Anda di halaman 1dari 25

AWAL MASA KANAK-KANAK

BAHAYA HUBUNGAN KELUARGA PADA MASA BAYI


1. Perpisahan dengan ibu
Kecuali kalau diberi tokoh pengganti yangstabil dan memuaskan, bayi yang
dipisahkan dari ibunya akan mengembangkan perasaan tidak aman yang ditampilkan
dalam gangguan kepribadian yang dapat merupakan dasar dari kesulitan penyesuaian
diri kelak.
2. Gagal mengembangkan perilaku akrab
Bayi yang gagal mengembangkan perilaku akrab dengan ibunya atau dengan
pengganti ibu yang stabil, akan mengalami perasaan tidak aman seperti bila ia yang
dipisahkan dengan ibunya. Selanjutnya bayi tidak mengalami kegembiraan yang
diperoleh dalam hubungan pribadi yang erat. Kekurangan ini menyulitkan bayi dalam
mengembangkan persahabatan di kemudian hari.
3. Merosotnya hubungan keluarga
Merosotnya hubungan keluarga yang hamper selalu terjadi dalam tahun kedua secara
psikologis berbahaya karena bayi memperhatikan bahwa sikap anggota-anggota
keluarga kepadanya berubah dan ia diperlakukan secara berbeda. Akibatnya, bayi
biasanya merasa tidak dicintai dan ditolak, yakni perasaan yang mengembangkan
kebencian dan rasa tidak aman.
4. Terlampau melindungi
Bayi yang sangat dilindungi dan dilarang melakukan sesuatu yang sebenarnya dapat
dilakukan menjadi sangat tergantung dan takut melakukan sesuatu yang dapat
dilakukan oleh bayi lain. Nantinya hal ini akan berkembang menjadi sangat takut
pada sekolah (phobi sekolah) dan sangat malu bila berhadapan dengan orang asing.
5. Latihan yang tidak konsisten
Metode latihan anak yang tidak konsisten, yang dapat disebabkan karena kelemahan
orang tua atau perasaan tidak mampu menjalankan peranan orang tua, akan
memberikan bimbingan yang buruk bagi bayi. Hal ini memperlambat bayi dalam
mempelajari perilaku yang besar.
6. Penganiayaan anak
Kalau orang tua tidak menyenangi peran sebagai orang tua atau kalau terjadi
pertentangan antar orang tus, maka bayi dapat menjadi sasaran amarah atau kebencian
mereka. Bayi akan diabaikan atau dianiaya. Penganiayaan bayi lebih sering pada
tahun kedua karena bayi pada saat ini lebih menyulitkan orang tua dan ini memancing
penyaluran rasa marah, benci, dan emosi-emosi buruk lainnya yang berasal dari
hubungan orang tua.

TUGAS DALAM BELAJAR BICARA PADA AWAL MASA ANAK-ANAK


1. Pengucapan kata-kata
Anak-anak sulit belajar mengucapkan bunyi tertentu dan kombinasi bunyi, seperti
huruf mati z, w, d, s, dan g dan kombinasi huruf mati st; str, dr , dan fl.
Mendengarkan radio dan televisi dapat membantu belajar mengucapkan kata-kata
secara benar.
2. Menambah kosa kata
Kosa kata anak-anak meningkat pesat ketika ia belajar kata-kata baru dan arti-arti
baru untuk kata-kata lama. Gambar di bawah menunjukkan peningkatan kosa kata
yang pesat selama awal masa kanak-kanak. Dalam menambah kosa kata anak-anak
muda belajar kata-kata yang umum seperti “baik” dan “buruk”, “memberi” dan
“menerima” dan juga banyak kata-kata dengan penggunaan khusus seperti bilangan
dan nama-nama warna.
3. Membentuk kalimat
Kalimat biasanya terdiri dari tiga atau empat kata sudah mulai disusun oleh anak usia
dua tahun dan biasanya oleh anak usia tiga tahun. Kalimat ini banyak yang tidak
lengkap, terutama terdiri dari kata benda dan kurang kata kerja, kata depan dan kata
penghubung. Sesudah usia tiga tahun, anak membentuk kalimat yang terdiri dari
enam sampai delapan kata.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BANYAKNYA ANAK BERBICARA


1. Inteligensi
Semakin cerdas anak, semakin cepat keterampilan berbicara dikuasai sehingga
semakin cepat dapat berbicara.
2. Jenis disiplin
Anak yang dibesarkan secara disiplin yang cenderung lemah lebih banyak berbicara
daripada anak-anak yang orang tuanya bersikap keras dan berpandangan bahwa
“anak-anak harus dilihat tetapi tidak didengar”.
3. Posisi urutan
Anak sulung didorong untuk lebih banyak bicara daripada adiknya dan orang tua
lebih banyak waktu untuk berbicara dengan adiknya.
4. Besarnya keluarga
Anak tunggal didorong untuk lebih banyak bicara daripada anak-anak dari keluarga
besar dan orang tuanya mempunyai lebih banyak waktu untuk berbicara dengannya.
Dalam keluarga besar, disiplin yang ditegakkan lebih otoriter dan ini menghambat
anak-anak untuk berbicara sesukanya.
5. Status sosial ekonomi
Dalam kelurga kelas rendah, kegiatan keluarga cenderung kurang terorganisir
daripada keluarga kelas menengah dan atas. Pembicaraan antar anggota keluarga juga
jarang dan anak kurang didorong untuk berbicara.
6. Status ras
Mutu dan keterampilan berbicara yang kurang baik pada kebanyakan anak berkulit
hitam dapat disebabkan sebagian karena mereka dibesarkan dalam rumah-rumah
dimana para ayah tidak ada, atau dimana kehidupan keluarga tidak teratur karena
banyaknya anak atau karena ibu harus bekerja di luar rumah.
7. Berbahasa dua
Meskipun anak dari keluarga yang berbahasa dua boleh bicara sebanyak anak dari
keluarga berbahasa satu, tetapi pembicaraannya sangat terbatas kalau ia berada
dengan kelompok sebayanya atau dengan orang dewasa di luar rumah.
8. Penggolongan peran-seks
Terdapat efek penggolongan peran-seks pada pembicaraan anak sekalipun anak masih
berada dalam tahun-tahun prasekolah. Anak laki-laki diharapkan sedikit berbicara
dibandingkan dengan anak perempuan. Apa yang dikatakan dan bagaimana cara
mengatakannya diharapkan berbeda dari anak perempuan. Membual dan mengkritik
orang lain, misalnya, dianggap sesuai dengan anak laki-laki. Sedangkan anak
perempuan wajar bila mengadukan orang lain.

EMOSI YANG UMUM PADA AWAL MASA KANAK-KANAK


1. Amarah
Penyebab amarah yang paling umum adalah pertengkaran mengenai permainan, tidak
tercapainya dan serangan yang hebat dari anak lain. Anak mengungkapkan rasa
marah dengan ledakan amarah yang ditandai dengan menangis, berteriak,
menggertak, menendang, melompat-lompat atau memukul.
2. Takut
Pembiasaan, peniruan, dan ingatan tentang pengalaman yang kurang menyenangkan
berperan penting dalam menimbulkan rasa takut, seperti cerita-cerita, gambar-
gambar, acara radio dan televise. Dan dan film-film dengan unsur yang menakutkan.
Pada mulanya reaksi anak terhadap rasa takut adalah panic; kemudian menjadi lebih
khusus seperti lari, menghindar, dan bersembunyi, menangis dan menghindari situasi
yang menakutkan.
3. Cemburu
Anak menjadi cemburu bila ia m engira bahwa minat dan perhatian orang tua beralih
kepada orang lain di dalam keluarga, biasanya adik yang baru lahir. Anak yang lebih
muda dapat mengungkapkan kecemburuannya secara terbuka atau menunjukkannya
dengan berperilaku secara anak kecil, seperti mengompol, pura-pura sakit atau
menjadi nakal. Perilaku ini semua bertujuan untuk menarik perhatian.
4. Ingin tahu
Anak mempunyai rasa ingin tahu terhadap hal-hal baru dilihatnya, juga mengenai
tubuhnya sendiri dan tubuh orang lain. Reaksi pertama adalah dalam bentuk
penjelajahan sensomotorik; kemudian sebagai akibat dari tekanan social dan
hukuman, ia bereaksi dengan bertanya.
5. Iri hati
Anak-anak sering iri hati mengenai kemampuan atau barang yang dimiliki orang lain.
Iri hati ini diungkapkan dalam bermacam-macam cara, yang paling umum adalah
mengeluh tentang barangnya seperti dimiliki orang lain, atau dengan mengambil
benda-benda yang menimbulkan iri hati.
6. Gembira
Anak-anak merasa gembira karena sehat, situasi yang tidak layak, bunyi yang tiba-
tiba atau yang tidak diharapkan, bencana yang ringan, membohongi orang lain dan
berhasil melakukan tugas yang dianggap sulit. Anak mengungkapkan
kegembiraannya dengan tersenyum dan tertawa, bertepuk tangan, melompat-lompat,
atau memeluk benda atau orang yang membuatnya bahagia.
7. Sedih
Anak-anak merasa sedih karena kehilangan segala sesuatu yang dicintai atau yang
dianggap penting bagi dirinya, apakah itu orang, binatang, atau benda mati seperti
mainan. Secara khas anak mengungkapkan kesedihannya dengan mengangis dan
dengan kehilangan minat terhadap kegiatan normalnya, termasuk makan.
8. Sasih saying
Anak-anak belajar mencintai orang, binatang, , atau benda yang menyenangkannya.
Ia mengungkapkan kasih saying secara lisan bila sudah besar tetapi ketika masih kecil
anak menyatakannya secara fisik dengan memeluk, menepuk, dan mencium objek
kasih sayangnya.

