Anda di halaman 1dari 4

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Sekolah

sebagai

suatu

lembaga

pendidikan

formal

mempunyai

tanggungjawab besar dalam mencapai tujuan pendidikan. Banyak faktor yang


mempengaruhi ketidak berhasilan peserta didik dalam menguasai dan memahami
suatu konsep pembelajaran, diantaranya adalah kurangnya interaksi peserta didik
dalam kegiatan belajar mengajar serta ketidak tepatan memilih model
pembelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Ketidak tepatan memilih model
pembelajaran akan memungkinkan pembelajaran tidak efektif sehingga interaksi
siswa dengan guru maupun antar siswa dengan siswa lainnya tidak terjalin secara
baik. Ketidak tepatan pendidik dalam memilih model pembelajaran menyebabkan
pendidik harus mengembangkan strategi pembelajaran agar proses pembelajaran
lebih efektif sehingga siswa tidak merasa bosan terhadap pelajaran dan dapat
memahami materi pelajaran dengan baik.
Terkadang bagi seorang pendidik sulit sekali untuk menetukan model
pembelajaran yang dianggap tepat untuk menyampaiakn suatu konsep
pembalajaran, karena setiap model pembelajaran memiliki keunggualan dan
kekurangan tersendiri. Pembelajaran selama ini lebih mengutamakan bagimana
cara mengisi pikiran peserta didik, bukan bagaimana peserta didik mencari sendiri
pemahaman berpikir. Sehingga pembelajaran pasif dan tidak ada kerjasama antara
peserta didik bahkan antara pendidik dengan peserta didik. Model pembelajaran
yang harus dikembangkan agar kemampuan peserta didik berkembang adalah
dengan model pembelajaran yang berbasis pada peserta didik atau keaktifan dan
kreativitas peserta didik yaitu pembelajaran yang memandang peserta didik
sebagai subjek belajar yang dinamis sedangan pendidik sebagi fasilitator dan
motivator. Situasi ini dapat di lakukan dengan mengembangkan pembelajaran
kooperatif (cooperative learning). Pembelajaran kooperatif digunakan oleh para
pendidik dalam suatu pembelajaran di kelas dengan mencipatakan situasi atau

kondisi bagi kelompok untuk mencapai suatu tujuan bergantung pada kerjasama
yang kompak dan serasi pada kelompok (Lie, 2000).
Hasil observasi dan wawancara dengan guru Biologi di salah satu sekolah
di Surade, pada umumnya proses pembelajaran

masih menggunakan model

pembelajaran konvensional. Pembelajaran di awali dengan guru menyampaikan


materi kemudian memberikan soal latihan untuk menambah pemahman siswa dan
terakhir membetikan tugas (PR). Selama guru menerangkan materi, siswa hanya
mendengar dan melihat/memperhatikan, guru menjadi pusat perhatian siswa
sehingga siswa menjadi pasif pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Kegiatan pembelajaran yang dilakukan selama ini oleh pendidik, untuk
meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi dan memberikan pengalaman
belajar. Akan tetapi, dalam pembelajaran kegiatan tersebut belum ditemukan
adanya pengembangan kecakapan hidup (life skill) secara maksimal, padahal
pembelajaran kooperatif ini seharusnya dapat memunculkan aspek-aspek life skill.
Tetapi karena kegiatan pembelajaran kooperatif ini dalam persiapan dan
1

pelaksanaanya belum dikemas dengan baik, maka aspek-aspek life skill seringkali
tidak muncul oleh siswa.
Hasil ujian semester I yang telah dilaksanakan menunjukan nilai yang
sangat rendah. Dari jumlah 39 siswa yang mendapatkan nilai sesuai dengan KKM
hanya 12 orang dan sisanya 27 orang mendapatkan nilai rendah, nilai KKM yang
ditentukan yaitu 75. Penyebab dari permasalahan ini adalah kegiatan belajar
mengajar yang monoton, kurang interaktif, sebagian kecil saja siswa
yang bersedia menyampaikan pendapatnya ketika proses belajar
berlangsung, hal ini dikarenakan siswa cenderung malu dan
belum

memiliki

kepercayaan

diri

untuk

mengungkapkan

pikirannya sehingga pembelajaran membuat siswa bosan dan


akhirnya pencapaian hasil belajar kognitif siswa menjadi rendah.
Berdasarkan
alternatif

model

uraian

di

atas,

pembelajaran

maka

yang

diperlukan

interaktif

dan

suatu
efektif

sehingga meningkatkan adanya pengembangan kecakapan hidup (life skill).


Untuk mengatasi masalah tersebut salah satu alternatifnya

adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif.


Model pembelajaran kooperatif yang diduga bisa digunakan salah
satunya

adalah

model

pembelajaran

tipe

Examples

non

Examples. Model pembelajaran tipe examples non examples ini


menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik
dalam memberikan penjelasan gambaran yang menjadi contoh
dengan bukan contoh dan materi yang sedang dibahas.
Dengan diterapkannya model examples non examples,
diharapkan dapat menciptakan suatu proses pembelajaran yang
efektif, efisien dan menyenangkan. Sehingga dalam proses
pembelajaran siswa tidak hanya duduk diam mendengarkan
penjelasan dan guru, tetapi siswa bisa lebih aktif mengemukakan
pendapatnya. Dalam model examples non examples, guru hanya
berperan sebagai fasilitator dan motivation sedangkan siswa
berperan

aktif

menggunakan

seluruh

pemikirannya

untuk

mengeluarkan pendapatnya dalam sub konsep pencemaran


lingkungan.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu adanya dilakukan
penelitian

sebagai

upaya

untuk

meningkatakan

kualitas

pembelajaran berupa kemampuan komunikasi lisan siswa melalui


model pembelajaran examples non examples dengan judul
Analisis Kemampuan Komunikasi Lisan Siswa Melalui
Model Examples non examples Pada Sub Konsep Pencemaran
Lingkungan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di kemukakan diatas,
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah pembelajaran kooperatif
tipe Examples non examples berpengaruh terhadap kemampuan komunikasi lisan
siswa ?.

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka dikembangan beberapa


pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimanakah kemampuan komunikasi lisan siswa selama pembelajaran
kooperatif tipe Examples non examples pada sub konsep pencemaran
lingkungan ?
2. Bagaimanakah respon siswa setelah dilakukannya pembelajaran kooperatif
tipe Examples non examples pada sub konsep pencemaran lingkungan ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan
komunikasi lisan siswa dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe
Examples non examples pada sub konsep pencemaran lingkungan.
Untuk memperjelas tujuan utama ini maka dijabarkan jadi tujuan-tujuan
khsus sebagai berikut :
1. Mengetahui kemampuan komunikasi lisan siswa melalui model pembelajaran
kooperatif tipe Examples non examples pada sub konsep pencemaran
lingkungan.
2. Mengetahui respon siswa setelah dilakukannya pembelajaran kooperatif tipe
Examples non examples pada sub konsep pencemaran lingkungan.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak terkait
secara langsung maupun tidak langsung dengan dunia pendidikan, dan khususnya
bagi siswa kelas X IPS SMAN 1 Surade tahun pelajaran 2015/2016. Adapun
manfaat dari kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi guru atau calon guru biologi, dapat memberikan alternatif dalam memilih
dan menerapkan media pembelajaran yang tepat untuk kegiatan belajar
mengajar.
2. Bagi siswa, dapat memberikan pengalaman belajar yang berbeda dalam
kegiatan pembelajaran
3. Dapat menjadi referensi tambahan bagi mahasiswa yang tertarik ingin meneliti
tentang topik penelitian yang sama.