Anda di halaman 1dari 18

Laporan Praktikum Sanitasi dan Hygiene

Hari/Tanggal: Selasa, 08 Desember 2015 PJ Dosen : Neny Mariyani, STP, MSi

Asisten

: Revita Permatahati, AMd : Dina Crownia, A.Md

UJI DISINFEKTAN DENGAN METODE GORES, CAKRAM KERTAS SARING, LANGSUNG DAN DIFUSI SUMUR

Kelompok 7/A. P1

Ghina Octovia T

J3E214103

Raihan Zharif S.

J3E214101

Soleha Safitri S.M.

J3E114045

Laporan Praktikum Sanitasi dan Hygiene Hari/Tanggal: Selasa, 08 Desember 2015 PJ Dosen : Neny Mariyani, STP,

SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN PROGRAM DIPLOMA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2015

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Antimikroba adalah berbagai zat yang digunakan untuk mengontrol pertumbuhan bakteri yang tidak diinginkan. Antimikroba dari bahan kimia dibagi

menjadi 3 sub divisi, yaitu: Desinfektan (yang digunakan pada benda mati, seperti meja untuk mengurangi tingkat kontaminan bakteri). yang kedua antiseptik (digunakan pada permukaan jaringan hidup) dan antibiotik (diserap kembali). dari ketiga antimikroba ini, tidak ada yang lebih baik, Agen antimikroba ini harus disesuaikan untuk oganisme dan kondisi lingkungan. Disinfektan adalah bahan atau zat yang digunakan untuk menghilangkan atau menghancurkan bakteri baik bakteri patogen ataupun non patogen, terutama bakteri yang membahayakan (patogen). Istilah ini pada umumnya digunakan dalam proses membebaskan benda-benda mati atau infeksi, dan aman dipakai dalam bidang industri atau pada rumah sakit-rumah sakit atau industri-industri makanan/minuman dan industri farmasi lainnya. Suatu desinfektan yang baik adalah yang mempunyai daya mematikan atau merusak mikroba. Untuk mengetahui daya mematikan tersebut biasanya distandarkan dengan fenol. Mekanisme kerja fenol sebagai desinfektan yaitu dalam kadar 0,01%-1% fenol bersifat bakteriostatik. Larutan 1,6% bersifat bakterisidal, yang dapat mengadakan koagulasi protein. Ikatan protein dengan fenol mudah lepas, sehingga fenol dapat menetrasi ke dalam kulit utuh. Larutan 1,3% bersifat fungisidal, berguna untuk sterilisasi dan alat kedokteran. Menurut Haris (2012), senyawa-senyawa antimikroba dapat bersifat sidal (mematikan) maupun statik (menghambat) dengan cara merusak sel, dan menganggu proses metabolisme seluler.

  • 1.2 Tujuan

Mahasiswa mampu mempelajari sifat dan efektivitas beberapa jenis disinfektan dan antiseptik serta mempelajari penerapan metode difusi sumur, cakram kertas saring, gores dan langsung untuk mengevaluasi aktivitas dan efektivitas beberapa jenis disinfektan dan antiseptik.

BAB II METODOLOGI

2.1 Alat dan Bahan :

2.1.1

Bahan

Disinfektan:

  • 7. Antiseptik : ANTIS

  • 1. So Klin 0.4 %

  • 8. Antiseptik : Indomaret

  • 2. SOS 0.4 %

  • 9. Media NA

  • 3. Softa-man

10. Larutan Fisiologi

  • 4. Dettol 2.7 %

11. Suspensi E. Coli dan S.

  • 5. Iodium 4 %

  • 6. Formaldehid 2 %

Aureus

2. 1.2 Alat

Peralatan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu: Cawan petri

steril, erlenmeyer, pipet steril 0.1 dan 0.5 ml, inkubator, tabung 9 ml, ose, cakram kertas saring, bunsen, rak tabung, tips, dan lubang sumur.

  • 2.1 Prosedur Kerja

1.