POLA PERILAKU SOSIAL DAN TIDAK SOSIAL


Pola Sosial
1. Meniru
Agar sama dengan kelompok, anak meniru sikap dan perilaku orang yang sangat ia
kagumi.
2. Persaingan
Keinginan untuk mengungguli dan mengalahkan orang-orang lain sudah tampak pada
usia empat tahun. Ini dimulai di rumah dan kemudian berkembang dalam bermain
dengan anak di luar rumah.
3. Kerja sama
Pada akhir tahun ketiga bermain kooperatif dan kegiatan kelompok mulai
berkembang dan meningkat baik dalam frekuansi maupun lamanya berlangsung,
bersamaan dengan meningkatnya kesempatan untuk bermain dengan anak lain.
4. Simpati
Karena simpati membutuhkan pengertian tentang perasaan-perasaan dan emosi orang
lain maka hal ini hanya kadang-kadang timbul sebelum tiga tahun. Semakin banyak
kontak bermain, semakin cepat simpati akan berkembang.
5. Empati
Seperti halnya simpati, empati membutuhkan pengertian tentang perasaan dan emosi
orang-orang lain tetapi di samping itu juga membutuhkan kemampuan untuk
membayangkan diri sendiri di tempat orang lain. Relative hanya sedikit anak yang
dapat melakukan hal ini sampai awal masa kanak-kanak berakhir.
6. Dukungan social
Menjelang berakhirnya awal masa kanak-kanak, dukungan dari teman-teman menjadi
lebih penting daripada persetujuan orang-orang dewasa. Anak beranggapan bahwa
perilaku nakal dan perilaku mengganggu merupakan cara untuk memperoleh
dukungan dari teman-teman sebaya.
7. Membagi
Dari pengalamn bersama orang-orang lain, anak mengetahui bahwa salah satu cara
untuk memperoleh persetujuan social adalah dengan membagi miliknyaterutama
mainan- untuk anak-anak lain. Lambat laun sifat mementingkan diri sendiri berubah
menjadi sifat murah hati.
8. Pertentangan seks
Sampai empat tahun anak laki-laki dan perempuan bermain bersama-sama dengan
baik. Setelah itu anak laki-laki mengalami tekanan social yang tidak menghendaki
aktivitas bermain yang dianggap sebagai “banci”. Banyak anak laki-laki yang
berperilaku agresif yang melawan anak perempuan.
9. Perilaku akrab
Anak yang pada waktu bayi memperoleh kepuasan dari hubungan yang hangat, erat,
dan personal dengan orang lain berangsur-angsur memberikan kasih saying kepada
orang di luar rumah, seperti guru taman indria atau benda-benda mati seperti mainan
kegembiraannya atau bahkan selimut. Benda-benda ini disebut objek kesayangan.
Pola Tidak Sosial
1. Negativisme
Negativisme, atau melawan otoritas orang dewasa mencapai puncaknya antara usia
tiga tahun dan empat tahun dan kemudian menurun. Perlawanan fisik lambat laun
berubah menjadi perlawanan verbal dan pura-pura tidak mendengar atau tidak
mengerti permintaan orang dewasa.
2. Agresif
Perilaku agresif meningkat antara usia dua dan empat tahun dan kemudian menurun.
Serangan-serangan fisik mulai diganti dengan serangan-serangan verbal dalam bentuk
memaki-maki atau menyalahkan orang lain.
3. Perilaku berkuasa
Perilaku berkuasa, atau “merajai” mulai sekitar tiga tahun dan semakin meningkat
dengan bertambah banyaknya kesempatan untuk kontak social. Anak perempuan
cenderung lebih meraja daripada anak laki-laki.
4. Memikirkan diri sendiri
Karena cakrawala social anak terutama terbatas di rumah, maka anak seringkali
memikirkan dan mementingkan diri sendiri. Dengan meluasnya cakrawala lambat
laun perilaku memikirkan diri sendiri berkurang tapi perilaku murah hati masih
sangat sedikit.
5. Mementingkan diri sendiri
6. Seperti halnya perilaku Mementingkan diri sendiri lambat laun diganti oleh minat
dan perhatian kepada orang lain. Cepatnya perubahan ini bergantung pada banyaknya
kontak dengan orang-orang di luar rumah dan berapa besar keinginan mereka untuk
diterima oleh teman-teman.
7. Merusak
Ledakan amarah sering disertai dengan tindakan merusak benda-benda di sekitarnya,
tidak perduli miliknya sendiri atau milik orang lain. Semakin hebat amarahnya,
semakin luas tindakan amarahnya.
8. Prasangka
Sebagian besar anak prasekolah lebih suka bermain dengan teman-teman yang berasal
dari ras yang sama, tapi mereka jarang menolak bermain dengan anak-anak ras lain.
Prasangka social timbul pertama-tama dari prasangka agama atau social ekonomi,
tetapi lebih lambat dari prasangka seks.

POLA BERMAIN PADA AWAL MASA KANAK-KANAK


1. Bermain dengan mainan
Pada permulaan masa awal kanak-kanak, bermain dengan mainan merupakan bentuk
yang dominan. Minat bermain dengan mainan mulai agak berkurang pada akhir awal
masa kanak-kanak pada saat anak tidak lagi dapat membayangkan bahwa mainannya
mempunyai sifat-sifat hidup seperti yang dikhayalkan sebelumnya. Lagipula, dengan
meningkatnya minat terhadap bermain dalam kelompok, anak menganggap bermain
dengan mainan yang umumnya bersifat bermain sendiri, tidak lagi menyenangkan.
2. Dramatisasi
Sekitar usia tiga tahun dramatisasi terdiri dari permainan dengan meniru pengalaman-
pengalaman hidup, kemudian anak-anak bermain permainan pura-pura dengan teman-
temannya seperti polisi den perampok, indian-indianan atau penjaga toko,
berdasarkan cerita-cerita yang dibacakan kepada mereka atau berdasarkan acara-acara
film dan televisi yang mereka lihat.
3. Konstruksi
Anak-anak membuat bentuk-bentuk dengan balok-balok, pasir, lumpur, tanah liat,
manik-manik, cat, pasta, gunting, dan krayon. Sebagian besar konstruksi yang dibuat
merupakan tiruan dari apa yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari atau dari
layer bioskop dan televise. Menjelang berakhirnya masa awal kanak-kanak, anak-
anak sering menambahkan kreativitasnya ke dalam konstruksi-konstruksi yang dibuat
berdasarkan pengamatannya dalam kehidupan sehari-hari.
4. Permainan
Dalam tahun keempat anak mulai lebih menyukai permainan yang dimainkan
bersama teman-teman sebayanya daripada dengan orang-orang dewasa. Permainan ini
dapat terdiri dari beberapa pemain dan melibatkan beberapa peraturan. Permainan
yang menguji keterampilan seperti melempar dan menangkap bola juga populer.
5. Membaca
Anak-anak senang dibacakan dan melihat gambar-gambar dari buku. Yang sangat
menarik dari dongeng-dongeng, nyanyian anak-anak, cerita-erita tentang hewan dan
kejadian sehari-hari.
6. Film, radio, dan televisi
Anak-anak jarang melihat bioskop, tapi ia senang film kartun, film tentang binatang
dan film rumah tentang anggota-anggota keluarga. Anak-anak juga senang
mendengarkan radio tapi senang melihat televise. Ia senang melihat acara untuk anak-
anak yang lebih besar dan juga acara untuk anak-anak prasekolah. Ia mengalami
situasi rumah yang aman sehingga biasanya tidak merasa takut kalau ada unsur-unsur
yang menakutkan dalam acara televise tersebut.

