terhadap keausan (FW):


Beban keausan (FW) harus tidak lebih kecil dari beban dinamik (FD).

63

Akhir Kuliah #7

Batas Akhir Presentasi

64