Metode Difusi Sumur Disinfektan/Antiseptik

0,1 ml

   
     

Suspensi

Cawan isi NA,

Mikroba

lalu dibiarkan

memadat

memadat

 
 

Dibuat Lubang Sumur menjadi lima, lalu dituang suspensi 20 mikroliter disinfektan masing – masing ke Lubang agar, untuk control cukup dimasukkan 20 mikroliter aquades steril di tengah lubang.

 
1. Metode Difusi Sumur Disinfektan/Antiseptik 0,1 ml Suspensi Cawan isi NA, Mikroba lalu dibiarkan memadat Dibuat
 

Diinkubasi pada suhu 37 o C selama 2 hari, lalu diamati zona hambatnya.

2.

Metode Langsung Disinfektan/Antiseptik

 

Dimasukkan 1 ml Disinfektan dan 0,1 ml suspensi mikroba ke cawan isi media NA

Dimasukkan 1 ml Disinfektan dan 0,1 ml suspensi mikroba ke cawan isi media NA Diinkubasi pada

Diinkubasi pada suhu 37 o C selama 2 hari, lalu diamati secara kualitatif.

Dimasukkan 1 ml Disinfektan dan 0,1 ml suspensi mikroba ke cawan isi media NA Diinkubasi pada
Dimasukkan 1 ml Disinfektan dan 0,1 ml suspensi mikroba ke cawan isi media NA Diinkubasi pada

Dihomogenkan dan dibiarkan padat

  • 3. Metode Cakram Kertas Saring Disinfektan/Antiseptik

Dimasukkan 1 ml Disinfektan dan 0,1 ml suspensi mikroba ke cawan isi media NA Diinkubasi pada
Dimasukkan 1 ml Disinfektan dan 0,1 ml suspensi mikroba ke cawan isi media NA Diinkubasi pada
Dimasukkan 1 ml Disinfektan dan 0,1 ml suspensi mikroba ke cawan isi media NA Diinkubasi pada

Cawan diisi 0,1 ml suspensi kultur

dan ditambah dengan media NA

Dituang 4 kertas saring kecil yang sudah dicampur

Disinfektan + 1 kertas saring kontrol

Dimasukkan 1 ml Disinfektan dan 0,1 ml suspensi mikroba ke cawan isi media NA Diinkubasi pada

Diinkubasi pada suhu 37 o C selama 2 hari, lalu diamati zona hambat pertumbuhan

  • 4. Metode Gores Kertas Saring Disinfektan/Antiseptik

Dimasukkan 1 ml Disinfektan dan 0,1 ml suspensi mikroba ke cawan isi media NA Diinkubasi pada
1 ml Disinfektan/Antiseptik dimasukkan ke cawan lalu diisi media NA dan biarkan memadat (duplo) Gores dengan
1 ml Disinfektan/Antiseptik dimasukkan ke cawan lalu diisi media NA dan biarkan memadat (duplo) Gores dengan

1 ml Disinfektan/Antiseptik dimasukkan ke cawan lalu diisi media NA dan biarkan memadat (duplo)

Gores dengan suspensi mikroba
Gores dengan
suspensi
mikroba

Diinkubasi pada suhu 37 o C selama 2 hari, lalu diamati secara kualitatif.

(Khusus Kontrol Metode Gores, hanya dimasukkan media NA ke cawan petri steril, lalu digoreskan dengan suspensi mikroba, kemudian Diinkubasi pada suhu

  • 37 o C selama 2 hari, lalu diamati secara kualitatif).

(Khusus Kontrol Metode Difusi Sumur, Cakram, dan Langsung, hanya dimasukkan media NA ke cawan petri steril bersamaan dengan suspensi mikroba, kemudian Diinkubasi pada suhu 37 o C selama 2 hari, lalu diamati secara kualitatif).