KATEGORI KONSEP UMUM YANG BERKEMBANG SELAMA MASA AWAL


KANAK-KANAK
1. Kehidupan
Anak-anak cenderung memberikan sifat yang hidup kepada benda-benda mati
seperti boneka dan boneka hewan. Orang dewasa mendorong hal ini dengan
menunjukkan persamaan antara benda hidup dengan benda mati seperti bentuk
awan yang menyerupai anjing atau kuda.
2. Kematian
Anak-anak cenderung menghubungkan kematian dengan sesuatu yang pergi tapi
biasanya tidak dapat mengerti apa makna kematian.
3. Fungsi tubuh
Anak-anak sebagai kelompok, mempunyai konsep mengenai fungsi tubuh dan
kelahiran yang kurang tepat. Hal ini berlaku sampai anak masuk sekolah
meskipun pada saatnya kesalahan konsep ini akan diperbaiki melalui pelajaran
mengenai kesehatan dan pendidikan seks.
4. Ruang
Anak usia empat tahun dapat menaksir jarak yang dekat secara tepat tapi
kemampuan untuk menaksir jarak yang jauh belum berkembang sampai akhir
masa kanak-kanak. Dengan menggunakan petunjuk yang dapat dimengerti anak-
anak dapat belajar menentukan kanan dan kiri dengan benar.
5. Berat
Sebelum anak-anak belajar bahwa benda-benda yang berbeda mempunyai berat
yang berbeda, jarang terjadi bahwa sebelum usia sekolah anak-anak
memperkirakan berat benda sesuai dengan besarnya benda.
6. Bilangan
Anak-anak yang mengikuti taman indria atau taman kanak-kanak biasanya
mengerti bilangan sampai lima. Konsep mengenai bilangan di atas 5 masih sangat
samar-samar.
7. Waktu
Anak-anak belum mengerti tentang lamanya waktu, misalnya berapa lamanya satu
jam itu. Mereka juga belum dapat memperkirakan waktu menurut kegiatan-
kegiatan mereka sendiri. Kebanyakan anak berusia empat atau lima tahun
mengerti tentang hari-hari dalam satu minggu dan pada usia enam tahun mengerti
bulan, tahun, dan musim.
8. Diri sendiri
Pada usia tiga tahun kebanyakan anak-anak mengerti jenis kelamin, nama lengkap
dan nama berbagai anggota tubuhnya. Pada saat ia mulai bermain dengan anak-
anak lain, konsep diri mulai mencakup fakta mengenai kemampuan dan rasnya
namun belum mencakup tingkat social ekonominya.
9. Kesadaran social
Sebelum awal masa kanak-kanak berakhir, kebanyakan anak-anak dapat
membentuk pendapat tentang orang lain, apakah seseorang itu “baik” atau “jahat”,
“pandai” atau “bodoh” miisalnya.
10. Keindahan
Kebanyakan anak muda lebih menyukai musik dengan nada atau irama yang pasti
dan ia senang dengan bentuk-bentuk yang sederhana, warna-warna yang cerah
dan mencolok.
11. Kelucuan
Yang sering dianggap lucu adalah wajah-wajah lucu yang dibuatnya sendiri atau
orang lain, perilaku yang kurang dapat diterima secara social dan kelakar
mengenai binatang piaraan. Permainan kata-kata juga dianggap lucu.

JENIS DISIPLIN YANG DIGUNAKAN PADA AWAL MASA KANAK-KANAK


1. Disiplin otoriter
Ini merupakan bentuk disiplin tradisional dan yang berdasarkan pada ungkapan kuno
yang mengatakan bahwa “menghemat cambukan berarti memanjakan anak”. Dalam
disiplin yang bersifat otoriter, orang tua dan pengasuh yang lain menetapkan
peraturan-peraturan dan memberitahukan abak bahwa ia harus mematuhi aturan-
aturan tersebut. Tidak ada usaha untuk menjelaskan pada anak, mengapa ia harus
patuh dan padanya tidak diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat tentang
adil tidaknya peraturan- peraturan atau apakah peraturan- peraturan itu masuk akal
atau tidak. Kalau anak tidak mengikuti peraturan, ia akan dihukum yang seringkali
kejam dan keras dan yang dianggap sebagai cara untuk mencegah pelanggaran di
masa depan. Alasan mengapa pelanggaran peraturan oleh anak tidak pernah
dipertimbangkan adalah behwa ia mengetahui peraturan itu dan sengaja
melanggarnya, juga tidak perlu diberikan hadiah karena telah mematuhi aturan. Hal
ini dianggap sebagai kewajibannya dan tiap pemberian hadiah dipandang dapat
mendorong anak untuk mengharapkan sogokan agar melakukan sesuatu yang
diwajibkan masyarakat.
2. Disiplin yang lemah
Disiplin yang lemah berkembang sebagai proses terhadap disiplin otoriter yang
dialami oleh banyak orang dewasa dalam masa kanak-kanaknya. Filsafat yang
mendasari teknik disiplin ini adalah bahwa melalui akibat dari perbuatannya sendiri
anak akan belajar bagaimana berperilaku secara social. Dengan demikian anak tidak
diajarkan peraturan- peraturan, ia tidak dihukum karena sengaja melanggar peraturan,
juga tidak ada hadiah bagi anak yang berperilaku social baik. Banyak orang dewasa
saat ini yang cenderung meninggalkan bentuk disiplin itu karena tidak berhasil
memenuhi tiga unsur penting dari disiplin.
3. Disiplin demokratis
Kecenderungan untuk menyenangi disiplin yang berdasarkan prinsip-prinsip
demokratis sekarang meningkat. Prinsip demikian menekankan hak anak untuk
mengetahui mengapa peraturan-peraturan dibuat dan memperoleh kesempatan untuk
mengemukakan pendapatnya sendiri bila ia menganggap bahwa peraturan itu tidak
adil. Sekalipun anak masih sangat muda tapi daripadanya tidak diharapkan perilaku
patuh yang buta-butaan. Diusahakan agar anak mengerti apa arti peraturan- peraturan
dan mengapa kelompok social mengharapkan anak mematuhi peraturan- peraturan
itu. Dalam disiplin yang demokratis hukuman “disesuaikan dengan kejahatn” dalam
arti diusahakan agar hukuman yang diberikan berhubungan dengan segala
perbuatannya, tidak lagi diberi hukuman badan. Penghargaan terhadap usaha-usaha
untuk menyesuaikan dengan harapan social yang tercakup dalam peraturan- peraturan
diperlihatkan melalui pemberian hadiah terutama dalam bentuk pujian dan pengakuan
social.

PENGARUH DISIPLIN PADA KANAK-KANAK


1. Pengaruh pada perilaku
Anak yang orang tuanya lemah akan mementingkan diri sendiri, tidak menghiraukan
hak-hak orang lain, agresif dan tidak social. Anak yang mengalami disiplin yang
keras, otoriter, kan sangat patuh bila dihadapan orang-orang dewasa, namun agresif
dalam hubungannya dengan teman-teman sebayanya. Anak yang dibesarkan di bawah
disiplin yang demokratis belajar mengendalikan perilaku yang salah dan
mempertimbangkan hak-hak orang lain.
2. Pengaruh pada sikap
Anak yang orang tuanya melaksanakan disiplin otoriter maupun disiplin yang lemah
cenderung membenci orang yang berkuasa. Anak yang mengalami disiplin yang
otoriter merasa diperlakukan tidak adil; anak yang orang tuanya lemah merasa bahwa
orang tua seharusnya memperingatkan bahwa tidak semua orang dewasa mau
menerima perilaku tidak disiplin. Disiplin yang demokrat is dapat menyebabkan
kemarahan sementara tapi bukan kebencian. Sikap-sikap yang terbentuk sebagai
akibat dari metode pendidikan anak cenderung menetap dan bersifat umum, tertuju
kepada semua orang yang berkuasa.
3. Pengaruh pada kepribadian
Semakin banyak hukuman fisik digunakan, semakin anak cenderung menjadi
cemberut, karena kepala dan negativistic. Ini mengakibatkan penyesuaian pribadi dan
social yang buruk, yang juga merupakan cirri khas dari anak yang dibesarkan dengan
disiplin yang lemah. Anak yang dibesarkan di bawah disiplin yang demokratis akan
mempunyai penyesuaian pribadi dan penyesuaian social yang terbaik.

KONDISI YANG MENYEBABKAN PERUBAHAN ORANG TUA DAN ANAK


1. Perubahan pada anak
Kalau bayi yang lembut dan menyenangkan menjadi yang lembut dan menyenangkan
menjadi lebih mandiri dan dapat menolong diri sendiri, ia cenderung terus
memberontak, nakal, tegas, menjelajah, menuntut perhatian dan menolak perintah.
Bahkan dari segi penampilan ia tidak lagi menarik seperti bayi.
2. Perubahan sikap orang tua
Dengan lebih mandirinya anak, orang tua menganggap bahwa anaknya tidak lagi
memerlukan perawatan dan perhatian sebesar sebagaimana ia masih bayi. Tetapi
sekalipun ingin mandiri ia kurang senang bila diperhatikan, karena ia sudah terbiasa
diperhatikan sejak masa bayi.
3. Konsep orang tua tentang anak yang “baik”
Kalau anak tidak memenuhi harapan orang tua, orang tua sering menjadi kritis dan
bertindak menghukum. Anak bereaksi terhadap perlakuan ini dengan semakin
negativistic dan menyulitkan.
4. Konsep kekanak-kanakan tentang orang tua yang “baik”
Bagi kebanyakan anak, orang tua yang “baik” adalah yang selalu siap sedia, selalu
melakukan apa yang dikehendaki anak dan kapanpun. Kalau orang tua gagal
mengikuti konsep ini anak akan benci dan hal ini melemahkan kasih saying anak
kepada orang tua.
5. Orang tua kesayangan
Karena ibu lebih banyak berada bersama anak daripada ayah dan karena ibu dapat
lebih mengerti perilaku yang mengganggu, maka banyak anak lebih menyukai ibu
dan hal ini ditunjukkan secara jelas. Kalau ayah tidak senang akan keadaan ini dan
memperlihatkannya dengan bersikap kritis mengenai anak dan perilakunya, hal ini
akan lebih memperlebar jurang antara mereka. Kalau anak laki-laki lebih menyukai
ayah, ibu tidak menyenangi hal ini karena merasa seharusnya ibu yang disenangi anak
berhubung ibu mempunyai tanggung jawab dalam merawat anak.
6. Lebih menyukai orang lain
Bila anak mengikuti taman kanak-kanak atau ditempatkan di pusat perawatan anak,
kadang-kadang anak lebih menyukai guru atau pengasuh. Banyak orang tua yang
merasa tersinggung dan membenci hal ini sehingga memperlebar kesenjangan antara
orang tua dan anak.