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

     

Rata-rata zona hambat

Metode

difusi sumur

cakram kertas

langsung

Kel

Disinfektan

Jenis bakteri

(mm)

saring (mm)

So Klin

+

  • 1 E.coli

0

0,335

 

SOS

0

0,210

++

So Klin

++

  • 2 S.aureus

0

0,145

 

SOS

0

0,120

++

Softaman

-

  • 3 E.coli

5,634

2,614

 

Dettol

3,321

2,867

-

Softaman

-

  • 4 S.aureus

4,713

2,538

 

Dettol

2,263

1,344

-

Iodin

-

  • 5 E.coli

1,695

1,583

 

Formaldehid

2,865

6,761

-

Iodin

+++

  • 6 S.aureus

7,000

4,760

 

Formaldehid

16,538

2,900

-

Antis

0

8,750

+

  • 7 antiseptik

E.coli

13,688

12,775

-

 

indomaret

Antis

0

2,313

-

  • 8 antiseptik

S.aureus

0,521

2,364

+

 

indomaret

Keterangan Kontrol:

Kontrol metode langsung E.coli: ( +++)

Kontrol metode langung S.aureus: (+++)

M

g

Catatan: (+)

: Sedikit

(+++)

: Banya

(++)

: Agak Banyak

2.2 Pembahasan

Produk pangan harus tetap dijaga kualitasnya selama penyimpanan dan distribusi, karena pada tahap ini produk pangan sangat rentan terhadap terjadinya rekontaminasi, terutama dari mikroba patogen yang berbahaya bagi tubuh dan mikroba perusak yang dapat menyebabkan kerusakan pada bahan pangan. Pertumbuhan mikroorganisme dapat dikendalikan dengan menggunakan bahan-bahan antimikroba.

Anti mikroba adalah senyawa yang dapat menghambat atau membunuh mikroorganisme hidup. Senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri disebut bakteriostatik dan yang dapat membunuh bakteri disebut bakterisida. Atau dengan kata lain disebut juga antiboitika yaitu bahan-bahan yang bersumber hayati yang pada kadar rendah sudah menghambat pertumbuhan mikroorganisme hidup (Gobel 2008).

Disinfektan adalah bahan atau zat yang digunakan untuk menghilangkan atau menghancurkan bakteri baik bakteri patogen ataupun non patogen, terutama bakteri yang membahayakan (patogen).

Metode yang digunakan pada pengujian kali ini adalah metode gores, langsung, cakram kertas saring dan metode difusi sumur.

  • 1. Metode Cakram Kertas Saring

Metode ini merupakan metode cepat untuk menentukan diameter zona hambat sekitar cakram kertas yang merupakan hasil difusi bahan antimikroba ke dalam medium. Dua bakteri yang digunakan dalam praktikum ini adalah Escherichia coli yang digunakan oleh kelompok ganjil dan Staphylococcus aureus yang digunakan oleh kelompok genap. Kultur E.coli dan S. Aureus pada pembagian tiap kelompok dimasukkan 1 ml ke 9 ml larutan fisiologis kemudian diambil 0.1 ml suspensi yang sudah diencerkan kedalam cawan petri steril (duplo) dan dituang media NA (Nutrient Agar). Setelah itu cawan petri yang berisi media dan kultur tersebut digoyang- goyangkan. Hal ini bertujuan agar kultur menyebar sehingga pertumbuhannya pun akan tersebar pada seluruh media. Kemudian media tersebut dibiarkan sampai beku. Setelah media beku kemudian pada media NA tersebut