AKHIR MASA KANAK-KANAK


PERKEMBANGAN FISIK PADA AKHIR MASA KANAK-KANAK
1. Tinggi
Kenaikaan tinggi per tahun adalh 2 sampai 3 inci. Rata-rata anak perempuan sebelas
tahun mempunyai tinggi badan 58 inci dan anak laki-laki 57,5 inci.
2. Berat
Kenaikan berat lebih bervariasi daripada kenaikan tinggi, berkisar antara 3 sampai 5
pon per tahun, rata-rata anak perempuan sebelas tahun mempunyai berat badan 88,5
pon dan anak laki-laki 85,5 pon.
3. Perbandingan tubuh
Meskipun kepala masih terlampau besar dibandingkan degan bagian tubuh lainnya,
beberapa perbandingan wajah yang kurang baik menghilang dengan bertambah
besarnya mulut dan rahang, dahi melebar dan merata, bibir semakin berisi, hidung
menjadi lebih besar dan lebih terbentuk. Badan memanjang dan menjadi lebih
langsing, leher menjadi lebih panjang, dada melebar, perut tidak buncit, lengan dan
tungkai memanjang (meskipun kelihatan kurus dan tidak berbentuk karena otot-otot
belum berkembang), dan tangan dan kaki dengan lambat tumbuh membesar.
4. Kesederhanaan
Perbandingan tubuh yang kurang baik yang sangat mencolok pada masa akhir kanak-
kanak menyebabkan meningkatnya kesederhanaan pada saat ini. Di samping itu,
kurangnya perhatian terhadap penampilan dan kecenderungan untuk berpakaian
seperti teman-teman tanpa memperdulikan pantas tidaknya, juga menambah
kesederhanaan.
5. Perbandingan otot-lemak
Selamaa akhir masa kaak-kanak, jaringan lemak berkembang lebih cepat daripada
jaringan otot yang perkembanganya baru mulai melejit pada awal pubertas. Anak yang
berbentuk endomorfik jaringan lemaknya jauh lebih banyak daripada jaringan otot
sedangkan pada tubuh mesomorfik keadaaannya terbalik. Pada bentuk tubuh
ektomorfik tidak terdapat jaringan yang melebihi jaringan lainnya sehingg cenderung
tampak kurus.
6. Gigi
Pada permulaan pubertas, umumnya seorang anak sudah mempunyai dua puluh dua
gigi tetap. Keempat gigi terakhir yang disebut gigi kebijaksanaan, muncul selama
masa remaja.

KATEGORI KETERAMPILAN AKHIR MASA KANAK-KANAK


1. Keterampilan menolong diri sendiri
Anak yang lebih besar harus dapat makan, berpakaian, mandi, dan berdandan sendiri
hampir secepat dansemahir orang dewasa, dan keterampilan tidak memerlukan
perhatian sadar yang penting pada awal masa kanak-kanak.
2. Keterampilan menolong orang lain
Keterampilan menurut kategori ini bertalian dengan menolong orang-orang lain. Di
rumah mencaup membesihkan tempat tidur, membersihkan debu dan menyapu. Di
sekolah mencakup mengosongkan tempat sampah dan membersihkan papan tulis. Di
dalam keompok bermain mencakup menolong membuat rumah-rumahan atau
merencanakan lapangan basket.
3. Keterampilan sekolah
Di sekolah, anak mengembangkan berbagai keterampilan yang diperlukan untuk
menulis, menggambar, melukis, membentuktanah liat, menari, mewarnai dengan
krayon, menjahit, memasak, dan pekerjaan tangn degan menggunakan kayu.
4. Keterampilan bermain
Anak yang lebih besar belajar berbagai keterampilan seperti melempar dan
menangkap bola, naik sepeda, sepatu roda, dan berenang.

BEBERAPAA HIBURAN YANG DIGEMARI PADA AKHIR MASA KANAK-


KANAK
1. Membaca
Anak yang lebih besar lebih menyukai buku dan majalah anak-anak yang menekankan
kisah petualangan dan dimana ia dapat membaca tentang tokoh identifikasi diri. Ia
lebih menyukai lingkungan yang menyenangkan dan interaksi kelompok yang positif
dari orang-orang kelas menengah daripada lingkungan yang kaku ada interaksi
kelompok yang negatif dari orang-orang kota. Yang penting, ia ingin akhir cerita yang
bahagia.
2. Buku komik
Terlepas dari tingkat kecerdasan, hampir semua anak menyenangi buku komik, baik
yang bersifat lelucon atau petualangan. Buku komik menarik karena menyenangkan,
menggairahkan, mudah dibaca dan merangsang imajinasi anak.
3. Film
Menonton film merupakan salah satu kegiatan kelompok yang digemari, meskipun
beberapa anak pergi sendiri ke bioskop dengan atau dengan anggota keluarga. Ia
gemar menonton film-film kartun, kisah-kisah petualangan dan film tentang binatang.
4. Radio dan televisi
Televise lebih popular dibading radio, meskipun anak senang mendengarkan music
atau berita olah raga yang tidak disiarkan di televisi. Menonton televisi merupakan
salah satu hiburanyang disukai oleh sebagian anak-anak. Mereka senang pertunjukan
kartun dan acara-acara lain yang diperuntukkan bagi tingkat usianya di samping acara-
acara untuk orang dewasa. Seperti yang ditunjukkan oleh Leifer dkk., “Televisi bukan
hanya merupakan hiburan bagi anak-anak, tetapi juga sarana sosialisasi yang penting”.
5. Melamun atau berkhayal
Anak yang kesepian di rumah dan mempunyai sedikit bermain sering menghibur diri
sendiri dengan melamun. Yang khas, ia membayangkan diri sendiri sebagai pahlawan
yang “menang” dalam dunia impiannya, dan kemudian mengimbangi kurangnya
teman dan perhatian yang ia peroleh dalam hidup sehari-hari.

KATEGORI KONSEP YANG UMUM PADA AKHIR MASA KANAK-KANAK


1. Kehidupan
Meskipun beberapa anak sulit untuk mengerti bahwa banyak hal yang bergerak
seperti sungai misalnya, bukan merupakan sesuatu yang hidup, namun mereka
semakin sadar bahwa gerakan bukanlah satu-satuya kriteria dari kehidupan.
2. Kematian
Anak yang mengalami kematian anggota keluarga atau matinya hewan peliharaan,
mempunyai pengertian yang baik tentang makna kematian, dan bobot emosi dari
konsepnya tentang kematian diwarnai oleh reaksi-reaksi oangdi sekitarnyaa.
3. Kehidupan setelah mati
Konsep tentang kehidupan setelah mati terutama bergantung pada perinta agama
yang diterima anak dan pada apa yang diyakini oleh teman-temannya.
4. Fungsi-fungsi tubuh
Sampai anak mempelajari kesehatan di sekolah dasar, banyak konsep tentang fungsi
tubuh yang kurang tepat dan kurang lengkap, terutama tentang fungsi tubuh internal.
5. Ruang
Dengan menggunakan skala dan penggaris, anak mempelajari apa arti dari ons,
kilogram, centimeter, dan bahkan mil. Dari laporan tentang penjelajahan ruang
dalam media massa, anak-anak mengembangkan konsep tentang ruang angkasa.
6. Bilangan
Bilangan memperoleh arti baru setelah anak menggunakan uang dan memecahkan
soal-soal berhitung. Pada saat berusia sembilan atau sepuluh tahun, anak mengerti
konsep bilangan sampai lebih dari 1.000.
7. Hubungan sebab akibat
Konsep tentang penyebab fisik biasanya berkembang lebih dulu daripada konsep
tentang penyebab psikologis. Misalnya, anak-anak lebih dulu mengerti apa yang
menyebabkan hujan atau salju daripada apa yang menyebabkan seseorang menjadi
marah.
8. Uang
Anak mengerti nilai berbagai uang logam dan uang kertas bilamana ia mulai
menggunakan uang. Kesempatan untuk menggunakan uang sangat beragam dan
lebih besar pada keluarga yang status eknomi sosialnya lebih rendah.
9. Waktu
Jadwal sekolah yang ketat memungkinkan anak mengembangkan konsep tentang apa
yang dapat dicapai dalam jangka tertentu. Pelajaran pengetahuan sosial di sekolah
dan media massa akan membantu anak mengembangkan konsep kronologi searah.
10. Diri
Konsep anak tentang diri sendiri semakin jelas ketika ia mengenal dirinya sendiri
melalui pandangan guru-guru dan teman-teman sekelas dan ketika membandingkan
kemampuan dan prestasinya dengan kemampuan dan prestasi teman-temannya.
11. Peran seks
Sebelum masa kanak-kanak berakhir, selain mengembangkan konsep yang jelas
tentang peran seks yang sesuai untuk anak-anak laki-laki dan perempuan, anak juga
beajar peran pria dianggap lebih berwibawa daripada peran wanita.
12. Peran social
Anak yang lebih tua sadar akan sosial, agama, ras, dan status sosial ekonomi dari
teman sebaya mereka dan mereka menerima stereotip budaya dan sikap dewasa
terhadap status ini. Hal ini menimbulkan kesadaran kelompok dan prasangka sosial.
13. Keindahan
Anak cenderung menilai keindahan sesuai dengan standar kelompok, bukan sesuai
dengan standar kehidupannya sendiri. Apa yang oleh kelompok dianggap indah atau
baik, diterima sebagai konsepnya sendiri.
14. Kelucuan
Konsep anak tentang kelucuan sebagian berdasarkan pada pengamatan yang
dipandang lucu oleh orang lain dan sebagian pada penangkapannya sendiri, seperti
teka-teki.

ESENSI DISIPLIN BAGI ANAK-ANAK YANG LEBIH BESAR


1. Bantuan dalam mendasarkan kode moral
Dalam kasus anak yang lebih besar, pengajaran mengenai benar dan salah seyogianya
menekankan alasan mengapa pola perilaku tertentu diterima, dan seyogianya
diarahkan untuk menolong anak memperluas konsep tertentu menjadi konsep yang
lebih luas, lebih abstrak.
2. Ganjaran
Ganjaran, seperti pujian atau perlakuan secara khusus karena berhasil mengatasi
situasi sulit dengan baik, mempunyai nilai pendidikan yang kuat jika pujian dan
perlakuan khusus menunjukan pada anak bahwaa ia bertindak benar dan juga jika
mendorong anak untuk mengulang perilaku yang baik. Bagaimana pun juga, jika
pujian dan perlakuan khusus harus menjadi efektif maka ganjaran harus sesuai dengan
usia dan tingkat perkembangan anak.
3. Hukuman
Seperti ganjaran, hukuman harus sesuai dengan perkembangan dan harus dilakukan
secara adil. Kalau tidak dapat menimbulkan kebencian anak. Hukuman juga harus
mendorong anak untuk menyesuaikan diri dengan harapan sosial di masa berikutnya.
4. Konsistensi
Disiplin yang baik selalu konsisten. Apa yang benar hari ini, besok juga benar dan lusa
pun juga benar. Perbuatan yang salah harus mendapatkan hukuman yang sama bila
perbuatan itu setiap kali diulang, dan perbuatan yang benar juga harus mendapat
ganjaran yang sama.

PELANGGARAN YANG UMUM PADA AKHIR MASA KANAK-KANAK


1. Di rumah
• Berkelahi dengan saudara-saudara
• Merusak milik saudaranya
• Bersikap kasar kepada saudara yang dewasa
• Malas melakukan kegiatan rutin
• Melalaikan tanggung jawab
• Berbohong
• Tidak terus terang
• Mencuri milik saudaranya
• Sengaja menumpahkan sesuatu
2. Di sekolah
• Mencuri
• Menipu
• Berbohong
• Menggunakan kata-kataa yang kasar dan kotor
• Merusak milik sekolah
• Membolos
• Mengganggu anak-anak lain dengan mengejek, menggertak, dan
menciptakan gangguan
• Membaca komik atau mengunyah permen karet seama pelajaran
berlangsung
• Berbisik-bisik, melucu, atau berbuat gaduh di kelas
• Berkelahi dengan teman sekelas
MINAT-MINAT YANG UMUM PADA AKHIR MASA KANAK-KANAK
1. Penampilan
Anak yang lebih besar akan dininati oleh orang lain hanya kalau ia begitu berbeda
dari teman-teman sebayanya sehingga ia merasa menarik perhatian.
2. Pakaian
Anak menaruh minat pada pakaian baru, tetapi harus sama dengan apa yang dipakai
teman-temannya. Ia juga menyukai warna-warna pakaian tertentu.
3. Nama dan julukan
Nama awal diminati hanya kalau berbeda dengan nama teman-temannya atau kalau
ia merasa menarik perhatian orang dengan namanya. Karena nama keluarga dan
nama tengah jarang digunakan, anak hanya menaruh minat bila nama
menggolongkannya dengan kelompok ras atau agama yang dikenai prasangka. Kalau
nama menyadari bahwa nama julukan yang diberikan teman-teman mencerminkan
penilaian teman-teman, ia tidak menyukai nama julukan yang berupa cemoohan.
4. Agama
Minat anak yang mengikuti sekolah Minggu berkurang, tidak lagi seperti
sebelumnya, meskipun anak masih senang dengan teman-teman. Namun anak
seringkali meragukan pelajaran agama dan kemanjuran doa.
5. Tubuh manusia
Karena tidak dapat mengamati fungsi-fungsi tubuh secraa langsung, anak berusaha
memuaskan keingintahuannya tentang apa yamg terjadi di dalam tubuh dengan
bertanya, membaca buku atau melihat gambar-gambar.
6. Kesehatan
Minat terhadap kesehatan tubuh hanya kalau anak sakit atau menderita penyakit
kronis seperti asma. Anak laki-laki menganggap minat ini sebagai tanda seorang
banci.
7. Seks
Anak ingin mengetahui lebih dalam mengenai hubungan antara kedua jenis seks,
peran ayah dalam reproduksi dan proses kelahiran. Anak berusaha memperoleh
informasi dari buku-buku atau teman-teman yang dengannya mereka saling bertukar
cerita-cerita yang “kotor” dan berbagai lelucon.
8. Sekolah
Umumnya anak pada mulanya bergairah ke sekolah. Pada akhir kelas dua, banyak
yang merasa bosan, mengembangkan sikap menentang dan kritis terhadap tugas-
tugas akademis meskipun anak masih menyukai kegiatan non akademis. Sikap anak
masih dipengaruhi oleh menarik tidaknya cara guru menyajikan bahan yang harus
dipelajari dan bagaimana ia memandang bahan-bahan ini dalam kaitannya dengan
pekerjaan di masa depan.
9. Pekerjaan masa depan
Awal minat tentang pekerjaan masa depan berkisar pada pekerjaan-pekerjaan yang
dianggap sangat mempesonakan, mengasyikkan, dan yang bergengsi atau yang
melibatkan kegiatan-kegiatan atau seragam yang baginya terasa penting. Anak
kurang mempertimbangkan kemampuan unutk melakukan pekerjaan itu.
10. Simbol status
Bila anak melihat dan merasakan pentingnya status sosial ekonomi, maka mereka
akan menaruh minat besar terhadap simbol-simbol nyata status sosial ekonomi
keluarganya, seperti mobil atau rumah besar.
11. Otonomi
Berapa besar minat akan otonomi anak terutama bergantung pada berapa besar
otonomi yang dimiliki teman-temannya. Biasanya anak akan puas apabila terdapat
persamaan atau sedikit lebih banyak daripada teman-temannya.

KONDISI-KONDISI YANG MENYEBABKAN MEROSOTNYA HUBUNGAN


KELUARGA
1. Sikap terhadap peran orang tua
orang tua yang kurang menyukai peran orang tua dan merasa bahwa waktu, usaha,
dan uang dihabiskan oleh anak, cenderung mempunyai hubungan yang buruk dengan
anak-anaknya.
2. Harapan orang tua
Pada saat anak masuk sekolah, banyak orang tua yang berpengharapan tinggi
mengenai mutu tugas-tugas sekolah dan besarnya tanggung jawab anak di rumah.
Kalau anak gagal memenuhi harapan ini, orang tua sedikit mengkritik, memarahi, dan
menghukum.
3. Metode pelatihan anak
Pelatihan anak otoriter, yang sering digunakan dalam keluarga besar dan disiplin
lunak yang terutama digunakan pada keluarga kecil, keduanya menimbulkan
pertentangan di rumah dan menyebabkan kebencian pada anak. Disiplin yang
demokratis biasanya menghasilkan hubungan keluarga yang baik.
4. Status sosial ekonomi
Kalau anak merasa bahwa rumah dan miliknya lebih buruk daripada rumah dan
benda-benda milik teman-teman, anak sering menyalahkan orang tua, dan orang tua
cenderung membenci hal itu.
5. Pekerjaan orang tua
Pandangan mengenai pekerjaan ayah mempengaruhi perasaan anak. Kalau ibu
bekerja di luar rumah, sikap anak terhadap ibu diwarnai oleh pandangan teman-teman
mengenai wanita yang bekerja di luar rumah dan oleh banyaknya beban tanggung
jawab yang harus dilakukan di rumah.
6. Perubahan sikap kepada orang tua
Dalam hubungan dengan orang tua, teman-teman dan dari apa yang dibaca atau
dilihat anak di televisi atau film-film, anak membentuk konsep tentang ibu dan ayah
yang ideal. Kalau orang tuanya tidak sesuai dengan idealnya, anak cenderung
bersikap kritis dan membandingkan orang tuanya dengan orang tua teman-temannya.
7. Pertentangan atar saudara
Anak yang lebih besar sering mengkritik penampilan dan perilaku adiknya, yang
sebaliknya senang menggoda dan memerintah adik yang lebih muda lagi. Bila orang
tua berusaha menghentikan hal ini, maka mereka dianggap pilih kasih. Anak-anak
kemudian bersatu menghadapi orang tua dan saudara yang dianggap merupakan
kesayangan orang tua.
8. Perubahan sikap terhadap sanak keluarga
Anak yang lebih besar tidak senang lagi dengan sanak keluarganya seperti ketika ia
masih kecil, dan cenderung menganggap mereka ”terlalu tua” atau ”terlalu
memerintah”. Kalau anak dianggap hadir dalam pertemuan keluarga, ia sering
menentang dan mengatakan bahwa pertemuan itu ”membosankan”. Sanak keluarga
membenci sikap ini dan memarahi si anak.
9. Orang tua tiri
Anak yang masih ingat orang tua kandung yang tidak ada lagi bersamanya di rumah,
biasanya membenci orang tua tiri dan memperlihatkannya dengan bersikap kritis,
negativistis dan perilaku yang sulit. Hal ini menimbulkan pertentangan di rumah.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSEP DIRI PADA AKHIR MAS