diletakkan 5 kertas saring. 4 diantaranya telah dicelupkan kedalam antiseptik ANTIS dan cawan lainnya dengan antiseptik Indomaret, 1 kertas saring dicelupkan kedalam air steril (sebagai kontrol). Setelah itu agar tersebut diinkubasi pada suhu 37 o C selama 2 hari jangan dibalik dan diamati zona hambat. Setelah diinkubasi dilakukan pengamatan terhadap adanya zona penghambatan (daerah jernih) di sekeliling cakram kertas. Hal ini menunjukkan organisme itu dihambat pertumbuhannya (sensitif) oleh disinfektan atau antiseptik yang merembes dari cakram kertas ke dalam agar. Apabila tidak terdapat zona penghambatan artinya bakteri tersebut resisten terhadap komponen antimikroba pada disinfektan atau antiseptik tersebut. Hasil pengamatan kelompok 1 dan kelompok 2 menunjukkan bahwa disinfektan So Klin dan SOS lebih menghambat E. coli dibandingkan S. aureus dengan konsentarsi yang sama yaitu 0.4 %. Hal ini menunjukkan bahwa disinfektan So Klin lebih efektif digunakan. Hasil pengamatan kelompok 3 dan kelompok 4 menunjukkan bahwa antiseptik Softaman dan Dettol memiliki zona hambat. Berdasarkan diameter zona hambatnya, dapat dilihat bahwa kedua antiseptik lebih efektif menghambat pertumbuhan bakteri E. coli daripada bakteri S. aureus. Selain itu, secara keseluruhan dapat dilihat bahwa antiseptik Softaman memiliki zona hambat yang lebih besar dibandingkan dengan zona hambat yang dimiliki antiseptik Dettol. Hal ini menunjukkan bahwa antiseptik Softaman lebih efektif untuk digunakan sebagai antiseptik penghambat pertumbuhan bakteri E. coli dibanding antiseptik Dettol, dikarenakan konsentrasi antiseptik Softman yang tiak diketahui dan antiseptik dettol hanya diberi konsentrasi

2.7%.

Hasil pengamatan kelompok 5 dan kelompok 6 menunjukkan bahwa kedua disinfektan memiliki zona hambat. Berdasarkan diameter zona hambatnya, dapat dilihat bahwa Iodin lebih efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus karena golongan bakteri gram positif lebih sensitif terhadap senyawa antimikroba dibandingkan bakteri gram negatif.

Ketahanan bakteri terhadap senyawa antimikroba berhubungan erat dengan struktur dinding selnya. Pada bakteri gram positif sebagian besar dinding

selnya terdiri dari lapisan peptidoglikan dan asam teikoat, sedangkan pada bakteri gram negatif dinding selnya terdapat lapisan terluar yang disebut dengan membran luar yang terdiri dari lipopolisakarida, protein dan fosfolipid dan lapisan tipis peptidoglikan. Membran luar bakteri gram negatif akan memberikan ketegaran yang lebih kuat dibandingkan dengan bakteri gram positif. Adanya ketiga senyawa ini pda membran luar menyebabkan bakteri gram negatif mempunyai ketahanan terhadap senyawa antimikroba. Sedangkan Formaldehid lebih efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri bakteri E. coli dengan konsentrasi 2% dikarenakan perlakuan konsentrasi disinfektan yang berbeda. Hasil pengamatan kelompok 7 dan kelompok 8 menunjukkan bahwa antiseptik ANTIS dan antiseptik Indomaret memiliki zona hambat terhadap pertumbuhan kedua bakteri (E.coli dan S.aureus). Hasil pengamatan menunjukan terbentuknya zona hambat yang lebih besar pada antiseptik Indomaret dibanding ANTIS, hal ini menunjukkan bahwa antiseptik Indomaret lebih efektif untuk digunakan sebagai antiseptik penghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus daripada antiseptik ANTIS. Hal ini dikarenakan perbedaan perlakuan konsetrasi masing-masing antiseptik yang tidak diketahui konsentrasinya.

2. Metode Difusi Sumur

Pada praktikum kali ini, dilakukan uji pada beberapa macam disinfektan dan antiseptik dengan metode difusi sumur. Media agar NA yang sudah beku di lubangi dengan tips sehingga terdapat lima lubang. Empat lubang kemudian diisi dengan satu macam disinfektan atau antiseptik (dianggap sebagai 4 ulangan). Antiseptik yang kelompok 7 gunakan adalah antiseptik Indomaret dan Antis . Lubang yang berada di tengah diisi dengan aquades steril sebagai kontrol. Dua bakteri yang digunakan dalam praktikum ini adalah Escherichia coli yang digunakan oleh kelompok ganjil dan Staphylococcus aureus yang digunakan oleh kelompok genap.