KANAK-KANAK
1. Kondisi fisik
Kesehatan yang buruk dan cacat-cacat fisik menghalangi anak untuk bermain dengan
teman-teman dan menyebabkan anak merasa rendah diri dan terbelakang.
2. Bentuk tubuh
Anak yang terlalu gemuk atau terlalu kecil menurut usianya tidak mampu mengikuti
teman-temannya sehingga mengakibatkan perasaan rendah diri.
3. Nama dan julukan
Nama yang mengakibatkan cemoohan atau yang menggambarkan status kelompok
minoritas, dapat mengakibatkan perasaan rendah diri. Julukan yang diambil dari
kelucuan fisik atau sifat kepribadian dapat dapat menimbulkan rendah diri dan
dendam.
4. Status sosial ekonomi
Kalau anak merasa mempunyai rumah yang lebih baik, pakaian yang lebih bagus, dan
alat-alat bermain yang lebih baik daripada milik teman-teman sebayanya, ia akan
merasa lebih tinggi. Sebaliknya, kalau anak merasa bahwa status sosial ekonominya
lebih rendah daripada teman-teman sebayanya, ia cenderung merasa rendah diri.
5. Lingkungan sekolah
Penyesuaian diri yang baik didukung oleh guru yang kompeten dan yang penuh
pengertian. Sedangkan guru yang menerapkan disiplin yang dianggap tidak adil oleh
anak atau yang menentang anak memberi pengaruh yang berbeda.
6. Dukungan sosial
Dukungan atau kurangnya dukungan dari teman-teman mempengaruhi kepribadian
anak melalui konsep diri yang terbentuk. Yang paling terpengaruh adalah anak yang
sangat populer dan anak yang sangat terkucil.
7. Keberhasilan dan kegagalan
Berhasil menyelesaikan tugas-tugas memberikan rasa percaya diri dan menerima diri
sendiri, sedangkan kegagalan menyebabkan timbulnya perasaan kurang mampu.
Semakin hebat kegiatannya, semakin besar pengaruh keberhasilan atau kegagalan
terhadap konsep diri. Kegagalan yang berulang-ulang menimbulkan akibat yang
merusak pada kepribadian anak.
8. Seks
Anak perempuan menyadari bahwa peran seks yang harus dijalankan lebih rendah
daripada peran anak laki-laki, dan kesadaran ini menyebabkan menurunnya penilaian
diri. Anak menerima penilaian masyarakat terhadap perannya sebagai sesuatu yang
lebih rendah sehingga anak menilai dirinya kurang.
9. Intelegensi
Intelegensi yang sangat berbeda dari yang normal akan memberikan pengaruh buruk
kepada kepribadian. Anak yang intelegensinya kurang dari rata-rata merasakan
kekurangannya dan merasakan adanya sikap yang menolak dari kelompok. Akibatnya
anak menjadi malu, tertutup, acuh tak acuh, atau anak menjadi agresif terhadap
teman-teman yang menolak dirinya. Anak dengan tingkat kecerdasan yang sangat
tinggi juga cenderung mempunyai konsep diri yang buruk. Ini sebagian karena orang
tua mengharap terlalu banyak dari anak sehingga ia merasa gagal, dan sebagian lagi
karena sikap teman-teman yang kurang baik karena ia seringkali menjadi sombong
dan kurang sabar terhadap teman-teman yang kurang pandai.

BAHAYA PSIKOLOGIS PADA AKHIR MASA KANAK-KANAK


1. Bahaya dalam berbicara
Ada empat bahaya berbicara yang umum terdapat pada akhir masa kanak-kanak:
• Kosa kata yang kurang dari rata-rata menghambat tugas-tugas di
sekolah dan menghambat komunikasi dengan orang-orang lain.
• Kesalahan dalam berbicara, seperti salah ucap dan kesalahan tata
bahasa, cacat dalam berbicara seperti gagap atau pelat, akan membuat anak
menjadi sangat sadar diri sehingga anak hanya berbicara jika perlu.
• Anak yang mempunyai kesulitan berbicara dalam bahasa yang
digunakan dalam lingkungan sekolah akan terhalang dalam usaha untuk
berkomunikasi dan mudah merasa bahwa ia ”berbeda”.
• Pembicaraan yang bersifat egosentris, yang mengkritik dan
merendahkan orang lain, dan yang bersifat membual akan ditentang oleh teman-
temannya.
2. Bahaya emosi
Anak akan dianggap tidak matang baik oleh teman-teman sebayanya maupun orang-
orang dewasa, kalau ia masih menunjukkan pola-pola ekspresi emosi yang kurang
menyenangkan, seperti amarah yang meledak-ledak, dan juga bila emosi yang buruk
seperti marah dan cemburu masih sangat kuat sehingga kurang disenangi oleh orang-
orang lain.
3. Bahaya sosial
Terdapat lima jenis anak yang penyesuaiannya dipengaruhi oleh bahaya sosial.
Pertama, anak yang ditolak atau diabaikan oleh kelompok teman-teman akan kurang
mempunyai kesempatan untuk belajar bersifat sosial. Kedua, anak yang terkucil, yang
tidak memiliki persamaan dengan kelompok teman-teman akan menganggap dirinya
berbeda dan merasa tidak mempunyai kesempatan untuk diterima oleh teman-teman.
Ketiga, anak yang mobilitas dan sosial dan grafisnya tinggi mengalami kesulitan
untuk diterima dalam kelompok yang sudah terbentuk. Keempat, anak yang berasal
dari kelompok ras atau kelompok agama yang terkena prasangka. Kelima, para
pengikut yang ingin menjadi pemimpin kemudian menjadi anak yang penuh dengki
dan tidak puas.
4. Bahaya bermain
Anak yang kurang memiliki dukungan sosial akan terasa kekurangan kesempatan
untuk mempelajari permainan dan olah raga yang penting untuk menjadi anggota
kelompok. Anak yang dilarang berkhayal karena membuang waktu, atau dilarang
melakukan kegiatan kreatif dan bermain akan mengembangkan kebiasaan penurut
yang kaku.
5. Bahaya dalam konsep diri
Anak yang mempunyai konsep diri yang ideal biasanya merasa tidak puas terhadap
diri sendiri dan tidak puas terhadap perlakuan orang lain. Kalau konsep sosialnya
didasarkan pada berbagai stereotip, ia cenderung berprasangka dan bersifat
diskriminatif dalam memperlakukan orang lain. Karena konsepnya berbobot emosi
maka itu cenderung menetap dan terus memberikan pengaruh buruk pada
penyesuaian sosial anak.
6. Bahaya moral
Ada enam bahaya yang umumnya dikaitkan dengan perkembangan sikap moral dan
perilaku anak-anak:
• Perkembangan kode moral berdasarkan konsep teman-teman atau berdasarkan
konsep media massa tentang benar dan salah yang tidak serupa dengan kode
orang dewasa.
• Tidak berhasil mengembangkan suara hati sebagai pengawas dalam terhadap
perilaku.
• Disiplin yang tidak konsisten membuat anak tidak yakin akan apa yang
sebaiknya dilakukan.
• Hukuman fisik merupakan contoh agresivitas anak.
• Menganggap dukungan teman-teman terhadap perilaku yang salah begitu
memuaskan sehingga perilaku itu menjadi kebiasaan.
• Tidak sabar terhadap perbuatan orang lain yang salah.
7. Bahaya yang menyangkut minat
Ada dua bahaya yang umum dihubungkan minat masa kanak-kanak. Pertama, tidak
berminat pada hal-hal yang dianggap penting oleh teman-teman sebaya. Kedua,
mengembangkan sikap yang kurang baik terhadap minat yang dapat bernila bagi
dirinya seperti kesehatan atau sekolah.
8. Bahaya dalam penggolongan peran seks
Ada dua bahaya yang umum dalam penggolongan peran seks. Kegagalan untuk
mempelajari organ-organ peran seks yang dianggap pantas oleh teman-teman sebaya,
dan ketidakmauan untuk melakukan peran seks yang disetujui. Bahaya yang pertama
cenderung berkembang bila anak dibesarkan oleh keluarga dimana orang tuanya
melakukan peran seks yang berbeda dengan orang tua teman-teman. Bahaya kedua
yang berkembang bilamana anak laki-laki diharapkan melakukan peran sederajat dan
anak perempuan diharapkan melakukan peran-peran tradisional.
9. Bahaya hubungan keluarga
Pertentangan dengan anggota keluarga mengakibatkan dua hal, yaitu melemahkan
ikatan keluarga dan menimbulkan kebiasaan pola penyesuaian yang buruk, serta
masalah-masalah yang dibawake luar rumah.
10. Bahaya dalam perkembangan kepribadian
Ada dua bahaya yang serius dalam perkembangan kepribadian periode ini. Pertama,
perkembangan konsep diri yang buruk yang mengakibatkan penolakan diri. Kedua,
egosentrisme yang merupakan lanjutan dari awal masa kanak-kanak. Egosentrisme
merupakan hal yang serius karena memberikan rasa penting diri yang palsu.
AKIBAT PERUBAHAN MASA PUBER PADA SIKAP DAN PERILAKU
1. Ingin menyendiri
Kalau perubahan pada masa puber mulai terjadi, anak-anak biasanya menarik diri dari
teman-teman dan dari berbagai kegiatan keluarga, dan sering bertengkar dengan
teman-teman dan dengan anggota keluarga. Anak puber kerap melamun betapa
seringnya ia tidak dimengerti dan diperlakukan dengan kurang baik, dan ia juga
mengadakan eksperimen seks melalui masturbasi. Gejala menarik diri ini mencakup
ketidakinginan berkomunikasi dengan orang-orang lain.
2. Bosan
Anak puber bosan dengan permainan yang sebelumnya amat digemari, tugas-tugas
sekolah, kegiatan-kegiatan sosial, dan kehidupan pada umumnya. Akibatnya anak
sedikit sekali bekerja sehingga prestasinya di berbagai bidang menurun. Anak
menjadi terbiasa untuk tidak mau berprestasi khususnya karena sering timbul
perasaan akan keadaan fisik yang tidak normal.
3. Inkoordinasi
Pertumbuhan pesat dan tidak seimbang mempengaruhi pola koordinasi gerakan, dan
anak akan merasa kikuk dan janggal selama beberapa waktu. Setelah pertumbuhan
melambat, koordinasi akan membaik secara bertahap.
4. Antagonisme sosial
Anak puber seringkali tidak mau bekerja sama, sering membantah dan menentang.
Permusuhan terbuka antara dua seks yang berlainan diungkapkan dalam kritik, dan
komentar-komentar yang merendahkan. Dengan berlanjutnya masa puber, anak
kemudian menjadi lebih ramah, lebih dapat bekerja sama dan lebih sabar kepada
orang lain.
5. Emosi yang meninggi
Kemurungan, merajuk, ledakan amarah dan kecenderungan untuk menangis karena
hasutan yang sangat kecil merupakan ciri-ciri begian awal masa puber. Pada masa ini
anak merasa khawatir, gelisah, dan cepat marah. Sedih, mudah marah dan suasana
hati yang negatif sangat sering terjadi selama masa prahaid dan awal periode haid.
Dengan semakin matangnya keadaan fisik anak, ketegangan lambat laun berkurang
dan anak sudah mulai mampu mengendalikan emosinya.
6. Hilangnya kepercayaan diri
Anak remaja yang tadinya sangat yakin pada diri sendiri, sekarang menjadi kurang
percaya diri dan takut akan kegagalan karena daya tahan fisik menurun dan karena
kritik yang bertubi-tubi datang dari orang tua dan teman-temannya. Banyak anak laki-
laki dan perempuan setelah masa puber mempunyai perasaan rendah diri.
7. Terlalu sederhana
Perubahan tubuh yang terjadi selama masa puber menyebabkan anak menjadi sangat
sederhana dalam segala penampilannya karena takut orang-orang lain akan
memperhatikan perubahan yang dialaminya dan memberi komentar yang buruk.

MASA REMAJA
PERUBAHAN TUBUH SELAMA MASA REMAJA
1. Perubahan eksternal
• Tinggi
Rata-rata anak perempuan mencapai tinggi yang matang antara usia tujuh belas dan
delapan belas tahun, dan rata-rata anak laki-laki kira-kira setahun sesudahnya.
Anak yang pada masa bayi diberi imunisasi biasanya lebih tinggi, dari usia ke usia
dibandingkan denga bayi yang tidak diberi imunisasi, yang karena itu lebih banyak
menderita sakit sehingga cenderung memperlambat pertumbuhan.
• Berat
Perubahan berat badan mengikuti jadwal yang sama dengan perubahan tinggi.
Tetapi berat badan sekarang tersebar ke bagian-bagian tubuh yang tadinya hanya
mengandung lemak sedikit atau tidak mengandung lemak sama sekali.
• Proporsi tubuh
Berbagai anggota tubuh lambat laun mencapai perbandingan tubuh yang baik.
Misalnya, badan melebar dan memanjang sehingga anggota badan tidak lagi
kelihatan terlalu panjang.
• Organ seks
Baik organ seks pria maupun organ seks wanita mencapai ukuran yang matang
pada akhir masa remaja, tetapi fungsinya belum matang sampai beberapa tahun
kemudian.
• Ciri-ciri seks sekunder
Ciri-ciri seks sekunder yang utama berada pada tingkat perkembangan yang matang
pada akhir masa remaja.
2. Perubahan internal
• Sistem pencernaan
Perut menjadi lebih panjang dan tidak lagi terlampau berbentuk pipa, usus
bertambah panjang dan bertambah besar, otot-otot di perut dan dinding-dinding
usus menjadi lebih tebal dan lebih kuat, hati bertambah berat dan kerongkongan
bertambah panjang.
• Sistem peredaran darah
Jantung tumbuh pesat selama masa remaja, pada usia tujuh belas dan delapan belas
tahun, beratnya dua belas kali berat pada waktu lahir. Panjang dan tebal dinding
pembuluh darah meningkat dan mencapai tingkat kematangan bilamana jantung
sudah matang.
• Sistem pernapasan
Kapasitas paru-paru anak perempuan hampir matang pada usia tujuh belas tahun,
dan anak laki-laki mencapai tingkat kematangan beberapa tahun kemudian.
• Sistem endokrin
Kegiatan gonad yang meningkat pada masa puber menyebabkan
ketidakseimbangan sementara dari seluruh sistem endokrin pada awal masa puber.
Kelenjar-kelenjar seks berkembang pesat dan berfungsi, meskipun belum mencapai
ukuran matang sampai akhir masa remaja atau awal masa dewasa.
• Jaringan tubuh
Perkembangan kerangka berhenti rata-rata pada usia delapan belas. Jaringan, selain
tulang, terus berkembang sampai tulang mencapai ukuran matang, khususnya bagi
perkembangan jaringan otot.

PENGELOMPOKAN SOSIAL REMAJA


1. Teman dekat
Remaja biasanya mempunyai dua atau tiga orang teman dekat, atau sahabat karib.
Mereka adalah sesama seks yang mempunyai minat dan kemampuan yang sama.
Teman dekat saling mempengaruhi satu sama lain meskipun kadang-kadang juga
bertengkar.
2. Kelompok kecil
Kelompok ini biasanya terdiri dari kelompok teman-teman dekat. Pada mulanya terdiri
dari seks yang sama, tetapi kemudian meliputi kedua jenis seks.
3. Kelompok besar
Kelompok besar, yang terdiri dari beberapa kelompok kecil dan kelompokteman
dekat, berkembang dengan meningkatnya minat akan pesta dan berkencan. Karena
kelompok ini besar, maka penyesuaian minat berkurang di antara anggota-anggotanya
sehingga terdapat jarak sosial yang lebih besar di antara mereka.
4. Kelompok yang terorganisasi
Kelompok pemuda yang dibina oleh orang dewasa dibentuk oleh sekolah dan
oragnisasi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sosial para remaja yang tidak
mempunyai klik atau kelompok besar. Banyak remaja yang mengikuti kelompok
deperti itu merasa diatur dan berkurang minatnya ketika berusia enam belas atau tujuh
belas tahun.
5. Kelompok geng
Remaja yang tidak termasuk klik atau kelompok besar dan merasa tidak puas dengan
kelompok yang terorganisasi mungkin mengikuti kelompok geng. Anggota geng yang
biasanya terdiri dari anak-anak sejenis dan minat utama mereka adalah untuk
menghadapi penolakan teman-teman melalui perilaku antisosial.

PERUBAHAN FUNDAMENTAL DALAM MORALITAS SELAMA MASA REMAJA


1. Pandangan moral individu makin lama makin menjadi lebih abstrak dan kurang
konkret.
2. Keyakinan moral lebih terpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah.
Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang dominan.
3. Penilaian moral menjadi semakin kognitif. Ini mendorong remaja lebih berani
menganalisis kode sosial dan kode pribadi daripada masa kanak-kanak dan berani
mengambil keputusan terhadap berbagai masalah moral yang dihadapinya.
4. Penilaian moral menjadi kurang egosentris.
5. Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti bahwa Penilaian
moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan psikologis.