Hasil pengamatan kelompok 1 dan kelompok 2 menunjukkan bahwa disinfektan So Klin dan SOS tidak memiliki zona hambat pada metode difusi sumur namun memiliki zona hambat pada metode cakram kertas saring. Hal ini menunjukkan bahwa metode difusi sumur tidak dilakukan dengan benar dan konsentrasi yang digunakan terlalu tinggi sehingga disinfektan tidak dapat bekerja secara maksimal. Hal ini dikarenakan pada saat memipet disinfektan dan aquades steril, praktikan tidak memperhatikan adanya disinfektan dan aquades steril yang tumpah (melewati lubang sumur) sehingga lubang sumur yang terbentuk menjadi tidak beraturan. Selain itu, disinfektan dan aquades steril menyatu sehingga hasil tidak akurat. Hasil pengamatan kelompok 3 dan kelompok 4 menunjukkan bahwa antiseptik Softaman dan Dettol memiliki zona hambat. Berdasarkan diameter zona hambatnya, dapat dilihat bahwa kedua antiseptik lebih efektif menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli daripada bakteri Staphylococcus aureus. Selain itu, secara keseluruhan dapat dilihat bahwa antiseptik Softaman memiliki zona hambat yang lebih besar dibandingkan dengan zona hambat yang dimiliki antiseptik Dettol. Hal ini menunjukkan bahwa antiseptik Softaman lebih efektif untuk digunakan sebagai antiseptik penghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus daripada antiseptik Dettol. Hasil pengamatan kelompok 5 dan kelompok 6 menunjukkan bahwa kedua disinfektan memiliki zona hambat. Berdasarkan diameter zona hambatnya, dapat dilihat bahwa Iodin dan Formaldehid lebih efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus daripada bakteri Escherichia coli. Selain itu, secara keseluruhan dapat dilihat bahwa Formaldehid memiliki zona hambat yang lebih besar dibandingkan dengan zona hambat yang dimiliki Iodin. Hal ini menunjukkan bahwa Formaldehid lebih efektif untuk digunakan sebagai disinfektan penghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus daripada Iodin. Hasil pengamatan kelompok 7 dan kelompok 8 menunjukkan bahwa antiseptik Antis tidak memiliki zona hambat terhadap pertumbuhan kedua bakteri (Escherichia coli dan Staphylococcus aureus) sedangkan antiseptik

Indomaret memiliki zona hambat terhadap pertumbuhan kedua bakteri (Escherichia coli dan Staphylococcus aureus). Hal ini menunjukkan bahwa antiseptik Indomaret lebih efektif untuk digunakan sebagai antiseptik

penghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus daripada antiseptic Antis. Dari diameter zona hambatnya, dapat dilihat bahwa antiseptik Indomaret lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli daripada bakteri Staphylococcus aureus. Dari hasil pengamatan kelompok 1 sampai kelompok 8, dapat dilihat berdasarkan zona hambatnya bahwa antiseptik yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli adalah antiseptik Indomaret sedangkan antiseptik yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus adalah Softaman. Selain itu, dapat dilihat berdasarkan zona hambatnya bahwa disinfektan yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus adalah Formaldehid (berdasarkan metode difusi sumur).

  • 3. Metode Gores

Dalam

praktikum

uji

disinfektan/antiseptik

menggunakan metode

gores, seharusnya dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Akan tetapi pada SOS baik melalui suspensi S. Aureus maupu E.Coli ternyata tidak menghambat pertumbuhan mikroba. Begitu pula pada kelompok 6, kelompok 7, maupun kelompok 8. Dan semua kelompok hasilnya menunjukkan bahwa ada beberapa mikroba yang muncul di setiap cawan baik dengan suspensi

E.Coli maupun S.Aureus. Hal ini dapat terjadi karena kesalahan dan ketidak displinan praktikan dalam melakukan Analisis sehingga Mikroba mulai mengontaminasi media sehingga Disinfektan tertentu yang seharusnya dapat diharapkan menghambat pertumbuhan mikroba malah justru memacu pertumbuhan mikroba atau tidak ada pengaruhnya dengan mikroba sama sekali.