KONDISI-KONDISI YANG MEMPENGARUHI KONSEP DIRI REMAJA


1. Usia kematangan
Remaja yang matang lebih awal, yang diperlakukan seperti orang yang hampir
dewasa, mengembangkan konsep diri yang menyenangkan sehingga dapat
menyesuaikan diri dengan baik. Remaja yang matang terlambat, yang diperlakukan
seperti anak-anak, merasa salah dimengerti dan bernasip kurang baik sehingga
cenderung berperilaku kurang menyesuaikan diri.
2. Penampilan diri
Penampilan diri yang berbeda membuat remaja merasa rendah diri meskipun
perbedaan yang ada menambah daya tarik fisik. Tiap cacat fisik merupakan sumber
yang memalukan yang mengakibatkan perasaan rendah diri. Sebaliknya, daya tarik
fisik menimbulkan penilaian yang menyenangkan tentang ciri kepribadian dan
menambah dukungan sosial.
3. Kepatutan seks
Kepatutan seks dalam penampilan diri, minat, dan perilaku membantu remaja
mencapai konsep diri yang baik. Kepatutan seks membuat remaja sadar diri dan hal ini
memberi akibat buruk pada perilakunya.
4. Nama dan julukan
Remaja peka dan merasa malu bila teman-teman sekelompok menilai namanya buruk
atau mereka memberi nama julukan yang bernada cemoohan.
5. Hubungan keluarga
Seorang remaja yang mempunyai hubungan yang erat dengan seorang anggota
keluarga akan mengidentifikasikan diri dengan orang ini dan ingin mengembangkan
pola kepribadian yang sama. Bila tokoh ini sesama jenis, remaja akan tertolong untuk
mengembangkan konsep diri yang layak untuk jenis seksnya.
6. Teman-teman sebaya
Teman-teman sebaya mempengaruhi pola kepribadian remaja dalam dua cara.
Pertama, konsep diri remaja merupakan cerminan dari anggapan tentang konsep
teman-teman tentang dirinya. Kedua, ia berada dalam tekanan untuk mengembangkan
ciri-ciri kepribadian yang diakui oleh kelompok.
7. Kreativitas
Remaja yang semasa kanak-kanak didorong untuk kreatif dalam bermain dan dalam
tugas-tugas akademis, mengembangkan perasaan individualitas dan identitas yang
memberi pengaruh yang baik pada konsep dirinya. Sebaliknya, remaja yang sejak awal
masa kanak-kanak didorong untuk mengikuti pola yang sudah diakui akan kurang
mempunyai perasaan identitas dan individualitas.
8. Cita-cita
Bila remaja mempunyai cita-cita yang tidak realistik, akan mengalami kegagalan. Hal
ini akan menimbulkan perasaan tidak mampu dan reaksi-reaksi bertahan dimana ia
menyalahkan orang lain atas kegagalannya. Remaja yang realistik tentang
kemampuannya lebih banyak mengalami keberhasilan daripada kegagalan. Ini akan
menimbulkan kepercayaan diri dan kepuasan diri yang lebih besar yang memberikan
konsep diri yang lebih baik.

DEWASA AWAL
PEMBAGIAN MASA DEWASA
1. Masa dewasa dini
Dasa dewasa dini dimulai pada umur 18 tahun sampai kira-kira umur 40 tahun, saat
perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan
reproduktif.
2. Masa dewasa madya
Masa dewasa madya dimulai pada umur 40 tahun sampai pada umur 60 tahun, yakni
saat baik menurunnya kemampuan fisik dan psikologis yang jelas nampak pada setiap
orang.
3. Masa dewasa lanjut (usia lanjut)
Masa dewasa lanjut (senescence), atau usia lanjut dimulai pada umur 60 tahun sampai
kematian. Pada waktu ini baik kemampuan fisik maupun psikologis cepat menurun,
tetapi teknik pengobatan modern, serta upaya dalam hal berpakaian dan dandanan,
memungkinkan pria dan wanita berpenampilan, bertindak dan berperasaan seperti kata
mereka masih lebih muda.

BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PARTISIPASI SOSIAL PADA


MASA DEWASA DINI
1. Mobilitas sosial
Semakin besar keinginan orang dewasa muda untuk meningkatkan status sosialnya
semakin giat pula ia berusaha melibatkan diri dengan organisasi-organisasi masyarakat
yang akan membantunya untuk naik jenjang sosial yang lebih tinggi.
2. Status sosial ekonomi
Apakah sudah berumah tangga atau belum orang dewasa muda yang mempunyai
status sosial ekonomi yang baik akan lebih mampu berperan dalam berbagai kegiatan
sosial, terutama kegiatan di luar rumah, dibandingkan dengan orang yang mempunyai
status sosial yang kurang baik.
3. Lamanya tinggal dalam suatu kelompok masyarakat
Banyak orang dewasa muda yang harus pindah ke suatu lingkungan baru berpartisipasi
aktif dalam organisasi masyarakat sebagai cara untuk bertemu dengan masyarakat dan
menemukan teman.
4. Kelas sosial
Orang dewasa muda kelas tinggi dan menengah lebih sering aktif dalam berbagai
organisasi masyarakat aripada mereka dari golongan masyarakat bawah. Di samping
itu mereka juga lebih banyak duduk dalam kepemimpinan organisasi tersebut. Mereka
juga mempunyai lebih banyak teman akrab, lebih sering menjamu dan lebih banyak
berkunjung, tetapi kurang menghabiskan waktu dengan sanak saudara dibanding
dengan anggota-anggota kelas bawah.
5. Lingkungan
Kehidupan sosial orang dewasa muda yang tinggal di kota besar mungkin lebih
banyak dipusatkan pada keluarga dan sanak saudara dibandingkan dengan mereka
yang hidup di kota kecil dan di pedesaan yang lebih mengenal keramahtamahan dan
keakraban antar tetangga.
6. Jenis kelamin
Pria yang telah menikah lebih bebas berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan sosial di
luar rumah dibandingkan dengan wanita yang telah menikah yang sering harus
membatasi kegiatan-kegiatan sosial mereka pada lingkungan rumah dan rukun
tetangga. Wanita yang belum menikah, sebaliknya sering lebih aktif dalam kegiatan
masyarakat dibandingkan dengan pria yang masih lajang.
7. Umur kematangan sosial
Pria yang lebih cepat dewasa lebih aktif dalam kegiatan masyarakat dan duduk dalam
kepengurusan organisasi-organisasi masyarakat dibandingkan dengan pria yang
terlambat dewasa. Wanita yang cepat dewasa tetap aktif di bidang sosial apabila
keadaan memungkinkan.
8. Urutan kelahiran
Anak pertama, sering memiliki perasaan tidak aman, sesudah dewasa cenderung
menjadi pengikut dan lebih aktif dalam kegiatan masyarakat daripada anak yang lahir
belakangan.

KONSEP PERAN SEKS DEWASA


1. Konsep tradisional
Konsep peran seks tradisional
• Pria

• Wanita
2. Konsep egilitarian
• Pria
• Wanita

RINTANGAN YANG MENGHAMBAT PENGUASAAN TUGAS PERKEMBANGAN


MASA DEWASA DINI
1. Dasar yang kurang memadai
Makin banyak masalah yang belum terselasaikan berupa tugas perkembangan
sebelumnya yang belum dikuasai yang dibawa seseorang saat memasuki masa dewasa,
maka makin terasa lama dan sulit proses penyesuaian daripada masa dewasa tersebut.
2. Hambatan fisik
Kesehatan yang buruk atau hambatan fisik yang menghalangi seseorang mengerjakan
apa yang dilakukan orang lain pada usia yang sama dapat menggagalkan penguasaan
tugas-tugas perkembangan untuk sebagian atau secara total.
3. Latihan yang tidak runtut
Apabila latihan yang diterima di sekolah atau di rumah hampir tidak mempunyai
kaitan atau bahkan tidak berkaitan sama sekali dengan pola hidup masa dewasa, maka
orang bersangkutan tidak akan siap menghadapi tuntutan masa kedewasaan.
4. Perlindungan yang berlebihan
Seseorang dewasa yang memperoleh perlindungan yang berlebihan pada masa kanak-
kanaknya dan masa remajanya, biasanya mengalami banyak kesulitan dalam
menyesuaikan diri pada kehidupan orang dewasa. Banyak orang tua yang tetap
melindungi anaknya yang telah dewasa secara berlebihan sehingga dengan demikian
proses penyesuaian akan semakin sulit.
5. Pengaruh kelompok teman sebaya
Makin lama orang dewasa muda melanjutkan studi di perguruan tinggi atau akademi,
maka makin panjang periode pengaruh teman sebaya dan makin lama mereka
berperilaku sesuai dengan standar teman kelompok sebaya itu. Oleh sebab mereka
menjadi terbiasa bersikap sebagai remaja, belajar berperilaku sebagai orang dewasa
adalah lebih sulit daripada biasanya.
6. Aspirasi yang tidak realistik
Orang dewasa yang sangat berhasil dalam studi, sosialisasi, dan olahraga di sekolah,
sangat besar kemungkinan mengembangkan konsep yang tidak realistik tentang
kemampuan mereka. Sebagai akibatnya, mereka berharap mencapai sukses yang sama
dalam dunia orang dewasa. Aspirasi orang tua selama masa remaja sering
memperbesar masalah dalam penyesuaian diri pada masa dewasa.