  • 4. Metode Langsung Dalam praktikum uji disinfektan menggunakan metode langsung, diperoleh kelompok 3, kelompok 4, kelompok 5, dan kelompok 6 yang menggunakan disinfektan tertentu berupa Softaman, Dettol, Iodin, dan

Formaldehid hamper dapat menghambat kebanyakan pertumbuhan bakteri E. Coli dan S. Aureus. Pada kelompok 1, kelompok 2, kelompok 7, dan kelompok 8 diperoleh bahwa disinfektan/antiseptik yang digunakan tidak dapat menghambat pertumbuhan mikroba baik jenisnya E. Coli maupu S. Aureus. Dalam metode ini jenis disinfektan atau antiseptic tertentu dimasukkan ke cawan petri bersama dengan suspensi kultur mikroba sebelum ditambah media NA. Seharusnya metode ini dapat menghasilkan jenis disinfektan yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba, akan tetapi terjadi perubahan hasil analisis yang tidak diinginkan karena peralatan laboratorium yang digunakan tidak tercuci bersih sebelumnya, kesalahan praktikan dalam melakukan analisis, atau peralatan yang digunakan ada yang tidak disterilkan terlebih dahulu sehingga menyebabkan kesalahan dalam analisis.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

  • 4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum, dapat disimpulkan bahwa untuk mengevaluasi aktivitas dan efektivitas disinfektan dapat dilakukan dengan metode difusi sumur, cakram kertas saring, dan metode gores dan langsung. Efektivitas disinfektan senyawa antimikroba didasarkan pada pembentukan zona penghambatan (areal bening) pada metode cakram kertas saring dan difusi sumur. Pemberian konsentrsi pada berbagai jenis disinfektan atau antiseptik sangat berpengaruh terhadap efektivitas disinfektan atau antiseptik sebagai bakterisidal. Semakin tinggi konsentrasi yang diberikan semakin efektif dalam membunuh mikroba.

  • 4.2 Saran

Sebelum dilakukan praktikum, terlebih dahulu dilakukan pencarian informasi tentang percobaan yang akan dilakukan agar hasil yang didapatkan lebih akurat dan maksimal. Menggunakan berbagai disinfektan sebagai senyawa antimikroba dengan konsentrasi yang tepat sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroba.

DAFTAR PUSTAKA

Gobel, B. Risco, dkk., 2008. Mikrobiologi Umum Dalam Praktek. Makassar:

Universitas Hasanuddin. Haris. 2012. Uji Antimikroba Rempah. harisdianto.files.wordpress.com ( 29 November 2015)

Lampiran Kelompok 7

BAKTERI

METODE

DISINFEKTAN

ANTIS

INDOMARET

E. coli

Difusi Sumur

E. coli Difusi Sumur
E. coli Difusi Sumur

Cakram Kertas

Cakram Kertas
Cakram Kertas

Saring

Gores

Gores
Gores
 

Langsung

Langsung
Langsung

Kontrol Gores

Kontrol Gores
Lampiran Seluruh Kelompok Kel Desinfektan Bakteri difusi sumur cakram kertas Metode saring gores l So Klin
Lampiran Seluruh Kelompok Kel Desinfektan Bakteri difusi sumur cakram kertas Metode saring gores l So Klin

Lampiran Seluruh Kelompok

Kel

Desinfektan

Bakteri

difusi sumur

cakram kertas

 

Metode

 

saring

gores

l

So Klin

     
So Klin
  • 1 SOS

E.coli

1 SOS E.coli
     
1 SOS E.coli

So Klin

 
So Klin
 
So Klin
So Klin
  • 2 SOS

S.aureus

2 SOS S.aureus
 
2 SOS S.aureus
2 SOS S.aureus

Softaman

 
Softaman
Softaman
 
Softaman
  • 3 E.coli

Dettol

Dettol
 
Dettol
Dettol
  • 4 Softaman

S.aureus

4 Softaman S.aureus
 
4 Softaman S.aureus
4 Softaman S.aureus
Dettol Iodium 5 E.coli Formaldehid Iodium 6 S.aureus Formaldehid Antis 7 E.coli antiseptik indomaret Antis 8
Dettol
Iodium
5
E.coli
Formaldehid
Iodium
6
S.aureus
Formaldehid
Antis
7
E.coli
antiseptik
indomaret
Antis
8
S.aureus
antiseptik
indomaret